Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kreator Konten DJ Donny menuturkan pengalamannya saat mengalami teror pada akhir tahun 2025.

Donny menerima teror berupa ancaman pemb*n*han dan kiriman bangkai ayam. Rumahnya juga dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal. Bagaimana ceritanya?

Kreator Konten Sherly Annavita menuturkan pengalamannya saat mengalami teror pada akhir tahun 2025. Rumahnya dilempari telur busuk, data diri keluarganya disebar, hingga mobilnya dicoret-coret menggunakan cat pilox. Mengapa ia sampai menerima teror itu?

Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik enuturkan pengalamannya saat mengalami teror pada akhir tahun 2025. Ia menerima teror berupa ancaman yang ditujukan kepada keluarganya dan kiriman bangkai ayam. Sebelumnya, media sosialnya juga dihujani direct message dari akun-akun tak dikenal dan diduga akun bot. Mengapa ancaman ini ditujukan kepada keluarganya?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/jeVZMgCs640?si=BI1FL3XpcEbJl76p



#teror #aktivis #contentcreator

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/642682/cerita-dj-donny-sherly-annavita-dan-iqbal-damanik-alami-teror-apa-motif-pelaku-rosi
Transkrip
00:00Ancamannya jika kamu masih bersuara di media sosial, nasib kamu akan seperti ayam ini.
00:20Kalau bisa dibilang nih, ya ancaman pembunuhan sebenarnya bukan teror lagi.
00:23Ya harusnya kan begitu kan. Mungkin awalnya kalau masih berupa ancaman buat saya, gitu saya masih oke lah.
00:30Saya bilang, eh udah lah, gak apa-apa gitu ancaman buat saya.
00:32Tapi begitu ada molotov, membahayakan orang banyak, ini harus dilaporkan menurut saya.
00:45Dan saya mendapati, ini di depan ada satu kantong telur yang sudah dilemparkan.
00:51Dan tadi di depan sini saya juga mendapati gulungan kertas kayak gini.
00:57Saya belum buka ini isinya apa.
00:58Ternyata mobilnya juga dicoret atau dipiloks.
01:02Serangan teror kepada rekan kami Iqbal Damanik dari Greenpeace Indonesia
01:22merupakan ancaman yang serius kepada kebebasan sipil, kebebasan berekspresi, dan demokrasi kita.
01:32Selamat malam saudara.
01:44Program Rosi kembali hadir ke hadapan Anda.
01:47Kali ini bersama saya, Friska Clarissa.
01:50Serangkaian teror menimpa sejumlah kreator konten dan aktivis pada akhir 2025.
01:55Bentuk teror beragam, mulai dari kiriman bangkai ayam dengan ancaman, vandalisme, hingga pelemparan bom, molotov.
02:04Malam ini saya mengundang mereka yang menjadi korban teror disertai ancaman.
02:08Ada Ramon Doni Adam yang dikenal dengan DJ Doni, dan Shirley Anavita yang keduanya adalah kreator konten,
02:14serta manajer kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik.
02:20Bung Doni, Mbak Shirley, Mbak Iqbal, terima kasih sudah adil.
02:24Terima kasih Mbak.
02:25Terima kasih Mbak.
02:26Sehat dan aman, tidak kurang satu apapun.
02:28Aman, sampai saat ini udah disini kan.
02:31Syukur kita bisa berkumpul disini.
02:33Saya ingin tahu lebih banyak lagi.
02:36Kita sudah lihat tadi di depan ya, bagaimana cuplikan teror yang sudah diterima kawan-kawan sebelumnya.
02:40Tapi sebenarnya apa momen, apa yang kawan-kawan lihat pertama kali,
02:48yang menyadarkan kawan-kawan bahwa yang diterima itu bukan hal biasa.
02:53Yang diterima itu adalah teror.
02:55Apa yang kawan-kawan lihat dari Bung Doni dulu?
02:58Jadi kalau saya, awal saya tahu teror itu sebenarnya begitu saya pulang ke rumah,
03:05saya lihat isi paket yang dikirim oleh dua orang itu, kok agak aneh.
03:12Apa anehnya?
03:14Pertama, itu paket di Lakban.
03:16Paket di Lakban, tebal.
03:20Nama penerimanya ada, nama saya.
03:22Nama pengirimnya nggak ada.
03:24Begitu saya buka, rupanya ada tiga kertas.
03:27Dua kertas isi tulisan pakai spidol.
03:29Satu kertas, ada foto saya, wajah saya, dan tulisan.
03:35Isi surat itu berupa ancaman.
03:39Bukan hanya ancaman biasa, tapi ancaman p******.
03:42Jika masih bersuara di media sosial, kamu akan seperti nasib ayam ini.
03:47Seperti ayam ini gitu kan.
03:48Begitu saya buka itu bangkai ayam, kepalanya sudah terpotong.
03:52Menurut saya sudah teror nih sebenarnya.
03:55Yang terima paket itu pertama kali siapa?
03:58Istri saya.
03:59Waktu itu istrinya?
04:00Istri, karena istri waktu itu dikirimnya 8.
04:01Kalau menurut CCTV tetangga depan itu, pukul 20.44, istri pulang pukul 21.
04:08Istri pulang sampai rumah, dibuka, bukan dibuka, dilihat.
04:11Ini ada paket mencurigakan di telepon saya.
04:14Kamu pesen pakai apa, ini nggak, saya bilang nggak ada, nggak ada paket gitu kan.
04:19Coba pulang dulu deh, ini ada yang nggak beres deh.
04:21Karena waktu itu memang sudah mulai rame tuh di media sosial tuh.
04:23Ada yang didoxing, ada yang juga yang udah mulai dikirim paket yang aneh-aneh.
04:29Itu udah mulai tahu juga di media sosial.
04:32Saya juga nggak nyangka aku ada paket juga ke rumah saya.
04:34Akhirnya begitu saya pulang, saya bongkar rupanya.
04:38Isinya teror seperti itu.
04:39Sebelumnya itu sempat dapet doxing juga atau nggak?
04:42Saya belum ada.
04:42Jadi itu memang momen pertama kali ya, bahwa oh ini ada teror.
04:47Lalu bukan sekali bahkan, ada dua kali.
04:50Dua kali, dua hari kemudian pukul 03.12.
04:55Itu, nah kebetulan pada setelah-setelah kejadian pengiriman paket itu,
05:00sehari setelahnya saya pasang CCTV.
05:02Antisipasi berarti?
05:03Antisipasi, saya pasang CCTV.
05:06Begitu, saya kan mikir, ah udahlah cuma teror begini aja,
05:09nggak usah takut kita tidur.
05:10Saya tidur dengan istri segala macam.
05:11Yang pertama itu dapet CCTV-nya ditanggap.
05:14Dan saya bilang, udah nggak usah takut, nggak apa-apa, cuma ke kita aja.
05:16Udah, biarin aja.
05:18Mudah-mudahan nggak ada lagi.
05:19Yaudah, saya tidur.
05:20Tidur, pasang CCTV besoknya.
05:22Pas malam tanggal 30.31, subuh itu pukul 03.12 itu,
05:27rupanya ada jalan dua orang di depan rumah saya itu jalan.
05:30Yang satu pakai jaket hujan warna hijau, satu lagi pakai jaket hitam.
05:35Itu melempar molotov.
05:36Dan baru taunya, pas pagi pukul 06.45,
05:39istri saya bangun, kebawah kok bau minyak tanah.
05:43Bau minyak tanah dilihat, ini kok ada pecahan kaca.
05:46Dibangunin saya, saya turun, saya videoin, ya apa.
05:48Wah, rupanya ada molotov.
05:49Saya buka itu, cuman CCTV.
05:51Benar rupanya.
05:53Ada yang datang lempar molotov.
05:54Jadi, saat dilempar itu, tidak tahu ya.
05:57Tahunya pada saat pagi hari.
06:01Bersyukurnya bahwa itu tidak melukai siapapun di rumah.
06:04Bersyukurnya tidak melukai siapapun.
06:06Dan bersyukurnya bahwa molotov itu keburu mati apinya sebelum jatuh.
06:09Tidak ada kebakaran, akhirnya mati itu.
06:12Nah, pada saat itu, artinya sudah dapat teror kedua,
06:15ini tidak bisa dianggap main-main dong.
06:17Apa yang ada di pikiran Bung Doni,
06:19yang ada di pikiran keluarga saat itu?
06:21Yang di pikiran saya, langsung saya berpikir,
06:24wah ini bahaya ini.
06:25Bukan hanya saya yang dirugikan kalau sampai terbakar,
06:27tapi tetangga.
06:28Rumah saya itu padat penduduk, Mbak.
06:30Cuma satu mobil, padat penduduk.
06:31Kalau itu meledak, Mbak.
06:33Meledak, benar-benar kena tembok,
06:35terus kena mobil, itu kebakar, Mbak.
06:37Itu mungkin keluarga saya dengan saya,
06:39mungkin sudah tidak ada.
06:40Karena rumah saya itu pintu cuma satu.
06:42Lihat bawah situ.
06:43Kalian tidak ada.
06:44Dan saya pikir kalau rumah saya kebakar,
06:46otomatis tetangga kebakar semua.
06:48Itu satu, itu kan perumas, Mbak.
06:49Rumah bisa kebakar semua,
06:51saya pikir sudah tidak benar nih.
06:52Saya harus lapor ke polisi.
06:53Jam 11 pagi, menjelang siang,
06:56saya langsung lapor ke Polda Metro Jaya.
06:58Didampingi siapa saja?
06:59Saya sendiri saja.
07:00Sendiri saat itu?
07:01Ada teman lah, didampingi teman.
07:03Saya datang ke Polda,
07:05diterima dengan baik,
07:05buat laporan.
07:06Pukul 13 selesai laporannya,
07:08saya pulang ke rumah.
07:09Pukul 14 teman-teman dari Polda,
07:11datang ke rumah.
07:13Rame untuk lihat barang bukti,
07:15olah TKP dan lain-lain.
07:16Barang bukti dibawa pulang.
07:17Pukul 17 mereka pulang.
07:20Pukul 19 mereka datang lagi dari Polda.
07:22Tim kedua datang lagi.
07:24Menyisir seluruh CCTV yang ada di perumahan saya.
07:30Di momen yang sama juga,
07:31Mbak Sherry mendapatkan teror.
07:3230 Desember ya?
07:3430 Desember, betul.
07:35Apa yang Mbak Sherry lihat pertama kali pada saat itu?
07:39Yang pertama kali dilihat adalah,
07:41jadi mungkin kalau flashback ke 30 itu,
07:45memang di pagi itu kita ada,
07:47Sherry ada janji dengan teman,
07:48jadi dengan tim untuk ada meeting.
07:51Nah, pagi itu tim sudah sampaikan bahwa,
07:56Mbak Sherry nanti kalau keluar jangan kaget.
08:00Karena mungkin tim kan sudah datang duluan,
08:03dan melihat kondisi mobil kayak gitu.
08:05Nah, pas waktu Sherry keluar,
08:07baru ngedapetin kok ada bau busuk.
08:10Tim masih belum sadar bahwa ini ada bau busuk dan ada pesan.
08:13Ada pesan yang dibungkus begitu,
08:15yang diikat.
08:17Ini ada bau busuk yang tidak biasa di bagian depan.
08:20Terus Sherry coba cari,
08:22ternyata ya benar telur busuk yang sudah pecah.
08:24Nah, asumsi Sherry itu dilempar awalnya,
08:28sebelum ada CCTV dilempar,
08:30karena cipratan dari telur busuk itu ada di mana-mana,
08:32di dinding, di bagian bawah,
08:34artinya itu bukan yang ditaruh atau sudah pecah dari awal,
08:37tapi itu dilempar.
08:39Sudah berantakan,
08:41ketika Sherry coba jalan ke ngikutin,
08:43ini awal mulanya dari mana sisirannya,
08:46ketemulah satu gulungan kertas,
08:49dan ketika dibuka ada tiga lembar.
08:52Salah satunya berisi identitas,
08:54salah seorang keluarga,
08:56jadi Sherry tinggal sama adik,
08:57itu identitas KTP-nya memang ditaruh di salah satu gulungan kertas.
09:01Kemudian Sherry keluar,
09:02benar saja ternyata mobil sudah di piloks,
09:05berwarna merah,
09:07kurang lebih gambar muka yang mulutnya dicoret,
09:11yang itu senada dengan isi pesan
09:12yang ada di salah satu gulungan kertas.
09:15Yang kurang lebih nadanya adalah
09:16jangan mengambil opportunity
09:20atau mengambil kesempatan di tengah bencana,
09:23dan untuk diam.
09:26Jadi dari situ Sherry melihat kok narasinya kurang lebih
09:29senada gitu,
09:30antara pesan gulungannya
09:32dengan yang dicoret di mobil.
09:35Yang kalau boleh ngeliat ke beberapa hari sebelumnya,
09:38Sherry sudah mengikuti bahwa satu hari sebelumnya
09:42Bang Doni sudah kena duluan,
09:44dan itu kan di up di sosial media.
09:45Kawan kita juga,
09:46Bang Firdian juga kena gitu.
09:48Artinya, sebetulnya sudah punya firasat bahwa
09:52jangan-jangan...
09:53Saya juga kena begitu.
09:54Sherry bisa aja kena gitu.
09:56Setelah ini jangan-jangan Sherry juga bisa aja kena gitu.
09:59Tapi masih ada pikiran,
10:00emang Sherry ini siapa?
10:02Emang apa yang Sherry sampaikan?
10:03Emang sejauh apa sih yang Sherry sampaikan ini?
10:06Kayak gitu.
10:08Jadi ketika paginya mendapati kayak gitu,
10:12Hal pertama,
10:14Sherry diem.
10:16Emang di salah satu media televisi yang Sherry sampaikan adalah
10:21Sherry kontemplate.
10:22Emang yang Sherry sampaikan,
10:24yang Sherry lakukan itu apa?
10:25Kok Sherry sampai dapat tindakan seperti ini?
10:29Artinya tindakan teror ini kan jelas ada tujuan,
10:31apalagi kalau polanya, isi pesannya, waktunya itu kurang lebih dekat
10:37dan sama gitu, berdekatan.
10:41Dari situ Sherry melihat lagi kira-kira konten mana yang sebetulnya
10:46dianggap pertama mengambil kesempatan di tengah bencana,
10:51yang kedua kiranya ada konten atau pesan yang boleh jadi itu salah mungkin ya.
10:56Jadi Sherry kayak kontemplate,
10:57coba evaluasi ke diri Sherry sendiri.
10:59Tapi ketika Sherry lihat ulang, kayaknya nggak ada.
11:01Dari situ akhirnya, ini keyakinan Sherry ya.
11:04Karena selanjutnya kemudian berita dari Bang Damanik ini juga naik.
11:09Maka ketika teror itu terjadi, apalagi dalam waktu berdekatan,
11:13polanya hampir sama,
11:15maka wajar saja kalau asumsi publik akhirnya muncul,
11:18jangan-jangan ada yang sedang ditutupi.
11:19Oke, sebelum kita ke sana,
11:21waktu itu kan tadi Mbak Sherry bilang,
11:23melihat gulungan kertas ada identitas dari adik.
11:26Artinya bukan hanya menyasar Mbak Sherry,
11:28tapi ada keluarga di sana.
11:30Apa yang ada di pikiran Mbak Sherry?
11:32Apa juga respons keluarga adik Mbak Sherry melihat hal itu?
11:37Kalau Sherry,
11:38mikirnya nggak ke Sherry,
11:39dan mikirnya ke keluarga kak Adik,
11:41karena memang tinggal sama adik,
11:42dan keluarga di Aceh.
11:44Saat itu Sherry langsung menghubungi ke keluarga di Aceh,
11:46bertanya apakah di sana baik-baik saja.
11:50Ibu, kakak, dan keluarga di sana.
11:53Dan yang kedua adalah,
11:54Sherry minta saat itu,
11:55karena adik Sherry memang udah mau berangkat kerja,
11:57boleh nggak hari ini nggak usah kerja dulu?
11:59Karena mungkin ada, khawatir pasti ada ya.
12:02Apalagi itu identitasnya jelas.
12:03Itu memang betul,
12:04tapi identitasnya persis memang punya.
12:06Iya, identitasnya persis.
12:07Dari situ,
12:09Sherry berpikir,
12:10kira-kira siapa yang punya akses untuk mendapatkan identitas?
12:13Kita sebagai warga negara.
12:14Iya kan muncullah akhirnya pikiran-pikiran yang kemana-mana gitu.
12:20Tapi akhirnya adik mencoba untuk meyakinkan,
12:24ya insya Allah nggak ada apa-apa,
12:25kalaupun ada apa-apa nanti segera dihubungi.
12:28Kayak gitu.
12:28Kalau Bang Iqbal,
12:2930 Desember juga sama.
12:31Desember, betul.
12:32Apa yang waktu itu Bang Iqbal terima?
12:34Ayam di depan rumah,
12:39terus ada pesan di dalam plastik,
12:42yang pesannya itu,
12:43jagalah ucawanmu apabila ingin menjaga keluargamu.
12:46Jadi ancaman ini bukan langsung ke saya sebenarnya,
12:50tapi ke keluarga.
12:52Saya nggak tahu ya isi kepala si pengancam ini apa,
12:55si peneror ini,
12:56sampai meletakkan kata keluarga di situ.
13:00Dan ini ketemunya kan subuh ya.
13:02Jadi subuh itu memang awal beraktifitas,
13:05dan kita tuh selalu bareng gitu ya, subuh.
13:08Jadi, dan biasanya yang buka pintu,
13:10jadi saya punya anak kecil,
13:12umur 8 tahun gitu,
13:13buka pintu dan dia punya kucing gitu ya.
13:16Jadi kucing ini ngendus si ayam,
13:18terus dia teriak gitu.
13:20Ayah, ayah gitu.
13:21Terus saya juga, ini ya,
13:23langsung awas gitu ya.
13:26Jadi terus istri,
13:27saya juga punya anak kecil dua perempuan,
13:29satu masih tiga bulan.
13:33Jadi, abis kita kumpul tuh,
13:35jadi saya langsung bilang,
13:36istri sama anak ke dalam dulu gitu,
13:39saya lihat.
13:40Tapi feeling kali ya,
13:42ya ini kayaknya,
13:44karena udah ada rangkaian kan sebelumnya.
13:47Yang mulai dari,
13:48jadi saya tuh sebelumnya itu,
13:49beberapa minggu sebelumnya itu,
13:51boom komen,
13:53di semua postingan.
13:53Sampai 1.400an komen tuh.
13:56Banyak banget.
13:57DM.
13:58Terus ada satu DM yang,
14:00sebenarnya saya nggak suka baca juga DM-DM ini.
14:02Cuma karena ada berbarengan,
14:04jadi menarik perhatian gitu ya.
14:05Boom.
14:06Dan dia sequence gitu.
14:07Jadi bisa kita lihat polanya.
14:09Hari pertama jam berapa gitu.
14:11Kelihatan gitu.
14:12200 komen, 300 komen,
14:14mesin lah gitu ya.
14:15Ada satu, apa,
14:17satu ancaman,
14:19yang langsung memang,
14:20jaga keluargamu gitu ya.
14:22Jaga ucapanmu,
14:25kalau mau keluargamu diterjaga,
14:27karena kami sudah tahu alamat dan lain sebagainya.
14:30Jadi,
14:30di situ saya langsung,
14:32apa,
14:33aktif gitu ya,
14:34self defense gitu untuk lihat.
14:36Jadi begitu dia ditemukan sama,
14:39anak saya,
14:40umur 8 tahun,
14:42terus istri saya juga lihat,
14:44masuk ke dalam,
14:45saya keluar udah dengan,
14:47video gitu.
14:49Pasti,
14:50tadi mekanisme self defense otomatis,
14:52karena,
14:53meskipun,
14:54sudah terbiasa jadi aktivis,
14:56Bang Iqbal,
14:56tapi saat yang dimention pertama kali ada keluarga,
15:00itu tidak mungkin tidak khawatir.
15:02Tidak mungkin tidak berkecamuk pikiran Bang Iqbal.
15:04Apa yang dilakukan?
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan