Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPASTV Akademisi Rocky Gerung menyampaikan kritik dan masukannya untuk institusi Polri dalam acara Dialog Publik Polri pada Senin (29/9/2025).

"Kita lihat apa sebetulnya kemarahan publik kepada parcok hari ini. Sebut saja secara resmi kenapa publik marah pada parcok bahkan marah pada oknum gitu?" kata Rocky.

Ia berpendapat sebetulnya proses yang disebut sebagai reformasi kepolisian, tidak pernah terjadi reformasi.

"Yang terjadi pemisahan antara tentara dan polisi. Pada waktu itu yang terjadi adalah pemisahan kelembagaan, bukan evaluasi terhadap kondisi," lanjut kata Rocky.

Ia pun mencontohkan sikap dari Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang sempat menyambut demonstran demo Agustus dengan spanduk.

"Selamat datang para pejuang aspirasi," tulis spanduk dari Kapolda Riau dicontohkan Rocky.

Ia pun mengapresiasi sikap Irjen Herry terkait spanduk tersebut.

"Bayangin coba dia sambut dengan spanduk itu enggak ada ketakutan demonstran ngoceh suka-sukanya karena dianggap demonstrasi itu pejuang aspirasi," katanya.

Lebih lanjut menurutnya polisi itu adalah masyarakat sipil yang dipersenjatai untuk melakukan tindakan terakhir untuk represi.

"Jadi bagus betul kita bicara di sini hanya untuk menerangkan bahwa negeri ini memerlukan dikembalikannya civilian value, nilai-nilai sipil. Bukan orang sipil. Banyak orang sipil yang pikirannya militaristik kok dan bisa lebih militer dari tentara tuh. Tetapi demokrasi dan polisi hidup bersama dalam ecology the supremacy of civilian value," jelas Rocky untuk Polri ke depan.

Sahabat KompasTV, bagaimana pendapat kalian terkait berita ini, tulis di kolom komentar ya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Vila

#jenderalpolisi #rockygerung #polri

Baca Juga Komentar Menkeu Purbaya Kala Singgung Rocky Gerung, Hotman hingga Ketua Banggar DPR - PARASOT di https://www.kompas.tv/video/619864/komentar-menkeu-purbaya-kala-singgung-rocky-gerung-hotman-hingga-ketua-banggar-dpr-parasot



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/620261/full-rocky-gerung-blak-blakan-kritik-institusi-polri-di-depan-kapolri-dan-para-jenderal

