00:01Intro
00:04Sempat menipis kabut asap pekat kembali menyelimuti kota Pontianak, Kalimantan Barat.
00:09Warga berharap pemerintah segera mengatasi persoalan ini.
00:18Beberapa kali diguyur hujan nyatanya belum mampu menghilangkan kabut asap kebakaran hutan dan lahan di kota Pontianak dan sekitarnya.
00:25Sempat menipis kabut asap pekat kembali muncul hingga membuat kualitas udara berbahaya hingga Rabu siang.
00:33Kondisi ini membuat sekolah tingkat paut, TK, SD hingga SMP kembali dilakukan jarak jauh atau daring.
00:40Mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan, sejumlah warga memakai masker ketika beraktifitas di luar ruangan.
00:47Mereka berharap kondisi yang membuat sesak napas dan mata perih ini segera berakhir.
00:52Sekarang kan asapnya lebih anu lagi kan, balik lagi seperti yang kemarin kan udah agak pekat.
00:59Kemarin kayaknya udah agak aman ya, ternyata kemarin sore tuh kok asapnya ada lagi gitu.
01:06Lu terganggu pernafasan gak bu sekarang bu?
01:09Alhamdulillah karena kita pakai masker enggak juga sih.
01:12Kalau keluarga ada yang batuk apa segala macam bu sekarang?
01:15Kalau di rumah sih alhamdulillah lah.
01:18Harapannya gimana bu sebagai warga?
01:20Ya, sebagai warga yang kalau bisa tuh istilahnya pembakaran yang tidak berapa namanya?
01:30Yang tidak perlu tuh janganlah pembakar-pembakar.
01:33Ya, peraturan ini saya sih mudah-mudahan ini cepat hilang asapnya.
01:38Kembali normal seperti biasa.
01:40Jadi bisa beraktifitas seperti sekolah atau ukegai.
01:44Sementara itu wali kota Pontianak, Edy Rusdikam Tono mengaku heran asap kembali pekat.
01:50Jika memang ada kebakaran baru, maka perlu segera diantisipasi.
01:55Memang naik turun, saya gak ngerti nih ya.
01:57Ada asap lagi gitu, pasti ada kebakaran baru yang perlu diantisipasi.
02:02Kalau di Pontianak sih insya Allah gak ada ya.
02:04Kita patroli terus di wilayah Pontianak yang kebakaran lahan.
02:07Tapi asapnya yang ada ini tuh perlu diantisipasi.
02:10Wali kota juga mengimbau masyarakat menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
02:16Raida Todi, Dion Setiawan, Kompas TV, Pontianak, Kalimantan Barat
02:43Salam sehat Pak Daniel.
02:46Pak Daniel, kita tahu kabut asap pekat kembali terjadi di sana.
02:50Apa penyebabnya dan dari mana sumber asap tersebut?
02:54Ya, memang ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya asap kembali menyelimuti kota Pontianak termasuk kubur raya.
03:04Itu yang pertama memang kita menyadari masih ada di beberapa titik lahan gambut yang kembali membara.
03:14Karena memang karakteristik kebakaran di lahan gambut ini tidak serta merta padam meskipun diguyur hujan.
03:22Apalagi hujan itu terjadi tidak dengan intensitas yang lama dan lebat.
03:28Misalnya sekarang masih ada sisa-sisa api, bara-bara api di Kabupaten Ketapang, di Kayong Utara.
03:37Kemudian juga beberapa tempat, beberapa titik di Kabupaten Kubur Raya.
03:43Nah, ini yang menjadi salah satu penyebab adanya asap.
03:48Nah, itu yang pertama.
03:49Yang kedua memang kita melihat bahwa Pontianak ini kan berada di daerah dataran rendah ya.
03:57Dataran rendah ya.
03:59Kondisi ini membuat asap terperangkap sehingga sulit untuk tersebar dan bertahan lama di atas kota begitu.
04:11Nah, ini yang menyebabkan juga yang ketiga angin selatan ke arah utara.
04:18Jadi pergerakan angin itu dari selatan ke arah utara membawa asap.
04:23Ya, sudah barang tentu itu menuju kota Pontianak sehingga konsentrasi asap kembali meningkat.
04:31Baik, setelah sempat menipis, lalu bagaimana kondisi kualitas udara saat ini di sana, Pak?
04:37Ya, tentu ini sangat berpengaruh sekali ya.
04:39Kualitas udara ini sangat berpengaruh masuk dalam kategori tidak sehat.
04:45Bahkan juga jarak pandang kurang dari satu kilometer di beberapa kota seperti di Pontianak, di Kuburaya, Ketapang, Kayung Utara ya.
04:58Memang kondisi ini pluktuatif.
05:00Jadi setiap jam itu ada perubahan.
05:02Nah, ini juga menjadi tantangan bagi kami di BPPD, pemerintah Provinsi Kalimantan Barat,
05:07terkhusus melakukan operasi udara dengan metode waterbombing,
05:12karena terkait dengan visibiliti yang tidak baik, yang sangat menurun,
05:18sehingga tidak memenuhi syarat untuk kita lakukan operasi udara.
05:22Sehingga kita mendorong, Pak Gubernur melalui BPPD Provinsi Kalimantan Barat,
05:27mendorong seluruh Satgas Darat, agar memfokuskan kekuatan di daerah-daerah yang masih teridentifikasi terbakar.
05:38Baik, padanya tadi disebutkan lahan gambut yang terbakar ini menjadi salah satu penyebab dari asap yang kembali pekat di sana.
05:46Lalu adakah titik-titik yang kemudian menjadi perhatian khusus dan perhatian utama dari tim BPPD di sana?
05:54Tentu yang pertama kita melihat apakah api itu berada di kawasan-kawasan pemukiman,
06:01itu yang pertama.
06:02Yang kedua di tempat-tempat fasilitas umum yang strategis seperti dekat bandara, pelabuhan, pasar, dan lain-lain.
06:12Nah, tetapi kita tidak juga mengabaikan kalau kebakaran itu terjadi di area-area yang jauh dengan tempat-tempat umum begitu.
06:23Baik, Pak. Tadi disebutkan sejumlah titik ini kemudian menjadi perhatian utama.
06:28Dan bagaimana dengan kondisi saat ini? Apakah ada daerah-daerah tertentu yang kemudian menjadi titik terparah yang menyumbangkan asap di
06:38sana?
06:39Ya, kita tidak punya ini ya. Karena memang kan asap ini dibawa oleh angin.
06:45Jadi tidak bisa kita katakan misalnya, oh ini daerah A menjadi penyumbang asap tidak bisa demikian.
06:52Karena memang asap ini selain memang satu pulau Kalimantan ini kan ada yang terbakar juga.
07:00Jadi kita tidak bisa mengetahui asap ini sebetulnya bersumber dari salah satu daerah mana begitu.
07:06Baik, tapi ini salah satunya apakah juga karena meluasnya kebakaran di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, Pak, sehingga asapnya kembali
07:14menjadi pekat?
07:16Kalau soal luas, ya. Jadi mungkin salah satu faktor ya, kebakaran itu di Kalimantan, di pulau Kalimantan ini luas, kemudian
07:26terjadi di lahan gambut.
07:28Karena karakteristik lahan gambut ini berbeda dengan karakteristik lahan mineral.
07:33Kalau di tanah mineral, dia terbakar di permukaan.
07:38Tapi kalau di lahan gambut di Kalimantan ini, Kalimantan Barat khususnya, yang terbakar tidak hanya permukaan atas, tapi juga bagian
07:46bawah, kedalamannya sampai 20 meter.
07:49Jadi tidak gampang begitu. Kalau hujan hanya 1-2 hari dengan intensitas yang sangat ringan, sangat tidak signifikan.
07:57Malah akan terjadi gumpalan asap karena terjadi pembakaran yang tidak sempurna.
08:01Baik Pak Daniel, dengan kondisi cuaca saat ini dan juga potensi karhutlah, bagaimana prediksi dari BPBD terkait dengan kondisi saat
08:12ini?
08:13Apakah kemudian asap pekat ini akan dapat mulai menipis dalam beberapa waktu ke depan?
08:20Kalau yang bisa memprediksi itu BMKG ya.
08:23Jadi kalau kami ini menangani dampak, tetapi pada prinsipnya BPBD, pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Barat, melakukan upaya-upaya agar situasi
08:36ini semakin hari semakin membaik.
08:38Selain juga melakukan mitigasi-mitigasi yang dalam jangka pendek harus kita lakukan begitu.
08:46Dan sejauh ini Pak Daniel, apakah ada laporan warga terkait dengan keluhan kesehatan?
08:51Ya tentu ya, tentu kita juga mengakui ada banyak warga yang teridentifikasi ISPA ya, berdasarkan laporan Satgas Pelayanan Kesehatan di
09:03komando kita, di posko komando kita.
09:08Itu memang ada yang teridentifikasi.
09:12Nah oleh karena itu perintah Pak Gubernur, itu jelas 24 jam fasilitas kesehatan di tingkat kecamatan, tingkat kabupaten, itu harus
09:23buka 24 jam dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat.
09:29Pak Daniel, lalu kemudian bagaimana upaya BPBD dan Pemda setempat untuk kemudian mencegah terjadinya atau meluasnya kebakaran di sana?
09:38Pertama kita memberikan himbawan kepada masyarakat melalui media apapun, media sosial, melalui tokoh masyarakat, tokoh agama.
09:48Mari kita menahan diri di saat cuaca ekstrim ini untuk tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apapun.
09:58Ya karena memang cuaca sangat ekstrim yang bisa saja memicu terjadinya karhutlah yang masif di daerah kita.
10:09Dan dengan kondisi saat ini Bapak, apakah kemudian dampaknya kepada aktivitas masyarakat di sana termasuk kegiatan belajar mengajar?
10:18Ya dampaknya kan kembali aktivitas kita menjadi tidak normal ya.
10:23Misalnya di dalam dunia pendidikan yang tadinya harus belajar di sekolah,
10:29nah hari ini kami mendapat informasi beberapa sekolah harus daring gitu.
10:34Nah kemudian yang seharusnya berpergian tidak menggunakan masker, tapi sekarang ini menggunakan masker.
10:41Jadi dampaknya banyak, yang seharusnya tidak membeli masker sekarang kembali membeli masker.
10:46Artinya ada perubahan dari sisi ekonomi begitu.
10:50Baik, untuk pelajaran kembali dilakukan jarak jauh dan masyarakat juga diimbau menggunakan masker
10:57untuk menghadapi atau juga mengantisipasi kabut asap yang kembali menjadi pekat di sana.
11:03Terima kasih Pak Daniel dari BPBD Kalimantan Barat atas waktunya di Jurnal Nusantara.
11:08Salam Nusantara Pak.
11:10Salam Nusantara.