00:00KSSK berkomitmen untuk terus meningkatkan sinergi dan memperkuat coordinated policy response
00:06serta kewaspadaan untuk memitigasi berbagai risiko yang dapat berdampak terhadap perekonomian dan SSK.
00:13KSSK juga telah dan terus berkomitmen untuk mendukung sektor real dan program astacita
00:20serta program prioritas lainnya guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
00:25demi mencapai kemampuan bangsa.
00:28KSSK, pemerintah, BI, OJK, dan LPS berkomitmen menyelesaikan perumusan peraturan pelaksanaan amarat undang-undang P2SK
00:36sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 4 tahun 2026 secara kredibel
00:43dengan melipatkan berbagai pihak terkait termasuk pelaku industri keuangan dan masyarakat.
00:49KSSK akan kembali menyelenggarakan rapat berkala pada bulan Oktober 2026.
00:57Demikian update untuk kondisi strategis keuangan setiap bulan ke-2 tahun 2026 ini.
01:08Mungkin sekarang kita masuk ke sesi tanya-tanya apa ya.
01:12Ini saya lihat Bu wartawannya banyak sekali dibanding biasanya.
01:16Pasti ini ingin mendengar pernyataan dari Ibu PGS Bank Indonesia.
01:23Silahkan Ibu Komendor untuk menjawab pertanyaan.
01:29Biar dia kaget.
01:41Tentu begini Bu, biar terkendali.
01:47Curang nih, saya duluan yang jawab ya.
01:48Baik, terima kasih Pak Ketua Menteri Keuangan.
01:53Pertanyaan pertama dari RRI, Mbak Magdalena.
01:58Magdalena mana Mbak Magdalena?
02:01Kok ada dua?
02:02Oh, satu foto gitu ya.
02:05Baik, pertanyaannya cadangan divisa terus menurun sejak awal Januari.
02:11Berapa cadangan divisa yang sudah digunakan untuk stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri hingga Juni?
02:18Oke.
02:20Itu rahasia.
02:22Gak boleh itu.
02:24Gak boleh.
02:25Lu berkuasa pun udah yang semang-mang.
02:28Baik, yang jelas gini.
02:33Posisi cadangan divisa kita tertinggi di 2026 itu sekitar 156 miliar USD.
02:40Nah, sekarang ini posisinya 145 miliar dolar.
02:45Nah, jadi teman-teman bisa membayangkan, itulah pelanggan di pengurangan dari cadangan kita.
02:53Termasuk itu untuk stabilisasi dan juga pembayaran utang luar negeri dari, khususnya dari pemerintah.
03:02Karena dana yang pemerintah kan juga ada di Bank Indonesia.
03:05Jadi, angka 145 miliar itu masih relatif aman karena masih sekitar 5,4 bulan kali import dan pembayaran utang luar
03:18negeri pemerintah.
03:19Sementara threshold ataupun benchmarking di internasional itu adalah 3 bulan.
03:253 bulan import dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
03:30Jadi, itu yang bisa saya sampaikan yang pertama.
03:35Kemudian yang kedua, dari Suar, Mas Kris Wibisana.
03:41Oke, orang Sunda ya Mas ya?
03:43Kalau Jawa Wibisono.
03:46Mas sekarang Wibisana.
03:53Biar nggak tegang, itu pertama kali saya KSS sekarang nih.
03:57Depan Pak Minkyu lagi.
04:04Baik, seperti apa dampak kenaikan BI rate 100 basis point pada stabilitas sistem keuangan?
04:10Apakah transmisi kenaikan suku bunga mempengaruhi stabilitas jika iya seperti apa?
04:14Yang pertama tentu memang tadi juga saya sampaikan bahwa sejak RDG bulan Mei dan Juni, kita memang menaikkan sekitar 100
04:24basis point dari BI rate kita.
04:27Tujuannya apa?
04:28Karena memang pada saat 2 bulan periode tersebut, kondisi global itu sangat volatile.
04:34Kemudian juga kita melihat ekspektasi bahwa Fed Fund Rate itu akan naik lebih cepat dibandingkan perkiraan awal.
04:44Kemudian juga harga minyak pada saat itu pas tinggi-tingginya.
04:47Dan tekanan kepada rupiah juga pada saat itu lagi tinggi-tingginya.
04:51Sehingga Bank Indonesia juga sejak bulan Mei, kita, stance kita terhadap stabilitas itu memang kita perkuat.
04:59Sehingga antara lain itu dengan menaikkan suku bunga 100 basis point.
05:04Sehingga tentunya dengan harapan yang pertama akan terjadi repricing dari aset rupiah kita dan juga memberikan spread yang lebih menarik
05:14terhadap aset di dominasi rupiah.
05:18Dan dampaknya memang kalau kita lihat dan juga kenapa kita berani melakukan hal tersebut.
05:22Karena juga pada saat itu, bahkan kalau kita lihat sekarang, pertumbuhan kredit itu juga alhamdulillah masih kuat.
05:32Di bulan Juni kemarin tumbuh di atas 12%.
05:35Sementara pada saat yang sama kita menghadapi tekanan di stabilitas kita.
05:41Yaitu khususnya untuk rupiah dan juga untuk inflasi yang trennya kemarin naik di volatile food.
05:46Sehingga ini yang menyebabkan di Bank Indonesia kita harus mengambil, memilih bahwa stabilitas ini menjadi prioritas kita.
05:53Dua bulan tersebut sehingga kita naikkan suku bunga.
05:55Dan dampaknya kita lihat yang pertama tentu inflow.
05:58Inflow masuk ke memang saat ini baru di SBN dan SRBI.
06:03Sehingga di kuartal dua kenaikannya cukup signifikan.
06:07Sehingga in total sudah terjadi inflow sekitar 8,5 sampai 9 miliar USD.
06:13Jadi itu tentunya akan menambah CADEF kita.
06:17Kemudian yang kedua juga kalau kita lihat adalah pengaruh dari inflasi.
06:27Jadi inflasi dengan kita lihat hari ini tadi pagi kan baru dikeluarkan inflasi oleh pemerintah.
06:33Dan satu hal yang kelihatan sikribikan adalah keberhasilan pemerintah juga dalam menangani inflasi di volatile food.
06:41Yaitu pangan yang bergejolak.
06:43Di mana inflasi pangan ini turun cukup signifikan.
06:48Dari yang bulan lalu di atas 5 persen sekarang di level 2,5 persen.
06:53Dan untuk inflasi inti yang benar-benar menggambarkan aktivitas ekonomi itu tetap berada pada posisi yang stabil di level 2
07:02,76 persen.
07:03Jadi artinya pergerakan ekonomi yang terjadi itu tidak mendorong overheating atau tidak mendorong ekonomi secara keseluruhan naik.
07:11Bahkan kalau kita lihat juga inflasi total atau IHK itu mencapai 2,88 persen turun dari level sekitar 3 persen
07:20di bulan lalu.
07:21Jadi itu dampak kita bisa lihat stabilitas bisa terjaga.
07:25Sehingga kalau kita lihat juga pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir ini cukup terkendali.
07:30Terima kasih telah menonton!
Komentar