- 7 bulan yang lalu
- #lawanbutapolitik
- #demo
- #tunjangan
- #dpr
JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota Komisi II DPR Fraksi Golkar, Ahmad Irawan di Program ROSI menyebut total gaji dan tunjangan yang diterima anggota dewan yakni lebih dari 100 juta namun di bawah 150 juta rupiah.
Uang ini digunakan untuk menjalankan peran dan menjaga profesionalitas serta integritas sebagai anggota DPR ketika dibekali dengan dana cukup oleh negara.
Ketua BEM UNPAD tahun 2022 yang juga kreator konten #LawanButaPolitik, Virdian Aurellio merasa efisiensi di berbagai sektor yang dirasakan masyarakat justru tidak dialami para pejabat.
Menanggapi hal ini, Irawan menyebut DPR tidak melakukan eksekusi program sama dengan yang dilakukan oleh eksekutif, sehingga item efisiensinya tentu berbeda.
Bagamana pendapatmu?
Selengkapnya saksikan di kanal youtube KompasTV. https://youtu.be/po7pixzTD2s
#demo #tunjangan #dpr
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/614272/gaji-dan-tunjangan-dpr-ratusan-juta-pejabat-tak-terdampak-efisiensi-rosi
Uang ini digunakan untuk menjalankan peran dan menjaga profesionalitas serta integritas sebagai anggota DPR ketika dibekali dengan dana cukup oleh negara.
Ketua BEM UNPAD tahun 2022 yang juga kreator konten #LawanButaPolitik, Virdian Aurellio merasa efisiensi di berbagai sektor yang dirasakan masyarakat justru tidak dialami para pejabat.
Menanggapi hal ini, Irawan menyebut DPR tidak melakukan eksekusi program sama dengan yang dilakukan oleh eksekutif, sehingga item efisiensinya tentu berbeda.
Bagamana pendapatmu?
Selengkapnya saksikan di kanal youtube KompasTV. https://youtu.be/po7pixzTD2s
#demo #tunjangan #dpr
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/614272/gaji-dan-tunjangan-dpr-ratusan-juta-pejabat-tak-terdampak-efisiensi-rosi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Terima kasih Anda di program ROSI, di tengah polemik berbagai tunjangan bagi anggota DPR
00:04yang dinilai jumbo publik menyoroti kinerja anggota DPR yang dianggap masih loyo.
00:10Saya masih bersama anggota Komisi 2 DPR RI Fraksi Golkar Ahmad Irawan dan Ketua BM4 tahun 2022
00:16yang juga kreator konten lawan buta politik Firdian Aurelio.
00:20Saya masuk ke Bung Irawan dulu.
00:23Di tengah situasi ekonomi yang sulit, banyak PHK, anak muda susah cari kerja,
00:27anak muda juga susah cari rumah, anggota DPR dapet tunjangan tinggi.
00:33Tega kak? Tega dapet tunjangan besar seperti ini.
00:38Gak merasa bahwa ini kayaknya kok gak pantas gitu.
00:43Di DPR juga manusia juga mbak, manusia biasa lah.
00:49Punya empati juga, punya empati dan saya ingin mengatakan bahwa sekali lagi
00:55apa yang diberikan oleh negara melalui kami itu tidak kami gunakan sepenuhnya
01:01untuk kepentingan diri kami seorang.
01:03Tapi juga digunakan untuk kepentingan orang banyak, termasuk masyarakat
01:08yang memang juga membutuhkan uluran tangan dan pertolongan dari kami.
01:13dan terkait dengan apakah tega gak tega.
01:20Ya bukan kami ingin menonjolkan apa yang kami lakukan.
01:28Mungkin kami masih lebih banyak dan lebih sering ketemu dengan orang-orang yang dianggap
01:33membutuhkan pertolongan dibanding dengan orang lain.
01:37Mungkin ada gini kali gak ya Bung Girawan, karena Anda juga ini tahun pertama ya Bung Girawan
01:44dari menjadi anggota DPR, ada situasi yang sangat kontras.
