00:00Sudah langsung nyambar.
00:03Sebetulnya saya masih ingin menyambung dari Bang Faisal, tapi saya pindah haluan dulu Pak.
00:08Baru kemudian nanti mungkin kita bisa kembali.
00:11Bukan ekonomi, tapi isu yang juga luar biasa penting Pak.
00:16Aktivis kontras Pak, bernama Andri Yunus.
00:20Disiram air keras, mengalami luka serius.
00:24Luka bakar hampir 20%.
00:26Kornea matanya sebelah kanan juga rusak.
00:31Kapolri sudah mengatakan mendapatkan instruksi langsung dari Pak Presiden untuk mengusut kasus ini.
00:36Dan saya juga ingin mengutip Menteri Koordinator Hukum, Menteri Bapak Pak Yusril, Komnas HAM, Komisi 3 DPR.
00:43Semuanya menilai ini bukan sekedar tindak kriminal Pak Presiden.
00:46Tetapi ini serangan terhadap demokrasi, serangan terhadap pembela HAM.
00:50Saya ingin tahu posisi Bapak, apakah setuju dengan penilaian itu Pak?
00:54Ya pastilah.
00:56Ini terorisme.
00:58Iya kan?
00:59Tindakan biadab, harus kita kejar, harus kita usut.
01:03Harus kita usut.
01:06Sampai ke bukan hanya pelaku lapangan, tapi apakah...
01:10Siapa yang nyuruh, siapa yang nyuruh, siapa yang bayar.
01:14Termasuk apabila ternyata yang melakukan itu aparat negara, Pak?
01:17Ya jelas dong.
01:19Yang berseragam.
01:21Tidak akan dilindungi, tidak akan ada impunitas.
01:23Tidak akan.
01:25Bapak menjamin itu Pak?
01:26Saya menjamin.
01:28Tapi sebaliknya, kalau ini provokator, yang bukan dari pemerintah, bukan dari aparat, jelas kita harus usut kok.
01:36Pola yang terjadi selama ini, kasus-kasus teror itu berulang dan tidak pernah terungkap sampai yang memberikan perintah.
01:46Sebatas di pelaku lapangan.
01:48Spesifik Pak, saya mau menyebutkan.
01:50Ini yang terjadi selama setahun terakhir, Pak.
01:54Ada yang tadi Bapak sebutkan, wartawan Tempo.
01:58Francisca Christi Rosana.
02:00Ada Tio Ardianto.
02:01Ada Ramon Doni Adam.
02:03Ada Firindian Aurelio.
02:04Ada Sheryl Anavita.
02:06Ada Iqbal Danami.
02:07Damani.
02:07Ada Zainal Arifid Mohtar.
02:09Latar beragang mereka, Pak Presiden, semuanya beragam.
02:12Tetapi kesamaannya adalah semuanya kritis menyampaikan pandangan di muka publik.
02:18Apakah Bapak bisa memahami ada kekhawatiran yang muncul bahwa ruang aman untuk bersuara menjadi semakin menyempit, Pak?
02:27Anda merasakan?
02:29Apakah dibandingkan dengan banyak negara, apakah kita batasi enggak?
02:34Ada yang merasakan?
02:35Kita coba lihat, kita batasi enggak?
02:37TikTok, fake news, hoax.
02:41Kebohongan yang disiarkan tiap hari.
02:44Coba Anda lihat.
02:46Coba dibandingkan dengan negara lain.
02:48Karena yang terjadi adalah dampaknya yang kita lihat, Pak.
02:50Mereka yang bersuara kritis.
02:52Iya, tapi kadang-kadang ada orang.
02:54Mbak Nana, kita ini bukan anak kecil.
02:56Kita sudah hidup lama.
02:58Kadang-kadang kan ada peristiwa yang justru dibuat seolah-olah.
03:02Anda ngerti ya?
03:03Itu namanya provokasi.
03:05Itu ada di buku, Mbak Nana.
03:06Ada di buku Intelligence.
03:09Ada itu.
03:09Itu namanya false flag operation.
03:13Iya kan?
03:14Melakukan aksi teror seolah yang lakukan orang Palestine.
03:18Tapi yang lakukan bukan orang Palestine.
03:20Yang lakukan Mossad.
03:21Itu terjadi.
03:23Anda paham ya?
03:24Iya.
03:25Jadi sama juga ini.
03:26Ini mengarah bahwa rezim kita otoriter.
03:31Sebetulnya spekulasi-spekulasi itu muncul karena ketidakadaan jawaban, Pak Presiden.
03:37Jadi kerap kali kasus-kasus yang terjadi ini berhenti begitu saja.
03:42Tidak terselesaikan.
03:43Sehingga kemudian muncullah begitu persepsi publik bahwa, wah kalau ini tidak selesai berarti ini ada unsur negara yang bermain dan
03:51sebagainya.
03:52Karena tidak ada jawaban, maka kemudian.
03:54Saya ingin menjamin, saya ingin membangun Indonesia yang beradab, ya.
04:01Itu cita-cita saya.
04:03Saya ingin membangun pemerintah yang bersih.
04:07Saya ingin punya polisi yang bersih.
04:09Jaksa yang bersih.
04:11Intelijensi yang bersih.
04:13Anda tahu, saya mau tanya sekali lagi ya.
04:16Saya ini korban juga.
04:18Tapi saya itu berpikir yang besar.
04:21Konsumen rakyat.
04:23Pangan, energi, beneran nggak?
04:25Dengan perang, harga pangan bisa naik.
04:29Tapi saya mau tanya, ini bulan Ramadan.
04:32Harga pangan terkendali atau tidak?
04:35You know, I think we are doing a good job.
04:40Jadi, percayalah, saya tidak akan mengizinkan hal-hal seperti itu terjadi.
04:44Itu yang ingin kami dengar, Pak?
04:45Iya.
04:46Percayalah, saya dipilih oleh rakyat.
04:49Untuk membela rakyat.
04:51Tapi kita waspada.
04:53Saya minta diusur, bener.
04:56Justru sampai aktornya.
04:58Iya, sampai aktornya.
04:59Saya rasa pernyataan Pak Presiden sudah bol soal yang itu.
05:02Dan berarti, Bapak tadi bicara secara tegas,
05:06tidak boleh ada warga yang diintimidasi, yang diteror,
05:09karena mengkritik pemerintah.
05:11Tidak boleh.
05:12Jaminan langsung dari Presiden Republik Indonesia.
05:15Kalau bonang ada, itu saya lakukan.
05:19Bapak, apakah memberikan tengkat waktu ke Kapolri, Pak,
05:22untuk pengusutan kasus ini?
05:25Ya, saya ini orang realistis, dan saya seorang yang adil.
05:28Dari segi kapasitas, kita biarkanlah mereka bekerja.
05:35Tapi tidak hanya Polri, banyak lembaga lain juga harus bekerja.
05:41Lembaga lain, penegak hukum juga yang keluar kepolisian.
05:44Iya, penegak hukum.
05:45Apakah Bapak terbuka dengan ide membentuk tim independen untuk membackup ini, Pak?
05:51Kita bisa pertimbangkan.
05:54Kita bisa pertimbangkan.
05:56Saya independen ya.
05:58Independen.
05:58Jangan semua LSM-LSM yang sudah a priori benci sama pemerintah,
06:04yang dapat uang dari luar negeri, ya kan?
06:08Ya kan?
06:10Kalau Anda mau bicara apadanya, saya juga bicara apadanya.
06:16Tapi yang jelas malam ini, kami sudah mendengarkan langsung statement dari Presiden.
06:21Presiden sangat tegas.
06:23Saya ingin menegakkan hukum.
06:26Saya ingin menegakkan hukum.
06:28Bagaimana kita tegakkan hukum kalau kita biarkan seperti ini?
06:31Kalau itu dari aparat.
06:33Dan saya ingin kasih tahu bahwa memang aparat kita ya banyak kekurangannya.
06:37Kita menemukan deep state.
06:41Kita menemukan ada dirijen-dirijen yang berani melawan menteri.
06:46Akhirnya kita pecat kan banyak sekali dirijen-dirijen.
06:49Ada dirijen-dirijen yang merasa untouchable.
06:53Ada lembaga-lebaga yang merasa tidak boleh di audit.
06:58Ini pekerjaan tidak ringan.
07:00Tapi kan saya tidak mau sedikit-sedikit mengeluh.
07:04Atau sedikit-sedikit mencari simpati rakyat.
07:07Ya ini pekerjaan saya, saya dilantik.
07:09Untuk itu saya bersihkan.
07:11BUMN saya sering bersihkan.
07:17BUMN selama ini salah satu kebobolan kita paling besar.
07:24Jadi dari BANANI, memang ini masalah Indonesia.
07:28Di mana-mana.
07:32Jadi tapi percayalah bahwa tidak ada niat dari pemerintah.
07:36Apalagi yang saya pimpin untuk lakukan seperti itu.
07:39Come on.
07:40Apa sih?
07:41Beda nggak?
07:42Rakyat kita nggak bodoh.
07:45Saya mau ingatkan ya, sampai hari ini.
07:48Rakyat yang di bawah itu dukung saya.
07:51Persis yang disampaikan tadi Pak Dedek.
07:55Dede, kalau memang rakyat tidak suka sama saya, bisa turun ke jalan rame-rame.
08:02Tapi mereka tahu, kalau rusuh, semua negara yang rugi.
08:08Mau ganti saya tunggu dong, 2029.
08:13Jadi negara yang berabat.
08:15Sabar ya?
08:16Iya, sabar.
08:17Tapi yang saya lihat ya, Mbak Nana harus objektif juga.
08:23Sebagai seorang tokoh, bahwa
08:32destabilisasi, disinformasi, itu bagian dari bernegara.
08:38Jadi ada negara-negara tertentu yang punya keahlian di situ.
08:42Resim change.
08:44Color revolution.
08:46Come on.
08:46Maksudnya Anda nggak pernah baca, nggak pernah lihat, ya kan?
08:49Apakah Bapak membaca kritikan-kritikan yang dilontarkan,
08:53baik oleh pengamat yang Bapak sebut tidak patriotik,
08:55seperti tadi pertanyaan Mbak Eno,
08:57atau dari orang-orang yang memang selama ini kritis terhadap pemerintah,
09:02itu semuanya bermuara pada keinginan untuk resim change, Pak Presiden?
09:07Tidak semuanya.
09:08Saya tidak pernah mengatakan semuanya.
09:10Tapi ada.
09:12Oh jelas ada.
09:14Jadi begini.
09:15Bagaimana Bapak membedakan itu, Pak?
09:16Mana yang menurut Bapak memang ini sudah keluar jalurnya,
09:20sudah, saya ingat istilah Bapak,
09:22makar waktu dulu bulan Agustus ada demo,
09:25dan mana yang memang, ya ini sesuatu yang wajar.
09:28Jelas waktu Agustus, ya jelas makar.
09:30Dia mau bakar gedung DPR.
09:34Kantor Gubernur.
09:35Kantor Gubernur.
09:38Institusi pemerintahan mau dibakar,
09:39dia semakar.
09:41Bikin kerusuhan.
09:43Bawa bom Molotov.
09:45Iya kan?
09:47Tidak ada LSM yang ribut soal bom Molotov.
09:51Banyak yang menyampaikan.
09:53Banyak yang protes.
09:54Banyak yang protes.
09:55Ya, come on.
09:56Sudahlah.
09:56Banyak yang protes.
09:57Jujur, buka rekam jejaknya.
09:58Rekam digitalnya.
09:59Untuk dalam satunya kita cukupkan dulu ya.
10:02Nggak, nggak, nggak, biar aja.
10:03Biar aja, ayo silahkan.
10:05Kata Bapak Presiden biar hidup.
10:07Oh iya, nggak apa-apa.
10:08Ini kesempatan bagi saya jawab.
10:10Boleh nggak?
10:10Betul Pak.
10:11Oh iya.
10:11Terima kasih kesempatan.
10:12Ada yang ribut nggak soal bom Molotov?
10:13Banyak Pak.
10:14Aduh, come on.
10:15You nggak objektif.
10:16Banyak yang ribut.
10:17Nggak ada.
10:18Ada yang ribut nggak gedung DPR mau dibakar?
10:20Banyak Pak.
10:21Pemerintahan media juga banyak soal itu.
10:22Nggak ada itu.
10:23Pemerintahan media banyak soal itu.
10:24Banyak yang mengecapkan.
10:25Ya, saya hormati itu.
10:26Silahkan.
10:27Tapi begitu bakar-bakar itu kriminal.
10:34Iya.
10:34Tapi kenyataannya Pak, rapusan yang ditangkap kemarin itu kebanyakan justru mahasiswa.
10:42Ada satu penelitian yang menyebut terbesar sejak zaman reformasi penangkapan yang terjadi pada mahasiswa dan aktivis Pak.
10:51Tetapi provokatornya atau siapapun yang bertanggung jawab, aktor yang menyuruh dan sebagainya itu tidak pernah terungkap alih-alih dibawa ke
10:59pengadilan Pak Presiden.
11:01Ya itu tantangan kita.
11:02Kita harus cari.
11:04Saya baru menjabat berapa tahun?
11:06Satu setengah tahun.
11:07Satu setengah.
11:07Masih ada waktu untuk saya membuktikan?
11:10Kami tunggu pembuktian itu Pak Presiden.
11:13Kami tunggu pembuktian itu.
11:15Jumlah koruptor yang saya tangkap berapa?
11:18Come on.
11:20Percaya, saya sumpah untuk membela rakyat saya.
11:24Saya pertaruhkan jiwa saya berkali-kali.
11:27Saya tidak rela.
11:28Saya tinggalkan negara ini nanti pada saat saya dipanggil Tuhan.
11:32Saya tidak rela, ini jatuh ke tangan maling-maling bandit-bandit.
11:37Saya tidak rela.
11:42Mbak Dana, cukup dulu.
11:44Sebetulnya masih ingin panjang, cuma masih banyak.
11:45Nanti orang dua ya, nanti orang dua ya.
11:47Karena masih ada Bang Bosman Mardigu yang belum kebagian.
11:51Saya mau menjawab itu dengan sangat gamblang.
11:53Oh, sangat gambar. Saya senang.
11:55Apa saja.
11:56Terima kasih.
Komentar