Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Laporan PBB terbaru menobatkan Jakarta sebagai kota terpadat di dunia, mencapai 42 juta jiwa.

Angka tersebut mengalahkan jumlah penduduk kota-kota besar di Tiongkok dan India.

Bagaimana Pemerintah Provinsi Jakarta menyikapi laporan ini dan memastikan Jakarta tetap nyaman sebagai tempat tinggal dan beraktivitas?

Kita bahas lebih dalam bersama Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim.

Baca Juga Pemprov Jakarta Kebut Revitalisasi Taman Daan Mogot Usai Dugaan Praktik Prostitusi di https://www.kompas.tv/nasional/631322/pemprov-jakarta-kebut-revitalisasi-taman-daan-mogot-usai-dugaan-praktik-prostitusi

#jakarta #pbb #disdukcapil

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/634389/disebut-pbb-sebagai-kota-terpadat-di-dunia-pemprov-ungkap-perbedaan-data
Transkrip
00:00Kita ke diskusi pertama Sapa Indonesia Malam, Saudara.
00:02Laporan Perserikatan Bangsa-bangsa atau PBB menobatkan Jakarta sebagai kota terpadat di dunia.
00:10Catatannya mencapai 42 juta jiwa.
00:14Angka itu mengalahkan jumlah penduduk kota besar di Tiongkok dan India.
00:19Laporan PBB berjudul World Urbanization Perspect 2025 menyebut Jakarta sebagai kota atau kawasan aglomerasi
00:26dengan populasi mencapai 42 juta jiwa.
00:30Namun, Pemprov Jakarta meluruskan jumlah itu merupakan gabungan dari penduduk area Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi
00:38yang berkegiatan di Jakarta.
00:42Bahwa 42 juta yang dimaksud adalah yang beraktifitas sehari-harinya di Jakarta
00:49yang artinya adalah pendatang atau komputer yang datang dan pergi di pagi hari
00:56dan sore hari atau malam hari untuk pekerjaan berkegiatan, bersekolah
01:01dan melakukan kegiatan-kegiatan hari.
01:03Artinya jumlah tersebut termasuk dengan penduduk di luar Jakarta
01:09atau Bogor Dekarek dan sekitarnya lagi yang memang berkegiatan di Jakarta.
01:17Namun, sampai hari ini, jumlah penduduk Jakarta adalah 11 juta jiwa.
01:26Laporan PBB yang dirilis pada pertengahan November lalu mengungkap Jakarta berada pada urutan pertama
01:33dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, yakni mencapai 42 juta jiwa.
01:38Sedangkan ibu kota Bangladesh, Dhaka berada pada urutan kedua dengan jumlah 37 juta jiwa.
01:46Posisi di Susul, Tokyo dengan 33 juta jiwa, serta New Delhi dan Shanghai dengan jumlah penduduk 30 juta jiwa.
01:56Kita coba bandingkan.
01:57Berdasarkan data Duk Capil Kemendagri, jumlah penduduk Jakarta sebanyak 11 juta jiwa.
02:03Jika jumlah penduduk di wilayah Jabodetabek digabungkan berdasarkan data Kemendagri dan Badan Pusat Statistik,
02:11jumlahnya mencapai sekitar 33 juta jiwa.
02:16Laporan terbaru PBB yang mengungkap jumlah populasi area Jakarta dan sekitarnya mencapai 42 juta jiwa
02:23membuat beban Jakarta semakin berat sebagai kota metropolitan.
02:27Lalu bagaimana Pemprov Jakarta menyikapi laporan ini dan memastikan Jakarta tetap nyaman sebagai tempat tinggal dan beraktivitas?
02:35Kami akan diskusikan ini bersama staf khusus Gubernur Jakarta, Ciko Hakim.
02:39Bang Ciko, selamat malam, Bang, dengan Tifal.
02:43Selamat malam, Tifal.
02:44Oke, terima kasih sudah bergabung bersama kami.
02:47Ini ada perbedaan antara data pemerintah dengan data PBB.
02:50Kalau menurut Pemprov Jakarta sendiri, indikator yang dikeluarkan PBB ini ada yang relate atau ada yang kayaknya nggak cocok nih
02:57dikeluarkan angka sampai 40-an juta jiwa dan disebut terpadat di dunia?
03:03Oke, yang pertama kami menduga cara UN atau United Nations atau persyikatan bangsa-bangsa
03:10ini ketika menghitung jumlah penduduk dan menyebut kota Jakarta itu yang dimaksud adalah Greater Jakarta
03:21atau Jakarta sebagai metropolitan yang ada daerah-daerah penyangga yang dimasukkan ke dalam lokasi
03:31di mana jumlah penduduknya dihitung yang beraktivitas di situ.
03:36Karena kalau kita lihat, kalau kita bicara soal Tokyo, Tokyo metropolitan area itu juga mencakup berbagai kawasan penyangga
03:44di sekitaran Tokyo dan banyak sekali wali kota di sekitaran Tokyo tapi tetap disebut Tokyo metropolitan area.
03:53Begitu juga dengan Bangladesh maupun India ya.
03:56Nah, itu yang pertama.
03:57Yang kedua, kenyataannya memang sampai hari ini tentunya kita tahu jumlah penduduk Jakarta itu 11, sekian juta jiwa
04:06dan itu tercatat dalam Dukcapil dan memang itulah yang resmi tercatat sebagai penduduk DKI Jakarta.
04:13Namun kita tahu kepadatan di Jakarta ini memang tidak bisa dipungkiri.
04:17Tentunya kita juga nggak bisa mengelak terkait dengan itu.
