Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 5 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV Kelompok Houthi mengklaim menyerang bandara di Riyadh dan sejumlah fasilitas minyak Arab Saudi sebagai balasan atas serangan udara di Yaman.

Peneliti Indo Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri, menilai Houthi menyadari bahwa kemampuan militer mereka berada di bawah Arab Saudi, baik dari sisi persenjataan maupun jumlah personel.

"Jadi, dia menyadari dengan pasti bahwa ketika dia melakukan perang konvensional dengan Arab Saudi, dia tidak akan memenangkan perang tersebut. Akhirnya, dia berusaha untuk menggeser strategi perangnya dari perang simetris menjadi perang yang sifatnya asimetris," ujar Aisyah. (timecode 3:32)

Ia menilai, serangan terhadap bandara, kilang minyak, dan fasilitas petrokimia dapat mengganggu fungsi Arab Saudi sebagai salah satu negara penghasil minyak utama di kawasan Asia Barat.

"Dengan terjadinya serangan-serangan dari Houthi, maka progres yang kemudian dicapai di tahun 2030 ini otomatis tidak akan tercapai. Sehingga mau tidak mau memang Arab Saudi harus kemudian mengevaluasi ulang rencana pembangunan perekonomiannya," ujar Aisha. (timecode 6:53)

Selain tekanan ekonomi, Aisha menilai serangan tersebut juga berkaitan dengan upaya Houthi meningkatkan posisi tawar politiknya dalam konflik Yaman.

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Aqshal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/697908/balas-saudi-houthi-klaim-serang-riyadh-dan-jeddah-kompas-petang
Transkrip
00:00Semuanya negara saudara perang antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi kian memanas.
00:05Serangan rudal dan drone Houthi menyasar sejumlah target strategis di Arab Saudi dari Riyadh hingga fasilitas minyak.
00:16Kelompok Houthi di Aman dan koalisi pimpinan Arab Saudi saling melancarkan serangan sengit pada hari Sabtu.
00:22Kelompok Houthi mengklaim telah melakukan serangan rudal dan pesawat nirawak atau drone di berbagai wilayah Arab Saudi.
00:28Sementara serangan udara intensif mengguncang wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi di Aman yang mengakibatkan sejumlah korban jiwa dan luka-luka.
00:38Jurubicara militer Houthi menyatakan bahwa kelompoknya meluncurkan tujuh serangan rudal dan drone yang menyasar bandara,
00:45fasilitas minyak, serta pangkala militer di kota-kota Arab Saudi yakni Riyadh, Yanbu, Rabik, Damam, Najran, dan Kamis Musyakhir.
01:17Terima kasih telah menonton!
01:28Kutim telah meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke sejumlah target strategis di Arab Saudi.
01:33Sasaran serangan meliputi bandara internasional King Khalid di Riyadh, sejumlah fasilitas minyak di Yanbu dan Jeddah,
01:41serta bandara dan pangkalan udara di kota lainnya.
01:44Kutim menyebut serangan ini sebagai balasan atas gempuran udara Arab Saudi di wilayah Yaman yang dikuasai kelompok tersebut.
01:51Sebelumnya Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal yang diluncurkan ke arah beberapa kota termasuk Riyadh.
02:06Terima kasih telah menonton!
02:32Ketegangan Timur Tengah kembali memanas.
02:34Kelompok Houthi mengklaim menyerang bandara Riyadh dan fasilitas minyak Arab Saudi sebagai balasan atas gempuran udara di Yaman.
02:41Apa tujuan Houthi?
02:42Menyasar obyek-obyek strategis Arab Saudi dan sejauh mana eskalasi ini beresiko meluaskan konflik di kawasan?
02:49Kita bahas bersama Aisyah Kusuma Sumantri, peneliti Indo-Pacific Strategic Intelligence.
02:56Mbak Isha, selamat sore.
02:58Selamat sore Mbak.
03:00Mbak Isha, kalau dari perspektif Anda, apa yang bisa dibaca dari target strategis Houthi dengan menyerang bandara, fasilitas minyak Arab
03:08Saudi?
03:09Mbak Isha.
03:11Ya, pertama kita lihat bahwa houthi ini memang berencana untuk melumpuhkan perekonomian Arab Saudi.
03:18Nah, satu hal yang perlu kita cakapkan itu bahwa houthi ini kan merupakan sebuah grup milisya yang sebenarnya secara militer
03:25yang berada di bawah Arab Saudi.
03:27Secara kepemilikan, amerika, lalu kemudian secara personal dan masih banyak lagi.
03:32Jadi, dia menyadari dengan pasti bahwa ketika dia melakukan perang konvensional dengan Arab Saudi, maka kemudian dia tidak akan menangkan
03:40perang tersebut.
03:41Akhirnya, dia berusaha untuk menggeser strategi perangnya dari apa yang kemudian kita kenal sebagai perang asimetris, menjadi perang yang sifatnya
03:49itu adalah asimetris.
03:51Nah, ini yang cukup menarik ya, saya lihat di sini.
03:53Karena salah satu indikator dari perang asimetris juga adalah dengan cara sebenarnya menyasar seluruh faktor yang bisa memenangkan perang tersebut.
04:03Di antaranya adalah faktor ekonomi, lalu kemudian faktor politik, dan masih banyak lainnya.
04:09Dan saya kira sebenarnya cara-cara dari menyerang bandara, lalu kemudian menyerang basis-sosias strategi,
04:16seperti misalnya kilang minyak, lalu kemudian pabrik petosinya, itu merupakan salah satu cara menyerang untuk menunjukkan bahwa strategi mereka ini
04:25dapat mengganggu
04:27sebenarnya fungsi Arab Saudi sebagai salah satu negara tersebut penghasil minyak di kawasan Asia Barat.
04:33Jadi, kandang-kandang sebenarnya, dia tahu pasti bahwa Arab Saudi ini memiliki target untuk kemudian vision 2030.
