Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PONOROGO, KOMPAS.TV Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal sempat meminta maaf kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.

"Bapak Presiden, saya ngomong agak tak enak ya, Pak. Sorry ye," ujar Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal saat berbicara di Peringatan 100 Tahun Gontor pada Sabtu (19/9/2026).

Baca Juga Pecah Tawa! Canda Prabowo ke Kapolri: Hanya di Indonesia Kepala Polisi Pakai Kopiah di https://www.kompas.tv/nasional/691570/pecah-tawa-canda-prabowo-ke-kapolri-hanya-di-indonesia-kepala-polisi-pakai-kopiah

#breakingnews #prabowo #gontor

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/691571/kiai-pimpinan-gontor-ke-presiden-prabowo-saya-ngomong-agak-tak-enak-sorry-ye
Transkrip
00:00Bapak Presiden, saya tak ngomong agak enggak enak ya Pak, sorry eh.
00:09Dulu Bapak Presiden Soekarno, Jasmira, apa ya, jangan sekali-kali melupakan sejarah.
00:22Saya membaca buku, bergurulah pada sejarah.
00:26Gontor, tidak puas, apa Gontor, cerdaslah menyikapi sejarah, karena kita akan membangun sejarah.
00:46Tidak menyerah pada sejarah, tidak hanya jangan melupakan sejarah, tidak hanya berguru pada sejarah, tetapi kita membangun sejarah, membangun peradaban.
00:57Dari Gontor.
01:04Maka, kami yang ada ini, sudah mengeluh-eluhkan Pak, sejak Pak Prabowo ngomong sama saya, September, September, September.
01:14Otak saya, Pak Prabowo, Pak Prabowo.
01:22Andai kata Pak Prabowo, hari ini enggak datang.
01:26Nah ini.
01:30Muka saya, saya taruh di mana?
01:33Akhirnya saya harus tarik muka.
01:37Sekarang banyak orang yang tarik muka.
01:40Betul.
01:41Orang enggak punya ijazah, cari ijazah.
01:45Orang enggak punya nama, cari nama.
01:48Orang enggak punya uang, cari uang.
01:51Orang enggak punya jabatan, cari jabatan.
01:54Orang enggak punya muka, cari muka.
02:00Ini kok tepuk tangan, tepuk tangan tidak pada waktunya.
02:05Sorry, sorry.
02:08Kami di sini, Bapak Presiden, tidak keluar dari kata-kata iman, islam, ihsan.
02:15Sesuai dengan istihad para pendiri.
02:19Sehingga, ngontor ini.
02:22Dari NO, masuk sini, keluar NO lagi.
02:26Anak Muhammadiyah masuk ngontor, keluar Muhammadiyah lagi.
02:31Pimpinan Nahdlatul Ulama menjadi santri ngontor dan mimpin Nahdlatul Ulama.
02:40Putranya pengurus besar Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Badawi.
02:46Anaknya dulu di sini juga.
02:49Dan yang ada kita ini, banyak sekali anak-anak Muhammadiyah.
02:53Mempunyai anak dan mantu NO.
02:56Banyak anak-anak NO punya menantu Muhammadiyah.
03:02Saya ini orang bebas.
03:05Orang bilang itu Muhammadiyah agak wahabi dikit gitu Pak saya.
03:09Tapi menantu saya, NUKB Pak.
03:15Akhirnya saya menempat titel baru Hasan Abdullah Aswabi.
03:22Aswaja Wahabi.
03:27Pondok kita ini sejak pertama, sejak zaman Belanda, mendidik, memerdekakan bangsa, memerdekakan umat dari kesesatan, dari kekuburan.