01:49Ketika anggota DPR ini dapat tunjangan yang sangat tinggi, ada situasi ekonomi yang susah
01:54yang dihadapi oleh banyak masyarakat umum.
01:56Dan kalau kita ke DPR, di DPR itu sudah menjadi bagian dari pandangan publik
02:02bahwa itu kan seperti showroom, begitu banyak kendaraan mewah bagi anggota DPR.
02:08Jadi udah kaya dari sananya, jadi anggota DPR, dapat tunjangan yang tinggi pula.
02:15Yang gini-gini kan memang sebuah fakta.
02:20Ya itu jadi kritik dan masukan yang sering kami dengar.
02:27Sehingga banyak juga dari teman-teman kami berusaha untuk kemudian membatasi dirinya
02:33bagian dari empati yang disampaikan tadi tersebut gitu.
02:37Tetapi bahwa mereka punya kemampuan daya beli kan,
02:42tapi kan nggak bisa mengatur satu persatu bahwa mobilnya harus ini, ini, ini.
02:48Tidak bisa seperti itu.
02:50Itu kan hak masing-masing anggota DPR.
02:53Buat Anda sendiri bahwa apa yang didapat oleh anggota DPR,
02:56tadi Anda berkali-kali menyebutkan gaji pokoknya berapa?
03:0016.
03:0016 juta, tapi tunjangannya lumayan gede ya.
03:02Jadi kisaran yang Anda terima saat ini yang masuk ke kena ada.
03:05Di total gede.
03:08150 jutaan ada?
03:10Kurang dari 150 juta.
03:11Kurang dari 150 juta, tapi di atas 100 juta.
03:14Sedikit di atas 100 juta.
03:15Dan itu menurut Anda sesungguhnya sangat sepadan,
03:20bahkan kurang untuk anggota DPR yang menjalankan tugasnya dengan baik.
03:25Saya nggak ingin mengatakan kurang.
03:27Nanti di komentar saya dibully lagi.
03:29Tapi saya ingin mengatakan bahwa ini sangat bisa menopang kami untuk menjalankan peran-peran kami.
03:41Yang kedua juga menurut saya ini juga bisa menjaga profesionalitas dan integritas kami sebagai anggota DPR ketika dibekali sesuatu yang cukup oleh negara.
03:54Untuk kemudian menjalankan peran kami dan melayani konstituen kami.
03:59Saya ingin memberikan ruang untuk percaya itu bahwa satu, gaji Anda itu di kisaran 100 jutaan.
04:09Dan itu menunjang kinerja Anda dan tadi tersirat Anda ingin mengatakan supaya juga tidak tergoda untuk korup atau nyolong atau ngambil duit APBN.
04:21Sangat bermanfaat, sangat bermanfaat.
04:25Dan itu menurut saya ini bisa membuat dalam jangka panjang membuat DPR menjadi satu lembaga yang modern dan terpercaya ketika dari sisi budgetingnya kuat.
04:37Karena ya tidak perlu untuk mencari.
04:40Jadi dengan gaji 100 juta lebih sedikit itu mencegah anggota DPR untuk tidak korupsi?
04:45Ya mbak, kalau ngomongin soal itu kita sama-sama tahu mas.
04:51Bahwa publik ngerti bahasa-bahasa Dewan itu kan.
04:54Komisi bahasa, komisiman yang kering segala macem.
04:57Artinya pengawasan rakyat kepada wakil rakyatnya aja bagi saya hari ini sangat minim.
05:04Bukan karena tadi lagi-lagi orang-orang gak excited atau gak pengen lihat gitu ya.
05:08Tapi karena sistem bahkan sesederhana kita pakai bahasa bayi aja lah mas.
05:12Mas, masuk ke DPR sekarang itu udah kayak mau masuk kantor Interpol mungkin gitu.
05:19Berlok, lok, lok, lok.
05:20Security-nya gila banget sih.
05:21Artinya dari sesederhana hal itu aja sudah.
05:23Soalnya kan pejabat negara harus dilindungi.
05:26Harus dilindungi mbak ya.
05:27Iya, kita memang gak perlu dilindungi kalau masyarakat biasa ini kan.
05:30Yang kedua gini, ketika ngomongin ekonomi tadi mbak.
05:33Bagi saya ada satu buku yang mengatakan namanya state of denial gitu.
05:37Atau negara cuek, setelan cuek gitu kasarnya.
05:39Bagi saya hari ini negara itu cukup hipokrit.
05:44Munafik baik DPR ataupun eksekutif.
05:46Ketika bicara soal efisiensi, yang kemudian jadi korban adalah guru honorer, pegawai TVRI lah.
05:54Kemudian transfer, dana transfer daerah yang kemudian di daerah PBB jadi naik gila-gilaan.
05:59Pendidikan, bahkan listrik di UI sempat kemudian dimatiin lebih cepat dibandingin sebelumnya.
06:05Kemudian buat KIPK dan lain sebagainya.
06:07Tapi efisiensi ini gak berasa nih buat yang para pejabat.
06:11Uang, hotel, dan juga mobil dinas gak turun.
06:15Gak ada kami mobil dinas.
06:17Ya, saya ngomongin eksekutif.
06:18Dan DPR kan sebagai pengawas daripada eksekutif gitu.
06:20Kalau anggota DPR sih gak dapet mobil dinas.
06:22Betul, saya ngomongin DPR sebagai pengawas eksekutif.
06:25Ya harusnya bisa memberikan ketegasan sikap soal berbagai efisiensi tersebut.
06:28Yang ingin dikatakan oleh Viridian adalah di tengah efisiensi tapi itu tidak ada di anggota DPR.
06:34Ada, ada.
06:36Cuma kan mungkin kan kami kan tidak melakukan eksekusi program sama dengan yang dilakukan oleh eksekutif.
06:44Sehingga item efisiensinya tentu berbeda gitu.
06:47Tapi efisiensi itu ada karena kan impresi itu kan ditujukan kepada semua lembaga negara dan lembaga pemerintahan.
06:54Misalnya apa Bu Irawan efisiensi yang Anda rasakan sebagai anggota DPR?
06:58Yang sebelumnya kan misalnya terkait dengan kegiatan rapat-rapat, terus perjalanan dinas, kunjungan kerja, apa macam-macam.
07:06Itu kan sempat kami, bukan sempat, bahkan volumenya dikurangi gitu.
07:12Itu kan bagian dari efisiensi yang semua lembaga pemerintahan harus mengikuti itu karena itu bagian dari intres kepala negara dan kepala pemerintahan.
07:21Mana kan kalau anggota DPR rapat-dengar itu kan sesuatu kewajiban, nggak mungkin diefisiensi kan?
07:25Ya makanya kan tetap jalan.
07:27Nah makanya itu nggak menjadi bagian dari efisiensi dong.
07:30Itu memang tidak perlu diefisiensi karena memang nggak ada anggarannya untuk itu.
07:33Ya kami rapat aja karena itu kan kami udah dibayar dari gaji dan tunjangan bulan.
07:36Karena ada tunjangan rapat?
07:38Nggak ada.
07:39Dari mana infonya?
07:40Rapat apa yang ada tunjangannya?
07:41Ya tapi kan kalau ada beberapa rapat untuk RUU, bisa di hotel, itu kan juga harus ada anggaran dong.
07:49Oh itu namanya consignering.
07:52Itu pun hanya dilakukan sekali untuk dalam satu RUU.
07:56Kalau mau tahu honornya, saya bisa cerita.
08:00Kalau ini nggak apa-apa.
08:01Ya kenapa? Silahkan cerita.
08:02750 ribu.
08:04Sekali rapat?
08:06Consignering ya, tiga hari.
08:08750 ribu x tiga?
08:09Malah nggak sampai 2 juta malah.
08:131 juta 600 apa 1 juta 700.
08:15Tapi Bu Irewan, gini.
08:17Kalau ngomong dengan Anda kok kayaknya anggota DPR susah banget ya?
