Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
Di Gunungkidul Yogyakarta, sebuah komunitas tak biasa tumbuh dan berakar. Mereka adalah anak-anak punk, kelompok yang kerap dipandang sebelah mata yang kini justru menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan lokal.

Melalui aktivitas bertani, mereka tidak hanya mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi juga membagikan hasil panen kepada warga sekitar. Sebagian hasil lainnya dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi rumah komunitas, membangun kehidupan yang lebih layak secara kolektif.

Menariknya, peran mereka meluas hingga menjadi pemasok bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), menunjukkan bahwa kontribusi mereka diakui secara lebih luas. Liputan ini menggali bagaimana solidaritas, kerja kolektif, dan semangat berbagi mampu mengubah stigma menjadi kekuatan serta merekonstruksi lembaran baru dari komunitas punk di Indonesia.

Creative/Video Editor: Zahwa/Susi/Vanya
Transkrip
00:00Halo Sobat Suara, kembali lagi dengan saya Zahwa Syahira yang akan menemani Sobat Suara pada siang hari ini.
00:06Hari ini kita akan bincang-bincang santai dengan salah satu komunitas yang sangat menginspirasi.
00:12Mereka berasal dari Gunung Kidul yang berhasil menepis stigma sosial dan memberikan kontribusi nyata kepada warga sekitar.
00:19Ini dia petani pang.
00:21Perkenalkan, nama saya Pratisna, biasa dipanggil seed bug.
00:26Saya sendiri sebagai penggagas petani pang Gunung Kidul.
00:39Dan arti pang untuk saya sendiri, pang itu bebas, pang itu harus berduni.
00:45Dan saya sendiri juga sama lulusan SMP, tapi baru mengejar-kejar paket C SMA.
00:55Di titik terendah beberapa kali harus OD, overdosis, dan hampir mati tusukan, pukulan, injakan, ludahan.
01:05Itu ya sudah sangat sering kita alami terlepas saat itu kita salah ataupun benar.
01:16Itu sudah biasa saya alami saat itu adalah resiko-resiko di jalanan.
01:22Tapi sekarang saya bisa harusnya saya bisa merupakan bahwa itu semua adalah titikan saya, itu semua adalah pengalaman.
01:30Pengalaman tersebut tidak dijadikan dinding pembatas.
01:34Namun digunakan sebagai dorongan oleh si Bek untuk terus ingin berbagi dalam segala kondisi.
01:40Komunitas ini berdiri benarnya dari tahun 2018, jadi sudah sekitaran 8 tahun.
01:46Awal mula kita dari 15 anggota yang ada di grup saya, di grup BA itu ada sekitaran 38 tahun.
01:57Dari yang awalnya ada di jalan pang, lalu tiba-tiba terbentuk komunitas ini.
02:04Itu seperti apa mas awalnya?
02:05Nah, saat itu mereka itu tertawa karena banyak petani sepuh yang ada di sawah.
02:11Setelah kepulangan mereka, saya merenung kenapa kita tadi melakukan hal itu?
02:17Kenapa saya juga ikut tertawakan hal itu?
02:19Kenapa tidak ada petani muda saat itu?
02:22Yuk kalian tanggung jawab yuk, tadi sudah mempertawakan orang-orang sepuh.
02:26Kalian harus bertanggung jawab.
02:28Kalian harus menjadi petani.
02:29Kita tidak punya basic, kita tidak punya modal, kita tidak punya lahan, kita tidak punya ilmu untuk itu.
02:36Pertanyaan saya sama teman-teman, kalian mau nggak?
02:41Sebagai modal awal belajar bertani, Sibek menggadikan surat rumahnya yang berhasil cair sebesar 25 juta rupiah.
02:49Hasil-hasil panen tersebut berupa kebutuhan sehari-hari, seperti cabai, terong, bawang-bawangan, dan lain sebagainya.
02:57Tantangan terbesar itu di pertanian itu banyak.
03:01Nah tantangan kita itu apalagi orang-orang awam yang kita tidak belajar pertanian.
03:08Teman-teman itu saat pertama kelahan itu tidak tahu namanya bulma itu apa.
03:13Ternyata bulma itu suket rumput itu baru paham saat itu.
03:17Cara memakai alat semprot itu bagaimana mereka tidak tahu sampai patah berapa kali.
03:23Tapi tidak menyerah karena itulah proses sebuah pembelajaran bagi kita.
03:27Dari banyak trial dan error itu apa yang membuat Mas Sibek dan juga komunitas penanipang mau tetap lanjut?
03:34Kita bisa berbagi.
03:36Akhirnya dari pengalaman itu kita bisa mengembalikan uang pinjaman dan kita bisa berbagi.
03:45Nah itu menjadi sebuah kelegaan dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang enak ya.
03:51Selama ini kita minta, selama ini kita minta makan, selama ini kita minta uang, selama ini kita minta minum di
04:00jalanan untuk bertahang hidup.
04:02Ternyata memberi itu menjadi sebuah kelegaan gitu.
04:06Tanpa memberi tanpa sebuah tendensi apapun ya.
04:09Saya harus berdamai dengan diri sendiri.
04:12Yang jelas harapan saya adalah mari bersama-sama untuk siapapun itu.
04:17Ayo bersama-sama untuk menciptakan sebuah ruang untuk regenerasi petani.
04:27Mungkin sudah cukup waktu kita untuk mengenal komunitas yang sangat menginspirasi ini, komunitas petanipang.
04:34Saya Zahal Syahira, pamit undur diri.
04:37Terima kasih Mas Sibek yang sudah meluangkan waktunya pada hari ini.
04:42Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan