- 16 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Sinyal politik menuju Pilpres 2029 mulai menjadi sorotan meski kontestasi masih terbilang jauh.
Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi soal percepatan pemilu, komentar Presiden Joko Widodo mengenai kekuasaan yang memiliki batas, hingga pidato AHY yang menyinggung kekuasaan kembali memunculkan spekulasi mengenai arah politik ke depan.
Dalam diskusi Bola Liar, para narasumber membedah pesan politik di balik pernyataan Jokowi dan AHY serta posisi Partai Demokrat di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali bahkan menilai AHY layak dipertimbangkan untuk Pilpres 2029 dan secara terbuka mengatakan, "ketimbang Gibran, mendingan AHY."
Sementara itu, respons Prabowo yang menyebut kritik sebagai "vitamin demokrasi" turut dibaca sebagai upaya menjaga stabilitas politik dan meredam eskalasi menuju kontestasi 2029.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/690223/effendi-gazali-terang-terangan-pilih-ahy-dari-gibran-ini-respons-selamat-ginting-semar-bola-liar
Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi soal percepatan pemilu, komentar Presiden Joko Widodo mengenai kekuasaan yang memiliki batas, hingga pidato AHY yang menyinggung kekuasaan kembali memunculkan spekulasi mengenai arah politik ke depan.
Dalam diskusi Bola Liar, para narasumber membedah pesan politik di balik pernyataan Jokowi dan AHY serta posisi Partai Demokrat di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali bahkan menilai AHY layak dipertimbangkan untuk Pilpres 2029 dan secara terbuka mengatakan, "ketimbang Gibran, mendingan AHY."
Sementara itu, respons Prabowo yang menyebut kritik sebagai "vitamin demokrasi" turut dibaca sebagai upaya menjaga stabilitas politik dan meredam eskalasi menuju kontestasi 2029.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/690223/effendi-gazali-terang-terangan-pilih-ahy-dari-gibran-ini-respons-selamat-ginting-semar-bola-liar
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Halo selamat malam saudara, boleh liar kembali menggelindingkan rapan anda.
00:05Kontestasi 2029 masih lama, pemerintahan Prabowo Gibran pun masih terbilang muda.
00:11Tapi sinyal politik sudah kencang bergema.
00:14Bukan dari luar sinyal kontestasi dari internal justru santer terdengar.
00:19Adu narasi, kalaupun dianggap bukan friksi, mencuat sejak viral video pernyataan Ketua Umum Projo Budi Ari Setiadi
00:26yang menyinggung percepatan pemiluk.
00:29Lalu Jokowi menyinggung soal kekuasaan saat detik, hanya sementara.
00:34Ia mengingatkan tidak baik kekuasaan yang besar dipakai menjatuhkan orang lain.
00:40Rentang sepekan, giliran Ketua Umum Partai Demokrat Agus Sari Murti Yudhoyono angkat bicara.
00:46Entah kebetulan, AHY juga menyinggung kekuasaan yang ada batasnya.
00:50Bukan milik seseorang selamanya.
00:53Entah maksud AHY, entah Jokowi, entah pula kepada siapa pesan mereka itu ditujukan.
01:00Bola sudah kadu menggelinding liar.
01:03Ada apa dibalik narasi kekuasaan itu?
01:06Apakah pada akhirnya sinyal politik bakal berubah jadi kontestasi terbuka?
01:11Selengkapnya, dalam bola liar.
01:13Bersama saya, masih tertarikan.
01:26Selamat malam.
01:45Pak Jali, pakar komunikasi politik.
01:47Selamat malam.
01:48Selamat malam, Yulona.
01:49Selamat genting pengamat politik Universitas Nasional.
01:52Selamat malam.
01:53Selamat.
01:54Dan nanti juga akan bergabung bersama kita, Ade Armando, Ketua Pergerakan Indonesia untuk semua.
01:59Kita masih menunggu beliau, tapi kita lanjutkan saja diskusi kita.
02:03Saya ke Bang Effendi, kalau begitu.
02:05Bang Effendi, langsung saja ke Anda.
02:07Menurut Anda, apa pesan politik baik Bidato AHY maupun Jokowi yang sama-sama menyinggung soal kekuasaan hanya sementara dan ada
02:16petasnya?
02:17Ya, pertama, selamat malam semuanya.
02:19Teman-teman, mahasiswa ini belum diperkenalkan.
02:21Ya, dan saya hadir di sini karena ini ada kaitan.
02:29Saya hadir di sini karena ada kaitannya dengan bola.
02:32Tapi apa yang Anda sampaikan tadi, Ilona itu bagian yang liarnya.
02:36Liarnya itu yang pertama.
02:37Yang bikin liar bukan kita.
02:39Apanya?
02:39Yang bikin liar kan bukan kita.
02:40Oh justru saya mau menunjukkan siapa yang bikin liar.
02:43Silahkan lanjut.
02:43Yang pertama, tadi Budi Ari videonya tadi, kalau itu dianggap bersama-sama dengan Pak Jokowi dalam komunikasi, bola liarnya itu
02:52di mana?
02:52Bola liarnya adalah kita tidak melihat pidato Pak Jokowi sesudah itu.
02:58Atau tanggapan Pak Jokowi sesudah Budi Ari mengatakan perasaan saya ini atau analisis saya itu hak dia loh.
03:05Setiap warga negara berhak kan melakukan analisis gitu.
03:08Wah ini lebih cepat dari 2029.
03:10Tapi kan kita gak pernah melihat Pak Jokowi, saya belum lihat Pak Jokowi habis itu menanggapi misalnya, ada gak videonya
03:16gitu.
03:16Jadi tolong kalau ada, tolong disampaikan di sini.
03:19Misalnya Pak Jokowi mengatakan, ah itu kan hanya perasaan Dari saja.
03:22Padahal suasana baik-baik saja.
03:25Jadi opini liar seperti itu, janganlah dikembangkan misalnya.
03:29Malah nambah lagi nih tadi, Gibran dan KDM ya?
03:33Iya.
03:34Jadi ini semakin liar bolanya pada konteks itu.
03:37Kalau AHY, saya melihat ini bagus ketika mengingatkan, kalau saya bawa ke bola sesungguhnya ya, Spanyol Argentina misalnya.
03:48Ini kan mereka yang juara bertahan Argentina, tapi perlu mengingatkan ketika Paredes ataupun Enzo Fernandez bermain kasar.
03:58Atau bermain tidak seperti yang dibayangkan gitu.
04:01Dan akan kalah nantinya gitu.
04:03Dan itu diingatkan oleh AHY, saya mengutip dari dua pidato itu, bukan hanya soal kekuasaan tidak untuk selamanya,
04:12tetapi juga ada kata-kata penting di situ.
04:14Yaitu tiga intinya ya, ekonomi, keadilan, dan demokrasi.
04:19Nah dalam pidato yang sama, dia juga menekankan di awalnya itu waktu pidato terhadap publik itu,
04:24ingat reformasi dulu katanya, di mana di situ ada militer dan polisi ikut main dalam politik kekuasaan.
04:33Jadi saya melihatnya dalam satu rangkaian itu, bahwa di bagian itu jangan adalah pemain-pemain liar selanjutnya ke depan.
04:40Jadi kalau dikaitkan dengan 2029, saya ingin mengatakan bagian yang pertama tadi,
04:48yang lebih banyak liarnya, yang ada pertemuan tadi, yang tidak ada video selanjutnya.
04:53Kalau Pak AHY, menurut saya bagus dalam rangka menyampaikan ke depan apa yang bisa dilakukan bersama gitu ya,
05:02untuk sampai ke 2029 gitu.
05:04Tetapi pada bagian lain, kalau ada tadi, ada Golkar di sini juga kan ya,
05:08yang menerjemahkan bahwa dia akan maju, ya nggak apa-apa lah.
05:11Kalau saya pribadi, saya terang-terangkan di sini, ketimbang Gibran yang mendingan AHY lah gitu ya.
05:17Itu saya yang mengatakan, oh kenapa Pak Effendi, oh ada yang tertangkan di sini,
05:22sambil nunggu Bang Ade Armando kita ya, mungkin di jalan dia nonton.
05:26Kenapa? Saya bayangkan loh, seorang AHY itu juga putra mahkota, dalam tanda petik nih.
05:33Ya kan? Tapi majunya pelan-pelan tuh, ya nggak langsung nabrak-nabrak konstitusi gitu,
05:39pelan-pelan aja gitu. Dan saya nggak bisa bayangkan, ini bola yang lebih liar,
05:44kalau Gibran yang pidato seperti AHY gitu.
05:47Ya kan? Coba sama-sama ya, kita bayangkan loh.
05:51Anda bayangkan Gibran yang pidato seperti AHY.
05:54Apa yang mau dia katakan dalam konteks sinyal politik 2029? Itu aja dulu.
06:00Oke, nanti saya ke Bang lagi, sekarang kita panggil Kang Ade Armando,
06:04Ketua Pergerakan Indonesia untuk semua Bang Ade.
06:07Selamat datang, silakan.
06:09Yang tadi saya sampaikan.
06:11Iya, iya, dengar.
06:11Udah dengar, dan dia siap menjawab abang habis ini.
06:14Apa kabar?
06:15Saya ke Pak Selamat kalau begitu.
06:16Pak Selamat, pesan politik apa yang ingin disampaikan oleh AHY maupun Jokowi,
06:21dan untuk siapa pesan itu?
06:25Jadi Poros Solo maupun Cikeas itu sedang memainkan dua pesan sekaligus.
06:32Pertama, Poros Cikeas dalam hal ini AHY, dia itu sebagai menko di pemerintahannya Presiden Prabowo,
06:45tapi di sisi lain ada posisi yang unik.
06:50Dia juga harus menjaga dua keseimbangan.
06:53Keseimbangan loyalitas sebagai bagian dari pemerintahan Prabowo,
06:59kemudian independensi politik sebagai ketua umum Partai Demokrat.
07:05Karena itu, pidato AHY yang mewakili Poros Cikeas ini tidak tepat dibaca semata-mata sebagai kritik terhadap pemerintah Prabowo,
07:16tapi lebih tepat mungkin dipahami sebagai upaya reposisi Poros Cikeas dalam pemerintahan Prabowo.
07:29Nah, AHY perlu menunjukkan juga kepada publik dan juga kepada kader Partai Demokrat
07:37bahwa partainya bukan sekadar pelengkap koalisi, tetapi juga mempunyai gagasan, sikap, dan juga identitas politik sendiri.
07:47Yang artinya pesan ini disampaikan untuk siapa?
07:50Pesan ini tentu saja disampaikan, pertama ya, kalau kita lihat pidato AHY pada tanggal 7 berbeda dengan pidato AHY pada
08:02tanggal 9.
08:03Jadi pidato pada tanggal 9 itu sebagai sinyal, maka pidato pada tanggal 9 September itu menjadi klarifikasi politik.
08:15Jadi secara komunikasi politik terdapat pola yang menarik.
08:207 September pidatonya mengeluarkan pesan yang relatif terbuka dan juga berpotensi, berpotensi ditafsirkan sebagai kritik.
08:31Tidak salah. Karena itu reaksi partai politik itu muncul semuanya.
08:37Baik itu koalisi partai di koalisi pemerintahan maupun yang di luar.
08:43Termasuk Poros Tegu Umar.
08:45Sayang sekali Poros Tegu Umar tidak hadir di sini dan juga Poros Slipi mestinya ada di sini.
08:55Ini juga Poros Permata Hijau dalam hal ini Nasdem.
09:00Nah reaksi kalau kita baca pidato 9 September AHY itu melakukan semacam reframing atau pembingkaian ulang terhadap pesan yang disampaikan
09:15pada tanggal 7 September.
09:18Mengapa? Artinya begini, ketika pesan awal menimbulkan interpretasi yang terlalu luas,
09:26maka komunikator politik kemudian memperjelas maksud agar tidak berkembang menjadi konflik politik.
09:36Jadi ini memang merupakan teknik di dalam komunikasi politik yang lazim.
09:43Caranya mengirim sinyal lalu membaca respon dari elit.
09:49Elit partai politik, elit poros-poros yang cukup kuat dan juga kemudian melakukan koreksi atau klarifikasi.
09:58Jadi beda membaca pesan pidato 7 September dengan pidato 9 September.
10:07Nah menariknya juga adalah Prabowo itu, Presiden Prabowo tidak menanggapi pidato dari Poros Solo.
10:18Tidak ada tanggapan.
10:20Tapi Prabowo menanggapi pidato dari Poros Sikias.
10:26Mungkin karena kebetulan tanggal 9 September itu adalah ulang tahun Partai Demokrat dan beliau diundang di situ.
10:35Sehingga mau tidak mau harus menyampaikan pesan.
10:39Menarik bagi saya respon yang diucapkan oleh Presiden Prabowo.
10:45Ini sebenarnya ada beberapa pilihan dari Presiden Prabowo.
10:50Tapi dia mengambil satu hal yang menarik, yang coba membuat keuntungan bagi pemerintahannya.
11:00Ia bisa saja membalas kritik itu secara keras.
11:05Tetapi Prabowo lebih memilih pendekatan yang berbeda.
11:10Kritik dianggap sebagai vitamin demokrasi.
11:14Dan itu dibutuhkan.
11:15Nah tentu saja semua orang kalau bicara seperti itu.
11:20Tidak mungkin kemudian di dalam hatinya,
11:24Aduh ampun nih ngeriti gue.
11:25Tidak mungkin kan.
11:26Oke, artinya baik Ahai maupun Jokowi sama-sama mengeluarkan pernyataan,
11:33mengirimkan pesan politik kepada Prabowo ya atau tidak?
11:36Ya betul.
11:36Jadi kemudian Prabowo melakukan yang namanya deeskalasi konflik.
11:44Supaya konflik tidak membesar.
11:46Karena sebagai orang dengan background militer,
11:50dia jaga betul stabilitas politik.
11:54Menjaga stabilitas artinya masih ingin memeluk demokrat
11:57yang mungkin punya pendirian,
12:01menyatakan sikap sebagai partai yang mandiri.
12:03Ya, tentu saja pertama yang saya bilang tadi,
12:07deeskalasi konflik.
12:09Yang kedua, dia ingin membangun citra
12:12sebagai confider,
12:15leader.
12:16Jadi pemimpin yang merasa kuat,
12:19tidak perlu harus membalas kritik atau serangan.
12:22Jadi dengan menerima kritik,
12:25Prabowo memposisikan dirinya
12:27sebagai pemimpin yang berada di atas konflik elit.
12:31Oke, nanti saya lanjut lagi ke Anda.
12:33Kang Semar,
12:34Pak Jokowi juga sebenarnya melakukan penyataan
12:36menyinggung soal kekuasaan.
12:37Tapi yang dijawab oleh Pak Prabowo,
12:39cuma AHY,
12:40tapi tidak menjawab pidato Jokowi.
12:43Kan besti memang.
12:44Oh, karena besti.
12:45Besti.
12:46Ya kalau hopeng kan gitu,
12:48teman dekat.
12:49Pertama memang menarik tadi,
12:51Bang Effendi coba untuk menggambarkannya,
12:55soal statement dari Pak Jokowi,
12:59yang sebenarnya tadi yang lebih dikritisi oleh Bang Effendi
13:04bukan statementnya Pak Jokowi.
13:06Statementnya Budiari,
13:08dan ada satu orang lagi audiens.
13:10Budiari,
13:11itu kan semua juga tahu,
13:13memang Budiari ini sudah jelas-jelas,
13:15tegas-tegas menyampaikan
13:16bahwa Projo bukan Projo Kowi.
13:19Bahwa Projo akan mengganti logonya.
13:22Begitu ya.
13:24Nah, kedudukan Budiari dalam
13:28kubunya Pak Jokowi,
13:29itu juga harusnya dievaluasi juga.
13:31Apakah betul Budiari itu bisa mempresentasikan
13:34pemikiran Pak Jokowi?
13:35Tentu tidak, kan gitu ya?
13:36Tentu tidak, meskipun waktu
13:38Pak Budi itu berada di samping Pak Jokowi.
13:41Tentu tidak, karena memang audiensinya itu
13:42semi terbuka itu.
13:43Pak Jokowi bahkan juga tidak tahu
13:45kalau misalnya relawan siapa saja yang datang.
13:48Orang mengajukan, misalnya angkat tangan,
13:50mau tanya, terus tiba-tiba
13:51dia sebut nama KDM.
13:52Kan begitu ya.
13:53Terus salahnya di mana?
13:55Kan ini soal selera juga.
13:56Kalau misalnya tadi Bang Effendi,
13:58dia seleranya ah aja,
13:58boleh juga, kan gitu ya.
14:00Boleh juga, kan gitu ya.
14:01Walaupun belum tentu menang juga, kan begitu ya.
14:03Nah, saya hanya melihat begini.
14:06Dalam politik itu selalu dikenal dengan
14:08bagaimana kita mengelola segala kemungkinan.
14:10Nah, orang politik yang basisnya memang basis sosial,
14:15pasti dia melakukan upaya-upaya
14:17penguatan-penguatan interaksi sosialnya.
14:20Itu sudah jelas itu.
14:21Jadi kalau misalnya dalam kontestasi 2024,
14:24yang baru lalu,
14:25tiba-tiba kita tidak duga
14:28Anies tidak berpasangan sama AHY,
14:30itu luar biasa.
14:31Itu namanya seni kemungkinan, kan gitu ya.
14:33Kenapa tiba-tiba Caimin Maju sebagai Cawapres, kan gitu.
14:36Atau misalnya kita tidak duga-duga
14:38tiba-tiba Gibran menjadi wakilnya Pak Prabowo.
14:41Termasuk juga bagaimana Ganjar,
14:42kenapa dia tidak pilih Erick Thawir, bisa ya.
14:45Atau dia tidak pilih Erick Thawir, Sandiaga Uno,
14:50atau Ridhan Kamil waktu itu yang sudah masuk
14:52kandidat Cawapresnya Ganjar.
14:54Yang dipilih Mahfud.
14:55Nah, berarti dalam politik semua orang
14:59mengelola segala kemungkinan-kemungkinan
15:01yang akan terjadi di 2021.
15:02Termasuk soal penyataan Pak Budi,
15:05video yang viral itu,
15:06dianggap, dinilai oleh orang,
15:08sengaja dibocorkan.
15:11Tidak juga, Pak Jokowi juga marah juga kok soal itu.
15:13Karena menurut Pak Jokowi itu pemikirannya Budi Ari.
15:16Pemikiran Budi Ari yang jelas-jelas juga menyatakan
15:19bahwa dia akan mendukung penuh partainya
15:21Presiden Prabowo, Grindra.
15:23Tapi kan ditolak, kan gitu ya.
15:25Jadi berubah haluan lagi, gitu loh.
15:27Jadi maksud saya,
15:28ada beberapa hal statement yang keluar dari manapun
15:31itu tidak juga linier dengan apa yang dianggap
15:37bahwa itu suara dari solo.
15:38Suara dari manapun, gitu.
15:40Tapi saya setuju,
15:41kalau bicara soal AHY,
15:43saya rasa AHY sudah layak untuk maju
15:45sebagai calon presiden.
15:46Sudah cukup matang,
15:48kota umum partai, kan begitu ya.
15:50Dan statement yang disampaikan oleh AHY
15:52ini normatif aja sebagai bagian dari orang
15:55yang menjabat sebagai ketua umum partai.
15:58Jadi maksudnya biar nanti
15:59Mas Gibran tetap berpasangan
16:00jadi wapresnya Pak Perbowo gitu ya?
16:02Nggak juga.
16:03Kan gitu ya.
16:03Persoal ini kan seni kemungkinan ya.
16:05Nggak juga.
16:06Bisa juga Mas Gibran juga
16:09sama AHY bisa juga.
16:10Kan gitu ya.
16:12KDM dengan AHY bisa juga.
16:14Ini seni kemungkinan.
16:15Kita juga nggak pernah berduga kok
16:16di periode keduanya Pak SBI itu
16:17dengan Pak Budiono nggak kita duga juga.
16:20Jadi maksud saya
16:21jangan juga kita seakan-akan
16:23itu kebakaran jenggot
16:25dengan statement-statement
16:26yang itu dalam politik real
16:27itu biasa.
16:29Dalam politik real
16:30orang menjaga semua kemungkinan
16:32itu biasa.
16:32Pada titik tertentu
16:34pada waktunya nanti
16:35Pak Perbowo sama Mas Gibran juga
16:36jangan kaget juga
16:37jangan marah-marah juga
16:37Bang M.P Niko Zalinya gitu loh.
16:39Ternyata Pak Perbowo masih milih itu
16:41dibanding AHY.
16:41Oke, dari Mas Umam
16:42kenapa tiba-tiba Mas AHY
16:44bicara soal kekuasaan
16:46nanti dijawab
16:46kami sering kembali
16:47soalnya tetap di Pulau Liar.
16:49Terima kasih.
16:54Terima kasih.
16:55Terima kasih.
16:57Terima kasih.
16:58Terima kasih.
Komentar