08:20Beda banget Anda?
08:21Beda gimana?
08:23Kayaknya seperti melas gitu.
08:24Bahwa anggota DPR tidak sukaya yang dilukiskan gitu.
08:28Melas banget sebenarnya.
08:29Kalau itu kan nggak perlu dicerita.
08:30Tapi saya ingin menyampaikan bahwa ya itu yang peran yang kami jalani.
08:38Kami ya begini ada, begini adanya gitu.
08:41Atau mungkin karena Anda masih baru kali.
08:43Nggak ada.
08:44Ya saya ingin menyampaikan ini.
08:45Kita ini mungkin bukan orang baik.
08:47Tapi nggak sejahat yang orang pikirkan.
08:48Masih baru, masih fresh.
08:52Saya udah lama di partol.
08:54Ya, tapi kan baru sekarang anggota DPR.
08:56Ya baru sekarang.
08:57Baru terpilih saat ini.
08:58Makanya yang satu hal yang paling saya syukuri adalah
09:01dengan adanya gaji dan tunjangan seperti itu.
09:04Saya bisa terjaga gitu.
09:05Dari tuntutan-tuntutan untuk mendapatkan tambahan yang tadi itu
09:09yang bisa menjurmuskan kita
09:11untuk praktik-praktik perbuatan melawan hukum tadi itu.
09:15Sesuatu yang patut kita apresiasi
09:18dan janji yang kita mudah-mudahan bisa kita pegang
09:21dengan gaji di atas 100 juta,
09:23kurang dari 150 juta, betul ya?
09:25Itu membuat Bung Irawani merasa bisa terjaga
09:29sehingga tidak perlu nyolong duit APBN.
09:32Saya mau bertanya mungkin.
09:34Boleh, boleh.
09:34Satu, misalnya bahkan Fitra bersama ICW gitu ya
09:40mengatakan take home pay DPR itu
09:42setahun bisa 4,2M sepaket dengan uang reses ya.
09:46Dan tunjangan tadi itu.
09:47Tunjangan yang Mas bilang nggak ada tapi di sini ada.
09:49Pertanyaan satu,
09:49kalau misalnya Mas mengatakan bahwa itu data salah,
09:53di mana publik bisa mengakses data itu secara transparan
09:56dan terbuka by internet?
09:58Itu yang pertama.
09:59Yang kedua saya mau bertanya terakhir,
10:01Mas ini kan bagian dari orang-orang muda
10:03sama spirit saya gitu ya.
10:04dan banyak di DPR juga masih muda.
10:06Yang harusnya kami bangga punya perwakilan yang muda di sana.
10:10Tapi hari ini kami nggak merasakan yang muda-muda ini,
10:12pun mewakili kami yang muda.
10:13Nah, belum kenal ini.
10:14Artinya saya mau mencoba men-challenge soal isu tunjangan ini,
10:18apa yang akan Mas lakukan, mungkin bersama Kak Okus Muda di DPR atau lain sebagainya.
10:23Ide menarik sih.
10:24Men-represent perwakilan orang-orang muda soal kalau mau naik gaji, perform dulu.
10:30Perform gimana caranya? Benahi sistem, keep it, dan sebagainya.
10:32Masa akan lakuin apa?
10:33Harusnya lagi ketemu wakil rakyat saya nih gitu kan?
10:36Walaupun bukan dapit malang.
10:37Makanya sebagai orang muda, saya hadir di program ROSI ini di tengah sensitivitas publik terhadap apa yang diterima oleh DPR.
10:46Saya datang menjelaskan dan menyampaikan kepada publik apa yang kami terima setiap bulannya.
10:52Dan itu menurut saya perlu untuk dijelaskan kepada publik dengan penjelasan yang proporsional.
10:59Walaupun ya tantangannya saya sampaikan tadi bahwa ada ketidakpercayaan publik terhadap kami.
11:04Itulah yang kemudian yang kami harapkan bisa memperbaiki kinerja kami dengan tadi salah satunya misalnya rancangan undang-undang.
11:11Saya dibalek pada saat kami menyusun prolegnas utama termasuk yang disampaikan oleh pimpinan.
11:16Agar setiap komisi hanya masing-masing satu.
11:19Dan kemudian agar jangan sampai target itu kurang dari realisasi.
11:23Kalau mengakses di mana mas tadi?
11:25Kalau mengakses.
11:25Satu-satu kita jawab.
11:27Tapi saya rasa ada poin yang baik menurut saya.
11:32Karena soal gaji pejabat publik itu memang wajib transparan.
11:36Dan ini bukan karena anti gaji besar.
11:40Tetapi lebih melihat kalau misalnya ada anggota DPR seperti Anda betul-betul menjaga konstituen.
11:46Dan mendengarkan aspirasi masyarakat.
11:48Jangan-jangan kalau gajinya cuma yang seperti Anda bilang tadi di atas seratus dikit.
11:53Tapi kinerja luar biasa.
11:54Anda bisa menjadikan publik sebagai orang yang berada di depan.
11:58Garis depan.
11:59Untuk memang gajinya gak cukup.
12:01Ya makanya insya Allah nanti waktu yang menjawabnya.
12:03Makanya saya jelaskan tadi itu.
12:05Tadi totalnya misalnya 4,2 bilion itu tadi yang dijelaskan itu.
12:15Saya rasa...
12:16Berlebihan.
12:16Oke.
12:17Berlebihan.
12:17Kenapa gak perlu ada transparansi soal berapa yang diterima oleh anggota DPR?
12:23Mengapa itu terlalu sensitif?
12:24Sebenarnya terbuka sih sebenarnya.
12:29Kalau gak terbuka kan publik gak mungkin bisa...
12:31Dimana bisa tadi ditanya sama Fugian?
12:33Kalau memang salah dimana mas?
12:34Karena ini kan data dari Fitra ICW yang mereka pasti juga punya.
12:37Ya mereka mungkin melihat buku anggaran itu.
12:40Artinya benar.
12:40Sedangkan kami anggota DPR.
12:42Kami ya.
12:43Kami hanya menerima dari apa yang diberikan oleh negara dan pemerintah langsung transfer.
12:49Karena persoalan administratif, hak-hak sifatnya administratif, keprotokoleran,
12:55terus manajemen rapat dan lain-lainnya semua lainnya.
12:58Itu kan diatur oleh kesekjianan.
13:00Karena kami harus fokus terhadap tupoksi khusus kami.
13:05Sayang kami gak pernah ngurusin tuh.
13:06Ini kita kalau misalnya ngurusin gaji apa macem-macem itu honor-honor.
13:12Nanti gini-gini kan kita punya rasa malu juga.
13:14Mertanya apa yang kami harus dapatkan dalam setiap rapat apa macem-macem itu.
13:18Wilayahnya kesekjianan.
13:19Oh saya ngerti.
13:20Jadi poin Anda yang pokoknya yang Anda terima cuma di atas 100 jutaan dikit.
13:29Dan Anda juga gak nanya berapa.
13:31Karena Anda takut dianggap kayak mau minta-minta gitu.
13:33Ngapain kita minta-minta?
13:34Karena aktivisme ini kan bagian dari hobi aja.
13:38Nah itu bukan soal kenapa nanya-nanya untuk minta-minta sih.
13:41Itu transparansi dan pertanggung jawab.
13:43Dan itu saya kira...
13:44Sekarang Mas belum menyebut tuh Mas.
13:45Di sini berapa kompe satu tahun anggota DPR RI ketika Mas bilang 4,2 M berserta resesi itu salah.
13:52Itu kan yang transparansi...
13:53Lo kan tinggal ditambah tuh.
13:55Misalnya tadi katanya Bu Rosi bilang 150 juta.
13:59Ya.
14:00Kali berapa bulan?
14:0112 sebulan.
14:03Ya mungkin itu aja totalnya.
14:05Tetapi itu totalnya yang masuknya.
14:08Tapi kan pengeluarannya kan lebih banyak.
14:10Mas mau mengatakan 2, sekian M.
14:12Jangan dikatakan itu take home pay.
14:132, sekian M take home pay.
14:15Dan kalau ya 150 juta kali 12 kan 2, sekian M lebih ya Mas ya.
14:19Gak nyampe 4,2 nih.
14:20Aku takut totalnya, takutnya dibilang gak bisa hitung loh.
14:26Katakanlah 2,2 lah.
14:28Ya artinya disini saja Mas.
14:29Poin saya gini.
14:29Artinya ketika publik punya hak untuk mengetahui informasi.
14:34Apalagi ini adalah uang yang kami berikan kepada Mas-Mas semua ada di sana, di Senayan.
14:39Kita aja dibikin simpang siur.
14:41Ini 4,2 M gak?
14:422, sekian M.
14:43Makanya tadi saya bertanya.
14:45Yang buat simpan siur kan karena datanya tidak tepat.
14:48Nah makanya saya tanya, dimana Mas ngakses datanya?
14:50Enggak Pak.
14:51Kan kita udah ketemu nih, nanya kan nyeper orang.
14:53Dan mungkin hampir sama.
14:54Kalau data secara umum berapa anggaran DPR.
14:58Berapa program-program situ biayanya dan lain-lain.
15:01Saya gak tahu.
15:01Karena itu wilayahnya segenan.
15:04Tapi kalau nanya ke saya berapa yang saya terima setiap bulannya, saya bisa jelaskan.
15:11Tadi Bu Rosi bilang, kenapa?
15:13Sebenarnya saya gampang untuk menyampaikan.
15:15Tapi kan nanti dibilang lagi, kok besar banget punya.
15:18DPR ini bukan masalah transparansi.
15:19Tapi ini terkait dengan yang disampaikan di awal.
15:22Ini sensitivitas dan tadi itu empati terhadap publik.
15:26Bagi saya kalau sensitif lagi-lagi, Mas hari ini saya mau menyampaikan bahwa kemudian
15:3019 juta lapangan pekerja yang dijanjikan misalnya itu tidak terwujud lapangan, Mas.
15:36Nanti kita tanya ke pemerintah itu.
15:387 juta orang menganggur hari ini, Mas.
15:411 juta sarjana lebih menganggur.
15:43BPR, 190 juta kemiskinan terjadi.
15:44Rasio tabungan turun.
15:45Rasio pinjaman online meningkat dan sebagainya.
15:48Ketika Mas bicara gak empati, sensitif.
15:49Berarti Mas sadarkan ada kondisi ini.
15:51Ya harusnya DPR kalau misalnya memang merasa ini tidak empati, bukan ditutupin.
15:56Ya dibatalin tunjangan besarnya gitu.
15:58Nah kalau misalnya gak mau dibatalin, transparansiin, kemudian detailkan apa yang menjadi satu.
16:03Begini, dari total yang disampaikan tersebut, mungkin setengahnya itu dari yang tunjangan perumahan yang 50 juta per bulan.
16:14Yang lainnya itu kecil-kecil.
16:15Eh, aku hampir kecepat.
16:17Aku mohon maaf.
16:19Ya, memang digunakan juga untuk nanti aku bilang kecil salah lagi.
16:23Nah, intinya kalau ditotal dengan 50 juta, dengan 50 juta itu 100 lebih.
16:28Tapi kalau dikurang tanpa ada 50 juta itu, itu bisa jadi sekitar 50 jutaan juga.
16:3550 something lah.
16:37Tunjangan, menurut Anda, boleh gak dibatalin dulu situasi ekonomi lagi susah?
16:42Loh kan pimpinan DPR kan sudah menyampaikan bahwa apa itu, kata Pak Dasuk itu.
16:47Saya gak nonton, cuma katanya ada...
16:49Hanya setahun, tidak untuk lima tahun.
16:51Kata beliau, yaudah itu aja yang kita jadikan pegangan dari Pak Dasuk.
Komentar