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Oke, saya pakai mimbar ini supaya setarah dengan wakak Polri.
00:09Dan kenapa dari tadi mimbar ini enggak dipakai?
00:12Padahal ini adalah peralatan pertama untuk mengucapkan pendapat umum.
00:22Dalam tradisi Yunani, setiap mimbar disediakan untuk mereka yang punya dalil.
00:26Dia disebut umum karena akhirnya terlihat orang yang bicara siapa.
00:31Itu sifat pertama.
00:35Saya mau terangkan sebetulnya balik pada tema tadi.
00:40Apa sebetulnya yang disebut pendapat umum?
00:44Memang ada pendapat khusus?
00:47Pendapat khusus itu kalau Anda mau meminang pasanganmu untuk diajak nikah itu pendapat khusus.
00:51Tapi begitu pendapat itu diucapkan di depan umum,
00:55maka pendapat itu harus dihasilkan di dalam upaya untuk menentang pendapat lain.
01:03Kalau Anda ditanya, apa pendapatmu?
01:06Saya sependapat.
01:07Itu artinya dia tidak berpendapat.
01:09Pendapat hanya disebut pendapat kalau diajukan untuk menghalangi atau bahkan membatalkan pendapat lain.
01:16Jadi dari awal, sifat dari pendapat itu adalah untuk cari gara-gara.
01:20Itu dasar ontologinya tuh.
01:25Saya berpendapat supaya saya berbeda dengan pendapat Anda.
01:29Itu namanya pendapat.
01:31Jadi pendapat itu tidak boleh disopan santunkan.
01:34Kalau Anda mengucapkan pendapat dengan cara sopan santun, artinya Anda tidak berpendapat.
01:38Takut mengucapkan sesuatu yang kontras dengan pendapat orang lain.
01:45Saya tadi sebut istilah kontras.
01:47Ada teman kontras tadi.
01:48Kalau Anda perhatikan misalnya, kata kontras itu artinya tidak sependapat.
01:54Namanya kontras.
01:55Tapi kontras itu, huruf terakhir dari S itu huruf besar.
02:05Apa Anda perhatikan ya, teman-teman polisi.
02:08Apa artinya?
02:09Kenapa ditaruh huruf besar di situ?
02:12Yang lebih penting bukan kontranya, tapi S di belakangnya tuh.
02:17Anda tahu nggak asal usul huruf S dibuat besar di situ?
02:22Karena pada waktu itu, 98, ketika saya masih di LBHI bersama Munir, macam-macam, ada Buyung Nasdion.
02:30Kita ingin tunjukkan bagaimana pendapat itu harus diasumsikan sebagai pertentangan pikiran.
02:40Tetapi lebih dari itu, kata S itu artinya Suharto.
02:45Jadi kontras itu kontra S, kontra Suharto.
02:48Pada waktu itu, kita selundupkan kemarahan kita dengan kata itu dan S di belakangnya besar.
02:56Jadi maksudnya jelas, kontra terhadap pendapat Suharto.
03:01Full stock.
03:02Nggak ada keraguan kita katakan waktu itu.
03:04Kenapa?
03:05Karena moralnya ada pada kita, pada masyarakat sipir.
03:09Saya buka aja rahasianya itu.
03:11Kenapa S-nya di belakang itu besar?
03:13Sekarang kontra S-nya apa?
03:15S-nya apa?
03:16Subianto, Sikit.
03:18Itu namanya hermeneutik of suspicion.
03:24Kita mencurigai sesuatu, kita takut mengucapkan itu, kita pakai bahasa simbol S-nya di situ.
03:33Mungkin kontra sekarang itu S-nya adalah kontra saya.
03:37Kontra siapa aja itu.
03:38Jadi, saya mulai dengan cara berpikir itu.
03:44Lalu kita lihat,
03:45apa sebetulnya kemarahan publik pada parcok hari ini.
03:50Sebut aja secara resmi.
03:52Kenapa publik marah pada parcok?
03:56Bahkan marah pada oknum gitu.
03:58Absurd.
03:59Kita coba lihat bagaimana sebetulnya proses yang kita sebut sebagai reformasi kepolisian.
04:06Tidak pernah terjadi reformasi.
04:09Yang terjadi pemisahan antara tentara dan polisi pada waktu itu.
04:15Yang terjadi adalah pemisahan kelembagaan.
04:18Bukan evaluasi terhadap kondisi.
04:23Waktu kita mulai membayangkan, kita mau pergi pada demokrasi,
04:27urusan pertama kita adalah siapa yang mengganggu demokrasi?
04:34ABRI.
04:3598, yang mengganggu, menghangi demokrasi.
04:38Siapa itu ABRI?
04:39Tentara dan polisi.
04:43Bayangkan misalnya, saya di YLBHI, setiap kali kita diskusi,
04:48orang dari keramat lima itu datang masuk ke ruangan Adam Malik di YLBHI,
04:54dia berdiri di atas meja, naik di atas meja.
