KOMPAS.TV Di tengah perkembangan teknologi dan era kecerdasan buatan, masyarakat Indonesia masih mengunjungi perpustakaan untuk mencari sumber pengetahuan dan informasi. Salah satunya Perpustakaan Nasional yang menjadi tempat masyarakat membaca buku sekaligus memperoleh pengalaman audiovisual.
Bagi sejumlah pengunjung, membaca buku di Perpustakaan Nasional menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi. Selain untuk hobi, masyarakat juga datang untuk mencari referensi tugas sekolah dan kuliah.
Akses gratis, koleksi buku, serta berbagai fasilitas pendukung membuat pengunjung dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan literasi. Di tengah perkembangan digital dan kecerdasan buatan, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan literasi dan membangun budaya membaca.
Bagaimana perpustakaan dan komunitas masyarakat dapat berperan bersama dalam meningkatkan literasi di Indonesia? Simak perbincangan bersama Kepala Perpustakaan Nasional Prof. Endang Aminuddin Aziz dan penulis sekaligus pegiat literasi Maman Suherman.
#literasi #perpusnas #perpustakaan #maman_suherman #pendidikan #kompastv
Baca Juga Peluncuran Buku "Bankir, Growing with Purpose" Hadirkan Pengalaman di Dunia Perbankan | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/regional/684677/peluncuran-buku-bankir-growing-with-purpose-hadirkan-pengalaman-di-dunia-perbankan-sapa-pagi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/685658/full-kepala-perpusnas-dan-maman-suherman-bisakah-budaya-membaca-bertahan-di-era-ai-sapa-malam
Bagi sejumlah pengunjung, membaca buku di Perpustakaan Nasional menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi. Selain untuk hobi, masyarakat juga datang untuk mencari referensi tugas sekolah dan kuliah.
Akses gratis, koleksi buku, serta berbagai fasilitas pendukung membuat pengunjung dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan literasi. Di tengah perkembangan digital dan kecerdasan buatan, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan literasi dan membangun budaya membaca.
Bagaimana perpustakaan dan komunitas masyarakat dapat berperan bersama dalam meningkatkan literasi di Indonesia? Simak perbincangan bersama Kepala Perpustakaan Nasional Prof. Endang Aminuddin Aziz dan penulis sekaligus pegiat literasi Maman Suherman.
#literasi #perpusnas #perpustakaan #maman_suherman #pendidikan #kompastv
Baca Juga Peluncuran Buku "Bankir, Growing with Purpose" Hadirkan Pengalaman di Dunia Perbankan | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/regional/684677/peluncuran-buku-bankir-growing-with-purpose-hadirkan-pengalaman-di-dunia-perbankan-sapa-pagi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/685658/full-kepala-perpusnas-dan-maman-suherman-bisakah-budaya-membaca-bertahan-di-era-ai-sapa-malam
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara di tengah era akal imitasi, banyak masyarakat Indonesia yang terus mengunjungi perpustakaan untuk mencari sumber pengetahuan dan informasi.
00:08Termasuk pergi ke Perpustakaan Nasional untuk baca buku sekaligus pengalaman audiovisual.
00:15Bagi sejumlah pengunjung membaca buku-buku di Perpusnas atau Perpustakaan Nasional, ini berarti untuk semakin meningkatkan literasi.
00:24Tak hanya sekedar hobi saja, banyak masyarakat yang datang ke Perpusnas guna mencari referensi tugas sekolah dan kuliah.
00:33Akses gratis untuk semua kalangan, koleksi bukunya yang lengkap, hingga fasilitas pendukung lainnya yang nyaman,
00:40membuat pengunjung betah, menambah ilmu, dan meningkatkan literasi di Perpustakaan.
00:57Buku yang saya cari itu cuma ada di Perpusnas.
01:03Walaupun memang ada sumber lain seperti internet, tapi kan belum tentu ada dan juga belum tentu sudah di archive seperti
01:12itu.
