Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 9 bulan yang lalu
KOMPAS.TV - Jurnalis KompasTV Dipo Nurbahagia mendatangi sekolah almarhum Arjun. Arjun dan Alifah adalah kakak adik yang ditemukan tewas berpelukan di Lampung.

Reta adalah Wali Kelas almarhum Arjun. Arjun dikenal sebagai sosok periang, baik, dan rajin.

Ia meraih peringkat kedua di kelasnya. Arjun juga diketahui tidak pernah berkonflik dengan temannya.

Kepala Sekolah berharap pelaku segera tertangkap.

Ditemui di Jakarta, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan mengecam keras pelaku kejahatan yang menewaskan Arjun dan Alifah.

Kasus ini seakan membuka fenomena gunung es, lantaran kasus kekerasan anak di Lampung lainnya menjadi terkuak.

Kementerian PPPA mengapresiasi korban kekerasan yang berani speak up dan melapor.



Selengkapnya saksikan di KompasTV.



https://youtu.be/h6-NMelfuHw?si=amGG5byokm1wfYqP

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/600068/kakak-adik-tewas-berpelukan-di-lampung-guru-almarhum-anak-baik-dipo-investigasi
Transkrip
00:00Intro
00:00Halo, saya sudah bersama dengan Bu Asidah, Kepala Sekolah SD Negeri 99 dan Bu Retta, Wali Kelas dari Arjun.
00:27Bu, bagaimana kabarnya sehat Bu?
00:29Alhamdulillah, baik. Saya izin minta waktunya sebentar ya Bu.
00:32Bu Asidah, Ibu sebagai Kepala Sekolah ketika pertama kali mendengar peristiwa, mohon maaf, pembunuhan yang terjadi kepada Arjun, saat itu apa yang pertama kali Ibu?
00:45Oleh kelasnya saya tahu, katanya anak buah kita ada yang gini-gini. Itu dipastikan nggak wajar?
00:51Dipastikan tidak wajar?
00:53Iya, karena orang dua anak kecil dibunuh di itu. Pasti nggak wajar terjadi kayak gitu.
01:02Dan baru kelas 1 SD betul Bu ya?
01:05Iya.
01:05Dari Bu Retta sendiri ketika pertama kali mendengar anak kelas Ibu meninggal dunia karena dibunuh dengan kondisi yang sangat tragis, apa yang Ibu pikirkan saat itu?
01:16Begitu aja nggak terlalu banyak. Komen apa-apa dulu, karena itu kan belum pasti. Kejadiannya, penyebabnya itu kita belum tahu kan.
01:23Oke. Bu Asidah saya boleh izin ke kelas dari Arjun Bu?
01:27Boleh.
01:27Didampingin dengan Bu Retta ya? Saya mau izin juga.
01:39Sebenarnya saya akan tunjukkan bangku kosong itu adalah satu-satunya bangku yang tidak terisi di kelas I SD Negeri 99, yang sehari-hari biasanya dibukti oleh Arjun Taulana yang kini telah meninggal dunia.
01:54Boleh kita ngobrol di luar lagi aja Bu ya?
01:57Tapi saya ingin tanyakan sebagai wali kelas, Ibu sendiri melihat sosok Arjun Ibu seperti apa Bu?
02:03Kalau sosok si almarhum, dia anaknya baik, periang, ceria, nggak pernah ya istilahnya ada perdebatan sesama teman, tidak ada.
02:12Dia juga anaknya aktif, sehat, rajin, ya seperti itu.
02:17Artinya di sekolah pun sama sekali tidak ada, mohon maaf, terdengar informasi mungkin berkonflik atau masalah seperti itu.
02:24Oh tidak ada. Tidak ada semisal?
02:25Iya, tidak ada semisal.
02:27Dan ini akan pembagian rapot Bu ya?
02:30Iya.
02:30Arjun sendiri tipikal siswa di kelas itu yang seperti apa? Aktif?
02:35Aktif, dia dapat, alhamdulillah dapat peringkat kedua.
02:38Dapat peringkat kedua?
02:39Iya.
02:39Mata pelajaran apa yang paling disukain Arjun?
02:42Dia paling suka mata pelajaran itu bahasa Indonesia.
02:44Bahasa Indonesia?
02:45Alhamdulillah, nulisnya udah rapi, membacanya juga udah lancar.
02:51Jamut peringkat kedua harusnya ketika momentum bagi rapot ini menjadi momentum senyuman dari Arjun Bu ya.
02:59Tapi sekarang sudah tidak ada.
03:02Dari Bu Hasida sendiri Bu, ini kan sudah satu bulan lamanya.
03:07Pelaku belum tertangkap.
03:10Apa yang ingin Bu sampaikan Bu?
03:12Kepada mungkin apalat kepolisian, ataupun mungkin pemerintah?
03:16Jadi saya harapkan kepada pemerintah supaya cepat untuk menangkap pelakunya.
03:23Bagaimanapun caranya.
03:24Karena meresahkan serakat Betul Raja, terus meresahkan anak-anak didik, mau pindah semua ke sekolah lain.
03:32Ada informasi seperti itu Bu?
03:34Iya, mau pindah semua ke Betul Agung kalau ini belum tuntas.
03:39Berarti ini cuy, jadi khawatiran dari mungkin orang tua murid dan anak-anak ya?
03:43Iya, waktu kena anak-anak ini, kena jalan kaya gini.
03:47Nah siapa tahu kan, yang pelakunya belum tewas, dia nyumput di kebon itu, berbuat seitu lagi.
03:55Mau habis murid di Betul Raja ini, kalau itu tidak tuntas.
04:00Kalau tidak cepat tuntas, maka diharapkan kepada pemerintah.
04:04Pemerintah untuk lebih cepat pelakunya tertangkap.
04:09Sebenarnya meja dan kursi ini adalah saksi bisu,
04:28di mana seorang anak bernama Arjun Tauladan dengan gigih dan juga begitu rajin untuk kebudian belajar.
04:38Tentu yang semakin menjadi ironis adalah bahwa seharusnya pada pekan ini, seperti yang Anda lihat,
04:48Arjun memperoleh ataupun mendapatkan rapot dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi bahwa
04:56Arjun adalah siswa yang kemudian berprestasi, meraih ranking 2, tetapi naas bahwa hidupnya harus berakhir di tangan orang yang tidak bertanggung jawab,
05:09yang sangat keji, melakukan peristiwa pembunuhan terhadap anak yang baru berusia 8 tahun.
05:15Misteri kematian Arjun Tauladan dan Alifah Hoironisa masih menjadi teka-teki dan menimbulkan trauma mendalam bagi keluarga.
05:41Lantas bagaimana pemerintah memberi perhatian atas kasus ini?
05:46Tim di poinvestigasi mewawancarai Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronika Tan, di Jakarta.
05:53Ya, kami mengecam ya dari Kementerian PPPA, tentu parah pelaku-pelaku kejahatan,
06:00dan ketika saya melihat Lampung itu banyak sekali ya.
06:03Jadi dari kejadian dua orang anak ini, ternyata ada juga yang dari pesisir juga yang kasus yang terbunuh.
06:10Jadi kita tahu bahwa kejadian-kejadian dan kasus-kasus begitu banyak,
06:15ya memang kita ini dalam posisi fenomena-fenomena yang ada semacam gunung es ini sekarang terkuak.
06:24Jadi masing-masing orang adalah sebuah satu dobrakan juga berani melapor.
06:31Dan secara kasus kita lihat, memang dari Kementerian PPPA kita mempunyai UPTD daerah.
06:38Secara pendampingan, ketika orang tua korban, pendampingan dari UPTD PA untuk psikologisnya,
06:46itu segera ketika kita mendapat laporan, kita selalu turun ke bawah ke daerah untuk mengeksekusi pendampingan-pendampingan ini.
06:53Tapi balik lagi, ini merupakan bukan hanya satu isu ini yang diangkat,
06:58tapi kita lihat begitu banyak fenomenal-fenomenal kekerasan yang terjadi,
07:03khususnya korbannya adalah perempuan dan anak.
07:06Anak bisa anak laki, bisa anak perempuan,
07:09tapi kita tahu ini menjadi sebuah darurat sebenarnya yang harus kita lakukan secara kolaborasi
07:15dan kita tidak bisa lakukan sendiri.
07:18Secara UPTD, kita pendampingan psikolog kepada orang tuanya tentu, pasti shock ya, trauma.
07:24Dan kita juga memberikan bantuan tali asih,
07:27dan kemudian ini dibawa ke aparat hukum bagaimana penegakannya, seperti itu.
07:32Apakah dari Kementerian PPPA itu ikut turut mendorong percepatan dari pengungkapan kasus ini
07:38dan bagaimana memastikan kalau misalnya hak-hak dari korban,
07:41terutama orang tua korban yang hingga saat ini masih shock,
07:44apakah Kementerian PPPA melakukan pendampingan itu?
07:48Nah tentu dengan ahli saksi dan apapun yang dikumpulkan,
07:52kita kembalikan kepada penegak hukum.
07:55Itu akan menjadi kolaborasi bersama dari Kementerian kami.
07:59Kami selalu mendorong supaya eksekusi hukum maksimal kepada kekerasan itu harus dilakukan,
08:08apalagi pembunuhan.
08:09Bagaimana kita mendorong itu, itu menjadi kolaborasi.
08:12Tapi bagian kami adalah kita mendampingi psikolog,
08:16kita mendorong hukum maksimal kepada pelaku,
08:19sehingga ini menjadi sebuah kolaborasi.
08:21Balik lagi, hal seperti itu kita perlu mendorong bersama.
08:26Dari gerakan masyarakat juga kita perlu dorong dengan adanya speak up and rise,
08:30yang diadakan dari kepolisian dan juga dari Kementerian PPPA,
08:35mencoba menggabungkan semua kolaborasi ini dan membuat sebuah call center yang berintegrasi,
08:42itu menjadi PR-nya kita juga.
08:44Apakah pesisir barat ini bisa dikatakan zona merah gitu Bu untuk kasus kekerasan terhadap anak?
08:50Kenapa kita berjuang harus ada direktorat khusus?
08:53Ya karena ujungnya adalah korban perempuan dan anak.
08:55Kalau kita lihat dari perspektif ini, ya menurut saya ini adalah zona merah.
09:00Mirisnya adalah kita menghadapi memang darurat.
09:04Tapi bagaimana mempersiapkan semua itu, memang kita butuh kolaborasi yang bersama.
09:08Dan saya yakin saat ini kita sedang menuju bendera yang sama.
09:12Forum-forum pengadaan layanan, forum-forum yang ada di masyarakat,
09:15ini menjadi kata kunci kita sebagai masyarakat yang ayo dong bersuara,
09:20untuk mendorong, mendorong supaya hukuman maksimal kepada pelaku.
09:25Kalau kita lihat jumlah, ya ini yang sekarang nggak kelihatan itu jadi kelihatan aja.
09:31Bukan berarti ini baru.
09:33Ini sebenarnya yang diteriakan selama ini, fenomena gunung es.
09:39Jadi bukan kita mendapatkan sesuatu yang baru, tapi ya memang faktanya seperti itu.
09:44Kita darurat kekerasan.
09:45Oke, sebelum kita bahas hasilnya juga, ini ada golok ya?
09:51Iya.
09:52Golok ini milik siapa?
09:53Milik salah satu saksi yang kita duga juga.
Komentar

Dianjurkan