03:40Membebaskan bangsa ini dari ketergantungan.
03:46Alhamdulillah.
03:47Alhamdulillah.
03:47Dengan kekuatan yang ada.
03:49Dengan kekuatan yang ada.
03:51Semua presiden menyetujui ini.
03:55Subhanallah.
03:56Subhanallah.
03:56Subhanallah.
03:57Kalau Allah sudah membuka, tidak ada yang bisa menutup.
04:03Kalau Allah sudah mencintai seseorang, tidak ada orang yang akan membencinya.
04:09Saya ulangi.
04:10Kalau Allah sudah mencintai seseorang, tidak mungkin orang lain akan mencintainya.
04:16Eh, salah ngomong ya?
04:20Ini ngomongnya atau teringai yang salahnya?
04:23Kalau Allah sudah mencintai seseorang, tidak ada orang pun yang membencinya.
04:30Dan tidak ada, tidak ada kalau Allah sudah membenci seseorang, tidak mungkin ada orang mencintainya.
04:38Dalam doa kita.
04:52Tidak ada orang yang akan menjadi mulia kalau dimusuhi oleh Allah.
04:56Tidak akan menjadi orang hina kalau dicintai oleh Allah.
05:00Inilah kita semuanya.
05:01InsyaAllah.
05:02Di atas hanya Allah.
05:04Di bawah hanya tanah.
05:11Bapak Presiden, hadirin dahil dan hati rot.
05:14Saya tidak mau panjang-panjang.
05:16Dekis-dekis waktu itu 15 menit.
05:18Ini sudah 20 menit lebih.
05:20Tidak apa-apa, tidak apa-apa.
05:21Nanti ngomong lagi.
05:22Nanti makan siang di sini, Pak.
05:25Makan siang di sini, ya.
05:29Saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden.
05:32Boleh disaksikan.
05:34Kalau makan saya,
05:36pakaian saya,
05:37Kendaraan saya,
05:39Rumah saya,
05:42Apalagi?
05:45Melebihi
05:46Makanan santri,
05:48Pakaian santri,
05:50Kendaraan santri,
05:51Rumah santri,
05:53Protes.
05:54Boleh.
06:00Saya ulangi.
06:02Kalau apa yang saya makan,
06:04Apa yang saya pakai,
06:06Apa yang saya tempati,
06:07Apa yang saya kerjakan,
06:10Lebih daripada santri,
06:12Boleh diprotes,
06:13Boleh dikritik,
06:14Boleh didemo.
06:17Inilah ngkontor.
06:19Inilah ngkontor.
06:21Maka,
06:22Dengan inilah,
06:24Maka,
06:25Para pendiri telah mewakafkan ini,
06:27Dengan ikhlas.
06:29Dengan ikhlas.
06:30Maka,
06:31Saya yakin,
06:33Tidak lama,
06:35Mudah-mudahan,
06:36Satu detik,
06:37Dua detik ini,
06:38Pak Presiden ini,
06:40Bersama kita,
06:41Sayang sama kita.
06:46Dengan ekor-ekornya.
06:58Seratus tahun,
06:59Seratus tahun itu,
07:02Pasti,
07:03Pak,
07:03Jenderal,
07:05Purnawirawan,
07:06Prabowo,
07:07Prabowo,
07:09Subianto,
07:10Pasti berpengalaman,
07:12Berpengalaman,
07:13Seratus tahun,
07:16Sakit,
07:17Sehat,
07:18Enak,
07:19Tidak enak,
07:19Manis,
07:20Pahit,
07:21Seratus tahun,
07:22Kami rasakan semua.
07:24Alhamdulillah,
07:25Sampai sekarang,
07:26Alhamdulillah,
07:27Masih bisa,
07:28Terus seperti ini.
07:29Tidak sepi,
07:30Daripada kesulitan,
07:32Tidak sepi,
07:33Daripada masalah.
07:34Tetapi,
07:35Kita mengatakan,
07:37Setiap masa,
07:38Ada tokohnya.
07:40Setiap tokoh,
07:41Ada masanya.
07:42Setiap masa dan tokoh,
07:43Ada masalahnya.
07:45Setiap masalah,
07:46Harus ada solusinya.
07:49Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan