- 1 tahun yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi tengah menjadi sorotan berkat konten blusukan di media sosial. Sejumlah kebijakan pemerintah daerah Jawa Barat turut disosialisasikan di media sosial Dedi Mulyadi, seperti mengirim anak-anak yang dinilai bermasalah ke barak militer, penerapan syarat vaksetomi bagi warga penerima bansos, hingga efisiensi anggaran daerah. Apakah konten-konten tersebut populis? atau investasi politik untuk 2029? Adisty akan membahasnya bersama Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi di On Point with Adisty!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/592773/konten-gubernur-kdm-untuk-dongkrak-elektabilitas-di-2029-on-point-with-adisty-24
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Perhari ini tidak ada kepala daerah, gubernur atau bupati yang mengalahkan popularitasnya KDM.
00:08Memang ini upaya untuk merintis di 2029?
00:11Makanya seorang Prabu sepertinya belum melihat Dedy sebagai seorang ancaman.
00:17Seberapa besar peluang seorang KDM untuk bisa kemudian dari sekarang berinvestasi politik di 2029,
00:24ya baca wapres lah.
00:30Yang wapres sekarang gimana?
00:33Pada saat KDM, saya lupa, turun lah ya, turun membersihkan, apa namanya, membersihkan gorong-gorong, selokan apa-apa gitu.
00:42Sampai, wah jangan sampai ini nih.
00:44Mulia no jilid kedua.
00:47Popularitas KDM yang terus meningkat, siapa yang bisa terganggu untuk 2029?
01:00Hai, kembali lagi di On Point with Adi Stilarasati.
01:11Ada beragam topik yang menjadi sorotan publik di pekan-pekan hari ini.
01:16Yang kemudian masih menjadi sorotan adalah soal bagaimana langkah yang bisa dikatakan populis lah dan juga banyak sorotan adalah langkah dari Gubernur Jawa Barat,
01:28Kang Deddy Mulyadi atau yang biasa kita kenal dengan KDM.
01:31Apa kalau tidak banyak yang disorot kalau bukan KDM?
01:37Pertama, dari soal barak militer untuk anak-anak bermasalah, soal vasektomi sebagai syarat penerima bansos dan juga bahkan banyak juga langkah-langkah yang kemudian dari KDM ini menjadi sorotan publik di belakangan hari ini.
01:55Apakah ini benar-benar langkah populis yang dilakukan oleh seorang Gubernur Jawa Barat ataukah ini merupakan investasi politik yang memang sudah dirintis untuk 2029?
02:08Untuk membahas hal ini, saya sudah kedatangan tamu spesial, siapa lagi kalau bukan Direktur Eksekutif Indikator Politik, Mas Burhanuddin Muhtadi.
02:18Halo Mas Burhanuddin.
02:19Halo Adi Sti.
02:20Oke, apa kabar ya?
02:21Baik, baik.
02:22Terima kasih sudah datang di On Point with Adi Stiara Satu.
02:25Makasih undangannya.
02:26Oke, Mas, hari-hari ini kita banyak sekali bisa dikatakan mendapat sorotan publik ini KDM.
02:35Pokoknya KDM.
02:36Gubernur Jawa Barat baru berapa bulan menjabat, tapi kemudian langkah-langkahnya itu ternyata banyak mendapatkan spotlight lah.
02:44Tarolah kita lihat dari barak militer untuk anak-anak bermasalah, kemudian dari soal fasektomi sebagai syarat penerima bansos, dari komunikasi politik Anda melihatnya ini murni atau pencitraan atau investasi politik 2029?
03:02Iya, saya kira susah ya untuk menjawabnya atau memisahkannya satu persatu.
03:07Karena kalau kita lihat langkah-langkahnya, itu sebenarnya bukan tradisi atau bukan hal yang baru yang dilakukan oleh seorang KDM.
03:16Jadi kalau kita lihat jejaknya, terutama di sosial media itu sudah lama sekali.
03:23Jadi beliau punya KDM ofisial, misalnya di Facebook, itu followernya 12 juta.
03:30Kemudian di Youtube, itu 7 juta lebih.
03:34Di Instagram, 3,5 juta.
03:37Dan itu tidak main-main, karena kalau kita cek sebagian besar itu sifatnya organik.
03:41Artinya, ada pangsa pasar tertentu yang melihat KDM ini sebagai sosok yang menarik dan unik.
03:50Dan karenanya mereka ikuti jauh sebelum KDM sebagai gubernur.
03:54Jadi satu sisi memang dia punya satu pendekatan yang berbeda,
03:59yang mungkin lebih, tanda kutip, visioner,
04:02karena jauh sebelum politisi menggunakan sosial media, dia sudah aktif di sana.
04:06Tapi sisi lain, kalau kita amatin isi atau konten dari sosial medianya,
04:14itu apapun dia upload, termasuk hal yang kontroversial sekalipun.
04:18Jangan lupa ketika dia, tanda kutip ya, berdebat dengan anak SMA yang keberatan
04:24karena Wisuda dihapuskan.
04:25Itu hasil media mendapatkannya dari tayangan yang ada di Youtubenya.
04:31Artinya, dia tampilkan apa adanya dengan segala plus, minus, dan kontroversinya.
04:37Jadi satu sisi memang ada pendekatan populis, meskipun saya tidak sepenuhnya setuju,
04:43karena populisme di sini itu artinya mengikuti arus atau kepentingan masyarakat secara umumnya.
04:49Namanya juga populi.
04:51Tetapi kalau kita lihat beberapa isu yang dia gulirkan, itu kontroversial.
04:55Artinya, tidak seluruh masyarakat suka, kan?
04:58Misalnya soal syarat vasektomi buat laki-laki kalau ingin mendapatkan bansos.
05:05Itu belum tentu loh disukai sama masyarakat, apalagi buat kelas menengah bawah,
05:11yang kita tahu mereka berharap bansos tanpa embel-embel syarat apapun,
05:16tiba-tiba dibatasi haknya untuk bereproduksi.
05:20Itu potensial backlash juga.
05:22Dan itu bukan populis, kalau misalnya satu kebijakan ternyata mendapatkan kontroversi besar.
05:28Malah bisa jadi backfire?
05:30Bisa jadi backfire.
05:31Meskipun, lagi-lagi, yang saya lihat dari seorang KDM ini adalah,
05:36dia yakin betul dengan apa yang dia lakukan.
05:39Dan kadang tidak memenuhi finsip deliberasi.
05:42Jadi yang dia yakinin, ini benar untuk masyarakat yang baik,
05:47dan lepas apakah kontroversinya besar atau tidak, dilakukan.
05:50Makanya kan salah satu kritiknya adalah,
05:53KDM dianggap kurang menghimpun suara publik dulu sebelum mengambil kebijakan.
05:58Dia lakukan karena dia yakin itu benar untuk kepentingan publik yang lebih luas.
06:02Misalnya syofosektomi.
06:04Kalau misalnya kelas menengah bawah itu tidak dibatasi hak untuk bereproduksinya,
06:10itu dikhawatirkan, itu akan menghabiskan anggaran tansos.
06:15Karena mereka lebih banyak membuat anak, tetapi tidak memikirkan tanggung jawab pada anak yang dilahirkan.
06:24Dan karena ada fasektomi.
06:26Ini kan satu keyakinan yang ada di judgmentnya.
06:29Dia lakukan tanpa misalnya nanya ke stakeholder yang lain, nanya ke ahli.
06:36Nah ini yang saya sebut tidak seluruhnya populis, meskipun memang kita tidak bisa mengingkari,
06:44bahwa langkah-langkahnya ini menarik perhatian luas.
06:48Dan dugaan saya ini punya efek juga untuk menaikkan popularitas seorang KDM.
06:53Saya kira per hari ini tidak ada kepala daerah, gubernur atau bupati yang mengalahkan popularitasnya KDM.
07:02Jadi nomor satu, seorang kepala daerah yang paling populer adalah Kang Deddy Mulyadi.
07:07Ini saya ngomong sebagai polster ya.
07:10Artinya bobotnya secara akademik bisa saya pertanggung jawabkan.
07:14Biasanya popularitas kepala daerah itu bermula di Jakarta.
07:21Kenapa? Karena Jakarta adalah pusatnya pemerintahan, pusatnya informasi, pusatnya opinion maker.
07:28Itu yang menjelaskan naiknya seorang Jokowi, itu yang menjelaskan naiknya seorang Anies Baswedan.
07:35Tetapi sekarang justru dibalik ke Jawa Barat.
07:40Dan Kang Deddy Mulyadi mendobrak itu.
07:42Mendobrak itu. Dan menarik pula untuk kita lihat, biasanya kepala daerah yang populer itu yang punya latar belakang etnik Jawa.
07:53Jokowi, Ganjar Pranowo, Anies meskipun kita tahu tidak sepenuhnya Jawa, tetapi besar di Jogja.
08:03Ini Sunda, etnik terbesar kedua memang, tetapi selisihnya dibanding etnik Jawa dari sisi prosentase kan jauh.
08:12Jadi ada banyak terobosan-terobosan yang diciptakan oleh KDM dengan segala kontroversinya.
08:20Saya sebut dengan segala kontroversinya karena nggak semuanya happy kan.
08:24Misalnya soal fasektomi, kan ada kritik dari kalangan ahli, Kang Deddy tidak membuka ruang dialog, Kang Deddy memakai pendekatan biopower.
08:33Jadi mendisiplinkan tubuh.
08:35Tapi lagi-lagi karena dia yakin bahwa ini benar, ya dia lakukan meskipun...
08:41Termasuk juga barak militer.
08:43Barak militer kan sama juga, dapat juga pro-contra begitu ya.
08:48Sangat, sangat.
08:49Karena kan adistik, kita tahu kan soal barak militer ini, lagi-lagi dia pakai proses pendisiplinan.
08:55Jadi kalau ada warga yang dianggap tidak mau mengikuti aturan, entah tawuran atau membahayakan keamanan yang lain,
09:04buat anak-anak itu nggak bisa dilakukan proses law enforcement kan,
09:08tetapi sama dia dibikin pendisiplinan dalam bentuk lain, dimasukkan ke barak militer.
09:13Nah, pertanyaannya apakah kontroversi itu hanya kelas menengah atas saja,
09:19atau jangan-jangan langkahnya itu didukung sama masyarakat kelas menengah bawah.
09:23Jangan-jangan yang kedua yang benar, adistik.
09:25Kenapa? Karena militer itu satu institusi yang paling tinggi, tingkat trust-nya.
09:30Yang kedua mungkin tidak populer buat para misalnya ahli atau stakeholder tertentu,
09:37tetapi buat masyarakat yang punya nilai elektoral, one person, one vote, one value,
09:44jangan-jangan langkah itu justru malah disetujui.
09:46Memang saya belum punya datanya, tetapi paling tidak dengan jadi bahan pembicaraan di mana-mana,
09:51di media, termasuk di on point kompas ini, itu menunjukkan banyak juga orang yang mengamati gerak gerai seorang KDM.
09:59Anda melihat apa yang sudah dirintis, saya mengatakan sudah dirintis,
10:03karena channel Youtubenya, ini memang sudah dirintis beliau, KDM, sudah sejak lama.
10:11Anda bisa mengatakan ini cukup berhasil seorang Kang Dedy Mulyadi ini mendapatkan spotlight,
10:18tidak hanya sebagai kepala daerah, tapi nanti apakah ini memang ini upaya untuk merintis di 2029?
10:25Saya tidak tahu motif dalamnya, saya tidak bisa menguji apa yang batin, tetapi apa yang terlihat saja.
10:35Tentu saja dilihat dari apa yang dia lakukan, dan ratingnya yang tinggi,
10:41dan kalau kita buka konten-kontennya di Youtube, di Facebook, di IG, di Twitter,
10:45itu banyak sekali tuh, komen masyarakat yang mendukung langkahnya.
10:53Jadi tanpa harus disampaikan secara terus terang, itu tentu saja apa yang dia lakukan sekarang
10:59punya implikasi politik elektoral.
11:02Jadi saya menduga, kalau misalnya demam KDM ini terus berlanjut,
11:09itu kemungkinan bisa mengganggu kenyamanan tokoh-tokoh lama berkaitan dengan peta elektoral 2029.
11:19Nah pertanyaan saya, populeritas KDM yang terus meningkat, siapa yang bisa terganggu untuk 2029?
11:28Nah yang menariknya begini, KDM ini itu kan belum lama pindah partai ke Gerindra,
11:34sebelumnya aktif di Partai Golkar.
11:36Nah di Gerindra jelas sudah ada tokoh utamanya, seorang veto player, pendiri, partai,
11:45sekaligus ketua umum, ketua Dewan Pembina, ketua Dewan Pengarah,
11:49semua jabatan ada di tangan satu nama, namanya Prabowo Subianto,
11:53yang sekarang menjadi Presiden Republik Indonesia.
11:56Jadi pada titik itu, tentu ada constraint bagi seorang Deddy Mulyani
12:01untuk punya mimpi melampaui yang punya partainya.
12:05Tapi pertanyaannya, apakah mungkin kemudian seorang KDM ini bisa melampaui
12:11atau setidaknya, wah Pak Prabowo jangan-jangan merasa, akhirnya merasa terganggu nih gitu?
12:18Kalau melihat per hari ini, saya melihat belum ada semacam perasaan dari Pak Prabowo atau orang-orang sekitarnya
12:26yang terganggu dengan langkah Deddy Mulyadi.
12:30Mungkin karena Deddy Mulyadi sejauh ini masih bisa menempatkan diri.
12:34Dia seringkali mengungkapkan dan memamerkan, sekaligus mempromosikan Pak Prabowo.
12:42Ingat nggak waktu Pak Prabowo habis dilantik sebagai Presiden,
12:46Deddy Mulyadi ikut menyambut di pinggir jalan,
12:51waktu ada semacam perayaan dari gedung DPR-MPR ke istana.
12:57Dan dalam, jangan lupa, isu banyak sekali yang berkaitan dengan Deddy Mulyadi,
13:03termasuk yang kontroversial, sejauh ini masih direspon positif,
13:07terutama oleh orang-orang sekitar Pak Prabowo, dibela.
13:11Bahkan di saat kebijakan Deddy Mulyadi itu kontroversial.
13:16Nah, artinya sejauh ini belum mengganggu kenyamanan Pak Prabowo.
13:19Mungkin kalau di Pak Prabowo-nya perasaan gangguan itu belum ada,
13:28tetapi sesama kader Gerindra, who knows?
13:31Dan kalau misalnya dugaan saya sih,
13:34pasti ada pihak-pihak internal Gerindra yang kurang nyaman ya,
13:38terutama yang merasa levelnya di atas Deddy Mulyadi secara struktural.
13:44Mungkin ada perasaan itu, meskipun saya tidak tahu buktinya.
13:47Tapi paling tidak, saya membaca mengapa Pak Prabowo belum melihat Deddy Mulyadi sebagai ancaman.
13:55Saya melihatnya mungkin Deddy masih dianggap sebagai aset partai
13:58untuk skenario kedua, ketiga.
14:03Kalau misalnya ada skenario pertama yang dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi.
14:08Karena jangan lupa, dalam proses pemilu kita,
14:12itu seringkali pilihan terhadap partai dipengaruhi oleh tokoh.
14:15Dan kalau misalnya semakin banyak tokoh yang dimiliki Gerindra,
14:19bukan hanya Pak Prabowo itu kan semakin bagus buat Gerindra.
14:22Makanya seorang Prabowo sepertinya belum melihat Deddy sebagai seorang ancaman.
14:28Meskipun belum tentu rival-rival Deddy di internal partai
14:31merasakan hal yang sama.
14:33Karena tentu kan ada semacam rivalitas diam-diam kan di dalam.
14:38Yang mungkin seorang Deddy bisa membuat semacam political jersey di internal Gerindra.
14:47Tetapi yang pasti bukan hanya di dalam, adis nih.
14:50Kalau kita lihat, fenomena KDM ini sudah memicu semacam tanda kutip serangan balik
14:58dari beberapa pihak yang gerah juga kan.
15:01Siapa tuh yang gerah?
15:05Sebutin aja siapa yang udah gerah nih.
15:08Karena KDM ini sudah terlalu over spotlight.
15:11Over spotlight, ya.
15:13Jadi saya melihat adalah tokoh, saya nggak bisa menyebut namanya.
15:18Tetapi sebenarnya mudah sekali di-tracking di social media.
15:21Jadi kalau kita bikin analisis model drone upgrade gitu ya,
15:27social media analysis, itu kelihatan tuh.
15:31Yang pro siapa, yang kontra siapa.
15:34Kita minta Ismail Fahmi untuk segera merilis ya.
15:37Oke, Pak Ismail gimana?
15:38Ismail diundang.
15:40Dan di situ terlihat memang sebagian pendukung capres lama
15:43itu mulai melancarkan serangan balik.
15:47Mas Hanis maksudnya?
15:49Ya, salah satunya.
15:49Tetapi jangan lupa, jangan lupa Adis, nih.
15:52Figur KDM juga punya kubu yang dari dulu itu anti sama KDM.
16:01Yaitu kubu konservatif, kan.
16:04Jadi ini meskipun kita tahu KDM punya latar belakang HMI
16:07dan dia mendirikan HMI Purwakarta,
16:12tetapi figurnya itu dianggap terlalu pluralis
16:18ketika menjabat sebagai kepala daerah di Purwakarta.
16:22Bahkan waktu itu sempat ada kontroversi dengan Habib Rizik, dengan FPI.
16:27Jadi ini sebenarnya kubu anti KDM
16:30tanpa atau dengan motif politik, mereka sudah anti sama KDM.
16:36Tetapi saat yang sama KDM juga secara tidak langsung punya kubu pronya,
16:41terutama dari kubu pluralis dan kubu minoritas, kan.
16:44Tapi itu juga bisa dibuktikan akhirnya KDM juga bisa menguasai Jawa Barat,
16:47begitu ya dengan akhirnya, walaupun memang ada kubu-kubu konservatif yang tanda kutip.
16:52Betul, kubu konservatif itu kan akhirnya milihnya Pak Saehu ya, mantan presiden PKS.
16:59Tetapi overall kan KDM berhasil mendapatkan dukungan besar,
17:04sebenarnya lebih karena faktor popularitas dia yang terlalu jauh di atas dibanding Pak Saehu.
17:10Jadi kalau misalnya Pak Saehu popularitasnya saat maju sebagai gubernur seimbang dengan KDM,
17:16mungkin bisa lebih kompetitif.
17:17Nah, jadi artinya karena belum diaktifasi kubu-kubu yang anti KDM,
17:24maka kelompok-kelompok ini itu belum mendapatkan semacam panggung.
17:29Tapi kalau misalnya sudah dekat dengan kalender pemilu,
17:32kelompok ini bisa diaktifasi nih untuk menyerang KDM, kan.
17:35Per hari ini belum.
17:36Karena masih terlalu jauh lah ya.
17:38Masih terlalu jauh.
17:39Meskipun lagi-lagi ini kubu yang susah untuk didekati oleh seorang KDM.
17:43Tetapi dengan posisional KDM semacam itu,
17:46dia juga potensial mendapatkan dukungan dari kubu lain,
17:50yaitu kubu pluralis, terutama basis PDI Perjuangan.
17:54Kan beliau kan membranding diri sebagai tokoh pluralis,
17:58tokoh pro lokal,
17:59dan saat yang sama tokoh yang mempromosikan nilai-nilai kebinekaan.
18:10Nah, itu kan otomatis menjadi semacam ideologinya PDI Perjuangan.
18:14Jadi satu sisi dia punya, tanda kutip, musuh bebuyutan lama,
18:18tetapi juga punya pangsa pasar baru yang mungkin berguna juga untuk kepentingan politik elektoral nanti.
18:23Dan saya yakin tim KDM melihat itu, celah itu ya.
18:28Nah, langkah KDM begitu ya, banyak sekali disorot,
18:33yang kemudian saya juga sempat tergelitik adalah pada saat KDM,
18:37saya lupa, turun lah ya, turun membersihkan, apa namanya,
18:41membersihkan gorong-gorong, selokan atau apa gitu.
18:43Sampai, wah, jangan sampai ini nih.
18:46Mulyono cilid kedua.
18:49Ya, sudah ada kan di media sosial.
18:51Apakah ini langkah yang kemudian dilakukan juga,
18:54seorang KDM untuk mengikuti jejak seorang Jokowi.
18:58Jadi, wah, jangan-jangan Jokowi wanna be nih gitu.
19:01Ya, dan serang, apa, branding itu, label itu,
19:08itu kan juga ditembakkan oleh mereka yang merasa bahwa,
19:14apa namanya, seorang KDM ini itu potensial dianggap dosis pencitraannya lebih tinggi
19:21ketimbang kerja nyatanya, kan.
19:23Dan kalau kita lihat siapa tokoh-tokoh yang menembak KDM dengan isu tersebut,
19:29itu adalah mereka-mereka yang tidak memilih Jokowi juga, kan.
19:33Jadi, kelompok kelas menengah yang merasa pencitraan kalau terlalu overdosis,
19:38itu kehilangan substansi.
19:41Yang pilihan capresnya jelas, bukan 0-2 di Pilpres 2024 kemarin,
19:46dan juga bukan 0-3, gitu kan.
19:49Jadi, artinya ini kelompok yang pada dasarnya susah untuk ditarik oleh KDM.
19:53Jadi, KDM melihat pangsa pasar lain yang lebih besar,
19:56yang melihat pentingnya seorang pemimpin turun ke lapangan.
20:01Dan dia mengambil risiko untuk dianggap sebagai versi lain dari Jokowi,
20:07bahkan ada yang menembak KDM sebagai Jokowi-nya orang Sunda,
20:12itu kan sudah mulai muncul, tuh.
20:14Jadi, kalau lihat media sosial menarik, gitu ya.
20:16Karena ada banyak sekali celetukan-celetukan yang kira-kira memframing lawan
20:21dengan istilah yang mereka inginkan, ya.
20:24Tapi pertanyaannya,
20:26itu nggak penting kan framing itu sepanjang
20:29kalau secara elektoral, ternyata dampaknya besar.
20:32Dan terus menjadi pusat perbincangan, lah ya.
20:35Pusat perbincangan.
20:36Dan sebenarnya,
20:38kalau menyebut seorang KDM versi lain dari Jokowi,
20:43Jokowi versi 2.0,
20:47itu nggak seluruhnya benar juga sih.
20:50Ada bedanya, ya kan?
20:51Bedanya apa?
20:53Pak Jokowi kurang artikulatif.
20:55Oke.
20:56KDM sangat artikulatif.
20:59Dan kalau kita lihat jejaknya,
21:02KDM ini,
21:04misalnya waktu dia menjadi anggota DPRD Purwakarta.
21:08Waktu itu Purwakarta penuh dengan demo buruh.
21:11Ketika koleganya dari anggota DPRD Purwakarta
21:16tidak mau menemui demo-demo buruh,
21:18dia temuin.
21:19Rame.
21:20Terjadi perdebatan.
21:21Sangat sengit.
21:24Tetapi setelah demo itu,
21:27dia justru populer.
21:29Karena berani mendebat
21:31dan sekaligus mengajak dialog mereka yang kontra.
21:34Dan setelah itu dia maju sebagai kepala daerah.
21:37Dan sukses.
21:37Sesuatu yang kalau kita bayangkan seorang Pak Jokowi,
21:41agak beda.
21:42Pak Jokowi itu kan lebih banyak senyum.
21:45Kalau ditanya,
21:46ya kok tanya saya?
21:48Itu nggak mungkin pernyataan itu keluar dari KDM.
21:51KDM pasti menjawab.
21:53Karena latar belakangnya juga beda.
21:56Pak Jokowi latar belakang aktivis punya waktu mahasiswa di Mapala.
22:01KDM aktivis murni.
22:02Dia aktivis di EMI,
22:05aktif di organisasi kemumpudaan.
22:07Dan ini menjadi insentif tentu saja bagi KDM
22:10untuk bisa melaju di 2029.
22:12Dan dia pernah jadi anggota DPRD,
22:15pernah jadi anggota DPR.
22:16Jadi bukan hanya eksekutif.
22:18Kalau Pak Jokowi kan eksekutif terus kan jalurnya.
22:21Wali kota, gubernur, presiden.
22:23Sementara KDM ini kan eksekutif iya.
22:27Legislatif iya.
22:28Jadi ada perbedaan.
22:30Meskipun secara substansi saya setuju sama Anjisti.
22:34Pendekatannya secara substansi memang mirip sama Pak Jokowi.
22:36Agak mirip.
22:38Ada benang merahnya.
22:39Ada.
22:40Tapi yang kemudian jadi pertanyaan berikutnya adalah
22:43berapa peluang,
22:44seberapa besar peluang seorang KDM
22:47untuk bisa kemudian
22:49dari sekarang berinvestasi politik di 2029,
22:53ya baca wapres lah gitu.
22:58Yang wapres sekarang gimana?
23:02Jadi gini, Anjisti.
23:04Pertama kita lihat konteksnya dulu.
23:06Konteksnya sudah ada perubahan.
23:09Sejak MK menghapus presidential threshold.
23:13Artinya semua partai.
23:16Bahkan yang tidak lolos parlemen sekalipun,
23:19per hari ini,
23:20itu boleh mencalonkan.
23:22Jadi sepanjang partai itu lolos verifikasi KPU
23:25dan menjadi peserta pemilu 2029,
23:28itu bisa mencapreskan,
23:32mengusung pasangan capres-capres.
23:34Itu dulu.
23:35Kalau nggak ada perubahan lagi ya aturannya.
23:37Kalau tidak, dianulir sama DPR.
23:40Tetapi poin saya adalah
23:41ini aturan normatif pertama
23:43yang membuka peluang buat siapapun.
23:46termasuk buat partai yang punya jagoan sendiri.
23:50It's a good news for KDM.
23:52Buat publik juga.
23:53Publik jadi punya pilihan banyak.
23:56Nah, pertanyaannya adalah
23:57Gerindra apakah ikhlas
24:01kalau misalnya ada kadernya yang maju
24:04melalui partai lain?
24:05Ya pasti tidak ikhlas.
24:06Tetapi lagi-lagi konteks sekarang kan masih jauh.
24:10Dan Gerindra sudah mengunci kan
24:13melalui koalisi permanen.
24:15Ingat nggak waktu habis putusan MK itu disampaikan,
24:19itu langsung ada koalisi permanen
24:21yang coba didesakkan oleh Gerindra
24:25kepada partai pendukung pemerintah
24:26dengan mengusung capres tunggal.
24:29Nah, per hari ini
24:30ya mungkin mereka tidak punya insentif
24:32untuk melawan.
24:33Karena mereka berharap
24:34terus mendapatkan
24:36the spoil of power
24:37dengan bergabung dengan Pak Prabowo.
24:39Tapi siapa yang bisa menjamin
24:40satu tahun jelang 2029?
24:42Dinamika itu semakin kencang?
24:44Ingat Nasdem, PKB,
24:47kurang loyal apa sama Pak Jokowi?
24:49Kurang banyak apa Pak Jokowi
24:50memberikan insentif
24:51dalam bentuk menteri.
24:53Ujungnya mereka punya capres sendiri.
24:55Ujungnya lompat pagar.
24:57Jadi artinya,
24:59artinya
24:59untuk seorang KDM,
25:03ini juga sekaligus uji loyalitas.
25:05Kalau misalnya ada partai
25:07yang coba merayu seorang KDM,
25:09dia tergoda atau tidak?
25:12Mungkin sekarang belum ada rayuan itu.
25:15Tetapi misalnya 2027...
25:16Tapi Anda yakin akan ada?
25:19Pasti goda?
25:19Ini adistik.
25:20Iya lah, pasti lah.
25:21Dalam politik elektoral,
25:23rayuan itu tergantung
25:25elektabilitas dari seorang figur.
25:29Semakin tinggi
25:30elektabilitas seorang figur,
25:33meskipun yang bersangkutan itu
25:35terafiliasi dengan partai lain,
25:37atau misalnya yang bersangkutan
25:39betul-betul calon non-partai,
25:41pasti akan didekati sama partai.
25:44Ingat nggak,
25:44Anies Baswedan?
25:45Dia bukan orang partai.
25:48Didekatin sama Nasdem,
25:50PKB,
25:52Demokrat saat itu ya.
25:54Padahal Demokrat juga punya
25:55ketua umum kan?
25:57Ahai sebelum akhirnya.
25:58Ya, berarti sekarang tinggal ini aja lah.
26:00Nah, sekarang pertanyaannya...
26:01KDM masih tegak lurus atau nggak?
26:03Itu satu.
26:04Yang kedua,
26:04popularitasnya hanya di atas kertas,
26:08hanya di sosmed saja,
26:10ataukah terkonfirmasi,
26:12tervalidasi oleh lembaga survei kredibel
26:14atau tidak.
26:14Kalau misalnya tervalidasi,
26:17ya pasti akan banyak itu
26:19partai yang melamar.
26:20Dan di situ ujian loyalitas seorang KDM
26:23akan dipertaruhkan.
26:24Lulus atau nggak?
26:24Lulus atau tidak.
26:25Nah, tapi yang kemudian jadi pertanyaan juga adalah
26:27KDM ini kan di Jawa Barat lah ya,
26:31dikatakan lokal lah,
26:33lokal, Jawa Barat begitu.
26:34Sementara kita tahu,
26:35ketika mau melenggang ke taraf nasional,
26:38begitu ya,
26:39Jawa sentris.
26:42Itu dia.
26:43Makanya,
26:44makanya meskipun dia populer sekarang,
26:48angka survei nggak bisa bohong.
26:50Angka survei nggak bisa bohong.
26:51Pasti publik,
26:53terutama elit partai,
26:54itu mengecek.
26:54Secara rutin,
26:56pergerakan elektabilitas
26:58toko-toko termasuk KDM.
27:00Dan selama ini,
27:02tidak ada calon presiden
27:03yang bisa menang
27:05di republik ini.
27:06Sejak Pilpres pertama tahun 2004,
27:09yang bisa menang
27:10tanpa mendapatkan dukungan
27:12dari warga Jawa.
27:14Nah, kalau kita lihat
27:15branding seorang
27:16KDM,
27:19itu
27:19nuansa Sundanya
27:22masih kelihatan.
27:22masih kental.
27:24Jadi, pakai bahasa lokal,
27:26bicara dengan bahasa Sunda.
27:28Nah, terus
27:28kudu pie.
27:32Saya bukan konsultanya KDM.
27:35Oke, Pak KDM.
27:36Tapi, poin saya,
27:37poin saya,
27:37poin saya,
27:39poin saya,
27:41poin saya,
27:41Telfonnya di kosong,
27:42delapan.
27:44Saya nggak matiin.
27:46Tapi, poin saya,
27:47kalau misalnya brandingnya
27:49masih terlalu lokal,
27:52ya berat,
27:53buat etnik lain,
27:54untuk bisa mencerna
27:55apa yang sedang
27:56dia lakukan.
27:56mungkin kebijakan
27:59secara umum
28:00yang tidak terlalu
28:02lokal dan bisa
28:03dicerna oleh
28:04pemilih dari
28:06etnik lain,
28:07bisa mereka,
28:08mereka bisa ikutin
28:09atau mereka bisa
28:10setujuin.
28:11Tapi, jangan lupa,
28:12di sini,
28:12dalam pilihan elektoral,
28:15itu tidak semuanya
28:16berbasis kebijakan.
28:18Ada juga yang berbasis
28:19perasaan,
28:20berbasis
28:21politik identitas
28:22primordial.
28:24Dan itu yang menjelaskan
28:25mengapa Ahok kalah
28:26di Pilkada 2017,
28:28meskipun approval ratingnya
28:30sebagai gubernur tinggi.
28:32Karena tadi
28:32ada sentimen primordial
28:34yang merasa,
28:35misalnya,
28:36saya cocok
28:36sama KDM,
28:37tapi dia
28:38sukunya lain
28:39sama saya.
28:40Nah, kalau misalnya
28:41sentimen ini
28:43terlalu menguat,
28:43karena branding
28:44seorang KDM
28:45terlalu lokal,
28:47terlalu
28:47terlalu Jawa Barat,
28:49ya tentu
28:50secara elektoral
28:50menyulitkan
28:51untuk seorang KDM
28:53meluaskan
28:53captive marketnya
28:55di luar dari Jawa Barat.
28:57Nah,
28:57tetapi lagi-lagi
28:58dia kan sepertinya
28:59sekarang mungkin
29:00lebih ke dalam
29:01feeling saya ya.
29:02Jadi,
29:03membangun semacam
29:04pangsa pasar loyal
29:06dari Jawa Barat.
29:07Jawa Barat kan
29:0917%
29:10dari populasi nasional.
29:11Ya oke,
29:1217%
29:13tapi kan
29:13belum cukup.
29:14Belum cukup,
29:15jauh.
29:16Cuma
29:16dari si
29:17feeling saya,
29:19nanti
29:19mungkin dia
29:20agak
29:21meluaskan
29:21paksa pasar
29:22di tahun ke-2
29:23atau ke-3.
29:24Oke.
29:25Jadi,
29:25mulai menjangkau
29:26atau reach out
29:27pemilih yang lebih umum
29:28mungkin tahun berikutnya.
29:29Kalau sekarang mungkin
29:30lebih ke basis.
29:31Basis Jawa Baratnya dulu nih
29:33lagi dipelihara dulu nih.
29:34Makanya kan banyak sekali dia.
29:36Saya sendiri nggak paham ya
29:37ketika seorang KDM
29:38bicara bahasa Sunda.
29:40Tapi sepertinya itu
29:40ada message di situ.
29:41Yaitu dia membangun
29:42koalisi
29:43loyalis dulu.
29:45Terutama dari
29:46basis identitas
29:48yang sama
29:48dengan seorang KDM.
29:50Entah itu berbasis etnik
29:51atau wilayah
29:52itu Jawa Barat.
29:53Jadi, ketika udah mau
29:54injury time
29:55begitu ya,
29:56baru dia
29:56melebarkan.
29:58Kayak
29:58misalnya Donald Trump
29:59kan dia
30:00basis awalnya kan
30:01redneck ya,
30:02kelas menengah bawah.
30:03Baru kemudian dia ngomong
30:04hal-hal yang lebih umum kan.
30:06Jadi, seorang
30:06atau seorang
30:08Anish Baswedan kan
30:09dia
30:09pendekatannya kan
30:11Islam dulu kan.
30:12Baru kemudian
30:12dia coba
30:13menarik
30:14ke
30:15appeal-nya
30:17ke pemilih
30:17yang sifatnya
30:18lebih umum.
30:19Feeling saya begitu.
30:20Tetapi lagi-lagi ya kita
30:21lihat, tapi kalau misalnya
30:22dia masih terjebak
30:23terlalu lokal,
30:25ya itu akan
30:25membatasi seorang
30:26KDM untuk mendapatkan
30:28dukungan di luar
30:28dari Jawa Barat.
30:29Oke.
30:30Kalau tadi sudah membahas,
30:31karena sudah membahas
30:32soal presidensial threshold
30:33begitu ya,
30:34dan semua partai
30:35politik punya
30:36kesempatan yang sama
30:38untuk mencalonkan
30:39presiden
30:40dan calon wakil presiden,
30:41kalau kita berandai-andai,
30:43jika hari ini adalah
30:43hari terakhir,
30:44pendastaran Capres,
30:45Cawapres
30:452029,
30:46apakah ada
30:48peluang KDM
30:49diusung partai lain
30:51untuk maju
30:51pil pres?
30:53Karena ada
30:53presidensial threshold.
30:55Pertama,
30:56dari sisi
30:57normatif,
30:58peluang itu
30:59ada.
31:00Dan besar?
31:01Tergantung
31:02satu surveinya
31:03KDM.
31:04Saya belum punya
31:05angka surveinya.
31:07Memang
31:07banyak sekali
31:08yang membicarakan
31:09seorang KDM
31:10di WA-WA grup,
31:12di kalangan
31:13ibu-ibu,
31:14di kalangan
31:14bapak-bapak.
31:16Tetapi
31:16surveinya
31:17belum ada
31:18yang dirilis ke publik,
31:19yang
31:20readable,
31:21yang berkaitan
31:21berapa banyak
31:22yang bersedia
31:24memilih seorang KDM.
31:25Jadi,
31:26itu dulu.
31:27Tetapi,
31:27pintu normatifnya
31:28sudah dijepul
31:29sama MK.
31:31Dan yang kedua adalah
31:32tergantung
31:33KDM-nya.
31:34KDM-nya
31:35berani tidak
31:36melawan Pak Prabowo?
31:38Jadi,
31:39itu pertanyaan penting
31:40karena beliau
31:40adalah kader Gerindra
31:42yang sudah resmi.
31:42Menurut Anda berani tidak?
31:44Saya kira,
31:46saya tidak tahu
31:47kalau sekarang jelas tidak berani.
31:48Tapi ujian berikutnya
31:50kan nanti,
31:51bukan sekarang.
31:52Dan itu yang bisa
31:53menjawabnya
31:53seorang Dede Mulyadi.
31:56Berani atau tidak?
31:57Tidak berkontestasi
31:58melawan bosnya sendiri.
32:00Sekarang sih jelas
32:00tidak berani.
32:02Tetapi ke depan,
32:03ketika betul-betul
32:04datang beberapa partai
32:05melamar seorang KDM,
32:07di situ itu ujiannya.
32:09Saya tidak tahu
32:10apakah dia
32:11kalau misalnya
32:13itu terjadi
32:14berani mengatakan
32:15tidak.
32:17Jangan lupa ya,
32:19kasus kayak begini ini
32:20kemarin 2024
32:21kita alami.
32:23Ada partai
32:24yang melamar
32:24Mas Ganjar.
32:26Mas Ganjarnya,
32:27tunggu dulu
32:28saya harus lapor
32:28sama
32:29Ibu Ketua Umum.
32:31Dan akhirnya
32:32tarik-menarik ini
32:33membuat hubungan
32:35antara
32:35Mas Ganjar
32:36dengan Pak Jokowi
32:37berpisah jalan.
32:38Jadi ini memang kompleks.
32:40Jadi tidak bisa
32:41dihitung
32:41per hari ini.
32:42Tapi harus
32:43ujiannya nanti
32:44menjelang
32:45pendaftaran
32:45Capres-Capres
32:472029.
32:48Dalam hitungan jam?
32:50Kalau kemarin
32:51bukan hanya jam ya.
32:52Kemarin kan
32:52betul-betul
32:54agak alot.
32:55alot dan
32:56dan
32:57ini
32:58dan fenomena itu
32:59akan terjadi lagi.
33:01Untuk konteks
33:02Indonesia
33:02fenomena semacam itu
33:04kemungkinan terjadinya
33:05besar.
33:05Pertama karena
33:06proses
33:08elektoral di Indonesia
33:09itu sangat tergantung
33:10oleh hal-hal
33:12yang bersifat
33:12non-institusional.
33:15Bayangkan
33:15dan sangat
33:16dipengaruhi oleh
33:17elektabilitas.
33:19Coba bayangkan
33:19Andi Siti
33:20seorang
33:21Ibu Ketua Umum
33:22PD Perjuangan
33:23yang wajar
33:25berharap
33:25anaknya menjadi
33:26Capres
33:27itu rela
33:28memberikan dukungan
33:29beberapa kali
33:30bukan kepada
33:32Mbak Puan.
33:33Yang pertama
33:33kepada Pak Jokowi
33:342014-2019
33:36yang berikutnya
33:37kepada Ganjar.
33:38Apa coba
33:39yang menjelaskan
33:40seorang
33:40Ibu Mega
33:41tanda kutip
33:43menomorskiankan
33:45kepentingan
33:45putrinya
33:46dan putrinya
33:47sendiri ketua
33:47DPR
33:48sudah sekian lama
33:49berkarir
33:51sebagai politisi
33:52ujungnya
33:53mendukung Pak Jokowi
33:54ujungnya
33:55mendukung Mas Ganjar
33:56kalau bukan
33:56karena faktor
33:57elektabilitas.
33:58Artinya
33:59bukan karena faktor
33:59institusi
34:00kepartian
34:01balik lagi
34:02ketokohannya
34:03ketokohan
34:03elektabilitasnya
34:04seperti apa
34:05apa yang menjelaskan
34:06seorang Anis
34:07yang bukan
34:11orang partai
34:11tiba-tiba
34:12mengandungi
34:13dukungan partai
34:14yang sudah
34:15masuk ke DPP
34:16di gedung waktu itu.
34:20Kalau kita sudah
34:21membincangkan
34:22Anis
34:22Pak Prabu
34:23kemudian ada
34:24KDM
34:24kalau disini
34:25ada top 5
34:26nama top 5
34:27untuk
34:272029
34:28KDM ini
34:30diurutan keberapa
34:31kira-kira
34:31kalau sekarang
34:32saya belum
34:33punya angkanya
34:34tapi feeling saya
34:35sudah masuk
34:36top 5
34:37sudah masuk
34:38top 5
34:38jadi top 5
34:40kalau kita
34:41lihat
34:41survei
34:43survei
34:45yang terakhir
34:45kami riliskan
34:46Januari
34:472025
34:49waktu 100 hari
34:50yang pertama
34:51kan Pak Prabu
34:52yang kedua
34:54kan Mas Anis
34:55yang ketiga
34:57saat itu
34:57adalah
34:58Ganjar Pranowo
35:00yang ketiga
35:02Mas Ganjar
35:03yang keempat
35:04Ahaye
35:06yang kelima
35:07Erick
35:08waktu itu
35:09Januari
35:10feeling saya
35:13dan feeling saya
35:13biasanya
35:14nggak pernah salah
35:15KDM sudah
35:18mendobrak
35:19masuk 5 besar
35:20jangan-jangan
35:213 besar
35:22saya nggak punya angkanya
35:24tetapi
35:25setidaknya
35:255 besar masuk
35:26artinya
35:28komposisi
35:305 besar
35:31bulan Januari
35:32sudah berubah
35:33kemungkinan besar
35:34dan naik
35:36signifikan ya
35:36saya nggak tahu
35:38signifikan kan
35:39harus disurvey
35:40kecuali
35:41kompas
35:42meminta saya
35:42melakukan
35:43survei
35:43nantilah kita
35:44kita lihat ya
35:45atau kompas kan
35:46punya lead bank
35:47bisa di cek
35:47nanti kita cek
35:49apakah
35:51feeling
35:52seorang
35:52beranudin
35:53mau tadi
35:53benar atau tidak
35:54kita tunggu
35:55rilis survei
35:55lead bank kompas
35:56biasanya benar
35:57tapi kan ada loh
36:01di kolom chat itu
36:03yang mengatakan
36:03wah KDM 2 periode
36:04KDM 2 periode
36:05jadi
36:06gubernur
36:07berarti nggak usah maju
36:08jadi capres
36:09atau capres
36:10pengennya di jabar aja
36:12nggak usah
36:13level nasional
36:14atau
36:17pindah
36:19nyalon gubernur
36:20seperti Ridwan Gamil
36:21ke tempat
36:21ke gubernur
36:22ke Jakarta
36:25tapi ternyata kan
36:26seorang gubernur
36:28di luar Jakarta
36:29bisa populer
36:30tanpa harus ke Jakarta
36:31ini pelajaran
36:32dari
36:33seorang KDM
36:34dulu kan
36:35salah satu yang
36:37menjelaskan
36:38mengapa seorang
36:39Ridwan Gamil
36:41pindah
36:41pencalonan gubernurnya
36:44karena kalau di Jakarta
36:45seolah-olah
36:46membuat semacam
36:48karpet merah
36:49buat seseorang
36:50yang pengen maju
36:51di capres
36:52capres
36:52karena liputan
36:53medianya yang besar
36:54ternyata bisa
36:55menjadi seorang
36:57media darling
36:58tambah harus
36:59ke Jakarta
37:00ke Jakarta
37:01ke Jakarta
37:03aku
37:04kembali
37:05kembali
37:06oke
37:07terakhir deh
37:08Mas Burhan
37:09tiga kata
37:10untuk seorang
37:12KDM
37:12sekarang
37:14dan nanti
37:152029
37:16ya
37:20tiga kata
37:21yang pertama
37:22yang pertama
37:22nggak bisa tiga katanya
37:28social media minded
37:30itu
37:30social media minded
37:32itu udah tiga kata
37:33itu
37:33jadi dia memang
37:36seorang politisi yang
37:37relatif visioner
37:39dia aktif
37:41di social media
37:42ketika banyak politisi
37:44masih alergi
37:45dengan
37:45fenomena baru
37:47yang namanya
37:47medsos saat itu
37:48tetapi
37:49siapa yang menyangka
37:50sekarang
37:51social media
37:52menjadi makanan
37:52sehari-hari
37:53warga
37:55dari bangun tidur
37:57sampai
37:57mau tidur
37:58yang dipegang
37:59gadget
37:59itu kan
38:00menunjukkan
38:01seorang yang
38:01visioner
38:02tapi lagi-lagi
38:04pertanyaan berikutnya
38:05adalah
38:05apakah fenomena ini
38:06langgeng
38:07ataukah hanya
38:08sekedar hype
38:09sesaat
38:09kita tunggu
38:10dari survei
38:11Lidbang Kompas
38:12keren banget
38:14untuk menutupnya
38:15kita akan lihat
38:16apakah fenomena ini
38:17akan langgeng
38:18ataukah hype
38:19sesaat
38:19nah oke
38:20terima kasih
38:21Mas Burhan
38:21sudah bergabung
38:22di On Point
38:23with Adi Silarasati
38:24tentu saja
38:25kita akan lihat
38:26apakah ini
38:27hanya hype
38:28sementara
38:29ataukah kemudian
38:30fenomena ini
38:30bisa langgeng
38:31sampai di
38:322029
38:33kita jumpa lagi
38:34nanti di episode
38:35selanjutnya
38:35di On Point
38:36with Adi Silarasati
38:37terima kasih
38:37sampai jumpa
38:39thank you
38:39oke
38:39terima kasih
38:40sekali lagi
38:41tapi ya itu
38:42terima kasih
Komentar