Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 42 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti dan Ketua Umum Joman, Andy Azwan debat sengit soal hubungan Presiden ke-7 Jokowi dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono terkait kontestasi Pemilu 2029.

Sementara Pakar Hukum Tata Negara dan Kuasa Hukum Roy Suryo CS, Refly Harun menjelaskan runtutan kasus Ijazah hingga kaitannya dengan partai.

Simak pembahasannya dalam BOLA LIAR, episode "KADER SENGGOL IJAZAH, AHY UNGKIT KUDETA DEMOKRAT" pada Jumat (28/11/2025).

Video Editor: Aqshal

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/634407/ray-rangkuti-andy-azwan-refly-harun-soal-kaitan-ijazah-jokowi-sby-dan-kontestasi-pemilu-2029
Transkrip
00:00Ya, Pak Lely, sindiran Deni soal ijazah, Ahaye soal kudeta, apakah merupakan orkestrasi politik menurut Anda?
00:13Lagi melamun pikir mau melanjutkan yang dua tadi.
00:16Ya, inilah ya uniknya politik.
00:19Kebetulan saya, Repli Harun, dan Rayang Kuti ini menjadi narasumber di Kompas TV sejak zaman Pak SBY.
00:27Jadi kita tahu benar perjalanan pasang surutnya hubungan antara demokrat, termasuk dengan Pak Jokowi.
00:34Di awal pemerintahan Pak Jokowi, waktu itu ada permintaan agar Pak SBY sebelum berakhir masa jabatannya untuk menaikkan harga BBM.
00:43Tapi waktu itu tidak dilakukan oleh Pak SBY, itu perdebatan bukan main di TV, kita membahasnya tiap hari di berbagai TV.
00:502014, Paldo adalah bagian dari pendukungnya Pak Prabowo loh, jangan lupa.
00:55Masih kuliah, 2014 Bu?
00:57Masih kuliah, tapi 2019, kita sering di TV bareng Paldo juga, bagaimana pembelaan yang luar biasa terhadap Pak Prabowo dari Paldo waktu itu.
01:06Tapi inilah politik, dia berputar di situs-situs saja menurut saya.
01:11Kemudian, kita masih ingat di periode pertama Pak Jokowi berkuasa, demokrat juga paling kenceng bersuara.
01:17Suaranya apa?
01:17Waktu itu hanya perbedaan soal jalan provinsi, jalan negara, sama jalan kebupatan loh.
01:23Itu kencengnya bukan main.
01:25Kita juga tiap hari di Kompas TV dan berbagai TV lain ngebahasnya.
01:29Bagaimana nih demokrat dan sebagainya.
01:31Namun di periode kedua, demokrat mulai melunak.
01:34Karena ada pertentangan antara Pak Jokowi dengan PDIP.
01:38Demokrat bisa masuk ke dalamnya.
01:39Sebelumnya, demokrat tidak bisa masuk.
01:42Jadi bagi saya, jika ada sesuatu yang dikunduki, terutama perdebatan soal ada kudeta dan sebagainya.
01:49Saya masih ingat pernyataan demokrat yang kita bahas juga di Kompas TV waktu itu.
01:53Katanya, Ahaye terutama mengatakan sama juru bicaranya, siapa yang sekarang jadi ajudannya atau jadi juru bicaranya Ahaye?
02:03Siapa namanya?
02:04Zaki, Sampai lupa.
02:05Zaki mengatakan, tidak mungkin katanya presiden tidak tahu.
02:12Jadi itu kan langsung menembak.
02:14Dan itu biasa-biasa saja.
02:15Kalau sekarang juga misalnya dari demokrat mengatakan bahwa ada orang yang, ini bagus nih teman saya punya ijazah ini.
02:25Udah jelas siapa orang.
02:26Yang bermasalah soal ijazah kan hanya dua itu saat ini.
02:29Berarti tujuannya juga udah jelas.
02:30Sebaliknya juga demikian dari Pak Jokowi dan teman-temannya yang menyatakan, dibalik semua khusut masainya soal ijazah ini, ada yang berbaju biru.
02:42Tapi jangan lupa, yang baju biru partai itu ada tiga.
02:44Ada Nasdem, ada PAN, ada Demokrat.
02:47Nah, artinya prejudice dalam politik itu biasa-biasa saja.
02:51Selesaikan saja secara gentleman.
