Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemangkasan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) menjadi persoalan yang dirasakan sejumlah pemerintah daerah.

Ketum APKASI periode 2025-2030, Bursah Zarnubi, membedakan antara efisiensi anggaran dengan pemangkasan TKD.

Menurutnya, efisiensi merupakan kewajiban pemerintah daerah untuk mengurangi anggaran yang tidak diperlukan.

Sementara pemangkasan TKD berdampak langsung terhadap kemampuan fiskal daerah.

Bursah menyebut lebih dari 90 persen daerah memiliki persoalan kemampuan fiskal yang perlu diperhatikan.

Ia mengatakan dampak pemangkasan paling terasa di daerah yang kemampuan fiskalnya terbatas.

Bursah menyebut setidaknya terdapat tiga sektor utama yang perlu mendapat perhatian, yakni infrastruktur, kesehatan dan pendidikan.

Belanja wajib tersebut juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah daerah membayar gaji.

Bursah memahami pemerintah tetap harus menjalankan sejumlah program prioritas nasional.

Ia menyebut beberapa program strategis pemerintah seperti MBG, koperasi desa kelurahan merah putih, swasembada pangan, dan sekolah rakyat. Namun, menurutnya, kebutuhan daerah juga harus tetap diperhatikan.

Dari sisi kebijakan, Pakar Otonomi Daerah Prof. Djohermansyah Djohan menilai pemerintah perlu berhati-hati dalam menjalankan program pusat di daerah.

Menurutnya, apabila pemerintah pusat menjalankan program dan kegiatan menggunakan dana pusat di daerah, hal tersebut berpotensi bertentangan dengan prinsip otonomi daerah.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bahtra Banong, menilai persoalan TKD juga harus dilihat dari kemampuan daerah meningkatkan Pendapatan Asli Daerah atau PAD.

Menurut Bahtra, pemerintah pusat dan Kementerian Dalam Negeri terus mencari formula yang dapat mendorong daerah lebih mandiri.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/8UgdIaAw_X4




