- 7 bulan yang lalu
- #jokowi
- #roysuryo
- #ijazahpalsu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo masih bergulir. Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa, meluncurkan buku putih yang diberi nama Jokowis White Paper. Mampukah buku ini menjadi penyelamat Roy Suryo CS dari jerat tindak pidana?
Sejumlah tokoh seperti Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, dan juga Wakil Ketua KPK 2015-2019 Saut Situmorang, turut hadir dalam proses pemeriksaan pihak terlapor. Mereka mengendus ada upaya kriminalisasi dalam proses pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi, benarkah?
Nama Ketua KPK periode 2011-2015 Abraham Samad, secara mengejutkan terseret kasus tudingan ijazah palsu Jokowi di Polda Metro Jaya. Menurutnya, pemeriksaan yang dilakukan terhadap dirinya merupakan upaya kriminalisasi dan pembungkaman, serta upaya menyempitkan ruang demokrasi.
Jurnalis KompasTV Dipo Nurbahagia berbincang dengan kuasa hukum Jokowi, Rivai Kusumanegara soal nama-nama yang dipanggil Polda Metro Jaya untuk diperiksa. Mengapa belasan orang ini terseret, dan bagaimana tanggapan kuasa hukum Jokowi, terkait peluncuran buku Jokowis White Paper?
Dipo berbincang secara langsung bersama Penasehat Ahli Polri, Aryanto Sutadi. Benarkah nama tersangka akan segera diumumkan dalam waktu dekat?
Saksikan Dipo Investigasi, episode "JOKOWIS WHITE PAPER, BABAK BARU POLEMIK IJAZAH?", Senin, 25 Agustus 2025 pukul 20.30 WIB, di Kompas TV.
#jokowi #roysuryo #ijazahpalsu
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/613747/roy-suryo-cs-terbitkan-buku-jokowi-s-white-paper-ugm-tegaskan-jokowi-alumni-sah-dipo-investigasi
Sejumlah tokoh seperti Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, dan juga Wakil Ketua KPK 2015-2019 Saut Situmorang, turut hadir dalam proses pemeriksaan pihak terlapor. Mereka mengendus ada upaya kriminalisasi dalam proses pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi, benarkah?
Nama Ketua KPK periode 2011-2015 Abraham Samad, secara mengejutkan terseret kasus tudingan ijazah palsu Jokowi di Polda Metro Jaya. Menurutnya, pemeriksaan yang dilakukan terhadap dirinya merupakan upaya kriminalisasi dan pembungkaman, serta upaya menyempitkan ruang demokrasi.
Jurnalis KompasTV Dipo Nurbahagia berbincang dengan kuasa hukum Jokowi, Rivai Kusumanegara soal nama-nama yang dipanggil Polda Metro Jaya untuk diperiksa. Mengapa belasan orang ini terseret, dan bagaimana tanggapan kuasa hukum Jokowi, terkait peluncuran buku Jokowis White Paper?
Dipo berbincang secara langsung bersama Penasehat Ahli Polri, Aryanto Sutadi. Benarkah nama tersangka akan segera diumumkan dalam waktu dekat?
Saksikan Dipo Investigasi, episode "JOKOWIS WHITE PAPER, BABAK BARU POLEMIK IJAZAH?", Senin, 25 Agustus 2025 pukul 20.30 WIB, di Kompas TV.
#jokowi #roysuryo #ijazahpalsu
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/613747/roy-suryo-cs-terbitkan-buku-jokowi-s-white-paper-ugm-tegaskan-jokowi-alumni-sah-dipo-investigasi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Intro
00:00Sengkarut drama itu dengan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo, kian berlarut.
00:21Untuk pertama kalinya Roy Suryo CS diperiksa sebagai saksi di Polda Metro Jaya dalam tahap penyidikan.
00:27Sangat terus ingin memberikan perlawanan di tengah proses penyidikan dan di tengah bulan kemerdekaan.
00:33Roy Suryo dan kawan-kawan terbitkan sebuah buku berjudul Jokowi's White Paper.
00:38Lalu apakah penerbitan buku ini akan menjadi babak baru drama tudingan ijazah palsu Presiden ke-7?
00:44Inilah episode ke-39 di Poinvestigasi. Saya di penerbangan bahagia.
00:47Saya akan menelusuri dan mencari bukti serta membedah buku Jokowi's White Paper.
00:57Sebenarnya di tangan saya sudah ada buku bersampul putih yang kemudian belakang menjadi perbincangan dengan judul Jokowi's White Paper.
01:09Ini adalah penelitian atau kajian yang sifatnya ongoing, ongoing research.
01:15Dan ini menjadi pertanyaan lanjutan dan pernyataan sekaligus simpulan dari pekerjaan saudara kita yang dua orang sudah pergi penjara.
01:24Yang mempertanyakan ijazah Jokowi-Jokowi.
01:26Jadi buku ini sangat kronologis.
01:29Misalnya 2013 itulah kenapa pertama kali isu ijazah ini bisa muncul dan diperbenar.
01:35Karena 2013 itu ada sebuahnya, ada fotonya, ada fotonya, ada beritanya.
01:39Saya ingin tunjukkan saudara ini adalah skripsi dari Jokowi-Jokowi yang kemudian sempat diabadikan ya?
01:47Ya.
01:47Oleh?
01:48Saya.
01:48Dengan kamera profesional.
01:49Nah ini kan kelihatan di sini secara visual.
01:52Tidak ada lintasan stempel bagaimana mungkin harusnya ada.
01:56Apakah kemudian ini tidak mempunyai peluang bagi lawan-lawan Anda untuk kemudian melaporkan lagi Anda bertiga dengan buku yang Anda terbuka?
02:04Apa takutnya kalau ini?
02:05Dan buku ini, insya Allah dalam waktu singkat September itu sudah ada di 25 negara.
02:13Dan buku ini nanti akan hadir di PBB.
02:15Bung Rai Suryo, Bung Rizmon Sianifar, dan Dr. Tifa pernah di wawancaranya di sini.
02:31Saya dipanggil sebagai saksi.
02:33Saya ditanya tentang peristiwa Lokus Tempus Delikti tanggal 22 Januari.
02:38Saya sama sekali tidak tahu peristiwa itu.
02:40Dan saya berdua, maka saya menduga ini ada upaya-upaya untuk mengkriminalisasi.
02:46Ini ancaman.
02:51Saya laporkan itu adalah peristiwa.
02:57Dugaan, pencemaran nama baik, dan fitnah.
03:02Jadi saya tidak melaporkan nama.
03:04Hal yang cukup menarik ketika saya membuka lembaran buku Jokowi's White Paper
03:09bahwa ada satu capture-an ijazah milik Bung Hatta
03:13yang kemudian bisa diakses publik dan dipamerkan di Belanda.
03:18Dan kemudian dibandingkan dengan sikap Pak Jokowi
03:20yang tidak ingin memperlihatkan ijazahnya.
03:23Anggapan, Andi?
03:24Ini soal yang ditunjukkan atau tidak,
03:26kami di dalam tim termasuk dengan Pak Jokowi
03:28yang pernah mendukung ini secara panjang lebar.
03:30Bahkan juga sempat terjadi perbedaan pendapatan.
03:32UGM dengan tegas menyatakan
03:34bahwa Jokowi Dodo adalah alumni UGM
03:38yang telah mendapatkan ijazah dari UGM
03:41sesuai dengan ketentuan.
03:44Saya mengarahkan pada penitik ya,
03:45saya bilang ini, gunjang ganjeng ini,
03:48tidak akan selesai kalau Anda tidak mengirimkan kasus ini
03:51kepada pelangga pengadilan.
03:53Saudara, untuk pertama kalinya pihak terlapor
03:58dalam hal ini adalah Roy Suryo CS
04:00terkait dengan tudingan ijazah palsu Jokowi
04:02diperiksa sebagai saksi di Polda Metro Jaya.
04:05Namun menariknya, saudara,
04:06meskipun tahap sudah dinaikkan dari penyelidikan
04:08menuju penyelidikan yang artinya
04:10kuat dugaan ada unsur pidana
04:12terkait dengan pencemaran nama baik
04:14dan juga fitnah.
04:15Namun pihak polisi ataupun penyidik
04:17belum menetapkan siapa tersangkanya.
04:1912 orang nama terlapor masuk dalam daftar
04:24surat pemberitahuan dimulainya penyidikan,
04:26aktivis hingga jurnalis diperiksa dalam kasus ini.
04:2812 orang tersebut diantaranya adalah
04:30Egi Sujana, Rizal Fadilah,
04:32Kurnia Triroyani, Rustam Effendi,
04:35Damai Hari Lubis,
04:36ada juga nama Roy Suryo,
04:37Dr. Tifa, dan Rizmon Sianipak.
04:40Mantan Ketua KPK Abraham Samad
04:41juga terseret sebagai terlapor.
04:43Abraham Samad mengaku kaget
04:44mengapa ia ikut diperiksa
04:46karena tak ada hubungan dengan kasus ijazah palsu
04:49Jokowi Dodo.
04:50Abraham pun menuding ia dikriminalisasi.
04:53Terlapor lain yakni seorang YouTuber
04:54bernama Michael Sinaga,
04:56Nurdian Noviansyah Susilo,
04:58serta Ali Rido alias Aldo Hussein.
05:00Selain itu ada 3 nama lain
05:02telah diperiksa Polda Metro Jaya.
05:04Yakni seorang aktivis,
05:05Merianti,
05:06Jurnalis 1 Indonesia.co Arief Negroho,
05:08serta seorang YouTuber bernama Sunarto.
05:10Namun Jokowi membantah
05:12telah melaporkan 12 nama di Polda Metro Jaya.
05:14Begini,
05:15jadi yang saya laporkan itu adalah peristiwa.
05:23Peristiwa mengenai dugaan,
05:27pencemaran nama baik,
05:29dan fitnah.
05:31Berarti munculnya Pak Abraham Samad itu juga bukan dari Pak Jokowi?
05:35Bukan.
05:35Itu karena proses penyelidikan yang ada di Polri.
05:39Saudara, ini adalah rombongan pendukung dari Roy Suryo CS.
05:45Karena masih ada pemeriksaan yang kemudian akan dilakukan oleh penyidik
05:49terhadap beberapa orang.
05:51Salah satunya sudah ada di sebelah saya,
05:53Saudara,
05:54ada Bung Rismon Senipar.
05:55Bung Rismon,
05:56saat ini akan diperiksa oleh polisi.
05:58Apa yang ingin Anda sampaikan?
06:00Ya, kita akan buktikan bahwa semua itu bukan berbasis kebencian
06:04atau kebohongan ya.
06:05Karena penelitian itu bisa didebat, dibantah, didiskusikan, diseminarkan.
06:11Artinya buku ini juga akan ditunjukkan kepada penyidik
06:14dan akan menjadi bahan penguat bahwa Anda tidak melakukan unsur pidana?
06:18Iya, iya dong.
06:19Buku ini, ini bagian dari yang di dalam ini,
06:22ini kan membantah apa yang menjadi temuan dari diri-diri hidung.
06:27Oke.
06:27Kan ini menjadi ruwet ketika kemudian
06:36orang yang harus menunjukkannya kepada publik
06:38supaya persoal ini selesai, itu tidak ditunjukkan.
06:41Saya mengatakan perilaku korup itu memang begitu.
06:44Kalau perilaku korup itu terlalu menyembunyikan sesuatu.
06:47Kenapa?
06:48Kalau korupsi itu kan variabelnya bisa diselesaikan
06:50dengan yang disebutnya transparan.
06:52Ini transparan ya?
06:53Oke.
06:54Anda bisa menjawab sendiri.
06:55Transparan Anda buka di table.
06:56Ini loh, gue punya.
06:58Mau apa loh?
06:58Kan gitu harusnya yang ngomong ya.
07:02Saya bolak-balik-bolak-balik pasal yang dituduhkan
07:05mengatakan nggak ada pidananya.
07:07Itu persoalannya.
07:08Contoh ya, misalnya Anda mau mengatakan pasal
07:11tentang pencemaran nama baik.
07:13Dan fitnah.
07:15Fitnah itu akan batal kalau
07:17seseorang itu bertindak atas nama kepentingan publik.
07:21Oke, saya tanya.
07:22Salah satu ukuran kepentingan publiknya.
07:24Anda berkepentingan nggak untuk tahu
07:26ijazah Joko itu palsu atau hasil.
07:27Berkepentingan kan?
07:28Kalau mereka mengatakan,
07:30iya saya pengen perat itu kepentingan publik.
07:32Oke.
07:32Kalau kepentingan publik nggak bisa dipidanakan dengan fitnah itu.
07:35Oke.
07:38Setelah proses pemeriksaan,
07:41apa yang kemudian didalami oleh polisi, dok?
07:44Kita kan sebetulnya berharap bahwa ketika kita diperiksa ini,
07:50kita bisa mendapatkan atau melihat ijazah yang katanya sudah disita oleh PMJ.
07:56Oke.
07:56Tapi tadi dari pemeriksa,
07:59saya mendapatkan informasi yang membuat saya mengejutkan.
08:02Ternyata,
08:04Polda Metro Jaya sudah melakukan laboratorium,
08:07lapor kepada ijazah tersebut.
08:10Dan ketika kita tanya,
08:11loh, kenapa tidak diklar?
08:13Hasil lapornya apa?
08:14Kata mereka,
08:16ya agak,
08:17juga gitu,
08:18belum ada kejelasan gitu.
08:20Jadi,
08:20mereka bilang bahwa,
08:22si ijazah itu,
08:24ada di Mabes.
08:25Kami sudah berketetapan bahwa,
08:28kami tidak akan memberikan keterangan apapun
08:30karena nggak ada relevansinya
08:32ketika ijazah itu nggak ada.
08:35Ketika ijazah itu tidak ada di depan kami,
08:37ya nggak ada relevansinya bagi kami untuk menjawab apapun pertanyaan.
08:43Setelah di tengah proses penyidikan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya
08:46terkait dengan tudingan ijazah palsu Presiden ke-7, Joko Widodo,
08:50pihak terlapor justru menyerbitkan dan meluncurkan sebuah buku
08:54yang diberi nama Jokowis White Paper.
08:56Setelah tanggal 18 Agustus 2025,
09:00Kubu Roy Suryo CS mengadakan acara peluncuran buku
09:02yang ditulis oleh Roy Suryo,
09:04Dr. Tifa,
09:05dan Rizmon Sianipar.
09:07Peluncuran buku bertajuk Kado Tercantik 80 Tahun Indonesia Merdeka ini
09:11awalnya akan diselenggarakan di University Club Hotel Universitas Gajah Mada.
09:15Namun pihak UGM tak mengizinkan penggunaan area.
09:18Roy Suryo CS akhirnya memindahkan lokasi acara ke sebuah coffee shop.
09:22Namun acara belum berlangsung lama.
09:24Tiba-tiba listrik dan AC mati
09:26yang diklaim dilakukan oleh pihak UGM.
09:28Kubu Roy Suryo pun menanggapi hal ini sebagai upaya pembungkaman.
09:32Di sisi lain, pihak UGM menegaskan tak memberi izin atas penelenggaran acara tersebut
09:36karena berbuatan unsur politis.
09:38Ternyata acara yang akan berlangsung di UC Hotel pada pukul 14-17 WIB tanggal 18 itu adalah peluncuran buku dengan judul Jokowi's White Paper.
09:50UGM memandang acara ini bernuansa politis dan UGM tidak bersedia terlibat dan tidak bersedia memfasilitasi acara tersebut.
09:58Selain itu, acara ini jelas berbeda dengan yang disampaikan di awal ketika melakukan pemesanan.
10:02Sebenarnya di tangan saya sudah ada buku bersampul putih
10:17yang kemudian belakang menjadi perbincangan dengan judul Jokowi's White Paper.
10:21Kalau bisa saya bacakan, buku ini adalah buku kajian digital forensik, telematika, dan neuropolitika
10:29atas keabsahan dokumen dan perilaku kekuasaan.
10:33Apa makna dari peluncuran buku ini?
10:36Saya sudah bersama dengan tiga penulis buku Jokowi's White Paper dengan Bung Roy, Kak Kertifa, dan juga Bung Rizmon Siani.
10:42Apa kabar semua?
10:43Alhamdulillah.
10:45Sebelum saya membahas dan membedah buku ini,
10:47saya ingin tahu dulu, apa yang kemudian melatar belakangi pada saat di tengah proses penyidikan
10:53dan juga di tengah bulan kemerdekaan, Anda bertiga mengeluarkan buku Jokowi's White Paper?
10:58Mungkin bisa diulai dari Bang Rai.
10:59Sebenarnya bukan di tengah proses penyidikan.
11:02Buku ini sudah lama, kami rancang.
11:04Karena kami ini memang sudah kebiasaan ketika nulis ya, Mas Dipot,
11:08itu kita menuliskan jurnal atau catatan-catatan.
11:10Nah, catatan-catatan itulah yang kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah penelitian.
11:15Karena penelitian tidak akan bermakna kalau tidak bisa dilakukan atau dibaca oleh generasi yang lain.
11:21Oleh anak-anak.
11:21Nah, itulah kami tujuan menulis buku ini.
11:23Nah, karena kemudian kami bersepakat,
11:26kayaknya bagus banget juga tahun ini kita memperingati 80 tahun kemerdekaan Indonesia.
11:30Nah, ini makanya kita sebut, ya kami sebut nih,
11:33Kadur Tercantik untuk 80 tahun.
11:34Kadur Tercantik untuk 80 tahun Indonesia merdeka.
11:38Boleh, Dr. Tifa?
11:39Ya, kalau saya selalu sampaikan bahwa ini pertemuan kita bertiga ini kehanda Allah.
11:43Oke.
11:43Kami bertiga itu secara independen melakukan riset.
11:47Ya, riset terkait dengan dokumen dari Joko Widodo.
11:51Terkait dengan background beliau, terkait dengan apapun ya,
11:54artefak-artefak begitu yang muncul di sosial media.
11:58Dan kalau saya pribadi, artefak-artefak itu sudah saya kumpulkan
12:01dan kemudian saya observasi dalam bentuk case series gitu ya,
12:06itu dari akhir tahun 2022.
12:08Ketika waktu itu Pak Bambang Tri, seorang jurnalis itu dihukum,
12:12dikriminalisasi dan hanya di penjara itu antara dua kali.
12:15Oke.
12:15Terkait dengan hal yang sama.
12:17Itu yang kemudian mengusikkan, mengusik.
12:19Nah, Lurisa ini sebagai perisad.
12:21Ya, kemudian apalagi ketika kemudian di akhir tahun 2022,
12:24UGM malah seakan-akan memberikan sebuah pernyataan-pernyataan itu
12:31yang sangat tidak evidence-based.
12:35Oke.
12:35Dari Bung Rismon sendiri,
12:38apa yang kemudian melatar belakangnya Anda juga akhirnya bergabung
12:40dengan trio RRT ini dan memasukkan penelitian Anda di buku ini?
12:44Ini adalah penelitian atau kajian yang sifatnya ongoing,
12:48ongoing research, open to debate, open to discuss.
12:52Dan ini menjadi pertanyaan lanjutan dan pernyataan sekaligus simpulan
12:57dari pekerjaan saudara kita yang dua orang sudah di penjara.
13:02Yang mempertanyakan ijazah Jokowi-Dodo, Pak Bambang Tri dan Gus Nur.
13:06Oke.
13:06Yang di penjara, nah, mereka melakukan, terutama Pak Bambang Tri,
13:10melakukan investigasi berdasarkan wawancara tatap muka
13:13dan kita melakukan sesuai dengan keilmuan kita.
13:16Oke.
13:16Saya ingin tanya dulu bahwa ini berwarna putih,
13:18bertuliskan Jokowi's white paper.
13:20Ada gambar, mungkin Presiden ketujuh Jokowi,
13:23dengan membawa ijazah Universitas Gajah Mada.
13:27Ada makna dibalik penamaan dan gambar ini?
13:29Kalau kita ingin mengungkap sebuah kejujuran,
13:31kejujuran itu kan bersih, suci, begitu ya.
13:34Oke.
13:35Jadi justru kami ingin membantu Pak Jokowi-Dodo
13:37untuk mengungkap kebersihan yang paling bersih
13:41terkait dengan dokumen yang digunakan oleh beliau,
13:44itu ya filosofisnya.
13:45Kalau memang ada, tapi kan lucu.
13:47Ya harusnya kan dengan, kalau dari awal,
13:49dengan bangganya, kita kan menempuh pendidikan,
13:52menempuh studi, ya mulai dari S1 ya, gitu.
13:55Itu kan kita bangga, Mas.
13:56Kok ini malu ini orang ini?
13:58Ya.
13:59Menyembunyikan wajahnya dibalik ijazah.
14:01Itu filosofinya.
14:02Padahal ijazah ini kan kebanggaan kita semua.
14:04Saya ingin minta Bung Roy, Dr. Tifa, dan Bung Rismang
14:10tunjukkan kepada saya apa yang kemudian menjadi temuan menarik.
14:13Karena Anda sebelumnya menyebutkan di tahun 2013,
14:15awal mula,
14:16Asus yang kemudian tertuang di buku ini.
14:18Kita mulai dari awal, ya.
14:20Jadi buku ini sangat kronologis.
14:21Mana itu dicetaknya?
14:30Nah, tiba-tiba ini seolah-olah seperti ada trigger
14:33bahwa, oh, kemugunan di Pasar Pramuka, gitu kan?
14:37Bahwa masih ada sisa-sisa bangunan.
14:39Diduga dulunya merupakan kios dari Pasar Pramuka Pojok, ya?
14:46Kios yang kemudian dibeli oleh Pak Paiman ke Om Pak Sungkono itu
14:50dulunya kios apa, Pak?
14:52Betul percetakan atau pengetikan?
14:54Pengetikan, pengetikan.
14:54Di zaman itu nggak ada begitu pengetikan murni.
14:57Ya, skripsi khusus hanya skripsi.
14:58Di situ hanya skripsi semua.
15:00Nggak ada lagi.
15:00Ijasa?
15:01Nggak ada.
15:04Saya ingin minta Bung Roy, Dr. Tifa, dan Bung Rismang
15:08tunjukkan kepada saya apa yang kemudian menjadi temuan menarik.
15:11Karena Anda sebelumnya menyebutkan di tahun 2013,
15:13awal mula,
15:14Asus yang kemudian tertuang di buku ini.
15:16Kita mulai dari awal, ya.
15:18Jadi buku ini sangat kronologis.
15:19Misalnya 2013 itulah kenapa pertama kali isu ijazah ini bisa muncul.
15:25Karena 2013 itu ada sebuah, ini ada fotonya.
15:28Ada fotonya, ada beritanya.
15:29Bisa ditunjukkan?
15:29Ya, dimulai dari seminar balik ke novel dan kemudian ke film.
15:37Di situ lah Jokowi dengan bangganya menerangkan,
15:40ya itu di kampus loh.
15:41Jadi saya tidak menerima alasan kalau itu dikatakan itu hanya candaan.
15:44Candaan tidak bisa.
15:45Ya, tidak bisa.
15:45Karena dia mengatakan IPK-nya dua.
15:47Dan itulah kemudian, saya percepat saja sebenarnya.
15:49Inilah yang tadi sempat saya ceritakan.
15:51Ini ijazahnya Bung Hatta.
15:52Yang menjadi kebanggaan kita bersama.
15:53Masak?
15:54Ini dipajang di University of Erasmus di Rotterdam.
15:59Ini kan bangga banget kita.
16:00Orang Indonesia dipajang ijazahnya di negara Belanda.
16:03Artinya Anda ingin menyebutkan bahwa tidak ada alasan dari Presiden ketujuh Jokowi tidak menunjukkan ijazahnya.
16:10Betul, aneh.
16:11Sangat aneh.
16:12Dan kami menulis ya tentang keterbukaan pers ya.
16:16Itu seperti apa, detail banget.
16:18Kemudian juga tentang bagaimana dari Declaration of Human Rights.
16:22Kemudian turun ke Undang-Undang Dasar.
16:24Nah, kami juga menuliskan tragedi yang dialami oleh dua anak bangsa.
16:27Yaitu Bambang Tri dan Gus Nur.
16:30Dan kemudian kita juga tuliskan.
16:31Laporan-laporan yang dilakukan oleh Jokowi.
16:33Ya, gitu juga.
16:34Jadi ketika laporan TPUA ke Mabes Polri waktu itu.
16:38Kemudian sampai dengan laporan Jokowi.
16:40Yang foto ini sangat ikonik.
16:42Karena Jokowi melaporkan kasus jasa ini ke lokat kehilangan.
16:46Ini fakta loh ini.
16:47Gak ada yang ditambah-tambahin, gak ada yang dikurangi.
16:49Dan ini yang kemudian membuat geger.
16:51Ketika ada seorang kader partai yang namanya Dian Sandi Utama.
16:54Itu menampilkan pada akun X pada tanggal 1 April.
16:56Kenapa ini yang kemudian menjadi tolok ukur penelitian Dr. Esmond dan juga saya.
17:00Karena inilah penampakan pertama ini berwarna.
17:03Dan ini bisa dianalisis.
17:05Analisis-analisnya yang kami lakukan.
17:07Lihat yang namanya ELA.
17:08Error Level Analysis.
17:09Dan ini ilmu yang kemarin-kemarin belum saya sampaikan.
17:13Yaitu bagaimana menggunakan teknik.
17:15Yang kemudian bisa menampakkan embosnya ada di mana.
17:18Kemudian bagaimana membandingkan foto-foto yang ada.
17:20Ya, fotonya Jokowi tidak match.
17:22Foto saya match.
17:24Fotonya Dumat no match.
17:24Sampai kepada bagaimana combination.
17:27Daripada IJAS atau image combination.
17:29Dan kemudian saya tutup tulisan saya.
17:31Itu dengan bagaimana berbagai analisis-analisi yang dilakukan.
17:34Sampai kedatangan kami ke UGM.
17:36Oke.
17:36Tanggal 15 April.
17:37Itu faktanya ada.
17:39Dan kemudian dengan skripsi.
17:40Ini adalah primary evidence.
17:42Yang pernah kami pegang.
17:44Dan ini jelas-jelas betul kami tidak mencuri.
17:46Saya ingin tunjukkan seuruh ini adalah skripsi.
17:49Skripsi dari Jokowi Dodo yang kemudian sempat diabadikan ya.
17:53Ya.
17:53Oleh?
17:54Saya.
17:55Bung Rai Surya.
17:55Dengan kamera profesional yang formatnya adalah RAW.
17:58Bukan JPEG.
17:59Oke, baik.
18:00Saya ingin minta Bung Rismon Sianipar untuk menjelaskan kepada kami.
18:04Apa yang kemudian ada tulis di sini.
18:05Ada temuan baru?
18:06Oh, banyak sekali ya.
18:07Banyak sekali.
18:07Banyak sekali di sini.
18:09Ada metode untuk yang pertama.
18:13Uji lintasan stempel itu.
18:14Kita uji sebaran intensitasnya.
18:16Kita analisa.
18:17Bukan hanya secara visual.
18:19Tetapi lewat nilai-nilai numerik yang tersimpan di dalam setiap piksel tersebut.
18:24Nah, ini.
18:24Di sini ada kotak merah.
18:26Bounding box di sini.
18:27Nah, baru kita periksa nilainya.
18:30Nilai-nilai numerik di balik kanal R, G, dan B.
18:33Kalau dia mendekati 255, maka dia mendekati merah.
18:38Tetapi dia cenderung ke arah 0.
18:40Bahkan seringnya di bawah 10.
18:42Itu menunjukkan bahwa di situ tidak ada warna merah.
18:46Oke.
18:47Jazz-nya berada di atas stempel.
18:49Atau tidak ada lintasan stempel sama sekali.
18:52Tadi secara numerik sudah kita tunjukkan, buktikan.
18:55Tidak ada lintasan stempel.
18:57Nah, ini secara visual lewat gradient mapping atau gradient analysis.
19:01Oke.
19:01Nah, terus analisis lapisan visual juga kita buktikan.
19:06Ternyata secara lapisan visual demi visual, lapisan demi lapisan.
19:11Di ijazahnya Pronojiwo, itu huruf dulu baru ditindih dengan watermarks logo UGM.
19:18Tetapi di ijazah Joko Widodo, itu sebaliknya.
19:22Logo dulu baru huruf.
19:24Oke.
19:24Nah, ini membantas uji keidentikan yang disimpulkan oleh baris screen.
19:30Baris diriti Pidum.
19:31Oke.
19:32Terus di situ juga kita lakukan uji proportional spacing.
19:36Kalau tadi per huruf, sekarang antar huruf dan antar kata.
19:39Nah, kita uji.
19:40Nah, di situ disimpulkan bahwa lembar pengesahan Joko Widodo itu terbuat dari digital word document.
19:47Bukan mesin ketik.
19:48Bukan mesin ketik atau handpress atau letterpress yang disimpulkan oleh diriti Pidum.
19:56Selanjutnya, analisis clip juga sama.
19:58Untuk seperti overlay untuk membuktikan bentuk font yang saat itu digunakan.
20:03Itu adalah Times New Roman yang tidak ada saat itu.
20:06Dan disimpulkan oleh diriti Pidum, itu menggunakan handpress di tata satu-satu.
20:11Anda bisa memastikan bahwa font ataupun teknologi itu tidak ada pada tahun 89?
20:15Tidak ada.
20:19Dr. Tifa, ini koreksi kalau saya salah, tapi lulusan Universitas Gejamada untuk dokter umum?
20:26Ya, satunya semua dokter pasti dokter umum.
20:29Oke. Apa yang kemudian menjadi temuan dari ijazah palsu, Pak Joko Widodo?
20:32Ya, saya di sini, saya menyumbang 150 halaman terakhir.
20:37Itu tentang bagaimana sebuah kajian dengan konsep, dengan metode remote forensic analysis.
20:44Oke.
20:44Nah, kemudian dari situ, hasilnya adalah sebuah metode di mana kita bisa melakukan sebuah analisis terhadap inkonsistensi.
20:53Sebuah dokumen sekaligus perilaku dari pemilik dokumen tersebut.
20:56Oke, artinya Anda tidak hanya menganalisa dokumen, tetapi juga perilaku, Pak Joko Widodo?
21:00Ya, dengan remote forensic analysis ini tidak perlu lagi detektor.
21:03Oke.
21:04Karena kita bisa melihat, mengkaji itu bahasa tubuh.
21:06Ini menarik.
21:07Ya, jadi otak itu kan luar biasa.
21:10Dia memproses bukan hanya sekadar bagaimana orang itu bisa mendapatkan ijazahnya,
21:15tapi bagaimana wajah dan badan, tubuh berikut perilakunya itu bisa memberikan sebuah kejujuran.
21:24Oke.
21:24Dan hasilnya?
21:25Jadi, setiap kali yang bersangkutan itu menyampaikan tentang ijazah, menyampaikan tentang KKN, menyampaikan tentang Hasmujo,
21:34yaitu ada neuroscience stress dan mekanisme self-deception.
21:38Oke.
21:38Jadi, dalam bentuk, apa itu namanya, AU24 itu namanya lipresor.
21:42Oke.
21:42Lipresor-nya muncul, lipresor-nya muncul.
21:44Jadi, tanpa dia sadari, otaknya memproses supaya dia menahan narasinya.
21:51Oke.
21:52Artinya ketika Presiden ke-7 Jokowi Dodo setiap kali menyebutkan ataupun menyampaikan informasi terkait dengan ijazahnya,
21:59Anda mau menyebut Jokowi berbohong?
22:03Ya, bahasa tubuh.
22:04Ada bahasa tubuhnya itu kelihatan.
22:05Bahasa tubuh.
22:06Mungkin dalam bahasa selainnya orang menyebut ini micro ekspresinya ada.
22:09Oke.
22:10Tapi ini ilmiah.
22:10Iya.
22:11Karena beliau belajar seorang neuron.
22:14Neuron, neuroscience.
22:15Jadi, apa namanya, pembulu-bulu darah, ulat, syaraf itu bekerja.
22:20Bekerja dan menampilkan secara apa adanya.
22:22Oke.
22:22Saya ingin tanyakan dan sedikit mengaitkan buku yang kemudian Anda bertiga tulis dengan proses hukum yang tengah berjalan.
22:28Apakah kemudian ini tidak membuka peluang bagi lawan-lawan Anda untuk kemudian melaporkan lagi Anda bertiga dengan buku yang Anda terbitkan?
22:35Apa takutnya kalau ilmiah?
22:37Nggak ada masalah.
22:37Anda tidak takut sama saya?
22:38Nggak ada masalah.
22:39Anda bertiga tidak takut.
22:39Nggak ada masalah.
22:40Makanya itu yang kita pelajari, ya itu yang kita implementasikan.
22:44Resikonya ya memang ilmiah seperti itu.
22:46Harus di-debate, harus di-discuse, dibantah kalau salah.
22:51Memang itu.
22:52Memang.
22:53Dan kami juga wajib juga mempertahankan.
22:55Dan ilmu pengetahuan itu bisa salah.
22:57Bisa.
22:57Tapi kami berusaha betul untuk tidak salah.
23:00Tapi yang jelas, kami tidak boleh bohong.
23:02Oke.
23:02Ya, makanya validitasnya juga sangat kami jaga.
23:05Oke.
23:06Dan buku ini, insya Allah dalam waktu singkat September, itu sudah ada di 25 negara.
23:1225 negara?
23:13Ya.
23:1325 negara?
23:13Secara.
23:14Dengan bantuan Forum Diaspora Indonesia.
23:15Ya.
23:15Oke.
23:16Sudah ada dan buku ini nanti akan hadir di PBB.
23:19Di PBB?
23:20Ya.
23:20Akan dibawa oleh teman-teman Diaspora di depan PBB, di mana salah satu agendanya Presiden Prabowo Subianto akan bicara di tanggal 23 September.
23:30Oke.
23:30Dan buku ini sudah sampai ke New York duluan.
23:32Oke.
23:33Oke.
23:33Jadi, ijazah itu kan tahun 1985 sudah diserahkan kepada yang bersangkutan.
23:41Artinya yang menjaga ijazah itu adalah yang bersangkutan.
23:45Oke.
23:45Oleh karena itu, Universitas Gajah Mada, ini ya kita tidak mau berkomentar terkait dengan ijazah, a piece of paper yang sudah ada di yang bersangkutan.
23:55Oke.
23:56Artinya UGM juga tidak bertanggung jawab.
23:58Apakah yang beredar sekarang itu adalah yang diserahkan UGM dulu itu bukan?
24:02Atau bukan, kita tidak bertanggung jawab untuk itu.
24:06Sudah saya sudah bersama dengan kuasa hukum dari Presiden ke-7 Republik Indonesia, Jokowi Dodo, dengan Bung Rifai Kusumanegara.
24:13Bung Rifai, emangasih waktunya.
24:14Sama-sama, terima kasih juga.
24:16Saya ingin konfirmasi dulu, apakah kemudian 12 orang ini adalah tiap-tiap yang memang dilaporkan oleh Pak Jokowi ke Polda Metro Jaya?
24:23Jadi tidak ya, jadi perlu saya tegaskan, Presiden Pak Jokowi membuat laporan di Polda Metro, yang beliau laporkan itu adalah 24 peristiwa yang bersumber dari 24 link.
24:34Kenapa?
24:35Karena kembali lagi, di dalam tidak pendana ITI itu, kita tidak bisa secara selambangan menuduh nama orang.
24:42Apalagi kita harus menjaga asas perduga tidak bersalah.
24:44Mungkin yang termohon bisa dibocorkan, Bang, apa saja?
24:48Banyak sih ya, ada 24 poin.
24:50Tapi kami lebih fokus sebenarnya begini.
24:52Di tayangan itu ada begini.
24:54Beberapa orang yang mengglaim diri nyali, melakukan tampilan, menggunakan aplikasi tertentu,
24:58lalu mengambil objek ijazah Pak Jokowi dan beberapa data lainnya loh ya.
25:05Diambil fotonya, dipotong-potong ijazah itu, dimasukkan aplikasi,
25:09lalu disimpulkan bahwa ijazah ini sebetulnya milik Dulmanto.
25:12Ini kan buat kami, apa?
25:15Sampai ya, kalau maaf Pak Jokowi sudah di bingung.
25:17Ini ijazah aku, kok jadi punya dulu ngantuk.
25:20Masih secara kebetulan, di dalam undang-undang ITI sendiri, di pasal 32, 35 diatur.
25:2532 lebih kurang begini.
25:27Barang siapa melakukan pemotongan-pemotongan terhadap data elektronik tanpa ijazah.
25:32Bayangkan ijazah itu dipotong-potong, diambil fotonya lah.
25:35Diambilkan dengan data lainnya, dikompare, data foto Pak Jokowi di mana, dipotong-potong,
25:40dan ini semua dilakukan tanpa ijazah.
25:41Kedua, digunakan aplikasi tertentu, sampai akhirnya menyimpulkan seolah-olah ini palsu.
25:47Nah, di pusat 35 ada pasalnya.
25:49Barang siapa melakukan rekayasa teknologi yang menyebabkan sesuatu yang asli menjadi palsu,
25:56atau sesuatu yang tidak sesuai dengan sebenarnya.
25:58Jadi memang ini diatur di undang-undang ITI tentang ini.
26:01Nah, kami ingin ini didalami.
26:03Bahwa apakah nanti terbukti muni pasal atau tidak, ya kita serahkan dalam proses penyidikan.
26:08Pak Jokowi sudah wanti-wanti, jangan sampai orang yang tidak bersalah terseret,
26:13tapi juga jangan sampai orang yang langsung bertanggung jawab, bahkan dilepaskan.
26:16Oke, karena yang menarik adalah bahwa di tengah proses penyidikan yang sedang berlangsung,
26:21sedang dilakukan oleh penyidik, Roy Suryo dan kawan-kawan juga meluncurkan sebuah buku.
26:26Berjudul Jokowi's White Paper.
26:28Saya ingin minta tanggapan Anda terkait peluncuran buku itu.
26:30Pertama sih, kalau dari kami yang kami menanggapi bahwa buku ini sebenarnya hanya sebagai alibi yang sedang dibangun mereka,
26:38bahwa seolah-olah yang dilakukan selama ini adalah penelitian.
26:41Banyak raguan kami terkait dengan penelitian ini.
26:44Namanya penelitian itu biasanya dilakukan uji internal dulu, setelah disimpulkan, baru di-expose.
26:49Bahkan tidak sebuah hasil penelitian, baru di-expose.
26:51Ada yang bisa masuk skopus, ada yang tidak gitu ya.
26:54Itu ada, tapi kalau di terbalik nih, di-expose dulu baru disimpulkan, itu satu.
26:58Yang kedua, kalau betul penelitian harusnya keberanian shift dong.
27:02Tapi diberi ruang juga keberanian simplifikasi.
27:04Di dalam buku ini?
27:05UGM juga harusnya diberikan ruang, harusnya.
27:06Oke.
27:07Tapi tidak sama sekali, baik kami UGM itu tidak diberi ruang.
27:09Hanya gara-gara di barang strip itu yang ditampilkan misalnya transkip itu hanya dua halaman.
27:14Oke.
27:14Padahal tersimpulkan totalnya empat halaman.
27:17Lalu dia bilang, tidak ada tanda tangan pembuat.
27:19Ya, iya, orang dua halaman pertama.
27:21Yuk kan tidak lihat halaman keempat.
27:23Terus, tidak ada lembar penguji.
27:27Mas saya lihat langsung.
27:29Oke.
27:30Ada lembar pengujinya.
27:31Saya diberiakan mata kepala.
27:33Saya diperlihatkan dengan UGM.
27:33Yang menguji skripsi Pak Jokowi itu adalah Prof. Ahmad Syirunitro, Insinyur Soviet, Insinyur Burhanuddin.
27:40Oke.
27:40Mereka tanda tangan nilainya A.
27:42Bahwa itu tidak dilampirkan dalam skripsi suara lain.
27:46Tapi bahwa ada pengujinya gitu loh.
27:48Tapi kan kembali lagi.
27:49Kalau penelitian ini juga mendengar versi UGM, mendengar versi Pak Jokowi, mungkin akan dilengkap.
27:55Kalau sepihak seperti ini kan akhirnya bisa menjadikan buku itu hanya menyesatkan atau akhirnya menjadi buku fiksinya.
28:00Oke.
28:01Ada satu lagi hal yang cukup menarik ketika saya membuka lembaran buku Jokowi's White Paper dan itu ditekankan oleh Bung Brody Suryo.
28:07Bahwa ada satu capture-an ijazah milik Bung Hatta yang kemudian bisa diakses publik dan dipamerkan di Belanda.
28:16Dan kemudian dibandingkan dengan sikap Pak Jokowi yang tidak ingin memperlihatkan ijazahnya.
28:21Nama Pak Nabi?
28:22Ini soal yang ditunjukkan atau tidak, kami di dalam tim termasuk dengan Pak Jokowi yang pernah ditunjukkan secara panjang lebar.
28:28Bahkan juga sempat terjadi perbedaan pendapat antara perlu ditunjukkan atau tidak.
28:32Tapi setelah kita mengkaji secara menyeluruh, kami melihat ini memang ada tujuan-tujuan politis bahkan tujuan lain.
28:41Di luar tujuan untuk mencari kebenaran.
28:43Analisa Anda apa tujuan?
28:44UGM kan sebenarnya sudah punya tiket baik.
28:48Melakukan konversi pers, dia otoritas, dia menjelaskan, dia menunjukkan fotokopi ijazahnya, teman-teman angkatannya mengeluarkan ijazah yang sama.
28:57Kalau orang yang normal, rasional dan tidak ada kepentingan, pasti akan berdiri sebagai event untuk lebih membuat clear masalah.
29:05Kita harapkan selesai.
29:06Apa yang terjadi?
29:07Islam.
29:07Jadi ini ditunjukkan pun tidak menyelesaikan persoalan.
29:12Sehingga waktu itu kami putuskannya sudah.
29:15Kita tunjukkan dalam prosesi pembelajar.
29:19Tapi ketika dia memasukkan saya sebagai kelompok yang dilaporkan,
29:24maka saya menduga ini ada upaya-upaya untuk mengkriminalisasi.
29:29Kriminalisasinya itu dalam bentuk ingin membungkap.
29:31Terus saya baru saja tiba di desa Ketoyan yang disebut menjadi lokasi KKN Presiden ketujuh Jokowi Dodo.
29:52Dan juga disebut oleh Roy Suryo CS sebagai desa fiktif.
29:58Pak, karena saya konfirmasi, Pak.
30:01Ini rumah yang dipakai oleh Pak Jokowi pada saat KKN.
30:05Betul.
30:06Ini adalah kamar yang dulu digunakan oleh Presiden ketujuh Jokowi Dodo pada saat melakukan KKN di desa Ketoyan.
30:15Oke, di sini dulu adalah tempat tidur yang digunakan oleh Pak Jokowi dan Pak Ecot ya, Pak?
30:22Dari Jember.
30:22Jember, oke.
30:24Bu Huri pernah bertemu dengan orang bernama Jokowi Dodo dan mengantarkannya beli gitar di tahun 1985, betul, Pak?
30:37Ya, kalau mengantar, betul.
30:41Waktu Pak Jokowi jadi Presiden, terus saya curiga.
30:45Jangan-jangan ini Pak Jokowi yang KKN di sini.
30:48Terkait dengan skripsi itu.
30:53Kan sering di talk show atau dimanapun ketika Mas Ros Duryo itu berdebat, itu selalu dibilang.
30:59Dulu ijasa, sekarang bergeser skripsi.
31:02Bergeser lagi KKN.
31:04Padahal itu satu kesatuan.
31:06Semua proses realistik dari proses akademik.
31:08Sudara tuh dengan ijasa palsu Jokowi terus menuai polemik, khususnya ketika polisi melanjutkan tahap penyidikan.
31:27Dan salah satu pihak yang kemudian diperiksa adalah sejumlah podcaster.
31:31Saya akan bertemu dengan salah satu podcaster ternama yang juga merupakan ketua KPK periode 2011-2015, Bunga Abraham.
31:41Selamat, Bunga Abraham, apa kabar?
31:42Baik, Alhamdulillah.
31:44Sihat, bu Gipo, semangat.
31:46Alhamdulillah.
31:47Tetap semangat memberitakan sesuatu, kan?
31:49Betul, betul.
31:50Bukan karena saya dipanggil jadi Kenor, kan?
31:52Oke, dan kebetulan juga itu yang membuat saya hadir di sini, Bunga Abraham.
31:56Sebelum kita membahas soal apa yang kemudian diperiksa oleh polisi,
31:59saya ingin tahu dulu, sebenarnya podcast Anda ini sudah berdiri tahun berapa dan tujuannya apa?
32:05Sudah hampir tiga tahun.
32:06Tujuan pertama, saya ingin mengedukasi orang, mencerahkan, memberi informasi dalam bentuk berita yang benar dan akurat,
32:15yang bisa menuntun masyarakat untuk paham tentang hak dan kewajibannya.
32:20Oke, dan ini adalah ruangan yang kemudian selama tiga tahun dipakai, Bunga Abraham.
32:24Boleh saya lihat di dalam?
32:25Silahkan, Mas.
32:26Siap, saya akan coba ajak pemilik dari podcast Abraham Samad Speak Up untuk kemudian menunjukkan,
32:33ini lokasi podcast-nya ya, Bunga Abraham.
32:36Ini memang nampaknya cukup profesional dalam tahap penggarapannya.
32:40Saya ingin coba ke sana, Bunga Abraham.
32:42Ini menarik karena Bung Roy Suryo, Bung Rizmon Sianifar, dan Dr. Tifa pernah diwancaranya di sini.
32:49Ibu Kurnia Rizmon Sianifar, jadi ada lima orang yang pernah saya wancara.
32:53Ada lima orang yang dalam tanda kutip pihak terlapor.
32:57Boleh saya tahu apa yang kemudian membuat Anda tertarik mungkin untuk berbincang dengan kelima terlapor tersebut?
33:04Saya melihat di semua media, ini menjadi isu yang diangkat.
33:10Masyarakat perlu mendapatkan informasi tentang benar tidaknya isu ini.
33:16Oleh karena itu, saya mencoba mengundang narasumber ini untuk menggali lebih dalam tentang berita-berita tentang ijasa Pak Jokowi.
33:25Dan saya rasa hampir semua media melakukan itu, menurut saya.
33:30Karena menurut Anda, ijasa Pak Jokowi ini memang sangat menuai polemik, Bunga Abraham.
33:35Saya menganggap sesuatu yang harus diketahui publik.
33:39Terlepas dia nanti asli atau palsu, yang jelas ini harus diketahui oleh publik.
33:44Artinya kepentingan Anda adalah untuk kemudian memberikan pencerahan, bukan kemudian menyimpulkan asli atau palsu.
33:50Itu urusan belakangan.
33:51Urusan belakangan, itu urusan pengadilan.
33:53Saya ingin ke poin yang kemudian begitu menarik perhatian publik, Bunga Abraham.
33:59Ketika Anda menyebutkan bahwa ada upaya kriminalisasi, pembungkaman, termasuk juga upaya mempersempit ruang demokrasi.
34:07Pesan apa yang ingin Anda sampaikan?
34:09Karena begini, kelihatannya saya dimasukkan di dalam kelompok 12, yaitu terlapor.
34:15Beda kalau misalnya saya cuma dijadikan saksi, mungkin saya tidak akan menduga seperti itu.
34:20Tapi ketika dia memasukkan saya sebagai kelompok yang dilaporkan, maka saya menduga ini ada upaya-upaya untuk mengkriminalisasi.
34:30Kriminalisasi itu dalam bentuk ingin membungkap kebebasan orang berpendapat, berserikat, dan sekaligus yang paling berbahaya menurut saya.
34:41Ini mempersempit ruang demokrasi.
34:43Ini ancaman.
34:44Kan saya dipanggil sebagai saksi.
34:46Harusnya saksi itu adalah orang-orang yang melihat, mengalami, atau mendengar.
34:51Saya ditanya tentang peristiwa lokus tempus deliktif tanggal 22 Januari.
34:56Saya sama sekali tidak tahu peristiwa itu dan saya berdebat.
34:59Jadi, ini kesempatan saya sampaikan kepada publik.
35:02Jam 11 sampai jam 8 malam, sebenarnya itu waktu orang bilang, ini ada apa nih?
35:10Nggak ada apa-apa di situ.
35:11Tidak ada apa.
35:12Kenapa sampai lama?
35:13Karena kita berdebat terus, menanyakan kepada penyidik, apa yang terjadi?
35:18Dan tahu nggak, penyidik baru sampaikan di akhir pemeriksaan bahwa ternyata lokus tempus deliktian ditanya yang ada di dalam surat panggilan tanggal 22 Januari,
35:31itu adalah rapat di tempat Egi Sujana untuk persiapan ke Solo.
35:39Saya sama sekali nggak tahu.
35:42Sama sekali tidak tahu dan sama sekali tidak terlibat.
35:44Tidak terlibat.
35:46Dan saya nggak pernah menyiarkan di podcast saya peristiwa itu.
35:50Oleh karena itu, saya keberatan.
35:53Oleh karena itulah, saya mengkategorikan, ini mengada-ada.
35:56Kalau mengada-ada, ini saya boleh katakan, ini dugaan mengkriminalisasi terhadap saya.
36:01Apakah penyidik juga menanyakan sejumlah hal?
36:03Mungkin misalnya ketika Anda berbincang dengan Rio RRT, mungkin dengan telapor lainnya, ini juga ditanyakan?
36:09Oke, saya juga diperlihatkan video tentang wancara saya dengan Roy Suryo.
36:14Tapi kan wancara itu berlangsung, kalau saya nggak salah, itu narat atau upload.
36:22Kan jauh banget tuh dari peristiwa yang ada di dalam surat panggilan 22 Januari.
36:27Apa hubungannya?
36:28Oleh karena menurut saya ini di luar dari substansi, di luar daripada yang saya ketahui,
36:35maka menurut saya banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap kitab undang-undang hukum acara pidana.
36:43Maka itu terjadi pelanggaran HAM.
36:45Oleh karena itu, menurut saya, karena ini salah satu bentuk pembungkaman, maka saya akan lawan.
36:54Anda akan melawan karena Anda juga nontabene-nya mantan aktivis.
36:57Bentuk perlawanan apa yang kemudian Anda akan lakukan?
37:00Apakah Anda akan terus memantau proses penyidikan terkait dengan tundingan ijazah palsu?
37:04Saya akan melawan secara hukum, sesuai dengan kapasitas saya kan.
37:08Karena menurut saya, ini saya nggak bisa biarkan.
37:11Karena kalau ini dibiarkan, maka saya khawatir akan menelan korban lain.
37:15Media-media lain, wartawan-wartawan lain, podcaster yang lain, youtuber yang lain, bisa jadi korban.
37:21Dan ini pesan saya kepada Kapolri, tolong dipantau aparatnya, supaya ini tidak mencederai citra polisi.
37:29Saya menyarankan para penyetik ya, saya bilang ini, gunjang-ganjing ini,
37:36tidak akan selesai kalau Anda tidak mengirimkan kasus ini kepada perangga pengadilan.
37:41Jadi yang saya laporkan itu adalah peristiwa.
38:00Peristiwa mengenai dugaan bencemaran nama baik dan fitnah.
38:11Polemik ijazah Jokowi kian memantik rasa penasaran publik.
38:17Meski baris krim resmi hentikan penyelidikan, namun tak serta-merta surutkan perdebatan.
38:23Menanggapi berbagai serangan yang dilontarkan Roy Suri CS terkait tundingan ijazah palsu,
38:28Jokowi dan kolega melakukan perlawanan balik dan melapor ke Polda Metro Jaya.
38:32Pada 23 April 2025, Ketua Pemuda Patriot Nusantara Andi Kurniawan melaporkan Roy Suriho,
38:41Rizal Fadila, Dr. Tifa, dan Rizmon Sianipar dengan dugaan penghasutan di muka umum.
38:48Tiga hari kemudian, Pradi bersatu turut melaporkan nama-nama yang sama dengan tuduhan menyebarkan informasi bohong lewat media daring.
38:56Tak berhenti sampai di situ, pada 30 April 2025, Jokowi beserta tim kuasa hukum melaporkan Roy Suriho,
39:03Egy Sujana, Rizal Fadila, Kurnia Tri Royani, dan Rizmon Sianipar, dan Dr. Tifa.
39:10Laporan ini terkait atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik yang menyeret namanya.
39:17Laporan tambahan datang dari Maret Samuel Sweiken.
39:20Ia menggugat Roy Suriho di Polres Bekasi atas dugaan fitnah.
39:24Pada 8 Juli, Polda Metro Jaya kemudian mengumumkan kasus ini terbagi ke dalam dua perkara,
39:30yaitu dugaan tindak pidana fitnah dan penghasutan tentang penyebaran berita bohong,
39:34serta ujaran kebencian melalui media elektronik.
39:39Usai melakukan gelar perkara, polisi ungkap adanya unsur tindak pidana dan status perkara ditingkatkan ke tahap penyidikan.
39:46Sejumlah saksi sudah memenuhi panggilan penyidik dan memberikan keterangannya.
39:56Menariknya di sela-sela proses penyidikan, pihak Universitas Gajah Mada kembali angkat bicara.
40:03Pihak UGM menegaskan ijasa Jokowi sah dan diterbitkan sesuai dengan prosedur akademik.
40:08UGM memiliki dokumen otentik terkait keseluruhan proses pendidikan Jokowi Dodo di UGM.
40:16Sekali lagi, UGM dengan tegas menyatakan bahwa Jokowi Dodo adalah alumni UGM
40:22yang telah mendapatkan ijasa dari UGM sesuai dengan ketentuan.
40:29Meski proses hukum telah sampai ke tahap penyidikan,
40:32namun polisi tak kunjung menetapkan nama-nama tersangka
40:35Sampai kapan kah publik disuguhi perdebatan ijasa Jokowi?
40:45Segera saya sudah bersama dengan penasehat ahli Kapolri, Pak Arianto.
40:49Pak Arianto, terima kasih untuk waktunya, Pak.
40:50Terima kasih, sama-sama.
40:51Sebagai penasehat ahli Kapolri, di tengah proses penyidikan ini kan
40:55tiga orang terlapor, Roy Suryo, Dr. Tifa, dan juga Rismon Sianipar
41:00meluncurkan sebuah buku berjudul Jokowi's White Paper.
41:03Bagaimana Anda memaknai peluncuran buku ini?
41:05Ya, sejak mereka belum meluncurkan dulu, saya sudah dikasih tahu kan,
41:11saya menyarankan kepada mereka, Pak, kalau Bapak meluncurkan tiga buku itu
41:15yang mengatakan bahwa itu adalah bukti-bukti, membuktikan bahwa itu jasa palsu
41:19dengan teori Anda, itu kalau Anda cuma dipublikasi itu,
41:23tidak ada gunanya untuk pembuktian di pengadilan.
41:25Makanya, bukti itu, buku itu, Bapak besok bawa ke penyidik,
41:30sampaikan kepada penyidik, Pak, ini buktinya bahwa saya membuktikan ini,
41:34dan penyidik supaya itu masukkan dalam berkasnya,
41:36supaya ini, buku itu nanti digelar di pengadilan.
41:40Inilah buktinya saya ini.
41:42Mereka merasa bahwa ini bukti yang paling kuat,
41:44yaitu boleh saja begitu, tapi sepanjang itu dibawa di pengadilan.
41:48Kira-kira begitu.
41:49Kemudian muncul belakangan adalah terkait dengan polemik pemanggilan
41:52Ketua KPK periode 2011-2015,
41:56yang juga saat ini adalah podcaster Abraham Samad.
41:59Ketika itu, bahkan Abraham Samad berani mengatakan bahwa
42:02ada upaya kriminalisasi, pembungkaman,
42:05serta juga penyempitan demokrasi di negara kita.
42:10Apa yang ingin Anda jelaskan?
42:11Kalau bagi saya pribadi, Pak Abraham Samad boleh berdapat itu, itu hadiah.
42:15Dan karena dia sebagai podcaster ya,
42:18itu bukan polisi, bukan karena podcastnya.
42:22Bukan karena podcastnya.
42:23Berawal daripada adanya bukti, Pak.
42:26Bukti jejak judicial yang keluar dari podcast dia,
42:29yang isinya adalah ujuran kebencian ataupun apapun,
42:32yang itu termasuk di dalam unsur undang-undang pidana.
42:36Sehingga kewajiban dari polisi,
42:38karena ini ada orang yang melaporkan,
42:40buktinya ini, kan gitu kan.
42:42Nah, polisi kemudian,
42:44oh ini namanya ini, ya pasti dipanggil.
42:46Dipanggil, klarifikasi.
42:49Itulah tahap yang harus dilakukan kalau ada laporan pidana.
42:54Dan podcast ini bisa menjadi barang bukti?
42:56Pasti yang barang buktinya adalah hasil dari para podcast itu.
43:00Kalau hasilnya podcast itu kemudian ditanyakan kepada saksi Ali,
43:04Pak, bahwa ini memulih unsur wali,
43:06melanggar tindakan ikut selama menyebarkan dan sebagainya.
43:09Itu anak ahli pidana nanti yang akan menyimpulkan itu.
43:12Oke, bahwa tundingan lainnya yang kemudian disampaikan oleh pihak terlapor,
43:16melalui kuasa hukumnya ataupun secara personal mungkin adalah,
43:19ketika polisi dinilai bongkar pasang-pasal.
43:23Ya, apapun alasannya, itu saya anggap karena mereka itu tidak mengetahui,
43:28apa proses daripada penyintikan itu.
43:31Penyintikan itu intinya, Pak, cuman gini, Pak.
43:33Hasilnya begini, jejaknya begini,
43:36menurut keterangan saksi begini pelapornya,
43:38cek pada saksi terlapor gini,
43:41kemudian kita tanyakan pada saksi Ali,
43:43Pak, kalau begini ini,
43:44ini melanggar pasang ini apa tidak?
43:47Ya, pasti akan terjadi bongkar pasang-pasang di situ, Pak.
43:50Karena apalagi kita akan menentukan si A ini berbuat apa?
43:53Apakah mencemarkan, apakah juga ikut-ikut rame-rame membenci dan sebagainya itu.
43:58Jadi, tidak semua pasalnya sama.
44:01Publik menunggu terkait dengan penetapan tersangkanya.
44:04Bagaimana kemudian, sebagai penasehat ahli Kapolri,
44:07bagaimana polisi harus tetap menjalankan proses hukum
44:10sekaligus meredakan polemik yang mencuat hitungan publik?
44:14Saya menyarankan pada penyitik ya,
44:16saya bilang ini, gonjang-ganjing ini,
44:18tidak akan selesai kalau Anda tidak mengirimkan kasus ini kepada pengadilan.
44:24Jadi, makin cepat Anda memberkas,
44:26itu makin cepat ini, kasus untuk ini ya, diselesaikan.
44:29Perkara nanti ada muncul kasus yang lain itu,
44:32kita hadapi saja, saya bilang.
44:33Jadi, sekarang ini Anda selesaikan pemberkasannya sekarang ini.
44:36Dan kemudian nanti di pengadilan akan terlihat,
44:39tuntutan mereka untuk menunjukkan,
44:41ijazahnya Pak Jokowi, segala itu,
44:42nanti akan terlihat di pengadilan sana.
44:44Mudah-mudahan begitu.
44:44Terima kasih telah menonton!
44:47Terima kasih telah menonton!
Komentar