- 7 bulan yang lalu
- #jokowi
- #roysuryo
- #ijazahpalsu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penuding ijazah palsu Jokowi yakni Roy Suryo mengatakan dalam buku Jokowis White Paper yang ditulisnya bersama Rismon Sianipar dan Tifauzia Tyassuma, menuliskan kronologi isu ijazah palsu muncul.
Roy mengatakan tahun 2013, dimulai dari seminar, balik ke novel, dan kemudian ke film. Dalam momen tersebut, Jokowi mengatakan IPK-nya 2.
Menurutnya, aneh jika presiden ke-7 RI Joko Widodo tidak menunjukkan ijazahnya. Roy membandingkan dengan ijazah Bung Hatta yang dipamerkan di Erasmus University, Rotterdam, Belanda.
Roy juga menunjukkan analisis menggunakan ELA (Error Level Analysis) ada beberapa kejanggalan, seperti foto yang tidak cocok (unmatch), sedangkan apabila dibandingkan dengannya nampak foto Roy cocok (match). Ada pula teknik yang bisa menampakkan emboss dari ijazah tersebut hingga image comparison.
Dalam buku tersebut, Roy juga menunjukkan skripsi Jokowi. Ia menegaskan tidak mencurinya dan sempat diabadikan fotonya menggunakan kamera profesional.
Rismon Sianipar menjelaskan dalam buku Jokowis White Paper berisi analisis digital forensik skripsi dan ijazah. Ada metode untuk yang pertama uji lintasan stempel itu.
"Kita uji sebaran intensitasnya. Kita analisa bukan hanya secara visual. Tetapi lewat nilai-nilai numerik yang tersimpan di dalam setiap piksel tersebut. Nah ini. Di sini ada kotak merah, bounding box. Di sini. Nah, baru kita periksa nilainya," katanya.
Bagaimana pendapatmu?
Selengkapnya saksikan di kanal youtube KompasTV: https://youtu.be/bcw5ff1bG34?si=YFNf631P6rF-nD4A
#jokowi #roysuryo #ijazahpalsu
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/613795/roy-suryo-cs-bongkar-isi-buku-jokowi-s-white-paper-ungkap-kejanggalan-skripsi-dan-ijazah-dipo
Roy mengatakan tahun 2013, dimulai dari seminar, balik ke novel, dan kemudian ke film. Dalam momen tersebut, Jokowi mengatakan IPK-nya 2.
Menurutnya, aneh jika presiden ke-7 RI Joko Widodo tidak menunjukkan ijazahnya. Roy membandingkan dengan ijazah Bung Hatta yang dipamerkan di Erasmus University, Rotterdam, Belanda.
Roy juga menunjukkan analisis menggunakan ELA (Error Level Analysis) ada beberapa kejanggalan, seperti foto yang tidak cocok (unmatch), sedangkan apabila dibandingkan dengannya nampak foto Roy cocok (match). Ada pula teknik yang bisa menampakkan emboss dari ijazah tersebut hingga image comparison.
Dalam buku tersebut, Roy juga menunjukkan skripsi Jokowi. Ia menegaskan tidak mencurinya dan sempat diabadikan fotonya menggunakan kamera profesional.
Rismon Sianipar menjelaskan dalam buku Jokowis White Paper berisi analisis digital forensik skripsi dan ijazah. Ada metode untuk yang pertama uji lintasan stempel itu.
"Kita uji sebaran intensitasnya. Kita analisa bukan hanya secara visual. Tetapi lewat nilai-nilai numerik yang tersimpan di dalam setiap piksel tersebut. Nah ini. Di sini ada kotak merah, bounding box. Di sini. Nah, baru kita periksa nilainya," katanya.
Bagaimana pendapatmu?
Selengkapnya saksikan di kanal youtube KompasTV: https://youtu.be/bcw5ff1bG34?si=YFNf631P6rF-nD4A
#jokowi #roysuryo #ijazahpalsu
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/613795/roy-suryo-cs-bongkar-isi-buku-jokowi-s-white-paper-ungkap-kejanggalan-skripsi-dan-ijazah-dipo
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Di mana itu dicetaknya?
00:01Nah, tiba-tiba ini seolah-olah seperti ada trigger
00:04Bahwa, oh, kemugunan di Pasar Pramuka gitu kan?
00:08Bahwa masih ada sisa-sisa bangunan
00:10Diduga dulunya merupakan kios dari Pasar Pramuka Pojok ya?
00:17Kios yang kemudian dibeli oleh Pak Paiman ke Om Pak Sungkono itu
00:22Dulunya kios apa Pak? Betul percetakan atau pengetikan?
00:25Pengetikan, pengetikan
00:25Di zaman itu nggak ada begitu pengetikan murni
00:28Ya, skrip sih khusus hanya skrip sih
00:29Di situ hanya skripsi semua, nggak ada lagi
00:31Ijasa?
00:32Nggak ada
00:33Saya ingin minta Bung Roy, Dr. Tifa, dan Bung Risma
00:39Tunjukkan kepada saya apa yang kemudian menjadi temuan menarik
00:42Karena Anda sebelumnya menyebutkan di tahun 2013 awal mula
00:45Iya, jadi tahun 2013 ya
00:47Kita mulai dari awal ya
00:49Jadi buku ini sangat kronologis
00:50Misalnya 2013 itulah
00:52Kenapa pertama kali isu ijasa ini bisa muncul
00:55Karena 2013 itu ada sebuahnya, ini ada fotonya
00:58Ada fotonya, ada beritanya
01:00Bisa ditunjukkan?
01:00Ya, dimulai dari seminar balik ke novel dan kemudian ke film
01:07Disitulah Jokowi dengan bangganya menerangkan
01:10Ya, itu di kampus loh
01:11Jadi saya tidak menerima alasan kalau itu dikatakan itu hanya
01:14Tandaan tidak bisa
01:16Ya, bisa karena dia mengatakan IPK-nya dua
01:18Dan itulah kemudian saya percepat saja
01:20Inilah yang tadi sempat saya ceritakan
01:22Ini ijazahnya Bung Hatta yang menjadi kebanggaan kita bersama
01:24Ini dipajang di University of Erasmus di Rotterdam
01:29Ini kan bangga banget kita
01:31Orang Indonesia dipajang ijazahnya di negara Belanda
01:34Artinya Anda ingin menyebutkan bahwa tidak ada alasan dari Presiden ke-7 Jokowi
01:39Tidak menunjukkan ijazahnya
01:41Betul, aneh, sangat aneh
01:43Dan kami menulis ya tentang keterbukaan pers ya
01:46Seperti apa, detail banget
01:48Kemudian juga tentang bagaimana dari Declaration of Human Rights
01:52Kemudian turun ke Undang-Undang Dasar
01:54Nah, kami juga menuliskan tragedi yang dialami oleh dua anak bangsa
01:58Yaitu Bambang Tri dan Gus Nur
02:00Dan kemudian kita juga tuliskan laporan-laporan yang dilakukan oleh Jokowi
02:04Ya, gitu juga
02:05Jadi ketika laporan TPUA ke Mabes Polri waktu itu
02:09Kemudian sampai dengan laporan Jokowi
02:11Yang foto ini sangat ikonik
02:13Karena Jokowi melaporkan kasus jasa ini ke lokat kehilangan
02:17Ini fakta loh ini, nggak ada yang ditambah-tambahin, nggak ada yang dikurangi
02:20Dan ini yang kemudian membuat geger
02:22Ketika ada seorang kader partai yang namanya Dian Sandi Utama
02:24Itu menampilkan pada akun X pada tanggal 1 April
02:27Kenapa ini yang kemudian menjadi tolok ukur penelitian Dr. Esmond dan juga saya
02:31Karena inilah penampakan pertamanya berwarna
02:34Dan ini bisa dianalisis
02:35Analisis-analisis yang kami lakukan
02:37Lihat yang namanya ELA
02:38Error Level Analysis
02:40Dan ini ilmu yang kemarin-kemarin belum saya sampaikan
02:43Yaitu bagaimana menggunakan teknik
02:45Yang kemudian bisa menampakkan embosnya ada di mana
02:48Kemudian bagaimana membandingkan foto-foto yang ada
02:50Ya, fotonya Jokowi tidak match, foto saya match, fotonya Dumat tidak match
02:55Sampai kepada bagaimana combination daripada IJAS atau image combination
02:59Dan kemudian saya tutup tulisan saya
03:01Itu dengan bagaimana berbagai analisis-analisi yang dilakukan
03:04Sampai kedatangan kami ke UGM
03:06Oke
03:07Tanggal 15 April itu faktanya ada
03:09Dan kemudian dengan skripsi
03:11Ini adalah primary evidence yang pernah kami pegang
03:14Dan ini jelas-jelas betul kami tidak mencuri
03:16Saya ingin tunjukkan saudara ini adalah skripsi
03:20Skripsi dari Joko Widodo yang kemudian sempat diabadikan ya
03:23Ya
03:24Oleh?