04:20Tapi kalau terkait jumlah, kami menduga cara PBB menghitung adalah menyebut Jakarta padahal yang dimaksud adalah
04:28Jakarta dengan daerah-daerah penyangga di sekitarnya.
04:32Bahkan mungkin bisa sampai Cianjur gitu, kira-kira begitu.
04:36Karena memang setiap harinya komuter yang datang ke Jakarta itu tidak sedikit jumlahnya
04:41dan tentunya semakin kita lihat ke depan, tentunya ini bisa jadi akan semakin bertambah
04:49dan disitulah kita merasa juga bahwa memang apa-apa yang menjadi kebijakan pemerintah pusat
04:56yang akan membentuk Dewan Aglomerasi misalnya, ini tentunya akan mempermudah bagaimana ke depan kita bisa mengelola ini semua.
05:03Sehingga implikasinya pada beban sosial dan lingkungan nih Bang.
05:07Selain dari semangat Pemprov Jakarta saat ini untuk membangun Transjabodetabek itu,
05:13apalagi prioritas dari Pemprov Jakarta untuk tata kelola biar sama-sama nyaman,
05:17sama-sama tenang beraktifitas di Jakarta, apalagi warga Jakarta asli yang pegang KTP Jakarta, Bang?
05:24Yang pertama tentunya Jakarta tidak bisa sendirian dalam hal ini, dalam pengelolaan apa yang kita tahu
05:30bahwa kepadatan ini yang sudah menjadi luar biasa dan juga kunjungan dari masyarakat untuk bekerja setiap harinya juga tidak bisa tertahankan.
05:38Dan tentunya satu, kita nggak boleh juga belarang siapapun untuk mengadu nasib di Jakarta
05:44dan kemudian kembali ke daerah asalnya di malam hari misalnya.
05:48Tetapi satu tadi sudah disampaikan oleh Tifal, kami mengapresiasi bahwa memang Transjabodetabek itu salah satunya adalah
05:55untuk mengurai kemacetan, kemudian supaya masyarakat yang dari luar Jakarta ketika commuting ke Jakarta itu tidak menggunakan kendaraan pribadi.
06:04Yang kedua, tentunya ini tidak terlepas dari kerjasama kita dengan kawasan-kawasan dan daerah penyangga
06:10untuk kemudian juga meningkatkan hal-hal yang terkait dengan urusan transportasi publik
06:17dan tentunya kita juga menawarkan kerjasama yang erat terkait itu.
06:21Yang ketiga, dan saya rasa ini yang terpenting, kita harus mengetahui bahwa Jakarta dan juga kota-kota lain
06:28ataupun provinsi lain di Indonesia bukanlah sebuah negara bagian
06:31tetapi sebuah negara yang menjadi bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia
06:35yang tentunya patuh dan tunduk terhadap regulasi-regulasi yang dibuat oleh pusat dan kebijakan-kebijakan oleh pusat
06:43dan kamerapan kami tentunya pemerintah pusat juga akan bersama-sama memikirkan ini bersama kita
06:50di luar di mana tentunya Bapak Pramono Anung sebagai Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur Rano Karno
06:56selama ini juga terus menjalin komunikasi yang erat dan intens dengan kawasan penyangga
07:02sehingga bisa sama-sama mencari solusi yang terbaik
07:06untuk kemudian tetap memberikan kenyamanan bagi siapapun yang datang dan bekerja ke Jakarta
07:12tapi juga kenyamanan bagi warga Jakarta yang memang menetap dan secara resmi dicatat sebagai penduduk Jakarta.
07:20Oke, ada data yang menyebut juga 2050 potensi Jakarta akan bertambah penduduknya 10 juta Bang.
07:26Plan jangka panjangnya nanti untuk memastikan untuk areanya, area tempat tinggal
07:33kemudian kesempatan bekerja dan lain-lain
07:35biar kepadatan ini nggak membawa efek negatif yang kemana-mana begitu
07:38apakah sudah kebayang tuh arahnya bakal kemana?
07:42Ya terkait dengan tempat tinggal, tadi Tifal senang sekali ditanya begitu
07:45karena memang kita juga bersama-sama dengan pemerintah pusat
07:49dan akan menyukseskan program pemerintah pusat yang akan membangun sekian juta perumahan
07:56dan Jakarta tentunya kebagian banyak dibandingkan provinsi-provinsi lain
08:04kalau rumah itu atau kediaman itu sebagai rumah tapak
08:07tapi juga tentunya akan menjadi bangunan-bangunan yang bentuknya vertikal
08:14dan kita juga membangun di bangunan-bangunan perumahan
08:18itu tentunya akan menjadi transit-oriented development
08:20di mana itu juga menjadi hub dan semua moda transportasi terhubung
08:26di setiap pembangunan-pembangunan yang kedepannya
08:29terkait dengan perumahan atau pemukiman
08:31yang bentuknya kita tahu akan menjulang ke atas itu vertikal
08:34seperti rumah susun
08:35Oke Bang Ciko Hakim
08:37Terima kasih banyak sudah berbagi informasi bersama kami hari ini
08:40Hati-hati di jalan ya Bang
08:41Selamat malam Bang, terima kasih
08:42Mohon maaf ya, ini lagi di jalan
08:45Terima kasih Bang, kami harga yang Anda sudah mau bergabung bersama kami
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan