Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia masih terjadi. Bahkan mengancam kesehatan warga hingga ke negeri tetangga.

Warga berharap kepada pemerintah bisa segera menanggulangi kebakaran lahan karena sudah membuat kondisi kesehatan semakin tidak nyaman dan membuat warga khawatir rumah ikut terbakar.

Lalu titik mana saja yang hingga kini Karhutla masih terjadi, kita akan bahas bersama Wakil Kepala Desk Investigasi dan Jurnalisme Data Harian Kompas, Puteri Rosalina.

Video Editor: Frashiva Rizaldi

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/689340/full-deret-titik-api-karhutla-di-indonesia-padamkan-segera-sapa-pagi
Transkrip
00:08Ketapang
00:09Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan masih terjadi,
00:11bahkan mengancam kesehatan warga hingga ke negeri tetangga.
00:14Di Ketapang, Kalimantan Barat, kebakaran hutan dan lahan terus meluas.
00:18Kencangnya embusan angin, ditambah minimnya sumber air membuat kebakaran sulit dipadamkan.
00:23Data per 1 September, jumlah titik panas di Ketapang mencapai 4088 titik.
00:29Bupati Ketapang meminta pemerintah pusat meningkatkan intensitas waterbombing
00:33untuk mempercepat pemadaman karhutlah di Ketapang.
00:36Karena kalau tidak ada air, kita juga sulit.
00:38Kita harus ambil air dulu ke sungai, misalnya baru balik lagi pakai tanki,
00:42dan tanki juga kapasitas terbatas.
00:43Ada yang hanya 5 ribu liter, sehingga 10 menit semprot, sudah habis.
00:50Kita harus balik lagi.
00:51Jadi ini kendaraan naik di lapangan, dan sifatnya gambut sekali lagi,
00:54tidak mudah menjadi padamkan.
00:55Termasuk juga kita minta dilaksakan, laksanakan waterbombing.
01:01Itu sudah saya sampaikan satu bulan yang lalu.
01:04Kemudian kita minta juga operasi modifikasi swajah dari sahaja saudara.
01:10Jadi semua itu hal sudah kita sampaikan kepada punta pusat.
01:16Sementara di Palangka Raya Kalimantan Tengah,
01:18kebakaran lahan kembali terjadi di sekitar permukiman warga.
01:21Mereka berupaya memadamkan api hanya dengan air yang dibawa menggunakan ember.
01:26Namun upaya ini pun sulit memadamkan api,
01:28karena terbatasnya sumber air untuk memadamkan api.
01:32Warga berharap kepada pemerintah bisa segera menanggulangi kebakaran lahan,
01:36karena sudah membuat kondisi kesehatan semakin tidak nyaman,
01:38membuat warga khawatir rumah ikut terbakar.
01:41Tapi memang kondisinya di sini sumber air nggak ada ya?
01:44Nggak ada Pak, memang nggak ada sumber air.
01:46Ano, kering.
01:47Memang kering mana jauh.
01:49Jadi bagi yang bakar api ini tolonglah.
01:51Jangan dibakar lagi hutan kita nih.
01:54Kesian, kesian.
01:55Kesiannya dampaknya tanah kecil,
01:57naki kita dewasa juga.
02:01Data per 1 September 2026,
02:03dari Kementerian Kehutanan dan BNPB,
02:0673 ribu lebih hektare lahan di tanah air terindikasi terbakar.
02:09Lebih dari 50 persen terjadi di Kalimantan Barat,
02:12sementara daerah selanjutnya yang paling terdampak,
02:14yang ini Riau dan Kalimantan Selatan.
02:18Warga terdampak pun butuh langkah cepat dari pemerintah pusat maupun daerah
02:22untuk padamkan kebakaran hutan dan lahan
02:24yang mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.
02:27Tim Liputan, Kompas TV
02:38Saudara, lalu titik mana saja yang hingga saat ini
02:41karhutlah masih terjadi.
02:43Kita akan bahas bersama Wakil Kepala Desinvestigasi
02:46dan Jurnalisme Data Harian Kompas, M. Putri Rosalina.
02:50Selamat pagi, Mbak Putri.
02:51Selamat pagi, Mas Iyan.
02:53Kita membahas mengenai karhutlah yang sempat diangkat
02:56ataupun dibuat di Harian Kompas pada Senin hari kemarin
02:59di mana ada yang istimewa begitu di Harian Kompas
03:01ada halaman yang kita harus secara khusus bisa membacanya begitu.
03:05Ada halaman yang apabila kita buka,
03:08ini Pulau Kalimantan begitu ya,
03:10tapi ada yang berbeda warna.
03:12Ada yang berwarna kuning, hijau, hitam hingga biru.
03:15Namun ketika kita tutup begini,
03:16ini ada yang berwarna merah.
03:18Bisa dijelaskan lebih detail bagaimana cara membacanya.
03:20Apakah ini menjelaskan seperti judulnya adalah
03:23titik-titik api yang berada di Pulau Kalimantan
03:26di tahun 2026 ini?
03:29Ya, terima kasih, Mas Iyan.
03:31Jadi, ini saya sambil pegang koran juga ya, Mas.
03:33Silahkan.
03:34Jadi, halaman depan yang di Kertas Kalkir ya,
03:37ini namanya Kertas Kalkir,
03:38itu akumulasi seberan titik panas
03:41tanggal 1 sampai 28 Agustus 2026
03:44yang kita ambil dari Sipongi
03:46dan tutupan hutan.
03:48Jadi, fungsi lah hutan ya.
03:50Nah, kemudian yang di Kertas Koran,
03:52ini adalah area korsesi.
03:56Ini area korsesinya bisa macam-macam
03:58kelapa sawet, tambang, kayu, dan hutan kayu fiber.
04:00Jadi, ketika di overlay-kan,
04:03kita bisa melihat bahwa
04:06ini mungkin,
04:07apa,
04:08pemirsa harus memegang koran sendiri ya,
04:10jangan lupa beli korannya ya.
04:13Ini titik-titik merah ini,
04:15kalau kita lihat,
04:16ini di overlay dengan kuning ya.
04:17Kuning ini adalah korsesi sawet.
04:19gitu. Jadi, kita bisa katakan
04:22sesuai dengan judulnya
04:23membara di area korsesi,
04:24dari 11 ribu titik panas ini
04:27dari Sipongi yang dengan level
04:29kepercayaan yang tinggi,
04:30itu 50% di area korsesi,
04:32dan terbanyaknya ada di perkebunan sawet.
04:35Begitu, Mas, cara bacanya.
04:36Kalau kita melihat begitu ya,
04:37Mbak Putri, ini banyak sekali titik-titik
04:39merah di halaman muka
04:41atau halaman paling depan
04:42dari harian kompas di hari Senin.
04:43Ini artinya apa,
04:46mengertikan apa,
04:46sebaran titik panas ini
04:48semakin besar,
04:49atau karena ini kan dari ujung ke ujung,
04:51ini hampir seluruh pulau
04:52ada titik panasnya.
04:54Datanya seperti apa?
04:55Kalau data ini kan hanya Agustus
04:582026 ya,
04:5911 ribu,
05:00dan memang Agustus ini
05:01titik panasnya meningkat ya,
05:0310 kali lipat
05:05dibanding Juli 2026.
05:09Persebarannya,
05:09kalau kita lihat,
05:10bisa ada di paling banyak,
05:11memang Kalimantan Barat ya,
05:12di ujung sini Kalimantan Barat,
05:14kemudian di Kalimantan Tengah,
05:16Selatan,
05:17baru ke Timur.
05:18Jadi,
05:18ini kalau pemirsa lihat
05:20banyak keluhan ya,
05:21warga di Kalimantan Barat
05:22dan Kalimantan Tengah ya,
05:24karena memang titik panasnya
05:25ada di sini,
05:26paling banyak di sini, Mas.
05:27Nah, ini kan kalau kita buka halamannya
05:29ada yang warna kuning,
05:30warna hijau,
05:31warna biru,
05:32ini titik sebarannya itu
05:34paling banyak menimpa
05:35atau layarnya itu menimpa
05:37di berwarna kuning.
05:38Ini mengertikan apa,
05:39Mbak Putri?
05:40Jadi,
05:40kita bisa artikan bahwa
05:42titik panas ini terjadi
05:43kalau di belakang ya,
05:45di area korsensi,
05:45tadi saya bilang,
05:46di area korsensi,
05:48kalau kuning ini kan,
05:49kuning ini ke sawit ya.
05:51Jadi,
05:51memang paling banyak,
05:53sesuai judulnya tadi,
05:54seperti saya bilang,
05:55membara di area korsensi,
05:57dari 50% itu
05:57paling banyak ada di
05:58perkebunan sawit gitu,
05:59dibandingkan,
06:00misalnya,
06:01apa ini,
06:02korsensi,
06:04apa namanya,
06:05tambang,
06:06atau kayu,
06:06atau hutanat kayu fiber gitu, Mas.
06:08Oke,
06:08apakah dari jurnalisme data harian kompas
06:11juga menangkap begitu?
06:13Karena ini kan beritanya
06:14sangat,
06:15apa ya,
06:16sangat besar begitu,
06:17karena memang
06:19luasnya kebakaran,
06:20dan juga berdampak kemana-mana.
06:22Apakah jurnalisme data harian kompas
06:23juga menangkap khusus
06:24untuk di Pulau Kalimantan,
06:25ini ada keberulangan
06:27kebakaran,
06:28ataupun titik panas
06:29dibandingkan tahun-tahun sebelumnya?
06:30Ya,
06:31mungkin tidak,
06:32tidak kita,
06:33tidak ditemukan di halaman satu ini ya.
06:34Nah,
06:35ini bisa lihat di halaman belakang,
06:37ini kadang-kadang
06:38melupakan ya,
06:39melupakan halaman belakang,
06:41karena paling belakang,
06:41dan ini baru pertama kali
06:43kompas menyajikan
06:44peta Indonesia
06:45dalam posisi,
06:47apa ini,
06:48horizontal ya,
06:49posisi horizontal,
06:50karena biasanya kan begini ya.
06:52Nah,
06:52kalau kita lihat,
06:53memang yang di belakang ini,
06:54Pulau Kalimantan itu,
06:56yang paling depan ya,
06:58ini kan petanya titik panas ya,
07:00titik panas tahun 2026,
07:02yang kuning itu di area
07:04yang tidak pernah terbakar,
07:06yang merah pernah terbakar.
07:07Nah,
07:07kalau kita lihat yang ini,
07:09kuning yang di sini ini,
07:10di Kalimantan Barat ini,
07:11ini baru pertama kali terbakar,
07:13tahun 2026.
07:14Jadi,
07:15artinya,
07:17paling tahun ini nih,
07:18entah kenapa,
07:19Kalimantan Barat itu
07:20paling banyak kebakarannya.
07:21Kalau sebelumnya,
07:23mungkin dibaliknya,
07:24Kalimantan Tengah ya,
07:25luasannya ya,
07:26ini dilihat,
07:28berulangnya,
07:29kebakaran berulang,
07:30ini 2011 sampai 2025,
07:31ini paling banyak ada di,
07:32Kalimantan Tengah.
07:34Nah,
07:35mungkin nanti harus,
07:36jadi perhatian pemerintah juga,
07:38kenapa sekarang ini muncul banyak
07:40di Kalimantan Barat.
07:41Oke.
07:42Kalau kita melihat datanya,
07:44Mbak Putri,
07:45dari,
07:45ini dari Sumatra,
07:47Jawa,
07:48Kalimantan,
07:48Sulawesi,
07:49bahkan sampai ke ujung,
07:50selatan Papua ya,
07:51ini terdapat titik merah.
07:53Kalau kita berbicara soal data begitu,
07:55perluasan,
07:57api,
07:57dan juga,
07:58berulangnya kebakaran,
08:00itu seperti apa detailnya?
