Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Rumah penitipan anak yang seharusnya menjadi tempat paling aman, berubah menjadi ruang trauma berkepanjangan bagi ratusan balita. Kasus kekerasan anak di Little Aresha bukan sekedar penganiayaan biasa, melainkan dugaan kejahatan terorganisir yang berdampak pada fisik, psikologis dan tumbuh kembang anak.

Hingga saat ini, sebanyak 32 orang telah resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dari jumlah itu, 13 tersangka yang ditetapkan lebih awal akan menjalani sidang perdana mereka pada 18 agustus 2026 mendatang. Namun, perjuangan orangtua para korban mencari keadilan belum usai.

Bagaimana kekerasan ini disembunyikan bertahun-tahun di balik kedok pencitraan ramah anak dan bernuansa islami? Dan seperti apa dampak jangka panjang yang kini harus ditanggung para korban serta orangtua?

Selengkapnya dalam video ini.

#KasusLittleAresha #KekerasanAnak #DaycareLittleAresha

Tim Produksi:
Shevina Putti/Rosiana/Rahadian Adi/Yulita Futty/Rizal/Amalia/Daffa
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Jadi pintu dibuka gitu, ada celahnya itu kan, nah itu tali jariknya itu diikat di celah-celah pintu itu, terus
00:10diikat di kakinya.
00:12Nah saat penggerapkan itu tuh ikatan lagi belum dilepas.
00:17Jadi mereka tuh membuat kayak branding bahwa muslim, halus gitu, sampai kita itu sebagai orang tua kayak tertipu ya.
00:28Sampai sekarang anak saya tuh masih belum bisa kolektifnya ini bagus, yang saya lakukan pada udah cuma satu SD.
00:51Rumah penitipan anak yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi ruang trauma berkepanjangan,
00:57bagi ratusan balita.
00:59Kasus kekerasan anak di Little Aresha bukan sekadar penganiayaan biasa,
01:05melainkan dugaan kejahatan terorganisir yang berdampak pada fisik, psikologis dan tumbuh kembang anak.
01:14Di mana pada tanggal 24 April 2026, kami dari Satreskrim melakukan penggerdukan di Daycare Little Aresha.
01:23Yang sebelumnya sampai saat ini, kita sudah menetapkan sebanyak 32 tersangka dan 157 korban.
01:31Pada sesi pertama, kami melakukan penetapan tersangka sebanyak 13 tersangka,
01:37diantaranya yaitu 1 kepala atau ketua yayasan, 1 orang lagi kepala sekolah, kemudian 11 orang pengasuh.
01:47Hingga saat ini sebanyak 32 orang telah resmi ditetapkan sebagai tersangka.
01:53Dari jumlah itu, 13 tersangka yang ditetapkan lebih awal akan menjalani sidang perdana mereka pada 18 Agustus 2026 mendatang.
02:03Namun, perjuangan orang tua para korban mencari keadilan belum usai.
02:08Dia memang jahat gitu.
02:14Bagaimana kekerasan ini disemunyikan bertahun-tahun dibalik gedok pencitraan ramah anak dan bernuasa islami?
02:21Dan seperti apa dampak jangka panjang yang kini harus ditanggung para korban serta orang tua?
02:31Anak saya di Aresa kurang lebih 4,5 tahun, hampir 5 tahun.
02:38Di mana anak yang pertama masuk itu Agustus 2021, usia 3 tahun.
02:48Terus yang kedua itu masuk umur 2 bulan di bulan Desember 2021.
02:58Sebenarnya yang masih aktif pada saat penggerbekan itu yang adik.
03:03Kalau yang kakak itu per 1 Maret 2026 itu sudah mulai tidak mau deket.
03:12Sering juga dia bilang, kakak itu nggak mau makan di Aresa tapi dipaksa sampai mau mutah gitu.
03:20Terus kakak itu dipaksa tidur siang.
03:22Tapi kan saya bilang, kak kamu tuh tidak dipaksa tidur siang.
03:27Kamu memang harus tidur siang karena setelah dijemput mamah nanti kamu ada les.
03:31Jadi ketika les kamu tidak mengantuk.
03:34Tapi dia tidak menjelaskan bahwa apa yang terjadi di sana.
03:37Setelah kejadian ini saya baru tahu kalau di sana itu dipaksa tidur itu tanpa alas di lantai dua.
03:47Jadi benar-benar lantai aja.
03:49Kenapa kakak tidak cerita?
03:51Kenapa kakak tidak merekam?
03:53Karena kakak pernah sekolah itu pakai jam yang ada kamera pernah izin bawa tab.
03:59Dia bilang, nggak bisa mah nanti dimarahin sama Miss.
04:08Pihak yayasan secara masif membangun kecitraan yang begitu halus dan bernuansa keagamaan.
04:14Foto-foto stimulasi dan laporan harian dikirimkan rutin untuk menenangkan orang tua.
04:20Namun, usai penggerbekan terungkap bahwa seluruh mainan edukatif itu hanyalah properti foto mereka.
04:28Kita kan dikasih background, daily report kalau anak-anak itu di sana dikasih stimulasi pelajaran layaknya sekolah biasa ya.
04:38Dan kita percaya karena fotonya cantik, anaknya senyum gitu ya.
04:44Setelah kejadian kita tahu bahwa semua mainan itu hanya properti untuk foto.
04:49Nah, itu juga agak menyakiti hati saya.
04:53Kita harus pindah ke sekolah.
04:56Kita trial, trial-trial ke beberapa sekolah.
05:00Pertanyaan anak-anak saya setiap baru sampai di halaman melihat TK yang sesungguhnya banyak mainan itu,
05:07pertanyaannya adalah,
05:09Ma kalau sekolah di sini nanti ini mainannya boleh dibuat mainan enggak?
05:13Jadi kayak aku, aduh deh salah banget ya mamah dulu gitu.
05:19Pernah kita tanyakan, misalnya ada sesuatu luka di dagu.
05:25Yang paling saya, apa namanya saya paling ingat itu.
05:29Luka di dagu pun istri saya menanyakan ke admin.
05:33Pernah itu kan adminnya salah satu ya, nggak ada yang lain ya.
05:37Tanyakan, ini *** kenapa ya di TK apakah terkantuk atau kena sesuatu.
05:43Jawabannya dari pihak Dekar, oh nanti saya tanyakan pengasuh yang jaga waktu itu.
05:51Di konfrontasi ada segerinan semacam percakapan antara si pemilik liter Areset dengan pengasuh itu
06:00mengatakan bahwa, oh itu kata anaknya sudah tak tanya kemarin, katanya jatuh sama bundanya.
06:07Anaknya juga udah saya tanya kok, katanya jatuh sama bundanya.
06:10Pada itu nggak ada, jatuh di rumah.
06:13Setelah kejadian ini, Miss nya itu bilang,
06:16lah itu tuh budiah nanya di grup lho mah,
06:19ini si mamahnya *** tanya gini-gini nih, aku harus jawabnya apa, tolong ya Dek dibantu.
06:25Nah gitu, terus yang bikin ngarang cerita itu beliau sendiri,
06:30pakai HP satunya, dikirim ke HP beliau satunya kan banyak tuh HPnya, ada tiga kan.
06:36Dikirim lagi ke saya, jadi kesannya tuh kayak ini jawaban Miss dikirim ke saya, kata Miss.
06:42Tidak hanya memanipulasi informasi,
06:46para pengasuh juga secara aktif memberikan ancaman dan teguran pada anak-anak
06:51untuk membungkam dan membuat mereka takut mengadu pada orang tua.
07:00Penggerbekan yang dilakukan oleh pihak kepolisian membongkar fakta mengerikan.
07:05Metode pengikatan tubuh dan doktrinasi ekstrim diduga telah menjadi bagian dari rutinitas di tempat ini.
07:13Ini tuh jadi bukti temuan polisi ya, karena waktu penggerbekan itu *** itu di videonya tuh polisinya buka pintu,
07:22terus ada *** di situ sedang diikat di pintu gitu.
07:25Jadi ini jelas banget ada bukti pengikatan kan, jadi pintu dibuka gitu ada celahnya itu kan.
07:32Nah itu tali jariknya itu, tali jariknya itu diikat di celah-celah pintu itu terus diikat di kakin ***.
07:40Kalau anak lain mungkin ada yang hari ini diikat, besok enggak gitu.
07:44Tapi kalau *** ini yang setiap hari diikat.
07:48Ada juga yang bilang kayak *** itu kasian, dia masih kecil, dia cuma pengen main.
07:54Tapi karena dia pengennya lari-lari jadinya diikat terus.
08:00Kalau anak saya itu benjol itu ada.
08:04Sampai di sini itu kayak masih ada bekas tulang yang kayak numbuh gitu loh,
08:10kalau menurut saya.
08:11Jadi posisinya itu kalau dikiniin ada bekasnya gitu.
08:16Nah malem-malem tiba-tiba itu ada miss yang bikin video.
08:22Nah videonya itu kayak nyumin anak saya gitu ya.
08:27Terus ngirim ke saya gitu.
08:29Mak apakah kakak adik masih di sana?
08:32Terus saya lihat nih loh ini kok anak saya gitu kan.
08:35Terus ya miss tapi posisinya videonya missnya itu akan dipotong-potong.
08:41Cuma ada bagian dimana anak saya memang enggak pakai baju.
08:44Mbak bener-bener dari video-video itu kan enggak pakai baju.
08:46Terus ada bagian dimana si anak ini diikat.
08:51Posisi tidur diikat gini pakai kain apa namanya sarung.
08:57Trauma yang tertanam begitu dalam membuat refleks fisik anak berubah secara permanen.
09:03Pola kekerasan ini dapat diidentifikasi bahkan dari hal terkecil.
09:07Seperti cara anak memegang botol susunya.
09:10Saya baru tahu ketika dilakukan fisum kemarin.
09:17Ditanya ketika cara memegang dot.
09:20Nah memegang dotnya gimana?
09:23Nah ternyata kalau memegang dotnya seperti ini.
09:26Berarti dia kebiasaan sudah diikat dari lama.
09:31Nah kalau nanti mengecek tangannya gini atau gini.
09:34Itu berarti apa namanya tidak ada sesuatu yang.
09:38Nah anak saya gini Pak.
09:39Enak saya stunting pertama.
09:42Tinggi badan sangat kurang.
09:45Kemudian yang cewek juga masih diangembang.
09:48Batas yang memang harus digenjut lagi untuk tumbuh kembangnya.
09:53Kemudian kalau yang cewek ini sudah menjadi karakter yang dia suka menutup diri.
10:01Terus diikat.
10:03Terus dimarah-marahin.
10:05Terus kalau ngompol atau pup dibentak-bentak.
10:09Sampai sekarang anak saya itu masih belum bisa toilet training bagus yang cewek ini.
10:15Padahal sudah pas 1 SD.
10:17Masih sering nahan pipis, ngompol.
10:20Nah sekarang itu dampak dari itu.
10:23Anak-anak mengalami depresi dan gangguan psikososial sejak dini.
10:28Kegagalan toilet training, tantrum hebat, hingga ketakutan ekstrim menjadi konsekuensi logis dari tindakan tidak manusiawi yang berlangsung selama bertahun-tahun.
10:44Dampak kekerasan ini tidak berhenti saat anak keluar dari liter Aresha.
10:50Kerusakan perkembangan kognitif dan gangguan kesehatan mental justru memburu masa depan mereka dan orang tuanya.
10:57Jadi kalau melihat benar-benar hasil bentukan kerusakan Aresha itu ya anak saya yang kecil.
11:07Karena dari 2 bulan sampai mau 5 tahun besok ini, dia di sana dari pagi sampai malam lah ibaratnya sampai
11:17sore.
11:17Jadi benar-benar itu bentukan Aresha sekali.
11:20Umur 2 bulan dia masuk ke daycare, selang 1 bulan dia ispa, setelah ispa dia asma.
11:32Asmanya ini bukan asma yang sehari dua hari kambuh, bulan depan kambuh enggak.
11:38Tiada hari tanpa dia sesek.
11:40Dia itu tertarik banget kalau lihat selendang.
11:43Aku beli pasmina baru nih bentuknya kayak selendang.
11:46Si anak itu minta di bedong, kata-katanya adalah di bedong.
11:51Mah adik di bedong gitu kan, mau apa?
11:53Mau main pocong kayak di sekolah.
11:55Aku turutin dulu nih si anak di bedongnya di mana adik?
11:58Sini, sini atau sini?
12:00Kayak gambar yang beridari.
12:02Dia mintanya di bawah sini dong mbak.
12:04Berarti kan itu bukan di bedong, itu diiket.
12:07Terus aku kendorin gitu dia enggak mau.
12:10Kayak nis mah gini loh.
12:12Jadi dia mempraktekkan, gini loh mah.
12:14Nah, aku berpikir bahwa itu dicuci otaknya bener itu.
12:20Karena itu kata-kata bedong digunakan mengganti kata-kata tali.
12:25Itu kan udah dicuci otaknya.
12:27Itu membuat aku depresi kan.
12:29Kayak kepikiran lagi, aku harus wira-wiri kesini.
12:32Terus kepikiran masa depan anakku.
12:35Terus kepikiran, aduh aku kerja gimana ya ini caranya.
12:40Nanti anakku biar apa namanya terapinya itu tidak kecolongan gitu ya.
12:47Jadi saya tuh setiap malem tuh kalau anak saya udah tidur tuh saya jadinya nangis terus setiap malem.
12:53Jam tidur saya juga sehari maksimal 3-4 jam.
12:58Disaranin sama suami saya untuk ke psikiater,
13:02Diagnosanya PTSD,
13:04Anciety,
13:05Sama depresi.
13:12Di balik bobroknya pengasuhan Little Aresya,
13:15Dan kekerasan yang diduga terorganisir sejak lama,
13:18Orang tua korban pun menuntut keadilan maksimal
13:21Yang menyeret seluruh nama yang tercantum di struktur organisasi yayasan.
13:27Yang pasti ya Mbak ya, itu mereka orang tua itu pengen semua yang ada di struktur literalis itu masuk tersangka
13:36dan diberikan hukuman yang berat-beratnya.
13:40Anaknya dia itu namanya ***.
13:42Di struktur ada namanya ***.
13:44Itu juga kita pernah transfer ke mereka.
13:47Bukti transfer ada ***.
13:50Anaknya juga, itu juga kita pernah transfer uang ke mereka.
13:55Itu sudah menjadi alat bukti bahwa itu mereka juga terlibat di strukturan.
14:01Kami wali murid tetap menuntut untuk Little Aresa yang gedung utara itu diusut tuntas juga tentang aliran dananya itu.
14:16Itu perlu diusut tuntas juga gitu karena masih banyak yang lolos juga.
14:21Ini tuh kasusnya itu sebenarnya dari anak saya di sana.
14:24Itu kan sudah ada.
14:26Cuma seolah-olah itu dibikin bahwa ini tuh baru aja terjadi karena kondisinya sangat krodit.
14:35Anaknya banyak gitu ya Mbak.
14:37Ini tersangkanya itu gak cuma satu dan dua.
14:41Jadi menurut saya kayak sudah terorganisir ya.
14:45Jadi mereka tuh membuat kayak branding bahwa Muslim, halus gitu.
14:51Sampai kita itu sebagai orang tua kayak tertipu ya.
14:55Misalpun memang, memang maksimal lima tahun, saya berharap ini korbannya gak satu ratusan.
15:06Janganlah sampai di bawah maksimal gitu loh.
15:10Jadi ya harus maksimal gitu ya Mbak.
15:18Terkait dengan perkembangan kasus yang saya tangani sampai dengan saat ini jumlah tersangka ada 32.
15:25Kemudian korbannya ada 157.
15:28Di mana tersangka ini meliputi yang sesi pertama itu ada 13 tersangka itu sudah kita lipahkan atau tahap 2.
15:38Kemudian ada sesi 2 nya itu kita penetapan tersangka lagi 14 orang.
15:44Dan yang terakhir ini kita tambahkan lagi penetapan tersangka 5 orang.
15:48Jadi jumlahnya keseluruhan ada 32 orang.
15:53Terkait dengan yang di struktur organisasi yang Mbak *** itu ya.
15:59Anaknya dari ketua YSAN sudah kami lakukan merisaan.
16:04Sampai dengan sejauh ini polisi juga belum bisa membuktikan bahwa keterlibatan F ini di Deket Rital Aresya.
16:13Kalau misalnya memang ada orang tua yang mengetahui atau memiliki informasi terkait itu ya kami terbuka.
16:31Saksi Diana Fitasari bekerja selama di Deket Rital Aresya pernah melihat para terdakwa mencubit memukul mengikat kaki atau tangan anak
16:40dengan tali terhadap anak-anak yang rewel atau menangis.
16:42Bahkan ada pula yang menenggelamkan kepala anak di kamar mandi.
16:45Pengasuh yang pernah menenggelamkan kepala anak di kamar mandi adalah Terdakwa Dua Divina dan Terdakwa 10 Fitri.
16:53Dan pernah juga melihat anak ES dibedong dengan kain bedong dan bagian kainnya diikat dengan kain jarik lalu ikatan ditautkan
17:01di sela-sela jendela kamar.
17:04Kasus Litter Aresya menjadi tamparan keras bagi sistem pengawasan ruang tumbuh kembang anak di Indonesia.
17:10Keadilan bukan sekedar memencarakan pelaku, melainkan memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan masa kecilnya dibalik tembok pencitraan palsu.
17:22Terima kasih telah menonton!
17:31Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan