00:00Ini tetap tidak mengubah satu tetas cinta pun untuk Indonesia.
00:19Ada tiga objek perkara. Yang pertama tentang blackout yang terjadi di PLN, Batubara.
00:27Yang kedua tentang Asabri. Yang ketiga tentang Krakatau Steel.
00:33Jadi untuk penginitan di lokasi The Club, kita telah melakukan penyitaan beberapa dokumen dan beberapa elektronik termasuk handphone.
00:42Kemudian untuk uang kira-kira hampir 60 miliar rupiah.
00:47Kemudian di Money Changer, total sekitar 7,2 miliar rupiah.
01:02Ditemukan perangkas terkunci setelah dibuka BC7 koper.
01:08Yang pertama 74 kg emas batangan.
01:11Estimasi total dalam rupiah senilai 476 miliar.
01:17Ini merupakan atensi Bapak Presiden untuk dugaan-dugaan kasus korupsi.
01:36Selamat malam saudara.
01:38Program Rosi kembali hadir ke hadapan Anda sebagai ruang opini sumber informasi.
01:42Bersama saya, Friska Klarissa.
01:44Sedara, bongkar kasus dugaan korupsi dan pencucian uang pengadaan Batu Mara hingga Asabri
01:50di Treskrim Suspolda Metro Jaya dan Kortas Tipikor Polri.
01:54Menggeledah 12 lokasi di wilayah Jakarta, Tangerang hingga Bogor.
01:59Total barang bukti uang senilai lebih dari 543 miliar rupiah termasuk 74 kg emas batangan dan dokumen berhasil disita.
02:08Benarkah kasus ini melibatkan oknum penyelenggaran negara?
02:12Malam ini saya mengundang Sekretaris Kementerian BUMN periode 2005-2010 Said Didung
02:18dan Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia YLBHI Muhammad Isnur.
02:23Selamat malam Pak Said Mas Isnur.
02:25Selamat malam Friska.
02:26Malam ini kita akan buka-bukaan gas gak pake rem ya di program Rosi.
02:31Udah-mudahan.
02:33Bukas lah.
02:34Kita lihat dalam semalam kemarin ada ratusan miliar disita emas bahkan 74 kg.
02:41Tapi kita gak tau nih, terkait tiga kasus memang detailnya seperti apa, siapa tersangkanya,
02:48dramaturgi apa sih yang sedang kita saksikan ini Pak Said?
02:52Saya pikir ini memang drama tingkat tinggi nih.
02:54Jadi ya apanya kalau ini biasanya drama tingkat tinggi nontonnya di opera gitu.
03:01Di opera.
03:02Nah, semua orang bertanya-tanya, publik bertanya-tanya.
03:08Akhirnya di publik bertanya, akhirnya yang muncul karena tidak terungkapnya hanya menyatakan tiga kasus.
03:14Kasus PLN, apa, Batubara PLN, kasus Asabri, kasus Jawa Staraya, ditambahkan Krakatostil.
03:22Ada empat sebenarnya.
03:23Nah, tapi kita tidak pernah beritahu tersangkanya siapa.
03:27Tapi yang digeledah adalah rumahnya Jampitsus.
03:31Ya kan?
03:32Nah kita...
03:33Ada kafe.
03:34Ada kafe-nya, ada rumahnya, ada ininya.
03:36Nah, ini akhirnya terbacanya seakan-akan drama lama kembali.
03:41Tahun 2024.
03:42Waktu Febri kejar-kejar oleh, apa namanya, Densus 88.
03:48Jadi seakan-akan ini pengulangan.
03:50Nah, menurut saya cara penyelesaian masalah ini harusnya ya normal-normal saja.
03:56Kalau memang tersangkanya jelas, ya penggeladahan dilakukan dan lain-lain.
04:01Karena nanti publik bertanya, ini adalah bukan pemberantasan korupsi nih.
04:07Tapi adalah perang antara kejaksaan dengan polisi.
04:11Itu kan bacaannya.
04:13Tapi saya nggak tahu apa dibalik ini.
04:15Tapi saya berharap sih, ini jangan terulang seperti ini lagi.
04:19Kan hanya diumumkan bahwa, diumumkan tuh bahwa ada drama bahwa saya akan blackout-nya.
04:29PLN, gara-gara korupsi batu bara ini.
04:33Nah, sehingga seakan-akan mendapatnya sehari kemudian langsung penggeladahan.
04:37Jadi ini hanya momentum saja untuk bicara soal persaingan antar penegak hukum?
04:41Nah, itu bacaannya sekarang.
04:44Nah, ini menurut saya baca ini harus segera diakhiri.
04:47Dan betul-betul masuk bahwa ini murni pemberantasan korupsi.
04:51Nah, jangan lebih dari seminggu, kalau lebih dari seminggu, maka percayaan publik bahwa memang mau memberantas korupsi
05:03ataukah memang hanya persaingan antara kejaksaan dengan kepolisian.
05:07Itu yang harus segera diakhiri.
05:12Diluruskan.
05:12Diluruskan.
05:13Nah, kalau menurut Mas Istru juga apa sama?
05:15Ada persaingan antara kejaksaan dan kepolisian sebenarnya?
05:19Hukum itu akan dibuktikan seluruhnya prosesnya di pengadilan.
05:22Ini dalam proses penyidikan.
05:24Tetapi dalam pendakan hukum, bagi masyarakat, proses seperti ini proses yang kita harapkan sebenarnya.
05:30Kenapa?
05:31Karena bongkar-bongkar, kemudian menangkap para pejabat tinggi apelah penuh hukum, itu sangat jarang terjadi.
05:38Kita sebenarnya sudah sedih banget hancur-rebur lihat negara ini, para pejabat tingginya, pendakan hukumnya itu terlibat korupsi.
05:46Kan bukan hanya di kejaksaan, Pak.
05:48Dulu di MK, di MA, pernah di kepolisian juga Joko Susilo, sekarang di kejaksaan.
05:54Sebenarnya ini, satu sisi kami bersyukur, kami senang bahwa kualitas tipikor dibentuk, sekarang mulai ada keberaniannya mengungkapkan.
06:02Tapi juga sedih, ternyata dugaan kita bahwa pendana hukum ya, di level tinggi, itu menyimpan uang sangat banyak, aset sangat
06:11banyak,
06:12tanpa kejelasan dari mana sumbernya, itu semakin terbukti.
06:14Waktu sejarah perikor 1 triliun, ini hampir setengah triliun.
06:19Kita gak masuk akal dari mana uang sedemikian rupa bisa ada di sebuah tempat yang dimiliki dan berkorelasi dengan pejabat
06:26tinggi pendak hukum.
06:26Ya, dan bahkan banyak warga juga bilang, itu 74 kilogram, emas lapisan yang monos aja 72 kilogram.
06:35Dapat dari mana? Dapat dari mana sebanyak itu 74 kilogram?
06:38Berarti kan ada proses pengambilan atau proses suap-menyuap, proses yang tidak halal selama ini terjadi, dan menurut saya tidak
06:46sebentar itu.
06:46Prosesnya cukup lama.
06:47Dan kenapa baru dibongkar sekarang?
06:50Nah itu Pak Said, kenapa?
06:51Dari mana itu sebanyak-banyak itu barang buktinya?
06:54Saya begini, kalau pejabat sudah punya berangkas di rumahnya, kepercayaan saya menjadi nol, itu-itu.
07:01Jadi, saya bekas pejabat.
07:04Saya bekas pejabat, mikir punya berangkas aja, gaji aja, masuk dompet pas-pasan kok punya berangkas.
07:10Waduh-waduh masukin ke berangkas.
07:12Beli berangkas aja nggak punya, apalagi mengisi berangkas.
07:15Nah, jadi, lepas dari sini, saya beli begini, ini sebenarnya saatnya Presiden Prabowo betul-betul membersihkan penegak hukum.
07:26Itu momentum ini.
07:27Momentum ini harus digunakan, dan kita harus paham, Pak Pebri ini, ini kan tangan kanannya Pak Prabowo di tim PKH,
07:37penerbit ngawasan hutan, dia ketuanya, Pak Pebri ini ketuanya.
07:43Meskipun sampai sekarang belum disebut juga resmi ya nama ini.
07:46Nah, yang digelidahkan, itu yang saya bilang.
07:49Ini kan dramanya, jangan sampai drama ini, kalau tersangkanya nggak dibuka,
07:55maka orang bisa menafsirkan bahwa ada oligarki yang menyerang tim PKH.
08:05Saya ngomong-ngomong soal ini, baca tuh, apa yang Pak Syedidu cuitkan di media sosial,
08:11kita akan lihat, serangan balik geng SOP, solo oligarki, parcok ke pusat komando serangan ke oligarki,
08:20sedang berlangsung, itu saja. Ini maksudnya gimana?
08:22Ya, saya karena drama kemarin itu, bahwa yang ini kan Pebri kan ketua tim PKH yang berkali-kali menunjukkan hasilnya,
08:35menyita uang puluhan triliun dan disaksikan oleh Presiden Prabowo.
08:40Itu kan kerjanya tim PKH menetipkan oligarki.
08:44Nah, akhirnya orang, kalau ini tidak diungkap kasusnya apa sebenarnya,
08:49maka orang bisa mengarah kepada tweet saya ini,
08:53bahwa oligarki melakukan serangan balik kepada PKH, bukan kepada Pebri gitu kan.
08:58Nah, padahal bisa apa-apa, memang murni penelakan hukum.
09:01Jadi saya memang, hari ini tuh saya berharap Presiden turun tangan langsung,
09:05menyesuaikan ini.
09:05Jadi, serangan balik dari siapa untuk siapa, secara spesifiknya?
09:09Karena begini, serangan oligarki ke Prabowo itu tinggi banget.
09:15Dalam segala hal, rupiah dijanjlokan, harga saham dijanjlokan, apa segala.
09:20Karena dia memang menyentuh.
09:22Dan komandan menetipkan oligarki di tambang dan perkebunan adalah Pebri.
09:30Jampitsus, ketua pelaksana tim PKH.
09:35Nah, ini jangan sampai orang membaca,
09:38kalau ini Pak Presiden penegak hukum tidak membuka kasus apa sebenarnya,
09:45maka bisa ditafsirkan seperti tweet saya ini.
09:49Bisa ditafsirkan itu, bahwa ini serangan oligarki.
09:51Padahal mungkin juga, ini adalah murni penegak hukum.
09:55Itulah pentingnya menurut saya.
09:57Ini kan sampai sekarang nggak ada.
09:59Apa kasusnya?
10:00Siapa tersangkanya?
10:02Terus, dalam rangka apa sehingga dilakukan penggeledahan.
10:08Karena penggeledahan itu adalah,
10:10kalau sudah, biasanya pemahaman saya,
10:12kalau sudah jelas kasusnya,
10:14tersangkanya penggeledahan itu adalah pengambilan barang bukti.
10:17Kalau sampai hari ini, yang Pak Syed baca lebih besar mana?
10:21Murni penegakan hukum atau perlawanan hukum?
10:24Bisa campur.
10:26Bisa campur karena?
10:27Bisa, campur.
10:28Pemahaman saya ini masih bercampur.
10:30Tapi jangan mengorbankan penegakan hukum.
10:33Saya setuju.
10:35Jangan mengorbankan penegakan hukum.
10:36Jadi menurut saya, ini juga saatnya polisi harus menyatakan,
10:41kalau ini, menyatakan kasusnya ini, tersangkanya ini, ini.
10:45Itu jangan ditutupi begini.
10:46Karena kalau begini terus, maka orang bisa berpendangan,
10:50siapa tahu menunggu negosiasi di balik layar.
10:54Itu yang paling baik.
10:55Ya, transparansi harus berlanjut, Mbak.
10:56Jadi, oke orang melihat semua penggeledahannya.
10:59Tetapi kan harus diteruskan.
11:01Oke, kalau ini penyidikan, berarti sudah ada pidananya.
11:04Pidananya apa?
11:05Kemudian siapa tersangka, ditapkan tersangkanya siapa dengan segera?
11:08Saksinya mana saja?
11:10Dan tentu pihak-pihak yang merugikan dalam konteks misalnya geledah tanpa asah,
11:14dia bisa gugat para peradilan.
11:16Maka pertanyaan besar kan penggeledahan ini pasti izin dari pengadilan.
11:19Di mana izin pengadilannya?
11:20Jadi, ini ranah yang menurut saya akan diuji di pengadilan nanti sejauh mana konstruksi.
11:25Apakah uang yang digeledah ini, sekian sangat besar ini, itu bersumber dari hal-hal yang tidak jelas.
11:30Karena misalnya kalau pakai tindak pidana pencucian uang, kan harus dibuktikan tuh.
11:34Uangnya dari mana sumbernya?
11:36Dalam konteks dia sebagai misalnya pejabat PNS, kan nggak realistis.
11:40Pejabat PNS, misalnya ASN, dikadang Pak Didu, punya uang sekian 10 miliar itu dalam masuk akal kita nggak masuk akal.
11:46Kalau dia pakai ngandelin gaji gitu.
11:48Apalagi misalnya di, apa istilahnya, KPK itu status atau laporan keuangan LHKPN.
11:55Itu kan ada jelas, misalnya LHKPN-nya berapa.
11:58Misalnya kalau Pak Jampinsus itu 18 miliar gitu.
12:01Nah sekarang di rumahnya ada sekian 10 miliar.
12:03Berarti ada yang tidak sinkron antara LHKPN dengan jumlah apa yang ditapatkan di rumahnya.
12:07Artinya bukan semata-mata serangan balik oligarki dong, tapi aparat penegak hukum yang bobrok juga memang.
12:12Kalau itu sih saya pikir pengetahuan publik lah.
12:15Artinya itu keresayaan kalau dari kasus ini.
12:18Ya udahlah, kita dah tahu lah semua, nggak usah kita tutupi.
12:21Penegak hukum dari pusat sampai kabupaten tuh, ah udahlah, kita paham lah.
12:27Dan itu sesuai dengan data banyak.
12:29Jadi baik itu transparansi internasional, World Justice Project,
12:33banyak sekali indikator, indeks yang menyebabkan bahwa salah satu dunia yang paling korup di Indonesia adalah lembaga penegak hukum.
12:41Dan yang paling salah satu yang paling berat adalah hukum pidana.
12:45Jadi aparat penegak hukum menjadi sarana bukan lagi menegakkan keadilan, tetapi menjadikan hukum sebagai komoditas.
12:52Dia melihat perkara itu sebagai ruang untuk melakukan pengambilan uang.
12:58Itu riset lembaga sangat banyak.
12:59Di kasus ini Anda bagaimana melihat itu? Ada celah sebagai komoditas hukum pidana?
13:04Ya kalau kemudian nanti, kalau misalnya, sebagai penah hukum, sebagai misalnya pejabat di kejaksaan,
13:10dalam rangkaian pengadilan terbukti bahwa dia melakukan tindak pidana korupsi,
13:14berarti kan dia dari mana korupsinya?
13:16Apakah sebagai posisi dia dalam jabatannya?
13:19Berarti kan kalau dalam jabatan dia menggunakan hukum sebagai komoditas.
13:22Nah itu harus dibuktikan di pengadilan.
13:24Problemnya sekarang gini Mbak, kepolisian penyidikan.
13:27Tapi kan kepolisian nggak bisa bawa ke pengadilan.
13:29Yang pengadilan itu penuntut adalah kejaksaan.
13:32Pertanyaannya apa kejaksaan agung kemudian menerima berkas dibawa ke pengadilan,
13:37sedangkan dia menyidik atau menurut dirinya sendiri misalnya.
13:40Kan harus juga jelas statusnya yang disidik ini siapa.
13:43Kalau dia dalam jabatan berarti dia harus mundur atau diberhentikan jabatannya.
13:47Nah sekarang kita belum juga mendengar.
13:49Apakah ada korelasi kemudian dampak dari penyidikan, penggeledahan dengan status jabatan?
13:54Nah Pak Said melihat terlalu lama atau tidak sih?
13:57Dari waktu penggeledahan kemarin drama yang kita saksikan sampai sekarang belum jelas juga sudah 24 jam.
14:02Ya ini yang saya bilang gini, ini Pak, saya kembali lagi Pak Presiden.
14:06Pak Presiden ini kan andalannya lagi teracak-acak.
14:11Awalnya kan BGN.
14:12Andalan MBG.
14:14MBG, MBG.
14:15MBG, andalan beliau.
14:17Ternyata pengkhianat gitu.
14:19Oke.
14:20Andalan kedua, ini kan untuk ini.
14:23Yang melawan oligarki adalah PKH.
14:26Ini...
14:26Sekarang diragukan lagi.
14:28Diragukan lagi.
14:29Iya kan.
14:31Koperasi Merah Putih juga sudah dipersoalkan terus.
14:34Macem-macem.
14:35Terus penempatan orang-orang di BUMN.
14:38Yang tidak sesuai dengan ini.
14:40Jadi, saya menyatakan Pak Presiden 2 tahun ini sudah saatnya menyadari bahwa pemilihan orang untuk melaksanakan keinginannya dia, cita-cita
14:51dia, itu sepertinya harus diperbaiki.
14:54Harus diperbaiki.
14:55Karena faktanya gagal penempatan orang itu.
14:59Kenapa selama ini Presiden bisa, takde kutip, pecolongan orang-orang yang dipercayanya justru melakukan hal yang tidak semestinya.
15:07Yang kedua, yang juga jadi pertanyaan kemarin pada saat terjadi penggeledahan itu, ada juga TNI yang menjaga ketat di rumah
15:14Jampil.
15:14Saat polisi tengah melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi.
15:18Ini dua pertanyaan yang mengemuka yang kita akan bahas usah jeda di Rosi.
Komentar