Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Satu keluarga terjebak di atas loteng saat rumahnya dihantam banjir bandang di Desa Paloh Raya, Aceh Utara.

Keluarga yang terjebak di atas loteng merupakan seorang bayi, empat perempuan, satu lansia, dan seorang laki-laki. Mereka berada di dalam loteng dan merekam kondisi banjir bandang tersebut.

Melalui rekaman itu, mereka meminta bantuan pertolongan tim SAR agar segera dievakuasi menuju tempat yang lebih aman.

Sebanyak delapan belas kecamatan terdampak banjir parah di Aceh Utara. Pemerintah Aceh Utara masih terus berupaya melakukan penanganan, terutama untuk proses evakuasi dan bantuan logistik.

Sementara di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, seorang bayi dievakuasi menggunakan kontainer plastik saat banjir melanda.

Penyelamatan bayi itu dilakukan di dalam kontainer plastik oleh warga dari atas atap rumah yang kebanjiran.

Banjir yang terjadi di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah ini, bahkan terus meninggi hingga air mencapai atap rumah.

Tapanuli Tengah menjadi satu dari 11 kabupaten di Sumatera Utara yang terdampak bencana banjir maupun longsor.

Di Tapanuli Selatan, warga menceritakan saat bencana banjir bandang menyapu permukiman pada Selasa kemarin.

Ia menceritakan bagaimana mencekamnya situasi pada saat banjir bandang menerjang rumah mereka, lantaran ia, suaminya, dan anaknya yang masih bayi sempat terjebak sebelum akhirnya dievakuasi tim SAR.

Selain Juliana, terdapat dua ribu lebih pengungsi yang terbagi dalam enam posko di wilayah Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang untuk sementara tinggal di pengungsian.

Mengapa bencana banjir dan longsor melanda wilayah Sumut, Sumbar, dan Aceh? Apa penyebabnya dan bagaimana mitigasinya agar tidak memakan banyak korban? Kita bahas bersama Kepala BMKG periode 20172025, Dwikorita Karnawati, dan Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara, Rianda Purba.

Baca Juga [FULL] Update Banjir Bandang di Padang: Tim Sar Fokus Evakuasi Korban, Petugas Terkendala Akses di https://www.kompas.tv/regional/633992/full-update-banjir-bandang-di-padang-tim-sar-fokus-evakuasi-korban-petugas-terkendala-akses

#banjir #longsor #bencanaalam #bmkg

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/633994/full-eks-kepala-bmkg-dan-walhi-bicara-penyebab-bencana-banjir-longsor-beruntun-di-sumatera
Transkrip
00:00Orang bayi di Tapanuli Tengah Sumatera Utara harus dievakuasi dalam kontainer saat bencana banjir bandang terjadi.
00:09Sementara satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang di Aceh Utara terjebak banjir
00:14hingga meminta bantuan evakuasi ke Timsar dengan mengirimkan situasi mereka yang berlindung di loteng rumah.
00:24Satu keluarga terjebak di atas loteng saat rumahnya dihantam banjir bandang.
00:29Di desa Paloh Raya, Aceh Utara.
00:32Keluarga yang terjebak di atas loteng merupakan seorang bayi, empat perempuan, satu lansia, dan seorang laki-laki.
00:39Mereka berada di dalam loteng dan merekam kondisi banjir bandang tersebut.
00:45Melalui rekaman ini, mereka meminta bantuan pertolongan Timsar agar segera dievakuasi menuju tempat yang lebih aman.
00:53Sebanyak 18 kecamatan terdampak banjir parah di Aceh Utara.
00:57Pemerintah Aceh Utara masih terus berupaya melakukan penanganan, terutama untuk proses evakuasi dan bantuan logistik.
01:06Sementara di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, seorang bayi dievakuasi menggunakan kontainer plastik saat banjir melanda.
01:15Penyelamatan bayi dilakukan di dalam kontainer plastik oleh warga dari atas atap rumah yang kebanjiran.
01:20Banjir yang terjadi di kecamatan Tuka Kabupaten Tapanuli Tengah ini bahkan terus meninggi hingga air mencapai atap rumah.
01:30Tapanuli Tengah menjadi satu dari sebelas kabupaten di Sumatera Utara yang terdampak bencana banjir maupun longsor.
01:36Di Tapanuli Selatan, warga menceritakan saat banjir bandang menyapu permukiman pada selasa kemarin.
01:44Ia menceritakan bagaimana mencekamnya situasi pada saat banjir bandang menerjang rumah mereka.
01:49Lantaran, ia, suaminya dan anaknya yang masih baik, sempat terjebak sebelum akhirnya dievakuasi timsar.
01:56Berarti ibu-ibu sempat terjebak ya?
02:23Sama adiknya ini ikut terjebak.
02:26Sama siapa aja kakak di situ waktu itu?
02:28Aku luar kakak.
02:28Situasinya saat itu kakak.
02:30Kamu pasrah, kami terserah diri kepada Allah.
02:33Karena saat itu, air itu udah di depan kami kakak, kakak.
02:37Di depan kami jadi kami nggak bisa ke sana, nggak bisa di sini, cuma yang kakak.
02:42Nggak tahu lagi mau apa-apa.
02:45Selain Juliana, terdapat 2 ribu lebih pengungsi yang terbagi dalam 6 posko di wilayah kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
02:53Yang untuk sementara, tinggal di pengungsian.
02:57Tim Liputan, Kompas TV.
03:03Muncul pertanyaan, mengapa bencana banjir dan longsor bisa melanda 3 wilayah sekaligus di Pulau Sumatera?
03:10Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
03:13Apa penyebabnya lalu bagaimana memitigasinya agar tidak memakan banyak korban?
03:18Kami diskusikan ini bersama para narasumber, bergabung saat ini lewat sambungan daring,
03:22Kepala BMKG periode 2017-2025, Dwi Korita Karnawati, dan Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara, Riyanda Purba.
03:30Selamat malam semuanya. Dengan Tifal di sini, apa kabar?
03:34Selamat malam. Terima kasih.
03:36Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
03:37Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
03:39Terima kasih sudah bergabung bersama kami.
03:40Bang Riyanda, dengan Tifal di sini, suara Tifal terdengar bang?
03:43Ya, ketanggaran dengan baik. Selamat malam.
03:46Terima kasih.
03:47Semua sudah bergabung bersama kami kali ini.
03:49Bu Dwi, saya mau konfirmasikan Anda dulu.
03:52Awalnya kan disebutkan ini dipicu siklon tropis koto dan ada bibit siklon 95B.
03:59Lalu kemarin BMKG sudah memberikan update terbaru bahwa ini berubah menjadi siklon tropis senyar.
04:05Apakah siklon tropis semacam ini sering terjadi di wilayah kita atau justru ini baru kali pertama, Bu?
04:14Sebetulnya apa yang disampaikan BMKG tersebut adalah suatu fenomena yang makin sering terjadi.
04:21Memang kira-kira 10 tahun, 20 tahun yang lalu hal semacam itu tidak begitu sering.
04:27Tapi beberapa tahun terakhir ini, kurang lebih 10 tahun terakhir, kejadinya semakin sering.
04:33Selalu diawali dulu dengan bibit siklon ya, atau bahkan lebih awal lagi low pressure area.
04:40BMKG terus memonitor, akhirnya berkembang menjadi bibit siklon, dan akhirnya menjadi siklon tropis.
04:47Dan itu terus dipantau BMKG karena bagian dari tugas BMKG demikian.
04:53Dan itu mulai kelihatan polanya makin intens di momen kapan atau di tahun kapan ya, Bu?
05:01Sampai akhirnya yang kita lihat sekarang sampai tiga provinsi di Pulau Sumatera, pulau di wilayah Utara Sumatera, kejadian banjir bandang sampai longsor begini.
05:08Sebetulnya itu sejak 10 tahun terakhirlah paling tidak, itu semakin sering terjadi.
05:16Bahkan di tahun 2017, dalam waktu satu minggu, kurang lebih 10 hari,
05:24dua kali siklon terjadi hampir bersamaan berurut-urutan pada wilayah yang kurang lebih sama.
05:30Dan itu semakin terus berkembang ya, terutama di bulan November sampai Maret, April,
05:42kemudian nanti periode berikutnya saat matahari berada di bulan bumi utara itu nanti juga akan terjadi lagi, terulang lagi.
05:52Dan siklus ini akan berulang di wilayah yang sama atau mungkin bakal bergerak ke daerah lain, Bu?
05:59Jadi biasanya itu akan punah.
06:02Jadi ini siklon ini sudah berkembang menjadi siklon ya, dan bergerak ya.
06:10Biasanya kemudian kalau sudah memasuki zona lintang 10 derajat,
06:15itu akan memutar balik meninggalkan wilayah Indonesia.
06:19Dan akhirnya kehabisan energi dan punah.
06:23Namun sebelum energi itu habis, itu sudah memporak-porandakan wilayah-wilayah yang dilaluinya.
06:30Dan BMKG selalu memberikan informasi jaru lintasannya itu lewat mana saja.
06:35Dan saya melihat juga sudah ada press conference dari BMKG,
06:40menyebutkan dalam beberapa hari ini yang akan terdampak wilayah Sumatera Utara, Aceh, Mio, Sumatera Barat.
06:48Itu berdasarkan lintasan siklon tadi.
06:52Termasuk Kepulauan Riau juga ya, dihitung dari kemarin conference dalam 2 sampai 3 hari ke depan.
06:57Bentuk dampak dari siklon ini apa, Bu?
07:01Nah dampaknya, terutama kalau dampak langsung itu misalnya di lautan itu mengakibatkan gelombang tinggi,
07:10angin kencang ya, dan juga cuaca yang semakin ekstrim, bahkan sampai juga dampak itu ke darat.
07:18Kedaratan Sumatera Utara, di pulau Sumatera, misalnya di Sumatera Utara,
07:25kemudian tadi Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Aceh,
07:30itu diprediksi bahwa dapat memicu terjadinya bahaya hidrometeorologi,
07:37seperti banjir, banjir bandang, longsor ya, angin kencang, kilat petir.
07:44Itu disampaikan oleh BMKG.
07:46Namun poin yang perlu saya sampaikan bahwa,
07:48bahwa siklon tropis, hujan ekstrim yang diakibatkan itu adalah sebagai pemicu.
07:57Tanpa siklon tropis pun, wilayah-wilayah yang disebutkan tadi itu sudah rawan.
08:04Alamnya itu karena proses tektonik, kondisi geologi,
08:10membentuk pegunungan bukit barisan,
08:14terbentuk patahan-patahan aktif,
08:16dan bukit itu terpotong-potong oleh patahan dan kekar-kekar.
08:21Jadi pegunungan itu adalah pegunungan yang rentan rawan,
08:25memang berbakat untuk mengalami longsor.
08:29Tinggal menunggu pemicunya.
08:32Nah, hujan lebat ekstrim itu adalah pemicu.
08:36Sehingga selama tidak ada pemicu,
08:39itu insya Allah tidak akan terjadi gerakan longsor tadi,
08:44ataupun banjir bandang dan banjir.
08:46Demikian.
08:46Buat Walhi, Bang Rianda, Anda juga sependapat dengan penyataan Bu Dwi,
08:50bahwa sebetulnya yang menjadi faktor bukan semata karena cuaca saja,
08:55makanya terjadi bencana seperti yang di Sumatera Utara,
08:58bahkan catatannya sudah ada empat kabupaten kota yang terdampak di sini.
09:03Lahan juga, Pak.
09:04Sorry, Bu. Saya kasih giliran ke Bang Rianda dulu ya.
09:07Oh ya, maaf.
09:08Bang Rianda, silakan.
09:10Ya, terima kasih, Bang.
09:12Nah, iya.
09:14Untuk faktor cuaca itu menjadi salah satu pemicu.
09:17Nah, kemudian dilanjutkan dari wilayah topografi.
09:24Nah, topografi di wilayah sekitar Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Tapanuli Selatan,
09:30itu kan di bawah kaki dan berada di lereng-lereng sepanjang bukit barisan di wilayah dua kabupaten tersebut yang kita sebutkan.
09:40Nah, semakin diperparah saat adanya cuaca ekstrim dalam beberapa hari terakhir,
09:49tentunya karena perubahan tutupan lahan dan hutan di wilayah daerah aliran sungai
09:59dan perbukitan-perbukitan sepanjang di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tengah, dan Utara.
10:07Dan itu terjadi juga dalam kurun berapa tahun kebelakang ini, Bang?
10:12Nah, kalau kita analisis dalam beberapa tahun terakhir ya,
10:17contohnya misalnya kita cek dari di wilayah Hulu Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan,
10:25dalam sembilan tahun terakhir itu, dua ribuan hektare hutan itu sudah rusak, Bang.
10:31Sudah ditebang.
10:31Nah, faktornya ditebang itu ada yang secara legal, karena ada pembangunan infrastruktur seperti PLTA Batang Toru,
10:40kemudian juga ada pertambangan emas di sana, dan kemudian ada juga aktivitas perkebunan kayu rakyat PT atau Bapak Pestari.
10:51Ini, apa ya, aktivitas-aktivitas industri ekstraktif tersebut juga memperparah dari, apa ya,
11:01apa, hujan suaca ekstrim turun, jadi air itu langsung turun ke wilayah-wilayah gilir.
11:08Oke.
11:10Makanya kalau kita lihat di beberapa video, Bang, di Kecamatan Batang Toru, di Jembatan Trikora,
11:15itu ada, nah ini jembatannya, itu kan banyak gelondongan kayu besar-besar.
11:22Nah, ini kayu yang sudah sebagian besar itu sudah dipotong-potong.
11:26Kita cek dari citra satelit, itu di sepanjang, di atasnya sungai ini, tidak jauh, sekitar, ada 13 km, itu dibangun dam ya, PLTA.
11:39Nah, di situ banyak penebangan-penebangan, karena pembangunan infrastrukturnya, dan kayunya itu banyak dibiarkan.
11:45Oke.
11:45Nah, kita indikasikan besar, salah satunya berasal dari aktivitas tersebut.
11:51Oke, dengan melihat fenomena ini, ada perubahan cuaca, kemudian ada pengalihan fungsi lahan dari Kacamata Walhi,
11:59juga ikut memberi sumbangsi di sini, maka kita harus punya kewaspadaan seperti apa lagi,
12:04agar jangan sampai terulang lagi, bahkan jangan sampai memicu korban jiwa.
12:07Kita akan bahas ini, usai jeda berikut.
12:16Melanjutkan diskusi, Bu Dwi.
12:17Koreksi kalau saya keliru, tapi tampaknya kalau melihat bencana semacam ini, satu momen jenis bencana sama,
12:24terjadi di tiga provinsi di wilayah utara Sumatera, berarti kan yang menjadi pertanyaan sekarang,
12:31gimana caranya agar itu tidak terulang lagi, dengan fenomena perubahan cuaca seperti yang sekarang,
12:36ada siklon tropis senyar itu, kemudian ada area lahan yang ternyata beralih fungsi,
12:41tapi tidak ada pembaruannya atau memperbaiki area resapan air itu.
12:45Kalau Anda sendiri sebagai, sekaligus menjadi guru besar mitigasi bencana di UGM, Bu,
12:51langkah jangka pendek mitigasinya memungkinkan atau tidak?
12:55Atau justru ya kita berharap mitigasinya dalam waktu yang panjang nih?
13:00Terus terang saja sama Mas,
13:03jadi tadi saya katakan salah satu pemicunya itu alam, hujan,
13:09tapi sesungguhnya pemicu yang non-alam, yang semakin lebih sering terjadi,
13:16itu adalah perubahan tata guna lahan, kerusakan lahan,
13:20dan perubahan tata guna lahan inilah sebetulnya yang juga memicu terjadinya perubahan iklim itu sendiri,
13:30jadi kayak lingkaran setan,
13:32jadi perubahan iklim, artinya cuaca ekstrim makin sering terjadi,
13:36itu kan dampak dari perubahan iklim.
13:38Kenapa terjadi perubahan iklim?
13:39Karena kandungan gas-gas rumah kaca di atmosfer kita itu semakin tinggi konsentrasinya,
13:47dan hal itu membuat selubung rumah kaca dan menghambat enersi matahari,
13:52radiasinya terhambat untuk dilepaskan ke angkasa,
13:55jadi terjadi pemanasan global.
13:57Pertanyaannya kenapa gas-gas rumah kaca itu semakin meningkat?
14:01Ya karena kerusakan dari lingkungan kita,
14:05pemanfaatan enersi fosil,
14:07kemudian kerusakan lahan itu kan mengurangi pohon-pohon hijau daun
14:12yang bisa menyerap gas rumah kaca.
14:15Jadi sebetulnya lingkaran setan,
14:16jadi ada kaitannya dengan kerusakan lahan,
14:19kenaikan gas rumah kaca,
14:21terjadinya perubahan iklim,
14:22dan terjadinya ekstrim.
14:24Lalu apa cara mengatasinya?
14:27Pulihkan lingkungan itu,
14:29pulihkan lingkungan itu
14:30agar mengendalikan laju kenaikan suhu,
14:35mengendalikan perubahan iklim,
14:37dan mengendalikan agar kondisi ekstrim itu semakin terkendali.
14:41Di level masyarakat,
14:43mereka bisa apa untuk mitigasinya, Bu?
14:45Misalnya penghijauan,
14:47jangan membuang sampah sembarangan,
14:50sampah itu juga berkontribusi,
14:52meningkatkan kandungan gas rumah kaca juga.
14:56Seperti itu.
14:56Jadi sampah diolah kembali,
14:59seperti itu.
14:59Jadi mengurangi se-semak optimum mungkin
15:03konsentrasi gas rumah kaca yang ada di atmosfer kita.
15:08Karena kalau itu tidak kita kurangi,
15:10suhu akan semakin panas,
15:12semakin meningkat,
15:13dan itu memacu siklus hidrologi.
15:16Siklus hidrologi menjadi terpacu,
15:19pertumbuhan awan-awan hujan semakin mengehebat,
15:22kondisi ekstrim akan semakin sering terjadi.
15:24Demikian.
15:25Bang Rianda,
15:25kalau Anda pribadi dari Walhi melihatnya,
15:27kalau mau buat mitigasi semacam ini,
15:29maka posisinya untuk pemangku kebijakan di daerah,
15:32terutama karena Anda sudah menyinggung
15:34dari Walhi masalah area,
15:36resapan air yang minim,
15:37seyakin apa bahwa mitigasi akan bisa
15:40dilaksanakan jangka pendek,
15:41biar tidak terulang kejadian seperti ini?
15:44Nah, yang pertama Bang,
15:45kalau dalam jangka pendek itu,
15:47pemerintah kebupaten, provinsi,
15:49hingga pemerintah pusat,
15:51itu bisa menghentikan aktivitas
15:54alifungsi lahan tersebut Bang.
15:57Nah, dengan misalnya tidak menerbitkan
15:59izin-izin baik itu perkebunan,
16:03ataupun izin-izin hutan tanaman industri,
16:06ataupun izin-izin objek investasi lainnya,
16:10karena di wilayah itu,
16:11itu rimba terakhir Sumatera Utara,
16:13yang punya kaya kandungan mineral,
16:16fungsi hidrologis,
16:19dan lain sebagainya.
16:19Masyarakat juga bergantung pada hasil hutan,
16:21bukan kayunya.
16:23Nah, makanya itu yang pertama.
16:25Kemudian juga mengevaluasi
16:27perizinan-perizinan
16:29dari industri-industri ekstratif yang di sana.
16:33Nah, beberapa industri itu memperluas
16:35areal-areal konsesinya,
16:36itu harus dievaluasi.
16:38Nah, sebisa mungkin,
16:39misalnya kita sudah menyampaikan
16:40beberapa konsesi kita,
16:42selayaknya perusahaan-perusahaan hutan,
16:45baik itu tambang,
16:46hutan tanaman industri,
16:48hingga kemudian pembangunan infrastruktur
16:50yang menyalahi,
16:52tidak sesuai dengan aturan,
16:53karena itu juga wilayah
16:55yang rentan gempa, Bang.
16:56Selain dia yang rentan banjir
16:58dan rawan longsor,
16:59tapi itu rentan gempa.
17:01Nah, itu sudah kita ingatkan
17:02sejak tujuh tahun terakhir,
17:04agar pemerintah tidak melanjutkan
17:06pembangunan itu,
17:07tapi dilanjutkan juga inilah
17:08salah satu dampaknya
17:09yang kita tidak mau.
17:11Nah, kemudian,
17:13bisa, apa ya,
17:16memformulasi
17:17dengan melalui kebijakan, Bang.
17:19Jadi, menyusun kebijakan
17:20tata ruang
17:21di tingkat kabupaten,
17:23provinsi, hingga
17:24nasional
17:26untuk wilayah,
17:28kita sebutkannya
17:29ekosistem harangan
17:30Tapanuli, Bang.
17:31Atau ekosistem
17:32Batang Toru.
17:33Itu diberikan
17:34fungsi perlindungan khusus
17:36untuk perlindungan lingkungan hidup,
17:38gitu, Bang.
17:39Bakal panjang nggak diurusannya
17:40kalau menurut Anda bisa
17:41mencegah agar jangan sampai
17:42bencana serupa terulang kembali
17:44di kemudian hari?
17:45Ya, bisa, Bang.
17:46Karena gini, Bang.
17:47Dengan adanya kebijakan,
17:48itu tentunya kan,
17:50apa ya,
17:52apa,
17:52pemerintah kabupaten
17:53yang punya bubunan
17:54ke desa-desa
17:55itu turut juga membatasi,
17:57apa,
17:58baik itu investor
18:00ataupun warganya
18:01yang ingin membuka lahan,
18:03itu bisa dibatasi.
18:04Nah,
18:05tapi itu kalau tingkat kebijakan
18:06jangka panjangnya memang, Bang.
18:08Baik.
18:08Nah,
18:09tapi yang jelas bagaimana
18:10menghentikan
18:11perluasan industri ekstratif
18:13di sana.
18:14Dan yang sudah ada itu
18:15perlu dievaluasi
18:16dan jika mungkin ditutup.
18:18Nah,
18:19atau dicabut izin-izinnya.
18:21Nah,
18:21kemudian,
18:22jangka pendeknya gini, Bang.
18:24Kita kan
18:24sudah 10 tahun terakhir,
18:26wal,
18:27sudah,
18:28apa ya,
18:2810 tahun terakhir ini
18:29wali sangat intens itu.
18:31Bekerja bersama masyarakat di sana.
18:33Kita bareng kok, Bang.
18:34Dengan desa-desa
18:35di tingkat desa itu
18:37bagaimana sih
18:38menyusun
18:39FPJMDES
18:41yang berbasis lingkungan.
18:43Kita sama-sama
18:44memulihkan kawasan hutan gitu.
18:46Tapi itu inisiatif warga kok, Bang.
18:47Oke.
18:48Jadi sebenarnya warga itu
18:49di sini
18:50sebagai korban.
18:52Nah,
18:52cukup lah misalnya
18:53warga
18:55jangan dijadikan korban
18:57agar bagaimana
18:58pemerintah juga
18:59bisa belajar
19:01dari
19:02mengatur
19:03tata guna lahan
19:04agar lebih lestari ke depan.
19:06Ini pelajaran berharga
19:07untuk semuanya.
19:08Saya rasa bahwa
19:09masalah lingkungan
19:11juga masalah kita bersama
19:12jangan sampai bencana yang sama
19:13terulang lagi.
19:14Bahkan
19:14ya jangankan di daerah yang sama.
19:16Di daerah lain pun
19:17harapannya juga tidak
19:17terjadi hal-hal yang semacam ini.
19:19Bu Dwi Korita Karnawati
19:20terima kasih.
19:21Bang Rianda terima kasih.
Komentar

Dianjurkan