Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan tidak akan membuka tambahan impor bahan bakar minyak (BBM) non subsidi untuk SPBU swasta.

Bahlil menyebut kuota impor 2025 sudah dinaikkan menjadi 110 persen dari tahun lalu.

"Saya kan udah ngomong beberapa kali menyangkut SBPU swasta. Yang pertama, SBPU swasta itu sudah diberikan kuota impor 110 persen dibandingkan dengan 2024. Ini biar clear ya, kita sudah memberikan kuota impor 110 persen," kata Bahlil, Selasa (16/9/2025).

Sahabat KompasTV, bagaimana pendapat kalian terkait berita ini, tulis di kolom komentar ya!

Video editor: Awan

#bahlil #menteriesdm #bbmlangka

Baca Juga Pemerintah Buka Opsi Pertamina Impor BBM untuk Atasi Kelangkaan SPBU Swasta di https://www.kompas.tv/ekonomi/616853/pemerintah-buka-opsi-pertamina-impor-bbm-untuk-atasi-kelangkaan-spbu-swasta



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/617804/menteri-bahlil-angkat-suara-soal-bbm-langka-di-spbu-swasta

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Jadi gini, saya kan udah ngomong beberapa kali, menyangkut SPBU swasta.
00:05Ya tadi, rapat pertama, habis itu dipanggil lagi kita bahas tentang percepatan untuk transisi energi.
00:17Kita mau bangun solar panel yang satu desa itu 1-1.5 gigawatt.
00:23Jadi ke depan itu kita akan bangun kurang lebih sekitar 80 sampai dengan 100 gigawatt.
00:31Itu yang tadi kita bahas tenis.
00:33Yang kedua kita juga bahas tentang beberapa perkembangan terkait dengan kelanjutan daripada free pot.
00:38Saya dipanggil untuk ditanyakan tentang kesepakatan.
00:43Dan tadinya awalnya kan kita sepakat untuk penambahan saham 10% free pot.
00:47Tapi tadi berkembang negosiasi yang insya Allah katanya lebih dari itu.
00:53Nah saya diminta untuk bisa melakukan komunikasi percepatan.
00:57Dan kalau itu sudah fix, insya Allah free pot akan kita mempertimbangkan untuk melakukan kelanjutan daripada kontrak.
01:06Dan sekarang kita tahu bahwa kondisi di Timika, di underground, itu ada terjadi longsor.
01:12Dan saya sudah melaporan kepada Bapak Presiden dan tim kami sudah ada di Timika sejak beberapa hari yang lalu.
01:20Nanti kita menunggu laporan perkembangan terakhirnya.
01:22Tapi orang di dalam masih dalam posisi terjebak.
01:27Dan belum ada informasi dan proses pencarian masih tetap di dalam.
01:32Kalau operasionalnya akan tetap jalan apa gimana Pak?
01:35Karena ini kan masih ada yang terjebak dan masih longsor.
01:37Ini operasional penambangan tetap jalan atau berhenti sementara?
01:40Sekarang berhenti sementara.
01:41Sekarang berhenti sementara.
01:42Semua fasilitas, personil, semua lagi fokus untuk bagaimana menangani bencana yang ada di sana.
01:50Pak, soal SPB, soal panel itu Pak akan melibatkan investor asing nggak?
01:53Pasti. Karena sonor panel 100 gigawatt itu kan cukup besar.
02:01Sementara kapasitas industri kita di sini hanya satu tahun tidak lebih dari 5 gigawatt.
02:08Nah, oleh karena itu pasti kita akan mencari investor asing dan bisa berkolaborasi dengan pengusaha-pengusaha nasional dan BUMN kita termasuk dalamnya adalah PLN.
02:17Alhamdulillah, awalnya kan penambahan saham berhenti itu kan 10%.
02:24Perkembangan yang terjadi di atas 10%.
02:28Berapa pastinya, nanti saya akan ngomongkan setelah tanda tangan proses perpanjangan.
02:32Harganya murah Pak, harga sahamnya?
02:34Untuk 10% lebih, itu tidak biayanya sangat murah sekali.
02:41Karena valuasi asetnya kan kita anggap itu sudah nilai bukunya sangat tipis sekali.
02:45Tetapi itu kan terjadi untuk sampai dengan 2041.
02:49Dan sekarang perhitungannya lebih jalan.
02:50Target pemberian saham rampung kapan Pak?
02:53Bentar lagi selesai ya.
02:54Pak soal SPBU swasta dong Pak.
02:56Pak soal SPBU swasta kan banyak yang kosong.
02:58Pak bilang bisa belinya ke Pertamina.
03:00Itu sebenarnya kayak gimana sih Pak?
03:02Jadi gini, saya kan udah ngomong beberapa kali menyangkut SPBU swasta.
03:06Yang pertama, SPBU swasta itu sudah diberikan kuota impor 110% dibandingkan dengan 2024.
03:18Ini biar clear ya, kita sudah memberikan kuota impor 110%.
03:23Jadi sangatlah tidak cepat kalau dikatakan kuota impornya tidak kita berikan.
03:31Contoh, 2024 si perusahaan A mendapat 1 juta kiloliter.
03:38Contoh ini ya.
03:39Di 2025 kita memberikan kuota impor 1 juta kiloliter plus 10%.
03:44Berarti 1 juta 100 kiloliter.
03:48Nah, kalau masih ada kekurangan, kita minta untuk melakukan kolaborasi dengan Pertamina.
03:55Kenapa? Karena ini terkait dengan hajat hidup orang banyak.
03:59Cabang-cabang industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu
04:02tetap harus tetap dikontrol oleh negara.
04:05Supaya apa? Semuanya baik.
04:07Ya, gitu ya.
04:07Pak, di mana pak caranya pak?
04:09Pak, pekerjaan pekerjaan pekerjaan dari Shell dan lain sebagainya kan banyak yang bilang juga nih pak.
04:13Sebenarnya mereka bisa melakukan kolaborasi dengan Pertamina.
04:16Dan kemarin saya sudah pimpin dapatnya Pertamina.
04:20Dan OAMEN saya juga sudah pimpin dapat.
04:22Tapi nanti saya akan mengecek perkembangan terakhir dari tim yang kemarin saya bentuk untuk mengatasi.
04:34Saya Rahmat Ibrahim.
04:36Saksikan program-program Kompas TV melalui siaran digital, pay TV, dan media streaming lainnya.
04:43Kompas TV, independen, terpercaya.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan