- 1 hari yang lalu
- #teror
- #aktivis
- #contentcreator
JAKARTA, KOMPAS.TV - Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mengungkap adanya upaya intimidasi yang ia alami dan dinilainya sebagai bentuk penebaran ketakutan terhadap suara-suara kritis, khususnya dalam isu lingkungan dan energi.
Dalam program ROSI, Iqbal menuturkan, saat situasi tersebut terjadi, langkah pertama yang ia lakukan adalah mengamankan keluarga. Menurutnya, risiko semacam ini sudah disadari sejak lama, seiring berbagai kampanye yang dijalankan Greenpeace, mulai dari isu Raja Ampat hingga batu bara.
Iqbal mengakui, meski potensi risiko sudah dipahami, kepanikan tetap muncul ketika ancaman itu benar-benar terjadi. Namun ia memilih bersikap jernih dan tidak reaktif, termasuk dengan membawa keluarga keluar rumah dan menghindari interaksi yang berpotensi memicu eskalasi.
Ia juga menegaskan, respons terhadap peristiwa tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Menurutnya, perlu pertimbangan matang apakah situasi itu layak direspons secara terbuka atau tidak.
Lebih jauh, Iqbal menekankan bahwa intimidasi tersebut bukanlah serangan personal.
"Yang diserang ini bukan saya atau keluarga saya. Yang diserang adalah upaya menebar ketakutan pada suara-suara kritis," tegasnya.
Ia menilai, praktik semacam ini berbahaya bagi demokrasi dan tidak semestinya terjadi dalam menyikapi kritik, sekeras apa pun kritik tersebut disampaikan. Iqbal menyebut, apa yang ia suarakan justru merupakan hak warga negara yang dijamin konstitusi.
Menurutnya, tuntutan tersebut bukanlah serangan terhadap negara, melainkan permintaan agar negara menjalankan mandat konstitusi dan undang-undang. Karena itu, ia memandang penting untuk menyuarakan kasus ini agar tidak terus berulang dan menjadi preseden buruk dalam menangani kritik publik.
Iqbal menutup dengan menegaskan, ruang kritik harus dijaga sebagai bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan bangsa dan keberlanjutan lingkungan hidup Indonesia
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/jeVZMgCs640?si=BI1FL3XpcEbJl76p
#teror #aktivis #contentcreator
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/642683/alami-teror-aktivis-greenpeace-yang-ditargetkan-bukan-saya-tapi-suara-kritis-rosi
Dalam program ROSI, Iqbal menuturkan, saat situasi tersebut terjadi, langkah pertama yang ia lakukan adalah mengamankan keluarga. Menurutnya, risiko semacam ini sudah disadari sejak lama, seiring berbagai kampanye yang dijalankan Greenpeace, mulai dari isu Raja Ampat hingga batu bara.
Iqbal mengakui, meski potensi risiko sudah dipahami, kepanikan tetap muncul ketika ancaman itu benar-benar terjadi. Namun ia memilih bersikap jernih dan tidak reaktif, termasuk dengan membawa keluarga keluar rumah dan menghindari interaksi yang berpotensi memicu eskalasi.
Ia juga menegaskan, respons terhadap peristiwa tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Menurutnya, perlu pertimbangan matang apakah situasi itu layak direspons secara terbuka atau tidak.
Lebih jauh, Iqbal menekankan bahwa intimidasi tersebut bukanlah serangan personal.
"Yang diserang ini bukan saya atau keluarga saya. Yang diserang adalah upaya menebar ketakutan pada suara-suara kritis," tegasnya.
Ia menilai, praktik semacam ini berbahaya bagi demokrasi dan tidak semestinya terjadi dalam menyikapi kritik, sekeras apa pun kritik tersebut disampaikan. Iqbal menyebut, apa yang ia suarakan justru merupakan hak warga negara yang dijamin konstitusi.
Menurutnya, tuntutan tersebut bukanlah serangan terhadap negara, melainkan permintaan agar negara menjalankan mandat konstitusi dan undang-undang. Karena itu, ia memandang penting untuk menyuarakan kasus ini agar tidak terus berulang dan menjadi preseden buruk dalam menangani kritik publik.
Iqbal menutup dengan menegaskan, ruang kritik harus dijaga sebagai bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan bangsa dan keberlanjutan lingkungan hidup Indonesia
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/jeVZMgCs640?si=BI1FL3XpcEbJl76p
#teror #aktivis #contentcreator
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/642683/alami-teror-aktivis-greenpeace-yang-ditargetkan-bukan-saya-tapi-suara-kritis-rosi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Terima kasih Anda masih bersama kami di program Rosy bersama saya Friska Klarissa.
00:05Dan saya masih bersama kreator konten Ramondoni Adam yang dikenal dengan Niji Doni dan Shali Anavita
00:09serta manajer kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik.
00:14Kita bicara soal yang disasar keluarga lalu bagaimana membaca polanya.
00:18Menyambung yang tadi dulu Bang Iqbal, saat keluarga yang di-mention pertama kali,
00:23mekanisme self-defense pasti berjalan, apa yang dilakukan?
00:26Saya langsung mengamankan keluarga, jadi memang karena tahu gitu ya,
00:32tapi dengan ketanangan penuh lah ya, tidak panik gitu, tahu ini akan terjadi gitu ya.
00:38Dan keluarga memang sudah, kita sudah sering membicarakan sebenarnya risiko-risiko seperti ini ya.
00:45Karena sebelumnya ada kampanye Raja Ampat, sebelumnya ada kampanye Batu Bara,
00:49ada banyak-banyak kampanye yang dilakukan, jadi memang keluarga tahu.
00:53Situasi seperti ini, setelah kami tenang dan kami berpikir,
00:59kita tahu sebenarnya situasi ini akan terjadi,
01:01tapi ketika itu benar-benar terjadi, tentu ada kepanikan yang datang gitu ya.
01:07Dan tapi berpikir secara jernih,
01:09saya langsung bawa keluarga, keluar dari rumah gitu ya,
01:14tidak ketemu dengan siapapun gitu,
01:17untuk menghindari banyak pertanyaan dan sebagainya gitu.
01:20Dan mencoba untuk tidak reaktif juga ya,
01:22jadi berpikir juga, bahkan untuk merespon ini,
01:27butuh waktu gitu ya,
01:28butuh waktu apakah ini layak direspon atau tidak.
01:31Tapi karena kita berpikir,
01:33yang diserang ini kan sebenarnya bukan kita,
01:35bukan saya, bukan keluarga saya,
01:37atau Syariah, atau Duni.
01:39Tapi yang diserang di sini adalah,
01:41upaya menebar ketakutan gitu ya,
01:42pada suara-suara kritis terhadap apapun,
01:46terhadap kebaikan bangsa dan negara ini sebenarnya.
01:49Jadi ketika itu terjadi,
01:51saya berpikir bahwa,
01:52oh ini tentu bukan soal orang per orang,
01:55tapi ini harus disuarakan,
01:58agar selesai,
02:00dan tidak begini cara kita menangani kritik-kritik,
02:05apakah itu tajam, apakah itu pedas.
02:08Bahkan mungkin sebenarnya,
02:10apa yang kita ucapkan jauh dari kritik.
02:11Sebagai warga negara misalnya,
02:14kita kan, saya sebenarnya meminta,
02:16upaya untuk perlindungan atau hak
02:21atas kesejahteraan,
02:23atas hidup yang baik,
02:25atas lingkungan hidup yang baik,
02:26itu kan hak yang dijamin dalam konstitusi.
02:28Pasal 28H.
02:30Dan itu yang kita minta.
02:32Dan ini bukan kritik sebenarnya kan.
02:33Kita meminta negara melaksanakan
02:36apa yang diamanatkan oleh konstitusi dan undang-undang.
02:40Kalau Bang Iqbal berarti melihatnya,
02:42apakah ini,
02:44teror ini terjadi,
02:46karena suara-suara kritis terhadap penanganan bencana di Sumatera,
02:49misalnya yang terakhir,
02:50atau hanya akumulasi sebenarnya?
02:53Akumulasi dari suara-suara kritis sebelumnya,
02:56ada momentumnya pada saat ini?
02:58Tentu kenapa ini terjadi pada kita kan,
03:01tentu ada aksi yang kita lakukan.
03:02Dan aksi yang kita lakukan,
03:04apakah suara yang kritis ini,
03:06atau upaya-upaya yang memang sudah terpetakan sejak lama?
03:12Sebagai aktivis lingkungan di Greenpeace,
03:14pembela lingkungan,
03:16kita tahu sebenarnya resiko-resiko ini.
03:18Dan ancaman-ancaman seperti ini bukan satu dua kali
03:21yang diterima oleh teman-teman aktivis Greenpeace.
03:25Apalagi meme-meme AI,
03:27saya yang dikejar orang,
03:29kepala terpenggal,
03:30yang di mana-mana,
03:32itu memang sudah sering terjadi.
03:33Tapi itu yang perlu kita sampaikan bahwa
03:37suara-suara ini tidak bisa dibungkam dengan cara gini.
03:40Kita tidak,
03:41sampai sekarang kita belum menemukan kan,
03:43dan tidak menuduh siapa yang melakukan ini.
03:45Tapi siapapun yang melakukan ini,
03:48apakah dia warga negara biasa juga,
03:51sebenarnya kita sedang memperjuangkan
03:53hak hidup yang layak,
03:54bagi saya, bagi anak-anak saya,
03:56bagi peneror,
03:57bagi anak-anak peneror tersendiri juga sebenarnya.
03:59Kalau lihat pola seperti ini,
04:03kan kalau Bang Iqbal memang aktivis,
04:06ada banyak isu yang sudah ditangani sebelumnya,
04:08tapi tak hanya aktivis,
04:09tapi juga konten kreator,
04:11yang kritis di media sosial,
04:13turut juga jadi sasaran.
04:16Bang Ndondi lihat polanya seperti apa?
04:18Untuk membungkam suara-suara kritis itu?
04:19Kalau saya melihat awalnya,
04:20kan polanya yang diberitakan juga kan,
04:23awal mulanya karena ada yang mengeksploitasi,
04:26bencana alam.
04:27Tapi setelah saya lihat juga,
04:29kayak teman-teman,
04:29kayak Mbak Sherly,
04:31Mas Firdian,
04:32saya lihat,
04:34mereka nggak mengeksploitasi,
04:35mereka menyampaikan fakta di lapangan seperti apa.
04:38Harusnya nggak ada yang tersinggung dong.
04:40Justru malah membantu,
04:42membantu rakyat Indonesia jadi tahu,
04:44kondisi di Aceh seperti apa.
04:46Kan sebelumnya ada yang mengatakan itu,
04:48bahwa bencana alam ini,
04:50di Sumatera ini cuma rame di sosmed saja.
04:52Dengan adanya Mbak Sherly,
04:53dengan adanya Mas Firdian dan kawan-kawan lainnya,
04:56memberitakan apa yang terjadi di Aceh,
04:58itu menurut saya jadi,
05:00jadi apa ya,
05:00jadi manfaat untuk orang banyak.
05:03Jadi tahu,
05:04oh kondisi Aceh sebenarnya seperti ini loh.
05:06Sehingga semakin banyak bantuan yang turun ke Aceh,
05:07termasuk Mbak Sherly juga,
05:10udah berapa kali turun ke Aceh.
05:12Teman-teman yang lain banyak kan.
05:14Kalau tujuan teror itu untuk membungkam suara,
05:16Anda melihat tujuannya tercapai atau tidak?
05:18Nggak.
05:20Karena?
05:20Ya enggak,
05:21kalau saya sih akan tetap terus bersuara,
05:24mengkritisi kebijakan yang tidak pro rakyat,
05:27menurut saya.
05:28Nah kalau Mbak Sherly melihat,
05:31dengan pola yang terjadi ini teror,
05:33kemarin tetap juga ke Sumatera ya,
05:35bahkan tadi baru sampai.
05:37Baru sampai hari ini.
05:38Tapi Sherly ingin menyambung sekaligus,
05:39menambahkan sedikit apa yang Bang Damanik
05:41dan Bang Doni sampaikan.
05:42Sherly setuju,
05:44bahwa boleh jadi,
05:46kalau khususnya untuk Sherly,
05:47ini adalah keduanya.
05:49Pertama adalah akumulasi,
05:51karena boleh jadi memang sebelumnya
05:53Sherly beberapa kali menyampaikan
05:56kritik atau masukan terhadap beberapa kebijakan
05:59yang kita anggap ini kayaknya bisa lebih baik
06:00kalau seandainya ada A, B, dan C.
06:04Tapi tentu kritik itu karena kita peduli,
06:06kita ingin ada perbaikan
06:08yang kita semua sebagai masyarakat
06:10bisa merasakan itu.
06:11Dan yang kedua,
06:13boleh jadi bencana Sumatera ini adalah
06:16hanya trigger saja.
06:17Yang kalau Sherly boleh flashback,
06:20setelah yang kali kedua,
06:22Sherly kembali ke Jakarta,
06:24setelah ke Aceh,
06:25terus kembali ke Jakarta.
06:26Di situ kemudian Sherly mulai menerima
06:29kolaborasi atau kerjasama
06:30untuk menyampaikan pengalaman sebagai relawan.
06:33Dan apa yang dilihat,
06:34apa yang diharapkan.
06:35Nah dari situ kemudian baru mulai masuk
06:37pola yang tadi disampaikan oleh Bang Damanik.
06:39Di jam-jam tertentu,
06:41itu jenis pesannya sama.
06:43Jadi ada boom comment yang kurang lebih sama.
06:49Dan poin selanjutnya yang ingin Sherly highlight,
06:52bahwa siapapun atau pihak manapun
06:55yang mengorkestrasi ini semua,
06:57maka satu garis merah yang setidaknya bagi Sherly,
07:00Sherly yakini adalah pihak atau siapapun
07:03yang ada di balik ini tidak senang.
07:05Masyarakat itu kompak, punya satu suara,
07:08atau bahkan tercerahkan.
07:10Karena bukankah yang disampaikan oleh Bang Damanik
07:12atau misalnya Bang Doni
07:13atau kawan-kawan relawan di sana
07:15justru adalah menyampaikan
07:16apa yang terjadi di lapangan,
07:18fakta, data misalnya teman-teman Greenpeace.
07:20Sehingga mereka yang ada di balik ini,
07:23siapapun, kita tidak menuduh
07:25atau tidak menunjuk pihak manapun,
07:27tapi siapapun yang ada di balik ini
07:29yang mengorkestrasi dan mendalangi ini
07:31adalah mereka yang menyukai kebohongan
07:34dan pembohongan.
07:35Dan apakah membuat masyarakat,
07:38anak muda lebih khususnya,
07:41jadi semakin takut,
07:42Sherly pikir justru malah semakin berani
07:46untuk menyampaikan pendapatnya.
07:48Sherly tutup poin ketiga,
07:49boleh jadi Bang Damanik, Bang Doni,
07:52kawan-kawan di sana yang berani speak up
07:53adalah mereka yang punya follower, Mbak.
07:55Karena banyak kawan-kawan yang mendapati teror juga,
08:00tapi kalau kami sampaikan,
08:02kalau kami posting,
08:03kalau kami tunjukkan di sosial media,
08:06ini siapa yang mau lihat,
08:08siapa yang mau mendengar ini,
08:10apakah kira-kira akan diamplify oleh publik.
08:12Sehingga mereka memutuskan untuk diam.
08:14Sehingga tanggal 30 Desember kemarin,
08:17akhirnya Sherly putuskan untuk,
08:18yaudah ini kita posting,
08:20untuk menunjukkan bahwa
08:21kalau teman-teman mendapatkan perilaku
08:23yang kurang lebih sama,
08:24maka speak up.
08:25Jadi itulah tujuannya kenapa
08:26akhirnya Sherly speak up itu di media sosial.
08:29Agar bisa teramplifikasi lebih luas lagi.
08:31Tapi sekarang gimana sih progresnya?
08:33Udah masih didapat ancaman
08:35atau apapun di media sosial,
08:37doxing misalnya,
08:38ataupun shadow band?
08:40Kalau Sherly atau Bang Doni?
08:42Kalau di sosial media,
08:44itu kayaknya sesuatu yang rutin ya.
08:46Kalau Sherly pribadi harus mengaku,
08:47itu sesuatu yang rutin.
08:49Kalau shadow band,
08:50Sherly melihat bahwa
08:52sosial media Sherly saat ini
08:54besar kemungkinan sedang dalam tahap itu.
08:57Karena apa itunya?
08:58yang ditolak kurangnya?
09:00Karena
09:01gak bisa dilihat kontennya.
09:04Insidenya,
09:05itu pertama sudah tidak terlihat.
09:08Dan kalau kita mau melihat statistik,
09:10biasanya kan kita melihat
09:11bagaimana konten ini bekerja,
09:15kan berdasarkan statistik dari konten itu.
09:18Engagement dan sebagainya.
09:19Itu bisa dibilang tidak terlihat
09:21sebagaimana seharusnya.
09:22Jadi bisa sepersepuluh dari seharusnya.
09:25Kalau saya di TikTok.
09:29Sudah gak bisa dilihat lagi ya?
09:29Sudah konten yang saya buat,
09:32yang saya posting,
09:32tidak direkomendasikan.
09:33Hampir semua.
09:35Jadi sudah gak bisa?
09:36Sudah.
09:36Nah kalau di Instagram sendiri,
09:38tidak bisa melakukan live lagi
09:40sampai berapa bulan ke depan.
09:43Jadi setelah teror itu ya,
09:45malah makin gak bisa dilihat ya
09:47media sosial Sherly maupun Bang Doni.
09:50Karena aku bukan influencer ya Bang ya.
09:52Jadi bukan gak di media sosial.
09:54Tapi kalau lihat pola,
09:55kalau kamu alami.
09:57Tapi aku mau nyampaikan pola
09:58sebenarnya yang didapatkan
09:59teman-teman aktivis gitu ya.
10:00Jadi pertama misalnya
10:02KD Lima Silalahi
10:04di Sumatera Utara juga pernah
10:06dikirimin bangkai burung gitu ya.
10:09Dipaketin untuk diam.
10:10Karena beliau juga bersuara
10:11untuk menutup satu perusahaan
10:13yang menyebabkan salah satunya banjir ini.
10:16Diduga gitu ya menyebabkan banjir ini.
10:18Lalu kemudian Kak Jai Pralensa
10:20didatangin militer pria berseragam gitu ya.
10:23Bahkan demonstrasi anak muda
10:27Gijik di Seruyan
10:28di Desa Bangkalan
10:30itu bahkan meninggal dunia
10:32karena ditembak dalam aksi
10:34untuk mempertahankan tanahnya sendiri.
10:37Baru-baru ini
10:37Nenek Saudah di Sumatera Barat
10:40di Pasaman
10:41mempertahankan tanahnya
10:42dipukulin gitu ya.
10:43Dan kita lihat
10:44teman-teman Jubi
10:46di Papua,
10:47di Jayapura
10:48dilempar bom Molotov gitu ya.
10:51Kantor terbakar, mobil terbakar.
10:53Dan ini semua gak selesai.
10:54Pak Franky Waro
10:55di Bovendigul
10:56ini juga terjadi.
10:57Didatangin, diintimidasi.
10:59Pak Vincent
10:59untuk meroki gitu.
11:01Jadi itu juga didatangin.
11:04Gunretno
11:05di
11:05Pada Gunretno
11:06di
11:07Pati
11:08juga
11:09bahkan dikriminalisasi.
11:11Artinya banyak sekali teror
11:12yang sudah terjadi.
11:12Jadi banyak teror.
11:14Hidup itu sebagai aktivis
11:15sebenarnya tidak menyenangkan.
11:16Karena kami mendengar cerita ini
11:18dari hari ke hari gitu ya.
11:20Ada orang yang ditembak.
11:22Perdita Yeremia misalnya
11:23di
11:24Papua
11:26sampai sekarang
11:27kita gak tahu gitu ya.
11:28Komnas HAM sudah memutuskan bahwa
11:30dia
11:30meninggal
11:31karena
11:32adanya tindakan
11:33militer
11:34di sana gitu.
11:35Tapi
11:36ini terus-terus
11:37kita
11:37kita dengarkan gitu.
11:39Ini privilege
11:40bagi kami gitu
11:42yang ada di sini gitu.
11:44Karena kita punya privilege.
11:45Bisa dilihat
11:46kita hidup di Jakarta.
11:48Spotlightnya ada di sini.
11:49Tapi bagaimana
11:50yang saya pikirkan sebenarnya
11:51adalah bagaimana teman-teman
11:52yang hari ini
11:53bahkan
11:54mendapatkan teror
11:55lebih besar.
11:56Tidak hanya teror
11:57ancaman
11:58terhadap keluarga.
11:59Tapi jelas
12:00pembunuhan.
12:01Ada timah panas
12:03yang bersarang
12:03di tubuh orang.
12:04Ada pukulan
12:05yang bersarang.
12:06di tubuh orang.
12:08Dan
12:08ini tidak diselesaikan.
12:11Saya mau mention
12:12ini juga ya.
12:12Pemerintah membiarkan
12:14perusahaan misalnya
12:15face of face
12:16dengan rakyat.
12:17Semuanya berbenturan.
12:18Dan tidak diselesaikan
12:20secara
12:20jernih dan secara
12:21clear.
12:22Sehingga teror ini
12:23terus-terusan
12:23terjadi.
12:25Apa yang seharusnya
12:26dilakukan?
12:26Kalau bicara
12:27yang dialami
12:29kawan-kawan
12:29ini punya spotlight
12:30yang tinggi.
12:31Karena
12:31konten kreator
12:33otomatis punya followers
12:34yang banyak aktivis
12:35juga
12:35mengikbal
12:36jadi sorotan
12:37banyak orang.
12:38Tapi
12:38sebenarnya
12:39kalau dalam
12:40studi kasus
12:40kawan-kawan aja
12:41pemerintah terakhir
12:42kan merespon
12:42bahwa meminta
12:43Polri untuk
12:44menginvestigasi.
12:45Ini sudah cukup
12:45menenangkan
12:46atau belum
12:47untuk kawan-kawan
12:48dalam penuntasan
12:49aksi teror ini?
12:50selamat menikmati
12:52selamat menikmati
12:52selamat menikmati
Jadilah yang pertama berkomentar