Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Misteri kematian Sutrimo kembali menjadi sorotan. Pengamat intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, Kriminolog Universitas Indonesia Thomas Sunaryo, penasihat hukum Febrie Adriansyah Firman Wijaya, mantan Kabareskrim Polri Komjen (Purn) Susno Duadji, penasihat hukum keluarga Sutrimo Aan Rohaeni, Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso, akademisi Asfinawati, dan analis senior Drone Emprit Rizal Nova Mujahid membahas satu pertanyaan besar: apakah dugaan Sutrimo dibunuh hanya spekulasi atau mengarah pada konspirasi tingkat tinggi?

Perdebatan juga menyentuh kemungkinan pengalihan isu, posisi Sutrimo dalam pusaran kasus Febrie, serta pentingnya melihat perkara berdasarkan bukti, bukan prasangka.

Baca Juga TEGAS! Prabowo Tegur TNI-Polri soal Tambang Ilegal: "Untuk Apa Negara Kasih Pangkat?" | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/685667/tegas-prabowo-tegur-tni-polri-soal-tambang-ilegal-untuk-apa-negara-kasih-pangkat-sapa-malam

Susno Duadji menegaskan polisi telah mengantongi alat bukti karena perkara sudah naik ke tahap penyidikan dan hasil ekshumasi akan menjadi bagian penting untuk memperkuat pembuktian.

Aan Rohaeni menyatakan keluarga hanya ingin memastikan apakah kematian Sutrimo wajar atau tidak dan menuntut keadilan bila ditemukan tindak pidana.

Sugeng Teguh Santoso dan Asfinawati menyoroti pentingnya transparansi serta pemeriksaan menyeluruh, sementara Rizal Nova menyebut tingginya perhatian publik menuntut penegak hukum bekerja profesional.

Lantas, apa sebenarnya yang akan dibuktikan dari ekshumasi dan apakah kematian Sutrimo memiliki kaitan dengan kasus Febrie Adriansyah?

