Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 16 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pidato Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY dalam perayaan 25 tahun Partai Demokrat kembali menjadi sorotan.

Pernyataan AHY mengenai kekuasaan, demokrasi, checks and balances, serta posisi Demokrat di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memunculkan beragam tafsir mengenai arah politik partai menuju Pemilu 2029.

Politisi Partai Golkar Ahmad Irawan bahkan membaca isi pidato tersebut sebagai sinyal bahwa AHY siap menjadi contender pada Pemilu 2029.

Pandangan itu juga mendapat dukungan dari Ade Armando yang menilai AHY memiliki kapasitas untuk maju. Sementara itu, pihak Demokrat menilai tafsir menuju politik praktis terlalu jauh dan menegaskan tetap mendukung pemerintahan Prabowo.

Produser: Prayogi Haro

Editor: Novaltri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/690226/debat-armanda-golkar-soal-ahy-pasang-kuda-kuda-menuju-2029-ada-sinyal-contender-bola-liar
Transkrip
00:00Bapak bicara soal kekuasaan, untuk mempertahankan atau menjaga tiket jadi cawapres?
00:04Ini kan momentumnya tepat ya, 25 tahun Partai Demokrat.
00:09Seperempat abad, itu momentum yang sangat besar.
00:12Dan ini kemudian disampaikan sebagai sebuah ruang refleksi sekaligus kontemplasi.
00:17Betul-betul disampaikan itu.
00:18Maka kemudian dalam konteks ini, kenapa misalnya tadi Bang Profesor Pendi menyampaikan
00:24mengapa konteks reformasi?
00:26Memang demokrat lahir pada momentum reformasi.
00:30Anak kandung reformasi kalau Mas Ketumahayu menyampaikan.
00:32Oleh karena itu, identitas atau jati diri itu ditampilkan kembali sebagai reminder, wake up call kepada para kader.
00:40Bagaimana kekuasaan dimanage, bagaimana kemudian netralitas kekuasaan negara harus dijaga,
00:45kemudian bagaimana kekuasaan itu harus ada check and balance yang memadai.
00:49Kalau dianggap itu sebagai sesuatu yang normatif, satu hal normatif.
00:53Tetapi di saat yang sama, itu adalah bagian dari upaya untuk menggugah kembali.
00:58Kesadaran para kader, supaya kembali pada konteks perjuangan kepartaian.
01:03Nah, oleh karena itu, ini sama sekali tidak ada sinyal dan bukan kemudian,
01:08kalau misalnya ada yang menspekulasikan sampai kemudian dengan urusan politik praktis,
01:13saya pikir itu spekulasinya terlalu jauh.
01:15Nah, oleh karena itu, di momentum ini sebenarnya, itulah mengapa kemudian materi pidato itu didiklirkan dari awal sampai akhir.
01:25Nah, kalau misalnya dibaca secara utuh, pesannya juga sangat clear.
01:29Kita berada di dalam pemerintahan Pak Prabowo, kemudian bagaimana kita menyukseskan program-program pemerintahan Pak Prabowo,
01:36dan di saat yang sama, ada penekanan misalnya.
01:41Kalau ada program yang sekiranya baik untuk masyarakat, harus kita dukung,
01:46tetapi kalau ada yang belum sempurna, kita bantu perbaiki.
01:49Tapi diklarifikasi, dipertegas pidato kedua, ingin meluruskan bahwa tetap mendukung pemerintahan Prabowo.
01:55Jadi ada revisi sedikit.
01:56Kenapa Tabayun itu diperlukan?
01:59Karena ada misleading.
02:00Misleading itu dari mana?
02:02Dari tafsir-tafsir.
02:03Namanya juga tafsir.
02:04Ya, tafsir yang bahkan juga dikomentari oleh Golkar.
02:07Nah, oleh karena itu soal yang lain.
02:09Itu mungkin tafsir yang disampaikan oleh teman-teman Golkar.
02:12Kita hormati tafsir itu.
02:14Tetapi, dari sisi Partai Demokrat, tafsir itu saya pikir terlalu jauh.
02:21Tetapi di saat yang sama, posisinya clear.
02:24Bagaimana kemudian itu dijelaskan kembali.
02:27Maka, ketika kemudian dihadapan Pak Prabowo,
02:30itu materi yang disampaikan Mas Ketumahai,
02:34itu diulang sekali lagi.
02:35Konteksnya apa?
02:36Asbabul-wurudnya seperti apa?
02:38Ini loh yang dijelaskan.
02:40Kemudian ada tiga tagline tadi.
02:42Apa itu?
02:43Memajukan ekonomi.
02:45Menegakkan keadilan.
02:46Menjaga demokrasi.
02:48Itu adalah sebuah wake up call untuk kembali pada hitoh perjuangannya.
02:51Karena memang kita anak kandung reformasi,
02:54di level itulah kemudian kita kembali mengkonsolidasikan kekuatan kita.
02:58Di situ poinnya.
02:59Oke, jadi Mas Hirawan, ini kalau kita dengar kemarin,
03:02Bang Doli, senior Anda, mengatakan,
03:04CKS tampaknya sedang pasang kuda-kuda.
03:07Baca buat 2029.
03:10Betul, itu betul.
03:11Saya membaca dan juga melakukan tabayun ke Bang Doli.
03:16Terkait dengan apa yang kemudian disampaikannya terkait dengan konteks pidatonya Pak Ahaye.
03:21Tetapi dalam poin penting dari yang disampaikan oleh Bang Doli itu,
03:26satu adalah bahwa setiap partai politik memang memiliki platform dan ideologi.
03:31Dan itu juga menjadi haknya oleh partai demokrat untuk kemudian menyampaikan pandangan-pandangannya.
03:37Apalagi dalam satu momentum ulan tahun yang menurut Pak Umam itu adalah seperempat abad.
03:44Tapi yang ditangkap oleh Golkar apa?
03:46Yang kami tangkap itu adalah menggunakan islah kontender.
03:50Karena begitu pidato Pak Ahaye itu menyampaikan potret,
03:55satu potret yang dianggap kekurangan-kekurangan.
03:59Dan kalau kita bicara konteks,
04:02konteks tentu yang alamatnya dari pidato tersebut adalah pemerintahan saat ini.
04:10Nah oleh karena itu konteks pernyataan itu juga sebenarnya menyampaikan,
04:14tidak dalam konteks perspektif untuk melakukan kritik terhadap partai demokrat,
04:20karena itu memang menjadi otonomi partai demokrat.
04:23Tetapi kami mengingatkan dalam perspektif bahwa partai demokrat ini bagian dari koalisi pemerintahan ini.
04:30Oleh karena itu setiap permasalahan yang dianggap permasalahan, kekurangan, dan lain-lain sebagainya,
04:36itu adalah, itu harusnya disampaikan dalam koalisi.
04:40Tidak disampaikan secara terbuka di depan.
04:42Tidak tepat disampaikan demikian Mas Umam.
04:44Kalau misalnya konteks kontender, itu bukan dari demokrat, itu dari Bang Doli.
04:50Mengapa kemudian itu disampaikan terkait dengan sisi positif, sisi negatif?
04:56Demokrat memang melampaui mistar sejarah, lintasan sejarah,
05:01pernah berada di pemerintahan, bahkan memimpin pemerintahan,
05:04pernah berada di luar pemerintahan.
05:06Saat ini berada di dalam pemerintahan, di bawah kemimpinan Presiden Perang.
05:09Tadi yang disampaikan oleh Mas Yirwan itu,
05:11kenapa yang disampaikan di koalisi, di internal begitu?
05:14Itu disampaikan, itu disampaikan.
05:16Dan di saat yang sama kemudian, ini adalah bagian dari ruang tabayun,
05:20disampaikan ada masalah ini, ada masalah ini,
05:23dan kita harus memiliki komitmen bersama,
05:25maka kemudian itu disampaikan sebagai pembulatan komitmen
05:28untuk ikut mendorong, membantu pemerintahan.
05:31Itulah kenapa, kalau misalnya kemudian Presiden Prabowo
05:35kemudian merespon secara positif, itu sebuah apresiasi.
05:38Artinya apa?
05:39Ya kita bicara dari hati ke hati, tidak ada yang ditutupi-tutupi.
05:42Maka dari awal sampai akhir, dibuka, terbuka.
05:45Nah, maka ada baiknya, memang memahami konteks itu,
05:50jangan sepenggal-penggal per kalimat.
05:52Itu ada memang sekitar 30 menit itu, materi pidato.
05:56Dan kalau misalnya kemudian dibaca secara utuh,
05:58sama sekali tidak ada satupun yang kemudian berpotensi,
06:03memberikan serangan atau bumer, enggak ada.
06:05Oleh karena itu, penebalan itu disampaikan secara gentleman,
06:08di hadapan Pak Prabowo.
06:10Dan Pak Prabowo menyampaikan itu,
06:12merespon itu juga secara simpatik.
06:15Dan ini artinya apa?
06:16Ya ada ruang dialektika.
06:18Dan di sisi yang lain tadi yang disampaikan oleh Prof. Selamat Ginting,
06:22relevan.
06:23Artinya apa?
06:24Di saat yang sama juga memberikan ruang kepada Presiden Prabowo,
06:28bahwa apapun nuansa dinamika di dalam koalisi,
06:32di dalam konteks relasi antar partai,
06:35beliau tetap mengayomi.
06:36Dan disampaikan kembali Mas Ahaye,
06:38apapun warnanya,
06:40berwarna-warna,
06:42merah, hijau, kuning, biru,
06:45salah satu yang kemudian punya kemampuan untuk merangkai itu adalah Pak Prabowo.
06:48Dan real, di atas kertas beliau bisa merangkai itu.
06:52Jadi Bang Ade,
06:54kira-kira kenapa teman-teman Golkar akhirnya merespon?
06:57Apakah mereka menilai bahwa Mas Ahaye ini sudah offside?
07:02Ini maksudnya Dolly?
07:03Ya, Dolly.
07:05Mas Irwan juga ngomong sih barusan.
07:07Ya, tapi saya justru akan mengatakan,
07:10saya setuju sekali dengan Bang Dolly itu.
07:11Saya nggak dengar tadi Anda ngomong apa ya awal kan?
07:14Karena saya terlambat.
07:15Tapi saya rasa itu sebuah cara baca yang sangat tepat,
07:20sangat pas.
07:21Ini adalah pernyataan tegas dari seorang ketua umum partai
07:26yang mengatakan kira-kira,
07:28walaupun 30 menit itu memang betul,
07:30bicaranya kesana kemari.
07:32Kesana kemari bukan dalam artian negatif.
07:34Tapi banyak hal yang dia sampaikan.
07:36Tapi itu adalah pernyataan tegas bahwa
07:38saya akan maju loh,
07:392029.
07:40Pernyataan tegas maju dari Mas Ahaye.
07:45Pesan politiknya itu ya?
07:46Pesan politiknya itu.
07:47Dan itu sangat bisa dipahami,
07:50termasuk juga kalau Anda mau bicara tentang Pak Jokowi dan macam-macam ya.
07:53Sekarang ini kita nggak usah berpura-pura lah ya.
07:57Kondisi, kan orang bilang ini masih 3 tahun lagi,
08:00jangan terburu-buru bicara.
08:013 tahun lagi, tapi lihat hasil-hasil survei.
08:04Untuk 2029 maksudnya sebagai capres atau cawapres?
08:08Yang dicari bangku yang mana?
08:09Nah, itu adalah soal lain tuh.
08:11Mungkin teman-teman demokrat bisa lebih menjelaskan.
08:14Dia akan dimana?
08:15Atau barangkali sekarang memang belum ditentukan.
08:17Tapi gini,
08:19selama ini atau semula kita menganggap
08:21bahwa pemerintahannya Prabowo Gibran
08:23adalah sesuatu yang solid.
08:25Bayangkan di akhir tahun lalu
08:27angkanya 80 persen kan?
08:28Approval rate-nya ya?
08:30Atau tingkat kepuasan,
08:31saya lupa istilahnya apa.
08:32Tapi kemudian turun-turun-turun.
08:3460, 50, terakhir kan?
08:37SMRC atau indikator.
08:38Itu drop yang luar biasa.
08:41Bahkan tempo bilang 37 persen.
08:4513.
08:4537 kan ya?
08:47Ya, tempo.
08:49Itu kan luar biasa.
08:50Maka sekarang politisi manapun,
08:52partai manapun,
08:53akan mulai berpikir
08:55apa yang akan kita lakukan
08:56dalam 3 tahun ke depan.
08:58Peluangnya jadi besar, jadi banyak.
09:01Nah, terkait dengan Pak Jokowi misalnya,
09:03kita harus ingat bahwa sekarang ini
09:06kita mulai juga melihat,
09:08saya bukan orang PSI ya.
09:09Saya juga bukan orang yang dekat dengan Pak Jokowi.
09:11Tapi kalau saya berada di sana,
09:13saya akan melihat bahwa
09:15kayaknya Prabowo Gibran itu
09:17belum tentu akan bertahan
09:192029 ini.
09:22salah satu kasus yang sangat terkenal
09:25akhir-akhir ini kan
09:25yang Mas Gibran itu ditaruh tempat duduknya
09:28tidak sejajar dengan Pak Prabowo kan?
09:31Dan tidak ada penjelasan yang memuaskan
09:34kemudian tentang mengapa dia ada di sana.
09:36Kembali ke penjelasan saya itu begini.
09:38Orang itu sekarang memang mulai
09:41berpikir bahwa
09:43eh, strategi untuk memenangkan 2029
09:46dan menjadi apa Anda 2029
09:48adalah harus dimulai dari sekarang.
09:51Dan itu juga dilakukan oleh Projo?
09:54Nah, saya rasa Projo itu agak offside kalau itu ya.
09:57Saya setuju.
09:58Pernyataan Pak Jokowi gimana?
09:59Dia kan juga menyinggung soal kekuasaan
10:00cuma sementara.
10:01Jangan menindas kalau ada sedang berkuasa.
10:03Anda harus,
10:04langsung tanda Budiari kan?
10:06Pak Budiari bilang,
10:07Pak Jokowi juga bicara,
10:09dia menyinggung soal kekuasaan.
10:10Ya benar.
10:11Beda-beda waktu juga.
10:11Budiari itu offside-nya karena bilang menurut saya
10:14mungkin tidak akan sampai 2029 nih.
10:18Saya duga sih itu tidak akan ada
10:21di dalam pikirannya Pak Jokowi.
10:23Pak Jokowi tipenya bukan orang yang
10:26kita ma'zulkan nih
10:27kalau ternyata tidak memuaskan pemerintah yang sekarang.
10:30Tapi apakah 2029 tetap akan Prabowo Gibran?
10:34Belum tentu.
10:36Kita harus mulai melihat kemungkinan-kemungkinan lain.
10:39Nah, kalau dalam pandangan saya ya,
10:41konteksnya ya harus begitu.
10:45Saya menduga Pak Ahaya itu
10:47tidak bicara sekedar pesan-pesan normatif,
10:51politik normatif ya,
10:52yang bersifat what are supposed to be gitu ya.
10:56Tapi dia bicara tentang,
10:58ingat ya,
10:59dia bicara pada semua teman-teman demokratnya.
11:02Dan sekarang Partai Demokrat kan lagi sangat aktif ya,
11:06menggalang dukungan.
11:09Saya mungkin salah,
11:11tapi saya punya kesan semacam itu.
11:13Aktif sekali menggalang dukungan dari masyarakat.
11:17Dia seperti bilang sama publiknya bahwa,
11:20siap-siap ya,
11:222029 I might be.
11:24Saya mungkin maju entah presidennya,
11:26walaupun saya menganggap benar bahwa orang seperti Ahaya bahkan
11:32tidak perlu ragu-ragu menurut saya untuk maju sebagai calon presiden,
11:37karena dia punya kapasitas untuk itu.
11:39Dia punya pengalaman, dia punya pemahaman, dia punya kemampuan.
11:44Dan didukung partai.
11:45Oke, baik.
11:47Sebelum saya nanti ke,
11:48sebelum saya ke Mas Hirawan maupun ke Mas Umam,
11:50saya ke Mas Bahtera kalau begitu.
11:51Tadi disampaikan oleh Bang Ade,
11:53bahwa ini merupakan sikap Ahaya,
11:55kemungkinan pernyataan politik maju 2029.
11:59Yang pertama tentu kami menghargai,
12:02menghormati setiap pendapat ataupun pandangan,
12:06baik itu partai yang berada di luar pemerintahan,
12:09begitu pun partai yang ada di koalisi.
12:13Tetapi bagi kami Partai Green Ra,
12:15pemilu kan tiga tahun lagi,
12:17artinya masih panjang, masih lama.
12:19Maka dari itu konsen dari Partai Green Ra sejauh ini adalah
12:22bagaimana mendorong agar Presiden Prabowo
12:26sebagaimana janji kampanye di 2024 yang lalu,
12:30janji kampanye itu terus kemudian ditunaikan
12:32kepada seluruh masyarakat kita.
12:35Karena kita sudah pernah berjanji di pemilu,
12:37maka dari itu kita terus mendorong
12:39agar semua program-program kerja yang sudah direncanakan
12:42dan dirancang oleh pemerintah yang sudah cukup baik ini
12:45yang disampaikan Pak Prabowo pada saat pidato tanggal 14 Agustus DPR kemarin.
12:50Banyak sekali capaian-capaian yang sudah dilakukan oleh pemerintah,
12:53tetapi itu tidak cukup.
12:55Negara harus terus hadir di tengah-tengah masyarakat kita
12:58karena situasi tentu tantangan global yang tidak mudah,
13:02begitu pun misalnya tantangan dalam negeri yang kita tahu ya.
13:05Ya, dan itu juga yang memang disampaikan,
13:07dijawab oleh Pak Presiden Prabowo kemarin.
13:09Ada kebakaran, dan maka dari itu konsen kami adalah
13:12saatnya sekarang mungkin barangkali ya,
13:14kita terus hadir di tengah-tengah masyarakat.
13:16Untuk berbicara pemilu, ada saatnya kita berbicara.
13:18Baik, Bang Batra, memang itu juga yang disampaikan oleh Pak Prabowo.
13:21Karena kalau setiap tahun pemilunya masih jauh,
13:24kita sudah berbicara pemilu,
13:25nanti juga rakyat menuntut kita sebagai elit politik,
13:28masa partai selalu ngomongin soal kekuasaan melulu,
13:31kapan bekerjanya untuk kepentingan rakyat.
13:33Jadi kemarin jawaban...
13:34...dari Partai Gerindra untuk terus mendorong
13:36agar semua program-program prioritas Presiden Prabowo
13:39bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
13:42Tapi yang mengkritik koalisi, Bang.
13:43Koalisi.
13:44Ya, Pak Prabowo kan terbuka ya,
13:46sering menyampaikan...
13:47Di bagian mana kritiknya?
13:50Misalnya...
13:50...bahwa kekuasaan hanya sementara.
13:54Pesan politik kata Bang Ade.
13:56Sebentar, jangan dilempar ke Bang Ade.
13:58Karena Bang Ade juga posisinya agak berbeda.
14:00Oke, silahkan.
14:00Dalam konteks itu, di bagian mana yang disampaikan kritik,
14:04kalau kekuasaan ada batasnya,
14:07semua referensi demokrasi kita
14:10mengajarkan begitu.
14:12Dalam konteks kekuasaan,
14:14itulah yang terjadi.
14:15Maka oleh karena itu,
14:16refleksi kesejarahan,
14:18demokrat pernah di pemerintahan,
14:20di luar pemerintahan,
14:21bahkan ketika di luar pemerintahan,
14:23pernah diancam,
14:24mendapatkan existential threat
14:26dari orang yang berada di sekitar kekuasaan.
14:29Maka refleksi itu betul-betul disampaikan secara mendalam.
14:32Ada konteks historis di situ.
14:35Nah, kalau misalnya kemudian itu ditafsirkan sebagai kritik,
14:38oleh karena itu dilakukan tabayun.
14:40Tabayun kepada siapa?
14:42Kepada langsung pemimpin pemerintahan ini.
14:44Kalau yang 7 September,
14:46ada kritik dong,
14:47Mbak Umam.
14:48Kalau yang 7 September?
14:49Kalau yang 9 September?
14:51Ini menjadi pertanyaan.
14:53Masuk juga Bang Ade.
14:54Bang Ade menonton juga nggak?
14:5630 menit pidato itu.
14:58Yang 7 September apa 9 September?
15:01Yang 7 kan panjang.
15:02Jadi begini.
15:03Yang 7 kan panjang.
15:04Nggak, maksud saya gini.
15:05Tanggap 7 September.
15:07Salah satu bagian dari yang 7,
15:08supaya menarik nih.
15:09Karena kan definisi orang kritik atau tidak,
15:12tergantung dari kita juga ya,
15:13pada waktu menonton.
15:14Salah satu yang penting itu menurut saya,
15:16itu adalah soal janji.
15:19Kita jangan terlalu banyak berjanji-janji.
15:22Yang lebih penting,
15:23rakyat hidupnya hari ini lebih baik dari kemarin.
15:26Tepuk tangan semua.
15:27Mahasiswa kalau ada yang penyaturan itu,
15:29saya nggak nyuruh tepuk tangan mahasiswa loh.
15:32Maksud saya,
15:32di dalam ruangan itu,
15:33tepuk tangan semua.
15:35Ini mahasiswa ngaco juga nih.
15:36Saya nggak bilang mahasiswa suruh tepuk tangan.
15:38Tapi di dalam ruangan pada waktu itu,
15:40tepuk tangan semua.
15:41Tepuk tangan, tepuk tangan.
15:42Saya boleh tes sedikit nggak nih?
15:44Antara kita yang mahasiswa yang di belakang nih ya.
15:47Hari ini kehidupan kita lebih baik dari kemarin atau tidak?
15:55Tuh, banyak-banyak yang geleng.
15:57Tapi mereka nggak berani ngomong.
15:58Justru saya menghargai
16:00kalau ada orang di dalam koalisi
16:03yang bicara seperti itu.
16:06Ini teman-teman Golkar nih.
16:08Jangan sensitif terhadap yang begitu.
16:10Karena yang kita khawatirkan,
16:12justru sekarang ini,
16:14Bang Umam,
16:15itu adalah ABS tadi.
16:18Asal Bapak Senang.
16:20Ya kan?
16:21Jadi semuanya itu
16:22terasa enak.
16:23Padahal ketika
16:25dicek hasilnya,
16:27tadi 37 persen
16:28kata Tempo.
16:29Itu di akhir Juli
16:30sampai 11 Agustus.
16:32Dibacakan 26 Agustus
16:33barusan gitu.
16:34Jadi,
16:35kalau saya membacanya,
16:37itu bisa sebagai kritik.
16:39Pada yang 7 September.
16:41Wah kan sempat menyinggung gitu loh.
16:43Apa itu reformasi yang lalu?
16:44Karena kita ingin memperbaiki
16:45supaya militer dan polisi
16:48tidak ikut main
16:49dari politik kekuasaan.
16:50Itu kan menarik.
16:52Betul kalau dibaca pada hari ini.
16:54Karena kita tahu kan,
16:55begitu KDM naik,
16:57wah dia besan siapa?
16:59Sehingga tidak terjadi
17:00pergantian ini dan itu misalnya.
17:02Ini kan soal politik kekuasaan.
17:04Harusnya kan,
17:06ya pimpinan militer
17:26itu dia membagi dua nih Bang Ade.
17:297 September,
17:30tanggung, tanggung, tanggung, tanggung.
17:32Di 9 September istilahnya tabayun tadi.
17:34Di depan Pak Prabowo mengatakan,
17:36enggak Pak, kita selalu sama-sama.
17:38Bapak bisa mengandalkan Partai Demokrat.
17:41Tapi bukan hanya yang tepuk tangan,
17:43tetapi juga ikut pekerja.
17:44Gimana?
17:45Tapi poinnya yang pertama tuh,
17:46tanggal 7 itu poinnya.
17:48Kalau statement itu,
17:49biasanya poin pertama itu
17:50yang paling pokok.
17:51Sama seperti tadi.
17:52Saya, walaupun Pak Jokowi
17:53ngomong apapun kemudian,
17:55saya tetap,
17:56poin saya nih boleh nih ya Bang?
17:58Ya enggak,
17:59tadi itu ada Pak Jokowi
18:00bicara waktu acara di daerah,
18:02Pak Jokowi langsung bicara.
18:04Abang itu mengkritisi
18:06apa yang dikeluarkan oleh Budiari.
18:09Bukan Pak Jokowi.
18:10Oh enggak, enggak.
18:12Saya boleh pilih juga dong.
18:13Abang boleh pilih,
18:14saya boleh pilih.
18:15Saya pilih yang disampaikan Budiari.
18:17Pertanyaan saya,
18:18kalau abang hadir pada waktu itu,
18:20enggak.
18:21Bicara soal AHA sebagai ketua umum,
18:23dan bicara Budiari,
18:25yang itu abang,
18:26abang coba klaim itu
18:28sebagian dari Pak Jokowi itu enggak?
18:29Bukan,
18:29saya tadi nanya.
18:31Nah ini kalau ahli komunikasi,
18:33atau belajar peneliti komunikasi,
18:35coba tabayun dulu.
18:36Kalau kebetulan abang hadir di acara itu,
18:39Pak Jokowi ngomong apa
18:40tentang Budiari waktu itu?
18:42Kan kita enggak lihat di video-video.
18:44Misalnya Pak Jokowi bilang,
18:45itu cuma perasaan be,
18:47Budiari aja loh.
18:48Saya enggak begitu.
18:48Nanti saya ceritain kalau bola liar,
18:50temanya itu bang.
18:51Oke.
18:52Sementara ini,
18:53saya tetap soal Budiari,
18:55karena saya anggap Pak Jokowi yang di sebelahnya,
18:58tidak membantah.
19:00Baik,
19:01saya ke Pak Kurniawan,
19:02sebagai relawan Prabowo,
19:04ada dua pesan politik yang disampaikan oleh,
19:06dua toko berbeda.
19:07Jadi sikap relawan sekarang gimana?
19:10Ribut partai politik itu kan biasa.
19:13Sekarang berangkulan,
19:14besok berantem kan?
19:15Karena semua karena kepentingan saja.
19:17Enggak ada di dalam dunia politik itu,
19:20kata setia.
19:21Enggak ada.
19:22Yang ada hanya kepentingan saja.
19:25Jadi,
19:25kalau yang disampaikan hari ini,
19:28sama yang disampaikan oleh Bapak seberang sana,
19:31yang paling penting,
19:33yang pidato pertama.
19:35Besok minta maaf,
19:37itu biasa.
19:39Iya kan?
19:39Nah,
19:40hari ini Budiari menyampaikan percepatan,
19:43besok minta maaf,
19:44sudah kita prediksi.
19:46Karena selalu,
19:47memang,
19:48ya cek ombak ya.
19:49Sama,
19:51ada yang sudah kebelet jadi presiden,
19:53ada,
19:54ada yang malu-malu banyak kan.
19:57Kalau demokrat,
19:59yang jelas,
19:59calon sudah ada.
20:01Bang,
20:01tadi abang bilang cek ombak,
20:03berarti Anda sendiri yakin kemarin videonya sengaja begitu?
20:06Diedarkan?
20:07Ya sengajalah.
20:07Sengaja.
20:09Tidak ada.
20:10Tidak ada yang tanpa sengaja,
20:12pasti sengaja ini.
20:14Karena pasti endingnya minta maaf kok.
20:16Tapi kalau Mas Ahaye,
20:18menurut Anda bagaimana?
20:18Lagi minta kepastian untuk kursi cawapres atau bagaimana?
20:21Ya,
20:22tidak juga.
20:22Tidak juga.
20:23Mas Ahaye,
20:24dia sportif,
20:25dia sampaikan itu.
20:27Kalaupun dia tiba-tiba cari jadi presiden juga,
20:30ya memang punya kesempatan.
20:32Yang susah yang sampai hari belum punya calon.
20:35Siapa?
20:36Siapa?
20:38Dari Golkar.
20:39Tapi memang,
20:40kalau dari Partai Gerindra sendiri,
20:42saya sepakat.
20:43Relawan juga nih ya.
20:44Ini baru tahun 2026.
20:46Pemerintahan Prabowo Gibran ini,
20:49masih fokus membenahi
20:50permasalahan-permasalahan yang ada di dalam negeri.
20:53Yang kedua,
20:54timingnya tidak pas karena apa.
20:56Yang salah satu pihak,
20:57kita masih fokus membenahi bencana di NTT,
21:01kebakaran hutan Sumatera dan Kalimantan.
21:04Yang satu udah kebelet nih.
21:07Siapa?
21:08Ya,
21:08ya itu yang pidato tadi tuh.
21:11Jadi makanya saya bilang gini.
21:12Siapa Pak yang pidato?
21:14Siapa?
21:14Yang pidato yang mana?
21:15Yang pidato ada dua orang.
21:17Ada dua orang pidato?
21:17Saya bahas yang mau Budiari.
21:20Yang Budiari.
21:21Iya kan?
21:22Yang Budiari.
21:23Jadi bukan Mas Ahaye maksudnya?
21:24Kita olah sih sama Batra sih.
21:25Iya kan kalau semua.
21:27Semua.
21:28Semua termasuk Mas Ahaye.
21:30Ada yang sudah kebelet.
21:32Ada yang malu-malu.
21:34Tapi pada intinya,
21:37semua orang pengen jadi presiden.
21:38Kecuali saya.
21:39Saya gak pengen jadi presiden.
21:41Jadi suami aja kadang-kadang masih salah.
21:44Ya kan?
21:44Gitu loh.
21:45Jadi intinya dalam dunia politik biasa ya.
21:49Ribut tuh biasa.
21:51Rangkulan tuh biasa.
21:52Dan yang ribut biasanya yang bukan presiden.
21:55Kalau presiden mah,
21:56diem aja dia.
21:57Saya selesaikan sampai tahun 2029.
22:00Tapi yang belum jadi presiden ini yang ribut.
22:03Tapi gak apa-apa.
22:06Itulah apa namanya sebuah negara demokrasi seperti itu mbak.
22:10Oke.
22:11Baik.
22:12Pak Selamat.
22:12Ada dua poros yang langsung menyampaikan pesan politiknya.
22:16Ini sebenarnya.
22:17Cek ombak ke Pak Prabowo maksudnya?
22:20Ya saya melihat gini.
22:21Harus melihat semua poros.
22:24Dari poros Solo.
22:27Kemudian poros Cikeas.
22:29Poros Hambalang.
22:30Saya membagi kira-kira kepentingan politik poros-poros ini sebagai berikut.
22:35Pertama tentu saja bahwa poros Hambalang itu ingin mempertahankan kendali pemerintahannya dan menyiapkan kesinambungan kekuasaan.
22:47Kemudian poros Cikeas tentu saja menjaga demokrat sebagai kekuatan independen untuk mempersiapkan diri di dalam Pilpres 2029.
23:00Lalu poros Solo yang saya baca tentu saja ingin membangun kembali jaringan politik pasca Presiden dan juga menaikkan posisi PEP.
23:19Lalu posisi poros Teku Umar saya kira juga harus dibahas di sini.
23:27Ingin mempertahankan PDIP sebagai kekuatan alternatif maupun penyeimbang.
23:32Dan kemudian juga poros Lipi dalam hal ini Golkar ingin menjaga posisi sebagai partai tengah yang pragmatis dan juga strategis.
23:44Lupa juga Surya Paloh sempat menjadi kingmaker dalam Pilpres kemarin.
23:49Karena itu poros permata hijau rumahnya beliau atau mungkin poros gondang dia, dia ingin mempertahankan fleksibilitasnya sebagai kekuatan tengah dan
24:02kemungkinan menjadi kingmaker juga pada Pilpres mendatang.
24:07Jadi betul-betul ada kepentingan-kepentingan politik dari poros-poros itu.
24:12Hambalang tentu saja ingin menjadi pusat gravitasi kekuasaan.
24:19Nah itu juga kemudian Prabowo tidak hanya ingin memiliki Gerindra tetapi juga punya otoritas sebagai Presiden.
24:28Nah ini keuntungan Prabowo karena itu persoalan bagi Prabowo bukan hanya memenangkan pemilu 2024 lagi.
24:39Tetapi juga bagaimana dia memastikan pemerintahannya tetap stabil sekaligus menentukan, dia sebagai penentu ingin menentukan siapa dan kekuatan apa yang
24:54akan menopang Gerindra maupun Prabowo di dalam konfigurasi politik 2029 mendatang.
25:02Jadi disinilah menurut saya respon Prabowo terhadap poros Cikeas maupun poros Solo seperti itu.
25:11Jadi makanya Prabowo justru di dalam pidato di tanggal 9 kemarin dia mengambil posisi bahwa kritik itu memang harus diterima.
25:25Kan sangat bijak sekali maka dalam demokrasi sepertinya dia sedang melakukan yang namanya manajemen koalisi agar dia tetap berada sebagai
25:37panglima koalisi di dalam pemerintahan.
25:40Oke baik, Bang Effendi pertanyaan selama ada dua poros yang menyampaikan pesan politik.
25:46Kalau Anda sendiri apakah melihatnya merupakan mau cek ombak ke Prabowo karena yang satu mungkin ingin jadi petahana di kursi
25:52Wapres atau yang satu juga ingin menjadi cawapres berikutnya?
25:56Kalau saya mau menjawab itu hampir sama dengan Bang Ade jalan pikirannya.
26:02Kalau 37 persen menjelang tahun kedua, saya rasa semua orang harus berpikir ulang.
26:10Bahkan ada kemungkinan pemikiran seperti Budiari tadi, ini terakhir nih Bang.
26:15Saya bahas Budiari, habis itu saya tunggu video Jokowi ya.
26:19Tapi pemikirannya dia itu muncul dari 37 persen ini.
26:24Kalau saya nambah lagi dengan pemikiran, tapi kalau ada yang bilang 73 persen silahkan juga loh, silahkan itu balik-balik
26:30aja angkanya gitu.
26:31Saya ngambil yang 37 persen karena saya percayalah itu ya, investigasi dan lain-lain gitu.
26:37Nah pada bagian lain yang mau saya katakan, kita juga berpikir kalau ini semua orang HBS tadi,
26:44kalau menyatakan dalam konteks pidato 7 September itu saja dianggap, bagi saya kritik.
26:50Tapi itu bukan bola liar gitu.
26:52Belum offside itu kalau menurut saya.
26:54Belum offside?
26:55Ya karena ya masih ada Far yang mengatakan itu belum offside lah.
26:59Karena 37 persen ditambah dengan orang lain tidak berani menyatakan apa yang benar.
27:05Semua menyatakan bagus-bagus, tinggal kiamat.
27:0837 persen itu berdasarkan surveinya si SEMPO.
27:12Tempo, Tempo.
27:13Tempo.
27:13Tempo, saya pikir SEMPO Mujani.
27:15Bukan, bukan. Malah dia agak lebih tinggi.
27:17Tapi ini yang lebih terakhir, 26 Agustus.
27:20Ada lagi sesudah itu ya?
27:21Enggak.
27:22Ada, ada.
27:24Jadi yang menarik itu Tempo setelah berkembang dengan mantan Presiden Jokowi di Solo.
27:31Tapi itu enggak termasuk dalam bagian metodologi.
27:34Itu makanya kan.
27:35Tapi saya bilang.
27:36Belum pernah kemudian Tempo mengeluarkan survei.
27:40Tiba-tiba menjadi lembaga survei.
27:42Ini juga jadi menarik.
27:43Tempo media, Tempo apa?
27:45Sains ya.
27:45Tempo sains.
27:46Tapi yang mau saya katakan bukan gitu.
27:48Kalau 37 persen, lalu enggak ada orang yang berani menyatakan kebenaran, itu asumsi saya pada malam ini masih begitu.
27:53Maka orang lain wajib berpikir ulang.
27:55Saya sedang tidak ingin memuji supaya AHY bisa maju.
27:59Enggak.
27:59Siapapun nanti bisa maju.
28:00Karena kan memang lagi 0 persen kan peraturan selanjutnya.
28:04Jadi kan abang kan bila mengkritik itu biasa.
28:07Abang menganggap bahwa pidato mas AHY itu biasa dong.
28:11Jangan sampai ABS.
28:11Maksudnya kalau Golkar itu ABS.
28:13Gimana?
28:14Kalau Golkar ABS.
28:15Terlalu sensitif.
28:16Terlalu sensitif.
28:17Baper, baper.
28:18Enggak ABS tapi kebiasaan yang ada di Golkar.
28:22Tempatan untuk menjawab, justru partai Golkar itu hanya memberikan penilaian atas pemahamannya terhadap kritik yang disampaikan oleh Pak AHY dalam
28:31pidato.
28:31Yang menurut Golkar itu offside?
28:34Kami enggak mengatakan itu offside.
28:37Karena itu adalah haknya dan otonominya sebagai suatu partai politik.
28:41Kami ingin hanya mengatakan bahwa dengan pidato Pak AHY begitu, esensi seperti itu.
28:46Rasa-rasanya Pak AHY siap menjadi kontender pada pemilu 2029.
28:52Justru.
28:53Terhadap petahana maksudnya mas.
28:54Terhadap petahana.
28:55Dan partai Golkar tidak ada sama sekali, apa tadi tuh, bahasa Pak Effendi Gosali itu sensitif.
29:03Tidak ada sensitif.
29:05Justru menjadi bola liar ketika misalnya partai demokra teraktif.
29:08Dan justru Pak Effendi saya mengatakan bahwa justru yang disampaikan Pak Umam itu mengurangi esensi yang disampaikan oleh Pak AHY
29:17kalau kemudian menurunkan anunya, menurunkan level pidato tersebut menjadi hanya sesuatu yang sifatnya normatif saja.
29:26Kalau kita lihat analis yang hadir di sini, semua menyetujui bahwa itu adalah satu kritik kemudian Pak AHY punya kualitas
29:35untuk kemudian maju dalam pemilu 2029.
29:38Nah itu kan ini analis yang mengatakan, bukan partai Golkar.
29:42Yang kedua, tadi menanggapi bahwa partai Golkar menjaga posisinya di tengah dan pragmatis.
29:51Sebenarnya kalau kami, justru bahasa kami, penilaian itu kan silahkan saja menilai, memahami institusi kami seperti itu.
30:00Tetapi kami ingin menjaga konsistensi dan loyalitas kami.
30:03Karena satu, bahwa keputusan partai Golkar itu telah menegaskan bahwa kami akan menjaga pemerintahan ini, Pak Prabowo dan Pak Gibran
30:12selesai sampai dengan 2029.
30:14Nah ada pun kemudian tadi beliau menyampaikan, ini Golkar belum ada calonnya.
30:21Memang kami tidak saat ini menganggap belum waktunya untuk kemudian kita mendiskusikan calon presiden, khususnya kami di partai politik.
30:30Mungkin beda dengan relawan, kapan saja bisa bicara partai politik.
30:33Tapi kami punya satu tanggung jawab di koalisi, kami punya tanggung jawab di parlemen, kami juga punya tanggung jawab bagian
30:40dari pemerintahan ini.
30:41Karena ada beberapa, banyak hal program prioritas yang ini adalah tahun ke-2 dan menjadi direktif presiden, itu harus kita
30:48jaga dan pastikan eksekusinya berlangsung dengan baik.
30:52Karena dampaknya akan sangat besar bagi perbaikan banyak hal kesejahteraan rakyat, termasuk kritik Parti Demokrat itu, bahwa nilai-nilai statistik
31:03ekonomi itu harus didekatkan dengan hidupan rakyat.
31:06Sebelum dijawab sama, silahkan Mas Umam.
31:08Begini, kita itu hidup dalam satu ekosistem yang belakangan ini ya, dimana kecepatan jempol itu lebih cepat daripada kecepatan berpikir.
31:24Kecepatan scrolling itu, scrolling baru sebentar, tapi kesimpulannya itu sudah panjang, kemana-mana, jauh kemana-mana.
31:32Jadi begini Bang, timelinenya begini, pidato yang disampaikan oleh Mas Ahaye, itu dilakukan tanggal 5 September, hari Sabtu malam.
31:41Kemudian di situ momentum menjelang 25 tahun ya, Partai Demokrat, kader-kader utama dikumpulkan.
31:49Kemudian hasil dari proses pidato itu, kemudian ditayangkan, tadi yang disampaikan oleh Bang Pendi, ditayangkan di TV tanggal 7 September.
32:00Statement dari Mas Doli, dari teman-teman Golkar, bukan disampaikan setelah menonton utuh 7 September, tepatnya disampaikan tanggal 6.
32:11Ada momentum di situ, maka ketika kemudian disampaikan dengan ini soal kritik, soal kemudian kontender.
32:20Bahkan kemungkinan katanya kontender untuk petahana katanya.
32:23Nanti di respon, kamisya, kamisya, saudara, tetapi bolanya.
32:25Kita lanjutkan di sini.
Komentar

Dianjurkan