Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 3 menit yang lalu
Hentikan Saldo Rekening Fiktif hingga Skema Operasional Boros, Kepala BGN Sudaryono Selamatkan Rp44 Triliun APBN

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengklaim berhasil melakukan efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga mencapai Rp44 triliun dalam 100 hari kerja pertamanya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara bertajuk TRANSFORMASI MBG 2.0 yang digelar pada Rabu, 29 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia secara terbuka menyentil kebijakan kepemimpinan BGN terdahulu yang dinilainya telah memboroskan uang negara melalui skema pembayaran operasional dapur yang tidak proporsional.

Sudaryono mengungkapkan bahwa aturan lama memberlakukan biaya insentif flat tanpa memperhitungkan jumlah porsi serta membongkar adanya pengisian saldo hingga ratusan miliar rupiah ke rekening dapur fiktif. Guna menghentikan kebocoran tersebut, BGN menerbitkan aturan baru yang membatasi biaya operasional maksimal Rp3.000 per porsi sekaligus mengembalikan sisa alokasi anggaran ke kas negara. Langkah penyisiran dan audit ketat ini dipastikan akan terus berlanjut demi memastikan setiap rupiah uang rakyat dimanfaatkan secara akurat untuk gizi anak bangsa.

#SudaryonoSelamatkan44TriliunAPBN #BGNKembalikanSisaAnggaranKeKasNegara

Creative/Video Editor: Aqilah/Michael
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Saya akan jelaskan sampai dengan 100 hari ini dari mulai kami dilantik itu kami telah mengembalikan atau telah membuat efisiensi
00:10anggaran pertama setelah kita hitung lagi dari 268 triliun yang dialokasikan kepada BGN setelah kami hitung kemudian kami hitung kami
00:24rasa kami cukup dengan 229 triliun.
00:28Sehingga ada 38 triliun yang kemudian anggaranya kami kembalikan kekas negara itu nomor satu.
00:36Jadi dari anggaran gelondongan itu kemudian ada yang 38 yang kita dari awal udah begitu kami dilantik kami kemudian kami
00:44kembalikan.
00:44Yang berikutnya adalah dahulu itu dapur nih kita kembalikan 38 kemudian dahulu nah dahulu dapur itu berapapun dia ngasih makan
00:59berapapun ompreng dia sediakan itu dibayar 6 juta.
01:03Nah sementara bapak ibu semua saya yakin paham satu porsi ompreng itu 15 ribu betul gak?
01:1210 ribunya bahan baku, 3 ribunya operasional dan 2 ribunya adalah insentif.
01:18Yang jadi kenyataan itu ternyata kalau 2 ribu dikali 3 ribu ompreng barulah 6 juta.
01:24Itulah kenapa 6 juta karena idealnya satu dapur 3 ribu porsi, ya kan?
01:30Ini gak ngelayani 500, ngelayani 700, ngelayani 1000, 1200 dibayar 6 juta.
01:38Artinya insentifnya bukan 2 ribu lagi kalau 1 ribu ompreng, 6 ribu pemborosan anggaran negara.
01:44Maka kami telah mengeluarkan di tanggal 5 Oktober yang lalu kami kembalikan dari 6 juta flat berapapun omprengnya 6 juta,
01:53kami kembalikan ke 2 ribu dan berapa yang dihemat dari situ adalah sekitar 2,5 sampai dengan 3 triliun
02:01sampai dengan akhir tahun kami selamatkan, kami hemat anggaran negara itu.
02:08Nah yang kedua adalah efisiensi dana operasional dapur.
02:14Saya jelaskan lagi, 10 ribu bahan baku, 2 ribu adalah insentif, udah kami kembalikan dari 6 juta jadi 2 ribu,
02:22udah fine.
02:22Ternyata kami cek lagi, yang 3 ribu itu ternyata pimpinan lama bikin aturannya 3 ribu at cost.
02:32Artinya 3 ribu plus sewa ini, plus ini, plus label, plus macam-macam dia claim semua.
02:41Itu ternyata enggak 3 ribu, rata-rata di 4.500 sampai 5 ribu ternyata, pemborosan lagi.
02:50Maka hari ini, hari ini tadi pagi saya udah taken aturan baru untuk dana operasional itu adalah up to maksimal
03:013 ribu.
03:02Jadi tidak boleh lebih dari 3 ribu.
03:04Maka selisihnya, dikalikan dengan sisa hari sampai dengan akhir tahun, dikalikan jumlah yang kita kasih makan,
03:12maka penghematannya sekitar 3 triliun lagi kita bisa hemat lagi.
03:18Saya pikir-pikir ya, ini kayak mungkin dulu dipikir uang nenek dia kali ya.
03:22Enggak ngerti juga ini.
03:25Sehingga kalau diterus-teruskan Bapak-Ibu semua, ini APBN habis untuk operasional bukan untuk nasi, bukan untuk menunya.
03:32Ini unacceptable, harus dihentikan.
03:35Kemudian tadi disampaikan saldo fee efektif tadi, dia dapurnya belum beroperasi tapi sudah ada rekeningnya sama pimpinan lama diisi.
03:44Totalnya adalah sekitar 414 atau kira-kira hampir 500 miliar atau setengah triliun.
03:50Jadi total yang kita efisiensi dari uang rakyat adalah dalam waktu 100 hari ini kami telah mengefisi uang rakyat totalnya
03:58adalah 44 triliun.
04:03Apakah kami hentikan? Kami terus, kami sisir.
04:07Terakhir kami temukan kemarin beberapa temuan BPK, ditambah temuan BPK, kemudian rekomendasi BPK-AP, termasuk temuan-temuan kami juga.
04:16Kami juga telah mengembalikan tambahan 160 miliar anggaran APBN yang kemudian menjadi temuan-temuan itu kami kembalikan kekas negara.
04:26Jadi setiap rupiah ini adalah uang rakyat yang harus bisa dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.
04:33Nah ini beberapa berita saja, yaitu yang paling kanan ya, kembalikan 160 miliar kekas negara, tindak lanjuti temuan BPK dan
04:44BPKP dan lain-lain itu.
04:45Ini terus kita sisir lagi, karena ini bukan uang nenek saya, ini adalah uang rakyat yang harus dengan betul-betul
04:53bisa dipertanggungjawabkan.
04:54Terima kasih telah menonton!

Dianjurkan