01:13Koleksi bukunya banyak, jadi aku bisa cari banyak referensi di sini karena memang kebutuhan aku untuk kuliah,
01:19jadi referensinya terbuka dan fasilitas lain seperti kantin dan juga untuk koleksi pinjam-pinjamnya itu sangat dimudahkan.
01:28Gitu sih, Kak.
01:29Saudara Indonesia sebagai bangsa besar masih punya banyak tantangan untuk bisa meningkatkan literasi dan gerakan budaya membaca
01:36di tengah perkembangan digital hingga akal imitasi atau yang biasanya kita kenal dengan AI.
01:41Lalu pertanyaannya bagaimana perpustakaan dan komunitas masyarakat dapat berperan bersama untuk tujuan ini?
01:46Untuk membahasnya, saya sudah bersama dengan Kepala Perpustakaan Nasional, Profesor Endang Aminuddin Aziz.
01:52Pak Aziz, selamat malam.
01:53Selamat malam, Mbak Audrey.
01:55Dan hadir juga ada penulis dan pegiat literasi, Maman Suher, Mekang Maman.
01:59Selamat malam.
01:59Selamat malam, Pak.
02:00Saya mau tanya dulu ke Pak Aziz.
02:02Pak Aziz, ini di tengah perkembangan media sosial di mana orang-orang lebih suka nonton.
02:07Lalaupun baca semuanya serba medsos.
02:09Pertanyaannya, bagaimana caranya bisa meningkatkan literasi dan juga budaya membaca masyarakat Indonesia masa kini, Pak Aziz?
02:16Ya, pertama tentu ini perkembangan yang tidak bisa ditolak ya.
02:22Adanya informasi yang begitu cepat, masuk dengan pendek-pendek begitu.
02:28Tetapi di sisi lain, kita juga memerlukan akses informasi yang lebih mendalam.
02:34Nah, literasi ini bukan hanya bicara tentang jumlah informasi yang diperoleh, tetapi justru bicara tentang seberapa mendalam dia bisa memahami
02:46informasi itu.
02:47Kemudian dia bisa memanfaatkan informasi itu.
02:51Nah, ketika bicara tentang kedalaman itu, maka perpusnas ini menjadi wahana yang memberikan fasilitasi yang utuh gitu ya.
03:02Karena di perpusnas ini yang disimpan bukan hanya informasi-informasi yang sepenggal-sepenggal itu, tetapi informasi yang utuh, apakah itu
03:12dari buku, majalah, koran, jurnal, kemudian bahan-bahan yang sudah didigitalkan gitu.
03:18Sehingga ketika mau mendalami sebuah informasi, itu tempatnya perpusakaan nasional.
03:24Nah, lalu bagaimana untuk bisa meningkatkan budaya bacanya?
03:27Budaya baca ini akan harus dibangun secara terstruktur, ya tidak bisa dibangun hanya sporadis.
03:35Sekali-sekali saja, nggak bisa.
03:37Karena harus ada pembiasaan, maka perpusnas membuat program yang diusahakan untuk setiap orang itu terbiasa membaca buku.
03:44Apakah itu untuk anak-anak, untuk orang dewasa yang belum terbiasa, begitu.
03:49Kita sediakan bukunya, kita bekerjasama dengan komunitas literasi, dengan pegiat literasi, dengan pemerintah-pemerintah daerah.
03:57Jadi ini adalah sebuah gerakan bersama yang akan harus dilakukan supaya budaya membacanya membaik, kemudian tingkat literasinya juga meningkat.
04:06Kalau gitu, Kang Maman, pertanyaan berikutnya adalah gimana caranya meningkatkan tadi budaya literasi dan membacanya ini juga meningkat?
04:14Saya selalu mengatakan negara harus hadir.
04:18Perpusnas kali ini memberikan bukti-bukti tersebut, misalnya bersama-sama komunitas membentuk relawan literasi masyarakat.
04:25Turun ke lapangan ada 360 titik di seluruh Indonesia ada relawan literasi masyarakat.
04:30Di inisiasi oleh Perpusnas, diberi bantuan buku di berbagai titik.
04:35Ada juga KKN tematik literasi, dimana orang-orang yang KKN betul-betul berkaitan dengan kegiatan keliterasian.
04:43Dan ini adalah bagian dari apa yang saya sebut kalau mau membuat orang Indonesia suka baca,
04:48maka banjiri dan hujani orang Indonesia dengan buku dan bahan bacaan dan kegiatan-kegiatan literasi.
04:54Jadi tidak bisa satu orang, satu pihak bertanggung jawab seperti itu.
04:59Kita harus terlibat bersama kalau kata Prof Amin tadi.
05:02Masyarakat, pemerintah harus ikut bersama-sama mendukung gerakan-gerakan ini.
05:07Ini yang penting harus kita lakukan.
05:09Jadi bahkan jangan jalan sendiri-sendiri.
05:11Mari kita sama-sama kementerian lembaga yang punya kaitan dengan kegiatan keliterasian harus turun bersama.
05:17Ada surat edaran dari Perpusnas kerjasama dengan kementerian desa, kementerian dalam negeri, dan lain sebagainya.
05:24Lagi-lagi tujuannya satu, mendekatkan akses antara buku dengan masyarakat.
05:30Ini yang jauh banget jaraknya.
05:33Jadi buat saya persoalannya bukan orang tidak mau membaca di negeri ini.
05:37Tapi?
05:37Akses buku dengan manusia itu yang masih sangat jauh.
05:40Tidak perlu dijembatani.
05:41Negara hadir, komunitas hadir, dengan menyebarkan bahan bacaan,
05:45dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menghidupkan buku.
05:49Kedalaman yang dimaksud Prof Amin tadi bukan cuma baca buku.
05:53Dengan kedalamannya.
05:54Tapi bagaimana mendiskusikan buku, bagaimana membedah buku,
05:58bagaimana pegiat literasi turun ke lapangan.
06:00Sehingga orang merasa nyaman betul dengan buku tersebut.
06:03Bukan sekedar berhadapan dengan benda mati.
06:05Tapi dengan benda hidup.
06:07Dan buat saya buku adalah roh yang bernyawa yang harus dihidupkan terus-menerus.
06:11Oke.
06:11Buku adalah roh bernyawa yang kemudian perlu dihidupkan terus.
06:15Pak Amin.
06:16Pertanyaan ini, tapi kalau misalnya masyarakat bilang,
06:19oh saya tidak perlu jauh-jauh.
06:20Misalnya kan semuanya bisa dibaca serba digital.
06:23Kalau saya lagi pengen, saya tinggal buka saja.
06:25Saya tidak perlu datang jauh-jauh.
06:26Bagaimana caranya meyakinkan bahwa
06:28yang di digital dengan kita pergi langsung,
06:30ini berbeda rasanya?
06:32Ya, pertama tentu kita akan harus ingat.
06:35Bahwa tidak semua orang memiliki
06:38dalam tanda peti keistimewaan, kemewahan,
06:41bisa mengakses bahan-bahan digital.
06:43Karena Indonesia ini begitu luas,
06:45mungkin mereka yang berada,
06:48yang punya kuota untuk mengakses internet,
06:50yang akan bisa memanfaatkan bacaan digital.
06:52Tapi bagaimana dengan orang-orang yang nonjauh di sana,
06:56terus kemampuan ekonominya,
06:58tidak bisa selalu dipakai untuk menggunakannya,
07:00membaca buku,
07:02atau mengakses yang lain.
07:03Maka kita harus hadirkan, gitu kan.
07:06Itu satu.
07:06Harus dihadirkan buku itu ke tengah-tengah mereka yang tidak mampu itu.
07:10Kemudian yang kedua, apa bedanya antara membaca yang digital
07:15dengan membaca yang fisik?
07:17Nah, ketika kita membaca secara fisik,
07:20ada interaksi secara psikologis,
07:22antara kita, diri kita dengan buku.
07:25Ketika kita membuka lembaran-lembaran buku ini,
07:29interaksi antara jari kita, mata kita,
07:32ini akan berbeda dengan kita membaca yang bentuknya digital.
07:35Karena apa?
07:36Ketika kita membaca secara digital,
07:38mata kita terfokus betul kepada layar,
07:40kemudian kita cepat lelah.
07:42Iya, betul.
07:43Nah, kelelahan ini yang membuat orang malas membaca pada akhirnya.
07:47Sehingga, lama orang...
07:49Atau terdistraksi juga ya, Pak?
07:50Terdistraksi.
07:51Apalagi kalau misalnya tiba-tiba iklan muncul ya, gitu.
07:54Ini betul-betul gangguan.
07:56Iya.
07:56Nah, jadi ketika orang sudah mulai merasakan lelah ketika membaca,
08:00akhirnya akan malas.
08:02Berbeda dengan ketika membaca buku fisik.
08:05Nah, ini tentu saja sebuah kondisi yang memang akan selalu terbagi seperti itu, gitu.
08:12Nah, tinggal kita sekarang mengakali bagaimana dalam kondisi tertentu
08:17kita hanya bisa membaca yang digital, misalnya gitu.
08:20Dalam kondisi yang lain kita dihadapkan kepada situasi harus membaca buku fisik.
08:26Buku fisik itu kan istilahnya apa ya, hambatannya lebih kecil gitu,
08:33daripada membaca yang digital ketika tidak ada listriknya.
08:37Baterai habis misalnya.
08:38Kuota habis.
08:39Kuota habis.
08:40Terus layar juga kan kecil.
08:42Kalau misalnya di yang besar, layar besar, kan lebih berat membawanya juga.
08:48Nah, ini hal-hal yang seperti ini, keasikan membaca buku fisik.
08:53Bagi saya terutama ya, yang saya pengalaman membaca itu, lebih mengasikan membaca buku fisik.
08:59Nah, ketika seorang sudah merasa asyik dengan membaca buku,
09:03maka dia akan semakin tergerak hatinya untuk melanjutkan lagi, melanjutkan lagi.
09:09Karena hatinya sudah terlibat dengan proses membaca.
09:13Tapi gini, Kang Maman dan juga Pak Amin, pertanyaan berikutnya adalah
09:17bukan soal ketika mendorong orang untuk lebih sering membaca,
09:22datang ke perpustakaan nasional, tapi sekarang ini bukan hanya di gadget saja yang jadi permasalahan
09:27atau semua orang serba ponsel semuanya.
09:29Tapi juga yang menjadi permasalahan atau tantangan, bahkan saya bilang adalah soal penggunaan AI
09:33atau akal imitasi.
09:35Jadi artinya, ah kalau saya mau dapetin informasi, saya tinggal tanya aja nih.
09:39Udah dapet semuanya.
09:40Itu gimana caranya?
09:41Bisa meyakinkan bahwa ternyata akal imitasi ini berbeda dengan kalau kita baca lebih lengkapnya lagi.
09:48Baca jurnal dan lain sebagainya.
09:49Tetap bersama kami ya, Bapak-Bapak nanti akan menjawabnya di Sampai Indonesia Malam.
10:01Pertanyaan berikutnya, yang tadi sebelumnya saya tanyakan Kang Maman,
10:04kalau semuanya rata-rata orang sudah punya gadget, sudah punya ponsel,
10:07terus sekarang jamannya AI atau akal imitasi.
10:10Orang kan berpikir, ah tidak perlu capek-capek lagi untuk baca,
10:13mau nanya apa? Silahkan aja tanya AI.
10:17Tetap kemampuannya untuk kita dapat ilmunya itu setipis gadgetnya itu juga.
10:22Semua orang bisa melakukan itu untuk kecepatan-kecepatan tertentu.
10:26Tapi saya juga bukan orang yang ingin membuat paradoks antara buku cetak dan AI.
10:32Itu bisa saling melengkapi.
10:34Kalau untuk hal-hal yang singkat, kita bisa pakai AI.
10:36Tapi kalau butuh kedalaman, butuh pemahaman yang lebih kritis,
10:41kita tetap harus buka buku.
10:43Dan harus ada ruang-ruang dialog.
10:45Kita nggak bisa berdialog dengan akal imitasi kan, Pak.
10:49Berdialog yang saling tanya dan kita mendapatkan kedalaman yang kuat.
10:53Dan kita kalau pakai akal imitasi hanya akan mengalir pada algoritma yang semua orang juga akan bisa ketemu.
11:00Tidak lagi ada keunikan.
11:02Dan saya selalu mengatakan bahwa Rowness itu justru kesempurnaan.
11:05Dan itu milik manusia, bukan milik AI.
11:08Jadi tetap berbeda ya ketika kita membaca AI dengan yang aslinya bukunya.
11:12Saya kalau bertemu dengan orang yang mengaku konsultan tapi ilmunya cuma dari AI.
11:16Biarkan dia menjelaskan dengan dahsyat.
11:19Begitu tanya jawab.
11:20A-O-A-O tuh.
11:22Karena tipis betul nggak ketemu kedalamannya.
11:25Kalau gitu artinya Prof Amin ketika membaca itu kan kita sudah diajarkan sejak dari kecil.
11:32Bahkan sebelum TK orang tua kita sudah mulai belajar AI, UEO, 1, 2, 3, mulai membaca.
11:37Nah artinya memang hal itu ya sedini mungkin kita harus mempraktekan itu kepada anak-anak kita.
11:45Untuk kembali lagi membaca.
11:48Ya proses membaca itu kan dimulai dari niat dia mau membaca.
11:53Ada yang disebut dengan pra-membaca.
11:56Ketika mau menentukan sebuah buku saya mau baca itu.
11:59Kemudian mencari buku itu adanya di mana.
12:01Itu sudah mulai dengan proses itu.
12:03Kemudian ketemu dengan bukunya.
12:05Dia baca kemudian setelah membaca dia menjadi paham.
12:09Kemudian dia meneruskannya dengan tindakan-tindakan yang diperlukan sesuai dengan niatnya tadi.
12:15Nah praktek ini yang kadang-kadang tidak ditemukan ketika kita membaca melalui tadi kecerdasan buatan.
12:22Karena tiba-tiba informasi itu datang menggerudu kita.
12:26Kemudian kita susah memilahnya.
12:28Nah ini yang justru menjadi penting untuk disampaikan kepada siapapun yang mau membaca.
12:35Kita ajarkan bagaimana proses membaca itu seharusnya terjadi.
12:39Nah ketika kita membaca melalui AI.
12:43Kan pendek-pendek cepat-cepat gitu ya.
12:46Ini kan sebetulnya bisa dikatakan trend off ya.
12:50Antara kecepatan dengan kedalaman.
12:51Nah mencari informasi melalui AI ya cepat sekali.
12:56Dalam hitungan detik sudah datang.
12:57Ketika klik langsung keluar.
12:59Nah tetapi ketika misalnya kita mau mendalam tidak bisa dengan AI.
13:04Kita tidak bisa berdialog seperti dikatakan Maman.
13:06Nah karena apa?
13:07Juga kita harus hati-hati tentang informasi yang diperoleh melalui AI ini.
13:11Melalui kecerdasan buatan.
13:12Karena bagaimanapun artificial intelligence ini pertama tidak punya hati.
13:17Tidak punya rasa.
13:19Dia tidak punya logika.
13:21Logika dalam arti nalar yang seperti manusia.
13:25Bisa menentukan baik buruk, benar salah.
13:28Tidak punya moral, tidak punya etika.
13:30Ini AI.
13:31Manusialah yang bisa menentukan.
13:33Misalnya ketika kita bicara tentang.
13:35Katakanlah kami kemarin ini diskusi tentang indeks pembangunan literasi masyarakat.
13:40Apakah kita akan menyamakan sebuah kondisi yang terjadi di Jakarta.
13:44Dengan kondisi di Papua, di NTT, dengan segala macam.
13:47Ketika data ini masuk, diolah melalui kecerdasan buatan.
13:51Semuanya ditafsirkan sama.
13:52Rata.
13:53Rata saja.
13:54Artinya kita tidak boleh membaca AI atau gimana nih?
13:57Bukan tidak boleh membaca AI.
13:58Tapi kita harus menafsirkan dan memberikan masukan informasi kepada AI.
14:04Supaya dia tidak ngaco gitu.
14:05Jangan menyamakan kondisi Jakarta.
14:07Akses yang begitu mudah.
14:09Perpusakan di mana-mana.
14:11Kemampuan orang untuk membeli kuota juga jauh lebih besar.
14:16Bagaimana kalau dibandingkan dengan di daerah-daerah 3T misalnya.
14:19Nah ini yang kita harus definisikan ulang.
14:21AI tidak bisa kalau tidak kita kasih tahu.
14:24Nah siapa yang bisa kasih tahu?
14:25Ya manusia.
14:26Ya kita juga ya.
14:27Nah karena memang ada keterbatasan-keterbatasan dari AI ini yang harus kita beri asupan.
14:34Jangan sampai si kecerdasan buatan ini justru menafsirkan sendiri.
14:39Ini yang kemudian ketika ditafsirkan sendiri loh kok jadi seperti ini jadi salah.
14:45Dan jangan sampai kita sebagai pembaca berita, pembaca informasi melalui AI ini terjebak oleh kepercayaan bahwa apa yang disampaikan oleh
14:54AI ini adalah benar semua.
14:55Itu yang tidak boleh terjadi.
14:57Dan ini kaitannya dengan tingkat kecakapan literasi masyarakat itu.
15:00Nah kalau gitu Prof Amin gimana juga caranya agar Perpusnas ini kembali mengingatkan bahwa kami ada loh disini untuk membantu
15:08dan meningkatkan literasi masyarakat Indonesia yang saat ini penuh dengan apa-apa media sosial dan juga tadi AI itu sendiri.
15:15Nah ini tantangan bagi Perpusnas.
15:18Juga tantangan bagi pustakawan tentu saja ya.
15:21Karena di Perpusnas itu kan mayoritasnya pustakawan.
15:23Saya sering bertanya, masihkah perpusakan itu dibutuhkan?
15:28Ini pertanyaan yang bukan karena saya orang baru di Perpusnas, saya bukan pustakawan.
15:33Tetapi ini pertanyaan kritis supaya bisa membangkitkan perasaan bahwa perpusakan itu tetap tidak bisa tergantikan oleh AI.
15:41Nah bagaimana cara yang kami lakukan?
15:43Kami melakukan pelatihan-pelatihan, bekerjasama dengan para pegiat literasi yang tadi disampaikan oleh Kak Maman, apakah itu relima ya, relawan
15:52literasi masyarakat, apakah pegiat yang tidak masuk ke relima, KKN tematik literasi, termasuk di LAPAS, di Puskesmas.
16:00Puskesmas memberikan pelatihan bagaimana cara membaca yang benar, cara mengolah informasi yang benar.
16:08Pada saat yang sama kami juga memberikan fasilitasi kalau mereka mau membaca informasi yang terkait dengan hal-hal yang tadi
16:15mereka cari, itu ada di Perpusnas.
16:19Perpusnas, ketika misalnya ada berita tentang sebuah kajian, itu kan paling sedikit-sedikit saja kalau dari AI.
16:26Nah lengkapnya silahkan datang ke Perpusnas.
16:28Nah di Perpusnas ini tersedia referensi-referensi yang mungkin tidak ditemukan di AI.
16:34Apalagi kalau kita bicara tentang kekayaan hazanah keilmuan masa lalu, yang manuskrip-manuskrip ratusan tahun.
16:42Yang paling tua itu kan ada manuskrip yang usianya sudah ada di tahun 1500-an.
16:47Dan itu tidak ada di ponsel.
16:49Tidak ada di ponsel.
16:50Kalau tidak dimasukkan datanya ke ponsel.
16:52Tidak akan ada.
16:53Tidak akan ada.
16:54Kemudian aksara kita, itu juga kan sangat unik.
16:58Tidak bisa dibaca tiba-tiba oleh AI.
17:00Nah ini yang bisa tetap menunjukkan bahwa perpusakan tetap diperlukan.
17:06Dan ini yang justru lebih penting adalah di Perpusnas ada manusia yang bisa diajak ngomong.
17:14Ada komunikasi ketika tidak tahu bisa seperti apa dia berikan layanannya.
17:20Harus seperti apa dia melakukan pencarian informasi gitu.
17:24Yang di AI itu tidak ditemukan.
17:27Jadi ada manusia.
17:28Faktor manusia tidak bisa digantikan oleh AI.
17:30Tidak bisa digantikan apapun ya.
17:31Kalau gitu Kang Maman pertanyaan terakhirnya.
17:33Kenapa penting untuk mengingatkan kembali kita untuk membaca buku.
17:38Penting untuk mengingatkan kembali.
17:40Kalau kita mau baca yang lebih luas ada di Perpustaka Nasional.
17:44Buku bukan cuma untuk dibaca.
17:46Tapi untuk dipahami.
17:48Dan untuk memahami itu tidak bisa kita hanya berdialog dengan AI atau dengan buku itu.
17:52Tapi juga harus menghadirkan manusia-manusia.
17:55Untuk berdialog dengan buku tersebut.
17:57Seperti hanya kita mengajak anak kita membaca.
17:59Dia tidak akan bisa membaca kalau dia tidak melihat contoh bapak ibunya juga senang.
18:03Dan tatap muka itu, itu punya kedalaman.
18:06Human Library Perpustakaan yang menghadirkan manusia itu tidak bisa dihadirkan oleh AI.
18:12Contoh sederhana nih sebagai penutup.
18:14Ketika saya meluncurkan buku tentang ibu saya dan janda itu ibuku.
18:18Saya bertanya kepada AI.
18:20Tolong jelaskan tentang ibu saya yang bernama Sumiati.
18:23Apa jawabannya?
18:25Oh itu nama hantu di Sulawesi.
18:28Karena belum masuk data-datanya?
18:30Ada, sudah ada bukunya.
18:31Oh sudah ada, oke.
18:31Karena tidak ada dialog manusia untuk menjelaskan siapa ibu saya.
18:35Yang dia lihat algoritma terbanyak tentang Sumiati adalah film Sumiati.
18:39Oke baik.
18:39Kan tentang sosok hantu.
18:41Jadi bisa dibayangkan kan.
18:43Dialog itu bisa hilang.
18:44Jadi kalau kita bertemu di perpustakaan.
18:46Perpustakaan tidak cuma menyediakan buku.
18:48Ruang-ruang untuk berdialog.
18:50Ruang untuk membedah buku.
18:52Ruang untuk membedah tayangan televisi.
18:54Tayangan film.
18:56Hanya di pusnas.
18:56Kita akan ketemu kedalaman itu.
18:58Jadi jangan pernah menganggap perpustakaan itu cuma tempat menyimpan buku.
19:02Oke.
19:03Baik, sudah kita tangkap pesannya.
19:04Terima kasih.
19:05Prof Amin.
19:06Kang Maman, terima kasih.
19:07Semoga ini juga menambah lagi minat kita untuk kembali membaca buku.
19:11Dan juga meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.
19:14Terima kasih.
Komentar