04:57Demi undang-undang saya batalkan, saya bubarkan diskusi ini.
05:02Pada waktu itu masih mengucapkan demi undang-undang.
05:06Pada waktu itu polisi masih sama dengan tentara.
05:09Saya tahu,
05:12kasat reskrim apa waktu itu namanya adalah Tito Karnavian.
05:18Jadi saya kenal Pak Tito dari awal.
05:23Tetapi pada waktu itu pengenalan kita, kita anggap bahwa institusi buruk.
05:28Bukan personalnya yang buruk.
05:30Karena ada orang yang maki-maki Pak Tito.
05:33Tidak hari maki-maki Tito.
05:35Kenapa?
05:35Tidak kita biasakan untuk mengevaluasi kondisi yang menyebabkan kepolisian sekarang itu dibenci oleh rakyat.
05:43Lalu kita dalami.
05:48Waktu terjadi reformasi,
05:50polisi dipisahkan dari tentara, tentara disuruh balik ke barak,
05:57polisi betul-betul jadi aparat kamtipnas.
06:00Tapi itu adalah reformasi.
06:11Ini saya pindah dari partai biru ke partai merah.
06:17Karena partai biru juga ternyata udah di-bail out oleh gajah merah.
06:22Si kelembagaan.
06:27Terjadi reformasi,
06:29tidak terjadi transformasi.
06:33Lembaganya dipisahkan.
06:34Beliunya tidak ikut transformasi.
06:39Tadi dikatakan polisi harus kembali pada prinsip supremasi sipil.
06:45Itu juga salah.
06:48Yang si supreme itu bukan orang sipilnya,
06:50tapi nilai-nilai sipil.
06:53Jadi yang benar bukan supremacy,
06:56civilian supremacy,
06:57tapi the supremacy of civilian value.
07:01Supremasi dari nilai-nilai sipil.
07:03Di dalam demokrasi,
07:04mau tentara,
07:05mau satpam,
07:06mau akademisi,
07:07profesor,
07:08punya ijasa apa enggak punya ijasa,
07:10tunduk pada nilai sipil.
07:13Lampu merah artinya
07:14tentara harus berhenti,
07:15polisi harus berhenti,
07:16profesor harus berhenti.
07:18Itu namanya nilai sipil.
07:19Jadi lampu merah itu nilai sipil.
07:22Lampu hijau nilai sipil.
07:24Itu yang kita mau biasakan.
07:27Jadi sebetulnya,
07:29kita mau bongkar dulu bahwa,
07:32kenapa hari-hari ini,
07:33ada ketakutan pada,
07:36tadi Usman Hamid pakai istilah,
07:39the revival of authoritarianism.
07:41sebetulnya itu masih abstrak,
07:45kembalinya authoritarianism.
07:47Lebih tepat,
07:51creeping militarism.
07:54Pengamat dunia sekarang menganggap Indonesia,
07:57militarisme itu lagi merangkak,
07:59creeping.
08:00dan itu,
08:02yang sebetulnya lebih berbahaya,
08:05daripada reformasi.
08:06Reformasi TNI,
08:08tersusul oleh creeping militarism,
08:10kita balik pada,
08:11the revival of authoritarianism.
08:13Itu soalnya.
08:14Jadi,
08:15saya mau terangkan bahwa,
08:17ada reformasi,
08:18terjadi,
08:19pemisahan lembaga,
08:20tentara,
08:21dan militer,
08:22tapi hanya sekedar reformasi,
08:24bukan transformasi.
08:26Kenapa?
08:27Karena nilai-nilai militaristik,
08:30tidak tercegah di 98.
08:34Nilai-nilai itu,
08:36carry over ke dalam sistem,
08:38demokrasi.
08:40Jadi sebetulnya,
08:41kita belum masuk di dalam era demokrasi.
08:46Reformasi,
08:47tidak menghasilkan demokrasi.
08:49Terjadi perubahan kelembagaan,
08:51tapi tidak terjadi,
08:52perubahan nilai-nilai,
08:54berdemokrasi.
08:55Dengan kata lain,
08:58kalau kita sebut,
08:58kita pindah dari,
09:00otoriter ke demokrasi.
09:02Pindah itu artinya,
09:04langkah keluar dari,
09:06order baru,
09:07masuk ke order reformasi.
09:09Kita baru keluar dari,
09:10belum masuk ke.
09:14Lembaga-lembangnya lengkap.
09:15KPU ada,
09:17parlemen ada,
09:18mahkamah konstitusi ada,
09:20DPR ada.
09:22Lembaganya lengkap,
09:23tapi pelembagaan,
09:26belum berlangsung sempurna.
09:30Hanya itu yang,
09:31mau kita pastikan.
09:33Jadi sekali lagi,
09:34kalau kita mau bicara tentang,
09:35reformasi,
09:36transformasi,
09:37apapun istilahnya,
09:38kita mesti lihat bahwa,
09:40kondisi kelembagaan kita itu,
09:43tidak menghasilkan,
09:44pelembagaan,
09:45hanya ada perubahan,
09:46di dalam lembaga.
09:47tetapi,
09:51kita mulai lihat bahwa,
09:52ada inisiatif lokal,
09:55untuk menghasilkan,
09:57ide tentang demokrasi.
09:59Waktu demonstrasi,
10:00Agustus kemarin,
10:00saya ada di Peganbaru,
10:01di Riau.
10:01nemenin,
10:04Irjen Harry,
10:05Harry Awan,
10:06Kapolda Riau.
10:10Demonstrasi yang besar itu,
10:12saya datang ke situ,
10:14yang dipajang di depan para demonstran,
10:16menyambut para demonstran,
10:17bukan panser,
10:19bukan water cannon,
10:20tapi sepanduk besar,
10:21ditulis oleh Kapolda Riau,
10:23saudara,
10:24Harry,
10:24Harry Awan,
10:25selamat datang para,
10:27pejuang aspirasi.
10:28bayangin coba,
10:30dia sambut,
10:32dengan sepanduk itu,
10:36gak ada ketakutan,
10:37demonstran,
10:38ngoceh suka-sukanya,
10:39karena dianggap,
10:40demonstrasi itu,
10:41pejuang aspirasi.
10:44Dengan cara itu,
10:44langsung terbagi kimianya itu.
10:47Pejuang aspirasi diterima,
10:50provokator,
10:51dihalangi.
10:53Yang memperjuangkan aspirasi,
10:54pasti pakai argumen,
10:57yang ingin merusak,
10:58demonstrasi,
10:59pasti pakai molotov.
11:01Mudah,
11:02dipisahkan.
11:03Jadi,
11:04contohlah,
11:05Kapolda Riau,
11:07bukan saya puji-puji,
11:08tapi faktanya begitu,
11:10dia menerima,
11:11protes itu,
11:12sebagai pejuang aspirasi.
11:14Spanduknya di depan,
11:16mahasiswa datang,
11:18digelar spanduk di depan,
11:19tiba-tiba.
11:20Selamat datang,
11:21para pejuang aspirasi.
11:24Karena kita menghormati,
11:25mahasiswa yang berjuang,
11:26untuk menghasilkan perubahan politik.
11:30Itu dasarnya.
11:32Satu waktu saya,
11:35bertemu dengan Pak Kapolri.
11:39Saya,
11:39lagi membantu,
11:42saya cerita saja,
11:43sebelum saya bicara teorinya.
11:46Saya lagi berupaya,
11:47untuk membuat,
11:48beberapa,
11:49Polda itu,
11:50laboratorium,
11:51tentang civilian value.
11:54Nah,
11:55karena saya berteman dengan Pak Herriman,
11:56saya bolak-balik ke,
11:58bukan baru.
11:59Tiba-tiba,
11:59ada seorang tokoh,
12:00masyarakat sipil,
12:01WA saya,
12:03Rocky Gerung,
12:04Anda ternyata,
12:05sudah dibeli,
12:06oleh polisi itu.
12:09Bayangin coba.
12:10Kenapa?
12:12Terlihat Anda,
12:13berfoto dengan,
12:15Pak Sigit,
12:16Kapolri,
12:17lagi nanam pohon.
12:22Dan Anda bicara,
12:23pidato di samping Kapolri.
12:24Saya bilang enggak.
12:27Pak Sigit enggak,
12:28tidak di samping saya,
12:29dia di belakang saya.
12:33Kenapa enggak dibalik?
12:33Bahwa saya,
12:35yang membeli,
12:37Kapolri.
12:38Bukan saya yang terbeli.
12:40Karena saya nyusun kurikulum,
12:41tentang hubungan antara polisi,
12:43dan lingkungan.
12:46Yang disebut green policing.
12:48Yang dipermosikan oleh,
12:50Kapol Daryal.
12:51Jadi bayangin,
12:52masyarakat sipil pun,
12:53mencurigai aktivitas masyarakat sipil.
12:56Karena dia enggak paham bahwa,
12:58lebih banyak orang yang mati,
13:00karena kerusakan lingkungan,
13:02daripada yang mati di jalan raya.
13:05Itu soalnya.
13:07Jadi,
13:07kepicikan,
13:09aktivitas masyarakat sipil juga ada.
13:10Karena kecengengan,
13:12enggak bisa berpikir.
13:13Kalau saya kritik,
13:14saya juga kritik lingkungan saya.
13:17Yang mencurigai,
13:18hubungan antara aktivis,
13:20dosen,
13:21jurnalis,
13:23dengan kalangan kepolisian.
13:26Roki Gerung sudah terkooptasi,
13:29oleh Kapolri.
13:30Lalu dalam isu lingkungan terbalik.
13:32Pak Sigi terkooptasi oleh isu lingkungan,
13:35yang saya buat.
13:37Begitu dong fairness-nya itu.
13:39Jadi kita lihat bagaimana,
13:40kepicikan itu ada di lembahkan masyarakat kita.
13:43Dan itu terjadi karena satu hal.
13:47Di belakang kepala kita,
13:49di belakang kepala makmak,
13:50di belakang kepala para dosen,
13:52kepala jurnalis,
13:53ada isu yang unexplainable,
13:55unspeakable.
13:59Yaitu soal fufufafa,
14:01dan soal ijasa palsu.
14:04Itu yang jadi background kemarahan publik,
14:06yang tidak mungkin dia ucapin.
14:08Karena menunggu,
14:09kepastian isu ini sampai di mana.
14:11Kita bikin riset, saya bikin riset,
14:13isu ini akan ada di semester ke depan,
14:15masih ada di situ.
14:17Jadi kita mau coba bahas sekaligus,
14:20apa yang kita sebut sebagai reformasi sebetulnya,
14:23basisnya adalah,
14:24kecurigaan masyarakat sepil,
14:26terhadap penyelesaian kasus-kasus yang sangat sensitif.
14:31Mereka tidak bisa ucapkan,
14:32saya pakai satu istilah,
14:34deep psychology,
14:35psikologi dalam masyarakat kita,
14:37adalah,
14:38bimbangan, kecurigaan, ketidak pasien.
14:40Ketidak pasien politik sekarang,
14:44disiram dengan ketidak pasien ekonomi.
14:46Maka orang akan cari,
14:47siapa yang harus bertanggung jawab.
14:51Kata anarkisme itu adalah puncak tertinggi dari demokrasi itu.
14:58Kata anarkisme datang dari penggalan kata an,
15:01dalam bahasa Greek, bahasa Yunani,
15:04dan arko.
15:05Arko artinya kepala.
15:06An artinya tanpa kepala.
15:08Demokrasi memang harusnya tanpa kepala,
15:11karena keseteraan.
15:14Tapi kata itu sudah keburu dipakai.
15:18Kalau begitu saya tidak boleh lagi mengajar.
15:19Saya mengajar critical thinking,
15:22di UI.
15:23Di dalamnya saya mengajar dua cara berpikir kritis.
15:26Satu, marxisme.
15:27Dua, anarkisme.
15:28Marxisme adalah kritik terhadap arogansi kapital.
15:36Anarkisme adalah kritik terhadap arogansi kekuasaan.
15:40Dua-duanya bermutu untuk menghasilkan demokrasi.
15:43Tapi kata itu sudah mengalami pejorasi,
15:47sehingga you anarki, you anarkot.
15:49Lo itu kata yang bagus.
15:51Anda marxis.
15:52Lo itu kata yang bagus.
15:53Karena dia ajarkan berpikir kritis itu.
15:57Membongkar ekonomi tanpa pengetahuan marxisme,
16:00tidak ada gunanya.
16:01Membongkar kekuasaan tanpa pengetahuan anarkisme,
16:03tidak ada gunanya.
16:05Jadi itu pentingnya,
16:07kita belajar bersama-sama di sini.
16:09Tapi itu hanya mungkin dilakukan
16:11kalau ada persahabatan antara polisi
16:14dan masyarakat sipil.
16:16Polisi membutuhkan organik partner.
16:19Partner yang organis.
16:21Partner yang ada dalam satu ekologi,
16:23yaitu masyarakat sipil.
16:24Tentara tidak memerlukan masyarakat sipil.
16:28Tentara hanya bekerja melalui komando.
16:31Polisi tidak begitu.
16:32Polisi dalam meritokrasi,
16:36fungsi mendahului komando.
16:39Sebaliknya, dalam militer,
16:41fungsi itu disebabkan karena ada hirarki komando.
16:43Polisi fungsi mendahului komando.
16:47Bisa jelasan mungkin, Bung Roki?
16:50Anda kalau punya poin,
16:52pangkatmu itu tiga balak,
16:54bisa bertengkar dengan yang tiga bintang,
16:57supaya terlihat betul-betul
16:58penguasaan tentang situasi.
17:02Reserter yang diperiksa teroris itu
17:07boleh kasih poin menentang
17:09pendapat dari komandanya.
17:11Kan begitu, Pak.
17:13Tapi dalam,
17:16kita tidak mungkin begitu.
17:18Kalau sudah,
17:19kan prinsip military efficiency,
17:21bila Anda telah membidik,
17:24jangan ragu.
17:26Kalau masih ragu,
17:27tarik picunya.
17:29Polisi tidak bisa begitu.
17:32Di dalam polisi,
17:33diskusi itu mesti berlangsung.
17:34karena itu fungsi mendahului komando.
17:43Itu nilai dalam kepolisian begitu.
17:47Tidak mungkin komando itu dipakai untuk mengaktifkan fungsi.
17:51bagaimana mungkin Kapolri
17:54membatalkan fungsi reserse
17:58dari seorang petugas di lapangan?
18:00Tidak bisa.
18:00karena keahlian dia itu adalah
18:03mengintip potensi bahaya.
18:08Lapor aja.
18:09Diskusikan.
18:11Itu kan dalilnya begitu.
18:14Karena kita sama-sama hidup di dalam
18:15satu iklim yang memungkinkan kita bertengkar
18:18di dalam sistem demokrasi.
18:20Kecuali kita hidup di dalam
18:22the republic of fear.
18:23Setiap kali ada ketakutan,
18:25maka minta jaminan poisi.
18:27Dengan kata lain,
18:28rasa nyaman harus mendahului rasa aman.
18:33Itu ide kam tipmas.
18:37Saya merasa aman
18:38karena kampung saya
18:40di setiap gang
18:42ada satu kompi berimob.
18:44Memang saya rasa aman.
18:46Tapi saya tidak merasa nyaman.
18:48Itu soalnya.
18:50Kalau keadaan perang,
18:51rasa aman harus mendahului rasa nyaman.
18:53Dalam keadaan
18:54harmoni, demokrasi,
18:56rasa nyaman
18:57mendahului rasa aman.
19:00Dan itu tugas kepolisian.
19:02Tidak mungkin saya rasa aman
19:03kalau di mana-mana saya lihat
19:04ada kopasus di situ.
19:06Tidak bisa.
19:07Saya tidak akan aman.
19:07Karena saya tahu
19:08setiap saat
19:09dia bisa kokang senjata.
19:12Kayak kemarin
19:13kasus demonstrasi.
19:14Di gelodok itu
19:15tentara berkeliaran di situ.
19:17Tidak ada yang rasa
19:18yang rasa nyaman di situ.
19:20Rasa aman diproduksi
19:22karena saya tahu
19:22di belakang saya ada senjata.
19:24Rasa nyaman diproduksi
19:25karena saya tahu
19:26di belakang saya ada polisi.
19:28Kenapa?
19:29Saya bisa bercakap-cakap
19:30dengan polisi.
19:31Kenapa?
19:32Kita satu grammar
19:33polisi itu adalah
19:34masyarakat sipil
19:35yang dipersenjatai
19:36untuk melakukan
19:40tadi
19:41tindakan terakhir
19:43untuk represi.
19:44Tapi sebelumnya
19:45diskresi polisi itu
19:46selebar demokrasi itu.
19:49Jadi bagus betul
19:50kita bicara di sini.
19:52Hanya untuk menerangkan
19:53bahwa
19:53negeri ini
19:54memerlukan
19:55dikembalikannya
19:57civilian value.
19:59Nilai-nilai sipil.
20:00Bukan orang sipil.
20:01Banyak orang sipil
20:02yang pikirannya
20:02militaristik kok.
20:05Dan bisa lebih militer
20:06dari
20:06tentara.
20:07tetapi
20:08demokrasi dan polisi
20:10hidup bersama
20:11dalam ekologi
20:13the supremacy
20:14of civilian value.
20:16Jadi itu yang menerangkan
20:17kenapa?
20:19Kalau kita
20:19tiba pada semacam
20:21keinginan bersama
20:22kita akan katakan
20:23bahwa
20:24reformasi
20:26polisi itu
20:28sudah berlangsung
20:29pertama
20:29di dalam
20:30tahap
20:30pemisahan
20:31kelembagaan.
20:33Tahap kedua
20:34adalah transformasi
20:35nilai.
20:35dari nilai-nilai
20:37yang militaristik
20:38di Orde Baru
20:39pergi pada nilai-nilai
20:40civilian value
20:41era
20:42ketika
20:43seluruh nilai global itu
20:45mengalami
20:45turbulensi itu.
20:48Apa nilai baru sekarang?
20:52Nepalisme.
20:54Dan seluruh dunia
20:56akhirnya mengakui bahwa
20:57suara netizen
20:58bisa membatalkan
20:59suara parlemen.
21:02Ada problem
21:02dengan
21:03naik sasi manusia.
21:04Apakah
21:05pasti
21:07dianggap melanggar
21:09tetapi
21:10bagi mereka
21:11yang tahu
21:12bahwa deprivasi
21:13tidak bisa lagi
21:13dikendalikan
21:14mereka anggap
21:15secara hak
21:16pencemaran sungai.
21:16Selamat datang
21:17Pak Kapolri
21:18Jenderal Polisi
21:19Dr. Andes
21:20Listio Sigit
21:21Prabowo MSI
21:22Silahkan
21:24Bang Roki
21:24Selamat datang Pak Sigit
21:27Saya sudah sebut
21:27empat kali
21:28nama Pak Sigit
21:29dan saya tahu
21:30Pak Sigit
21:30on time.
21:31Right at the time
21:35Pak Kapolri
21:36Saya lanjut lagi
21:38saya baru pakai
21:40empat menit
21:41masih ada delapan menit
21:42jadi
21:44waktu kita
21:45mengucapkan
21:47kata reformasi
21:48sebetulnya itu
21:49terlambat
21:50yang kita perlu
21:52sekarang adalah
21:52istilah transformasi
21:54setelah lembaga polisi
21:56dan militer
21:57dipisahkan
21:58sekarang
21:59nilai
21:59kesipilan itu
22:01kita transformasikan
22:02ke erah
22:03ketika
22:04seluruh dunia
22:05mengalami
22:05bahkan bukan lagi
22:07transformasi
22:10tapi
22:10Pak Magnus
22:12istilahnya itu
22:13transvaluasi
22:14kata Nietzsche
22:15orang Jerman bilang
22:17umwertung
22:22aller
22:22werte
22:23umwertung
22:24betul
22:25ya
22:26betul
22:27umwertung
22:29aller
22:29werte
22:30transformasi
22:31semua nilai itu
22:32ini sekali lagi
22:34kepentingan kita
22:35dengan reformasi
22:38kepolisian ini
22:39dimulai dengan
22:41transvaluasi
22:42semua nilai
22:43kita bicara
22:44ulang
22:44karena bukan
22:45cuma di Indonesia
22:46terjadi transvaluasi
22:47nilai seluruh dunia
22:48Filipina
22:49Nepal
22:51Timor Leste
22:52Itali
22:54Perancis
22:55semuanya
22:57adalah upaya
22:57untuk mencari
22:58nilai baru
22:59apa yang memungkinkan
23:01sejarah manusia itu
23:03dinaikkan
23:03satu oktav
23:04jadi sekali lagi
23:07saya anggap
23:08ini satu
23:09momentum bagus
23:10supaya kita tahu bahwa
23:12berpendapat itu
23:13diucapkan
23:14untuk berbeda
23:15bukan untuk
23:15menyetujui
23:16pendapat hanya
23:18disebut pendapat
23:18kalau ada yang
23:19menentang pendapatmu
23:20Anda berpendapat
23:22tidak ada yang menentang
23:23itu artinya
23:23Anda lagi berdoa
23:24doa tidak boleh
23:26ditentang
23:27pendapat
23:27termasuk
23:29forum-forum akademis
23:30di tempat saya mengajar pun
23:31di UI itu
23:32yang ada
23:32feudalisme
23:33tidak boleh
23:35berpendapat alternatif
23:36di situ
23:36saya kasih contoh ya
23:38waktu saya diundang
23:40dalam satu
23:40presentasi
23:43upacara pengukuhan
23:44seorang doktor
23:45teman saya
23:47sang promovendus
23:50setelah
23:51bukan promovendus
23:52karena dia perempuan
23:53promovenda
23:54si perempuan ini
23:56selesai
23:58presentasi
23:59diuji oleh
24:00profesor
24:02biasa
24:03penguji
24:03dan
24:06pembimbing
24:07pada waktu
24:09terjadi ujian
24:10saya anggap
24:10pertanyaan
24:12membuat konsep
24:13lalu saya angkat tangan
24:14saya bilang
24:15ada yang salah
24:15saya mau bicara
24:16pemimpin sidang
24:19Anda tidak bisa
24:20bicara
24:21loh kenapa
24:22Anda bukan
24:23penguji
24:24dan Anda
24:25bukan pembimbing
24:26lalu siapa
24:27Anda undangan
24:29sejak kapan
24:31satu forum akademis
24:33dibedakan
24:33antara
24:34penguji
24:35pembimbing
24:35dan undangan
24:35jadi saya datang
24:37ke situ diundang
24:38hanya untuk menyaksikan
24:39toganya dipindahkan
24:40dari kiri ke kanan
24:42kan dungu namanya
24:43semua forum akademis
24:46siapa yang diundang
24:47di situ
24:48berhak
24:48mengajukan dalil
24:49atau membantah dalil
24:51jadi kalau Anda
24:53diundang
24:54misalnya
24:54dalam forum
24:54disertasi
24:56satu waktu mungkin
24:57akan ada
24:58perwira tinggi
24:59disertasi
25:01disini
25:01saya diundang
25:02kalau saya angkat tangan
25:03jangan larang saya bicara
25:04karena Anda
25:05undang saya
25:06bukan untuk
25:06nonton
25:07seremoni
25:09Anda undang saya
25:10untuk memperhatikan
25:11logik
25:12metodologi
25:13dan pembicaraan
25:14dari isi disertasi itu
25:15semua orang
25:17yang diundang
25:17dalam forum akademis
25:18berhak
25:19untuk membantah
25:20dalil akademis
25:20kita biasakan itu
25:23dari PT IKA
25:23misalnya
25:24bukan
25:25cuman penguji
25:26yang berhak
25:27untuk bicara
25:28siapapun
25:29yang ada
25:29di ruangan itu
25:30dia adalah
25:31makhluk akademis
25:33itu yang namanya
25:34kebebasan
25:35berpendapat
25:36supaya kita bisa
25:38ujian paling
25:41bermutu itu
25:42ujian eksternal
25:43bukan ujian internal
25:44sama seperti akuntansi
25:45akuntansi itu
25:46audit eksternal
25:47lebih bermutu
25:48daripada audit internal
25:49demikian juga
25:50kalangan kepolisian
25:51audit masyarakat sibil
25:53terhadap kepolisian
25:54lebih bermutu
25:55daripada audit internal
25:57yang dilakukan oleh
25:59fungsi-fungsi
26:00keirjenan disini
26:01nah ini
26:02sebetulnya kita lagi
26:03audit eksternal
26:04itu intinya
26:05tetapi sekali lagi
26:06audit di dalam
26:07urusan demokrasi
26:09harus basisnya
26:10argumen
26:10bukan sentimen
26:11ngapain
26:14mengaudit
26:14polisi
26:15dengan sentimen
26:16audit lah
26:18dengan argumen
26:19force of the better
26:21argumen
26:21itu dasarnya
26:22jadi sekali lagi
26:23saya percaya
26:24bahwa pertumbuhan
26:25kita disini
26:25untuk mengaudit
26:27kepolisian
26:29dengan dua prinsip
26:31satu
26:31sudahkah
26:33kepolisian
26:33menyempurnakan
26:37proses
26:38reformasi
26:39dengan
26:39mentransvaluarinya
26:41sendiri
26:41apa nilai
26:42polisi
26:44the supremacy
26:47of civilian value
26:49itu yang pertama
26:50yang kedua
26:51di dalam keadaan
26:53global politics
26:54yang betul-betul
26:56turbulent
26:57kepolisian
26:59lebih mampu
27:00untuk menghasilkan
27:01pikiran-pikiran
27:02akademis
27:03daripada lembaga yang lain
27:04karena dunia yang berubah ini
27:07memerlukan
27:07pendekatan akademis
27:09akhirnya
27:09bukan pengendekatan komando
27:10kalau kita mau berdamai
27:12kita mesti ajukan
27:14argumen perdamaian
27:15bukan menambah senjata
27:16PBB
27:19dirancang
27:21untuk menghasilkan
27:21perdamaian
27:22setelah Perang Dunia Kedua
27:23maka kita semua
27:24setiap bangsa
27:25kontribusi pada
27:26PBB
27:26supaya dana
27:27perdamaiannya
27:28bisa dipakai
27:30ketika ada konflik
27:31oke
27:32sekarang kita hitung
27:34PBB
27:35dana perdamaiannya
27:368 miliar dolar
27:37buat menjaga
27:39perdamaian
27:40tetapi
27:41dana militer
27:43sedunia
27:44hari ini
27:4418 triliun dolar
27:47artinya
27:49pasti akan ada perang
27:50kenapa?
27:52dana perlombaan senjata
27:53lebih besar
27:54seribu kali lipat
27:55daripada dana perdamaian
27:56logiknya begitu
27:57jadi kalau kita produksi
27:59ide perdamaian
28:00ide kesosialan manusia
28:03ide yang dihasilkan
28:05oleh peradaban
28:06masyarakat sipil
28:07Indonesia
28:09bisa jadi proponen
28:11pertama
28:12untuk mengatakan bahwa
28:14kami paham tentang
28:15imperialisme
28:17kami paham tentang
28:18kekerasan itu
28:20kami menginginkan
28:21ada perdamaian
28:22melihatkan
28:23postur
28:24kepolisian
28:25mendahului
28:26postur militer
28:27dunia
28:29menganggap bahwa
28:30hanya dengan
28:31postur kepolisian
28:32junto
28:33postur masyarakat sipil
28:34dimungkinkan
28:35percakapan
28:36tentang perdamaian itu
28:37bisa dihasilkan
28:38oh iya
28:39tapi
28:39pemimpinnya militer
28:41Pak Prabowo militer
28:42mari kita
28:44kepung
28:45Pak Prabowo itu
28:46dengan nilai-nilai sipil
28:47karena kemarin
28:48dia bicara di BBE
28:49dengan nilai-nilai sipil
28:50sementara
28:51seseorang yang datang
28:52dari tradisi
28:53sipil
28:53yang memimpin
28:54negara demokrasi
28:55terbesar Amerika
28:56pakai nilai-nilai
28:57militaristik
28:58kan disitu
28:59kontrasnya tuh
29:00jadi sekali lagi
29:02negeri ini
29:03didirikan
29:04berdasarkan
29:04kemampuan
29:05berargumentasi
29:06para pendiri negeri ini
29:08bangsa ini
29:08adalah mereka yang
29:09mampu berargumen
29:11secara akademis
29:12Haji Agus Salim
29:14tentu
29:15ada batas yang
29:16memang diatur undang-undang
29:17tapi jangan tambahkan
29:18keterangan
29:19lain
29:20pada undang-undang
29:21yang mengatur
29:22kebiasaan berpendapat
29:23yang memang diatur
29:24undang-undang
29:25tapi jangan tambahkan
29:26keterangan
29:27lain
29:28pada undang-undang
29:29yang mengatur
29:30kebiasaan berpendapat
29:31ada aturan taman
29:33iya
29:33aturan itu
29:34harusnya
29:35membuat
29:36kebebasan
29:37berpendapat itu
29:38makin lama
29:39makin bagus
29:39bukan makin lama
29:40makin tersingkir
29:41jadi
29:43sekali lagi
29:44hanya ada
29:45satu lembaga
29:46yang mampu
29:47punya diskresi
29:49selebar demokrasi
29:50yaitu
29:51kepolisian
29:51nah diskresi itu
29:53dia memungkinkan
29:54saya bersahabat
29:54dengan Pak Sigit
29:55bersahabat dengan
29:56Pak Herriman
29:56bersahabat dengan
29:57Pak Agus
29:58di sini
29:58dan semua
29:59Pak Silitong
30:00segala macam
30:01jadi demi
30:02percakapan
30:03akademis
30:05kita
30:05mungkin
30:06perbanyak
30:07pertemuan
30:07semacam ini
30:08dalam lingkungan
30:09yang
30:09kita pastikan
30:11kita bisa
30:12mengembalikan
30:13persatuan Indonesia
30:14berdasarkan demokrasi
30:15bukan berdasarkan
30:16feudalisme
30:16sekali lagi
30:18selamat berjumpa
30:19dalam pertukaran
30:20pikiran
30:21dan sekali lagi
30:22pikiran yang
30:23dipertukarkan
30:24karena dia
30:24dipertentangkan
30:25pikiran hanya
30:26disebut pikiran
30:27kalau dia
30:27dibantah oleh
30:28pikiran yang lain
30:29terima kasih
Komentar

Dianjurkan