Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 7 jam yang lalu
Eksklusif Hari Anak Nasional 2026: Menteri PPPA Bicara Kesehatan Mental, Literasi Digital hingga Perlindungan Anak
Transkrip
00:00Moral, etika, budi pekerti, ini juga menjadi modal utama buat anak-anak kita.
00:12Selamat Hari Anak Nasional, SobatMetroTVNews.com
00:15Anak-anak adalah masa depan bangsa, namun di tengah era kecerdasan buatan,
00:21kemudian isu kesehatan mental, hingga ekosistem yang inklusif,
00:25masih menjadi tantangan kita bersama.
00:27Sudahkah kita memberikan ruang yang aman bagi seluruh anak-anak Indonesia?
00:32Bersama saya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia,
00:38Ibu Arifah Fauzi.
00:40Selamat pagi, apa khabar Ibu Arifah?
00:42Selamat pagi, Mas. Alhamdulillah sehat dan bahagia.
00:46Terima kasih.
00:47Nah, Ibu, terima kasih Ibu Arifah Fauzi atas waktunya,
00:50meluangkan waktu untuk MetroTV News.com di Momentum Hari Anak Nasional 2026.
00:55Ada beberapa, Ibu, isu-isu yang ingin kita bahas,
01:00atau mungkin kita beri edukasi untuk SobatMetroTV News.com,
01:05salah satunya soal isu kesehatan mental.
01:07Bagaimana dari Ibu sendiri menyoroti soal kesehatan mental anak-anak kita,
01:11kemudian juga bagaimana caranya agar anak-anak kita tuh tumbuh menjadi pribadi yang kuat,
01:17berkarakter sesuai harapan kita bersama.
01:19Ya, terima kasih untuk MetroTV yang sudah menyempatkan untuk kita diskusi pada hari ini,
01:27karena sesungguhnya dengan diskusi ini semakin banyak kesempatan masyarakat mengetahui
01:33apa yang harus kita lakukan dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional ini.
01:39Tadi terkait dengan kesehatan mental,
01:42saya sempat berdiskusi dengan Menteri Kesehatan,
01:46waktu itu kami ada kasus di NTT.
01:49Saya melihat ada sesuatu yang memang harus diskusikan bersama.
01:54Saya tanya sama Pak Menkes,
01:56Pak Menkes, ini kasus ini kira-kira apa ya penyebabnya?
01:59Kayaknya ada yang berpengaruh dalam kesehatan mental.
02:03Nah, ternyata Pak Menkes menyampaikan bahwa hasil dari cek kesehatan gratis,
02:0910% masyarakat Indonesia dalam kondisi mengalami gangguan kesehatan mental.
02:15Sehingga ini memang menarik untuk dikaji lebih jauh.
02:20Nah, kami dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
02:24melihat bahwa kesehatan mental ini tidak berdiri sendiri, Mas.
02:28Ini terkait dengan beberapa hal.
02:32Ya, karena kondisi, apa ya, kondisi kita saat ini
02:36ada kecanggihan teknologi, itu juga berpengaruh.
02:41Jadi, mungkin kesehatan mental itu penyebabnya adalah
02:45ada tekanan akademik, ada juga perubahan pola interaksi sosial,
02:51paparan konten digital,
02:54kemudian hubungan antar sesama teman,
02:58ada bullying, dan sebagainya.
03:00Maka, kami melihat solusi yang bisa kami tawarkan
03:04agar kesehatan mental ini bisa diminimalisir adalah
03:08bagaimana peran keluarga, Mas.
03:11Keluarga itu punya peran yang sangat penting
03:14karena di dalam keluargalah anak pertama kali mendapatkan nilai-nilai.
03:19Nah, bagaimana kita bisa membentengi anak-anak kita
03:23supaya dia sehat secara kejiwaannya, secara mentalnya,
03:27maka harus diberi fondasi yang kuat.
03:30Saat ini, ya, banyak juga,
03:34kita nggak apa-apa bangga terhadap prestasi akademis anak-anak kita.
03:39Tetapi yang lebih penting sebetulnya
03:42bagaimana fondasi nilai-nilai agama,
03:46kemudian moral, etika, ya,
03:50budi pekerti, ini juga menjadi modal utama buat anak-anak kita.
03:55Ilmu boleh,
03:56tetapi orang berilmu tidak punya ahlak,
03:59tidak punya budi pekerti jadi nol,
04:01karena budi pekerti itu diatasnya ilmu.
04:03Jadi, kalau kita ingin mengajak keluarga besar kita
04:09agar tidak mengalami gangguan secara kejiwaan,
04:12maka ini harus ada kolaborasi.
04:14Kolaborasi dalam rumah tangga,
04:16yang pertama bahwa dalam mengasuh anak itu
04:19bukan hanya tugasnya ibu loh.
04:22Mengatur apa?
04:23Mengasuh anak ini adalah tugas orang tua,
04:27ketersalingan antara ayah dan ibu.
04:29Kan biasanya kalau anak berprestasi,
04:32anaknya siapa?
04:33Bapak.
04:34Kalau ada masalah di sekolah yang dipanggil siapa?
04:37Padahal kan harusnya tidak boleh begitu.
04:39Jadi, harus ada ketersalingan.
04:41Yang kedua,
04:42bagaimana kesehatan mental itu juga dipengaruhi oleh lingkungan
04:46anak-anak di mana mereka berada.
04:49Sehingga ini harus kolaborasi dengan berbagai pihak.
04:52Nah, Kemenko PMK kemudian menginisiasi,
04:56mengkoordinasikan beberapa kementerian terkait
04:59dengan gerakan nasional ruang aman dan nyaman untuk anak.
05:03Jadi, ini bagaimana kita semua kementerian
05:07fokus pada empat hal.
05:09Anak harus aman di ruang keluarga,
05:12yang kedua di ranah pendidikan,
05:15yang ketiga di lingkungan sosial,
05:18dan yang keempat ada di ruang publik ya,
05:21tadi yang ketiga,
05:22yang keempat ada di dunia digital.
05:25Jadi, anak-anak kita harus dilindungi.
05:26Menarik Bu, beralih ke ruang digital yang sekarang ini
05:30makin dekat dengan anak-anak kita.
05:32Betul, betul.
05:33Sudah sangat dekatlah dengan informasi, dengan teknologi.
05:36Nah, bagaimana sebaiknya orang tua
05:38itu untuk meningkatkan literasi digitalnya
05:41agar teknologi tidak sampai justru
05:44menjadikan anak kita terjerumus ke perilaku negatif.
05:47Bagaimana dari Ibu sendiri mungkin untuk
05:49orang-orang tua ini meningkatkan literasi digital mereka.
05:52Bagaimana program dari Kementerian P3 ini
05:54untuk peningkatan literasi digital bagi para orang tua,
05:57Bu, khususnya?
05:58Iya.
05:59Tantangan dunia digital ini memang bukan hanya
06:02menjadi tantangan di Indonesia,
06:05tapi di seluruh dunia.
06:07Karena kita tidak bisa meninggalkan dunia digital.
06:09Cuman, masalahnya sejauh mana kita bisa
06:14meminimalisir dampak negatifnya.
06:16Kalau kami dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan
06:20dan Pelindungan Anak memiliki puspaga.
06:23Puspaga itu adalah pusat pembelajaran keluarga.
06:27Jadi bagaimana sebagai orang tua
06:30harus tetap belajar.
06:34Karena kan dunia ini mengalami perubahan yang terlalu cepat.
06:37Bila orang tua tidak mengimbangi,
06:39maka akan ada yang kosong.
06:42Ada gap antara orang tua dan anak-anak kita.
06:47Jadi anak-anak kita mengikuti perkembangan teknologinya pesat banget.
06:50Kalau orang tuanya tidak bisa mengimbangi,
06:52ini akan terjadi gap.
06:53Sehingga apa yang disampaikan oleh orang tua,
06:57anak-anak merasa ini tidak sesuai.
06:59Maka edukasi ini,
07:01pertama juga harus diberikan kepada orang tua.
07:04Sebetulnya dunia digital kita seperti apa.
07:09Kemudian yang banyak diakses oleh anak-anak kita yang seperti apa.
07:13Orang tua harus bisa mempelajari.
07:15Kami bekerja sama dengan Save the Children.
07:18Ada namanya aplikasi first click.
07:22Jadi ini orang tua bisa memantau
07:25apa yang bisa ditonton oleh anak-anak kita.
07:30Dan ini free.
07:31Jadi nanti para orang tua yang ingin anak-anaknya
07:36untuk bisa mengantisipasi hal-hal negatif,
07:42ini bisa melakukan lewat situ.
07:44Kemudian kita juga punya modul pelatihan,
07:47e-learning, perlindungan anak,
07:49bisa diakses di websitenya KPPA.
07:53Jadi untuk dunia digital ini,
07:56apa nama ini juga harus kolaborasi juga, mas.
08:01Jadi anak-anak iya, orang tua iya,
08:04kemudian dari pemerintah.
08:06Nah, kami dari pemerintah sudah mengeluarkan beberapa regulasi.
08:10Misalkan dari Kementerian Komdigi,
08:14PP Tunas No. 17 tahun 2025,
08:17yang mengatur para provider
08:22untuk menyediakan konten-konten yang sesuai dengan usia anak.
08:26Kemudian diturunkan dengan Permen Komdigi,
08:30tanggal 28 Maret yang lalu,
08:33bahwa anak usia di bawah 16 tahun itu
08:36tidak boleh punya akun sendiri.
08:39Kemudian dari kami,
08:43KPPA juga ada perpres nomor 87
08:46tentang peta jalan perlindungan anak
08:49di ranah dalam jaringan.
08:51Jadi kalau PP Tunas itu mengatur dengan providernya,
08:56maka yang kami lakukan adalah
08:59pencegahan, penanganan, dan kolaborasi
09:02antar Kementerian Lembaga dan juga Pemerintah Daerah.
09:05Wah, itu bagian dari ekosistem mendorong digital,
09:08ada literasi digital orang-orang tua kita lebih baik.
09:11Betul, betul.
09:12Tetapi, Mas, regulasi ini tidak cukup.
09:15Regulasi ini kan harus diimplementasikan.
09:17Nah, ketika kita mengimplementasikan regulasi ini,
09:21ini harus dengan kolaborasi dengan berbagai pihak.
09:23Yang paling penting lagi ya,
09:25kembalinya kepada keluarga, dunia pendidikan,
09:28kemudian kesadaran masyarakat.
09:30Ini harus bersama-sama lagi.
09:31Selain soal digital, kemudian kesehatan mental,
09:34ada salah satu juga yang patut menjadi
09:36perhatian kita bersama adalah soal
09:38anak-anak spesial,
09:40anak-anak yang berkebutuhan khusus.
09:43Seringkali support-support sistem
09:45dan lingkungan atau ekosistemnya
09:47masih belum mendukung untuk pertumbuhan
09:49anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.
09:51Dari Kementerian P3A sendiri,
09:53bagaimana mendorong ekosistemnya inklusif
09:55bagi anak-anak istimewa kita yang berkebutuhan khusus.
09:58Iya.
09:59Saya melihat bahwa yang pertama kali adalah
10:02membangun ekosistem adalah di keluarga dulu.
10:06Jadi, keluarga harus siap
10:08menerima kondisi anak apapun keadaannya.
10:12Mungkin kita mudah ya mengatakan
10:14oh harus nerima, sabar, kita gampang mengucapkan.
10:19Tetapi ketika keluarga yang mengalami itu,
10:22itu proses panjang untuk bisa menerima ikhlas gitu ya.
10:26Karena sesungguhnya tidak ada juga
10:29anak yang ingin dilahirkan seperti itu.
10:31Tapi saya yakin bahwa
10:32Tuhan memberikan kekuatan ekstra
10:35untuk orang tua yang mendapatkan keistimewaan.
10:39Saya melihat ini keistimewaan dari Tuhan.
10:41Karena tidak semua orang
10:43diberi kesempatan untuk melakukan
10:46yang di luar orang lain lakukan.
10:50Karena anak ini istimewa,
10:51sehingga perlu pendekatan istimewa.
10:53Maka yang perlu dibangun yang pertama adalah
10:55kesadaran dari orang tua
10:58siap dan tetap menyayangi apapun kondisi anak.
11:01Ini berat.
11:02Saya agak berat juga menyampaikan
11:05kalau itu terjadi pada saya mungkin
11:07tidak semudah itu untuk mengatakan.
11:09Kemudian yang kedua adalah masyarakat kita.
11:12Selama ini ada stereotip
11:15tidak baik atau kurang baik
11:17terhadap anak-anak yang memiliki keistimewaan.
11:20Ini juga harus dibangun kesadaran
11:22bahwa mereka sama-sama harus dihargai,
11:27diberi kesempatan, diberi akses yang sama.
11:29Pemerintah telah melakukan berbagai upaya
11:32tapi memang belum maksimal.
11:34Misalkan salah satunya adalah
11:36fasilitas umum sekarang selalu ada
11:39untuk kursi roda dan sebagainya.
11:42Nah kemarin kami baru saja
11:44melakukan loka karya
11:46dengan forum anak nasional
11:48di mana loka karya itu menghasilkan
11:50suara anak Indonesia.
11:52Salah satu poinnya di diskusi kami adalah
11:55bahwa anak-anak yang dalam kondisi istimewa ini
12:00memang belum mendapatkan perhatian
12:02dari pemerintah secara keseluruhan
12:05secara maksimal.
12:07Salah satunya adalah mereka menyampaikan begini
12:09Bun, kalau kita lagi ke bandara
12:12ke terminal atau ke stasiun
12:15kita kadang suka ketinggalan
12:17ketinggalan kereta, ketinggalan pesawat
12:20karena media yang diberikan
12:23itu belum mencakup
12:26untuk mereka yang disabilitas.
12:29Misalkan tidak bisa mendengar
12:31itu kan kalau pengumuman
12:32menuju ke ruang tunggu
12:34atau sudah waktunya boarding gitu
12:38ini juga menjadi masukan.
12:40Kemarin saya juga sudah bertemu
12:41dengan Menteri Perhubungan
12:43saat sidang kabinet kemarin
12:47oh iya ya, benar juga ya
12:49ternyata memang perlu
12:51fasilitas itu gitu.
12:53Jadi bagaimana
12:54membangun ekosistem
12:57untuk mereka yang punya
12:59keistimewaan
13:00anak-anak yang punya keistimewaan ini
13:02memang kuncinya ada di kolaborasi mas.
13:04Jadi semua pihak
13:06kalau di dunia pendidikan
13:08ini juga mungkin guru-guru
13:10dengan bahasa isyarat
13:11itu juga perlu diperbanyak.
13:13Kita sekarang kegerakan dan kampanye
13:15Hari Anak Nasional yang digaungkan
13:16Pementerian Pemberdayaan Perempuan
13:18dan Perlindungan Anak tahun ini
13:20adalah kampanye Berlian.
13:21Betul.
13:22Berlian itu bersama lindungi anak.
13:25Nah, sebetulnya Bu, target utama
13:27dari kampanye Berlian
13:28yang digaungkan sama
13:29Kementerian P3 ini
13:30di tahun ini.
13:31Apa Bu, targetnya?
13:32Iya.
13:32Jadi, tadi yang saya sampaikan Mas
13:34bahwa Pak Menko PMK
13:37sudah menginisiasi
13:38mengkoordinasikan beberapa
13:39kementerian
13:40dengan GERNAS RANA
13:42Gerakan Nasional Ruang
13:45yang Aman dan Nyaman
13:46buat Anak.
13:47Maka, langkah selanjutnya adalah
13:49bagaimana Kementerian Lembaga
13:52terkait menerjemahkan
13:53dari Gerakan RANA ini.
13:55Maka, kami melanjutkan
13:57dengan Berlian.
13:58Berlian ini bersama,
14:00jadi gerakan bersama
14:02lindungi anak.
14:03Kenapa?
14:04Karena untuk memberikan
14:06perlindungan kepada
14:07anak-anak ini,
14:08ini harus kolaborasi
14:10dengan berbagai
14:11Kementerian Lembaga
14:13dan juga
14:14Pemerintah Daerah
14:15khususnya juga
14:16masyarakat kita.
14:18Karena gini, Mas.
14:20Kita dari Kementerian
14:21Pemadaman Perempuan
14:22dan Pemerintah
14:22tidak mau
14:23jadi pemadam kebakaran.
14:26Kalau ada kasus,
14:27kita selesaikan.
14:29Kasus itu tidak pernah berhenti.
14:31Sekuat mana energi kita
14:33untuk menyelesaikan
14:34kasus-kasus yang ada.
14:36Maka, kami ingin
14:37menyelesaikan di tingkat hulu.
14:38Yaitu dengan pencegahan.
14:41Nah, pencegahan ini
14:42fokusnya kembali lagi.
14:44Keluarga,
14:45satuan pendidikan
14:46di ruang publik
14:47dan anak-anak ini
14:48harus aman
14:49di ruang digital.
14:51Saya yakin
14:52kalau ini
14:53bisa dilakukan
14:53bersama-sama
14:54bangun kesadaran
14:56untuk memberikan
14:57perlindungan kepada
14:58anak-anak kita
14:59saya yakin
15:00akan meminimalisir
15:02adanya
15:02angka kekerasan
15:03terhadap
15:04anak-anak kita.
15:05Artinya
15:06perlindungan itu
15:07harus disiptakan
15:08oleh ekosistem
15:09yang memang
15:10berada di
15:11seputaran
15:11anak-anak kita.
15:12Dengan begitu
15:13berlian
15:14bersama lindungi
15:15anak ini
15:15menjadi gerakan
15:16akar rumput
15:17bersama
15:17dan itu
15:19harus dari
15:20lingkungan terkecil
15:21mas.
15:21Jadi
15:21ada
15:22slogan
15:23yang selalu
15:24saya sampaikan
15:25ini
15:25saya dengar
15:27dari Mbak Cinta Laura
15:28selogannya
15:29begini
15:30saya
15:31tidak
15:32mau
15:32menjadi korban
15:33kekerasan
15:34dan
15:35saya
15:35tidak
15:36mau
15:36menjadi
15:36pelaku
15:37kekerasan
15:38artinya
15:39kalau
15:40kesadaran
15:41itu sudah
15:42muncul
15:42dalam diri
15:43kita
15:43saya
15:44tidak
15:44mau
15:44jadi korban
15:45maka
15:45apa yang
15:46harus saya
15:46lakukan
15:47yang kedua
15:47saya
15:48juga
15:48tidak
15:49mau
15:49jadi
15:49pelaku
15:49maka
15:50apa
15:50yang
15:50harus
15:50saya
15:51kendalikan
15:52dalam diri
15:53saya
15:53kalau
15:54seorang
15:54sudah
15:55mempunyai
15:56kesadaran
15:56itu
15:56kemudian
15:57dia akan
15:58terapkan
15:58di lingkungan
15:59keluarganya
15:59ketika
16:00satu keluarga
16:01ini
16:01sudah
16:01punya
16:02kesadaran
16:02saya
16:03tidak
16:03mau
16:03jadi
16:03pelaku
16:04saya
16:05tidak
16:05mau
16:05jadi
16:08korban
16:08dia akan
16:10menyebarkan
16:10ke
16:10lingkungan
16:12sekitarnya
16:13maka
16:13ini menjadi
16:13gerakan
16:14bersama
16:14yang
16:15berangkat
16:15dari
16:16lingkungan
16:17terkecil
16:18di hari
16:18anak
16:19nasional
16:192026
16:20apa
16:20harapan
16:21dan pesan
16:22dari
16:22ibu
16:23sebagai
16:23menteri
16:24pemberdayaan
16:24perempuan
16:25dan
16:25perlindungan
16:25anak republik
16:26indonesia
16:26pertama mas
16:29hari
16:30anak
16:31nasional
16:31ini
16:32tidak hanya
16:33diperingati
16:34di tingkat pusat
16:34kalau sebelumnya
16:36kita memilih
16:37satu
16:37provinsi
16:38kabupaten tertentu
16:40kemudian kita undang
16:41semuanya datang
16:42ke lokasi tersebut
16:43sejak tahun kemarin
16:45kita merubah
16:45tidak sentralisasi
16:46tetapi
16:47desentralisasi
16:48jadi seluruh
16:49provinsi
16:50seluruh
16:51kementerian
16:51lembaga
16:52sampai
16:53ke tingkat
16:53desa
16:54ayo
16:55bersama
16:56bahagiakan
16:57anak
16:57anak
16:57kita
16:57bukan
16:58hanya
16:58di hari
16:59anak
16:59saja
16:59tetapi
17:00hari
17:00anak
17:00ini
17:00sebagai
17:01momentum
17:02untuk
17:02proses
17:04pemenuhan
17:04dan
17:05perlindungan
17:05anak
17:05jadi
17:06yang pertama
17:07bahwa
17:08peringatan
17:09hari
17:09anak
17:09itu
17:09kita
17:10desentralisasi
17:11jadi
17:11semua
17:12supaya
17:12lebih
17:12banyak
17:13anak
17:13anak
17:13yang terjangkau
17:14yang kedua
17:15adalah
17:16kita ingin
17:17membangun
17:18kesadaran
17:19seluruh
17:20elemen
17:20masyarakat
17:21baik
17:22pemerintah
17:22dan juga
17:23komponen
17:24masyarakat
17:25untuk
17:25membangun
17:26kesadaran
17:27bersama-sama
17:28melindungi
17:28anak-anak
17:29kita
17:29menjaga
17:30perempuan-perempuan
17:31kita
17:32menjaga
17:32anak-anak
17:33kita
17:33temanya
17:34peringatan
17:35hari anak
17:362026
17:37ini adalah
17:38sayangi
17:39lindungi
17:40anak
17:40untuk
17:41membangun
17:41masa depan
17:42karena
17:43kalau kita
17:43menyayangi
17:44anak
17:44melindungi
17:45anak
17:45kita
17:45secara
17:46psikologis
17:47secara mental
17:47dia sehat
17:48dia kuat
17:49dia akan
17:49menjadi
17:50generasi
17:51Indonesia
17:51yang
17:52berkarakter
17:53dan berkualitas
17:54untuk masa depan
17:55Indonesia
17:56baik
17:56terima kasih
17:57banyak
17:57ini
17:58sobat
17:58metrotimus.com
17:59hari anak
18:00nasional
18:002020
18:01ini menjadi
18:02pengingat
18:02bagi kita
18:03semua
18:03kalau
18:04melindungi
18:05anak-anak
18:05Indonesia
18:05adalah
18:06investasi
18:06mutlak
18:07untuk
18:07masa depan
18:08bangsa
18:08terima kasih
18:09menteri
18:10pemberdayaan
18:11perempuan
18:12dan perlindungan
18:12anak
18:12ibu
18:13arifah
18:13pauzi
18:14atas
18:14waktunya
18:14bersama
18:17metrotimus.com
18:20terima kasih
18:21dalam rangka
18:22hari
18:22anak
18:22nasional
18:232026
18:23selamat
18:24hari
18:24anak
18:24nasional
18:252026
18:25anak
18:26Indonesia
18:26bahagia
18:27bangsa
18:28berdaya
18:28terima kasih
Komentar

Dianjurkan