Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Kisah Masa Lalu Bahlil Lahir dari Anak ART: Ibu Saya Tukang Cuci, Ayah Buruh

Dalam acara MUSDA XI Golkar Sumsel, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia blak-blakan mengungkap latar belakang keluarganya. Ibunya pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga dan tukang cuci, sementara sang ayah adalah buruh bangunan.

Bahlil menegaskan dirinya tak pernah malu dengan asal-usul tersebut. Pengalaman hidup itu dijadikan bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan.

Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak minder saat berhadapan dengan anak pejabat atau orang kaya, karena latar belakang keluarga tidak menentukan masa depan seseorang.

#Bahlil #Golkar #kisah

Creative/Video Editor: Lia/Evan
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Sorry, sorry, sorry, saya lupa tadi, sebelum kita, mana tadi Ananda tadi dokter itu, sini
00:07Bapak Ibu semua, sini, sini deh, sini deh, saya lupa tadi, saya sedikit menceritakan
00:16khusus untuk Ananda yang IP-nya bagus ini, saya ini punya kemiripan dengan dia
00:26Hidupnya dia ini mirip sama saya, ibunya sebagai apa Ibu?
00:31Asisten rumah tangga Pak
00:32Asisten rumah tangga itu bahasa lain dari pembantu rumah tangga kan?
00:36Jangan kamu malu, ibu saya itu pembantu rumah tangga, ibu hando saya, tukang cuci pakaian di rumah orang
00:45Dan saya gak pernah malu untuk mengatakan itu, ayah kamu kerja apa?
00:52Buru dulu, buru bangunan, buru apa?
00:55Buru bangunan, sama, ayah saya buru bangunan gajinya 7.500 per hari
01:00Mulai hari ini, kamu jangan merasa minder untuk ketemu sama anak gubernur, apalagi anak menteri
01:08Gak boleh, karena mereka belum tentu lebih baik daripada kamu
01:15Dan kamu harus punya keyakinan
01:18Kamu harus punya keyakinan
01:20Bahwa yang bisa membuat kita beda dan hidup lebih baik
01:25Itu bukan orang lain, kita sendiri
01:28Saya ceritakan ini ketika saya mencalonkan Ketua Umum Hibmi
01:32Tahun 2014
01:35Ketua Umum Hibmi itu, kalau bukan anak konglomerat, anak jeneral, anak menteri
01:43Kalau dia bukan anak itu, gak bisa jadi Ketua Umum Hibmi
01:47Maka kemudian, 2014 saya mencalonkan diri jadi ketua Umum Hibmi
01:52Waktu itu hampir semua orang gak percaya
01:54Darung orang under estimate semua, anggap enteng macam-macam
01:59Tapi saya katakan untuk mereka, boleh orang tua kalian hebat
02:03Boleh om-om kalian orang hebat, belum tentu kamu lebih baik daripada saya
02:08Dan saya taruh
02:11Saya ikut kompetisi itu
02:14Dan dua kali munasnya
02:16Munas pertama di Bandung
02:19Saya begitu lihat
02:20Menang tipis, kalah tipis
02:22Deadlock
02:24Lanjutkan di Bogor
02:26Dan kemudian itulah pertama
02:28Ketua Umum Hibmi
02:30Yang dari keluarga konglomerat
02:32Itu pertama itu
02:34Bukan dari konglomerat
02:36Tapi konglomerat
02:37Jadi kamu gak boleh
02:38Ini ya
02:40Sekarang saya mau tanya kamu
02:41Kamu sekarang hebat
02:42Terima kasih kepada teman-teman
02:45DPR Sumsel ya
02:46Makasih banyak, makasih
02:47Kamu IP-mu 3,91
02:50Nah itu bedanya kamu sama saya
02:53Perbedanya cuma disitu
02:56Latar belakang keluarga sama nih
02:58Bedanya IP saya S1 itu
03:01Gak sampai 3
03:02Cuma 2,75 gitu
03:052,75 atau 2,8
03:06Mungkin gara-gara itu juga
03:08Ui gak percaya
03:08Kalau saya bisa kumlaut
03:09Kira-kira begitu
03:10Makasih banyak, makasih banyak, makasih banyak
03:15Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan