- 12 jam yang lalu
- #bupatipemalang
- #kpk
- #makelarkasus
JAKARTA, KOMPASTV - Mantan Komisioner KPK periode 20152019, Saut Situmorang, menilai kasus dugaan pemerasan terhadap Bupati Pemalang oleh oknum pegawai KPK berinisial DIS perlu diusut hingga tuntas, termasuk menelusuri sumber kebocoran informasi perkara di internal lembaga antirasuah.
Menurut Saut, seorang pegawai tidak harus menjadi bagian dari tim penyelidik untuk mengetahui perkembangan suatu perkara.
"Yang paling penting adalah bagaimana dia bisa mengakses dan tahu kronologis kejadiannya sehingga meyakinkan orang yang akan diperas," kata Saut di Sapa Pagi, Jumat (31/7/2026).
Ia menilai informasi yang dimiliki DIS diduga cukup kredibel hingga membuat korban percaya perkara yang menjeratnya benar-benar sedang diproses.
Sementara itu, pakar hukum pidana Universitas Jenderal Soedirman, Hibnu Nugroho, menilai konstruksi perkara mengarah pada dugaan tindak pidana pemerasan yang dilakukan secara bersama-sama.
Menurut Hibnu, apabila terbukti ada kerja sama antara DIS dan ayahnya dalam meminta uang kepada Bupati Pemalang dengan memanfaatkan informasi perkara, keduanya dapat dijerat sebagai pelaku tindak pidana pemerasan.
"Kalau kita melihat konstruksi kasusnya, itu adalah pemerasan. Ada penyertaan antara bapak dan anak untuk melakukan pemerasan," ujarnya. (timecode 10:38)
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Joshua
#bupatipemalang #kpk #makelarkasus
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/683229/full-ayah-anak-diduga-kompak-peras-bupati-pemalang-eks-komisioner-kpk-buka-suara-sapa-pagi
Menurut Saut, seorang pegawai tidak harus menjadi bagian dari tim penyelidik untuk mengetahui perkembangan suatu perkara.
"Yang paling penting adalah bagaimana dia bisa mengakses dan tahu kronologis kejadiannya sehingga meyakinkan orang yang akan diperas," kata Saut di Sapa Pagi, Jumat (31/7/2026).
Ia menilai informasi yang dimiliki DIS diduga cukup kredibel hingga membuat korban percaya perkara yang menjeratnya benar-benar sedang diproses.
Sementara itu, pakar hukum pidana Universitas Jenderal Soedirman, Hibnu Nugroho, menilai konstruksi perkara mengarah pada dugaan tindak pidana pemerasan yang dilakukan secara bersama-sama.
Menurut Hibnu, apabila terbukti ada kerja sama antara DIS dan ayahnya dalam meminta uang kepada Bupati Pemalang dengan memanfaatkan informasi perkara, keduanya dapat dijerat sebagai pelaku tindak pidana pemerasan.
"Kalau kita melihat konstruksi kasusnya, itu adalah pemerasan. Ada penyertaan antara bapak dan anak untuk melakukan pemerasan," ujarnya. (timecode 10:38)
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Joshua
#bupatipemalang #kpk #makelarkasus
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/683229/full-ayah-anak-diduga-kompak-peras-bupati-pemalang-eks-komisioner-kpk-buka-suara-sapa-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:06Memeras akhirnya menjadi korban pemerasan.
00:10Inilah gambaran dalam kasus korupsi Bupati Pemalang, Anom Midian Toro.
00:15Anom awalnya terjerat kasus korupsi.
00:17Dia diduga menerima uang terkait pelaksanaan sejumlah proyek
00:21dan dugaan penerimaan uang jual-beli jabatan.
00:26Dalam kasus ini, KPK menyita barang bukti berupa uang tunai
00:30lebih dari 2 miliar rupiah dari beberapa lokasi.
00:34Saat kasusnya sedang bergulir di KPK,
00:37Bupati Anom justru diperas oknum pegawai KPK
00:40dengan iming-iming dibantu dalam pengurusan perkara.
00:44Mirisnya, ayah oknum pegawai KPK menjadi penghubung
00:48antara pihak Bupati Anom dan anaknya.
00:50Oknum pegawai itu diduga membocorkan informasi penanganan perkara
00:54kepada ayahnya yang kemudian digunakan untuk memeras Anom Midian Toro.
01:02Dalam kasus ini, KPK menetapkan Bupati Anom dan satu orang lainnya
01:06sebagai tersangka dalam kasus pemerasan di lingkungan
01:09pemerintahan Kabupaten Pemalang.
01:11Sementara oknum pegawai KPK dan ayahnya menjadi tersangka
01:15dalam kasus pemerasan terhadap Bupati Pemalang.
01:21Klaster kedua, yakni terkait dengan dugaan tindak bidana korupsi pemerasan
01:26yang dilakukan oleh oknum KPK kepada Bupati Pemalang.
01:34Atas dua klaster penyidikan tersebut,
01:37berdasarkan kecukupan alat bukti yang sah,
01:40penyidik kemudian telah menetapkan empat orang sebagai tersangka.
01:45Yang bersangkutan merupakan staf administrasi pada Komisi Pemerantasan Korupsi
01:51yang benar merupakan perbantuan dari instansi kepolisian.
01:58Dalam kasus ini, KPK juga turut membawa istri Bupati Pemalang,
02:02Nur Faiza Mayenovi, ke gedung KPK Merah Putih
02:06bersamaan dengan pihak lain yang terjaring OTT KPK pada Rabu kemarin.
02:10Namun, usai pemeriksaan dan ekspos perkara,
02:14istri Bupati Pemalang keluar dari gedung Merah Putih KPK.
02:20Terkait kasus pemerasan yang dilakukan oknum pegawai KPK,
02:24pihak lembaga antirasuah ini meminta masyarakat untuk tidak percaya
02:28kepada pihak-pihak yang menawarkan bantuan pengurusan kasus di KPK.
02:34Kepada masyarakat, kami tidak bosan-bosan mengimbau untuk selalu waspada dan hati-hati
02:43dengan berbagai modus, baik pemerasan, penipuan, ataupun modus-modus lainnya
02:51yang mengatasnamakan dapat melakukan pengurusan perkara di KPK.
02:56Kami tegaskan sekali lagi bahwa seluruh proses penanganan perkara yang dilakukan oleh KPK
03:05semuanya dilakukan secara objektif berdasarkan alat bukti
03:11dan kami juga terbuka atas setiap tahapan dalam proses hukum tersebut.
03:20Jurubicara KPK Budi Prasetyo menambahkan kasus pemerasan oknum pegawai KPK
03:25juga menjadi koreksi internal lembaga tersebut.
03:29Tim Liputan, Kompas TV
03:35Terjerat kasus korupsi Bupati Pemalang Anom Widiantoro justru diperas oknum pegawai KPK
03:41dengan iming-iming dibantu dalam pengurusan kasus
03:44Mirisnya yang jadi maklar alias penghubung pihak Bupati Pemalang dan oknum pegawai KPK
03:49adalah ayah pegawai KPK tersebut.
03:52Kita bahas soal ini bersama sejumlah narasumber yang sudah hadir di Sambung Gandaring
03:55ada Komisioner KPK 2015-2019 Salci Tomorang
03:59dan Pakar Hukum Pidana Universitas Jendral Sudirman, Hipnu Nugroho.
04:04Selamat pagi Pak Saud, Prof Hipnu.
04:07Selamat pagi Mas, selamat pagi Pak Saud.
04:09Pagi baik Prof.
04:10Saya ke Pak Saud terlebih dahulu.
04:12Pak Saud, terkait dengan kasus ini yang merupakan pegawai KPK yang berisial DIS
04:18ini kan membocorkan informasi terkait perkara yang sedang ditangani untuk Bupati Pemalang.
04:25Soal informasi ini, Pak Saud, ketika Anda bertugas di KPK
04:29memang apakah seterbuka itu atau memang oknum ini yang punya ide, punya akses tertentu
04:35sehingga dia bisa melakukan itu buat pemerasan terhadap Bupati Pemalang?
04:40Ya bisa saja kombinasi keduanya.
04:43Memang niatnya sudah ada dari awal.
04:45Sudah pastilah kalau kita bicara bagaimana dia bisa join di KPK itu kan pada masa lalu
04:52nggak gampang juga untuk join di KPK.
04:54Kita ada beberapa tahapan tes yang sangat independent
04:57sehingga kita bisa rekomendasikan bagaimana integritasnya berpotensi jadi pembohong.
05:02Itu semua ada item-item yang kemudian dilaporkan kepada pimpinan
05:07apakah orang ini bisa join di KPK atau tidak.
05:11Di level mana dia akan mulai bekerja.
05:13Nah bagaimana dia bisa mengakses informasi?
05:16Itu kan macam-macam.
05:17Kalau kita katakan kan informasi itu bisa mulai masuk dari mulai dari di depan.
05:23Di depan artinya di bawah situ di lantai satu ada orang melaporkan atau model-model lain.
05:28Dari situ sudah mulai ada potensi kebocoran sebenarnya.
05:31Nah kalau kemudian ada disebut-sebut dia melakukan pertemuan 2-3 kali di kota di mana bupati menjabat
05:38itu menjadi menarik.
05:39Karena apa?
05:40Berarti kan yang bersangkutan mengikuti prosesnya.
05:42Nggak mungkin juga dia meyakinkan kepada kepala daerah itu.
05:46Bagaimana dia cara meyakinkannya?
05:47Tentu kan sudah ada dia peroleh informasi yang kemudian terkonfirmasi.
05:51Oh iya berarti konfirmasi informasi orang ini kredibel.
05:54Saya memang kemarin sudah dipanggil.
05:56Saya kemarin memang sudah ditanya-tanya.
05:58Kemudian dia beri menjanjikan.
06:00Mau diberintikan kagak gitu kan.
06:01Jadi pertanyaannya kemarin dia yang beri tanya tadi itu bagaimana dia bisa memperoleh
06:05urutan-urutan proses yang dinyidikan.
06:08Kemudian itu bisa menjadi meyakinkan orang sehingga mau memberi sampai uang begitu besar.
06:14Nah ini pertanyaannya.
06:15Orang itu siapa?
06:17Tugasnya apa?
06:18Bagaimana dia bisa mengakses informasi?
06:20Apakah kemudian dia waktu ditugaskan untuk kopi?
06:23Atau dia bagian dari penyelidikan penyidikan?
06:25Atau kemudian dia bekerja sama dengan potensi pelaksana penyelidikan juga?
06:30Bisa juga kan?
06:31Dia mungkin nanya elicitation ya.
06:33Elicitation itu nanya lah.
06:34Bro lagi ngerjain apa bro?
06:36Oh ini ada bupati di sana.
06:37Oh iya?
06:38Dengan itu aja sebenarnya bisa dikembangkan di bawah kalau dia kreatif.
06:42Kalau kreatif dalam pengertian jahat ya.
06:44Ya jadi saya pikir banyak hal ya yang kelihatan kita tidak masuk ke detail-detail.
06:51Sebagaimana sebelumnya KPK mengawasi ada CCTV dan seterusnya.
06:56Apa memang dia di dalam tim itu?
06:58Atau orang kan itu ada akses juga kan?
07:00Kartu akses orang gak semua bisa masuk ke kartu akses itu gitu.
07:04Jadi ini perlu di dalamnya lebih lanjut.
07:05Bagaimana itu bisa terjadi?
07:07Gitu Mas Brek.
07:07Oke.
07:08Kalau secara sistem gitu Pak Saud kita lihat ini sebagai staff administrasi.
07:13Dan mungkin tidak secara langsung berkaitan dengan perkara.
07:17Nah informasi soal perkara ini sebenarnya seharusnya seperti apa?
07:20Kerahasiaannya.
07:21Apakah memang hanya pada penyidik?
07:23Atau ternyata bisa diakses dengan mudah juga oleh bagian-bagian lain?
