Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan komitmennya untuk menjamin Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Dalam Konvensi Paruh Waktu Partai Republik di Dallas, Trump juga mengeklaim bahwa Washington kini sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz.

Selain masalah nuklir, Trump juga menyoroti jalur perairan strategis di Teluk. Secara kontroversial, ia menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump" karena berada di bawah kendali penuh Amerika Serikat.

Juru Bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebbi, pada Rabu mengungkapkan rencana pembentukan zona maritim baru. Iran membuka kemungkinan untuk menerapkan sanksi terhadap kapal yang melintasi wilayah tersebut tanpa izin Iran.

Peringatan ini muncul setelah serangkaian serangan balasan yang sengit antara Iran dan Amerika Serikat.

Pasukan AS sebelumnya menyerang kapal tanker minyak Iran yang kemudian memicu serangan balasan rudal dari Garda Revolusi.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran mengeklaim telah menargetkan dan menghancurkan sebuah kapal permukaan tanpa awak atau USV milik militer Amerika Serikat di dekat pintu masuk Selat Hormuz. Rekaman video memperlihatkan kapal nirawak dengan nomor lambung 5838 tersebut dalam kondisi terbakar setelah diserang.

Hingga saat ini, Komando Sentral AS (CENTCOM) belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.

Lalu, seberapa kuat Iran dapat membalas setiap serangan Amerika Serikat? Apakah kekuatan militer mereka mampu memaksa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz untuk mematuhi aturan otoritas Iran?

Untuk mengulasnya, kita sudah bersama Marsma (Purn.) Agung Sasongkojati, pakar strategi PPAU dan alumnus US Air War College.

Baca Juga [FULL] Pakar Politik, Gerindra-Golkar Bahas Jokowi-AHY Mulai Bidik Pilpres 2029? | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/video/690233/full-pakar-politik-gerindra-golkar-bahas-jokowi-ahy-mulai-bidik-pilpres-2029-bola-liar

#iran #as #perang #selathormuz #timurtengah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/690235/full-sengketa-hormuz-meruncing-pakar-strategi-ppau-soal-iran-ancam-kapal-pro-as
Transkrip
00:00Seberapa kuat Iran bisa membalas setiap serangan Amerika Serikat dan apakah kekuatan militer mereka mampu memaksa kapal-kapal yang melintasi
00:08hormus patuh pada aturan otoritas Iran?
00:11Untuk mengulasnya, Saudara, kita bahas bersama dengan Marsma Purna Yurawan Agung Sasongko, pakar strategi PPAU, sekaligus alumni US Air World
00:20College.
00:21Selamat petang, Mas Agung.
00:24Selamat petang.
00:25Mas Agung, kita dipertontonkan dengan saling serang, saling klaim bahwa militer masing-masing negara ini kuat, baik Amerika Serikat dan
00:33Iran.
00:33Pertanyaannya, menurut Anda apakah Iran ini benar-benar akan menggunakan kekuatan militernya untuk menerapkan sanksi ke kapal-kapal yang nekat
00:41melintas hormus?
00:43Ya, jadi betul. Iran memiliki probabilitas sangat tinggi untuk menggunakan kekuatan militer yang nyata.
00:49Bukan sekedar geretakan politik ya, namun bagi Teheran, karena Selatormus bukan sekedar jalur air strategis ya,
00:57tapi juga adalah kartu asnya untuk geopolitik terbesar mereka dalam menghadapi tekanan sanksi barat khususnya Amerika.
01:05Khusus korps garda revolusi Iran, Islam Iran, khususnya angkatan lautnya telah mendukti nasib untuk menegakkan geretakan maritimnya secara agresif di
01:15wilayah tersebut.
01:15Dia tidak akan lagu melakukan penghentian paksa, penyintian kapal, serangan kinetik dengan rudal atau drone jika ada yang melanggar protokol
01:24sepihak.
01:25Jadi, secara taktis dia akan menggunakan dalil hukum penerapan sanksi timbal balik atau penegakan keamanan lingkungan maritim untuk menegakkan tindakannya.
01:34Dengan melakukan serangan militer langsung ya?
01:37Karena mereka saat ini dalam kondisi perang diserang oleh lawan, jadi mereka punya hak untuk melakukan hal itu.
01:44Itu dasar daripada penerapan yang dilakukan.
01:47Pertanyaannya, ini kan perang sudah berlangsung lama.
01:50Kekuatan militer ini yang menjadi tanda tanya.
01:52Apakah betul kekuatan militer Iran ini memang siap untuk perang jangka panjang?
01:56Apalagi saat ini kita lihat Iran terus-menerus melakukan serangan kepada kapal-kapal yang melintas di Selatormus.
02:04Iran siap untuk serangan jangka panjang karena apa?
02:06Karena pertama itu adalah negerinya sendiri.
02:08Musuhnya adalah Amerika tidak di negerinya.
02:10Dan sekutu-sekutu Amerika yang biasa mendukung,
02:14biasa mendukung dengan menyediakan pangkalan-pangkalan pelabuhan juga tidak bisa karena telah dihancurkan atau telah diurusaha tidak berfungsi.
02:22Artinya, yang kesulitan untuk jangka panjang justru bukan Iran, tetapi pihak lawannya dalam hal ini Amerika.
02:28Karena pertama, di mana mereka bersandar logistik, untuk mencari bahan makanan atau bahan untuk kapal induknya saja mereka kesulitan.
02:36Mereka harus mengandalkan suplai dari Diego Garcia atau Singapur.
02:40Bahkan dari negara-negara telah sekitar pun tidak bisa karena mereka harus menerapkan prinsip keamanan atau keselamatan.
02:46Jadi, yang kesulitan dalam jangka panjang adalah Amerika.
02:50Sehingga kalau kita lihat, kalau kesulitannya Amerika berarti ancaman Iran ini tidak bisa dianggap sebelah mata.
02:56Nah, menurut Anda apa langkah strategis dari Amerika Serikat sendiri?
03:00Sesebelumnya, Trump kembali mengklaim bahwa menguasai Selat Hormuz, bahkan bilang bahwa Selat Trump.
03:07Ya, seperti biasa, Donald Trump itu kan menggunakan retorika yang kadang bohong, kadang-kadang banyak bohongnya.
03:14Karena, ya seperti biasa, masyarakat yang patriotik, maga, atau make America great take itu kan orang-orang yang tidak terdidik,
03:23yang senang dengan kata-kata hebat, kata besar.
03:26Tapi intinya, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh Amerika.
03:29Pertama, eskalasi militer langsung.
03:31Kedua, dia mobilisasi koalisi internasional.
03:34Dan ketiga, perang asimetris atau sanksi belum bukan.
03:37Nah, masalahnya adalah sanksi tidak terlalu efektif dalam jangka pendek.
03:41Jadi, emang Iran masih berjalan cukup lama, eskalasi militer.
03:44Amerika sendiri kesulitan untuk menggunakan persenjataannya karena terbatas.
03:49Dan mereka juga memaksa Iran untuk berperang dengan menggunakan tanker-to-tanker.
03:53Karena mereka masih punya alat atau senjata untuk serangan ke kapal.
03:57Iran menolak, Iran membalasnya dengan serangan ke darat.
03:59Artinya, dia terpacang Amerika.
04:01Dan terakhir adalah mobilisasi koalisi internasional.
04:04Itu gimana? Tidak ada yang mau terlibat.
04:05Karena mereka tahu yang salah Amerika.
04:07Kalau mereka membantu orang yang salah, dalam artian tindakan ilegal,
04:11penyerangan terhadap Iran.
04:12Itu makanya akan terlibat dan itu akan berbahaya sekali bagi mereka.
04:15Karena mereka tidak saja menghadapi negara Iran,
04:18tetapi menghadapi juga perang asimetris dan banyak supporter Iran di seluruh dunia.
04:23Itu yang terjadi.
04:23Sehingga bacaan Anda, ke depannya ini saling serang lebih sering terjadi
04:28atau sebaliknya harapan kita bersama negosiasi menjadi solusi?
04:32Ya, intinya saling serang.
04:34Ini kan tip and tap, istilah bahasa Inggrisnya.
04:37Tapi itu sebetulnya adalah eskalasi.
04:39Karena apa? Semua tahu bahwa negara-negara menggunakan kuatan diplomasi,
04:43informasi, militer, ekonomi.
04:44Amerika sekarang kebanyakan hanya menggunakan militer dan ekonomi,
04:48tapi nyatanya itu tidak terlalu efektif.
04:50Iran menggunakan semuanya.
04:52Dia menggunakan diplomasi, menggunakan informasi, militer, ekonomi.
04:54Dan yang membuat Amerika kesulitan.
04:56Dan dia tahu di masa dekat ini akan ada pemilu selah.
04:59Dimana rakyat Amerika, negara kapitalis ini sangat tergantung dari
05:03satu adalah harga minyak yang terjangkau.
05:06Dua, harga makanan yang terjangkau.
05:07Tiga adalah bunga bank yang murah.
05:12Sehingga mereka bisa menggunakan kredit.
05:14Nah, masalahnya itu menjadi naik.
05:16Bunga bank sudah 7 persen.
05:17Makanan naik 30 persen.
05:19Bahan bakar sudah 75 persen.
05:21Itu yang akan membuat Trump.
05:22Jadi sekarang mereka bagaimana mengepus,
05:24sehingga Amerika kesulitan secara diplomasi, informasi.
05:27Komersi dengan jelek namanya, Trump jelek namanya,
05:29dan tidak mampu, pertama kalau dia tidak membalas Amerika kelihatan lemah.
05:33Tapi kalau membalas mereka kesulitan karena senjata untuk menyerangnya sedikit
05:37dan menyerang senjata untuk bertahannya sedikit.
05:39Akhirnya Iran sekarang memaksa eskalasi yang terbatas,
05:42tapi tetap meningkat untuk memaksa Amerika untuk tidak punya pilihan
05:45dan kelihatan jelek di mata dunia.
05:47Menarik untuk kita lihat seperti apa exit strategis dari perang
05:50yang akan diambil oleh Donald Trump dalam melawan Iran.
05:53Terima kasih Pak Agung Sasong Gojanti atas perspektifnya di Kompas Petang.
05:56Salam sehat.
05:58Salam.
Komentar

Dianjurkan