03:25Saya
03:26Bung Rai Surya
03:27Dengan kamera profesional yang formatnya adalah RAW bukan JPEG
03:29Oke, baik
03:30Saya ingin minta Bung Rizmon Sianipar untuk menjelaskan kepada kami
03:34Apa yang kemudian ada tulis di sini, ada temuan baru?
03:36Oh banyak sekali ya
03:37Banyak sekali di sini ada
03:40Ada metode untuk yang pertama
03:43Kita uji lintasan stempel itu
03:45Kita uji sebaran intensitasnya
03:47Kita analisa bukan hanya secara visual
03:49Ya, tetapi lewat nilai-nilai numerik yang tersimpan di dalam setiap piksel tersebut
03:54Oke
03:55Nah ini, di sini ada kotak merah bau ding box di sini
03:58Nah baru kita periksa nilainya
04:00Nilai-nilai numerik dibalik kanal R, G, dan B
04:04Kalau dia mendekati 255
04:07Maka dia mendekati merah
04:09Tetapi dia cenderung ke arah 0
04:11Bahkan seringnya di bawah 10
04:12Itu menunjukkan bahwa di situ tidak ada warna merah
04:16Oke
04:17Jasnya berada di atas stempel
04:20Atau tidak ada lintasan stempel sama sekali
04:22Oke, baik
04:23Tadi secara numerik sudah kita tunjukkan
04:25Buktikan tidak ada lintasan stempel
04:27Nah ini secara visual lewat gradient mapping atau gradient analisis
04:31Oke
04:32Nah terus analisis lapisan visual juga
04:35Kita buktikan ternyata secara lapisan visual demi visual ya lapisan demi lapisan
04:41Di ijasanya Krono Jiwo
04:43Itu huruf dulu baru ditindih dengan watermark logo UGM
04:48Oke
04:49Tetapi di ijasa Joko Widodo itu sebaliknya
04:52Logo dulu baru huruf
04:54Oke
04:55Nah ini membantas uji keidentikan yang disimpulkan oleh baris screen
05:01Baik
05:02Baik
05:03Terus disitu juga kita lakukan uji proportional spacing
05:06Kalau tadi per huruf
05:08Sekarang antar huruf dan antar kata
05:10Nah kita uji
05:11Nah disitu disimpulkan bahwa lembar pengesahan Joko Widodo itu
05:15Terbuat dari digital word document
05:18Bukan mesin ketik
05:19Bukan mesin ketik
05:20Atau hand press atau letter press yang disimpulkan oleh Dirti Vidum
05:26Selanjutnya analisis clip juga sama
05:29Untuk seperti overlay untuk membuntikan bentuk font yang saat itu digunakan
05:33Itu adalah Times New Roman yang tidak ada saat itu
05:36Dan disimpulkan oleh Dirti Vidum itu menggunakan hand press di tata satu-satu
05:41Anda bisa memastikan bahwa font ataupun teknologi itu tidak ada pada tahun 80
05:46Tidak ada
05:47Tidak ada
05:49Dr. Tifa ini
05:51Koreksi kalau saya salah
05:53Tapi lulusan Universitas Gejamada untuk dokter umum
05:56Ya S1 nya semua dokter pasti dokter umum
06:00Apa yang kemudian menjadi temuan dari ijazah pangsung Pak Joko?
06:03Ya saya disini saya menyumbang 150 halaman terakhir
06:07Oke
06:08Itu tentang bagaimana sebuah kajian
06:10Dengan konsep dengan metode remote forensic analysis
06:14Oke
06:15Nah kemudian dari situ
06:17Hasilnya adalah sebuah metode
06:19Dimana kita bisa melakukan sebuah analisis
06:21Terhadap inkonsistensi
06:23Ya
06:24Dokumen sekaligus perilaku dari pemilik dokumen tersebut
06:27Oke artinya Anda tidak hanya menganalisa dokumen
06:29Tetapi juga perilaku Pak Joko
06:30Ya
06:31Dengan remote forensic analysis ini tidak perlu lagi detector
06:34Oke
06:35Karena kita bisa melihat pengkaji itu bahasa tubuh
06:37Ini menarik
06:38Jadi otak itu kan luar biasa
06:40Dia memproses bukan hanya sekadar bagaimana orang itu bisa mendapatkan ijazahnya
06:45Ya
06:46Tapi bagaimana wajah dan badan tubuh berikut perilakunya itu bisa
06:51Memberikan sebuah kejujuran
06:54Oke
06:55Dan hasilnya?
06:56Jadi setiap kali yang bersangkutan itu menyampaikan tentang ijazah
07:01Menyampaikan tentang KKN
07:02Menyampaikan tentang Asmujo
07:04Yaitu ada neuroscience stress dan mekanisme self-deception
07:08Oke
07:09Jadi dalam bentuk apa itu namanya AU24 itu namanya lip pressure
07:12Oke
07:13Lip pressure nya muncul
07:15Jadi tanpa dia sadari otaknya memproses
07:17Supaya dia
07:19Menahan narasinya
07:21Oke
07:22Artinya ketika
07:23Presiden ketujuh Jokowi Dodo
07:25Setiap kali menyebutkan ataupun menyampaikan informasi terkait dengan ijazahnya
07:30Ya
07:31Anda mau menyebut Jokowi berbohong
07:33Ya
07:34Ada bahasa tubuhnya itu kelihatan
07:36Bahasa tubuh
07:37Mungkin dalam bahasa jenayah orang menyebut ini micro ekspresinya ada
07:40Oke
07:41Ya
07:43Karena beliau belajar seorang neuron
07:44Neuron
07:45Neuronscience
07:46Jadi
07:47Apa namanya
07:48Pembulubu darah
07:49Ulat syarab itu bekerja
07:50Bekerja dan menampilkan secara apa adanya
07:52Oke
07:53Saya ingin tanyakan dan sedikit mengaitkan buku yang kemudian anda bertiga tulis dengan proses hukum yang tengah berjalan
08:00buka peluang bagi lawan-lawan Anda untuk kemudian melaporkan lagi Anda bertiga dengan buku yang
08:06anda terbitkan. Apa takutnya kalau ilmiah? Anda tidak takut sama saya. Anda bertiga tidak takut.
08:11Makanya itu yang kita pelajari, yaitu yang kita implementasikan. Resikonya memang ilmiah seperti
08:17itu. Harus di-debate, harus di-discuss, dibantah kalau salah. Memang itu. Dan kami juga wajib
08:25mempertahankan. Dan ilmu pengetahuan itu bisa salah. Tapi kami berusaha betul untuk tidak salah.
08:31Tapi yang jelas, kami tidak boleh bohong. Makanya validitasnya juga sangat kami jaga. Dan buku
08:37ini, insya Allah dalam waktu singkat September, itu sudah ada di 25 negara. 25 negara?
08:4425 negara, dengan bantuan Forum Diaspora Indonesia. Sudah ada, dan buku ini nanti akan hadir di PBB.
08:50Di PBB? Iya. Akan dibawa oleh teman-teman Diaspora di depan PBB, di mana salah satu agendanya
08:58Presiden Prabowo Subianto akan bicara di tanggal 23 September. Dan buku ini sudah sampai ke New York duluan.
09:03Oke.
09:06Jadi, ijazah itu kan tahun 1985 sudah diserahkan kepada yang bersangkutan. Artinya yang menjaga
09:13ijazah itu adalah yang bersangkutan. Oleh karena itu, Universitas Geja Mada ini
09:20ya kita tidak mau berkomentar terkait dengan ijazah, a piece of paper yang sudah ada di yang bersangkutan.
09:27Oke. Artinya UGM juga tidak bertanggung jawab. Apakah yang beredar sekarang itu adalah yang diserahkan UGM dulu, itu bukan?
09:33Atau bukan, kita tidak bertanggung jawab untuk itu.
09:37Sudah saya sudah bersama dengan kuasa hukum dari Presiden ke-7 Republik Indonesia, Jokowi Dodo, dengan Bung Rifai Kusuman Negara.
09:44Bung Rifai, terima kasih di waktunya.
09:46Sama-sama, terima kasih juga.
09:47Siap. Saya ingin konfirmasi dulu. Apakah kemudian 12 orang ini adalah tiap-tiap yang memang dilaporkan oleh Pak Jokowi ke Polder Metro Jaya?
09:55Nah, jadi tidak ya. Jadi perlu saya tegaskan, Presiden Pak Jokowi membuat laporan di Polder Metro, yang beliau laporkan itu adalah 24 peristiwa yang bersumber dari 24 link.
10:05Kenapa? Karena kembali lagi, di dalam tidak pendana ITI itu, kita tidak bisa secara selambangan menuduh nama orang. Apalagi kita harus menjaga asas perduga tidak bersalah.
10:15Mungkin yang termohon bisa dibocorkan, Bang?
10:18Apa saja?
10:19Banyak sih ya, ada 24 poin. Tapi kami lebih fokus sebenarnya begini.
10:23Di tayangan itu ada begini. Beberapa orang yang mengglaim diri, melakukan tampilan, menggunakan aplikasi tertentu. Oke.
10:30Lalu mengambil objek ijazah Pak Jokowi dan beberapa data lainnya loh ya. Diambil fotonya, dipotong-potong ijazah itu, dimasukkan aplikasi, lalu disimpulkan bahwa ijazah ini sebetulnya milik Dulmanto.
10:43Iya. Oke. Ini kan buat kami, apa? Sampai ya, belum apa? Jokowi sudah bingung. Ini ijazah aku, kok jadi punya dulu ngantuk. Masih secara kebetulan, di dalam undang-undang ITI sendiri, ini pasal 32-35 diatur.
10:56Ya, 32 lebih kurang begini. Barang siapa melakukan pemotongan-pemotongan terhadap data elektronik tanpa ijazah. Bayangkan ijazah itu dipotong-potong, diambil fotonya lah, diambilkan dengan data lainnya, di compare data foto Pak Jokowi di mana, dipotong-potong, dan ini semua dilakukan tanpa ijazah itu.
11:12Kedua, digunakan aplikasi tertentu sampai akhirnya menyimpulkan seolah-olah ini palsu. Nah, di pusat 35 ada pasalnya. Barang siapa melakukan rekayasa teknologi yang menyebabkan sesuatu yang, apa namanya, asli menjadi palsu atau sesuatu yang tidak selesai dengan sebenarnya.
11:29Jadi memang ini diatur di undang-undang ITI tentang ini. Nah, kami ingin ini didalami. Bahwa apakah nanti terbukti muni pasal atau tidak, ya kita serahkan dalam proses penyidikan.
11:39Pak Jokowi sudah wanti-wanti, jangan sampai orang yang tidak bersalah terseret, tapi juga jangan sampai orang yang langsung bertanggung jawab, bahkan dilepaskan.
11:47Oke, karena yang menarik adalah bahwa di tengah proses penyidikan yang sedang berlangsung, sedang dilakukan oleh penyidik, Roy Suryo dan kawan-kawan juga meluncurkan sebuah buku.
11:57Berjudul Jokowi's White Paper. Saya ingin minta tanggapan Anda terkait peluncuran buku ini.
12:01Pertama sih, kalau dari kami, kami menanggapi bahwa buku ini sebenarnya hanya sebagai alibi yang sedang dibangun mereka bahwa seolah-olah yang dilakukan selama ini adalah penelitian.
12:11Banyak raguan kami terkait dengan penelitian ini. Namanya penelitian itu biasanya dilakukan uji internal dulu, setelah disimpulkan, baru di-expose.
12:20Bahkan tidak sebuah hasil penelitian, baru di-expose. Ada yang bisa masuk skopus, ada yang tidak, gitu ya.
12:25Itu ada, tapi kalau di terbalik, di-expose dulu, baru disimpulkan. Itu satu.
12:29Yang kedua, kalau betul penelitian, harusnya kemarin shift dong.
12:33Tapi diberi ruang juga kemarin shift dong.
12:35Di dalam buku UGM juga harusnya diberikan ruang, harusnya.
12:37Oke.
12:38Tapi tidak sama sekali, baik kami UGM itu tidak diberi ruang.
12:40Hanya gara-gara di bareng script itu yang ditampilkan, misalnya, transkip itu hanya dua halaman.
12:45Oke.
12:46Padahal tersipi totalnya empat halaman.
12:48Lalu dia bilang, nggak ada tanda tangan pembuat.
12:50Ya iya, orang dua halaman pertama.
12:52Yuk kan nggak lihat halaman keempat.
12:54Terus, tidak ada lembar penguji.
12:57Mas saya lihat langsung.
13:00Oke.
13:01Ada lembar pengujinya.
13:02Saya lihat dengan mata kepala.
13:03Saya diperlihatkan dengan UGM.
13:05Yang menguji skripsi Pak Jokowi itu ada Profesor Ahmad Syedro, Ingenier Soviet, Ingenier Burhanuddin.
13:10Oke.
13:11Mereka tanda tangan nilainya A.
13:13Bahwa itu tidak dilampirkan dalam skripsi.
13:15Suara air.
13:16Tapi bahwa ada pengujinya gitu loh.
13:18Tapi kan kembali lagi.
13:19Kalau penelitian ini juga mendengar versi UGM.
13:23Mendengar versi Pak Jokowi.
13:25Mungkin kan saya bilang, kalau sepihak sebegini kan akhirnya bisa menjadikan buku itu hanya menyesatkan.
13:30Atau akhirnya menjadi buku fiksi.
13:31Oke.
13:32Apalagi hal yang cukup menarik ketika saya membuka lembaran buku Jokowi's White Paper.
13:36Dan itu ditekankan oleh Bung Roy Suryo.
13:38Bahwa ada satu capture-an ijazah milik Bung Hatta.
13:42Yang kemudian bisa diakses publik dan dipamerkan di Belanda.
13:46Dan kemudian dibandingkan dengan sikap Pak Jokowi yang tidak ingin memperlihatkan ijazahnya.
13:51Anggapan Andi?
13:53Ini soal arti ditunjukkan atau tidak.
13:55Kami di dalam tim termasuk dengan Pak Jokowi.
13:57Pernah menurutuskan sistem pajang lebar.
13:59Bahkan juga sempat terjadi perbedaan pendapat.
14:01Antara perlu ditunjukkan atau tidak.
14:03Tapi setelah kita berkaji secara menyeluruh.
14:06Kami melihat ini memang ada tujuan-tujuan politis.
14:11Bahkan tujuan lain.
14:12Di luar tujuan untuk mencari kebenaran.
14:14Analisa Anda apa tujuan?
14:15UGM kan sebenarnya sudah punya tiket baik.
14:18Melakukan konversi pers.
14:20Dia otoritas.
14:21Dia menjelaskan.
14:22Dia menunjukkan fotokopi ijazahnya.
14:24Teman-teman angkatannya mengeluarkan ijazah yang sama.
14:27Kalau orang yang normal.
14:29Rasional dan tidak ada kepentingan.
14:31Masih akan berdiri sebagai event untuk lebih membuat clear masalah.
14:35Kita harapkan selesai.
14:37Apa yang terjadi?
14:38Islam.
14:39Jadi ini ditunjukkan pun tidak menyelesaikan persoalan.
14:43Sehingga waktu itu kami putuskan ya sudah.
14:45Kita tunjukkan dalam proses hukum belajar.
14:47Tapi ketika dia memasukkan saya sebagai kelompok yang dilaporkan.
14:54Maka saya menduga ini ada upaya-upaya untuk mengkriminalisasi.
14:59Kriminalisasinya itu dalam bentuk ingin membungkap.
Komentar