Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa sempat melontarkan candaan kepada Pejabat Sementara (Pjs.) Gubernur Bank Indonesia usai Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Senin (3/8/2026).

"Ini saya lihat, Bu, wartawannya banyak sekali dibanding biasanya. Pasti ini ingin mendengar pernyataan dari Ibu Pjs. Gubernur Bank Indonesia. Silakan, Ibu Gubernur, untuk menjawab pertanyaan. Biar dia kaget," ujar Menkeu Purbaya sambil tertawa.

"Curang nih. Saya duluan yang jawab," balas Pjs. Gubernur BI Destry (time code 1:46).

Baca Juga [FULL] Menkeu Purbaya-Pjs Gubernur BI Beber Nilai Tukar Rupiah-Ekonomi RI usai Rapat KSSK di https://www.kompas.tv/nasional/683701/full-menkeu-purbaya-pjs-gubernur-bi-beber-nilai-tukar-rupiah-ekonomi-ri-usai-rapat-kssk

#menkeu #purbaya #bankindonesia #breakingnews

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/683702/ngakak-guyon-menkeu-purbaya-ke-pjs-gubernur-bi-destry-usai-rapat-kssk-biar-dia-kaget
Transkrip
00:00KSSK berkomitmen untuk terus meningkatkan sinergi dan memperkuat coordinated policy response
00:06serta kewaspadaan untuk memitigasi berbagai risiko yang dapat berdampak terhadap perekonomian dan SSK.
00:13KSSK juga telah dan terus berkomitmen untuk mendukung sektor real dan program astacita
00:20serta program prioritas lainnya guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
00:25demi mencapai kemampuan bangsa.
00:28KSSK, pemerintah, BI, OJK, dan LPS berkomitmen menyelesaikan perumusan peraturan pelaksanaan amarat undang-undang P2SK
00:36sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 4 tahun 2026 secara kredibel
00:43dengan melipatkan berbagai pihak terkait termasuk pelaku industri keuangan dan masyarakat.
00:49KSSK akan kembali menyelenggarakan rapat berkala pada bulan Oktober 2026.
00:57Demikian update untuk kondisi strategis keuangan setiap bulan ke-2 tahun 2026 ini.
01:08Mungkin sekarang kita masuk ke sesi tanya-tanya apa ya.
01:12Ini saya lihat Bu wartawannya banyak sekali dibanding biasanya.
01:16Pasti ini ingin mendengar pernyataan dari Ibu PGS Bank Indonesia.
01:23Silahkan Ibu Komendor untuk menjawab pertanyaan.
01:29Biar dia kaget.
01:41Tentu begini Bu, biar terkendali.
01:47Curang nih, saya duluan yang jawab ya.
01:48Baik, terima kasih Pak Ketua Menteri Keuangan.
01:53Pertanyaan pertama dari RRI, Mbak Magdalena.
01:58Magdalena mana Mbak Magdalena?
02:01Kok ada dua?
02:02Oh, satu foto gitu ya.
02:05Baik, pertanyaannya cadangan divisa terus menurun sejak awal Januari.
02:11Berapa cadangan divisa yang sudah digunakan untuk stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri hingga Juni?
02:18Oke.
02:20Itu rahasia.
02:22Gak boleh itu.
02:24Gak boleh.
02:25Lu berkuasa pun udah yang semang-mang.
02:28Baik, yang jelas gini.
02:33Posisi cadangan divisa kita tertinggi di 2026 itu sekitar 156 miliar USD.
02:40Nah, sekarang ini posisinya 145 miliar dolar.
02:45Nah, jadi teman-teman bisa membayangkan, itulah pelanggan di pengurangan dari cadangan kita.
02:53Termasuk itu untuk stabilisasi dan juga pembayaran utang luar negeri dari, khususnya dari pemerintah.
03:02Karena dana yang pemerintah kan juga ada di Bank Indonesia.
03:05Jadi, angka 145 miliar itu masih relatif aman karena masih sekitar 5,4 bulan kali import dan pembayaran utang luar
03:18negeri pemerintah.
03:19Sementara threshold ataupun benchmarking di internasional itu adalah 3 bulan.
03:253 bulan import dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
03:30Jadi, itu yang bisa saya sampaikan yang pertama.
03:35Kemudian yang kedua, dari Suar, Mas Kris Wibisana.
03:41Oke, orang Sunda ya Mas ya?
03:43Kalau Jawa Wibisono.
03:46Mas sekarang Wibisana.
03:53Biar nggak tegang, itu pertama kali saya KSS sekarang nih.
03:57Depan Pak Minkyu lagi.
04:04Baik, seperti apa dampak kenaikan BI rate 100 basis point pada stabilitas sistem keuangan?
04:10Apakah transmisi kenaikan suku bunga mempengaruhi stabilitas jika iya seperti apa?
04:14Yang pertama tentu memang tadi juga saya sampaikan bahwa sejak RDG bulan Mei dan Juni, kita memang menaikkan sekitar 100
04:24basis point dari BI rate kita.
04:27Tujuannya apa?
04:28Karena memang pada saat 2 bulan periode tersebut, kondisi global itu sangat volatile.
04:34Kemudian juga kita melihat ekspektasi bahwa Fed Fund Rate itu akan naik lebih cepat dibandingkan perkiraan awal.
04:44Kemudian juga harga minyak pada saat itu pas tinggi-tingginya.
04:47Dan tekanan kepada rupiah juga pada saat itu lagi tinggi-tingginya.
04:51Sehingga Bank Indonesia juga sejak bulan Mei, kita, stance kita terhadap stabilitas itu memang kita perkuat.
04:59Sehingga antara lain itu dengan menaikkan suku bunga 100 basis point.
05:04Sehingga tentunya dengan harapan yang pertama akan terjadi repricing dari aset rupiah kita dan juga memberikan spread yang lebih menarik
05:14terhadap aset di dominasi rupiah.
05:18Dan dampaknya memang kalau kita lihat dan juga kenapa kita berani melakukan hal tersebut.
05:22Karena juga pada saat itu, bahkan kalau kita lihat sekarang, pertumbuhan kredit itu juga alhamdulillah masih kuat.
05:32Di bulan Juni kemarin tumbuh di atas 12%.
05:35Sementara pada saat yang sama kita menghadapi tekanan di stabilitas kita.
05:41Yaitu khususnya untuk rupiah dan juga untuk inflasi yang trennya kemarin naik di volatile food.
05:46Sehingga ini yang menyebabkan di Bank Indonesia kita harus mengambil, memilih bahwa stabilitas ini menjadi prioritas kita.
05:53Dua bulan tersebut sehingga kita naikkan suku bunga.
05:55Dan dampaknya kita lihat yang pertama tentu inflow.
05:58Inflow masuk ke memang saat ini baru di SBN dan SRBI.
06:03Sehingga di kuartal dua kenaikannya cukup signifikan.
06:07Sehingga in total sudah terjadi inflow sekitar 8,5 sampai 9 miliar USD.
06:13Jadi itu tentunya akan menambah CADEF kita.
06:17Kemudian yang kedua juga kalau kita lihat adalah pengaruh dari inflasi.
06:27Jadi inflasi dengan kita lihat hari ini tadi pagi kan baru dikeluarkan inflasi oleh pemerintah.
06:33Dan satu hal yang kelihatan sikribikan adalah keberhasilan pemerintah juga dalam menangani inflasi di volatile food.
06:41Yaitu pangan yang bergejolak.
06:43Di mana inflasi pangan ini turun cukup signifikan.
06:48Dari yang bulan lalu di atas 5 persen sekarang di level 2,5 persen.
06:53Dan untuk inflasi inti yang benar-benar menggambarkan aktivitas ekonomi itu tetap berada pada posisi yang stabil di level 2
07:02,76 persen.
07:03Jadi artinya pergerakan ekonomi yang terjadi itu tidak mendorong overheating atau tidak mendorong ekonomi secara keseluruhan naik.
07:11Bahkan kalau kita lihat juga inflasi total atau IHK itu mencapai 2,88 persen turun dari level sekitar 3 persen
07:20di bulan lalu.
07:21Jadi itu dampak kita bisa lihat stabilitas bisa terjaga.
07:25Sehingga kalau kita lihat juga pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir ini cukup terkendali.
07:30Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan