00:00Mari kita ikuti proses hukumnya, tentunya nanti kalau alat buktinya cukup akan dipanggil oleh...
00:30...memang kita dari awal sudah mempelajari, mayoritas saksi dan mayoritas alamat dari objek-objek ini berada di Jakarta.
00:46Jadi tempat di mana mayoritas saksi itulah yang sebaiknya menangani agar pemeriksaan bisa dilakukan secara cepat, sederhana.
00:54Berarti ini terlapornya ada lima orang ya tadi?
00:56Dalam melidik, tapi dari 24 objek itu memang ada lima yang kita duga paling tidak ikut terlibat dalam tindak pidana yang kami laporkan.
01:08Pak, sebelumnya kan ada juga laporan yang dilakukan keras.
01:12Apakah itu koordinasi dengan kuasa hukum Pak Jokowi?
01:16Oh tidak, kita tidak ada hubungannya dengan yang dilakukan oleh pihak-pihak di luar.
01:22Kami hanya menggunakan upaya hukum hari ini di Polda Metro.
01:25Bapak boleh izin memperlihatkan ELP-nya yang diterima?
01:29DELP-nya Pak Jokowi?
01:30DELP-nya Pak Jokowi?
01:32Tadi dibawa oleh Bapak.
01:34Tapi mungkin nanti penyidik bisa menjelaskan.
01:37Ya?
01:38Nomor ELP-nya ada nggak?
01:39Mungkin ke penyidik aja kali?
01:41Mungkin ke penyidik aja.
01:42Tadi ELP-nya ke bawah Bapak.
01:43KSPKT.
01:45Pak, boleh sekali diulang lagi Pak soal yang inisial tadi?
01:48Kenapa boleh dipertegas lagi Pak?
01:50Ada RS, ES, RS lagi.
01:57Ada T, ada K.
02:00Ada mantan menteri berarti Pak?
02:01Ada mantan menteri.
02:03Mari kita ikuti proses hukumnya.
02:04Itu lima ya Pak ya?
02:05Tentunya kan nanti kalau alat buktinya cukup akan dipanggil oleh Polda.
02:09Akan ditentukan statusnya dari situ mungkin.
02:11Jadi biarlah kita bersabar.
02:12Horomati proses hukum berjalan objektif, berimbang, dan kita sama-sama mengawal ini secara transparan.
02:18Cukup ya?
02:19Cukup ya.
02:19Saya Audrey Chandra, saksikan program-program Kompas TV melalui siaran digital, pay TV, dan media streaming lainnya.
02:42Kompas TV, independent, terpercaya.
Komentar