Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Sentil Latar Belakang Keluarga, Yusril Sebut Prabowo "Bukan Seperti Saya NU" Tapi Anak PSI

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, melontarkan kelakar menarik saat menghadiri rapat koordinasi nasional Baznas 2026. Dalam sambutannya, ia menyebut Presiden Prabowo Subianto "bukan seperti saya NU", melainkan anak dari Profesor Soemitro Djojohadikoesoemo. Istilah "PSI" yang ia maksud ternyata merupakan singkatan dari nama sang ayah, bukan merujuk pada partai politik tertentu.

Yusril menilai, meskipun latar belakang keluarga presiden bukan dari kalangan ormas Islam, komitmen Prabowo dalam membela kepentingan umat tidak perlu diragukan lagi. Melalui momentum ini, ia juga mendorong penyempurnaan regulasi agar pengelolaan zakat dan posisi Baznas di Indonesia semakin kuat. Simak selengkapnya pernyataan lengkap Menko Yusril dalam video di atas.

#YusrilSebutPrabowoAnakPSI #LatarBelakangKeluargaPrabowo

Creative/Video Editor: Aqilah/Michael
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Jika orang, pertanyaan tadi, orang Islam mencuri ayam orang Kristen atau sebaliknya,
00:05maka yang berlaku adalah hukum orang yang dicuri.
00:09Akhirnya maka manggut-manggut.
00:13Perdebatan itu, akhirnya Pak Manaseh Malo mengatakan,
00:18kalaulah penerapan syariat Islam di Aceh itu,
00:21seperti yang diterangkan oleh Menteri Kehakiman ini,
00:24maka tidak ada alasan kami, fraksi Kristen, untuk menolak hal itu.
00:30Disahkan undang-undang.
00:34Sekarang, lebih-lebih di zaman Pak Prabowo Subianto ini,
00:40beliau ini bukan dari keluarga seperti saya, orang Masyumi atau orang NU atau apa.
00:47Belumnya anak orang PSI.
00:49Anak Profesor Sumitro Joyohadi Kusumo.
00:52Kita kenal beliau sejak muda.
00:56Tidak dikenal sebagai aktivis Islam.
01:01Tapi komitmennya dalam membela Islam, itu tidak ada yang meragukan.
01:07Saya ingat betul bagaimana ketika Pak Bini Burdani menjadi panggap.
01:14Beliau dengan kita-kita, ini kita ini dituduh.
01:18Tentara-tentara hijau, segala macam.
01:20Apa?
01:21Kita ini orang mayoritas.
01:25Jadi, kalau dari segi semangat itu,
01:28mudah-mudahan tidak ada orang yang ragu kepada beliau ini.
01:33Nah, karena itu, inilah saatnya undang-undang yang terkait dengan kepentingan umpat Islam itu,
01:40kita bahas sama-sama.
01:44Tidak akan lagi yang nolak.
01:46Di zaman reformasi ini,
01:48sudah selesai debat Soekarno dengan Pak Nadsir,
01:53selesai dengan Yamin, dengan Ki Bagus Hadi Kusumo,
01:56dengan Ki Haji Ahmad Senusi, dan lain-lain.
01:59Sudah lahir dua kali undang-undang tentang Basnas ini.
02:05Sekarang kita lihat, kita kaji ulang.
02:08Mana kurangnya?
02:09Bagaimana kita mengintegrasikan zakat dan lain-lain ini ke dalam negara?
02:15Jangan seluruhnya juga ditarik ke negara,
02:17lalu nanti zakat jadi kayak pajak.
02:20Langsung negara, nanti umat merasa ketinggalan juga.
02:25Bagaimana jalan tengah?
02:26Bagaimana komprominya?
02:28Nah, saya terbuka.
02:30Menemudahan dari pertemuan ini,
02:32ada gagasan-gagasan baru menyempurnakan
02:35Undang-Undang Zakat No. 23 tahun 2011 ini
02:40untuk kita perkuat posisi Basnas itu akan menjadi seperti apa.
02:48Zaman kita sekarang ini sudah enggak ada lagi persoalan
02:50undang-undang ekonomi syariah, perbankan Islam, asuransi,
02:55segala macam jalan negara kita ini.
02:58Dan saya kira tetaplah kita negara Pancasila
03:01yang pluralistik,
03:04tapi memberikan tempat yang sewajarnya
03:07bagi umat Islam sebagai kekuatan mayoritas di negara kita ini.
03:13Terima kasih.
03:14Terima kasih.
03:14Terima kasih.
03:14Terima kasih.
03:15Terima kasih.
03:16Terima kasih.
03:16Terima kasih.
03:16Terima kasih.

Dianjurkan