04:46Tapi gini Mbak Isha, kalau dilihat dari serangan-serangan ke titik-titik strategis ini,
04:53menurut Anda apakah ini sekadar aksi balasan atau memang sebenarnya ada strategi untuk menyerat Arab Saudi ke konflik yang lebih
05:00luas lagi?
05:02Saya kira sebenarnya harus dipahami bahwa Houthi ini merupakan aktor yang terpisah dibandingkan dengan Iran.
05:09Memang perang ini tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang terpisah, tetapi ketika perang antara Iran dan Amerika Serikat ini mulai
05:16meredak,
05:17Houthi sebenarnya melihat adanya sebuah peluang bagi mereka untuk bisa menaikkan kembali isu-isu yang mereka mau perjuangkan sebenarnya.
05:27Dan kita tahu sebenarnya ada beberapa hal yang sebenarnya diinginkan oleh FUSRI dalam dunia internasional.
05:33Pertama itu adalah pembangunan Asia.
05:35Oke, kalau kita melihat ada beberapa hal ini, apa saja yang sekiranya harus diantisipasi agar tidak kembali lebih meluas lagi
05:43di sana?
05:44Kita akan kembali membahas ya selepas jeda, tetap bersama kami.
05:57Lalu seberapa serius ancaman Houthi terhadap keamanan energi Arab Saudi?
06:01Kita masih membahasnya bersama Mbak Isha.
06:04Mbak Isha, jika memang serangan ini terus terjadi, seberapa serius sebenarnya ancaman Houthi untuk menyerang titik-titik strategis terkait dengan
06:12keamanan energi Arab Saudi?
06:14Ya, seperti yang kita tahu sebenarnya Arab Saudi ini memiliki keinginan untuk bisa melakukan diversifikasi dari sumber pemasukan GDP-nya.
06:23Tetapi kita baru memahami bahwa saat ini Arab Saudi ini belum sepenuhnya bisa terlepas dari kemampuannya untuk kemudian bisa mengeksforminya
06:33keluar.
06:33Nah, sekarang Arab Saudi ini berusaha untuk mendiversifikasi perekonomiannya melalui misalnya Vision 2030 ya,
06:41di mana kemudian ada keinginan Arab Saudi untuk membuat Riyadh ini sebagai sentra bisnis,
06:47lalu kemudian sentra perkembangan teknologi, serta kemudian pusat pariwisata dari Arab Saudi.
06:52Nah, ini cukup menarik.
06:53Dengan kemudian penerusnya terjadi serangan-serangan dari Houthi, maka kemudian progres yang kemudian dicapai di tahun 2030 ini otomatis tidak
07:02akan tercapai.
07:03Sehingga mau tidak mau memang Arab Saudi harus kemudian mengevaluasi ulang, kemudian rencana pembangunan perekonomiannya.
07:10Terlebih, ini juga akan mempengaruhi hubungan diplomatik Arab Saudi dengan negara-negara investor lainnya,
07:15khususnya negara-negara yang berasal dari Eropa dan kemudian negara Amerika.
07:18Nah, satu hal yang kemudian cukup menarik, saya kira di sini ini merupakan salah satu cara dari Ansharullah atau Houthi
07:25untuk bisa mendapatkan posisi tawar yang lebih tinggi.
07:28Apa saja yang diinginkannya?
07:29Kan kita tahu, yang pertama untuk membuat Arab Saudi mengganti rugi, biaya perang yang sudah terjadi dari tahun 2015.
07:36Lalu yang kedua, kita juga memahami bahwa Ansharullah berusaha mendapatkan pengakuan sebagai pemimpin yang legitimate di sana A,
07:43sebagai penguasa Yemen.
07:45Dan yang ketiga, saya kira ini merupakan salah satu cara agar Yemen ini itu bisa kemudian mengatur jalannya perang
07:52dan kemudian meningkatkan leverage mereka ketika suatu hari terjadi.
07:56Nah, hal yang kemudian menarik memang karena Arab Saudi ini merupakan negara yang kemudian kita anggap sebagai great power
08:02di sana anjung Arab ini.
08:05Kemudian, Ansharullah ini menganggap pengakuan dari Arab Saudi ini akan berarti merupakan kemudian gateway pertama
08:11untuk mendapatkan pengakuan internasional.
08:13Oke, kalau Anda melihatnya sendiri, serangan-serangan yang dilakukan Houthi ini ada pihak lain yang berperan.
08:20Sejauh mana Iran berperan dalam serangan Houthi ini, Mbak Isha?
08:24Ya, perlu kita pahami bahwa Iran dan Houthi ini merupakan dua pihak yang sama-sama tergabung di dalam praxis of
08:30resistance.
08:30Tetapi, hubungan di antara keduanya ini bukan hubungan vertikal.
08:34Jadi, bukannya atasan dan bawahan, dan komando, dan kemudian satu menjalankan perintahnya.
08:40Merupakan sebuah milisi ya, yang jelas-jelas ini memiliki kepentingan sendiri.
08:45Sehingga, meskipun ya, ada kesamaan, tujuan yang kemudian dimiliki oleh dua entitas ini.
08:50Tetapi, kadangkala ada divergensi ya, yang kemudian terjadi.
08:54Misalnya saja, tadi kita sudah menjelaskan bahwa ada kepentingan tersendiri yang dimiliki oleh Ansharullah.
08:59Saya kira to some extent, sebenarnya Teheran juga tidak bisa kemudian mengatur ya, apa yang akan dilakukan oleh Ansharullah.
09:05Akan tetapi, kita tahu bahwa Ansharullah ini sebenarnya sudah lama mendapatkan bantuan-bantuan dari Teheran ya, setelah kemudian dihubungkan oleh
09:13Hezbollah.
09:14Kita bisa tahu bahwa Teheran ini memberikan bantuan berupa transfer of technology, jadi teknologi yang bersifat modular, murah.
09:21Meskipun bukan teknologi yang sama, tetapi basic teknologinya itu didapatkan dari Teheran.
09:26Dukungan politik dengan pembukaan kemudian, apa namanya, embassy dari Yemen yang dikuasai oleh Ansharullah di Teheran.
09:32Dan kemudian lihat juga ada bantuan intelijen yang kemudian terjadi di sana.
09:36Jadi saya rasa sebenarnya di sini, mereka berada di dalam sebuah kotak ideologi yang sama, kotak kepentingan yang sama.
09:43Tetapi tadi ya, perlaksanaannya secara kemudian interest di lapangan ya, ada divergensi kepentingan di antara Iran dan kemudian Ansharullah.
09:51Tapi kalau melihat konflik ini sendiri, apakah berpotensi meluas menjadi konfrontasi regional yang bisa melibatkan lebih dari banyak negara?
10:02Kita sama-sama berharap bahwa ini tidak akan melebar ya, karena kita tahu bahwa sebenarnya di sini kita sudah menghadapi
10:09beberapa hotspot krisis juga yang ada di Timur Tengah.
10:13Yang pertama kita menghadapi perang di Iran dan kemudian melawan Amerika Serikat, lalu kemudian di Lebanon Selatan, lalu kemudian di
10:20Gaza, sampai sekarang belum selesai.
10:22Dan sekarang kita bisa lihat bahwa sekarang konflik yang ada di Yemen dan Arab Saudi ini juga semakin meningkat.
10:28Saya kira kalau misalnya seandainya ya konflik ini saling berkembang satu sama lain dan berkembang menjadi protracted war, kita sama
10:34-sama mengkhawatirkan bahwa ya konfliknya akan berlangsung secara jangka waktu yang panjang sehingga menghasilkan konflik berkepanjangan.
10:44Kita tidak tahu bahwa nanti at some point sebenarnya masing-masing aktor dari perang ini akan kemudian melakukan konsesi dan
10:51kemudian melakukan merging ya, karena kepentingan yang sama.
10:55Sehingga kemudian terjadilah perang yang kemudian terjadi skala-skala regional.
11:01Tetapi tentu saja kita tidak ingin hal ini terjadi gitu ya.
11:04Oleh karena itu yang sekarang harus dilakukan, karena kita tahu bahwa perang ini sebenarnya tidak mungkin diselesaikan dengan cara militer.
11:11Oleh karena itu sebenarnya perlu ada negara lain selain Iran yang menawarkan untuk menjadi mediator.
11:17Saya kira Iran ini merupakan salah satu pihak yang bisa meminta, apa namanya, ansharullah untuk kemudian berdiskusi dengan Arab Saudi.
11:25Tetapi saya yakin perlu ada pihak lain yang menjadi anchor kepercayaan atau trust building bagi Arab Saudi juga dalam melakukan
11:31negosiasi.
11:31Baik, terima kasih Mbak Isa Kusuma Sumantri, peneliti dari Indo-Pacific Strategic Intelligence, sudah berbagi perspektif di Kompas Petang.
11:39Selamat sore.
11:40Dengan senang hati, selamat sore.
11:44Saudara kepemimpinan Presiden Prabowo kembali diuji menyusul rentetan korupsi di lingkungan kementerian dan lembaga negara.
11:52Dua kasus tengah diselidiki KPK, menyeret orang dekat Menteri ATR BPN dan adik mantan kepala PNPB.
11:59Selengkapnya akan diulas dalam catatan Kompas TV, Usai Jeddah.
12:03Tetap bersama kami.
12:03Terima kasih.
12:06Terima kasih.

Dianjurkan