00:00Selamat malam, Pak.
00:03Selamat malam.
00:05Saya kan dapat informasi ini dari A1 ini, Pak.
00:09A1, ya?
00:10Iya, jadi bukan A4 gitu loh, A1.
00:12Bahwa Bapak itu seorang pembicara atau speaker.
00:18Nah, di antara teman-teman saya itu ingin jadi pembicara, entah itu di podcast, atau di seminar-seminar, atau pelatihan-pelatihan gitu, Pak.
00:26Iya, iya, iya.
00:27Jadi narasumber gitu lah ya.
00:28Oke, iya.
00:29Nah, mereka tuh banyak yang merasa itu kayak gugup gitu ya, atau nervous gitu ketika memulai untuk berbicara di depan publik.
00:37Walaupun itu di studionya sendiri, di rumahnya sendiri, misalnya kalau yang podcast ya.
00:41Iya, iya.
00:41Nah, bagaimana kiat-kiatnya supaya kita percaya diri?
00:48Oke, banyak orang senang jadi speaker, atau public speaker.
00:53Kenapa?
00:54Karena di-expose, dilihat orang banyak, kemudian juga, wah disaksikan, apalagi kalau ada iming-iming itu ya, jadi profesi, wah enak ya jadi speaker, bayarannya gede.
01:07Nah, itu enak di dalam, tapi belum tentu mampu melakukan.
01:12Jadi, dua syarat yang harus difahami oleh public speaker.
01:18Pertama, konten.
01:20Konten artinya isi dari materi, atau ilmu yang ingin disampaikan, itu perlu bertanggung jawab.
01:29Bertanggung jawab artinya apa?
01:31Artinya ilmu itu tidak ilmu yang out of date, uno, tidak valid lagi.
01:39Kedua, artinya ilmu itu ada dasar ilmiahnya.
01:42Nah, itu pengertian konten.
01:45Kedua, ya tadi ditanya kok masih gugup kementeran.
01:48Ini ceritanya konteksual.
01:51Caranya, how it is.
01:53Kedua hal tersebut, kalau konteks, cara itu butuh jam terbang.
01:59Butuh latihan.
02:00Nah, ya, tetapi latihan ini tidak akan bisa menjadi baik, kalau tidak belajar bagaimana cara memberikan pelatihan sebagai public speaker.
02:15Oh, begitu.
02:16Jadi, kiat-kiatnya perlu, tetapi kiat-kiat itu perlu di-repitasi ya, di-repit, diulang-ulang, sehingga menjadi biasa dan bagus.
02:26Itu.
02:28Konten dan konteks.
02:28Nah, kemudian tadi ya, yang sering sekali terjadi, karena public speaker itu dianggapnya, wah, enak, indah, gitu.
02:38Banyak sekali teman-teman tidak mempersiapkan materinya itu secara baik.
02:44Asal bicara.
02:46Bicara aja 30 menit, 40 menit, ketika kita ambil saripatinya, apa sih konklusinya?
02:52Nggak ketemu.
02:53Itu pembicaraan cuma 2 menit, 3 menit selesai.
02:56Tapi diolah menjadi makin.
02:57Nah, bagaimana menjadi public speaker yang baik, kira-kira, beginilah.
03:03Proses, proses itu latihan, belajar, exercise, kemudian mengulang-ulang, kemudian review, ya, itu proses.
03:10Tidak akan menghianati hasil.
03:12Bagaimana maksudnya?
03:14Proses tidak akan menghianati hasil.
03:16Artinya, kalau kita ingin mendapatkan hasil yang baik, pasti melalui sebuah proses yang cukup panjang dan cukup menantang.
03:26Nggak ada instan.
03:27Jadi, tidak ada yang instan dalam seseorang yang ingin menekuni profesi apapun, termasuk menjadi speaker atau public speaker, gitu ya.
03:39Iya.
03:40Jadi, artinya apa?
03:42Proses kan tidak menghianati hasil.
03:44Seperti kita nonton sulap.
03:45Itungan 20 detik, 30 detik, bisa berubah macam-macam, kan?
03:51Wow!
03:52Latihannya itu bisa berbulan-bulan, bisa bertahun-tahun.
03:56Show-nya mungkin 30 detik.
03:58Wow!
03:59Hebat!
04:00Latihannya 2-3 tahun.
04:01Yang orang sampai terpesona, termana, gitu.
04:03Nah, itu latihannya kan yang disebut proses itu 2-3 tahun.
04:07Iya, iya, iya.
04:08Nah, seorang politikus pun itu adalah bisa dianggap sebagai public speaker, ya.
04:14Karena dia sering tampaknya pidato, dengar pendapat, gitu ya.
04:18Salah satu kegiatannya?
04:19Salah satu kegiatannya sebagai public speaker.
04:21Iya, iya.
04:22Bagaimana sih caranya supaya bisa menjadi anggota DPR atau DPRD atau pejabat yang bisa, apa namanya,
04:29kalau pidato atau menjelaskan sesuatu itu kontennya itu tepat, gitu.
04:34Ya, kembali.
04:36Jadi, politician atau ilmu berpolitik, ya, itu kan sebuah keilmuan sendiri.
04:43Dalam konteks tadi, itu sebagai kontennya.
04:47Dia tahu tentang seluk-beluk ilmu politik.
04:50Tapi ingin menyampaikan bagaimana saya sebagai politikus yang hebat, bisa berkomunikasi dengan masyarakat bagus,
04:57butuh ilmu public speaking, yaitu konteksual.
04:59Nah, perlu belajar ilmu public speaking.
05:02Perlu belajar.
05:05Jadi, kalau seorang politisipun itu perlu memahami yang namanya bagaimana menjadi seorang public speaker yang baik, gitu ya.
05:12Betul, betul.
05:14Apalagi politisi yang aktif berbicara, ya.
05:16Oh, iya, iya.
05:17Aktif berbicara di media.
05:19Kadang-kadang kan ada juga politikus hanya bermain di belakang layar aja.
05:22Hanya duduk.
05:23Iya.
05:23Nah, kalau Bapak menilai para politisi, katakan anggota DPR, DPRD di daerah, di Jakarta, parlamen di Senayan, gitu.
05:34Bagaimana Bapak menilai mengkategorikan para politisi kita, gitu, kalau ketika berbicara, gitu?
05:40Ruwet.
05:41Jelimet.
05:43Ruwet dan jelimet.
05:45Jadi, sebetulnya materinya cukup disampaikan 2 menit.
05:48Ngomongnya bisa 10 menit, muter-muter, mengulang-mulang.
05:53Kenapa?
05:53Karena dia tidak belajar ilmu public speaking.
05:59Apa karena supaya kelihatan dia lebih jago atau pintar daripada orang yang diajak bicara, gitu?
06:05Yang menilai orang bodoh, begitu.
06:07Kalau orang bodoh-benil, wah, pintar ya, buahnya ngomong, hebat.
06:11Tapi ketika orang yang cerdas ngomong, kelihatan bodohnya, Pak.
06:16Seperti itu, ya?
06:17Iya.
06:19Nah, ini kan sudah dekat, ini bakal ada pemilu serentak.
06:22Iya, iya, iya.
06:22Termasuk adalah pemilihan anggota parlemen.
06:25Betul, betul.
06:25Baik di daerah maupun di pusat.
06:27Pusat, kan, gitu.
06:29Kira-kira bagaimana, nih, kira-kira kualitas dari seorang anggota parlemen, anggota DPRD atau DPR RI,
06:37mungkin termasuk anggota DPD juga, gitu, ya?
06:39Dalam hal persiapan mereka untuk menghadapi pemilu serentak 2024.
06:44Bapak, menilainya gimana mereka?
06:45Secara umum, jarang mereka belajar dulu public speaking baru ikut nyalek.
06:55Mereka mencoba menyalek dulu.
06:56Ketika berhasil, terpilih, ya, rencananya ikut public speaking.
07:03Rencana.
07:04Nah, tapi praktiknya mereka sudah disibukkan dengan kegiatan banyak macem, sehingga belajar public speaking menjadi terabaikan.
07:12Dalam artian apa?
07:14Dia anggap tidak penting menjadi apa?
07:16Menjadi prioritas bawah.
07:17Tidak pernah belajar lagi.
07:19Dampaknya bagaimana, dong, kalau begitu?
07:21Dampaknya adalah komunikasi dengan dia punya, apa, konstituenya terjadi gap.
07:30Kemudian juga ketika komunikasi intra di mereka pun jelimet, bulet, gitu.
07:35Oh, kayak sidang dengar pendapat gitu, ya?
07:38Ya, kalau sidang dengar pendapat, betul.
07:40Tapi kadang-kadang kan pesan yang ingin disampaikan itu simple.
07:45Dengan overtalk, kebanyakan ngomong, malah jadi nggak ngerti.
07:51Jadi, bicara itu kan singkat, padat, jelas, ngerti.
07:55Nah, ini kelihatan mereka tidak singkat, tidak padat, tidak jelas, tidak ngerti.
08:01Kalau kita sering melihat di gedung DPR itu ada seorang misalnya yang diundang menteri, gitu, misalnya.
08:08Atau dirut BUMN dan jajarannya, gitu, dong.
08:12Sering kenapa para menteri yang diundang atau pejabat lain yang diundang itu
08:19belum ngomong pokoknya kok sudah sering dipotong ini, diinterupsi sama anggota DPR ini?
08:24Apa sebenarnya yang terjadi ini?
08:26Ya, mereka tidak paham tentang communication skill.
08:29Nah, ini kembali lagi nih.
08:31Public speaking salah satunya kan ada ilmu tentang keterampilan berkomunikasi.
08:36Yang disebut dengan bahasa karennya communication skill.
08:39Ketika ditanya, apa sih communication skill itu?
08:42Kita harus bisa berbicara.
08:45Kita harus bisa ngomong yang bagus, ya.
08:46Bisa meyakinkan yang baik.
08:49Itu baru 50% benar.
08:5150%.
08:5250% lagi adalah tentang hearing skill.
08:56Keterampilan mendengar.
08:57Nah, mereka tidak belajar tentang keterampilan mendengar, hanya bicara tentang keterampilan bicara.
09:04Oh, karena itu mereka sering melakukan motong bicara atau kakakala dengan bahasa tingginya itu interupsi, gitu ya?
09:10Dan itu salah satu etika yang perlu dihindari.
09:14Etika berkomunikasi yang perlu dihindari.
09:17Interupsi perlu, nggak perlu.
09:18Ketika sangat mendesak.
09:20Ketika sangat penting.
09:21Tapi yang sering terjadi kan kita lihat, sebentar ngomong, kakak, sebentar ngomong, kakak, sebentar ngomong, kakak, sebentar ngomong, kakak.
09:27Kenapa?
09:27Itu habitus, kebiasaan.
09:30Aku merasa ingin saya lebih menguasai audien.
09:35Atau menguasai masalahnya mungkin.
09:37Seakan-akan.
09:40Keminter lah.
09:41Bahasa karennya itu keminter.
09:43Begitu ya?
09:44Karena orang keminter itu mesti nggak pinter.
09:47Jadi apa sebenarnya terjadi dengan diri mereka, Pak?
09:51Tidak siap untuk berkomunikasi dengan baik.
09:54Tidak siap.
09:55Atau tidak paham betapa pentingnya komunikasi.
10:00Nah, menghadapi persaingan dunia ke depan ya.
10:04Katakanlah dalam, bukan hanya dalam bidang hubungan antar negara,
10:07tapi juga antar warga Indonesia dengan warga lain,
10:11atau perusahaan Indonesia dengan perusahaan lain di luar negeri, gitu ya.
10:15Itu apa sih yang harus dikuasai ketika mereka negosiasi,
10:20atau ketika mereka sebelum dealing bisnis, gitu?
10:23Atau ada kesepakatan apa, gitu?
10:26Nah, itu yang disebut dibutuhkan satu lagi, negotiation skill.
10:31Nah, negotiation skill kan tergantung konteknya apa.
10:34Kalau bisnis, itu negotiation skill for business.
10:37Tapi kalau politik, ya tentunya negotiation politik, gitu ya.
10:40Nah, ini ada kiat-kiatnya pasti.
10:43Teknik bernegosiasi itu ada kiat-kiatnya.
10:45Ada the power of negotiation,
10:48kemudian kita masih bisa saling pukar konsesi, gitu ya.
10:52Mesti ada buying list, apa aja mau saya omongin,
10:56kemudian mana yang poin harus saya peroleh,
11:00dan mana boleh yang saya kalah, itu kan negosiasi, gitu ya.
11:04Kayak tarik ulur mungkin, bagi istilahnya.
11:05Tarik ulur adalah ingin mendapatkan yang terbaik.
11:08Tetapi negosiasi itu tidak selalu saya harus menang semua.
11:12Jadi kalau ada lima poin, umpamai ya,
11:14negosiasi, oh saya akan bicara tentang poin A, poin B, poin D, gitu ya.
11:17Bisa saja saya menang satu, dua.
11:19Tiga, empat, lima mungkin saya kalah.
11:21Saya harus serahkan ke, mana?
11:23Ke pihak kawan bisara kita atau mitra kita.
11:26Oh, calon mitra lah, misalnya ya.
11:28Nah, itulah yang disebut dengan negosiasi.
11:30Jadi bukan pengen menangi TV.
11:32Bukan mau menang sendiri, gitu ya?
11:34Bukan.
11:35Menang sendiri kan ya bikin perusahaan sendiri aja.
11:38Oh, iya, iya, iya.
11:40Begitu ya.
11:42Nah, jadi pembicaraan kita menarik sekali.
11:44Mudah-mudahan bisa kita lanjutkan bahwa yang namanya di dunia saat ini
11:48adalah juga penting mengetahui yang namanya
11:52communication skill, public speaking,
11:55mendengar.
11:56Public speaking skill.
11:57Iya.
11:58Hearing skill.
11:59Ada orang bilang kan belajarlah untuk mendengar.
12:03Nah, mudah-mudahan nanti ke depannya ya,
12:06para pebisnis Indonesia,
12:08pemula atau yang ingin jadi sukses di bisnis
12:11atau anggota partner dan sebagainya
12:13bisa memahami hal-hal tersebut.
12:16Kira-kira seperti itu ya, Pak, ya?
12:17Kira-kan.
12:19Kira-kan.
12:19Kira-kan.
12:20Kira-kan.
Comments