00:00Halo Sobat Suara, kembali lagi dengan saya Zahwa Syahira yang akan menemani Sobat Suara pada siang hari ini.
00:06Hari ini kita akan bincang-bincang santai dengan salah satu komunitas yang sangat menginspirasi.
00:12Mereka berasal dari Gunung Kidul yang berhasil menepis stigma sosial dan memberikan kontribusi nyata kepada warga sekitar.
00:19Ini dia petani pang.
00:21Perkenalkan, nama saya Pratisna, biasa dipanggil seed bug.
00:26Saya sendiri sebagai penggagas petani pang Gunung Kidul.
00:39Dan arti pang untuk saya sendiri, pang itu bebas, pang itu harus berduni.
00:45Dan saya sendiri juga sama lulusan SMP, tapi baru mengejar-kejar paket C SMA.
00:55Di titik terendah beberapa kali harus OD, overdosis, dan hampir mati tusukan, pukulan, injakan, ludahan.
01:05Itu ya sudah sangat sering kita alami terlepas saat itu kita salah ataupun benar.
01:16Itu sudah biasa saya alami saat itu adalah resiko-resiko di jalanan.
01:22Tapi sekarang saya bisa harusnya saya bisa merupakan bahwa itu semua adalah titikan saya, itu semua adalah pengalaman.
01:30Pengalaman tersebut tidak dijadikan dinding pembatas.
01:34Namun digunakan sebagai dorongan oleh si Bek untuk terus ingin berbagi dalam segala kondisi.
01:40Komunitas ini berdiri benarnya dari tahun 2018, jadi sudah sekitaran 8 tahun.
01:46Awal mula kita dari 15 anggota yang ada di grup saya, di grup BA itu ada sekitaran 38 tahun.
01:57Dari yang awalnya ada di jalan pang, lalu tiba-tiba terbentuk komunitas ini.
02:04Itu seperti apa mas awalnya?
02:05Nah, saat itu mereka itu tertawa karena banyak petani sepuh yang ada di sawah.
02:11Setelah kepulangan mereka, saya merenung kenapa kita tadi melakukan hal itu?
02:17Kenapa saya juga ikut tertawakan hal itu?
02:19Kenapa tidak ada petani muda saat itu?
02:22Yuk kalian tanggung jawab yuk, tadi sudah mempertawakan orang-orang sepuh.
02:26Kalian harus bertanggung jawab.
02:28Kalian harus menjadi petani.
02:29Kita tidak punya basic, kita tidak punya modal, kita tidak punya lahan, kita tidak punya ilmu untuk itu.
02:36Pertanyaan saya sama teman-teman, kalian mau nggak?
02:41Sebagai modal awal belajar bertani, Sibek menggadikan surat rumahnya yang berhasil cair sebesar 25 juta rupiah.
02:49Hasil-hasil panen tersebut berupa kebutuhan sehari-hari, seperti cabai, terong, bawang-bawangan, dan lain sebagainya.
02:57Tantangan terbesar itu di pertanian itu banyak.
03:01Nah tantangan kita itu apalagi orang-orang awam yang kita tidak belajar pertanian.
03:08Teman-teman itu saat pertama kelahan itu tidak tahu namanya bulma itu apa.
03:13Ternyata bulma itu suket rumput itu baru paham saat itu.
03:17Cara memakai alat semprot itu bagaimana mereka tidak tahu sampai patah berapa kali.
03:23Tapi tidak menyerah karena itulah proses sebuah pembelajaran bagi kita.
03:27Dari banyak trial dan error itu apa yang membuat Mas Sibek dan juga komunitas penanipang mau tetap lanjut?
03:34Kita bisa berbagi.
03:36Akhirnya dari pengalaman itu kita bisa mengembalikan uang pinjaman dan kita bisa berbagi.
03:45Nah itu menjadi sebuah kelegaan dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang enak ya.
03:51Selama ini kita minta, selama ini kita minta makan, selama ini kita minta uang, selama ini kita minta minum di
04:00jalanan untuk bertahang hidup.
04:02Ternyata memberi itu menjadi sebuah kelegaan gitu.
04:06Tanpa memberi tanpa sebuah tendensi apapun ya.
04:09Saya harus berdamai dengan diri sendiri.
04:12Yang jelas harapan saya adalah mari bersama-sama untuk siapapun itu.
04:17Ayo bersama-sama untuk menciptakan sebuah ruang untuk regenerasi petani.
04:27Mungkin sudah cukup waktu kita untuk mengenal komunitas yang sangat menginspirasi ini, komunitas petanipang.
04:34Saya Zahal Syahira, pamit undur diri.
04:37Terima kasih Mas Sibek yang sudah meluangkan waktunya pada hari ini.
04:42Terima kasih.
Komentar