Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Indonesia mulai mengurangi pasokan gas alam ke Singapura untuk mengalihkan lebih banyak pasokan bagi kebutuhan listrik dalam negeri

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong meminta semua pihak menghormati komitmen dalam kontrak komersial yang berlaku.



#gasalam #negaratetangga #singapura #gas

Baca Juga Wanti-Wanti Hotman Paris ke RI Soal Pangkas Gas ke Singapura: Jangan Sampai Digugat! di https://www.kompas.tv/nasional/698092/wanti-wanti-hotman-paris-ke-ri-soal-pangkas-gas-ke-singapura-jangan-sampai-digugat



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/698094/indonesia-pangkas-ekspor-gas-ini-respons-pm-singapura-parasot
Transkrip
00:00Kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai Presiden,
00:03pasti apa yang disampaikan oleh Presiden,
00:06semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks implementasi program
00:10untuk menuju pada survival.
00:12Jadi kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita,
00:16hati-hati, saya juga mungkin memikirkan untuk gas yang tidak berpanjang
00:20untuk ekspor ke negara tetangga,
00:23karena kan harus survival kan, harus memenuhi dulu kebutuhan dalam negeri.
00:27Terkait dengan ketahanan energi kita,
00:30saya akan melakukan evaluasi kontrak dengan negara-negara lain
00:36yang tidak kooperatif,
00:40yang tidak saling menghargai antara hubungan sama negara.
00:45Saya akan melakukan evaluasi,
00:47dan saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan,
00:51untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia.
00:59Tapi kalau negara-negara yang menghargai Indonesia,
01:03yang kita saling menghargai,
01:06maka sekalipun mereka tidak punya kontrak,
01:08kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka.
01:12Itulah asas kesetaraan.
01:15Jangan di saat mereka butuh, baru mereka datang untuk memohon.
01:21Di saat ada persoalan lain yang sesungguhnya itu mampu dibicarakan dengan baik-baik,
01:26seperti saudara yang tidak tahu adat saja.
01:30Ini yang kita tidak mau.
01:32Jadi kita harus mempunyai prinsip,
01:34kedaulatan negara kita adalah sesuatu yang sah,
01:38dan kemerdekaan kita direbut dengan perjuangan panjang.
01:43Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan bukan hasil pemberian.
01:48Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang diperjuangkan.
01:52Berabad-abad.
01:55Today, most of our electricity is generated using natural gas.
02:00We import a significant amount of this gas through pipelines from Indonesia.
02:06Yesterday, Indonesia announced cuts to its gas exports to Singapore.
02:12Now, the gas supplies are covered by commercial contracts.
02:17We expect all parties to honor their commitments.
02:21And Singapore's gas importer will take the necessary steps
02:26to protect its rights and interests under these contracts.
02:30At the same time, we have been preparing for such risk.
02:35That's why we invested in LNG terminals
02:37to import natural gas from different countries
02:40without having to rely on pipelines.
02:44So this gives us more options to manage any disruptions to our gas supply.
02:51But we must look beyond natural gas.
02:55We also need cleaner sources of power
02:58to provide reliable electricity around the clock.
03:03And that's why we are studying seriously the potential of nuclear energy.
03:10Understandably, there are concerns about the safety of nuclear power
03:13in a small and densely populated country like Singapore.
03:18We take the concerns very seriously.
03:20Safety must come first.
03:22But we should not rule out an option
03:25simply because it is difficult or controversial.
03:28We must assess the risks and trade-offs carefully,
03:32engage Singaporeans,
03:34and eventually make the right decision
03:36to secure our energy future.
03:50Alhamdulillah, tadi kita melakukan rapat Kabinet Paripurna
03:54dalam rangka 2% perambu dan 6% perambu.
04:00Saya tadi menyampaikan tentang kinerja capai kinerja
04:04daripada di sektor ESDM.
04:08Batu Barat kita, sekalipun produksinya menurun,
04:11tapi target PNBP kita bisa melampaui target.
04:14Export kita, target divisional di sektor Batu Barat di tahun ini,
04:18itu akan mencapai lebih dari target.
04:19kita targetin 27 miliar,
04:21ini akan bisa mencapai di atas 30 miliar USD.
04:27Pendapatan negara PNBP kita ada di 133 triliun,
04:30ini bisa mencapai di atas 160 triliun lebih.
04:36Kemudian energi kita,
04:38apa namanya, energi rata-rata masih sangat rasional,
04:41terkait kita lain.
04:42Jadi, alatnya oke,
04:44yang sekarang kita lagi membeli,
04:48adalah harga ICP global yang naik terus.
04:51Karena begitu harga ICP global naik terus,
04:54itu kemungkinan besar akan menambah top-up subsidi.
04:57Tapi,
04:58pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BPM subsidi.
05:01Tidak ada kenaikan.
05:03Sekarang rata-rata ICP diantah 97 dolar,
05:05290 dolar per parel.
05:07Padahal di dalam BPM itu setiap 70 dolar.
05:11Ya, kita targetkan kalau menurun terus,
05:12mungkin di bawah 100 dolar per parel.
05:14Jadi, relatif.
05:16Oke, untuk BPM subsidi,
05:17insya Allah, tidak lagi.
05:18Tidak ada kenaikan BPM subsidi,
05:19apa Pak Pak?
05:22Catatannya harus kerja cepat.
05:25Kerja cepat,
05:26eksekusi cepat,
05:27jangan lambat sesuai aturan,
05:29dan jangan melanggar aturan.
05:30Tidak ada kenaikan BPM atau bilang Indonesia dalam komisi seluruh pantau,
05:33mungkin ada kemungkinan di sini.
05:34Iya, memang harusnya di survival.
05:37Kita sebagai pejabat negara,
05:39maupun sebagai presiden,
05:41pasti,
05:42apa yang disebut oleh presiden,
05:44semua kemungkinan mungkin menjabarkan
05:46dalam kontes diukumitas kontrak,
05:48untuk menuju ke survival.
05:50Jadi, kalau negara-negara lain mau
05:52pandangan lain untuk kita,
05:54hati-hati.
05:54Saya juga mungkin memikirkan
05:56untuk gas yang tidak terpanjang
05:58untuk ekspor ke negara-negara.
06:01Karena kan harus survival, kan?
06:03Harus menurut kebutuhan berat-negara.
06:04Ya, gitu ya.
06:08Nanti, Pak Bas.
06:11Nah, nah, nah.
06:17Cara baru nonton di Smart TV,
06:20nonton live streaming,
06:21dan ribuan tayangan Kompas Gramedia
06:24langsung dari Smart TV kamu.
06:26Cara installnya,
06:27buka Google Play Store di Smart TV kamu.
06:30Cari Kompas TV melalui pencarian.
06:33Pilih aplikasi,
06:35lalu install.
06:36Selesai,
06:37kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
06:41Download Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga.

Dianjurkan