Produser: Prayogi Haro

Editor: Novaltri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/685668/blak-blakan-kuasa-hukum-pakar-bicara-ekshumasi-sutrimo-konspirasi-kasus-febrie
Transkrip
00:01Ya, para jasa, jadi menurut Anda, Sutrimo dibunuh itu konspirasi atau hanya spekulasi?
00:08Saya pikir spekulasi lah. Kalau konspirasi tingkat tinggi, saya sudah bilang kan ada indikasi-indikasi yang sinkron gitu ya.
00:16Ada beberapa. Tapi kalau ini indikasi nama.
00:19Dan, persoalan Sutrimo, ini saya pikir bukan bentuk pengalian isu.
00:25Justru kalau pengalian isu, kompas termasuk yang mengalirkan isu ini kan dibesar-besarkan gitu.
00:32No, no, no.
00:36Pak Thomas, menurut Anda, kasus kematian Sutrimo merupakan hanyalah spekulasi atau merupakan konspirasi tingkat tinggi?
00:45Tadi Pak Intelligent sudah menjelaskan itu ya.
00:48Sepakat.
00:48Ya, saya setuju. Tapi kan yang saya heran juga, kenapa awal-awal badan intelijen di kejaksaan ya, Jampit, dia mengatakan
00:59bahwa siapa?
01:01Nama, Sutrimo.
01:03Bukan, bukan. Febron itu bukan orang kejaksaan.
01:06Tapi kemudian dianur lagi oleh Jampit apa gitu, dia memang pegawai kejaksaan.
01:11Ini juga sudah secara intelijen ada dugaan ya.
01:14Menurut saya, saya bukan orang intelijen ya, tapi begini, dan intelijen itu memang dulu juga kasus Monir ya, itu ada
01:24ketertalibatan BIN ya, tapi yang tertangkap hanya pelaku-pelaku di lapangan saja.
01:29Jadi ciri khas intel yang berhasil, ketika dia bicara, orang percaya dia bingung, Pak.
01:33Karena dia sendiri nggak percaya sama omongannya.
01:35Oke, saya ke Pak Firman.
01:37Jadi sebenarnya Sutrimo, itu ada kaitannya dalam kasus, pusaran kasus,
01:42Exjampisus, atau hanya sekedar spekulasi saja?
01:45Ya, kalau membaca kematian Janggal, Pak Sutrimo, dan konspirasi tingkat tinggi, saya rasa memang tidak ada kaitannya secara langsung ya,
01:53maupun tidak langsung dengan urusan Pak, kasus Pak Febidiansa.
01:57Jadi menurut tempat saya, hard evidence, ya, bukti yang nyata, itu saja yang kita, daripada kita berspekulasi dan berprasangga-sangga.
02:06Oke.
02:06Karena prasangga itu bisa hangus kalau tidak dilasarkan, lho, te, suatu bukti.
02:10Oke, baik.
02:11Pak Susno, jadi sebenarnya ekshumasi hanya sekedar formalitas penyidikan, atau memang polisi sudah mengantongi alat bukti dan juga calon tersangka?
02:22Alat bukti jelas sudah dikantongi, karena sudah ditingkatkan menjadi penyidikan.
02:27Nah, untuk memperkuat alat bukti itu adalah hasil ekshumasi.
02:31Dan menambah alat bukti yang lain, yang diinformasikan oleh masyarakat.
02:36Bu Aan menginformasikan bahwa jenazah sutrimo diantar oleh Febrio, ya.
02:45Kemudian bersama dia ada lagi dua orang yang mengantar.
02:49Nah, siapa dua orang ini? Apakah dari instansi mana?
02:52Nah, kemudian pada saat dia ditelepon untuk kembali ke Jakarta, itu harus dicari telponnya itu.
02:58Dan siapa yang menelpon? Siapa yang mentransfer duit untuk ongkosnya 5 juta?
03:03Dan siapa yang sudah menunggu?
03:05Tiket sudah dibelikan, lho.
03:07Ada orang yang belikan tiketnya.
03:08Siapa yang sudah menunggu di stasiun, Cilacap, mana itu, untuk dia naik kereta api, itu, Prokerto, ya.
03:16Dan di situ sudah nunggu dua orang yang jemput dia ke Jakarta.
03:20Nah, itu harus disidik semua, supaya teka-teki-teka-teki yang kita buat ini, tidak ada dusta diantara kita.
03:28Oke, saya ke Bu Aan.
03:30Bu Aan, apa yang diharapkan pihak keluarga dari eksumasi dan juga naiknya ke penyidikan?
03:38Pihak keluarga itu hanya ingin kebenaran.
03:41Apakah kematian sutrimo itu kematian yang wajar atau tidak?
03:46Kalau tidak, tentu saja pihak keluarga minta keadilan ditegakkan.
03:49Itu saja, Pak.
03:50Baik, saya ke Pak Teguh kalau begitu.
03:52Pak Teguh dengan kasus ex-jumpitsus yang masih berjalan dan mungkin mengembang ke banyak perkara.
03:59Menurut Anda sendiri, apa sebaiknya lakukan tim 9 Kejagung dan tim yang lain?
04:04Mereka harus menghilangkan skeptisme publik, ya.
04:08Skeptisme publik itu bisa hilang apabila mereka bisa menunjukkan akuntabilitasnya dalam bekerja.
04:16Ya, dan juga profesional tentunya.
04:20Tapi skeptisme itu tetap melekat.
04:23Karena tadi dikatakan, ini seorang, katakanlah seorang penjahat dikembalikan ke rumahnya, ya.
04:31Sementara bos, apa tuh, kepala keluarga itu masih ada di sana.
04:38Mestinya diganti dulu tuh kepala keluarganya, ya.
04:42Jaksa aminnya mestinya dicopot dulu, ya.
04:45Baru itu akuntabilitasnya bisa ditunjukkan, ya.
04:52Bisa dipertahankan.
04:53Oke, baik. Saya ke Mbak Aswi.
04:55Mbak Aswi, dari kasus Hutrimo maupun Exjampetsus, apa yang harus, yang perlu dilakukan oleh peringkat hukum?
05:03Ya, pertama sudah terlalu banyak tumbal-tumbal dalam soal politik dan juga ini kan kasus korupsi bernuansanya sangat politis, ya.
05:13Ada dimensi politik.
05:15Jadi, kalau kita lihat tadi dari keterangan kuasa hukum korban, dan juga kalau memang dia hanya pekerja rumah tangga dan
05:24hanya tugasnya menjaga,
05:25emang kurang orang di Jakarta harus mendatangkan satu orang.
05:29Jadi menurut saya di sini ada dua peristiwa yang perlu disidik.
05:31Satu, kenapa ini didatangkan, untuk apa, dan kemudian apa yang menyebabkan dia sampai meninggal.
05:35Dan yang paling penting, saya setuju bahwa kasus Hutrimo ini, apapun nanti hasil kepastian dari otopsinya,
05:43kita harus fokus juga mengaitkan ini dengan kasus mega korupsinya yang melibatkan peringkat hukum yang sangat banyak terjadi di Indonesia
05:49dan jarang sekali terbongkar.
05:51Oke, singkat saja Mas Nova.
05:53Apa yang Anda rangkum suara netizen terkait dengan kasus Hutrimo dan juga kasus Pevri?
06:00Singkat saja, Pak.
06:01Yang pasti harapannya tentu saja kejelasan, ada transparansi, ada pernyataan-pernyataan yang jelas itu disampaikan.
06:11Tetapi gini, kasus ini meskipun percakapannya tidak terlalu banyak, tetapi interes publik sangat tinggi.
06:18Artinya penegak hukum harus betul-betul transparan dan profesional dalam menyidik ini.
06:24Agar publik berbagai macam keraguan, berbagai macam tanya di publik itu bisa terjawab dan tercerahkan.
06:31Semua kita berharap jangan cuma jadi bola liar, tapi ada pencerahan nantinya.
06:35Terima kasih kepada seluruh narasumber yang sudah di studio dan juga teman-teman mahasiswa.
06:39Dengan demikian saya mahasiswa Targen Pandu, sampai jumpa minggu depan di Bola Liar.
Komentar

Dianjurkan