02:54Kita melihat, kalau ini ada pertentangan, bagus diselesaikan juga.
02:57Sebab kalau memang misalnya ada keterkaitan antara demokrat dengan pemerintahan pada saat ini,
03:03mungkin Pak Jokowi juga tidak suka kalau ada tentang dirinya yang berkaitan dengan kader-kader demokrat.
03:09Tadi dikatakan mantan ya, tapi jangan lupa juga, Roy Suryo itu sejak 2014, kita juga yang terus mendampingin dia kalau dalam perdebatan tentang politik dalam hal menyerang Pak Jokowi.
03:20Jadi saya selalu berusaha untuk berada di tengah-tengah ya, karena kalau saya diseret saya juga orang partai jadinya.
03:26Jadi hari ini, jika ini yang kita buka kembali, buka saja seluas-seluasnya.
03:31Kita jadi bahkan tercerahkan.
03:33Dalam komunikasi politik itu tidak ada pesan yang hampa makna.
03:36Tapi siapa yang mempersepsikan tentang isi pesan?
03:40Penerima pesan, bukan pemberi pesan.
03:42Jadi sekarang kita bisa memaknai kalau demokrat memaknai pernyataan dari kubunya Pak Jokowi begini, wajar.
03:49Itulah pernyataan yang memang harus dipersepsinya.
03:52Sebaliknya juga demikian, jika ada dari kubu Pak Jokowi yang menerima pernyataan dari demokrat,
03:57lalu mereka yang mempersepsikan itu disediakan secara teoritis.
04:01Itu yang berhak mempersepsikan.
04:02Ada intensinya, Bang Reh?
04:04Ada intensi politiknya di balik pernyataan dua kubu ini?
04:09Iya dong.
04:10Ya ini persaingan di antara keduanya.
04:12Persaingan untuk apa? 2029?
04:142029.
04:16Pak keluarga Jokowi dengan keluarga SBI bersaing nih.
04:20Dan dua-duanya punya anak kan.
04:22Dengan posisi yang sama juga.
04:25Satu mantan presiden, yang lainnya juga mantan presiden.
04:28Nah, dengan posisi yang kurang lebih sama.
04:30Persaingan itu kan. Satu wakil prilensi, satu menko.
04:34Kan kurang lebih sama itu semua.
04:36Nah, dan keduanya mendapatkan limpahan berkah dari orang tuanya masing-masing.
04:43SBI mendapatkan berkah dari, AHY mendapatkan berkah suara dari SBI.
04:49Apalagi Gibran.
04:51Gibran tuh ya luar biasa dia dapat berkah suara dari Pak Jokowi kan gitu.
04:57Jadi, kita yang nonton ini seru-seruan aja deh gitu kan.
05:02Cocok lah ini kan.
05:04Jadi gak usah ditutup-tutupi.
05:06Memang mereka bersaing.
05:07Imbang.
05:08Bukan ini ya.
05:11Bukan bentro.
05:12Dia bersaing.
05:13Dan itu wajar-wajar saja.
05:16Lihat aja nanti.
05:17Ini makin kenceng ini.
05:19Ini kan masih pelan-pelan.
05:20Nah, yang menarik ini kan karena pintu presaingan ini dibuka oleh Pak Jokowi gitu.
05:25Oke.
05:26Ketika Pak Jokowi mengatakan ada sesuatu di belakang dari gerakan apa namanya ijasa palsu itu.
05:33Nah, memang kalau kita baca redaksi itu kuatnya tuh kayak demokrat gitu.
05:39Nah, demokrat ambil itu isu.
05:41Ya kan?
05:42Untuk kemudian memutar.
05:45Bahwa ya tentu kami gak ini, gak itu dan sebagainya dan sebagainya gitu.
05:48Tapi gak berhenti di situ kan.
05:51Nah, sekarang saya lihat demokrat ini naik lagi nih.
05:54Sudah pelan-pelan membangun koalisi.
05:57Koalisi dengan partai politik yang sama-sama pernah mengoposisi Pak Jokowi.
06:03Yaitu PKS.
06:04Maka pertemuan demokrat dengan PKS kemarin itu diceritakan lah bagaimana pahitnya dulu mereka di eranya Pak Jokowi itu.
06:14Menunjukkan kalau dua partai ini besti ya?
06:16Besti.
06:16Dan boleh jadi memang 2029 mereka akan jadi besti.