08:02Jadi,
08:03kalau kita lihat,
08:04memang kalau se-Indonesia ini,
08:05sebenarnya kalau yang terbakar,
08:07bukan hanya Kalimantan ya,
08:09ini semua,
08:10hampir semua di Indonesia,
08:12dari Sabang sampai Merauke,
08:13ini juga ada titik merahnya.
08:15Nah,
08:16kalau dari data,
08:16memang paling,
08:18luas area terbakar itu,
08:19Kalimantan Barat,
08:21kemudian,
08:21kedua adalah Sumatera Selatan,
08:23jangan dilepakan ya,
08:23Sumatera Selatan itu ada di sini,
08:25ini juga,
08:27terluas,
08:27kemudian ada di Papua Selatan,
08:29yang merah di ujung kanan ya.
08:31Nah,
08:33ini,
08:33apa namanya,
08:35tiga provinsi itu,
08:36selama 2011-2025 itu,
08:39luasan karutatnya,
08:40berulang itu paling tinggi,
08:42dibandingkan provinsi yang lain.
08:44Jadi kan artinya,
08:46kenapa selalu berulang,
08:47di tiga provinsi itu kan.
08:49Mana saja tadi?
08:50Dari di Kalimantan,
08:52kalau yang berulang sering itu,
08:53di Kalimantan Tengah,
08:54kemudian Sumatera Selatan,
08:55dan Papua Selatan,
08:56yang paling ujung ini.
08:58Nah,
08:58tahun ini,
08:59paling banyak ada di Kalimantan Barat.
09:02Oke.
09:04Kalau tadi juga sempat,
09:05kita balik lagi ke Kalimantan,
09:06ke halaman depan,
09:07ini Pak Putri,
09:08ini kan sempat,
09:08bilang tadi ada lebih dari 50% titik kebakaran,
09:11di lahan konsesi.
09:13Adakah data yang bisa diungkap,
09:16begitu terkait dengan hal ini,
09:20ada keberulangankah di lahan konsesi ini,
09:23atau seperti apa?
09:24Kami tidak melakukan,
09:26apa ya,
09:27overlay data,
09:28data berulang di area konsesi,
09:29jadi kami hanya melakukan,
09:33Agustus 2026 saja,
09:35di area konsesi,
09:35di Kalimantan.
09:36Kami tidak melakukan di provinsi yang lain,
09:39karena keterbatasan waktu ya,
09:41untuk overlayannya saja,
09:42sudah,
09:42sudah butuh waktu ya.
09:44Sudah butuh waktu.
09:45Itu berarti,
09:46dari Indonesia tadi,
09:47ada beberapa,
09:48ada tiga provinsi utama,
09:49terus juga kalau kita lihat,
09:51juga di halaman belakang ini,
09:52juga tersebar,
09:53dari Pulau Sumatera,
09:54sampai ke Papua,
09:56begitu ya.
09:57Ada sekitar 7,3 juta hektare hutan Indonesia,
10:00yang pernah terbakar,
10:02ini hampir seluas Pulau Kalimantan,
10:04begitu ya.
10:04Betul, betul.
10:04Detailnya seperti apa ini?
10:07Dari 7,3 juta itu,
10:09sekitar sepertiganya,
10:112,3 juta hektare itu,
10:13terjadi kebakaran berulang.
10:15Nah,
10:162,3 juta hektare itu,
10:17kebakaran berulangnya paling banyak,
10:19terjadi 1 sampai 2 kali.
10:21Oke,
10:21tentang tahun 2011,
10:23sampai 2025.
10:25Ya,
10:2510 tahun terakhir.
10:26Dari tahun itu,
10:28berarti memang titik-titiknya,
10:29yang sekarang tersaji di harian kompas,
10:31di halaman belakang,
10:32ini,
10:33titik kebakaran yang berulang,
10:35yang berwarna merah tadi ya?
10:37Yang,
10:37yang depan ini,
10:38yang merah ini adalah titik panas,
10:402026.
10:41Baru kemudian dibalik adalah,
10:42yang kebakaran berulang.
10:43Oke,
10:44yang kebakaran berulang.
10:45Dan semuanya juga hampir sama ya,
10:46tersebar dari Pulau Sumatera ke,
10:47ya,
10:48ya.
10:50Papua,
10:50begitu.
10:51Kalau kita lihat,
10:51lebih jauh lagi,
10:52saudara,
10:53di bagian dalam,
10:54ini ada asapnya begitu.
10:57Kabut asap yang memapar 14,5 juta warga.
11:00Tapi kalau kita,
11:01sebelum memperlihatkan,
11:03saudara,
11:03apa saja yang menjadi bahan asapnya,
11:06ini berwarna oranye begitu,
11:07warna api,
11:08dan bahkan ada yang sempat menghitam.
11:10Kita bahas lebih dahulu,
11:11terkait dengan penyebabnya,
11:13Mbak Putri.
11:13Adakah data terkait,
11:15apa sih,
11:16sebab kebakaran kali ini,
11:18di Pulau Kalimantan,
11:19yang terhimpun oleh tim Jurnalisme Data Harian Kompas?
11:22Kalau penyebab secara khusus dari data,
11:26kami tidak melakukan analisis,
11:27tapi kemudian,
11:28kami menanyakan ya,
11:29ke Guru Besar Perlindungan Hutan dari IPB,
11:32Profesor Lailan Syafina,
11:34karena kan,
11:35apa ya,
11:36masyarakat mengkaitkan bahwa ini,
11:38dengan El Nino dan sebagainya.
11:39Nah, kekeringan dan sebagainya.
11:41Nah,
11:42si Profesor Lailan menegaskan bahwa,
11:46faktor iklim,
11:47yang El Nino yang dibilang Godzilla itu,
11:49hanya sebagai pendukung.
11:51Jadi,
11:51faktor lainnya adalah yang manusia.
11:53Nah,
11:53bahkan dia mengarisbawahi bahwa,
11:55kalau kebakaran hutan,
11:56kan kebakaran hutan dan lahan ya,
11:58kalau kebakaran hutan,
11:59itu 99 persen itu disebabkan oleh manusia.
12:03Nah,
12:031 persennya itu oleh alam.
12:05Alam itu apa?
12:05Kalau di Indonesia adalah,
12:07gunung berapi.
12:08Jadi,
12:09kalau misalnya,
12:10yang jadi contoh kasus adalah di Sinabung ya,
12:12mas ya,
12:13di Karo itu,
12:14pas Sinabung Meletus itu,
12:17membakar hutan gitu.
12:18Nah,
12:18kemudian yang menarik adalah,
12:20lahan gambut itu,
12:22100 persen adalah manusia,
12:24menyebabnya.
12:25Oke,
12:25sampai 100 persennya di lahan gambut.
12:27Terus,
12:27yang juga jadi perhatian,
12:28Mbak Putri,
12:29ini sepertinya yang kita terima adalah,
12:31ramai-ramai negara tetangga kita,
12:33protes begitu,
12:34kena asap,
12:34ataupun dampak asap,
12:35dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
12:38Ternyata tuh,
12:39Harian Kompas sebelum ke sana tuh,
12:40udah punya datanya ya,
12:41Mbak Putri ya,
12:42yang seperti saya tunjukkan tadi.
12:43Ini data asap begitu,
12:45yang berwarna oranye,
12:46berwarna api,
12:47sampai ada yang hitam begitu.
12:49Ini sampai menutupi,
12:50Mbak Putri,
12:51menutupi satu pulau.
12:52Dan ini sampai ke negara tetangga kita,
12:54Malaysia,
12:54dan juga Singapura ya?
12:58Singapura sedikit kali ya,
12:59dan ini yang pertama,
13:01yang KKL ya,
13:02yang sebelah sini ya.
13:03Bagaimana terkaitannya bisa dijelaskan,
13:05Mbak Putri,
13:05terkait dengan dampak asap,
13:07khususnya di Indonesia,
13:08yang juga sampai menjadi,
13:10bahan protes negara tetangga kita?
13:12Jadi,
13:13ini kemarin,
13:14tim jurnalisme data,
13:16ini juga memikirkan ke dampak asap ya.
13:18Jadi,
13:19kami overlay data,
13:21WorldProp,
13:22WorldProp 2026,
13:23itu data jumlah penduduk,
13:25se-injuruh dunia,
13:27dengan peta kabut asap,
13:29dari ASMC,
13:30ASEAN SWOT,
13:32something lah,
13:33gitu.
13:34Nah, kemudian didapatkan bahwa,
13:35ya ini ya,
13:36yang seperti bisa kita lihat itu,
13:38di layar,
13:38bahwa kabut asap ini,
13:41memang menyelimuti Sumatera,
13:42Kalimantan,
13:42sampai ke ini,
13:43luasannya itu,
13:45hampir satu setengah,
13:4840 kali lipat,
13:49atau satu setengah kali luas,
13:51Kalimantan ya,
13:51dapat dibayangkan,
13:52bahwa kabut asap satu setengah,
13:54kalau apa,
13:55Kalimantan itu kan sangat besar ya,
13:56pulau Kalimantan itu sudah besar,
13:58kemudian satu setengah kali,
13:59sehingga sampai ke Malaysia,
14:00dan kabarnya sekarang sudah sampai Filipina,
14:02begitu kan mas ya.
14:04Berarti artinya,
14:05ini data yang didapatkan,
14:06ataupun dihimpun oleh,
14:07jurnalisme data harian Kompas,
14:09ini tergambar begitu ya,
14:10dalam grafis ini,
14:11dimana ini sampai ada yang berwarna hitam,
14:13artinya sangat pekat asapnya,
14:15yang kita juga perlu antisipasi,
14:18yang Mbak Putri adalah,
14:19ini juga yang diangkat oleh harian Kompas,
14:21hari Senin lalu adalah,
14:22kabut asap ini memapar,
14:2314,5 juta warga,
14:26ini bukan hanya sekedar angka,
14:28tetapi juga manusia,
14:29mereka menjadi korban,
14:30dan bukan hanya harus berada di rumah,
14:33memakai masker,
14:34dan juga terdampak harus dirawat,
14:35di rumah sakit,
14:36di klinik,
14:37di puskesmas,
14:37dan yang terdampak juga bukan hanya orang dewasa,
14:39tetapi juga warga lansia,
14:40dan juga anak-anak,
14:41yang memiliki masa depan,
14:43dan ini harus jadi perhatian negara tentunya,
14:45baik, terima kasih Mbak Putri Rosalina,
14:47Wakil Kepala DS Investigasi,
14:49dan juga Jurnalis Berdata Harian Kompas,
14:51atas penjelasannya bersama kami,
14:52harapan kita bersama,
14:53seperti yang disebutkan,
14:54bahwa ini bisa segera terkendali,
14:57diatasi,
14:58dan mungkin tahun depan,
14:59Kompas juga,
15:00kalau bisa membuat,
15:02kertas kalkir yang sama,
15:04begitu,
15:04tidak ada sebaran-sebaran yang meluas,
15:06begitu ya,
15:07itu harapan kita bersama,
15:07baik,
15:08terima kasih sekali lagi,
15:09Mbak Putri,
15:09atas kadir aja di Sediho Kompas TV hari ini,
15:12dan saudara,
15:13jangan kemana-mana,
15:14sampai Indonesia pagi,
15:15akan kembali untuk Anda sesaat lagi,
15:16dengan sejumlah informasi lainnya,
15:17salah satunya,
15:18Satgas Karhutla,
15:19Provinsi Jambi,
15:20meninjau kembali titik api,
15:21yang telah padam,
15:22petugas masih melakukan,
15:24pendinginan,
15:24untuk mencegah,
15:25munculnya kembali titik api,
15:27selamat menikmati,
Komentar

Dianjurkan