- 4 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dalam dialog Sapa Indonesia Pagi, dosen Hubungan Internasional Tia Mariatul Kibtiah dari BINUS University dan pengamat Timur Tengah Faisal Aseggaf membahas keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membatalkan rencana serangan besar ke Iran.
Keduanya menilai langkah tersebut bukan semata strategi politik, melainkan dipengaruhi tekanan diplomatik negara-negara Teluk yang khawatir konflik akan meluas dan mengganggu stabilitas keamanan serta ekonomi kawasan.
Baca Juga Beberkan KUHAP! Refly Harun Ungkap Praperadilan Keempat Roy hingga Singgung Sidang Dokter Tifa di https://www.kompas.tv/video/683591/beberkan-kuhap-refly-harun-ungkap-praperadilan-keempat-roy-hingga-singgung-sidang-dokter-tifa
Kedua narasumber juga menilai konflik IranAmerika Serikat belum akan berakhir dalam waktu dekat. Menurut mereka, negosiasi tetap menjadi jalan terbaik, namun peluang tercapainya perdamaian permanen masih kecil selama akar persoalan geopolitik di Timur Tengah belum terselesaikan.
Mereka mengingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi berdampak pada pasokan energi dunia, harga minyak, dan stabilitas ekonomi global.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Joshua
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/683596/full-pakar-blak-blakan-as-israel-batalkan-serangan-ke-iran-damai-sulit-terwujud-kompas-pagi
Keduanya menilai langkah tersebut bukan semata strategi politik, melainkan dipengaruhi tekanan diplomatik negara-negara Teluk yang khawatir konflik akan meluas dan mengganggu stabilitas keamanan serta ekonomi kawasan.
Baca Juga Beberkan KUHAP! Refly Harun Ungkap Praperadilan Keempat Roy hingga Singgung Sidang Dokter Tifa di https://www.kompas.tv/video/683591/beberkan-kuhap-refly-harun-ungkap-praperadilan-keempat-roy-hingga-singgung-sidang-dokter-tifa
Kedua narasumber juga menilai konflik IranAmerika Serikat belum akan berakhir dalam waktu dekat. Menurut mereka, negosiasi tetap menjadi jalan terbaik, namun peluang tercapainya perdamaian permanen masih kecil selama akar persoalan geopolitik di Timur Tengah belum terselesaikan.
Mereka mengingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi berdampak pada pasokan energi dunia, harga minyak, dan stabilitas ekonomi global.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Joshua
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/683596/full-pakar-blak-blakan-as-israel-batalkan-serangan-ke-iran-damai-sulit-terwujud-kompas-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:02Intro
00:08Amerika Serikat mengklaim menunda serangan besar-besaran ke Iran
00:12Keputusan itu disampaikan Donald Trump dalam unggahan di truth social pribadinya
00:16Ia bahkan menyebut Israel turut dalam kesepakatan ini
00:21Trump menulis, Amerika Serikat telah siap bertindak melawan Iran
00:26dengan kekuatan militer yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II
00:30Meskipun demikian, kami baru saja diminta oleh Iran
00:33serta negara-negara timur tengah lainnya untuk menunda segala serangan
00:37Ini mencakup pembukaan Slat Hormuz secara segera, sepenuhnya, dan total
00:43Demi kepentingan dunia, saya setuju untuk membatalkan serangan tulis Trump
00:50Donald Trump juga menegaskan hanya ingin menang saat ditanya jurnalis
00:54soal strategi Amerika Serikat dengan menghidupkan kembali genjataan senjata
00:58Menurut Trump, Iran tidak lagi punya angkatan laut dan udara
01:02serta meyakini kemampuan Iran sekarang sangat lemah
01:22Analis bilang peran AS Iran berada pada titik kritis dengan potensi eskalasi lebih lanjut
01:28Kondisi ini seiring pola serangan bolak-balik kembali berlanjut
01:32di tengah harapan untuk berakhirnya konflik
01:34Sampai jumpa di ikan
01:38Sofledan an-adhan oleh kata-kata
01:38Jangan mengagalkan musik
01:40Syahiè…¿, tersebut seorang kembali
01:42tersebut di foreground dan teman kembali
01:44tersebut dikontak
01:45tersebut ada leraongan untuk mereka
01:49Impecah dan risul berakhir
01:51yang hanya tersebut dikontak
01:52dalam Iran, United City dan Israel
01:53adalah hal-hati-hati-hati-hati-hati
01:55namun, tapi comelangnya berada di wilayah
01:58tersebut dikontak
02:11Sementara pakar hubungan internasional, Tukur Rezasyah menilai pernyataan Presiden Donald Trump yang membatalkan perjanjian serangan terhadap Iran lebih merupakan bagian
02:21dari Perang Informasi atau Strategi Deception.
02:24Tukur Rezasyah menambahkan faktor politik domestik Amerika Serikat ikut mempengaruhi langkah Trump.
02:30Nah ini sebenarnya Perang Informasi ya, kalau dalam teori namanya Deception ya.
02:35Perang ini sudah sangat melelahkan semua, terutama sekali Amerika Serikat.
02:39Direncanakan perang itu kurang dari satu minggu, tapi sudah berjalan lima bulan plus dua hari.
02:44Dan ini mendekati 3 November 2026, yakni empat bulan mendatang, di mana akan ada pemilu selah.
02:54Jadi dalam kondisi kebingungan seperti ini, Donald Trump mengeluarkan statement yang mengagetkan ya.
03:00Kemudian juga Trump mengatakan adanya desakan dari sekutu-sekutu Timur Tengah.
03:04Memang negara-negara teluk itu aktif membujuk Donald Trump untuk menahan diri guna menjaga perang yang lebih luas ya.
03:09Antara lain, putra mahkota Muhammad bin Salman itu melakukan komunikasi telepon langsung dengan Trump,
03:15yang intinya mendesak deeskalasi konflik dan memprioritaskan dialog demi stabilitas keamanan internasional.
03:22Sumber militer Iran membantah klaim sepihak Amerika Serikat yang menyebut Teheranlah yang meminta serangan ditunda dan menyebut pernyataan Trump sebagai
03:30kebohongan baru.
03:32Unggahan Trump di medsosnya disebut Iran sebagai bentuk putus asa untuk menekan negara-negara teluk.
03:38Angkatan bersenjata Iran bahkan menyatakan tetap siap siaga.
03:50Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Israel membatalkan serangan besar-besaran ke Iran.
03:57Keputusan diambil setelah Teheran dan sejumlah negara di Timur Tengah meminta Washington untuk menunda aksi militer
04:03karena diklaim telah mencapai kerangka awal sebuah kesepakatan.
04:07Apakah bagian dari strategi Trump atau ini berarti kesepakatan damai mulai terbentuk?
04:13Kita akan ulas bersama dengan dosen hubungan internasional Bindu University Tia Mariatul Kiptia dan penggamat Timur Tengah Faisal Asegap.
04:20Selamat pagi Assalamualaikum Mbak Tia, Mas Faisal.
04:24Selamat pagi, Waalaikumsalam Mas Bray.
04:27Selamat pagi, Waalaikumsalam Mas Bray, Bu Tia.
04:30Baik, saya ke Mbak Tia terlebih dahulu.
04:33Mbak Tia, jika kita lihat ini yang dilakukan Trump, kita tidak heran lagi bahwa dia suka asbun.
04:38Apa yang dikatakan belum tentu terjadi gitu ya.
04:41Nah, untuk yang kali ini Mbak Tia kemudian dibatalkan sama Trump, ini lagi-lagi asbun?
04:46Atau memang dia punya strategi khusus perang informasi?
04:50Atau ada tekanan dari Arab Saudi yang katanya laporannya ini pangeran Arab Saudi,
04:56Muhammad B. Salaman, ini nelfon sebelum Trump membatalkan serangan ini?
04:59Ya, kali ini saya harus menyatakan bahwa ini bukan bagian daripada strategi Amerika Serikat, Mas Bray.
05:05Ini adalah kemenangan diplomasi dari negara-negara teluk.
05:08Karena bayangkan Mas Bray, kalau betul-betul terjadi Amerika Serikat membombardir Iran,
05:13apa yang akan dilakukan oleh Iran?
05:16Biasanya kan begini patternnya Mas Bray.
05:18Kalau misalnya Amerika Serikat menyerang pihak Iran,
05:22itu langsung Iran seketika akan melakukan retaliation atau pembalasan kan?
05:26Dan yang dibalas oleh Iran itu adalah bukan Amerika Serikat,
05:29tapi adalah militer basisnya Amerika Serikat yang ada di negara-negara teluk.
05:33Bahkan kemarin menyasar bahkan ke tempat energinya Arab Saudi, begitu.
05:38Nah, ini memang dilematis untuk negara-negara teluk.
05:41Satu sisi, mereka juga ingin misalnya join dengan pihak Amerika Serikat,
05:46tapi sisi lain, jika itu terjadi,
05:48itu juga akan mengancam keamanan negara mereka.
05:51Jadi, itu yang mereka pikirkan.
05:53Sementara, faktor keuntungan atau benefit yang paling vital itu adalah bagaimana menjaga keamanan negara-negara masing-masing, begitu.
06:01Jadi, kalau misalnya dibiarkan Amerika Serikat dan Israel membombardir Iran,
06:05dan Iran melakukan retaliation,
06:08maka yang rugi adalah negara-negara teluk.
06:09Bagaimana mereka bisa jualan kalau misalnya Iran betul-betul merealisasikan,
06:14meminta hoti yang di Yaman untuk menutup mandat misalnya.
06:17Itu saja satu.
06:19Maka, mau ke arah mana lagi mereka akan menjual minyak Arab Saudi.
06:23Belum lagi nanti digempur pusat-pusat energi Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat, Qatar.
06:28Habis sudah.
06:29Jadi, memang sementara Amerika Serikat juga cukup menerima investasi yang tidak sedikit dari negara-negara teluk ini.
06:36Kalau misalnya negara-negara teluk meminta menegosiasi terhadap Amerika Serikat,
06:40dan Amerika Serikat itu membiarkan atau ignore atau tidak memedulikan keinginan negara-negara teluk, habis sudah.
06:48Selama ini juga berapa triliun yang diinvestasikan Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat di Amerika Serikat.
06:54Bisnis mereka itu banyak sekali, Mas Bray, di Amerika Serikat.
06:58Yang kita tahu Citibank saja itu punya Amerika kan bukan.
07:01Itu punya bisnisnya Arab Saudi.
07:04Itu baru satu hal dari finance.
07:06Belum dengan hal-hal lain.
07:08Kalau misalnya itu tidak digubris, permintaan dari negara-negara teluk ini habis, sudah.
07:12Amerika kan tidak bisa besar dengan dirinya sendiri.
07:14Dia juga banyak diinvestasikan oleh negara-negara teluk.
07:17Jadi negara teluk hanya minta, tolong jangan digempur Iran.
07:21Bukan persoalan negara teluk misalnya takut dengan Iran.
07:23Tapi efeknya kan, efeknya Iran akan melakukan retaliation.
07:26Patternnya begitu.
07:27Iran itu digempur, dia akan balas.
07:29Digempur, akan balas.
07:30Dan cara Iran membalasnya itu adalah negara teluk yang dirugikan.
07:35Maka kali ini, mau tidak mau, ini bukan strategi.
07:38Bahkan Trump menyatakan ini Iran duluan yang minta, kemudian mereka duluan yang minta.
07:43Tidak ada itu.
07:43Ini bukan merupakan bagian strategi ya.
07:45Jadi ini betul-betul memang Trump betul-betul harus mengikuti.
07:51Kalau tidak, dia akan kehilangan berapa triliun investasi dari negara-negara teluk yang selama ini cukup men-support ekonomi Amerika
08:00Serikat.
08:00Begitu.
08:01Jadi mau gak mau.
08:02Dia harus kali ini harus kalah dan harus menekan Israel.
08:06Dia harus ikut apa maunya negara teluk.
08:08Nah ini dia, Mas Faisal.
08:10Apakah Anda setuju juga bahwa sekarang Amerika Serikat tidak punya pilihan, kemudian negara teluk menekan agar jangan sampai serang lagi
08:16karena nanti negara teluk yang rugi juga.
08:19Apakah kemudian memang ini alasan Trump sehingga dia membatalkan serangan ke Iran?
08:25Ya, saya sepakat juga.
08:27Tapi juga memang ada alasan ya Trump juga mengakui dia juga kebingungan.
08:31Dia juga, ya boleh dibilang Trump sudah takut, sudah pengecut.
08:34Karena ini bukan kali pertama Trump membatalkan serangan.
08:36Pada 21 Mei, dia juga membatalkan serangan, ancaman serangannya ke Iran.
08:42Waktu itu ancaman serangan besar-besaran untuk memaksa Iran membuka Selat Hormuz.
08:47Kemudian pada 1 Juli juga Trump mengancam akan menyerang untuk menjadikan Iran kembali ke zaman batu.
08:547 April juga untuk menghancurkan semua peradaban Iran.
08:57Kemudian 4 Mei, dia mengancam untuk mengerak apa dengan proyek kebebasan menurunkan kapal-kapal perang Amerika.
09:04Untuk mengawal kapal-kapal agar bisa melintasi Selat Hormuz.
09:07Itu juga ancaman dibatalkan.
09:08Dan terakhir 11 Juni, sebelum 31 Juli ini.
09:1211 Juni, Trump juga mengancam melakukan serangan total termasuk juga merebut Pulau Kak.
09:18Salah satu tempat 90% fasilitas minyak Iran dikelola dan untuk diekspor dari Pulau Kak.
09:26Ya saya sepakat juga karena memang nanti yang rugi itu adalah negara-negara Arab Teluk.
09:32Khususnya Arab Saudi.
09:33Ini Arab Saudi kan sedang menghadapi dua front.
09:35Ini melawan Al-Husiyun di Yemen.
09:37Karena sejak 25 Juli, Al-Husiyun sudah menerapkan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi.
09:43Karena serangan terhadap bandar udara Sana'a.
09:47Kemudian juga Arab Saudi membuka front dengan menyerang markas-markas milisi Siah pro-Iran di Irak.
09:53Jadi saya kira kalau misalkan Trump terus menyerang Iran dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer termasuk di Arab
10:00Saudi.
10:01Maka konsentrasi Arab Saudi untuk melawan Al-Husiyun di Yemen maupun milisi Siah di Irak akan terpecah atau tidak bisa
10:08terpusat untuk melawan kedua milisi itu tersebut.
10:12Terus kemudian juga sudah ada perkembangan baru dari Financial Times bahwa Amerika sudah memulangkan atau mengeluarkan pasukannya personel militer dan
10:23sipil di Kuwait dan Bahrain.
10:25Itu dipindahkan ke Jordania.
10:27Terus juga dipindahkan ke Israel dan berbagai negara lainnya.
10:31Saya kira Trump juga sudah kebingungan.
10:34Trump juga sudah frustasi.
10:35Karena ancaman ataupun serangan selalu dibalas dengan Iran-Iran tidak takut dan ini membuat akhirnya Trump harus berpikir.
10:42Karena sudah banyak sumber daya militer, sumber daya ekonomi, belum lagi juga tekanan di dalam negeri yang membuat Trump saya
10:49kira sudah saatnya untuk menyerah dan keluar dari perang Iran ini.
10:53Oke, Mbak Tia, dengan tadi yang disebutkan oleh Mas Faisal dan juga Mbak Tia sebelumnya, apakah kemungkinan masih akan ada
11:01serangan besar-besaran lagi setelah ini?
11:04Mungkin kalau sekarang ditunda ataupun dibatalkan.
11:06Tapi apakah ke depannya masih akan ada serangan yang bisa dilancarkan oleh Amerika Serikat?
11:11Dan kali ini Israel nurut.
11:13Apakah nanti suatu saat Israel bakal berontak lagi, bakal bikin kacau lagi?
11:19Hanya kali ini, Mas Bray. Jadi saya beberapa kali menyatakan di berbagai media bahwa ini tidak akan permanen.
11:26Sekali lagi ini tidak akan permanen.
11:28Jadi memang ini hanya dalam jangka pendek saja, mereka kehabisan strategi.
11:32Jadi akhirnya ditunda, bicara lagi perundingan, yang belum tentu perundingan itu akan juga dipatuhi.
11:39Pasti akan lagi nanti ada pelanggaran yang dilakukan, terus patternnya seperti itu.
11:45Jadi memang tujuannya adalah, saya menyatakan bahwa ini bukan persoalan nuklir, ini bukan hanya persoalan hormus, begitu ya.
11:53Tapi ini adalah persoalan ingin mengganti rezim, diganti dengan rezimnya ala Amerika Serikat seperti yang terjadi di Libya, seperti yang
11:59terjadi di Irak, begitu ya.
12:01Jadi seperti yang terjadi di Syria, begitu asal tumbang sekarang digantikan oleh pemimpin dari Sunni, yang malah sebenarnya adalah mantan
12:10pemimpin ISIS, begitu ya.
12:11Tapi ketika sekarang join dengan pihak Amerika Serikat dan Israel, itu baik-baik saja, konflik semuanya selesai.
12:17Jadi kalau mau konflik ini selesai, rezim diganti, kemudian diganti oleh pemerintahan yang di-approve oleh Amerika Serikat dan Israel,
12:26selesai perang ini.
12:27Selama itu tidak terjadi, terus akan dilakukan serangan-serangan dan perang tidak akan selesai secara permanen.
12:37Jadi hanya ditunda kembali ke perundingan, perundingan misalnya berjalan hanya sebentar, terjadi lagi serangan, terus seperti itu, begitu.
12:44Dan ini tentu sangat-sangat mengkhawatirkan karena akan mengganggu sistem perekonomian global yang semuanya kita tergantung dari pasokan Timur Tengah,
12:53like or dislike.
12:54Kenyataannya memang begini, kawasan itu mungkin tidak memberikan efek secara langsung, terutama ke kawasan Asia Tenggara.
13:01Tapi secara tidak langsung, kita memang masih sampai hari ini tergantung dengan energi, mas Bre.
13:07Jadi memang luar biasa nanti ini efeknya, begitu.
13:10Sementara Amerika Serikat lupa Iran itu beda dengan Irak.
13:14Irak itu kan Sunni, diktator Saddam Hussein itu.
13:17Iran itu pemimpinnya adalah sistemnya Supreme Leader, vilayat El-Fakih, dipimpin solid oleh rakyatnya.
13:25Ada oposisi? Ada, tapi tidak signifikan.
13:27Nah ini permasalahan yang beda, jadi tidak mungkin tumbang.
13:30Saya sih sebaiknya ya, Trump begitu ya, harus lebih menginvestigasi, melakukan riset lah.
13:35Kalau mau menumbangkan rezim itu.
13:37Karena sistem yang dibangun oleh Iran itu berbeda.
13:40Jadi sebaiknya mereka memang harus kembali ke perundingan.
13:43Dan nurut sama Israel itu bukan dalam-dalam jangka pendek, tapi memang jangka panjang.
13:48Karena menghilangkan Iran di kawasan Timur Tengah, it's impossible.
13:51Tidak mungkin, karena Iran itu letak negaranya juga strategis.
13:56Dia mau diserangkan, nah itu kan bordernya itu negara-negara teluk, negara-negara lain yang memang berafiliasi ke Amerika Serikat.
14:03Rugi mereka juga, gitu.
14:04Jadi sebaiknya memang jalan damai, kembali ke perundingan, poin apa yang diinginkan oleh Iran, poin apa yang diinginkan oleh Amerika
14:11Serikat, itu sudah tidak bisa tawar-menawar.
14:14Mau dilanjutkan kayak gimana juga nggak akan selesai.
14:16Dan Iran, sampai titik darah penghabisan, misalnya ekonominya habis, Trump bilang militernya sudah tidak ada, itu tidak akan menyelesaikan dan
14:25tidak akan membuat Iran berhenti.
14:26Nah itu permasalahannya, saya nggak paham ya, Amerika itu tidak investigasi atau bagaimana gitu, dengan sistem politik Iran, dengan ketangguhan
14:33Iran, dengan bagaimana kultur Persia, begitu ya.
14:37Dengan dia menginvestigasi, meneliti, melakukan riset, seharusnya sudah berunding, sudah tidak usah didengarkan Israel itu.
14:46Karena menghilangkan Iran dari peta, atau menggulingkan pemerintahnya diganti dengan alam mereka, nggak bisa.
14:52Ini bukan Iran, eh ini bukan Irak, ini bukan Libya, bukan Syria, begitu ya.
14:57Bukan Irak, bukan Libya, bukan Syria.
14:58Yang mudah ditumbangkan, karena memang sebagian rakyatnya tidak mendukung.
15:03Saddam Hussein kan diktator, dia sunni, tapi kebanyakan rakyat itu sudah siah.
15:06Dan memang tidak suka dengan kediktatoran Saddam Hussein.
15:10Berbeda sekali, Mas Bray, kasusnya berbeda, begitu.
15:12Oke, demografis yang ada di Iran dan juga Irak berbeda, pahamnya juga berbeda, tidak bisa disamakan.
15:19Dan Amerika Serikat harus masuk negosiasi gitu ya Mbak ya, kalau menurut Mbak Ria.
15:23Nah, kalau kita bicara soal negosiasi, Mas Faisal, dengan kemudian negosiasi yang kemudian berjalan,
15:29kemudian dilanggar perang lagi, negosiasi lagi, dilanggar perang lagi.
15:34Nah, ini Irannya seperti apa? Masih mau, tidak sih, untuk negosiasi?
15:38Kalau lihat pernyataan dari pemimpin tertinggi Mujitabah Khamenei, ya Iran sih tidak akan lagi percaya dengan Amerika Serikat.
15:46Terus juga sejauh ini juga belum ada dari pihak pemerintah ataupun tim negosiasi,
15:50baik Ketua Parlemen Mohamad Bakir Kalibaf ataupun Menteri Luar Negeri Abbas Arakci,
15:54untuk menerima tawaran negosiasi dari Amerika Serikat.
15:58Saya kira sekarang Iran sedang mempermainkan Trump, sedang mempermainkan Amerika Serikat,
16:03dan juga sedang mempermalukan Amerika Serikat.
16:05Trump berkali-kali mengancam, tapi akhirnya bilang sedang membuka pintu negosiasi atau negosiasi sedang berlangsung.
16:12Ini artinya bahwa Trump memang sudah kepayahan, Trump juga sudah frustrasi,
16:16karena tidak mampu lagi menekan Iran.
16:18Iran tidak mampu ditekan dengan serangan, apalagi dengan ancaman.
16:21Nah ini akhirnya yang membuat sekarang Iran ada di atas angin,
16:25dan nantinya bisa memaksa ya Trump akhirnya mundur dari perang ini sendiri.
16:29Saya sepakat apa yang dikatakan dengan Butiyah,
16:31memang hasil survei terbaru di Iran, itu survei bulan lalu,
16:3575% rakyat Iran, ini survei dilakukan oleh stasiun televisi pemerintah Iran,
16:4075% rakyat Iran percaya bahwa Trump dan Netanyahu harus dibunuh.
16:44Artinya ini dua opsi ini adalah untuk menghentikan intervensi
16:49atau permusuhan yang dilakukan oleh kedua negara.
16:52Terus kemudian juga 77%, ini naik dari survei April,
16:57survei April 73,7%, sekarang 77%,
17:02rakyat Iran setuju kalau Selat Hormuz tetap dalam kendali Iran.
17:07Artinya nantinya harus atas izin Iran, kapal-kapal yang melintas,
17:11ataupun membayar bea lintas.
17:13Kemudian 78% rakyat Iran tetap mendukung rezim mulai yang berkuasa sejak 1979,
17:19untuk melanjutkan perang, jika memang Amerika dengan Israel masih mau melanjutkan perang dengan Iran.
17:25Jadi memang Iran sekarang berada, dari awal memang Iran sudah kuat,
17:29karena juga kita tahu kultur siah itu adalah mati sahid.
17:34Mereka selalu mengidolakan atau sangat ingin,
17:38seperti Imam Hussein sebagai imamnya siah yang mati sahid di Karbala.
17:41Jadi buat orang siah, setiap tempat adalah ke Karbala, setiap waktu atau setiap hari adalah asyura.
17:47Jadi ya, buat rakyat Iran tidak takut mati untuk menghadapi agresi Amerika maupun Israel.
17:52Ivan, kekuatan militernya juga masih oke kah?
17:55Menurut Mas Faisal, kalau kata Trump kan semuanya sudah nggak ada,
17:58sudah lemah semua udara, darat maupun laut.
18:01Seperti apa kalau dari pantauan Mas Faisal?
18:03Ya, jelas masih oke, karena sehari sebelum Trump melancarkan ancaman,
18:09itu kan sehari sebelumnya tembakan rudal Iran itu berhasil menghancurkan tiga pesawat tempur F-35
18:15dan juga merusak tiga pesawat tempur F-35 lainnya di pangkalan Muwafak As-Salti.
18:20Ini sudah ada konfirmasinya dari citra satelit.
18:23Tadi saya terakhir lihat citra satelit beresolusi rendah mengkonfirmasi bahwa benar
18:27klaim dari garda revolusi Islam Iran berhasil menghancurkan tiga F-35 dan merusak F-35.
18:33Dan kita tahu kalau misalkan klaim Trump yang terbukti bohong bahwa angkatan laut Iran sudah hancur,
18:39sampai sekarang pun Amerika tidak berani membuka paksa Selat Hormuz.
18:42Oke baik, saya kembali ke Mbak Tia.
18:44Kita bicara lagi soal diskusi ataupun negosiasi antara Amerika Serikat dan juga Iran.
18:48Katanya Trump kan membatalkan serangan ini karena sudah mencapai batas kesepakatan
18:53yang disetujui oleh kedua belah pihak.
18:55Dibilangnya soal pembukaan total Selat Hormuz dan juga pengakhiran ancaman nuklir Iran.
19:01Klaim seperti ini menurut Mbak Tia seperti apa?
19:04Ataukah memang sudah ada poin-poin yang disepakati kedua negara paling tidak sama seperti yang terjadi di Juni lalu?
19:12Ya ini kan klaim sepihak ya.
19:15Karena sudah dikonfirmasi di beberapa internasional news dari pihak Iran.
19:18Tidak ada dia meminta duluan untuk kembali ke perundingan.
19:21Dan kalaupun memang terjadi kembali ke perundingan, Mas Bray itu akan sama.
19:25Poinnya akan sama seperti Juni ya.
19:27Jadi 14 poin.
19:28Dan 14 poin itu adalah semuanya poin-poinnya menguntungkan pihak Iran.
19:32Dari mulai pembukaan Hormuz, nanti Iran tetap yang mengendalikan.
19:36Kemudian tidak ada fee tentunya.
19:38Kemudian masuk ke nuklir juga.
19:39Itu semuanya saya melihatnya poin-poin tersebut itu adalah memberikan keuntungan untuk Iran.
19:45Nah ini membuat Israel itu tidak suka begitu.
19:47Makanya akan kembali lagi kelas lagi.
19:49Tiba-tiba ada serangan lagi di Amerika Serikat.
19:51Kemudian dibalas lagi oleh Iran.
19:52Kemudian ternyata agreement yang tidak mengikat itu akan lepas kembali.
19:57Terus seperti itu.
19:58Makanya saya bilang, Mas Bray, ini tidak bisa permanen.
20:01Ini hanya sebentar.
20:02Kalaupun mereka kembali ke perundingan.
20:04Dan mediator baru misalnya Qatar lebih agresif daripada Pakistan.
20:07Tidak akan menyelesaikan.
20:09Tidak akan menyelesaikan.
20:10Jadi persoalannya ya sudah.
20:12Satu-satunya cara adalah Trump tidak usah mendengarkan telafif.
20:17Itu saja.
20:18Jadi kembali ke perundingan.
20:20Kemudian lakukan memang kalau misalnya tidak sepakat dengan 14 poin yang kebanyakan.
20:24Memberikan keuntungan terhadap Iran.
20:26Ya silahkan dirundingkan dalam forum diplomasi tersebut.
20:31Sehingga keduanya masing-masing menerima poin yang seimbang misalnya.
20:35Kalau selama Amerika Serikat terus mendengarkan bisikan daripada Israel.
20:38Susah.
20:39Ini tidak akan terjadi perdamaian ini.
20:41Baru jalan sebentar.
20:43Terjadi lagi serangan.
20:44Dibalas lagi.
20:44Terus seperti itu.
20:45Dan mereka terus berharap bahwa Iran akan musnah.
20:48Iran tidak akan punya senjata lagi.
20:51Iran akan sampai di titik nadir.
20:52Tidak bisa.
20:53Itu tidak akan pernah terjadi.
20:54Itu baru sampai di situ ya.
20:56Bagaimana kita bicara mengenai kultur.
20:58Atau sifatnya bahasa Persia memang tidak pernah takluk begitu.
21:02Baru sampai pada tahap itu Mas Bray.
21:04Belum kita bicara.
21:05Apa betul itu adalah benar-benar hasil daripada Iran?
21:08Saya sih tidak yakin Mas Bray.
21:10Saya tidak bisa mengungkapkan secara detail di publik begitu ya.
21:13Betul itu betul-betul adalah instrumen politik dan militer dari Iran.
21:19Demikian presisikah?
21:20Kita tidak tahu seberapa besar dukungan Rusia dan China dibalik itu.
21:24Bagaimana dengan informasi intelijennya?
21:26Bagaimana dengan informasi satelitnya?
21:28Berapa rakitan yang dikirim misalnya?
21:31Kita tidak tahu.
21:31Di permukaan mereka diam.
21:33Tapi mereka juga punya kepentingan yang besar terhadap Iran.
21:36Bagaimana Iran itu merupakan negara terakhir yang tidak boleh mustah seperti halnya Rejim Assad di Syria.
21:42Seperti aliansi mereka di Timur Tengah.
21:45Kalau Iran tidak ada sama juga dengan menghantar mereka begitu.
21:49Balance of powernya di mana?
21:51Tidak ada.
21:51Iran itu satu-satunya negara di Timur Tengah yang menciptakan keseimbangan bagaimana Amerika Serikat tidak bisa lagi menguasai Timur Tengah.
21:59Secara keseluruhan bagaimana meng-counter hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah.
22:04Satu-satunya.
22:05Mas Bray, bayangkan kalau Iran tidak ada di kawasan Timur Tengah.
22:08Apa yang akan terjadi dengan tatanan global ini?
22:11Hancur sudah.
22:12Karena apa?
22:13Keseimbangan itu perlu dalam tataran su-DHI.
22:16Tidak bisa.
22:17Balance of power itu satu teori di HI yang menyatakan bahwa keseimbangan kekuasaan dalam dua aliansi besar itu akan menciptakan
22:25perdamaian.
22:26Jadi memang harus ada.
22:27Kalau tidak, tatanan global hancur.
22:29Kalau Iran hancur, hancur semua.
22:31Dan ini juga yang dipahami oleh NATO.
22:33Makanya kan tidak ada yang pro-trap Amerika Serikat.
22:35Dia berjuang sendirian.
22:37Jadi jagoannya dia itu sekarang kita tahu kapasitasnya.
22:40Oh, segitu kalau tidak dibantuin NATO, kalau tidak dibantuin Uni Eropa misalnya.
22:45Karena apa?
22:46Mereka paham sekali ini berbahaya begitu.
22:48Karena kalau sampai ini dikuasai secara total Timur Tengah, aliansinya semua pro-Amerika, Amerika semua menghasilkan Timur Tengah, Israel juga.
22:55Sebetulnya bukan kehancuran untuk Iran, tapi kehancuran untuk tatanan global, Mas Brie.
23:00Oke, dampaknya sebegitu besarnya jika Iran dalam tanda kutip dihapus dari peta dunia.
23:06Nah, saya mau ke Mas Faisal.
23:07Apakah kemudian dukungan backdoor ataupun dukungan sembunyi-sembunyi dari Rusia dan juga Tiongkok ini yang sampai sekarang membuat Iran masih
23:14bisa bertahan?
23:16Saya yakin ya, karena memang seperti kata Butiyah, memang Iran ini satu-satunya negara yang sekarang tinggal bagaimana mencegah Amerika
23:23menjadi hegemoni tunggal di Timur Tengah setelah adanya Israel ya.
23:28Saya kira Rusia dengan China pasti berkepentingan untuk menjaga Iran tetap kuat dan mampu menghadapi Israel maupun hegemoni Amerika di
23:38Timur Tengah.
23:38Nah, itu pernah ada informasi, ada kapal mata-mata atau kapal spionase China namanya Lian Wang 1, itu sebelum serangan
23:4828 Februari, itu sudah berada di perairan Teluk Oman.
23:52Jadi, kapal ini memberikan akses kepada Iran, ini laporan yang sempat beredar, memberikan akses intelijen di mana saja posisi Amerika,
24:03bagaimana pergerakan aset militer Amerika, terus juga sistem pertahanan udaranya, pangkalan titik-titik strategis pangkalan militer Amerika di Timur Tengah.
24:11Dan ini yang disebut dalam laporan yang sempat keluar itu adalah bahwa inilah yang membantu Iran akhirnya menjadi presisi dalam
24:20menyerang pangkalan-pangkalan militer atau aset-aset militer di Timur Tengah, belum lagi citra satelit dari Rusia ataupun China, yang
24:27menurut laporan itu juga membantu Iran.
24:29Saya percaya kalau misalkan sejauh ini kenapa akhirnya Rusia dengan China tidak terjun langsung dalam perang ini, karena mereka melihat
24:38sejauh ini kepentingan mereka di Timur Tengah dalam hal ini, Iran, itu belum terganggu.
24:44Misalkan selama perang itu Iran berhasil menjual minyak senilai 18 miliar dolar, ini proyeksinya 60% dari pendapatan minyak untuk
24:54proyeksi tahun ini.
24:54Itu sekitar 11 miliar ketika terjadi perang sampai 7 April, ketika gencatan senjata akhirnya batal, Juli, itu berhasil mendapatkan sekitar
25:065 miliar.
25:07Jadi totalnya 18 miliar selama perang sejak 28 Februari sampai sekarang.
25:12Ya saya kira memang Rusia dengan China, seperti disampaikan Butia, memang berkepentingan terhadap tetap bertahannya rezim mula yang anti-Zionis,
25:21yang anti-Amerika maupun anti-Israel di Timur Tengah.
25:23Nah kalau menyambung dari pernyataan Mas Faisal, Mbak Tia, apakah ada kemungkinan ataupun peluang misalnya Rusia dan juga Tiongkok mendukung
25:32Iran secara terang-terangan?
25:34Tidak ada. Tidak ada, mereka hanya tersenyum saja sekarang, karena semua kan masih terkendali Mas.
25:39Semuanya masih terkendali, Iran juga masih bisa melakukan retaliation atau pembalasan, semua masih terkontrol dengan baik, minyak dan energi lainnya
25:48juga sudah masih tertransfer dengan baik ke China.
25:51Jadi memang selama itu tadi Mas Faisal bilang, selama kepentingan nasional mereka tidak terusik, bisnis mereka tidak terusik, mereka tidak
25:59akan memperlihatkan bahwa mereka mendukung Iran langsung ke permukaan.
26:03Pun ketika Trump datang pun tetapkan, Z itu flat begitu ya, dan rejectnya itu dengan cara yang sangat elegan saya
26:11pikir.
26:11Itu bentuk rejection loh Mas Brie, dia pulang lagi tanpa membawa apapun begitu ya, kemudian setelah itu Putin juga langsung
26:19berkunjung ke Cina begitu ya.
26:22Jadi ini sebenarnya ini mudah dianalisis dalam kasat mata, tapi tentu dengan direct langsung membackup Iran, langsung ke permukaan berkonfrontasi
26:33dengan Amerika Serikat, ini bukan gayanya mereka.
26:36Nah, jadi mereka masih terus melihat, jadi kepentingan nasional mereka tidak terusik, ya mereka baik-baik saja.
26:42Dan saya hanya ingin menyatakan satu hal, karena memang biasanya di publik kita itu lebih kepada melihat kepada faktor ideologi
26:50dan lain sebagainya.
26:51Dalam proses bagaimana kita mempertahankan tatanan global, bagaimana kita mempertahankan bisnis masing-masing, nasional, interes negara masing-masing,
26:59enggak ada itu ideologi mas bersamaan lain dan sebagainya, enggak ada.
27:03Kalau ada ideologi Saudi Arabia, negara-negara Teluk itu tidak akan beraliansi dengan Amerika Serikat.
27:07Jadi enggak ada, makanya Cina juga kenapa harus butuh, bukan butuh ya, harus mempertahankan eksistensi Iran di Timur Tengah, itu
27:15tadi yang saya bilang.
27:16Seimbangan ya.
27:18Seimbangan, kalau enggak ada apa yang akan terjadi, ini efeknya akan kemana-mana.
27:22Kalau sampai satu kawasan, dan itu adalah negara-negara produsen oil yang semua dunia tergantung ke kawasan itu, hancur mas,
27:30enggak bisa.
27:31Enggak ada persoalan Shia, Sunni, Islam, tidak Islam, enggak ada, enggak ada.
27:35Jadi emang ini persoalannya bagaimana kita menggiring pemahaman publik, kita harus mensupport, mereka harus kembali ke perdamaian.
27:44Karena kita juga akan kena kok dampaknya kalau sampai terus terjadi.
27:47Jadi, jangan kan misalnya dalam jangka panjang begitu ya, kita sebentar saja minyak di kisaran 100, efeknya kan luar biasa.
27:55Begitu.
27:56Ya kalau 100 saja, jangan 180 saja.
27:59Maka kalau aman, itu misalnya kisaran minyak itu di 72 mas, 72, 75 masih oke lah begitu.
28:04Nah kita sebagai sekolar akademisi, saya, Mas Faisal, Mas Bre, jurnalis, itu harus semua menggiring ke arah perdamaian.
28:11Karena tidak ada jalan lain, mau bagaimana, mau menumbangkan diri, sekali lagi tidak akan pernah bisa begitu.
28:16Map, politik globalnya itu kan berhadapan sebetulnya kan.
28:19Ini Amerika, Israel, ini Iran, Rusia, Cina, begitu.
28:23Sebetulnya yang terjadi seperti itu.
28:25Jadi it's impossible, itu akan collapse, akan kalah, akan sampai ke titik nadir.
28:29Itu kan hanya pernyataan-pernyataan Trump.
28:31Iran sudah tidak berdaya, Iran sudah tidak mampu.
28:33Iya betul, memang ada pemerosotan.
28:35Itu sudah, saya pernah berdiskusi dengan pihak Irannya.
28:38Betul, memang ada kemerosotan secara ekonomi.
28:40Tapi bukan berarti juga sampai ke titik nadir, tidak ada.
28:44Buktinya kan masih terus melakukan retaliation, begitu.
28:47Jadi memang harus kembali ke perundingan.
28:49Oke, kembali ke perundingan dan juga perdamaian yang kita dorong bersama-sama.
28:52Tapi Mas Faisal, jika kita melihat kondisinya tidak hanya antara Amerika Serikat dan juga Iran,
28:56tapi juga ini konfliknya kan meluas sampai ke Yaman, kemudian ke Irak juga, seperti itu.
29:02Dan kemudian Jordan dan juga Kuwait menjadi sasaran Iran,
29:05karena ada pangkalan militer AS di sana.
29:07Anda melihatnya konflik di Timur Tengah ini seperti apa ke depannya dengan
29:12apa yang terjadi di antara Amerika Serikat dan juga Iran?
29:14Apakah kemudian bisa meredah atau justru ada potensi semakin meluas
29:19yang ada di Timur Tengah ini, Mas Faisal?
29:21Saya kira permusuhan di Timur Tengah ini kan selain dipicu munculnya Israel,
29:27Israel dengan merampas tanah-tanah Palestina,
29:30itu kan membuat banyak negara muslim berpenduduk meritas muslim seluruh dunia kan
29:34istilahnya melawan, ada sentimen.
29:36Walaupun tidak semua rezim yang berkuasa,
29:39ini kan semua negara muslim kan pro-Palestina,
29:42termasuk Iran, tapi hanya Iran yang anti-Zionis.
29:45Jadi selama masih ada Israel, tentunya sentimen negatif terhadap Amerika
29:49maupun Israel itu akan sangat besar di kalangan rakyat di negara-negara muslim.
29:54Nah sama sebaliknya, selama ada rezim mula di Iran yang anti-Zionis,
29:57termasuk juga anti-Amerika,
29:59artinya permusuhan di antara Amerika-Israel dengan Iran akan tetap berlangsung permanen untuk waktu lama.
30:05Nah sebenarnya yang disayangkan adalah dunia ketika berbicara perdamaian,
30:09mereka tidak berbicara untuk keadilan yang memang sudah dirampas oleh Amerika,
30:16Israel maupun sekutunya di Eropa.
30:18Ketika Iran dikenai sanksi dengan tudingan palsu bahwa Iran ingin mengembangkan senjata nuklir,
30:25atau sudah punya senjata nuklir yang dikampanyekan oleh Amerika-Israel,
30:28negara-negara muslim lainnya diam, dunia diam,
30:31tidak mau mendesak atau memaksa Amerika bersama Eropa untuk mencabut sanksi-sanksi terhadap Iran,
30:37yang merugikan Iran.
30:38Tapi ketika Amerika menyerang Iran,
30:40kemudian Iran membalas dengan menutup slat formus,
30:43seperti sudah disampaikan oleh Iran sendiri, diperingatkan.
30:46Kalau mereka diserang, mereka akan menyerang semua pangkalan Amerika di Timur Tengah dan menutup slat formus.
30:51Nah dunia baru sama-sama bergerak untuk berbicara bahwa
30:54harus kembali ke meja perundingan.
30:55Tapi kenapa dunia tidak pernah berbicara untuk membelah hak-hak krayat Iran yang sudah dirampas
30:59sejak 1979.
31:01Nah kalau misalkan mau damai permanen,
31:03dan itu memang susah karena memang yang ideal,
31:06ya dunia harus bersatu bagaimana memberikan sanksi terhadap Amerika dengan Israel,
31:10yang sudah terbukti berkali-kali melanggar hukum internasional,
31:14melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan,
31:16termasuk yang sedang dilakukan terhadap Iran sejak 28 Februari.
31:19Kalau itu tidak dilakukan, maka ya,
31:20Amerika dengan Israel tidak akan pernah jerat atau kapok
31:23untuk melanggar hukum internasional lagi.
31:25Seperti tidak boleh dibilang oleh Trump bahwa
31:27saya tidak butuh lagi hukum internasional.
31:29Baik, nah ini yang kita tunggu bersama-sama sebenarnya
31:32perdamaian antara paling tidak Amerika Serikat dan juga Iran.
31:35Tadi seperti kata Mbak Tia,
31:36Trump seharusnya bisa duduk negosiasi.
31:39Kita harapkan bisa duduk anteng.
31:40Jadi negosiasinya nggak pakai perang,
31:42tapi negosiasi dengan benar-benar
31:44mendiskusikan poin-poinnya
31:45agar ketemu kepentingan kedua belah pihak.
31:48Kita harapkan semoga progres itu terjadi
31:50di waktu dekat ini.
31:52Terima kasih Mbak Tia Mariatul Kiptiah,
31:54dosen hubungan internasional BINUS University,
31:56dan juga Mas Faisal Asegaf,
31:58pengamati Timur Tengah,
31:59sudah bergabung di Sapa Indonesia Pagi.
32:01Selamat pagi, Assalamualaikum.
32:03Terima kasih Mbak Tia Mariatul Kiptiah.
Komentar