06:20Pertanyaannya adalah, Gibran ini pake siapa?
06:24Masa pake PSI?
06:25Kenapa enggak?
06:26Oh, ini tuh ya?
06:27Oh, bisa aja.
06:28Bisa aja itu terjadi.
06:31PSI dan Pak Prabowo juga kita.
06:34Oh iya, berduanya dengan Pak Prabowo gitu.
06:36Belum tentu.
06:38Oh, belum tentu?
06:38Belum tentu.
06:39Jadi ada kemungkinan.
06:40Artinya begini?
06:40Tunggu dulu.
06:42Menarik nih.
06:43Prabowo-Gibran itu sudah pasti.
06:45Kalau AHY kan biasanya tadi dengan bestinya PKS.
06:49Kok Anda bilang belum tentu?
06:50Ya tentu.
06:51Belum tentu itu ya keduanya dong.
06:52Bukan satu.
06:53Enggak.
06:54Belum tentu dengan Gibran.
06:56Belum tentu dengan AHY.
06:57Gibran dan Pak Prabowo dua periode.
06:58Enggak, kalau gini loh, Bu.
07:00Kalau Prabowo sama Gibran sudah pasti, AHY ini tidak disebut lagi belum tentu.
07:06Sudah dipastikan AHY tidak masuk.
07:08Jadi jangan bilang belum tentu.
07:09Enggak.
07:09Kalau belum tentu itu artinya cutsnya 50% masih mungkin.
07:13Tapi ingat loh.
07:14Dari mana mungkin ya?
07:15Karena cutnya Gitu juga masih 50%.
07:16Peraturan Presiden, pemilihan Presiden kan 0%.
07:19Siapanya?
07:200%?
07:21PT, PT.
07:21PT-nya?
07:22Kan bisa maju.
07:23Semua ketua-ketua bisa maju.
07:24Bagi saya menarik.
07:25Maka saya bilang itu belum tentu.
07:27Setuju saya.
07:28Belum tentu juga Pak Prabowo dengan Gibran.
07:33Karena boleh jadi Gibran didorong, didukung oleh PSI untuk maju sendiri.
07:36Kan kira-kira gitu.
07:40Statement sudah jelas, Bu.
07:41Tapi statnya.
07:42Bawa dua prioritas.
07:43Dua prioritas, Prabowo Gibran.
07:44Enggak ada alternatif.
07:45Ya.
07:46Tidak ada alternatif.
07:48Bahwa kalau Pak Prabowo mau.
07:51Ibron maju 0-1 enggak?
07:51Kalau Pak Prabowo mau.
07:53Kenapa emang enggak mau?
07:54Iya makanya.
07:55Kan mau.
07:55Kan yang mengatakan Jokowi, Prabowo Gibran itu kan Pak Jokowi.
08:03Kalau tiba-tiba Pak Prabowo mengatakan, gue enggak mau gimana?
08:07Kan kalau.
08:08Cukup.
08:08Nah iya.
08:09Ini kan masih kalau.
08:10Ini semua kita dibicara kalau.
08:13Jokowi juga mengatakan, Pak Prabowo nanti 2009 tenteng lagi anak saya ya.
08:20Oh bukan itu.
08:20Kan itu kira-kira begitu.
08:21Jangan bilang kemar namanya.
08:23Oh iya nanti.
08:24Nah ini kan sudah dicoba oleh Pak Prabowo bagaimana.
08:26Nantilah terganti.
08:27Beliau itu ke G20.
08:30Wakili presiden.
08:30Kalau ternyata Gibran cuma senangnya gini-ginian aja, memiriksa rambut pendek, rambut panjang ya kan.
08:40Memiriksa atas anak-anak sekolah.
08:44Itu kan persesinya deh ya.
08:46Bagaimana KTT G20?
08:47Oleh karena itulah kemudian Pak Prabowo.
08:49G20 itu menentukan loh.
08:50Oke deh.
08:51Kamu mainannya jangan dong cuma sekedar rambut-rambut pendek, rambut panjang ya.
08:55Boleh lihat kemarin, bagaimana baru dibawahnya Gibran di depan KTT 20 yang diberi jempol oleh semua pimpinan dunia.
09:04Betul.
09:06Itu.
09:06Karena Gibran itu mainnya hanya main apa namanya?
09:14Main rambut pendek, rambut panjang.
09:17Nah Pak Prabowo mengatakan, lo jangan main gituan dong.
09:20Nih kukasih tiket, lo pergi ke G20.
09:22Kan kira-kira gitu.
09:23Dan ditunjukkan kelasnya di sana kan.
09:25Dan ditunjukkan kelasnya.
09:26Tapi itu pekerjaan yang sudah biasa dilakukan oleh Prabowo terhadap AHY.
09:31Loh enggak juga.
09:32AHY yang beberapa kali dipinta oleh Pak Prabowo mendampingi beberapa presiden dan petinggi negara lain.
09:40Kita pernah juga ada di Fogon Brasil.
09:42Kita juga pernah ada di Noro Brasil.
09:44Dan di situ kita bisa membaca bahwa Pak Prabowo memberikan G20 di Afrika Selatan dan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari seluruh pemimpin Afrika dan Asia.
09:57Bahkan mereka dilamar sebagai calon wakil presiden.
10:00Oke.
10:01Oleh karena itulah kemudian terjadi persaingan.
10:04Dan biarkan saja persaingan itu.
10:07Kalian aja kan yang pura-pura sob gaya Jokowi gitu loh Pak.
10:10Bilangnya tidak, bilangnya tidak.
10:12Jokowi dan Ibran masih komit.
10:15Masih komit.
10:16Saya mau tanya.
10:16Bumangnya itu ada lagi bersaing dengan AHY.
10:20Enggak pusat pura-pura sob.
10:22Saya gak apa-apa.
10:23AHY bersama AHY.
10:25Kosteng, kosteng, kosteng.
10:27Oke.
10:27Bentar, bentar.
10:28Bentar, bentar.
10:29Saya ngelonat di AHY.
10:30Saya ngelonat di Ibran.
10:31Bagus Ibran ini memprovokasi.
10:32Bentar dulu Bang Refley.
10:34Jadi sudah pasti Prabowo Gibran atau Mahedirkan seorang lain yang masuk jadi cawapres seorang Prabowo.
10:42Saya harus ngomong begini ya.
10:43kemarin saya tanda tangan surat
10:46sebagai penasihat hukum, kuasa hukum
10:48dari RRT
10:50Roy, Rizun, dan Tifa
10:51jadi saya tidak bicara hanya sebagai pakar hukum
10:54Tata Negara, tapi juga sebagai kuasa hukum
10:56atau penasihat hukum mereka, jadi itu penting ya
10:58biar kemudian tidak ada
11:00dusta diantara kita
11:01saya bicara dalam dua
11:04layer itu ya, sebagai orang hukum
11:06Tata Negara dan sebagai kuasa hukum
11:08atau penasihat hukum, jadi gini
11:09kalau kita mengaitkan antara
11:11demokrat dan kasus ijasa
11:14palsu, pertama saya
11:16tidak ada urusan dengan demokratnya
11:17it is not my party
11:20tetapi coba kita berpikir
11:22secara jernih
11:22siapa duluan yang meres isu ijasa
11:26palsu ini, jadi yang
11:28pertama kali meres itu kan namanya Bambang Tri
11:30Bambang Tri Mulyono
11:31dan dia membuat buku
11:34Jokowi Undercover
11:35laki-laki yang tidak punya ijasa
11:38dan itu 2016-2017
11:40kemudian
11:41itu membesar
11:44ketika TPUA
11:46tim pembela ulama dan aktivis
11:48yang dipimpin Egi Sujana
11:49itu melakukan gugatan
11:51atau permohonan
11:53sesungguhnya, gugatan
11:55gugatan perbuatan menawan hukum
11:56ke pengadilan negeri
11:57oke, gak ada kan unsur demokratnya
11:59lalu kemudian
12:01Bambang Tri-nya
12:02kemudian
12:02dipersangkakan
12:04kemudian
12:04difonis bersalah bersama Gus Nur
12:07gak ada demokratnya
12:08nah, kapan
12:10kehadiran Roy Suryo
12:12itu sama saja
12:13seperti kehadiran
12:14Dr. Tifa
12:15kehadiran
12:16Rizmond
12:17yang
12:17mereka sama-sama
12:19gak kenal sebelumnya
12:20jadi pertama kali
12:22Rizmond
12:23bertemu dengan Dr. Tifa itu
12:25Roy Suryo itu di Jogja
12:26oke
12:26waktu mereka
12:28geruduk UGM
12:29jadi menurut saya
12:30kalau kita bicara
12:31teori tentang
12:31histori ya
12:32tentang sejarah
12:33sejarah tidak dimulai
12:35dari persaingan partai politik
12:37soal ijasa
12:37oke
12:38tapi dimulai oleh
12:39seorang jurnalis
12:40yang bernama
12:40Bambang Tri
12:41dan dimulai oleh
12:42aktivis yang bernama
12:43Egy Sujana dan teman-teman
12:44ketiga adalah
12:46layer ketiga
12:47dimulai oleh
12:48akademisi
12:48seperti Dr. Tifa
12:49kemudian Rizmond
12:51plus Roy Suryo
12:52yang memang
12:52dari awal
12:53dia lebih merepresentasikan dirinya
12:55sebagai pakar telematika
12:57jadi tidak ada
12:57kaitannya
12:58isu ijasa dengan demokrat
12:59itu bukan jawaban saya
13:02saya hanya ingin mengatakan
13:03secara faktual
13:04faktanya begitu
13:05yang saya lihat
13:06perkara kemudian
13:07ada yang orang
13:08riding the wave
13:09mau menunggangi gelombang
13:11menunggangi
13:11apa
13:12macem-macem
13:13itu
13:14it is not my business
13:15saya gak tahu
13:15apakah misalnya
13:16demokrat punya intention
13:17untuk ikut-ikutan
13:19tetapi
13:19kalau dari sejarahnya
13:20gak begitu
13:21nah
13:22kedua
13:23dari sisi
13:24kuantifikasi
13:25kan saya sudah mengatakan
13:27tersangka itu
13:28jumlahnya delapan
13:29dari delapan itu
13:31yang demokrat cuma satu
13:32itu pun mantan demokrat
13:34yang sudah tidak aktif
13:35selama lima tahun terakhir
13:37itu
13:37bahkan
13:38dua kali pemilu
13:39dia sudah tidak ikut lagi
13:40mungkin sepuluh tahun sudah
13:41non-aktifnya
13:42jadi
13:42terlalu spekulatif
13:45menurut saya
13:45tapi sekali lagi
13:46saya tidak pernah menolak
13:47kalau ada orang yang
13:48riding the wave
13:49namanya partai politik
13:51itu kan selalu begitu
13:52begitu ada momentum
13:54yang hot
13:55yang kira-kira bisa
13:56dimanfaatkan
13:58ya mereka masuk ke sana
13:59dan kalau saya bilang politik
14:01politik itu bisa berubah
14:03time to time
14:04people change time to time
14:06sebagai contoh misalnya
14:08bagaimana akrabnya
14:10Ahai dengan Anis
14:11tapi begitu slot
14:13untuk jadi wapres itu
14:14tidak ada
14:15langsung dia memutar
14:15haluan dan kemudian
14:16beraliansi dengan satunya
14:19tapi belakangan kita tahu
14:20ternyata di Nasdem pun
14:22sekarang sudah ada yang
14:23bedol ke tempat lain
14:24jadi
14:25itulah yang namanya politik
14:26kalau kita menganalisis
14:27dengan mengatakan
14:29seolah-olah itu adalah
14:29variable yang tetap
14:30wah kami sudah tetapkan
14:322029 harus ini
14:33enggak enggak
14:34time to time
14:35Pak Mahfud
14:36sudah pakai baju putih
14:37berubah
14:38ya kan
14:38oke itu ketiga
14:40yang keempat
14:42mengenai
14:43Denny Indrayana
14:44saya menghargai
14:46teman-teman ya
14:46tapi terlalu spekulatif
14:48mohon maaf ya
14:49Mas Agung dan lain sebagainya
14:51terlalu spekulatif
14:52untuk mengatakan
14:53dan mengaitkan
14:53ini dengan
14:54demokrat
14:54karena saya tahu betul
14:57ini kan sederhananya
14:58gara-gara
14:59Roy Suryo sudah ditetapkan
15:00sebagai tersangka
15:01lalu dia mencari
15:03kira-kira
15:04lini atau line up
15:06kuasa hukumnya
15:07atau penasih hukumnya
15:07siapa
15:08nah salah satunya
15:10adalah
15:10Denny Indrayana
15:12yang dihubungi oleh
15:13istri Roy Suryo
15:14makanya istri Roy Suryo
15:16kepada saya berkali-kali
15:16mengatakan
15:17Denny itu saya loh
15:18yang menghubunginya
15:19saya loh yang membujuknya
15:20agar menjadi kuasa hukum
15:21atau penasih hukum
15:22jadi gak ada kaitannya
15:24pertanyaannya adalah
15:25kenapa Denny Indrayana
15:26kenapa Amir Suryo
15:27sederhana
15:28kalau Anda
15:29menghadapi suatu
15:30kasus hukum
15:31maka yang paling Anda ingat
15:32adalah
15:33orang-orang dekat Anda
15:34kan
15:34yang punya kualitas
15:36yang punya kapasitas
15:37Denny
15:38orang yang
15:40punya kapasitas
15:41paling tidak
15:42untuk menjelaskan
15:43apa
15:44dari sisi
15:44kumitatan negara
15:45dan dia
15:45register
15:46tidak hanya di Indonesia
15:48tapi di Australia
15:48jadi di Australia itu
15:49dia bukan main-main
15:50dia lawyer di sana
15:51dan dia permanen
15:53resident di sana
15:53ada rumah juga di sana
15:54sempat lari juga
15:55waktu kasusnya kan
15:56kenapa
15:57sempat lari dari Indonesia
15:58ke sana
15:58waktu kasusnya
15:59ya itu
16:00artinya ada juga
16:01kaitan itu
16:02bro
16:02ya itu
16:04itu lagi yang namanya
16:05kriminalisasi
16:06payment gateway
16:06saya tahu
16:07itu kriminalisasi
16:08itu muncul
16:092015
16:10dalam kaitan
16:11cicak buaya
16:12Abraham Samad
16:13Bambang Wijoyanto
16:14Budi Gunawan
16:15dan lain sebagainya
16:15itu at the time
16:16kita udah paham lah
16:172015
16:17artinya koronologis
16:19beliau ke Australia
16:20kan juga salah satu
16:21faktor itu
16:22bukan ansi
16:23soal pendidikan
16:24kenapa anda
16:25memotong-motong saya
16:26gak apa-apa
16:27kita kan dialog
16:28dialog itu nanti
16:29kalau setelah saya
16:30sejelaskan
16:30jadi karena itu
16:32ya udah bisa
16:33menebak bahwa
16:33itu salah satu
16:34motivasi
16:34itu
16:35kalau Bung
16:36bisa menebaknya
16:37mestinya bisa ditebak
16:38sekarang kawan kita
16:39namanya
16:40siapa itu
16:41Rerang Kuti
16:42kawan kita yang namanya
16:44sudah di putus
16:456 tahun
16:46belum lagi masuk penjara
16:48oke ya sudah lah
16:49saya gak mau
16:50bicara begitu ya
16:51saya ingin mendudukan
16:51persoalannya
16:52nah itu
16:52karena itu
16:53terlalu spekulatif
16:55berdasarkan
16:56data historis
16:58kuantifikasi
17:00tadi yang tersangka
17:01dan yang terlibat
17:02dan kemudian
17:03alur cerita
17:04mengenai keterlibatan
17:05Deni Indra Yano
17:05untuk mengatakan bahwa
17:07tiba-tiba masuk
17:08Demokrat sebagai
17:09orkestrasi
17:11kasus ini
17:11tapi
17:12kalau Demokrat
17:13riding the wave
17:14menunggangi gelombang
17:15I don't know exactly
17:16it is not my business
17:17oke
17:18only riding the wave
17:20tapi kalau dia
17:21orkestrat
17:23apa
17:23apa namanya itu
17:24dirijen
17:25dirijen
17:26saya kira dari
17:27tiga perspektif itu gak
17:28saya ingin tidak
17:29diihar
17:29kalau riding the wave
17:29katanya
17:30kenapa merasa
17:31bahwa dengan
17:31Dari Yano
17:31tapi
17:32saya tidak percaya
17:34Demokrat itu
17:35riding the wave
17:35oke baik
17:36nanti di jauh lebih lengkapnya
17:37boleh dihasilkan kembali
17:38saudara
17:38terima kasih
17:40terima kasih
17:41selamat menikmati
17:42selamat menikmati
17:43selamat menikmati
17:44selamat menikmati
17:45selamat menikmati
17:46selamat menikmati
17:48selamat menikmati
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan