Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kebakaran hutan dan lahan di Kutai Kartanegara mendekati permukiman di Desa Budaya Sungai Bawang pada Kamis (10/9/2026) sore hingga malam.

Kencangnya angin membuat api cepat merambat ke kawasan lain hingga membakar satu sarang walet dan kandang babi.

Lahan gambut yang terbakar di kawasan Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih menyisakan asap pekat.

Meski penanganan karhutla terus dilakukan, sejumlah titik api masih berpotensi kembali muncul.

Berikut laporan jurnalis KompasTV, Esra Ambarita, dan juru kamera Junaidi Saputra.

Baca Juga Dari Ikan Cakalang Jadi Abon, Perempuan Kampung Seget Kembangkan Usaha | SAPA SIANG di https://www.kompas.tv/regional/690154/dari-ikan-cakalang-jadi-abon-perempuan-kampung-seget-kembangkan-usaha-sapa-siang

#karhutla #asap #kabutasap #kebakaranlahan

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/690157/kebakaran-lahan-gambut-di-palangka-raya-sisakan-asap-pekat-kompas-petang
Transkrip
00:00Kebakaran hutan dan lahan di Kutai Kartanegara sodara mendekati permukiman di Desa Budaya Sungai Bawang kami sore hingga malam.
00:17Kencangnya angin membuat api cepat merambat ke kawasan lain hingga membakar satu sarang walet dan kandang babi.
00:45Yang terjadi sana adalah rumah walet yang memang walet itu sudah lama tidak dipakai.
00:54Oke terbakar kedua rumah yang memang dipakai untuk petanakan ya.
01:04Sodara lahan gambut yang terbakar di kawasan Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah masih menyisakan asap pekat.
01:11Meski penanganan karhutlah terus dilakukan, sejumlah titik api masih berpotensi kembali muncul.
01:17Berikut laporan jurnalis Kompas TV, Esra Ambarita dan juru kamera Junaidi Saputra.
01:24Sejumlah penanganan terus dilakukan pemerintah untuk memadamkan api pasca terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan.
01:32Dan saat ini saya sedang berdiri di Kecamatan Sebangau di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
01:38Situasinya saudara, ini masih dalam kondisi banyak asap yang menyiliputi kawasan ini.
01:46Dimana ketika kami pun datang ke sini, asap ini begitu pekat, begitu terasa.
01:52Bahkan kami pun harus menggunakan masker yang cukup tebal.
01:55Dan juga kalau kena mata ini tentunya sangat cukup perih.
01:59Sehingga butuh perlindungan untuk mata dan juga pengguna as masker.
02:03Melalui juru kamera Kompas TV, Junaidi Saputra, kita tunjukkan lebih dekat bahwa ini merupakan lahan-lahan gambut yang terbilang sulit
02:11sekali dipadamkan.
02:12Meskipun kita ketahui sejak Agustus dari pemerintah sudah berupaya maksimal mulai dari penanganan udara darat dilakukan.
02:20Tapi karena lahannya, lahan gambut, mungkin di permukaan terlihat sudah padam.
02:26Tapi nyatanya di dalam atau di kedalamannya ini masih ada menyimpan darah panas.
02:30Mengingat sekali lagi, lahan hampir di seluruh tempat saya berdiri ini adalah lahan gambut.
02:37Nah, asap-asap ini juga masih cukup tebal.
02:39Dan sesekali karena angin yang kencang, kami tadi sempat memantau, masih ada api yang kerap kali menyala.
02:47Bukan hanya karena lahannya saja yang dari gambut, tapi juga kondisi angin.
02:53Kondisi angin apalagi di malam hari, di waktu kami melaporkan kurang lebih pukul setengah 6 sore.
02:59Oke, tentunya ini anginnya kencang dan membuat api sesekali menyala.
03:04Lalu, tepat di sebelah kiri saya, saya akan coba tunjukkan kembali bahwa ini kurang lebih sebenarnya dekat dengan permukiman warga.
03:13Saat kami menuju ke sini, ini jaraknya kurang lebih sekitar 50 meter.
03:17Tapi masih ada juga jalan menuju pemukiman yang jaraknya ataupun untuk angin yang membawa udara ini cukup terasa pekat dan
03:29cukup mengganggu kesehatan.
03:30Maka dari itu, dari pemerintah terus mengimbau sebenarnya bahwa apabila mendekati kalasan ini,
03:36menggunakan masker, kemudian mengurangi aktivitas di luar ruangan.
03:40Esra Ambarita, Yudadisa Putra, Kompas TV, Kalimantan Tengah.
Komentar

Dianjurkan