Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green memicu gelombang unjuk rasa di sejumlah daerah.

Massa mendesak pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM serta menuntut perbaikan ekonomi.

Mereka juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah dan menilai sejumlah kebijakan pemerintah justru menjadi penyebab ekonomi Indonesia bermasalah, terutama soal MBG.

Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 pada 10 Juni lalu mengejutkan masyarakat.

Banyaknya masyarakat yang beralih ke Pertalite membuat sejumlah SPBU di Jakarta kehabisan stok BBM.

Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan keputusan menaikkan harga harus dilakukan karena mengacu pada mekanisme pasar. Menurutnya, perubahan harga saat ini masih mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Ketua Komisi XI DPR, Muhamad Misbakhun menilai kenaikan harga Pertamax akan memberikan tekanan terhadap inflasi.

Untuk itu, berbagai opsi stimulus dan insentif saat ini sedang dibahas untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.

Menkeu Purbaya mengakui kenaikan Pertamax berpotensi mendorong sebagian masyarakat beralih ke Pertalite.

Namun, pemerintah belum menghitung besaran perpindahan konsumsi BBM tersebut maupun dampaknya terhadap beban subsidi energi dalam APBN.

Di sisi lain, Purbaya menilai kenaikan harga Pertamax tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap inflasi nasional.

Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah tengah mengkaji sejumlah skema bantuan sebelum kembali berkoordinasi dengan Pertamina.

Kemenkeu sebagai penanggung jawab fiskal dan BI sebagai pengendali moneter sepakat untuk terus meningkatkan koordinasi guna menjaga nilai tukar rupiah dan angka pertumbuhan ekonomi. Pemerintah, BI, maupun DPR mau mendengar masukan dari banyak pihak.

Koordinasi dan komunikasi yang baik antarlembaga ini memang diperlukan di saat negara kita menghadapi situasi yang tidak mudah akibat kondisi geopolitik yang tidak menentu.

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/674805/polemik-bbm-rupiah-melemah-hingga-mbg-saatnya-pemerintah-dengar-suara-rakyat-kompas-petang
Transkrip
00:00Saudara kenaikan harga BBM non-subsidi di tengah kondisi perekonomian yang belum stabil,
00:07semakin berdampak pada perekonomian masyarakat.
00:10Pemerintah diminta untuk mendengar, masukkan berbagai pihak,
00:14dan menjelaskannya kepada masyarakat yang semakin terbebani akibat kenaikan BBM.
00:22Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green
00:27memicu gelombang unjuk rasa di sejumlah daerah.
00:30Masa mendesak pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM,
00:34serta menuntut perbaikan ekonomi.
00:36Mereka juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah dan menilai sejumlah kebijakan pemerintah
00:41justru menjadi penyebab ekonomi Indonesia bermasalah, terutama soal makan bergisi gratis.
00:48Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 pada 10 Juni lalu mengejutkan masyarakat.
00:57Antrian panjang terjadi di hampir seluruh SPBU.
01:00Warga rame-rame beralih menggunakan BBM subsidi jenis Pertalite.
01:04Banyaknya masyarakat yang beralih ke Pertalite membuat sejumlah SPBU di Jakarta kehabisan stok BBM.
01:28Direktur utama PT. Pertamina menegaskan keputusan menaikan harga harus dilakukan karena mengacu pada mekanisme pasar.
01:35Menurutnya perubahan harga saat ini masih mempertimbangkan daya beli masyarakat.
01:41Kami memahami bahwa setiap penyesuaian harga tentu menjadi perhatian masyarakat.
01:47Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global
01:54dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat.
02:02Ketua Komisi 11 DPR Muhammad Mishbakun menilai kenaikan harga Pertamax akan memberikan tekanan terhadap inflasi.
02:09Untuk itu berbagai opsi stimulus dan insentif saat ini sedang dibahas untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik
02:16sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.
02:20Sudah didiskusikan sedang lagi dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor ini.
02:28Yang pasti biasanya masyarakat yang menggunakan Pertamax itu kan masyarakat-masyarakat yang berimpitan dengan Pertamax.
02:36Lah kita ingin pastikan apa sih yang mereka butuhkan sebagai stimulus.
02:43Itu aja.
02:45Menteri Keuangan Purbayu Yudisa Dewa mengakui kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong sebagian masyarakat beralih ke Pertamax.
02:52Namun pemerintah belum menghitung besaran perpindahan konsumsi BBM tersebut maupun dampaknya terhadap beban subsidi energi dalam APBN.
03:01Di sisi lain, Purbayu menilai kenaikan harga Pertamax tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap inflasi nasional.
03:15Maksudnya dampaknya minim atau bagaimana Pak?
03:18Maksudnya dampaknya minim atau bagaimana Pak?
03:20Tanya ke Pak Pahli, misalnya ada mekanisme gimana?
03:22Nanti kalau ada yang kementerian keuangan ini selain Pak Pak.
03:26Dampaknya keinflasi gimana Pak?
03:27Dampaknya keinflasi gimana Pak?
03:28Dampaknya limited karena kan bukan buat angkutan umum.
03:32Terus pemerintah akan memakai stimulus lagi.
03:38Pengamat ekonomi menilai, meski Pertamax tidak digunakan untuk kendaraan angkutan atau industri,
03:44namun kenaikan harga BBM non-subsidi juga akan membebani atau menekan perekonomian masyarakat,
03:50terutama kelompok kelas menengah.
03:52Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus pada kelompok ini.
03:56Tapi perlu diingat, daya beli akan turun, padahal daya beli kelas menengah itu kontribusinya kan 60% terhadap konsumsi rumah
04:06tangga,
04:06yang metabene hampir 50% kan terhadap PDB nasional.
04:10Nah pengalaman ini menunjukkan bahwa setelah harga naik BBM, ya terutama non-subsidi termasuk,
04:17yang pertama kali naik itu bukan di biaya kendaraan, ya.
04:20Tapi ongkos distribusi dan tarif jasa, mau tidak mau meskipun ini non-subsidi, karena sangat sensitif gitu ya.
04:27Nah maka pemerintah perlu memberikan insentif sementara kepada operator transportasi umum dan juga logistik
04:34agar tidak seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada konsumen, ya, ke rumah tangga menengah ini.
04:40Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah tengah mengkaji sejumlah skema bantuan
04:44sebelum kembali berkoordinasi dengan Pertamina.
04:47Sedangkan formula subsidi difokuskan untuk masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi.
04:53Tim Buputan, Kompas TV
04:57Upaya pemerintah, DPR, serta Bank Indonesia untuk meredakan gejolak di Bursa Efek Indonesia dan nilai tukar rupiah
05:06mulai membuahkan hasil. Hingga penutupan Jumat kemarin, indeks harga saham gabungan atau IHSG
05:13menguat sekitar 7% ke angka Rp6.000.
05:17Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat, meninggalkan level Rp18.000 ke angka Rp17.900.
05:28Hal ini tentu patut disyukuri, setidaknya memberi kelegaan
05:32karena sejak akhir Mei IHSG anjlok tajam.
05:36Sementara nilai rupiah melemah hari demi hari tanpa daya.
05:40Kementerian Keuangan sebagai penanggung jawab fiskal dan Bank Indonesia
05:44sebagai pengendali moneter sepakat untuk terus meningkatkan koordinasi
05:50menjaga nilai tukar rupiah dan angka pertumbuhan ekonomi.
05:55Artinya, pemerintah, Bank Indonesia maupun DPR
05:58mau mendengar masukan dari banyak pihak.
06:02Koordinasi dan komunikasi yang baik antar lembaga ini memang diperlukan
06:07di saat negara kita menghadapi situasi tidak mudah
06:11akibat kondisi geopolitik yang tak menentu.
06:15Perang Amerika Serikat plus Israel melawan Iran
06:18mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia hingga 100 dolar per barel
06:24jelas menguras sanggaran kita.
06:26Asumsi dalam APBN harga minyak 70 dolar
06:30apalagi nilai rupiah terus melemah.
06:33APBN bisa jebol terkuras.
06:44Karena itu, kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak non-subsidi
06:49seperti Pertamax adalah salah satu cara menstabilkan fiskal
06:54agar cadangan devisa tidak terus tergerus.
06:58Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga atau BI rate ke angka 5,5%.
07:05Kepercayaan pasar pun mulai muncul.
07:09Dampaknya dana asing mulai masuk dan rupiah mulai menguat.
07:14Kenaikan ini, saudara, ditentang kelompok masyarakat kelas menengah
07:18yang menganggap kebijakan diberlakukan tanpa penjelasan.
07:23Apalagi para pembantu presiden selalu bilang
07:26ekonomi baik-baik saja, fiskal terjaga.
07:31Nyatanya BBM non-subsidi dinaikkan drastis.
07:36Mahasiswa pun sejak Jumat kemarin menggelar unjuk rasa di sejumlah daerah.
07:40Mereka menganggap kenaikan BBM non-subsidi masih bisa dihindari
07:45dengan penghentian program makan bergizi gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
07:56Pemerintah mendengar tuntutan ini dan mengevaluasi kemungkinan pengurangan anggaran MBG
08:03dan memperbaiki tata kelola makan bergizi gratis.
08:07Setelah mendengarkan, pemerintah pun harus menjelaskannya dengan baik.
08:12Sampaikan penjelasan penuh empati kepada masyarakat
08:16yang semakin terbebani akibat kenaikan BBM.
08:20Bantuan sosial atau insentif ekonomi
08:23sebagai bantalan bagi masyarakat terdampak kenaikan Pertamax
08:26sebaiknya segera diberikan
08:29supaya jumlah masyarakat miskin jangan terus bertambah.
08:33Pemerintah juga harus menjalani dialog dengan mahasiswa
08:36dan kelompok masyarakat kritis
08:38serta jangan ada upaya pembungkaman
08:42terhadap aksi atau suara yang menentang kebijakan pemerintah.
08:47Presiden Prabowo pernah bilang
08:48hentikan laporan asal Bapak Senang
08:52saatnya orang-orang lingkaran dalam istana
08:54turun menyerap aspirasi sebanyak-banyaknya
08:58dan laporkan fakta apa adanya.
09:06Saatnya pemerintah bersikap rendah hati
09:10mau mendengar dan berhenti memberi janji-janji
09:14setinggi langit kepada masyarakat.
09:16Demikian catatan Kompas TV hari ini.
09:19Kita jumpa lagi pekan depan.
Komentar

Dianjurkan