Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Di tengah perkembangan teknologi dan era kecerdasan buatan, masyarakat Indonesia masih mengunjungi perpustakaan untuk mencari sumber pengetahuan dan informasi.

Salah satunya Perpustakaan Nasional yang menjadi tempat masyarakat membaca buku sekaligus memperoleh pengalaman audiovisual.

Bagi sejumlah pengunjung, membaca buku di Perpustakaan Nasional menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi. Selain untuk hobi, masyarakat juga datang untuk mencari referensi tugas sekolah dan kuliah.

Akses gratis, koleksi buku, serta berbagai fasilitas pendukung membuat pengunjung dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan literasi. Di tengah perkembangan digital dan kecerdasan buatan, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan literasi dan membangun budaya membaca.

Bagaimana perpustakaan dan komunitas masyarakat dapat berperan bersama dalam meningkatkan literasi di Indonesia? Simak perbincangan bersama Kepala Perpustakaan Nasional Prof. Endang Aminuddin Aziz dan penulis sekaligus pegiat literasi Maman Suherman.

#literasi #perpusnas #perpustakaan #maman_suherman #pendidikan

Baca Juga Fungsi Anggaran DPR RI, Upaya Memastikan APBN Bermanfaat bagi Masyarakat |SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/685698/fungsi-anggaran-dpr-ri-upaya-memastikan-apbn-bermanfaat-bagi-masyarakat-sapa-malam



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/685700/full-kepala-perpusnas-maman-suherman-bisakah-budaya-membaca-bertahan-di-era-ai-sapa-malam
Transkrip
00:00Saudara di tengah era akal imitasi, banyak masyarakat Indonesia yang terus mengunjungi perpustakaan untuk mencari sumber pengetahuan dan informasi.
00:08Termasuk pergi ke Perpustakaan Nasional untuk baca buku sekaligus pengalaman audiovisual.
00:16Bagi sejumlah pengunjung membaca buku-buku di Perpusnas atau Perpustakaan Nasional, ini berarti untuk semakin meningkatkan literasi.
00:24Tak hanya sekedar hobi saja, banyak masyarakat yang datang ke Perpusnas guna mencari referensi tugas sekolah dan kuliah.
00:33Akses gratis untuk semua kalangan, koleksi bukunya yang lengkap, hingga fasilitas pendukung lainnya yang nyaman,
00:40membuat pengunjung betah menambah ilmu dan meningkatkan literasi di Perpustakaan.
00:57Buku yang saya cari itu cuma ada di Perpusnas.
01:03Walaupun memang ada sumber lain seperti internet, tapi kan belum tentu ada dan juga belum tentu sudah di archive seperti
01:12itu.
01:13Koleksi bukunya banyak, jadi aku bisa cari banyak referensi di sini,
01:17karena memang kebutuhan aku untuk kuliah, jadi referensinya terbuka gitu.
01:22Dan fasilitas lain seperti kantin dan juga untuk koleksi pinjam-pinjamnya itu sangat dimudahkan.
01:28Gitu sih, Kak.
01:30Saudara Indonesia sebagai bangsa besar masih punya banyak tantangan
01:33untuk bisa meningkatkan literasi dan gerakan budaya membaca di tengah perkembangan digital
01:38hingga akal imitasi atau yang biasanya kita kenal dengan AI.
01:40Lalu pertanyaannya bagaimana perpustakaan dan komunitas masyarakat dapat berperan bersama untuk tujuan ini?
01:47Untuk membahasnya, saya sudah bersama dengan Kepala Perpustakaan Nasional Prof. Endang Aminuddin Aziz.
01:52Pak Aziz, selamat malam.
01:54Selamat malam, Mbak Audrey.
01:55Dan hadir juga ada penulis dan pegiat literasi Maman Suher, Mekang Maman.
01:59Selamat malam.
01:59Selamat malam, Pak.
02:00Saya mau tanya dulu ke Pak Aziz.
02:02Pak Aziz, ini di tengah perkembangan media sosial di mana orang-orang lebih suka nonton.
02:07Lalaupun baca semuanya serba medsos, pertanyaannya bagaimana caranya bisa meningkatkan literasi dan juga budaya membaca masyarakat Indonesia masa kini, Pak
02:16Aziz?
02:17Ya, pertama tentu ini perkembangan yang tidak bisa ditolak ya.
02:22Adanya informasi yang begitu cepat masuk dengan pendek-pendek begitu.
02:28Tetapi di sisi lain, kita juga memerlukan akses informasi yang lebih mendalam.
02:34Nah, literasi ini bukan hanya bicara tentang jumlah informasi yang diperoleh, tetapi justru bicara tentang seberapa mendalam dia bisa memahami
02:47informasi itu, kemudian dia bisa memanfaatkan informasi itu.
02:51Nah, ketika bicara tentang kedalaman itu, maka perpusnas ini menjadi wahana yang memberikan fasilitasi yang utuh gitu ya.
03:02Karena di perpusnas ini yang disimpan bukan hanya informasi-informasi yang sepenggal-sepenggal itu, tetapi informasi yang utuh, apakah itu
03:12dari buku, majalah, koran, jurnal, kemudian bahan-bahan yang sudah didigitalkan gitu.
03:18Sehingga ketika mau mendalami sebuah informasi itu tempatnya perpusakaan nasional.
03:24Nah, lalu bagaimana untuk bisa meningkatkan budaya bacanya?
03:27Budaya baca ini akan harus dibangun secara terstruktur, ya tidak bisa dibangun hanya sporadis.
03:35Sekali-sekali saja tidak bisa, karena harus ada pembiasaan, maka perpusnas membuat program yang diusahakan untuk setiap orang itu terbiasa
03:44membaca buku.
03:45Apakah itu untuk anak-anak, untuk orang dewasa yang belum terbiasa, begitu.
03:49Kita sediakan bukunya, kita bekerjasama dengan komunitas literasi, dengan pegiat literasi, dengan pemerintah-pemerintah daerah.
03:57Nah, jadi ini adalah sebuah gerakan bersama yang akan harus dilakukan supaya kebudaya membacanya membaik, kemudian tingkat literasinya juga meningkat.
04:06Kalau gitu, Kang Mawan, pertanyaan berikutnya adalah gimana caranya meningkatkan tadi budaya literasi dan membacanya ini juga meningkat?
04:14Saya selalu mengatakan negara harus hadir.
04:18Perpusnas kali ini memberikan bukti-buki tersebut, misalnya bersama-sama komunitas membentuk relawan literasi masyarakat.
04:25Turun ke lapangan ada 360 titik di seluruh Indonesia, ada relawan literasi masyarakat, diinisiasi oleh Perpusnas, diberi bantuan buku di
04:34berbagai titik.
04:35Ada juga KKN tematik literasi, di mana orang-orang yang KKN betul-betul berkaitan dengan kegiatan keliterasian.
04:42Dan ini adalah bagian dari apa yang saya sebut, kalau mau membuat orang Indonesia suka baca, maka banjiri dan hujani
04:50orang Indonesia dengan buku dan bahan bacaan dan kegiatan-kegiatan literasi.
04:55Tidak bisa satu pihak bertanggung jawab seperti itu.
04:59Kita harus terlibat bersama kalau kata Prof Amin tadi.
05:03Masyarakat, pemerintah harus ikut bersama-sama mendukung gerakan-gerakan ini.
05:07Ini yang penting harus kita lakukan.
05:09Jadi bahkan jangan jalan sendiri-sendiri.
05:11Mari kita sama-sama kementerian lembaga yang punya kaitan dengan kegiatan keliterasian harus turun bersama.
05:17Ada surat edaran dari Perpusnas kerjasama dengan kementerian desa, kementerian dalam negeri dan lain sebagainya.
05:24Lagi-lagi tujuannya satu, mendekatkan akses antara buku dengan masyarakat.
05:30Ini yang jauh banget jaraknya.
05:33Jadi buat saya persoalannya bukan orang tidak mau membaca di negeri ini.
05:37Tapi?
05:37Akses buku dengan manusia itu yang masih sangat jauh.
05:40Sehingga perlu dijembatani.
05:41Negara hadir, komunitas hadir dengan menyebarkan bahan bacaan, dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menghidupkan buku.
05:49Kedalaman yang dimaksud Prof Amin tadi bukan cuma baca buku.
05:53Dengan kedalamannya.
05:54Tapi bagaimana mendiskusikan buku, bagaimana membedah buku, bagaimana pegiat literasi turun ke lapangan.
06:01Sehingga orang merasa nyaman betul dengan buku tersebut.
06:03Bukan sekedar berhadapan dengan benda mati.
06:05Tapi dengan benda hidup.
06:07Dan buat saya buku adalah roh yang bernyawa yang harus dihidupkan terus-menerus.
06:11Oke.
06:11Buku adalah roh bernyawa yang kemudian perlu dihidupkan terus, Pak Amin.
06:16Tanyaan ini gini.
06:17Tapi kalau misalnya masyarakat bilang, oh saya tidak perlu jauh-jauh.
06:21Misalnya kan semuanya bisa dibaca serba digital.
06:23Kalau saya lagi pengen, saya tinggal buka aja.
06:25Saya tidak perlu datang jauh-jauh.
06:26Gimana caranya meyakinkan bahwa yang di digital dengan kita pergi langsung, ini berbeda rasanya?
06:32Ya, pertama tentu kita akan harus ingat.
06:35Bahwa tidak semua orang memiliki dalam tanda peti keistimewaan, kemewahan bisa mengakses bahan-bahan digital.
06:43Karena Indonesia ini begitu luas.
06:45Mungkin mereka yang berada, yang punya kuota untuk mengakses internet.
06:50Yang akan bisa memanfaatkan bacaan digital.
06:52Tapi bagaimana dengan orang-orang yang nunjauh di sana, terus kemampuan ekonominya tidak bisa selalu dipakai untuk menggunakannya membaca buku.
07:02Atau mengakses yang lain.
07:03Maka kita harus hadirkan gitu kan.
07:06Itu satu.
07:07Harus dihadirkan buku itu ke tengah-tengah mereka yang tidak mampu itu.
07:10Kemudian yang kedua, apa bedanya antara membaca yang digital dengan membaca yang fisik?
07:17Nah, ketika kita membaca secara fisik, ada interaksi secara psikologis antara kita, diri kita dengan buku.
07:25Ketika kita membuka lembaran-lembaran buku ini, interaksi antara jari kita, mata kita, ini akan berbeda dengan kita membaca yang
07:34bentuknya digital.
07:35Karena apa?
07:36Ketika kita membaca secara digital, mata kita terfokus betul kepada layar, kemudian kita cepat lelah.
07:42Nah, kelelahan ini yang membuat orang malas membaca pada akhirnya.
07:47Sehingga lama orang...
07:49Atau terdistraksi juga ya Pak?
07:50Terdistraksi.
07:51Apalagi kalau misalnya tiba-tiba iklan muncul ya gitu.
07:54Nah, ini betul-betul gangguan.
07:56Nah, jadi ketika orang sudah mulai merasakan lelah ketika membaca, akhirnya akan malas.
08:02Berbeda dengan ketika membaca buku fisik.
08:05Nah, ini tentu saja sebuah kondisi yang memang akan selalu terbagi seperti itu gitu.
08:12Nah, tinggal kita sekarang mengakali bagaimana dalam kondisi tertentu kita hanya bisa membaca yang digital misalnya gitu.
08:20Dalam kondisi yang lain kita dihadapkan kepada situasi harus membaca buku fisik.
08:26Buku fisik itu kan istilahnya hambatannya lebih kecil gitu daripada membaca yang digital ketika tidak ada listriknya.
08:37Baterai habis misalnya.
08:38Kuota habis.
08:39Kuota habis.
08:40Terus layar juga kan kecil.
08:42Kalau misalnya di yang besar, layar besar, kan lebih berat membawanya juga gitu kan.
08:48Nah, ini hal-hal yang seperti ini keasikan membaca buku fisik.
08:53Bagi saya gitu terutama ya yang saya pengalaman membaca itu lebih mengasikan membaca buku fisik.
08:59Begitu.
09:00Nah, ketika seorang sudah merasa asik dengan membaca buku, maka dia akan semakin tergerak hatinya untuk melanjutkan lagi, melanjutkan lagi.
09:09Karena hatinya sudah terlibat dengan proses membaca.
09:13Tapi gini Kang Maman dan juga Pak Amin, pertanyaan berikutnya adalah bukan soal ketika mendorong orang untuk lebih sering membaca
09:22datang ke perpustakaan nasional.
09:23Tapi sekarang ini bukan hanya di gadget saja yang jadi permasalahan atau semua orang serba ponsel semuanya.
09:29Tapi juga menjadi permasalahan atau tantangan bahkan saya bilang adalah soal penggunaan AI atau akal imitasi.
09:35Jadi artinya, ah kalau saya mau dapetin informasi saya tinggal tanya aja nih, udah dapet semuanya.
09:40Itu gimana caranya bisa meyakinkan bahwa ternyata akal imitasi ini berbeda dengan kalau kita baca lebih lengkapnya lagi.
09:48Baca jurnal dan lain sebagainya.
09:50Tetap bersama kami ya, Bapak-Bapak nanti akan menjawabnya di Sampai Indonesia Malam.
09:53Tanyaan berikutnya yang tadi sebelumnya saya tanyakan Kang Maman, kalau semuanya rata-rata orang sudah punya gadget, sudah punya ponsel.
09:59Terus sekarang zamannya AI atau akal imitasi.
10:02Orang kan berpikir, ah tidak perlu capek-capek lagi untuk baca, mau nanya apa? Silahkan aja tanya AI.
10:09Tetap kemampuannya untuk kita dapat ilmunya itu setipis gadgetnya itu juga.
10:14Semua orang bisa melakukan itu untuk kecepatan-kecepatan tertentu.
10:19Tapi saya juga bukan orang yang ingin membuat paradoks antara buku cetak dan AI.
10:24Itu bisa saling melengkapi.
10:26Kalau untuk hal-hal yang singkat kita bisa pakai AI, tapi kalau butuh kedalaman, butuh pemahaman yang lebih kritis, kita
10:33tetap harus buka buku.
10:35Dan harus ada ruang-ruang dialog.
10:38Kita nggak bisa berdialog dengan akal imitasi kan, Pak.
10:41Berdialog yang saling tanya dan kita mendapatkan kedalaman yang kuat.
10:45Dan kita kalau pakai akal imitasi hanya akan mengalir pada algoritma yang semua orang juga akan bisa ketemu.
10:52Tidak lagi ada keunikan.
10:54Dan saya selalu mengatakan bahwa raunus itu justru kesempurnaan.
10:57Dan itu milik manusia, bukan milik AI.
11:00Jadi tetap berbeda ya ketika kita membaca AI dengan yang aslinya bukunya.
11:04Saya kalau bertemu dengan orang yang mengaku konsultan tapi ilmunya cuma dari AI.
11:09Biarkan dia menjelaskan dengan dahsyat.
11:11Begitu tanya jawab.
11:13A-O-A-O tuh.
11:14Karena tipis betul nggak ketemu kedalamannya.
11:17Kalau gitu artinya Prof Amin ketika membaca itu kan kita sudah diajarkan sejak dari kecil.
11:24Bahkan sebelum TK orang tua kita sudah mulai belajar AI, UEO, 1, 2, 3.
11:28Mulai membaca.
11:30Artinya memang hal itu ya sedini mungkin kita harus mempraktekan itu kepada anak-anak kita.
11:37Untuk kembali lagi membaca.
11:39Ya, proses membaca itu kan dimulai dari niat dia mau membaca.
11:45Ada yang disebut dengan pra-membaca.
11:48Ketika mau menentukan sebuah buku saya mau baca itu.
11:51Kemudian mencari buku itu adanya di mana.
11:53Itu sudah mulai dengan proses itu.
11:55Kemudian ketemu dengan bukunya.
11:57Dia baca.
11:58Kemudian setelah membaca dia menjadi paham.
12:01Kemudian dia meneruskannya dengan tindakan-tindakan yang diperlukan sesuai dengan niatnya tadi.
12:06Nah, praktek ini yang kadang-kadang tidak ditemukan ketika kita membaca melalui tadi kecerdasan buatan.
12:14Karena apa?
12:15Tiba-tiba informasi itu datang, menggerudu kita.
12:18Kemudian kita susah memilahnya.
12:20Nah, ini yang justru menjadi penting untuk disampaikan kepada siapapun yang mau membaca.
12:27Kita ajarkan bagaimana proses membaca itu seharusnya terjadi.
12:31Nah, ketika kita membaca melalui AI, kan pendek-pendek, cepat-cepat gitu ya.
12:38Ini kan sebetulnya bisa dikatakan trade-off ya.
12:42Antara kecepatan dengan kedalaman.
12:44Nah, mencari informasi melalui AI, ya cepat sekali.
12:48Dalam hitungan detik sudah datang.
12:49Ketika klik, langsung keluar.
12:51Nah, tetapi ketika misalnya kita mau mendalam, tidak bisa dengan AI.
12:56Kita tidak bisa berdialog seperti dikatakan Maman.
12:58Nah, karena apa?
12:59Juga kita harus hati-hati tentang informasi yang diperoleh melalui AI ini.
13:03Melalui kecerdasan buatan.
13:04Karena bagaimanapun, artificial intelligence ini, pertama tidak punya hati.
13:09Tidak punya rasa.
13:11Dia tidak punya logika.
13:13Logika dalam arti nalar yang seperti manusia, bisa menentukan baik-buruk, benar-salah.
13:20Tidak punya moral, tidak punya etika.
13:22Ini AI.
13:23Manusialah yang bisa menentukan.
13:25Misalnya, ketika kita bicara tentang, katakanlah, kami kemarin ini diskusi tentang indeks pembangunan literasi masyarakat.
13:32Apakah kita akan menyamakan sebuah kondisi yang terjadi di Jakarta dengan yang kondisi di Papua, di NTT, dengan segala macam.
13:39Ketika data ini masuk, diolah melalui kecerdasan buatan, semuanya ditafsirkan sama.
13:44Rata.
13:45Rata saja.
13:46Artinya kita tidak boleh membaca AI atau gimana nih?
13:49Bukan tidak boleh membaca AI, tapi kita harus menafsirkan dan memberikan masukan informasi kepada AI supaya dia tidak ngaco gitu.
13:58Jangan menyamakan kondisi Jakarta, akses yang begitu mudah, perpusakan di mana-mana, kemampuan orang untuk membeli kuota juga jauh lebih
14:07besar.
14:08Bagaimana kalau dibandingkan dengan di daerah-daerah 3T misalnya.
14:12Nah ini yang kita harus definisikan ulang.
14:14AI tidak bisa kalau tidak kita kasih tahu.
14:16Nah siapa yang bisa kasih tahu?
14:17Ya manusia.
14:18Ya kita juga ya.
14:19Betul, gitu.
14:20Nah karena memang ada keterbatasan-keterbatasan dari AI ini yang harus kita beri asupan.
14:26Jangan sampai si kecerdasan buatan ini justru menafsirkan sendiri.
14:31Ini yang kemudian ketika ditafsirkan sendiri loh kok jadi seperti ini jadi salah.
14:37Dan jangan sampai kita sebagai pembaca berita, pembaca informasi melalui AI ini terjebak oleh kepercayaan bahwa apa yang disampaikan oleh
14:46AI ini adalah benar semua.
14:48Itu yang tidak boleh terjadi.
14:49Dan ini kaitannya dengan tingkat kesakapan literasi masyarakat itu.
14:52Kalau gitu Prof Amin gimana juga caranya agar perpusnas ini kembali mengingatkan bahwa kami ada loh disini untuk membantu dan
15:01meningkatkan literasi masyarakat Indonesia yang saat ini penuh dengan apa-apa media sosial dan juga tadi AI itu sendiri.
15:07Nah ini tantangan bagi perpusnas.
15:10Juga tantangan bagi pusakawan tentu saja ya.
15:13Karena di perpusnas itu kan mayoritasnya pusakawan.
15:16Saya sering bertanya, masihkah perpusakaan itu dibutuhkan?
15:19Ini pertanyaan yang bukan karena saya orang baru di perpusnas, saya bukan pusakawan.
15:25Tetapi ini pertanyaan kritis supaya bisa membangkitkan perasaan bahwa perpusakan itu tetap tidak bisa tergantikan oleh AI.
15:33Nah bagaimana cara yang kami lakukan?
15:35Kami melakukan pelatihan-pelatihan, bekerjasama dengan para pegiat literasi yang tadi disampaikan oleh Kak Amaman.
15:42Apakah itu relima, relawan literasi masyarakat, apakah pegiat yang tidak masuk ke relima, KKN tematik Literasi.
15:49Termasuk di lapas, di puskesmas.
15:52Memberikan pelatihan bagaimana cara membaca yang benar, cara mengolah informasi yang benar.
16:00Pada saat yang sama kami juga memberikan fasilitasi.
16:04Kalau mereka mau membaca informasi yang terkait dengan hal yang tadi mereka cari, itu ada di perpusnas.
16:11Ketika misalnya ada berita tentang sebuah kajian, itu kan paling sedikit-sedikit saja kalau dari AI.
16:18Nah lengkapnya silahkan datang ke perpusnas.
16:21Nah di perpusnas ini tersedia referensi-referensi yang mungkin tidak ditemukan di AI.
16:26Apalagi kalau kita bicara tentang kekayaan hazanah keilmuan masa lalu.
16:32Yang manuskrip-manuskrip ratusan tahun.
16:34Yang paling tua itu kan ada manuskrip yang usianya sudah ada di tahun 1500-an.
16:40Dan itu tidak ada di ponsel.
16:41Tidak ada di ponsel.
16:42Kalau tidak dimasukkan datanya ke...
16:44Tidak akan ada.
16:45Tidak akan ada.
16:46Kemudian aksara kita, itu juga kan sangat unik.
16:50Tidak bisa dibaca tiba-tiba oleh AI.
16:52Nah ini yang bisa tetap menunjukkan bahwa perpustakaan tetap diperlukan.
16:57Dan ini yang justru lebih penting adalah di perpusnas ada manusia yang bisa diajak ngomong.
17:07Ada komunikasi ketika tidak tahu bisa seperti apa dia berikan layanannya.
17:12Harus seperti apa dia melakukan pencarian informasi.
17:16Yang di AI itu tidak ditemukan.
17:19Jadi ada manusia. Faktor manusia tidak bisa digantikan oleh AI.
17:22Tidak bisa digantikan apapun ya.
17:23Kalau gitu Kang Maman pertanyaan terakhirnya.
17:25Kenapa penting untuk mengingatkan kembali kita untuk membaca buku.
17:30Penting untuk mengingatkan kembali kalau kita mau baca yang lebih luas ada di perpustakaan nasional.
17:36Buku bukan cuma untuk dibaca.
17:38Tapi untuk dipahami.
17:40Dan untuk memahami itu tidak bisa kita hanya berdialog dengan AI atau dengan buku itu.
17:44Tapi juga harus menghadirkan manusia-manusia.
17:47Untuk berdialog dengan buku tersebut.
17:49Seperti hanya kita mengajak anak kita membaca.
17:51Dia tidak akan bisa membaca kalau dia tidak melihat contoh bapak ibunya juga senang.
17:55Dan tatap muka itu, itu punya kedalaman.
17:59Human library perpustakaan yang menghadirkan manusia itu tidak bisa dihadirkan oleh AI.
18:04Contoh sederhana nih sebagai penutup.
18:06Ketika saya meluncurkan buku tentang ibu saya dan janda itu ibuku.
18:10Saya bertanya kepada AI.
18:13Tolong jelaskan tentang ibu saya yang bernama Sumiati.
18:15Apa jawabannya?
18:17Oh itu nama hantu di Sulawesi.
18:20Karena belum masuk data-datanya?
18:22Ada, sudah ada bukunya.
18:23Oh sudah ada, oke.
18:24Karena tidak ada dialog manusia untuk menjelaskan siapa ibu saya.
18:27Yang dia lihat algoritma terbanyak tentang Sumiati adalah film Sumiati.
18:31Oke baik.
18:32Kan tentang sosok hantu.
18:33Ini bisa dibayangkan kan.
18:35Dialog itu bisa hilang.
18:36Jadi kalau kita bertemu di perpustakaan, perpustakaan tidak cuma menyediakan buku.
18:40Ruang-ruang untuk berdialog, ruang untuk membedah buku, ruang untuk membedah tayangan televisi, tayangan film.
18:48Hanya di...
18:48Kita akan ketemu kedalaman itu.
18:50Jadi jangan pernah menganggap perpustakaan itu cuma tempat menyimpan buku.
18:54Oke.
18:54Baik, sudah kita tangkap pesannya.
18:56Terima kasih Prof Amin.
18:58Kamu aman, terima kasih.
19:00Semoga ini juga menambah lagi minat kita untuk kembali membaca buku dan juga meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.
Komentar

Dianjurkan