Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 12 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Dalam pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, isu stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, turut menjadi pembahasan utama.

Kedua pemimpin negara sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga stabilitas rantai pasok global dan menghindari gangguan terhadap distribusi energi dunia.

Pengamat Timur Tengah Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, menilai posisi China dalam konflik ini cenderung konsisten dan tidak mengalami perubahan signifikan meski ada pertemuan antara Trump dan Xi Jinping.

"China memiliki leverage besar, baik terhadap Iran maupun Amerika Serikat. Dari sisi Iran, China tetap membeli minyak dan berinvestasi. Sementara terhadap Amerika, Tiongkok memiliki pengaruh ekonomi, teknologi, hingga perdagangan," kata Dina Sulaeman dalam program Sapa Pagi, Minggu (17/5/2026).

Baca Juga Takut Disadap? Delegasi AS Buang Barang dari China sebelum Naik Air Force One usai Kunjungan Trump di https://www.kompas.tv/internasional/669350/takut-disadap-delegasi-as-buang-barang-dari-china-sebelum-naik-air-force-one-usai-kunjungan-trump



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/669396/pengamat-timur-tengah-soroti-pertemuan-trump-xi-jinping-hingga-peran-china-dalam-konflik-as-iran
Transkrip
00:00Ketegakan Amerika Serikat dan Iran belum meredah.
00:02Kini Tiongkok diharapkan mampu berperan membuka jalan damai kedua pihak yang berkonflik.
00:08Lalu apakah Tiongkok yang dikenal memiliki kemampuan diplomasi bisa diandalkan?
00:13Kita akan membahasnya bersama dengan penggama Timur Tengah Universitas Pajajaran, Dina Sulaiman.
00:18Selamat pagi, Bu Dina.
00:20Iya, selamat pagi, Mas Bre.
00:22Bu Dina, Tiongkok sudah bertemu dengan kedua pihak, baik Amerika Serikat maupun juga Iran.
00:27Apa kemudian yang bisa terobosan apa yang dilakukan oleh Tiongkok dalam konflik kedua negara?
00:32Apakah bisa menjadi mediator atau sebenarnya Tiongkok hanya peduli soal dirinya misalnya untuk pembukaan Selat Hormuz?
00:40Ya, kalau kita lihat pernyataan dari pihak Tiongkok sebenarnya tidak ada yang bertentangan dengan apa yang diinginkan Iran ya.
00:48Misalnya pernyataan bahwa Selat Hormuz harus dibuka, ya memang Iran selama ini juga membuka.
00:54Tapi dengan aturan yang ditetapkan oleh Iran.
00:58Misalnya kapal-kapal dari negara-negara yang bermusuhan dengan Iran itu tidak boleh lewat misalnya.
01:04Dan kemudian misalnya ada aturan tarif dari pihak China kan tidak ada penolakan soal itu ya.
01:12Dan kemudian soal nuklir, Tiongkok juga mengatakan menurut Trump ya bahwa Iran memang tidak boleh punya senjata nuklir.
01:22Ya, memang Iran tidak punya senjata nuklir juga.
01:25Artinya posisi Tiongkok di sini, apa ya istilahnya, ya tetap pada tempatnya.
01:35Artinya kunjungan Trump tidak mengubah apapun dari posisi Tiongkok.
01:40Tiongkok tetap mengedepankan kepentingan nasionalnya sendiri.
01:45Namun juga tetap menjaga hubungan baik juga dengan Amerika Serikat dan dengan Iran.
01:51Tapi dari sisi bahwa kepentingan nasional China itu lebih berat ke Iran ya,
01:59karena memang ada kepentingan soal minyak, soal logistik lain yang lewat Selat Hormos,
02:05tentu saja Tiongkok tidak akan mematuhi atau menuruti kehendak dari Amerika Serikat secara penuh.
02:12Tapi Bu Dina, kalau kita bicara soal konflik antara kedua negara, Amerika Serikat dan juga Iran,
02:18apakah Tiongkok mau mengambil langkah lebih jauh lagi akan terlibat di dalam misalnya perundingan gitu untuk menjadi mediator selain Pakistan?
02:27Saya pikir kalau mediator itu tentu ini ya, disetujui oleh kedua pihak.
02:34Nah kalau seandainya ditanya kepada Iran, apakah Iran menerima Tiongkok sebagai mediator,
02:42saya yakin mau menerima ya, karena sebelumnya kan sudah ada ya,
02:46normalisasi hubungan antara Iran dengan Arab Saudi kan dimediasi oleh Tiongkok.
02:51Sekarang pertanyaannya dari pihak Amerika Serikat, mau tidak menerima Tiongkok untuk menjadi mediator?
02:57Saya pikir buat Amerika ini masalah gengsi juga ya,
03:04akan artinya Amerika mengakui bahwa China memang punya power lebih ya, punya leverage lebih.
03:12Kalau Pakistan saya pikir posisinya masih belum mediator secara sepenuhnya ya,
03:18masih seperti fasilitator juga ya, memberikan saling menyampaikan pesan kepada dua pihak ini.
03:25Nah sekarang, apakah Tiongkoknya mau? Saya pikir ya mau juga, pasti mau ya,
03:30karena ini juga selain kepentingan ekonomi juga memberikan ini ya, posisi yang lebih di geopolitik,
03:37dan artinya Tiongkok memainkan peran yang lebih penting lagi menjadi sebagai mediator,
03:46dan ini saya pikir hal baru juga ya, karena selama ini kan Tiongkok itu lebih fokus pada ekonomi.
03:52Tapi memang kalau untuk jadi mediator dari Amerika Serikatnya mungkin tidak mau ya,
03:58karena gengsi akan mengakui Tiongkok memiliki kekuatan yang luar biasa.
04:02Tapi, Bu Dina, ada yang bilang juga bahwa sebenarnya Tiongkok bisa menjadi penjamin, bukan penengah gitu.
04:08Misalnya, dia bisa menjaminkan ke Iran bahwa tidak akan diserang lagi loh Anda,
04:13dan juga Tiongkok bisa memberikan jaminan kepada Amerika Serikat bahwa,
04:17oke, saya akan menjamin Iran tidak akan kami pasok senjata ke sana.
04:21Bagaimana Anda melihatnya? Apakah ini artinya Tiongkok bukan penengah,
04:25tapi bisa kemudian menjadi penjamin?
04:28Ya, saya setuju dengan pernyataan Mas Bre tadi,
04:32jadi Tiongkok sepertinya selama ini pun di balik layar itu membuat situasi agar tidak terlalu,
04:40apa ya, tidak terjadi eskalasi penuh ya.
04:44Dari satu sisi, bahwa Tiongkok ini terus membeli minyak dari Iran,
04:50terus melakukan investasi di Iran, itu kan membantu Iran ya,
04:54artinya ekonominya bisa tetap berjalan,
04:57dan bisa, ya pada gilirannya bisa melanjutkan perang dan perlawanan terhadap Amerika Serikat.
05:03Dan kemudian terhadap Amerika, itu kan Tiongkok juga punya banyak leverage juga ya,
05:11logam tanah jarang, kemudian juga teknologi, pasar.
05:16Kita lihat bagaimana Trump datang bersama 30 CEO top dunia gitu ya,
05:22yang berbasis di Amerika Serikat.
05:24Itu kan menunjukkan bahwa memang Amerika butuh sekali dengan perdagangan dan bantu Tiongkok ya,
05:34supaya ekonomi Amerika Serikat tidak terus-menerus dalam proses declining seperti sekarang.
05:40Ya, jaminan itu saya pikir sangat efektif dengan kekuatan yang dimiliki oleh Tiongkok,
05:46supaya situasinya tidak terjadi eskalasi, tidak terjadi perang seperti di bulan Februari sampai Maret yang lalu.
05:54Tapi di sisi lain juga, Budina, ada dilema yang mungkin dihadapi oleh Tiongkok gitu ya,
05:59bagaimana kemudian menjaga hubungan dengan kawan lama, dengan Iran,
06:02tapi juga di sisi lain juga harus menjaga hubungan bersama dengan Amerika Serikat,
06:05karena masih butuh kerjasama ekonomi di sana.
06:07Bagaimana kemudian Tiongkok bisa memastikan keseimbangan dan juga bisa mendapatkan manfaat dalam tanda kutip dari kedua belah pihak?
06:15Saya pikir kalau terhadap Amerika Serikat, Tiongkok ini sudah di atas angin ya,
06:21bagaimana gestur dua pihak itu ketika bertemu di Beijing itu kan sebenarnya kelihatan sekali ya.
06:28Misalnya Trump datang, Trump itu dan Amerika secara umum ya,
06:32ketika datang ke sebuah negara, umumnya kan bergaya arogan ya,
06:37artinya menganggap pihak lain lebih lemah dan bisa diatur-atur,
06:43tapi kita lihat bagaimana Trump yang selama ini sangat arogan gitu kan,
06:47terhadap Iran dan negara-negara lain, bahkan juga terhadap Uni Eropa,
06:51ketika datang ke Beijing itu sangat sopan gitu ya,
06:54dan juga dia bahkan membawa CEO-CEO terkenal,
07:01sementara dalam pertemuan makan malam itu antara CEO dua negara,
07:06ternyata yang dari pihak Tiongkok justru bukan yang top yang datang gitu,
07:10artinya dari sisi ini buat Tiongkok,
07:14dia tidak perlu juga harus habis-habisan ini ya,
07:20menyenangkan hati Amerika Serikat,
07:22karena dia punya banyak hartu truk,
07:24dan justru ini dimanfaatkan oleh Tiongkok,
07:27saya pikir untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya di bidang ekonomi,
07:31dan artinya di saat yang sama,
07:34itu kan Amerika Serikat powernya semakin berkurang,
07:37sehingga dalam urusan Timur Tengah juga semakin berkurang juga powernya di sini,
07:42artinya situasi yang ada ini sangat menguntungkan Iran.
07:45Oke baik, kemudian Budina, kita bicara soal selat hormus gitu ya,
07:49memang saat ini yang menjadi fokus dari Amerika Serikat adalah bagaimana membuka selat hormus,
07:54dan juga salah satunya lagi soal pengayaan uraniumnya Iran,
07:57tapi bicara soal selat hormus di sini ada kepentingan Tiongkok juga di sana,
08:01memang saat ini Tiongkok tidak terlalu terpengaruh gitu ya,
08:04ada akses khusus yang diberikan oleh Iran kepada Tiongkok di selat hormus,
08:07nah dengan adanya, paling tidak, Tiongkok tidak terlalu terdesak lah di selat hormus,
08:12akankah Tiongkok juga akan mendorong Iran untuk bisa membuka selat hormus secara penuh,
08:17seperti sebelum perang, atau ya sudah, biarkan saja seperti ini,
08:21karena saya pun juga tidak dirugikan dengan keadaan seperti ini, seperti itu Bu.
08:25Kalau kita lihat pernyataan dari pihak Tiongkok kan selalu menekankan pentingnya kedaulatan ya,
08:32penghormatan terhadap kedaulatan Iran, ini kan artinya Iran itu diakui punya kedaulatan gitu ya,
08:41sementara dari pihak Amerika Serikat tidak, Amerika itu menganggap bahwa Iran itu tidak punya kedaulatan,
08:47terutama juga terhadap selat hormus itu harusnya diatur oleh komunitas internasional kan,
08:52posisi Amerika seperti itu, tapi ketika pihak Tiongkok ketika berbicara soal selat hormus,
08:59berbicara soal kedaulatan Iran, artinya secara tersirat ya memang menerima realitas baru ini,
09:05buat China tidak ada masalah, dan yang menarik adalah,
09:08masih Trump itu masih di Beijing, itu kapalnya, kapal-kapalnya China itu lewat,
09:14ini kan menunjukkan pesan kuat dari Teheran juga bahwa,
09:18ini loh, Trump datang itu tidak ada efeknya,
09:23selama ini juga Trump datang ke Beijing ya, selama ini juga kapal China bisa lewat,
09:28dan antara China dan Iran itu baik-baik saja hubungannya,
09:32sehingga buat Beijing ya, saya pikir,
09:36seperti kata Mas Breh tadi ya,
09:38dia tidak ada, tidak punya kepentingan untuk harus kembali,
09:43seperti masa sebelum perang,
09:46China, buat China ini sama sekali tidak masalah,
09:50karena ya memang ini bagian dari kedaulatannya Iran untuk mengatur selat hormus.
09:54Nah, kemudian kalau dari sikap Iran yang kemudian beberapa hari lalu bilang bahwa,
09:59akan menyiapkan aturan baru di selat hormus,
10:01yang mana akan mengikuti hukum internasional,
10:04di mana mungkin kalau dari sisi hukum internasional,
10:06ini soal pengenaan tarif ini kan,
10:08sebenarnya katanya melanggar gitu,
10:10Bu Dina, apakah ini artinya Iran juga sedikit melunak,
10:13ataupun berkompromi soal selat hormus ini?
10:17Iya, soal ini ya,
10:19pengaturan di selat hormus,
10:21selat hormus itu kan cuma tiga puluhan kilometer ya,
10:24dan juga Iran itu tidak menandatangani UNCLOS gitu,
10:28sehingga sebenarnya aturan yang berlaku di situ adalah aturan Konvensi Genewa
10:33yang bicara soal innocent passage ya,
10:35jadi kalau lalu lintasnya damai,
10:38ya nggak apa-apa,
10:39tapi posisi saat ini justru realitasnya baru Iran itu terancam,
10:44merasa terancam dan memang diancam,
10:46betul-betul diancam oleh Amerika Serikat ya,
10:49dari sisi keamanan,
10:50dan juga terancam oleh negara-negara teluk yang membantu Amerika Serikat,
10:54sehingga dari sisi ini,
10:56Iran itu berhak untuk menetapkan aturan baru,
10:59dan saya pikir ini bukan masalah melunak atau tidak,
11:02karena sejak awal juga Iran tidak menutup secara penuh,
11:07karena menyadari juga dampak negatif secara globalnya ya,
11:12tapi dia menggunakan itu sebagai daya tekan kepada semua pihak gitu ya,
11:18termasuk bukan hanya Amerika Serikat,
11:21tapi semua pihak, termasuk kita juga di Indonesia ya,
11:24untuk menyeru agar semua pihak itu menekan Amerika,
11:30karena Iran itu seolah sendirian ya,
11:33diserang oleh Amerika, diserang oleh Israel,
11:35bahkan negara-negara teluk itu membantu Amerika,
11:37itu tidak ada yang bela Iran gitu,
11:39sehingga ini memang kartu truk yang dipakai Iran,
11:43leverage yang dipakai Iran,
11:45supaya dunia peduli,
11:48dan ketika kepentingan ekonomi semua negara terganggu,
11:52akhirnya kan mereka,
11:53kita bisa lihat akhirnya banyak yang kemudian berbaik-baik dengan Iran gitu ya,
11:58alih-alih tunduk kepada Amerika Serikat.
12:01Hormuz benar-benar masih menjadi kuncian Iran lah,
12:04mungkin kalau kita bilang melunak,
12:05belum kita bisa lihat gitu ya,
12:07Bu Dina ya,
12:07karena lagi-lagi ini menjadi senjata pamukasnya Iran di dalam konflik ini,
12:12tapi selain Selat Hormuz ini kan ada beberapa poin terakhir yang kemudian disebutkan oleh Iran,
12:17sebagai syarat minimum untuk bisa bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
12:20Selain Selat Hormuz,
12:21ada juga soal cabut sanksi,
12:22kemudian mengakhiri perang di semua front,
12:24ada juga pelepasan aset Iran yang dibukukan,
12:27kemudian kompensasi kerusakan akibat perang.
12:31Nah, dari lima poin ini kan kita masih melihat banyak yang deadlock gitu,
12:35banyak yang sebelumnya juga tidak pernah mau diikuti oleh Amerika Serikat.
12:39Bagaimana kemudian bisa menemukan paling tidak hal-hal yang bisa disepakati
12:43agar kedua pihak ini, Amerika Serikat maupun Iran,
12:46mau berunding lagi,
12:48dan di sini Tiongkok akan bisa masuk kemana, Bu?
12:52Ya, kalau kita lihat poin-poin yang diinginkan oleh Iran,
12:56sebenarnya semua itu masuk akal ya,
12:58ya memang demikian,
12:59karena sebagai pihak yang diserang dan mengalami banyak kerugian,
13:02tentu berhak untuk meminta ganti rugi misalnya.
13:05Kemudian soal nuklir,
13:07Iran menandatangani NPT,
13:09artinya ya dia berhak juga melakukan pengayaan uranium
13:12sesuai dengan aturan dari IAIE.
13:15Dan penghentian serangan,
13:17ya memang itu juga yang seharusnya dilakukan,
13:19sesuai dengan hukum internasional,
13:20Amerika Serikat tidak berhak untuk menyerang Iran.
13:23Nah, semua poin ini,
13:25dan kemudian Iran bertahan dengan poin-poin yang dia inginkan,
13:29itu menunjukkan bahwa Iran justru yang berada di atas angin dalam konflik ini.
13:34Ya, pihak yang lebih kuat tentu,
13:36yang lebih punya kekuasaan untuk menetapkan syarat.
13:40Nah, sementara sebaliknya,
13:42Amerika, kita tahu pangkalan militernya sudah banyak yang hancur,
13:46kemudian juga secara ekonomi mengalami kesulitan,
13:49dan sekarang Trump datang ke Beijing juga ternyata tidak ada hasil yang sesuai yang diharapkan oleh Trump.
13:56Artinya pilihan sekarang ada di Trump ya,
13:58mau terus berdarah-darah seperti ini,
14:01ya situasi ekonominya, politiknya,
14:04atau ya sudah mengambil pilihan yang rasional,
14:07yaitu menerima apa yang diinginkan oleh Iran.
14:11Tapi juga ada pilihan, memang seperti skenario seperti Vietnam atau Afganistan ya,
14:20Amerika Serikat itu keluar diam-diam saja gitu ya,
14:23artinya ya tidak memenuhi secara penuh apa yang diinginkan oleh Iran,
14:30tapi ya sudah menghentikan perang dan keluar dari Timur Tengah.
14:35Ya memang ini agak sulit,
14:37tapi kalau kita lihat sebelumnya Amerika pernah melakukan itu,
14:41ya sangat mungkin terjadi.
14:43Oke, tinggal di Amerika Serikat nih ya,
14:45apakah mau diam-diam keluar,
14:46ataupun bisa menyetujui semua syarat yang dimahukan Iran.
14:49Dan kita lihat juga nih Budi,
14:51apakah kemudian Menteri Energi Amerika Serikat juga sudah bilang bahwa
14:54bakal ada nih kesepakatan diplomasi antara Amerika Serikat juga Iran
14:58dalam beberapa hari ke depan,
15:00kita lihat saja bagaimana kemudian dari Amerika Serikat sikapnya seperti apa di konflik ini.
15:04Terima kasih Bu Dina Sulaiman,
15:05pengamatan Timur Tengah dari Universitas Pajajaran,
15:08sudah bergabung bersama kami di Sapa Dereja Pagi.
15:10Selamat pagi, Bu Dina.
15:12Ya, selamat pagi.
Komentar

Dianjurkan