00:00Di tengah fluktuasi harga hasil pertanian, sejumlah petani di Kabupaten Maros, Sulawesi Sartan menemukan sumber penghasilan menjanjikan dari tanaman nilam.
00:10Tanaman yang menjadi bahan baku parfum, kosmetik, dan produk aromaterapi mampu memberikan nilai ekonomi tinggi hingga 100 juta rupiah setiap
00:18minggunya.
00:23Di balik wangi parfum dan beragam produk kosmetik yang digunakan sehari-hari, terdapat peran petani di pelosok Desa Wano Awaru,
00:30Kecamatan Malawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
00:34Di wilayah ini, petani membudidayakan tanaman nilam atau Pogostemon Kablin, tanaman penghasil minyak atsiri, sebagai bahan penting industri parfum, farmasi,
00:42hingga aromaterapi.
00:45Tanaman nilam dapat dipanen setiap 4 bulan.
00:48Setelah dipanen, daun dan batang nilam dikeringkan selama satu hari, sebelum masuk ke tahap penyulingan untuk menghasilkan minyak nilam bernilai
00:54tinggi.
00:56Saat ini harga minyak nilam mencapai 1 juta rupiah per kilogram, menjadikannya salah satu komoditas perkebunan yang menjanjikan bagi petani
01:02dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya.
01:06Salah satu petani sekaligus penyuling nilam, Imran, telah menekuni usaha ini selama 5 tahun terakhir.
01:12Dalam sepekan, tempat penyulingan milik Imran mampu memproduksi hingga 100 kilogram minyak nilam dengan omset menebus 100 juta rupiah.
01:20Kita prosesnya itu kurang lebih 12 jam sampai proses penyulingan nilam selesai.
01:29Di depan Cisaya ini, prosesnya itu kurang lebih nilam kering itu butuh 300an kilo nilam kering.
01:37Dan itu menghasilkan minyak kurang lebih 10 kilo lah.
01:42Itu penghasilan, kalau sekarang selama beroperasi itu per minggu bisa menghasilkan kurang lebih 100 kilo minyak per minggu kalau di
01:52sini.
01:54Bagi masyarakat desa waru-waru, nilam kini menjadi salah satu pilihan usaha pertanian yang menjanjikan untuk penambah pendapatan keluarga di
02:01tengah tantangan sektor pertanian.
02:05Dengan permintaan pasar dan nilai jual tinggi, tanaman nilam menjadi alternatif menarik bagi petani untuk mendongkrak perekonomian di perdesaan.
02:14Asis Hamid, Kompas TV, Maros, Lausi Selatan
Komentar