#efisiensi #anggaran #mbg

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/686467/tkd-dipangkas-apkasi-sebut-daerah-kesulitan-bangun-infrastruktur-dan-bayar-gaji-satu-meja
Transkrip
00:00Kemudian Kementerian Negeri akan memberikan usulan masukan-masukan termasuk perkaupatan kota provinsi
00:07yang intinya lah dari Kementerian Negeri akan mengusulkan satu, membantu daerah-daerah yang fiskalnya rendah
00:15karena PAD-nya rendah, itu prioritas.
00:19Yang kedua adalah daerah-daerah yang terkena dampak bencana yang kemarin.
00:23Karena meskipun ada Satgas yang saya jual ke Satgasnya dan tahun depan dari total 100,1 triliun
00:32yang sudah disetujui oleh Bapak Presiden dan DPR untuk 3 tahun, tahun depan itu dianggarkan, direncanakan 32,9 triliun.
00:46Nah ini juga nanti akan kami sarankan kepada Bapak Menteri Keuangan untuk kiranya dan Bapak Nas kiranya dapat dianggarkan.
00:55Bapak Tito mengeluk saya kelihatannya tuh, belum jelas informasi tentang daerahnya ya.
01:01Jadi Pak, pada tahun 2007 direncanakan sebesar 735 triliun rupiah atau meningkat 55 persen
01:11dibanding dengan outlook 2026 sebesar 696,9 triliun rupiah.
01:16Ini di luar dengan rekonstruksi Pak, jadi itu beda lagi yang ini untuk TKD.
01:21Nanti juga kami akan monitor terus seperti kemarin kondisi keuangan setiap daerah dari bulan ke bulan
01:28kalau perlu kita tambah-tambah seperti kemarin Pak.
01:38Masih di satu majade forum saya ke Pak Bursa, Pak Bursa kalau saya boleh tahu dan Pak Bursa boleh menceritakan
01:45sebetulnya apa sih dampak yang paling dirasakan oleh kepala daerah bisa dari pengalaman Pak Bursa sendiri di Lahat
01:51maupun para bupati kaitannya dengan efisiensi atau pemangkasan anggaran yang selama ini sudah terjadi.
01:58Bukan ini, kalau efisiensi itu agak berbeda, efisiensi itu adalah kewajiban kita untuk membuang anggaran
02:07Saya lihat terkait pemangkasan TKD kalau Bu.
02:09Nah, kalau pemangkasan TKD ini memang yang paling dirasakan oleh yang fiskalnya terbatas Pak ya, itu lebih dari 90 persen.
02:18Apa misalnya kalau di Kabupaten Lahat apa kira-kira yang Anda rasakan, boleh diceritakan?
02:22Sampai sekarang kami masih cukup Pak ya.
02:24Oke.
02:25Kalau dari daerah lain mungkin Anda pernah dengar di Apkasi?
02:29Oh jelas, mereka sulit untuk bangun, sudah ada defisit, pihak ketiga tidak kebayar kontraktor misalnya.
02:38Sudah ada memotong apa namanya, dana, dana apa, tukin sudah ada yang memotong berpesen.
02:46Nah ini mesti diperhatikan. Jadi mesti ada perlakuan fiskal yang untuk bisa mengatasi daerah untuk membangun.
02:54Yang kan yang tiga manatori tadi, untuk bayar gaji susah dia. Yang manatori kan...
02:59Dan itu jumlahnya cukup banyak?
03:00Banyak, 90 persen lebih kurang.
03:04Satu infrastruktur, dua kesehatan, pendidikan ini, mesti diatasi segera.
03:09Oke.
03:09Kalau ini nggak diatasi...
03:11Kalau di pidato presiden di pengantar APBN 2027, itu kan jadi 735 triliun.
03:18Ada kenaikan 38,1 triliun atau 5,6 persen.
03:23Anda melihat...
03:25Gimana, gimana? 38?
03:26Jadi TKD untuk tahun 2027 di era APBN, di pidato presiden, itu ada tambahan.
03:33Iya, betul.
03:335,6 persen.
03:35Lebih kurang.
03:36Ya, tambahannya itu 38,1 T.
03:39Totalnya menjadi 735 T.
03:42Nah Anda melihat ini sudah cukup, langkah baik, atau masih sebetulnya ini pas-pasan.
03:47Kenapa? Karena ada inflasi.
03:48Masih kurang jauh, Pak.
03:49Kurang jauh.
03:50Gimana? Kurang jauhnya gimana?
03:52Ya kurang jauh.
03:53Memang dibandingkan dengan 2025, 849 memang jauh sekali.
03:57Punya kami dipotong lebih kurang 700 miliar.
03:59Iya.
04:00Belumnya lain-lain kan.
04:01Jadi kalau dipengalikan 700 miliar, memang proyek strategi Bapak Presiden terhenti.
04:07Itu terhenti nanti.
04:10Tetapi, Presiden kan perlu proyek strategi sejalan.
04:141 MBG, 2 Kooperasi, Suha Sembada, sekolah, rakyat, sekolah, dan sebagainya.
04:20Itu penting, itu jalan.
04:21Kalau itu beres.
04:22Kalau kita bilang masih jauh itu, boleh dikasih gambaran nggak?
04:24Kira-kira masih jauhnya itu, misalnya masih ada, itu nggak akan cukup.
04:28Minimal dikembalikan totalnya, hampir 1.000 triliun semuanya.
04:31Oke.
04:31Kita pakai acuan 2025 aja deh, 849 triliun.
04:352025, 1.000 triliun hampir.
04:38849, 993 itu 24 kan?
04:40Ya, lebih kurang, hampir 1.000 triliun.
04:43Nah, dengan 4.000 triliun ini, udah bisa 1.100 kita, mesti untuk seluruh Indonesia, mestinya.
04:49Kalau dikembalikan nggak mungkin?
04:51Ya, nggak mungkin.
04:51Tapi kira-kira berapa idealnya?
04:53Idealnya itu, ya, kayak minimal DBH itu, DBH itu, jangan yang terhutang banyaknya, jangan kecil-kecilnya.
05:03Saya ada DBH terhutang 500 miliar itu, kalau bisa kasihlah 300 miliar dulu gitu loh, jangan cuma 32 miliar.
05:12Tiket sekali itu ya?
05:14Tiket sekali ya Pak.
05:15Prof, kalau ingatkan gini, ini soal, ini kan berangkat dari rencana besar efisiensi ya, which is itu normatif dan harus
05:23disambut positif, tapi mungkin implementasinya aja terkait dengan TKD.
05:27Ini kan akan terus panjang nih, bergulir, bahwa kemarin di bidato itu ada tambahan 38,1T di RAPBN 2027, satu
05:36hal.
05:36Tapi Anda melihat bahwa ini akan terus bergerak, apalagi akan muncul kecurigaan-kecurigaan itu tadi saya bilang, bahwa ini akan
05:42dikembalikan ini, apalagi tadi Anda mengatakan secara teori ada namanya re-sentralisasi.
05:48Nah ini pandangan Anda gimana? Karena kan ini akan terus bergerak ini, sementara dari pengangkat akan begini, gimana kami membuat
05:54perencanaan, sementara apa yang disampaikan itu kan baru dalam pernyataan.
05:59Jadi kalau soal TKD, lanjutannya dulu nih, ya kalau yang sekarang nanti memang di setuju DPR berarti 735T.
06:10Memang dibanding dengan 2026 itu ada peningkatan, hanya tadi kan perbandingannya sama yang mana, nah tadi Pak Bupati ini membandingnya
06:23mestinya dengan yang APBN 2025, ya pagunya ya, 900 santai.
06:29Nah jadi itu kalau di posisi sekitar 25% dari APBN, nah kalau posisinya hanya 735 itu hitungannya Bang, saya
06:39udah hitung itu, dari APBN yang 4000 sekitar 18% yang sekarang ini yang bakal terjadi.
06:46Jadi masih di bawah tahun 2025.
06:49Maksudnya kan 30%
06:50Nah beliau kan musul nih Bupati, kalau bisa, tapi tentu juga kita harus perhatikan program prioritas Presiden, makanya tadi kan
06:59Bang itu lebih moderat dia.
07:02Pak Bursa sebenarnya malu-malu aja, makanya ya tadi tahan dululah prioritas program nasional.
07:06Dia kan ketuanya Bupati ini.
07:08Bukan ditahan, yang sudah ada laksudnya.
07:10Oh iya, jadi kalau bisa itu tetap ada pemotongan tapi tidak terlalu banyak lah.
07:17Anda melihat ada kemungkinan yang ada nuansa top down untuk program prioritas?
07:22Nah itu dia.
07:23Bisa dikoreksi kayak tanya dengan mengelakkan TKD sebelum saya nanti ke Bung Bahtera.
07:28Saya kira agak risikan kalau soal pusat kemudian menjalankan program dan kegiatan dengan dana pusat di daerah.
07:38Nah itu sebetulnya mengingkari prinsip otonomi daerah.
07:43Kalau otonomi daerah, itu daerah diberi urusan pemerintahan, diberi pembiayaan, dia mengelolanya.
07:50Program kegiatan dia jalankan.
07:52Tetapi kalau yang tadi pusat yang menjalankan pembangunan di daerah, jembatan, jalan, maka itu namanya program-program yang basisnya interest
08:03pusat.
08:03Itu cocok dengan kemauan daerah ya.
08:07Dan itu juga tidak sesuai dengan semangat otonomi daerah.
08:10Saya coba ke Bung Bahtera sebagai pimpinan komisi 2 yang langsung menangani.
08:15Satu tadi ada proposal, tolong-tolong ditambah jangan cuma 2, 7, 3, 5.
08:19Gini, yang saya ingin lihat adalah Anda melihat, ini kan kaitannya dengan daerah.
08:25Daerah ini bagaimanapun kepala daerahnya juga punya visi, punya apa, dan pasti ditagi oleh masyarakat dan kesulitan.
08:31Anda melihat formulasi yang terbaik soal ini apa, satu itu sudah disampaikan, jangan sampai ada nuansa sentralistik.
08:38Yang kedua, jangan sampai daerah hanya dijadikan anak yang harus nurus sama orang tua, tetapi aspirasi tadi disampaikan juga penting
08:46karena tiap daerah punya karakteristik.
08:47Ya tentu kalau kita bicara soal jumlah ya, saya pikir tidak ada cukupnya Bang.
08:55Sebeberapapun misalnya yang diberikan daerah, baik itu dana transfer atau dana bagi hasil,
09:03tapi yang paling penting adalah memang kami di komisi 2 bersama Kemendagri itu terus mencari formula yang pas,
09:10agar daerah ini juga kita dorong untuk mandiri Bang, misalnya Mas.
09:16Banyak sekali sebetulnya potensi-potensi yang bisa dimaksimalkan untuk kemudian bagaimana menambah nilai untuk PAD misalnya BUMD.
09:24Ada beberapa daerah BUMD-nya bagus-bagus, tetapi tidak jarang juga daerah membuat BUMD-BUMD terus kemudian menguras APBD.
09:33Nah ini kita lagi melakukan penataan terkait dengan BUMD kita, ada seribu lebih jumlahnya,
09:40bagi BUMD-BUMD yang bagus ini harus disupport, karena itu bisa memberikan nilai tambah untuk PAD.
09:47Tetapi bagi BUMD-BUMD misalnya yang selalu diberikan BUMD tetapi merugikan negara,
09:53apalagi kalau sifatnya misalnya memang bukan untuk pelayanan ya,
09:57pelayanan itu misalnya begini, ada PDAM, ya kan itu kan pelayanan,
10:00kadang-kadang kalaupun rugi tetap harus disuplai karena memang itu buat pelayanan masyarakat,
10:04tapi BUMD-BUMD misalnya begini, dikasih uang puluhan miliar, ada yang ratusan miliar,
10:09tetapi bahkan untungnya tidak sampai misalnya 100 juta, ini kan ada sesuatu yang harus dibenahi di sana.
10:17Kebanyakan mungkin sahabat-sahabat kita, teman-teman kita di daerah setelah jadi kepala daerah,
10:22demi untuk mengakomodir tim sukses, akhirnya BUMD itulah dijadikan sebagai tempat untuk parkir tim-tim sukses,
10:29padahal kalau dikelola secara profesional itu bisa menantangkan keuntungan, itu yang pertama.
10:33Yang kedua, kita bicara misalnya disampaikan Bang Bursa tadi, misalnya potensi setiap daerah pasti ada,
10:39kenapa sih APBD kita tidak diarahkan ke sana Bang?
10:42Misalnya kalau potensinya pertanian, kenapa misalnya APBD kita tidak diarahkan untuk bagaimana agak mensupport para petani kita?
10:49Kalau misalnya kita punya potensi perkebunan, perikanan, kenapa APBD kita tidak diarahkan untuk mensupport para nelayan kita?
10:57Nah ini yang keliru selama kita ini, mohon maaf ini, sebagian kawan-kawan di daerah melihat kecamata program kerja itu
11:03tidak berbasis dengan potensi.
11:05Akhirnya apa, mohon maaf ini, akhirnya apa kebanyakan ya, APBD yang sudah dirancang itu menguap begitu saja, kita lihat.
11:14Hasilnya, ini yang harus kita dorong, maka dari itu saya pikir ide Pak Prabowo sangat bagus,
11:23bahwa kepala-kepala daerah yang punya kreativitas yang bagus, punya inovasi, kemudian untuk membangun daerahnya,
11:30nah ini yang harus diberi reward, ya kita tambahkan dana transfer mereka, supaya apa mereka lebih getolai,
11:36karena kalau enggak, sebab kalau enggak ya, ini pasti kepala daerah kita, udahlah,
11:40kita misalnya mau berinovasi, mau kreatif, atau misalnya sekian yang kita dapat dana transfer,
11:45jadi enggak, apa namanya, enggak perlu kecakapan untuk menjadi kepala daerah, enggak perlu pengetahuan atau inovasi-inovasi,
11:52atau misalnya kita dapat misalnya dari pusat dana transfer, baik itu DAK-nya, DAU-nya, begitu pun misalnya dana bagi
11:58hasilnya,
11:58nah ini yang tidak boleh, apa namanya, berulang-ulang menjadi mindset kita, sebagai pemimpin daerah harus dirubah.
12:04Saya sudah tangkap poinnya, Bung Bahtera, Apkasi pasti harus menjawab ini,
12:07karena kalau dari penjelasan Bung Bahtera kan, sepertinya Presiden punya banyak catatan buruk soal kepala daerah.
12:15Tahan dulu jawabannya, kita akan kembali setelah yang satu ini.
Komentar

Dianjurkan