- 5 jam yang lalu
- #donaldtrump
- #iran
- #as
- #asvsiran
KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpendapat kepemimpinan Iran saat ini sedang terpecah sehingga ia mengaku bingung dengan situasi yang terjadi.
Namun, Trump juga mengatakan ia tidak puas dengan pembicaraan terakhir bersama Iran. Meski demikian, Trump menegaskan tidak akan menghancurkan Iran, dan opsi negosiasi dengan Iran masih terbuka.
Lalu, akankah ultimatum Trump untuk menghancurkan Iran selamanya jika Iran menolak membuat kesepakatan akan benar-benar terjadi?
Simak pembahasan KompasTV bersama alumnus Rajaratnam School of International Studies NTU, Rico Marbun, serta praktisi dan pengajar hubungan internasional Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja.
Baca Juga PANAS! AS Kepung Laut ke Pelabuhan Iran, Puluhan Kapal Dipaksa Putar Balik | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/internasional/666658/panas-as-kepung-laut-ke-pelabuhan-iran-puluhan-kapal-dipaksa-putar-balik-sapa-malam
#donaldtrump #iran #as #asvsiran
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/666666/memanas-negosiasi-as-vs-iran-masih-buntu-trump-ultimatum-kehancuran-ini-analisis-praktisi-hi
Namun, Trump juga mengatakan ia tidak puas dengan pembicaraan terakhir bersama Iran. Meski demikian, Trump menegaskan tidak akan menghancurkan Iran, dan opsi negosiasi dengan Iran masih terbuka.
Lalu, akankah ultimatum Trump untuk menghancurkan Iran selamanya jika Iran menolak membuat kesepakatan akan benar-benar terjadi?
Simak pembahasan KompasTV bersama alumnus Rajaratnam School of International Studies NTU, Rico Marbun, serta praktisi dan pengajar hubungan internasional Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja.
Baca Juga PANAS! AS Kepung Laut ke Pelabuhan Iran, Puluhan Kapal Dipaksa Putar Balik | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/internasional/666658/panas-as-kepung-laut-ke-pelabuhan-iran-puluhan-kapal-dipaksa-putar-balik-sapa-malam
#donaldtrump #iran #as #asvsiran
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/666666/memanas-negosiasi-as-vs-iran-masih-buntu-trump-ultimatum-kehancuran-ini-analisis-praktisi-hi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Lalu akankah ultimatum Presiden Trump untuk menghancurkan Iran selamanya jika Iran menolak membuat kesepakatan tak diabaikan akan terjadi?
00:08Kami akan diskusikan ini bersama dengan para narasumber.
00:11Bergabung saat ini, alumnus Raja Ratnam School of International Studies NTU, Riko Marbun,
00:15dan praktisi sekaligus pengajar hubungan internasional dari synergy policies Dina Prapto Raharja.
00:21Selamat sore semuanya dengan Tifal disini, apa kabar?
00:24Selamat sore.
00:25Selamat sore, kabar baik.
00:26Terima kasih sudah bergabung bersama kami kali ini.
00:27Ini ada ancaman lagi yang dilayangkan oleh Trump, Mas Riko.
00:31Mau dihancurkan nih Iran atau ya bikin kesepakatan lagi?
00:34Kalau membaca ancamannya ini, ultimatum ini dalam konteks bahwa kedua negara masih perang atau malah kebalikannya?
00:41Jadi kalau saya melihat, kalau kita catat sebenarnya plus ancaman yang sekarang ini sudah tujuh kali ancaman ya.
00:48Jadi sudah tujuh kali ancaman, tujuh kali deadline, yang sampai sekarang ya kita tidak mengerti sebenarnya ujungnya itu akan seperti
00:56apa.
00:57Tapi kalau kita mau menganalisa cara Amerika berurusan dengan Iran, itu sebenarnya secara sederhana kita bisa menganalisa bagaimana mereka mengubah
01:06nama Department of Defense menjadi Department of War.
01:09Departemen Perahanan menjadi Departemen Perang.
01:12Itu artinya mereka tidak menggunakan diplomasi untuk menghindari perang, tapi mereka menggunakan perang sebagai alat diplomasi.
01:20Jadi kenyataannya sekarang ini, walaupun katanya gencatan senjata itu sudah diumumkan semenjak 7 April,
01:28tapi selama 24 jam dalam sehari, itu kekuatan militer Amerika itu justru disiagakan dan ditambah.
01:36Contohnya sekarang itu kita bisa mendengar Amerika sudah menggeser senjata terbarunya ke kawasan yaitu rudal hipersonik.
01:44Tadinya kan rudal hipersonik ini dipertontonkan oleh Rusia, dipertontonkan oleh Iran.
01:48Sekarang Amerika juga membawa, kabarnya membawa rudal itu yang dinamai dengan Dark Eagle.
01:55Harganya sekitar 30 juta USD satu rudal.
01:58Jadi itu senjata baru, kecepatannya 5 kali kecepatan suara dan itu ditambah.
02:03Kemudian yang kedua, selama gencatan senjata juga, sebenarnya Amerika sudah menambah atau mengembalikan pasokan rudal patriotnya yang tadinya itu hampir
02:15habis begitu ya.
02:17Kemudian dia juga menambah radar begitu, yang tadinya dihancurkan oleh Iran di sekitaran pangkalan militer Amerika yang ada di negara
02:26-negara kawasan.
02:28Artinya sebenarnya secara, dan juga dia mengirimkan tambahan sekitar kurang lebih 6,5 ton amunisi ke Israel.
02:35Jadi secara real memang kondisi perangnya itu masih ada dan blokade itu kan sebenarnya blokade itu...
02:45Beda bentuk saja berarti ya?
02:46Beda bentuk saja dan kita tadi dengar ya, jadi kan ini ada batasan 60 hari perang begitu ya.
02:54Tapi Hekset itu sebagai Menteri Pertahanan itu mengatakan bahwa mereka ini sebenarnya dengan mengumumkan ceasefire tanggal 7 April,
03:03itu sebenarnya perangnya sudah diberhentikan sementara, jadi nggak masuk tuh limit 60 hari.
03:08Nah entah apakah itu limit harinya di-reset ulang ya, atau kemudian waktunya berarti belum sampai 60.
03:17Ini kan akal-akalan Presiden Amerika untuk melompati barrier aturan yang memang ada di negaranya.
03:27Dan momen riset itu menurut Anda akan tetap minta persetujuan Kongres atau ya dia akan melakukan sendiri?
03:32Sebagaimana dia melakukan awal-awal perang itu tanpa persetujuan dari legislatif setempat?
03:37Kalau lihat gaya-gayanya sih sepertinya tidak ya, walaupun komunikasi itu masih terus dilakukan.
03:42Yang dia lakukan kentara sekarang ini adalah karena front perang dari Amerika ini bukan hanya di kawasan Timur Tengah,
03:50tetapi frontnya itu juga ada di dalam negeri, yaitu dalam bentuk opini publik yang dia digebukinlah setiap hari begitu ya.
03:58Nah sehingga dia perlu melakukan dua hal menurut saya.
04:03Pertama itu ada semacam show, ada semacam show atau demonstrasi keberhasilan operasional militer plus claim.
04:14Jadi kan kita bisa melihat misalnya contohnya dia mengatakan bahwa blokade itu berhasil mencekik kapal-kapal Iran yang keluar ataupun
04:27masuk.
04:27Nah claim itu tadi juga kita dengarkan mengatakan bahwa Iran sudah tidak punya angkatan udara, Iran sudah tidak punya angkatan
04:34laut.
04:35Pada dasarnya memang Iran setelah 40 juta tahun di blokade memang tidak pernah mengembangkan angkatan laut dan angkatan udara secara
04:41serius.
04:42Karena dia tahu itu pasti diselesaikan dalam waktu singkat oleh negara-negara besar.
04:46Oleh karena itu mereka berfokus kepada pertahanan udara melalui drone dan juga teknologi rudal jarak jauh.
04:55Dua itu yang mereka kembangkan.
04:57Kalau kemudian perang itu jadi gaya diplomasinya Mbak Dina, muncul fenomena baru di internal Amerika juga begini.
05:04Melihat popularitas Trump turun kalau merujuk dari polsnya Reuters dan Ipsos itu sudah di level 34%.
05:10Sementara juga di kongresnya mereka ini masih debatable masalah penambahan anggaran perangnya.
05:15Belum tentu juga suara dari Partai Republik menjadi dominan di legislatifnya AS bisa melawan dari dominasi suara publik yang menolak
05:23adanya perang ini berlanjut.
05:24Kalau kemudian Trump nekat mengabaikan suara kongres ini atau suara publik AS secara dominan, gimana nanti efeknya?
05:34Jadi sistem di Amerika Serikat adalah sistem politik presidensial.
05:39Sama saja seperti di Indonesia kalau presiden sudah bilang A dan legislatifnya karena di sana dikunci dua pihak ya ada
05:49House ada Senat dan kunci terakhir itu ada di Senat.
05:55House yang memang tipis beda suaranya antara Republikan dengan Demokrat itu memang berkali-kali berhasil ya mengajukan war power resolution.
06:05Tetapi yang bisa mengunci dan menjatuhkan verdict gitu menjatuhkan tuduhan bahwa memang Trump itu tidak kompeten dia harus minta izin
06:16itu adalah Senat.
06:18Dan Senat itu dominasi Partai Republikannya lebih besar.
06:21Jadi dan pemilu yang besok November ini bukan pemilu presidensial tapi pemilu legislatif yang akan mengganti setengah dari House dan
06:31setengah dari Senat.
06:32Sebatas mengganti komposisi.
06:35Jadi tantangannya sekarang adalah bahwa suara dari publik itu masuk ke mekanisme yang mana nih untuk Trump.
06:43Apalagi Trump ini kan bukan seseorang yang masih akan running lagi sebagai presiden.
06:47Dia secara konstitusi terakhir harusnya ya.
06:51Gak bisa milih lagi dan dia karena bukan orang partai juga dari Republikan.
06:55Saya kira dia all out aja tuh sebodoh amat gitu kan gak ada kepentingan untuk menjaga popularitas Partai Republikan.
07:03Jadi itulah yang menurut saya paling membuat frustasi sebenarnya dari publik di Amerika Serikat.
07:08Dan ada gap antara yang dilakukan elit mencari selamat juga ya para elit dari Partai Republikan.
07:16Mereka memilih untuk reses malah kemarin sesudah hari Kamis gagal lagi meloloskan war power itu.
07:24Resolution mendesak Trump untuk meminta izin.
07:30Dan malah reses gitu selama satu minggu.
07:33Jadi mereka menghindar untuk mengambil keputusan dan berada padapan langsung dengan Trump.
07:38Ya pasti alasannya alasan pribadi, alasan politik gitu ya.
07:41Untuk tetap menjaga relasi dengan Trump.
07:43Jadi menurut saya memang satu situasi yang juga membuat frustasi di Amerika Serikat.
07:49Oke, tapi di sisinya kalau kita kembali ke topik diskusi kita di awal.
07:52Mendengar ultimatumnya Trump.
07:54Pilih dihancurkan ini Iran atau kembali ke meja perundingan.
07:57Menurut Anda nanti Iran akan bereaksi sejauh mana dengan ancaman atau ultimatum itu Mbak Dina?
08:03Iran udah siap untuk perang lagi.
08:05Dan Iran juga siap untuk maju ke meja diplomasi.
08:09Karena dia sudah punya daya tawar yang baru.
08:13Pertama, kita tahu bahwa di OPEC udah pecah.
08:18Jadi Uni Emirat Arab sebagai pemain penting di OPEC yang bisa menstabilkan harga minyak.
08:23Memilih untuk keluar dari persekutuannya dengan Saudi dan rekan-rekan yang lain.
08:28Yang sebelah negara lain di OPEC.
08:30Artinya kemungkinan harga minyak itu bisa distabilkan lewat OPEC itu melemah.
08:36Dan negara teluk notabene juga nggak solid.
08:39Kemudian yang kedua, Iran itu sudah berhasil bekerjasama dengan Pakistan untuk mulai menjajaki jalur darat.
08:48Untuk tetap lolos dari embargo si Amerika Serikat di Selat Hormuz.
08:53Jadi lewat jalur Asia Tengah, masuk sampai ke China.
08:57Dia lewat kereta api.
08:58Sementara kalau untuk jalur shipping di laut, Iran itu ternyata punya akal juga ya.
09:04Dia melipir jalan di pelabuhan Pakistan.
09:08Terus sampai ke India, masuk ke Selat Malaka.
09:12Baru di Selat Malaka dia menyalakan sensornya lagi.
09:16Jadi Iran sudah punya cara untuk mengubah tata kelola permainan juga di Timur Tengah.
09:24Jadi Amerika Serikat kesan saya juga sudah antisipasikan ya.
09:28Dia sudah mulai mengalihkan sebagian dari dananya, kemudian daya serangnya kepada Israel.
09:35Dan Israel sekarang membiayai Uni Emirat Arab untuk intercept kapal-kapal dari Iran.
09:43Dan kemungkinan juga akan disiapkan untuk launching serangan dari Uni Emirat Arab.
09:50Jadi nuansanya nih agak berbeda sekarang.
09:53Dan memang intinya sih masih akan panjang sih Mas Tifal.
09:57Oke, tapi di sisi lain begini juga Mas Eko.
09:59Kalau mendengar dalihnya Trump yang terakhir kali bahwa negosiasi dengan Iran ini sulit dengan alasan kepemimpinan di Iran ini membingungkan.
10:07Jadi susah buat berunding mau sama siapa.
10:09Cukup beralasankah dalih itu makanya kemudian nego ini gak sampai pada titik temu?
10:14Jawabnya nanti kita jeda dulu ya.
10:16Tetap di Kompas TV.
10:17Melanjutkan diskusi nih Mas Eko.
10:19Kalau dalihnya Trump terakhir kali yang membuat akhirnya negosiasi sulit dengan Iran itu.
10:24Alasannya karena kepemimpinan di Iran membingungkan.
10:26Jadi susah buat berunding mau sama siapa.
10:28Beralasan gak tuh?
10:30Wah itu sangat tidak beralasan ya.
10:32Karena kalau kita lihat Abbas Araksi itu ya dia bukan politisi yang apa namanya.
10:39Dia politisi yang jelas menjalankan perintah dari IRGC.
10:43Jadi selama dia bekerja, selama dia muter ke sana kemari.
10:47Ya dia menjalankan perintah dari struktur pemerintahan rezim yang sekarang sedang berkuasa di Iran.
10:53Jadi yang Trump ingin lakukan itu adalah bahwa dia sekali lagi ingin melakukan klaim bahwa langkah-langkah militernya itu sudah
11:04berhasil memecah belah rezim yang ada di Iran sekarang.
11:08Tetapi kalau kita mau bicara jujur sebenarnya yang terjadi sekarang ini bukan negosiasi.
11:12Ini sih masih omon-omon ini.
11:14Masih ngobrol-ngobrol aja.
11:16Kalau kita ingat dulu sebenarnya Amerika itu waktu zamannya Presiden Obama itu sudah pernah melakukan negosiasi untuk mengendalikan nuklir Iran.
11:26Itulah yang dinamakan dengan JCPOA.
11:29Tahun 2013 mereka baru selesai 2015.
11:32Selama dua tahun.
11:34Dan itu pertemuannya memang sangat serius.
11:37Di pertemuan terakhir di Vienna itu John Kerry selaku Menlo Amerika pada saat itu itu sampai stay selama dua setengah
11:44pekan.
11:45Selama dua setengah pekan ketemu dengan utusan dari Iran dan tambahan lima negara besar lainnya.
11:54Itu namanya baru negosiasi.
11:55Kalau yang sekarang ini sih belum negosiasi.
11:57Ini sih masih kuat-kuatan.
11:59Ini belum ada keseriusan.
12:00Buat-buatan adu argumen masing-masing aja ya?
12:02Masih adu argumen.
12:03Tapi kalau kita lihat sebenarnya begini.
12:05Sebenarnya dari Iran sendiri itu kita sudah melihat ada tanda-tanda bahwa mereka membuka diri untuk bicara asal tuntutan.
12:13Itu jangan maksimal.
12:14Artinya begini.
12:15Kalau bicara bahwa pengayaan uraniumnya yang dikatakan itu menuju kesenjataan nuklir itu dibatasi.
12:22Itu kan pernah bisa.
12:23Dan itu bisa mereka lakukan.
12:25Tetapi kalau misalnya bicara sampai kekuatan rudalnya harus dibatasi.
12:29Itu kan sama aja bunuh diri.
12:31Dan ini secara real kita lihat di lapangan.
12:34Blokade laut yang dilakukan oleh Amerika itu kan secara teknisnya.
12:39Itu pasukan Amerika selain dia bertanya kepada kapal yang lewat.
12:43Dia itu juga bisa mengirimkan helikopternya untuk menginspeksi kapal yang lewat.
12:47Nah Anda bayangin kalau Iran itu secara serius memang melawan.
12:51Itu yang ada di kapal itu dirubah aja di tentara semua itu bisa bunuh-bunuhan itu.
12:55Tapi kan itu tidak dilakukan.
12:56Belum dilakukan gitu loh.
12:57Artinya sebenarnya pintu untuk ngobrol-ngobrol itu masih ada.
13:01Begitu.
13:02Tinggal ini disambut atau tidak oleh Trump gitu.
13:06Kalau sebetulnya karakter Iran ini memang bersedia untuk ngobrol panjang seperti ini
13:12atau akan ada nunggu action kalau dalam kondisi apa nih Mas Riko?
13:16Bisa.
13:16Jadi kalau kita ingat kita buka sejarahnya negosiasi panjang waktu zaman pemerintahan Obama itu
13:21pada pertemuan pertama kali itu semua delegasi Iran itu bicaranya pakai bahasa farsi.
13:28Jadi nggak mau ngomong pakai bahasa Inggris.
13:32Begitu sudah terjadi interaksi pada beberapa pertemuan kemudian
13:36yang itu akhirnya dihadiri juga oleh Menteri Luar Negeri Iran sekarang Rachi ya
13:41itu barulah kemudian pakai bahasa Inggris.
13:44Jadi istilahnya Iran ini sebagai negara itu mereka punya kultur politik.
13:50Itu katanya kalau kita baca saat mereka tiga utusan itu bertemu
13:55Iran itu selalu mengatakan never trade an Iranian katanya.
13:58Jadi Iran itu jangan dihancam-ancam.
14:00Kalau mereka dihancam-ancam terus ya nggak bakal ketemu ujungnya gitu.
14:04Oke.
14:05Iran tidak bisa dihancam-ancam nambah Dina.
14:08Ini berarti selama ini ya cuman lempar argumen saja,
14:12lempar pernyataan saja yang muncul selama ini begitu?
14:17Lempar argumen maksudnya dari Amerika.
14:21Amerika Serikat itu
14:24postur yang ingin disampaikan oleh Trump itu adalah dia kuat,
14:28dia dominan,
14:30dan bahwa dia menjalankan program prioritas dia.
14:33Jadi sebenarnya many times dalam banyak kesempatan saya melihat
14:37dia lebih banyak bicara itu untuk menarik perhatian dari masyarakat
14:42di dalam negerinya sendiri gitu loh.
14:44Untuk di luar negeri yang dia mau sampaikan itu lebih ke menggentarkan saja.
14:49Membuat orang itu jadi males gitu lah.
14:52Istilahnya bahkan bukan segen lagi,
14:53udah males gitu ya berhubungan dengan Amerika Serikat
14:56supaya dituruti aja.
14:58Kita ingat bahwa sejak kejadian Trump naik yang kedua kali,
15:02satu teknik yang dia gunakan adalah
15:05menyingkirkan atau bahan jual mahal terhadap para sekutu-sekutunya.
15:09Jadi, dan kemarin dia lakukan lagi kan ke Uni Eropa.
15:14Kita udah lihat kepada Jerman,
15:16Jerman makin keras nih ya mengkritik Trump,
15:19dan Trump langsung bilang kita tarik pasukan 5 ribu dari Jerman.
15:23Dan kita tahu setahun lalu, akhir tahun lalu lah ya,
15:27Jerman kan saat saya berkunjung ke sana, ke Berlin,
15:30mereka udah bilang kita bertekad untuk memenuhi biaya pertahanan
15:36yang dibutuhkan untuk memperkuat NATO dari kantongnya Jerman.
15:40Walaupun risikonya jelas, agenda lain seperti untuk masyarakatnya,
15:44untuk sosial ekonomi, itu akan terganggu.
15:47Dan ini yang sebenarnya membuat ngeri juga orang-orang yang mendengarkan,
15:51karena kalau Jerman bangkit lagi tentaranya,
15:54dan betul-betul ditinggal Amerika Serikat,
15:56ini risiko yang lebih besar, naiknya kekuatan-kekuatan
16:01yang memang senang menggunakan intervensi senjata,
16:04ini membahayakan dunia sebenarnya.
16:07Sehingga kalau kemudian perang ini berlanjut, Mbak Dina,
16:10apakah ada kemungkinan dari Amerika Serikat ini
16:12minta izin dalam tanda kutip,
16:14atau akan berdiskusi konsultasi dulu dengan negara sekutu?
16:17Saya nggak yakin.
16:19Kalau Trump itu bukan,
16:21dia lebih senang tampil sebagai tokoh yang dominan sendiri.
16:26Dan tampil sebagai pihak yang memberi inisiatif,
16:30mengarahkan, memberi direction.
16:31Jadi, bahkan kalau kita saksikan dia berkali-kali berkunjung,
16:36misalnya ke Rusia ataupun ke China,
16:39Yesur yang dia tunjukkan adalah bahwa tetap dia adalah pemain yang paling penting.
16:44Dan dengan dia melanggar aturan di dalam negerinya soal war power resolution itu,
16:49izin dari kongres itu,
16:51dia kan ingin menunjukkan bahwa untuk ke kongres pun saya nggak perlu sebenarnya.
16:55Maka dia mengelak dengan sedemikian rupa ya,
16:59sampai bilang nggak terjadi perang kok,
17:02yang ada hanya military operation.
17:04Apa coba bedanya antara military operation dengan perang gitu kan?
17:08Dan kita lihat lagi statement-statement dia sebelumnya,
17:11yang begitu agresif terhadap Iran,
17:15sebenarnya kan nggak masuk akal bilang ini bukan perang gitu.
17:18Jadi, konsultasi itu sepertinya tidak ada dalam DNA-nya Trump.
17:23Dan sekali lagi karena dia nggak bukan orang partai,
17:27dia nggak memikirkan kepentingan partainya di periode berikutnya.
17:31Dan karena dia juga kemungkinan besar nggak running lagi sebagai presiden,
17:35yaudah kita bisa berhadapan dengan situasi yang rumit.
17:39Tapi itu artinya negara-negara lain sekarang sudah mulai mengantisipasi membuat network baru.
17:45Jadi jaringan minyak, misalnya shipping, connectivity,
17:49itu sekarang mulai terbuka jalur alternatif-alternatif.
17:52Jadi selama Hormuz pun sekarang sudah mulai ditata ulang lagi ya oleh Iran.
17:57Jadi jalur yang biasanya dilewati itu kan udah dipasangi mine ya,
18:01dipasangi apa, ranjau.
18:04Nah, jalur yang alternatif dibuat itu justru mendekat ke wilayah Iran.
18:09Jadi ke depannya sebenarnya,
18:11nggak mungkin kita mengabaikan peranan Iran di kawasan sana,
18:15di Selat Hormuz.
18:16Jadi menurut saya memang yang harus diantisipasi adalah termasuk buat Indonesia,
18:20ke depan komunikasi kita dengan pihak Iran itu tak terhindarkan.
18:24Bahkan negara-negara ASEAN itu kan terbukti kita malah nggak belanja minyak dari Amerika,
18:30seperti yang dimaui Amerika kan, kita belanjanya dari Rusia.
18:33Nah itu tinggal kuat-kuatan, kita sanggup nggak kalau ditekan sama Barat,
18:37nggak boleh loh ya beli dari Rusia gitu.
18:39Jadi diplomasi kita di bidang ini juga harus jadi perhatian penting.
18:44Oke, terakhir Mas Riko, singkat saja.
18:46Kalau kemudian Trump masih akan tetap bersikeras dengan pendirian yang akan menghancurkan Iran,
18:50tetap melanjutkan perang ini, apa risikonya di mata dunia menurut Anda?
18:55Trump tidak peduli akan risiko yang dihadapi secara global begitu ya,
19:01karena memang saat dia menaik menjadi presiden,
19:05di basis maga itu, mereka ini justru menyalahkan globalis akan kesulitan ekonomi yang dirasakan oleh Amerika.
19:13Jadi mereka ini merasa bahwa Amerika ini dibebani dengan tanggung jawab,
19:17terutama tanggung jawab finansial, tanggung jawab militer yang sedemikian besarnya oleh dunia,
19:22sehingga saatnya, sudah saatnya seperti Eropa itu ya, urus diri masing-masing.
19:28Jadi Amerika tidak berpikir sejauh itu.
19:32Yang berbahaya ini adalah bagi kita.
19:34Kalau misalnya ternyata struktur global ini berubah,
19:38dan dunia ini masuk ke dalam anarki,
19:41siapa yang bisa menjamin keselamatan kita selain diri kita sendiri?
19:45Itu yang jadi pertanyaannya.
19:47Oke, Mas Riko, Mbak Dina, terima kasih banyak sudah berdiskusi bersama saya hari ini.
19:51Sehat selalu semuanya. Selamat sore.
19:52Terima kasih.
19:53Terima kasih.
Komentar