07:27Seperti administrasi misalnya.
07:29Ya itu tadi.
07:30Saya sedang membayangkan.
07:32Ini yang bersangkutan ini.
07:33Ketika ketemu Bupati katakanlah ya.
07:37Siapapun yang katakanlah dipengaruhi untuk kemudian bisa memberi sesuatu.
07:43Itu kan gak mesti membawa dokumen 30 halaman.
07:46Gak mesti juga.
07:47Jadi bisa aja dia mendapat itu hanya mendengar.
07:50Kemudian dia kembangkan.
07:51Apalagi kalau dia dapat dokumen.
07:53Atau dia baca.
07:54Atau ketika dia diperintahkan untuk memotokopi.
07:56Kemudian dia copy bagian-bagian pentingnya.
07:59Jadi yang paling penting adalah.
08:01Bagaimana dia bisa mengakses dan tahu kronologis kejadiannya.
08:06Sehingga meyakinkan orang yang akan diperas.
08:09Oh iya benar prosesnya.
08:10Saya kemarin udah dipanggil.
08:11Berarti ini kredibel.
08:14Saya harus memberi sesuatu kalau mau dihentikan.
08:16Kan pertanyaannya sebutannya begitu.
08:18Dia menghentikan perkara.
08:19Jadi pada bagian lain memang kita harus bertanya.
08:23Bagaimana dia mengakses itu.
08:25Di KPK tidak gampang juga.
08:27Kemudian kita mendapatkan keterangan-keterangan.
08:30Tetapi kemudian ketika ada perilaku transaksional.
08:33Pertemanan dan seterusnya.
08:34Bisa saja informasi itu mengalir dengan cepat.
08:36Walaupun Pak Saud.
08:38Belum tentu orang ini.
08:40DIS ini juga bisa melakukan sesuatu.
08:42Terdapat perkara itu.
08:43Dia cuma tahu-tahu sedikit aja.
08:44Untuk kemudian memeras Bupati Pemalang.
08:47Jadi at the end.
08:49Dia hanya punya informasi.
08:50Tapi tidak bisa apa-apa sebenarnya.
08:52Untuk membantu Bupati Anom.
08:53Oh iya.
08:54Oh iya.
08:55Itu makanya.
08:56Tadi.
08:57Juru bicara bilang kan.
08:59Kemarin tuh.
09:00Hati-hati dengan janji-janji seperti itu.
09:01Jangan percaya.
09:02Tapi kan orang di bawah itu.
09:03Kalau udah.
09:04Udah.
09:04Udah.
09:05Kemudian dia yakin.
09:06Bahwa terjadi peristiwa pidana.
09:07Pastinya pasrabongkoan dia.
09:09Karena dia yakin.
09:10Memang peristiwa pidana itu udah terjadi.
09:12Jadi kemudian hanya mengatakan.
09:14Jangankan mempunyai orang pegawai KPK.
09:16Orang luar saja ketemu Bupati.
09:18Pak.
09:18Bapak hati-hati loh.
09:19Bapak lagi diikuti.
09:20Itu aja itu bisa membuat.
09:22Sang Bupati menjadi pasra-pasra-pasranya.
09:25Apalagi kalau dia ngatakan.
09:27Menunjukkan ID.
09:28Ini benar Pak.
09:29Saya lagi di KPK.
09:30Itu sudah gak mesti.
09:31Harus masuk di tim penyelidikan.
09:33Gak mesti di timnya.
09:35Katakanlah.
09:36Yang sedang mengembangkan kasus itu.
09:38Siapa aja punya potensi.
09:40Kan di masa lalu kan.
09:42Di pegawai penjara itu kan.
09:43Satpamnya juga.
09:44Security-nya juga kan.
09:45Jadi semua lapisan yang ada di KPK.
09:47Punya potensi.
09:48Untuk kemudian melakukan hal yang sama.
09:50Gitu Mas Brek.
09:50Oke.
09:51Kepanikan bisa ditimbulkan.
09:53Kemudian ini yang kemudian dimanfaatkan.
09:55Untuk memeras.
09:55Bupati Pemalang.
09:56Seperti itu.
09:57Saya ke Prof.
09:58Hibnu.
09:58Kalau Anda melihat konstruksi perkara ini.
10:00Prof.
10:00Hibnu.
10:01Ada ayah.
10:02Yang merupakan.
10:04Bukan orang KPK gitu ya.
10:05Orang tua dari pegawai KPK.
10:07Ini menjadi penghubung.
10:09Kemudian anaknya.
10:10Ini memberikan informasi kepada ayahnya.
10:13Untuk kemudian bisa dijadikan bahan untuk memeras.
10:15Bagaimana jerat pidana yang bisa menjerat keduanya antara ayah dan anak ini.
10:21Dan bagaimana juga nanti bisa didalami soal siapa saja yang bisa terlibat di dalam KPK.
10:26Misalnya DIS ini juga menggali informasi dari orang-orang tertentu.
10:30Apakah juga bisa nanti diserat pidana?
10:33Ya, kalau kita melihat suatu konstruksi kasusnya itu adalah pemerasa.
10:39Pemerasan itu ada dua kategori yang diatur dalam KUAP Pasal 482 itu kurang umum.
10:45Tapi kalau kita kembali pada 12E Undang-Undang Titi Korp.
10:49Itu adalah Pegai Negeri.
10:51Jadi sekarang ini masuk kualifikasi klaster Pegai Negeri.
10:55Karena itu seorang oknum polisi.
10:57Dan itu kan.
10:58Nah sekarang pertanyaannya.
10:59Bagaimana itu pemerasan terjadi?
11:01Kalau itu kita melihat kayaknya ada suatu penyertaan antara bapak dan anak bersama-sama untuk melakukan pemerasan.
11:10Apa itu pemerasan?
11:11Tindakan dengan sengaja memaksa orang untuk melakukan suatu perbuatan.
11:16Sesuai kendaknya.
11:18Melakukan suatu, memberikan suatu, atau menghapuskan piutan.
11:22Nah, di sini saya kira sudah terang benar masuk kualifikasi itu.
11:25Terhadap oknum polisi, termasuk kaitannya orang tua.
11:28Itu bagian dari penyertaan untuk memeras bupati.
11:32Nah, ini sesuatu yang cukup gamblang ya.
11:37Kalau kita lihat perbandingannya antara tipikor dan umum.
11:40Kalau ke huap umum itu lebih rendah sekarang.
11:42Tapi untung ini pegai negara-negara.
11:44Polisi, Pegai Negeri.
11:46Ya kan?
11:46Berarti disertakan dengan orang tuanya.
11:49Masuk kualifikasi di dalam 12E.
11:51Itu minimal 4 tahun, maksimal 20 tahun.
11:55Nah, disitulah nanti dilihat dulu juga peran serta.
11:59Karena kalau kita pasal 20, pundak ke huap baru itu turus serta.
12:03Tidak membedakan mana sebagai pelaku utama, mana tidak.
12:07Tapi ada kendak yang sama.
12:09Dan itu.
12:09Kalau ke huap lama memang dibedakan.
12:11Antara turus serta, penyerta, pelaku utama.
12:13Ini tidak.
12:14Tapi paling tidak, nanti ada pelaku utama siapa?
12:17Apakah anaknya ataukah bapaknya?
12:20Nah, pelaku utama siapa?
12:21Pelaku yang bisa menghentikan atas suatu tindakan tersebut.
12:24Nah, dalam konteks KUAP baru tidak ada.
12:28Dengan demikian, bapak dan anak, saya kira sekualifikasi pemerasanya cukup tinggal.
12:34Nah, nanti sekarang, tadi Pak Salt ini.
12:36Apakah dalam pengungkapan ini sendiri atau dibantu orang lain?
12:42Disitulah saya kira KPK juga besi mengembangkan.
12:45Kalau sendiri, apanya?
12:47Ya, karena suatu informasi ini penting.
12:48Apakah tidak ada kode-kode tertentu dari pihak lain?
12:52Atau suplai informasi tertentu?
12:54Nah, ini kan orang-orang dalam semua.
12:56Dalam seperti ini, saya kira perlu dikembangkan klaster yang terkait dengan oknum pegai KPK,
13:01dan nanti klaster yang terkait dengan lingkungan pemerasaan di PENKAP.
13:05Tapi yang menarik adalah klaster yang melibatkan oknum KPK ini harus terang-penderang.
13:10Apakah stop dua orang itu?
13:11Apakah masih keterlibatan orang lain untuk menjadikan informasi?
13:15Tadi Pak Salt semakan itu, 2M loh.
13:18Cuma pertanyaannya, ini Pak Salt perkara apa?
13:20Pemerasan kasus apa? Ini yang belum kita mendengar dari berbagai media.
13:25Kalau yang perengkap jelas, kaitannya dengan dual-bree jabatan dan pengadaan.
13:30Tapi kalau yang lain, ini belum ada.
13:32Disitulah saya kira harus ada suatu pengembangan-pengembangan dari KPK
13:36untuk kasus pemerasan yang klaster satu tadi.
13:39Oke, baik. Nah ini saya ke Pak Saud lagi.
13:42Pak Saud, soal kemungkinan keterlibatan pegawai KPK yang lain
13:45yang siapa tahu juga memocokkan informasi kepada tersangka DIS ini
13:49seperti apa seharusnya KPK bisa mendalaminya dan juga menelusuri jejak-jejaknya.
13:54Dan menurut Anda, ini kalau kita lihat ada pemerasan seperti ini
13:58yang salah itu di individunya atau sebenarnya di sistemnya?
14:02Ya kombinasinya ya, perbuatan jahat itu ya definisi kriminalnya
14:06karena memang kesempatannya ada gitu.
14:08Kemudian ada niatnya, itu sangat klasik.
14:11Tapi kalau kita bicara kesempatan, berarti kan di dalam itu tidak ada detail-detail
14:15untuk kemudian memastikan seorang pergi kemana.
14:18Dia kemarin itu cuti nggak?
14:19Dua-tiga kali ketemu pergi ke Pemalang itu cuti nggak?
14:22Ah, izinnya siapa gitu.
14:24Nah, itu yang saya maksudkan kemarin lagi.
14:25Pengawasi internal itu tidak berwaktif untuk mengawasi orang berbuat apa.
14:29Semua orang punya potensi di sana.
14:31Mulai dari OBI juga punya potensi.
14:32OBI, pura-purangan susu, ruang pimpinan, buka map bisa juga.
14:39Tapi kan di dalam ada CCTV. Ruangan itu ada CCTV.
14:42Bisa dilihat ya, lagi ngapain apa saja.
14:44Tapi CCTV-nya dipelototin nggak?
14:46Kan gitu.
14:47Jadi maksud saya, detail-detail seperti itu yang nggak ada.
14:50Sehingga kemudian peluang itu terjadi.
14:52Untuk mendapat informasi seperti saya bilang tadi,
14:54nggak mesti harus membawa file 30 halaman.
14:57Nggak, dia tahu berita saja.
14:58Dia yakin masuk ke penyelidikan.
15:00Karena masuk penyelidikan itu nggak gampang, dia bisa turun ke bawah dan meyakinkan.
15:04Ketika ketemu dengan target, dia tunjukkan bahwa dia pegawai.
15:07Dan di cross-check.
15:08Menunjukkan, meyakinkan.
15:09Sehingga kemudian uang itu bisa keluar.
15:11Satu koma sekian itu.
15:13Jadi kalau Mas Brey tadi tanya, ini memang persoalan ini pengawasi internal.
15:16Pengawasi internal itu tidak masuk ke detail-detail.
15:19Bagaimana seorang, hal yang kompleks itu bisa terjadi.
15:23Karena hal-hal sederhana.
15:24Mungkin bisa jadi juga lagi jalan, atau di dalam lift.
15:27Dia dengar, penyelidikan lagi ngomong.
15:29Eh, kasus pemalang gimana?
15:30Oh, ini lagi on.
15:32Itu saja dia dengar, itu bisa dikembangkan loh.
15:35Iya kan?
15:35Jadi makanya saya katakan, ada banyak hal ketika Anda harus sangat hati-hati untuk kemudian menjaga informasi.
15:42Even dengan omongan.
15:44Even dengan share information lewat WA.
15:46BA Anda bisa disadap.
15:47WA Anda bisa diikuti.
15:48Yang menurut saya, hal itu terjadi enggak saat ini di penegak hukum.
15:52Sehingga kemudian hal-hal yang seperti ini, tidak meyakinkan kita bahwa ada upaya pencegahan yang lebih baik.
15:59Dan sayangnya, kalau ini admin, yang kemudian di tempat lain, jambit sus.
16:05Jadi ini enggak ngelihat, kalau korupsi ini dari bawah sampai ke atas nih.
16:09State captured disebutnya.
16:10Dan itu yang saya bilang, saya selalu mengatakan inilah kalau undang-undang KPK itu diganti sebenarnya lebih kepada yang ini
16:18sudah kita perkirakan.
16:20Bahwa nilai KPK itu sangat-sangat kemudian ordinary people.
16:24Tinggal lagi orang-orang yang extraordinary.
16:26Gitu Mas Brek?
16:26Oke, baik.
16:27Saya kembali ke Prof. Hypno.
16:29Prof. Hypno saat ini yang dihadapi oleh KPK adalah sekarang adalah bagaimana memproses hukum pegawainya sendiri.
16:38Ini kita juga flashback lagi ke kasus yang sedang berjalan saat ini.
16:42Kejelasan Agung juga menangani yang merupakan bagian dari Kejelasan Agung sendiri.
16:47Seperti apa kemudian kita bisa mengawasi dan juga memastikan bahwa KPK ini juga menegakkan proses hukum terhadap pegawainya secara transparan
16:55dan juga secara objektif?
16:57Ya, kalau kita melihat sejarah perjalanan antara penegak hukum melakukan pemeriksaan terhadap penegak hukum sudah biasa.
17:04Saya kira kita percaya semua, polisi memeriksa polisi banyak, jaksa memeriksa jaksa banyak, hakim mengadili hakim banyak.
17:14Sekarang KPK memeriksa orang KPK, sudah beberapa kali Mas.
17:17Jadi saya kira justru ini nanti akan menjadikan efek jerak terhadap potensi-potensi lain.
17:24Angkuntabilitas oleh KPK sangat menjadikan suatu utama sekali bagaimana membongkar ini.
17:32Tadi Pak Satu mengatakan, sekarang ini kan lokusnya jelas antara KPK dan Pemalang.
17:38Temposnya jelas perkara berarti semenjak dari Bupati Pemalang sampai sekarang.
17:43Nah, dalam suatu lokus dan tempos delit ini itu, kalau kita ungkap dalam suatu pembuktian, pemungkapan perkara, itu saya kira
17:51mudah.
17:52Tidak mudah sekali.
17:54Orang yang terkait oknum polisi itu bergeraknya pada siapa saja, temannya siapa saja, kerjanya seperti apa saja.
18:01Itu dokumennya kelihatan itu saya kira.
18:03Saya kira tadi Pak Sojo mengatakan, kaitannya digital forensicnya, HPnya diambil saja sudah kapan dilihat,
18:09kapan ditransfer, kapan berhubungan, isinya seperti apa, kan itu.
18:13Demikian juga bapaknya.
18:14Demikian juga Okno Anwawa Bupatinya.
18:17Ini suatu yang mudah sekali.
18:18Dan sekarang kalau melihat seperti ini, sekarang kita tunggu bagaimana penyitik KPK, Pemalang KPK itu mengungkap
18:24bahwa keterlibatan ini tidak hanya orang, dimungkinkan masih orang lain lagi.
18:29Kan itu.
18:29Kalau memang orang lain siapa?
18:31Kalau tidak, seperti apa?
18:33Disitulah saya kira angkuntabilitas dalam pengungkapan perkara itu masyarakat menunggu.
18:37Oh, ternyata si X Okno Polisi main sendiri.
18:40Buktinya ABCD.
18:41Oh, si X ternyata main dengan orang lain.
18:44Berarti buktinya ABC.
18:45Itu yang kita kemuakan.
18:46Mudah-mudahan KPK dengan kecanggian alatnya,
18:49dan tempus jeliknya jelas,
18:51lokusnya jelas,
18:52saya kira tidak sangat mudah untuk membongkar itu semua.
18:56Sehingga menjadikan pembelajaran bagi orang-orang yang berpotensi
18:59untuk bisa membocorkan atau untuk kaitannya dengan ke depan
19:03sebagai bentuk security internal dalam penanganan suatu perkara ini.
19:08Betulkah Pak Saud mudah bisa menelusuri siapa saja yang kemudian terlibat dalam kasus ini selain DS?
19:14Bagaimana dengan orang-orang lainnya?
19:17Bagaimana kemudian KPK juga bisa memastikan?
19:19Ini istilahnya seperti membunuh semut di rumah sendiri seperti itu.
19:23Seperti apa Pak Saud melihatnya?
19:25Ya tentulah kita akan melihat posisi yang bersangkutan.
19:28Karena posisi itu akan menentukan bagaimana dia mengget atau mendapatkan informasi.
19:33Walaupun saya bilang tidak menutup kemungkinan kebutuhanan dia di lift juga penyelidik jadi ngomong
19:38juga bisa dikembangkan sama dia.
19:40Karena informasi di sana itu kalau penyelidikan itu readable.
19:44Karena itu sudah lewat pengesahan di pimpinan
19:47dan sudah lewat klarifikasi, double check, cross check dan seterusnya.
19:52Sehingga dia yakin.
19:53Tapi kalau kita katakan dia bagian dari tim
19:55atau ada intersection atau kaitan dengan tim yang sedang melakukan penyelidikan
20:00itu menjadi lebih gampang dikembangkannya.
20:02Ya sehingga kemudian kok orang bisa yakin dengan gampang bisa menyerahkan hampir mendekati 2M.
20:08Jadi sekali lagi pertanyaannya adalah
20:10bagaimana sebenarnya kita menjaga bahasa lalu itu yang disebutnya body system
20:15seseorang itu mengontrol orang lain.
20:17Jadi kita tetap akan suriga kepada teamwork kita
20:21bahwa kebocoran bisa jadi lewat saya
20:22bisa jadi lewat orang lain
20:24bisa jadi juga lewat email
20:26bisa jadi lewat sekalian macam
20:27sehingga itu dimanfaatkan.
20:29Nah pertanyaannya adalah kemudian
20:31bagaimana sistem ini bisa diyakinkan
20:34bahwa tidak ada kebocoran informasi
20:36yang memungkinkan
20:37memungkinkan orang bisa memanfaatkan itu.
20:39Kalau memang nanti kita lihat apakah dia fasif atau apakah dia aktif itu kan bisa dilihat nanti.
20:45Dan disitu akan menjadi pemberatan.
20:47Tapi lepas dari aktif fasifnya seperti yang disampaikan prop tadi
20:51bahwa sebenarnya yang paling utama itu kan meyakinkan bahwa tidak ada informasi yang mengalir keluar di luar dari seseorang.
21:01Karena kalau sudah begini kita juga susah memastikannya
21:04kebocoran itu dari mana sebenarnya.
21:06Apakah kebocoran dari email?
21:08Apakah kebocoran itu karena komunikasi atau faktor kedekatan?
21:11Karena kemudian sama-sama dari kesatuan yang sama
21:14saling meyakinkan
21:15dia hanya dielisitasi ngajak ngobrol
21:17lo lagi dengan apa bro?
21:19Oh gue langgani malang nih
21:20kacau nih bupatinya bla bla bla bla bla bla
21:23Dengan ngomong gitu aja sebenarnya dia bisa dikembangkan.
21:25Jadi maksud saya
21:27apalagi kalau umpamanya dia sedetail mungkin
21:29mengawasai potongan-potongan informasi proses penyelidikan itu.
21:33Bagaimana kita bisa meyakinkan
21:35bahwa kemudian setiap orang di KPK itu
21:38menjaga integritasnya.
21:39Itu problemnya.
21:40Problemnya menjadi rusak kan ketika KPK menjadi
21:43bagian dari pegawai negeri
21:45rekrutmen aja gak gampang.
21:47Bagaimana orang ini di rekrutmen?
21:48Kita juga tanya.
21:49Pada periode lalu
21:50rekrutmen itu dilentukan oleh pihak dari luar.
21:52KPK hanya mendengar rekomendasi dari
21:55pihak luar yang sangat independen
21:57menentukan orang ini berbakat.
21:59Orang ini punya kelemahan.
22:00Orang ini punya potensi
22:01tapi harus dibenahi ininya-ininya.
22:03Kemudian pimpinan memutuskan
22:04untuk kemudian dia join ke KPK.
22:06Oh orang ini memang
22:07ordinary people.
22:09EQ-nya di atas rata-rata dan seterusnya.
22:11Tapi integritasnya lemah.
22:12Misalnya gitu.
22:13Jadi ini yang kemudian
22:14saya gak ngerti di dalam
22:15seperti apa sekarang mas.
22:16Mas Brek.
22:17Oke Pak Saw, tapi kalau
22:18Anda melihat
22:19yang sekarang ini terjadi
22:20ini kan terbongkar
22:21akhirnya ada seorang yang
22:22melakukan hal seperti itu.
22:24Anda melihat
22:24ini tanda-tanda yang lebih serius kah?
22:26Ternyata masih ada maklar
22:27kasus yang ada di tubuh KPK
22:30atau ini ya hanya
22:31sebagian kecil saja
22:33dan hanya oknum saja
22:34seperti itu?
22:35Oh ini gambaran-gambaran
22:37ini hanya
22:38puncak gunung es.
22:39Di bawah itu berarti
22:40saya sudah membayangkan
22:41itu sangat crowded tuh.
22:42Jadi kalau Mas Brek bilang
22:44KPK harus menangkap
22:46big piece
22:46ya
22:47triliun-triliunan
22:48bagaimana Anda bisa
22:49menangkap big piece
22:50kalau jaring Anda
22:51wolong-wolong
22:52itu impossible
22:53itu nonsense
22:54itu maka saya bilang
22:55benahi dulu sistemnya
22:56saya berulang-ulang
22:58di banyak tempat
22:59mengatakan
22:59please
23:00Mr. Presiden
23:01kalau Anda mau
23:01pertumbuhan lebih bagus
23:02kembalikan itu
23:04undang-undang KPK
23:04segera
23:05bentuk purpose saja
23:07daripada nunggu DPR
23:08sangat lama
23:08supaya dia
23:09seindependen mungkin
23:10jadi orang datang ke KPK
23:11itu anjata antara dirinya
23:13di belakangnya ada masyarakat
23:14diatasnya ada Tuhan
23:15bukan kemudian
23:16seperti sekarang
23:17politiknya
23:18state capture
23:19corruptionnya
23:20jalan terus
23:20dan ini agak sulit
23:21karena memang
23:22dari awal
23:24nilai integritas
23:25egalitarian itu
23:26sudah dirusak mas
23:26dengan undang-undang baru itu
23:28jadi recruitmentnya
23:29juga gak seperti
23:30yang kita pesti lakukan dulu
23:31ini yang mungkin
23:32persoalan berat kita
23:33gitu mas Brek
23:33oke baik
23:34saya kembali ke Prof. Hibnu
23:35Prof. Hibnu
23:36jika kita melihat
23:37kasus yang sedang
23:38bergulir sekarang
23:39banyak gitu ya
23:40KPK sekarang
23:41yang soal
23:42ada pegawainya sendiri
23:43yang masih berjalan juga
23:44kejelasan anggung
23:46ex-jampisus
23:46terlibat
23:47dalam mendugaan
23:48TPPU
23:49Anda melihat bagaimana
23:50kepercayaan publik sekarang
23:52dengan adanya
23:53istilahnya
23:54main sendiri lah
23:55istilahnya
23:56penegak hukum
23:57yang bermain
23:57dalam tanda kutip
23:58dalam proses hukum itu sendiri
23:59seperti apa
24:00kita menjaga
24:02kepercayaan publik
24:02terhadap
24:03penegak hukum saat ini
24:04ya
24:05ini saya kira
24:06suatu tindakan
24:07yang sangat
24:08kita sesalkan ya
24:10karena
24:11kalau kita lihat
24:12sebagai bentuk
24:13astacita presiden
24:14Astacita
24:15itu kan
24:16pemberantasan
24:17tidak bidana korupsi
24:18nah perkembangan
24:19yang sampai sekarang ini
24:21korupsi itu
24:22kayaknya setiap hari
24:23beritanya
24:23berita korupsi terus
24:24mas
24:24dari tataran
24:25tingkat tinggi
24:26sampai pada
24:27tingkatan bawah
24:28ini suatu
24:30keadaan darurat
24:31suatu betul-betul
24:32darurat
24:32sehingga
24:33kalau kita kemarin
24:34baca media
24:34sampai
24:35tokoh ulama
24:36tokoh agama
24:37merekomendasikan
24:38sampai pidana mati
24:40itu geramnya
24:41situasi sekarang ini
24:42sekarang pertanyaannya
24:43kalau orang umum
24:44sudah
24:44dalam tanda pedek
24:45kita biasa melihatnya
24:46tapi sekarang merambah
24:48kepada penegak hukum
24:49apakah itu kepolisian
24:50apakah itu kejaksaan
24:52pembangkan KPK
24:53kemudian pengadilan
24:54juga sama
24:55ini suatu yang sangat
24:56kita khawatirkan
24:57oleh karena itu
24:58dalam konteks seperti ini
24:59saya kira
25:00Presiden Prabowo
25:00harus mengambil
25:01alih
25:02ataupun mengambil
25:03tindakan tegas
25:04apa yang dilakukan
25:06kalau dulu
25:07misalkan
25:07ada istilah hukum
25:09namanya
25:10solus populis
25:11supreme leg ex to
25:12bahwa keamanan
25:13rakyat
25:14rakyat
25:14rakyat
25:15hukum yang tertinggi
25:15ini kan duetkan
25:17kemana-mana terus
25:17rakyat terhilangkan
25:18itu bisa mengambil alih
25:20apakah tadi Pak Haud
25:21mengatakan sebagai
25:22bentuk penpres
25:23atau dekret
25:24nah
25:24itu yang terjadi
25:26karena sekarang ini
25:27kalau kita melihat
25:28penegakan hukum
25:29apakah itu yang dilakukan
25:30oleh orang biasa
25:31mumpun penegak hukum
25:32apakah birokrat
25:33hukumannya biasa-biasa saja
25:35coba
25:36mari kita lihat
25:37yang di
25:37mana
25:38di Rio
25:38itu 2 tahun
25:39kemudian kembali Jakarta
25:414 tahun
25:41jadi tidak seperti
25:42yang kita bayangkan
25:43dalam penguapan besar
25:44sebagai efek jerak
25:45padahal efek jerak itu
25:47sebagai bentuk
25:48pencegahan
25:49dalam suatu
25:50tindak pindahan
25:50korupsi
25:51kan gitu
25:52karena pencegahan sekarang
25:53ternyata tidak
25:54connect
25:55Pak Saud
25:56pencegahan sekarang
25:57tidak connect
25:58dengan penindakan
25:59kalau kita
26:00konsisten penindakan
26:01misalkan Jawa Tengah
26:02itu ada 5
26:03bupati yang kena
26:04MCP nya
26:05monitoring
26:06central prevention
26:07itu tinggi semua loh
26:08tinggi semua
26:09pertanyaannya
26:10kenapa kena OTT
26:11harusnya kan tidak
26:12karena tingkat
26:13tingkat
26:14apa namanya
26:15pencegahan
26:15sudah tinggi
26:16zero
26:17ini yang saya kira
26:18jadi masalah
26:19semua jadi masalah
26:20penegak hukum
26:21masalah
26:21pencegahan masalah
26:22penindakan juga
26:23bermasalah
26:24karena ringan
26:24sehingga
26:25tidak ada yang
26:26ditakutkan
26:27dalam penanganan
26:27seperti ini
26:28kalau penegak hukumnya
26:29bermain-main
26:30seperti itu Pak
26:31berarti hukumannya
26:32lebih berat
26:33atau seperti apa
26:34seharusnya
26:34ya
26:35kalau sekarang
26:36dalam hal penanganan
26:37penegak hukum itu kan
26:39kalau kita lihat
26:40sekarang kan
26:40penjaga
26:41penjaga penegak hukum
26:42itu kan sebagai bentuk
26:43cermin penegakan hukum
26:44sehingga kalau dia
26:45makan pagar tanaman
26:47harus hukumnya
26:48lebih berat
26:49inilah saya kira juga
26:50kementerian
26:51ataupun neges lain
26:52jatuhkan
26:52ketika seorang
26:53penegak hukum
26:54melakukan tindakan hukum
26:55atas akhir
26:56harus hukumannya maksimal
26:57kalau perlu
26:58tambah sepertiga
26:59nah ini
27:00tidak ada pengecewalin
27:01seperti itu
27:01oke
27:03hukuman lebih berat ya
27:04seharusnya sebagai
27:05pagar penjaga tanaman
27:07harusnya
27:07harusnya
27:08lebih berat
27:10terakhir saya ke Pak Saud
27:11singkat saja
27:12tadi ada sempat
27:13singgung
27:14soal membenahi sistem
27:15kemudian
27:16soal rekrutmen
27:17gitu ya
27:17bagaimana
27:18kemudian memastikan
27:19Pak Saud
27:20bahwa puncak gunung es ini
27:22terungkap semuanya
27:23sampai ke bawah
27:23dan jangan sampai terjadi lagi
27:25ada dalam
27:26tanda kutip
27:26maklar kasus lagi
27:28ya agak sulit ya
27:30karena di masa lalu
27:31kalau ada problem internal
27:33itu ada sembilan orang
27:34dari luar diundang
27:35join ke dalam KPK
27:36saya salah ngomong
27:38di TV itu
27:38diperiksa oleh
27:39sembilan orang
27:40dari luar KPK
27:41nah sekarang bagaimana
27:43tim independen ini
27:44bisa disebut
27:46yakin bahwa
27:47anda gak jeruk
27:48makan jeruk
27:48gitu ya kan
27:49karena itu berpotensi juga
27:51gitu
27:51karena dia
27:52diperiksa oleh
27:52orang internal sendiri
27:54dimana saja
27:54itu punya potensi
27:55tidak hanya di KPK
27:56di kepolisian
27:57dan di kejaksaan
27:58potensi itu
27:59pasti ada
28:00karena orang cenderung
28:01tidak mengungkap
28:02malulah mengungkap
28:04aib sendiri
28:05dan seterusnya
28:05tapi kemarin kita
28:06bangga
28:07karena sudah
28:08KPK menjelaskan
28:09mengaku dengan jelas
28:10bahwa persoalannya
28:11ada di dalam
28:12tapi kemudian ini
28:13bisa lebih yakin
28:14seperti apa
28:15itu yang saya bilang
28:16kalau kita mengembalikan
28:17undang-undang ini
28:18undang-undang KPK ini
28:19disitu dipertegas
28:20ada yang
28:21tidak ada lagi
28:22bagaimana
28:23Dewan Pengamas
28:24tidak proaktif
28:25mengawasi pegawainya
28:26karena ada
28:27unsur dari luar
28:28yang diaktifkan
28:29dalam tim
28:30yang disebutnya
28:31tim
28:31apa namanya
28:32komisi etik
28:33itu melibatkan
28:34orang luar
28:34itu menjadi lebih
28:35tertantang
28:36untuk diselesaikan
28:37itu terdiri dari
28:38orang-orang yang
28:39integritasnya
28:39dijamin ketika itu
28:40nah itu yang mungkin
28:41kita jadi hopeless
28:42kita menjadi putus harapan
28:44karena kelihatannya
28:45perubahannya itu
28:46yang dirusak
28:47itu adalah nilainya
28:48nilai yang di KPK
28:50itu yang dirusak
28:51sehingga kemudian
28:52kalau diubah menjadi
28:53pegawai negeri pun
28:53menjadi lebih
28:54sulit kita matakan
28:55dia lebih berintegritas
28:57karena sistemnya itu
28:58rekrutmennya sudah beda
28:59kalau dulu
29:00rekrutmen memang
29:00seperti saya bilang
29:01di depan
29:02itu dari luar
29:02itu sangat
29:03indifedent
29:04dia tim psikotest
29:05yang memang
29:06profesional di dalam
29:07rekrutmen
29:07orang-orang penting
29:09gitu ya
29:10artinya
29:10itu menjadi
29:11kredibel
29:11jadi itu mungkin
29:12persoalan utama kita
29:14tetap persoalannya
29:16adalah bagaimana
29:16ketika Anda
29:17bicara
29:18management
29:18Anda bicara
29:19organisasi
29:20Anda bicara
29:21behavior
29:21perilaku
29:22perilaku ini
29:23sering kita lupakan
29:24karena kita selalu
29:25fokus pada masalah
29:26formil dan materialnya
29:27kita lupa bahwa
29:28kita perlu orang-orang
29:29yang jantungnya itu
29:31tiga
29:31otaknya itu
29:32sepuluh
29:33keberaniannya itu
29:34seratus
29:34atau keintegritasnya
29:36jadi seribu
29:36ini kan kebalikan sekarang
29:38kita gak tahu
29:39juga bagaimana
29:40orang itu
29:41bisa join
29:41yang kemudian
29:43integritasnya
29:43kok gak bisa
29:44di detect
29:45biasanya bisa
29:46di detect
29:46jadi kemudian
29:48kita tahu
29:48untuk orang-orang
29:49tertentu tidak
29:50ditempatkan disini
29:52oh dia gak cocok
29:53kita gak terima
29:54dan seterusnya
29:54itu persoalan
29:55dari hulu
29:57ke hilirnya
29:57udah problem
29:58mas
29:58ini mungkin
29:59agak sulit
29:59buat kita
30:00oke
30:00jika kita belum bisa
30:01memperbaiki hulunya
30:02paling tidak
30:02kita harapkan
30:03semoga
30:03tidak hanya
30:04patah sangka ini
30:05paling tidak
30:05nanti bisa
30:06dikembangkan
30:07mungkin ada
30:08keterlibatan
30:08oknum lain di KPK
30:09dan juga
30:10tidak hanya
30:10perkara pemerasan ini
30:11tapi juga
30:12perkara pokoknya
30:13ini soal
30:13suap dan proyek ini
30:14juga harus didalami juga
30:16oleh Bupati Pemalang
30:17tidak hanya
30:17untuk kasus yang dua
30:18ini terakhir
30:19terima kasih
30:20Pak Saud Situmorang
30:21Komisioner KPK
30:222015-2019
30:23dan juga
30:23Prof Hibnu Nugroho
30:25Pakar Hukum Pidana
30:26Unsud
30:26sudah bergabung
30:27di Sapa Indonesia Pagi
30:28selamat pagi
30:29Pak Saud
30:29Prof Hibnu
30:30pagi Pak Saud
30:31Pak Sir Matrun
30:32ya Prof
30:32selamat
30:33jangan beranjak
30:35saudara kami akan
30:36kembali dengan
30:36informasi lain
30:37ya usai jeda
30:38BMKG menyebut
30:39per 28 Juli
30:40ada 4.900
30:41titik panas
30:42tersebar
30:43di Kalimantan Barat
30:44Riau
30:44Papua Selatan
30:45Aceh
30:46dan Kalimantan
30:47selamat menikmati
30:52selamat menikmati
Komentar