00:00Intro
00:00Halo, saya sudah bersama dengan Bu Asidah, Kepala Sekolah SD Negeri 99 dan Bu Retta, Wali Kelas dari Arjun.
00:27Bu, bagaimana kabarnya sehat Bu?
00:29Alhamdulillah, baik. Saya izin minta waktunya sebentar ya Bu.
00:32Bu Asidah, Ibu sebagai Kepala Sekolah ketika pertama kali mendengar peristiwa, mohon maaf, pembunuhan yang terjadi kepada Arjun, saat itu apa yang pertama kali Ibu?
00:45Oleh kelasnya saya tahu, katanya anak buah kita ada yang gini-gini. Itu dipastikan nggak wajar?
00:51Dipastikan tidak wajar?
00:53Iya, karena orang dua anak kecil dibunuh di itu. Pasti nggak wajar terjadi kayak gitu.
01:02Dan baru kelas 1 SD betul Bu ya?
01:05Iya.
01:05Dari Bu Retta sendiri ketika pertama kali mendengar anak kelas Ibu meninggal dunia karena dibunuh dengan kondisi yang sangat tragis, apa yang Ibu pikirkan saat itu?
01:16Begitu aja nggak terlalu banyak. Komen apa-apa dulu, karena itu kan belum pasti. Kejadiannya, penyebabnya itu kita belum tahu kan.
01:23Oke. Bu Asidah saya boleh izin ke kelas dari Arjun Bu?
01:27Boleh.
01:27Didampingin dengan Bu Retta ya? Saya mau izin juga.
01:39Sebenarnya saya akan tunjukkan bangku kosong itu adalah satu-satunya bangku yang tidak terisi di kelas I SD Negeri 99, yang sehari-hari biasanya dibukti oleh Arjun Taulana yang kini telah meninggal dunia.
01:54Boleh kita ngobrol di luar lagi aja Bu ya?
01:57Tapi saya ingin tanyakan sebagai wali kelas, Ibu sendiri melihat sosok Arjun Ibu seperti apa Bu?
02:03Kalau sosok si almarhum, dia anaknya baik, periang, ceria, nggak pernah ya istilahnya ada perdebatan sesama teman, tidak ada.
02:12Dia juga anaknya aktif, sehat, rajin, ya seperti itu.
02:17Artinya di sekolah pun sama sekali tidak ada, mohon maaf, terdengar informasi mungkin berkonflik atau masalah seperti itu.
02:24Oh tidak ada. Tidak ada semisal?
02:25Iya, tidak ada semisal.
02:27Dan ini akan pembagian rapot Bu ya?
02:30Iya.
02:30Arjun sendiri tipikal siswa di kelas itu yang seperti apa? Aktif?
02:35Aktif, dia dapat, alhamdulillah dapat peringkat kedua.
02:38Dapat peringkat kedua?
02:39Iya.
02:39Mata pelajaran apa yang paling disukain Arjun?
02:42Dia paling suka mata pelajaran itu bahasa Indonesia.
02:44Bahasa Indonesia?
02:45Alhamdulillah, nulisnya udah rapi, membacanya juga udah lancar.
02:51Jamut peringkat kedua harusnya ketika momentum bagi rapot ini menjadi momentum senyuman dari Arjun Bu ya.
02:59Tapi sekarang sudah tidak ada.
03:02Dari Bu Hasida sendiri Bu, ini kan sudah satu bulan lamanya.
03:07Pelaku belum tertangkap.
03:10Apa yang ingin Bu sampaikan Bu?
03:12Kepada mungkin apalat kepolisian, ataupun mungkin pemerintah?
03:16Jadi saya harapkan kepada pemerintah supaya cepat untuk menangkap pelakunya.
03:23Bagaimanapun caranya.
03:24Karena meresahkan serakat Betul Raja, terus meresahkan anak-anak didik, mau pindah semua ke sekolah lain.
03:32Ada informasi seperti itu Bu?
03:34Iya, mau pindah semua ke Betul Agung kalau ini belum tuntas.
03:39Berarti ini cuy, jadi khawatiran dari mungkin orang tua murid dan anak-anak ya?
03:43Iya, waktu kena anak-anak ini, kena jalan kaya gini.
03:47Nah siapa tahu kan, yang pelakunya belum tewas, dia nyumput di kebon itu, berbuat seitu lagi.
03:55Mau habis murid di Betul Raja ini, kalau itu tidak tuntas.
04:00Kalau tidak cepat tuntas, maka diharapkan kepada pemerintah.
04:04Pemerintah untuk lebih cepat pelakunya tertangkap.
04:09Sebenarnya meja dan kursi ini adalah saksi bisu,
04:28di mana seorang anak bernama Arjun Tauladan dengan gigih dan juga begitu rajin untuk kebudian belajar.
04:38Tentu yang semakin menjadi ironis adalah bahwa seharusnya pada pekan ini, seperti yang Anda lihat,
04:48Arjun memperoleh ataupun mendapatkan rapot dan saya juga sudah mendapatkan konfirmasi bahwa
04:56Arjun adalah siswa yang kemudian berprestasi, meraih ranking 2, tetapi naas bahwa hidupnya harus berakhir di tangan orang yang tidak bertanggung jawab,
05:09yang sangat keji, melakukan peristiwa pembunuhan terhadap anak yang baru berusia 8 tahun.
05:15Misteri kematian Arjun Tauladan dan Alifah Hoironisa masih menjadi teka-teki dan menimbulkan trauma mendalam bagi keluarga.
05:41Lantas bagaimana pemerintah memberi perhatian atas kasus ini?
05:46Tim di poinvestigasi mewawancarai Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronika Tan, di Jakarta.
05:53Ya, kami mengecam ya dari Kementerian PPPA, tentu parah pelaku-pelaku kejahatan,
06:00dan ketika saya melihat Lampung itu banyak sekali ya.
06:03Jadi dari kejadian dua orang anak ini, ternyata ada juga yang dari pesisir juga yang kasus yang terbunuh.
06:10Jadi kita tahu bahwa kejadian-kejadian dan kasus-kasus begitu banyak,
06:15ya memang kita ini dalam posisi fenomena-fenomena yang ada semacam gunung es ini sekarang terkuak.
06:24Jadi masing-masing orang adalah sebuah satu dobrakan juga berani melapor.
06:31Dan secara kasus kita lihat, memang dari Kementerian PPPA kita mempunyai UPTD daerah.
06:38Secara pendampingan, ketika orang tua korban, pendampingan dari UPTD PA untuk psikologisnya,
06:46itu segera ketika kita mendapat laporan, kita selalu turun ke bawah ke daerah untuk mengeksekusi pendampingan-pendampingan ini.
06:53Tapi balik lagi, ini merupakan bukan hanya satu isu ini yang diangkat,
06:58tapi kita lihat begitu banyak fenomenal-fenomenal kekerasan yang terjadi,
07:03khususnya korbannya adalah perempuan dan anak.
07:06Anak bisa anak laki, bisa anak perempuan,
07:09tapi kita tahu ini menjadi sebuah darurat sebenarnya yang harus kita lakukan secara kolaborasi
07:15dan kita tidak bisa lakukan sendiri.
07:18Secara UPTD, kita pendampingan psikolog kepada orang tuanya tentu, pasti shock ya, trauma.
07:24Dan kita juga memberikan bantuan tali asih,
07:27dan kemudian ini dibawa ke aparat hukum bagaimana penegakannya, seperti itu.
07:32Apakah dari Kementerian PPPA itu ikut turut mendorong percepatan dari pengungkapan kasus ini
07:38dan bagaimana memastikan kalau misalnya hak-hak dari korban,
07:41terutama orang tua korban yang hingga saat ini masih shock,
07:44apakah Kementerian PPPA melakukan pendampingan itu?
07:48Nah tentu dengan ahli saksi dan apapun yang dikumpulkan,
07:52kita kembalikan kepada penegak hukum.
07:55Itu akan menjadi kolaborasi bersama dari Kementerian kami.
07:59Kami selalu mendorong supaya eksekusi hukum maksimal kepada kekerasan itu harus dilakukan,
08:08apalagi pembunuhan.
08:09Bagaimana kita mendorong itu, itu menjadi kolaborasi.
08:12Tapi bagian kami adalah kita mendampingi psikolog,
08:16kita mendorong hukum maksimal kepada pelaku,
08:19sehingga ini menjadi sebuah kolaborasi.
08:21Balik lagi, hal seperti itu kita perlu mendorong bersama.
08:26Dari gerakan masyarakat juga kita perlu dorong dengan adanya speak up and rise,
08:30yang diadakan dari kepolisian dan juga dari Kementerian PPPA,
08:35mencoba menggabungkan semua kolaborasi ini dan membuat sebuah call center yang berintegrasi,
08:42itu menjadi PR-nya kita juga.
08:44Apakah pesisir barat ini bisa dikatakan zona merah gitu Bu untuk kasus kekerasan terhadap anak?
08:50Kenapa kita berjuang harus ada direktorat khusus?
08:53Ya karena ujungnya adalah korban perempuan dan anak.
08:55Kalau kita lihat dari perspektif ini, ya menurut saya ini adalah zona merah.
09:00Mirisnya adalah kita menghadapi memang darurat.
09:04Tapi bagaimana mempersiapkan semua itu, memang kita butuh kolaborasi yang bersama.
09:08Dan saya yakin saat ini kita sedang menuju bendera yang sama.
09:12Forum-forum pengadaan layanan, forum-forum yang ada di masyarakat,
09:15ini menjadi kata kunci kita sebagai masyarakat yang ayo dong bersuara,
09:20untuk mendorong, mendorong supaya hukuman maksimal kepada pelaku.
09:25Kalau kita lihat jumlah, ya ini yang sekarang nggak kelihatan itu jadi kelihatan aja.
09:31Bukan berarti ini baru.
09:33Ini sebenarnya yang diteriakan selama ini, fenomena gunung es.
09:39Jadi bukan kita mendapatkan sesuatu yang baru, tapi ya memang faktanya seperti itu.
09:44Kita darurat kekerasan.
09:45Oke, sebelum kita bahas hasilnya juga, ini ada golok ya?
09:51Iya.
09:52Golok ini milik siapa?
09:53Milik salah satu saksi yang kita duga juga.
Komentar