Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPASTV Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri bicara kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.

Hal ini disampaikan Megawati saat bicara di pengukuhan Gelar Profesor Emeritus untuk Arief Hidayat di Universitas Borobudur pada Sabtu (2/5/2026).

Megawati mempertanyakan kasus tersebut yang diproses di pengadilan militer.

"Tidak bolehkah yang namanya si Yunus ini, itu meminta, loh apa enggak punya hak sih? Lah tapi kenapa dibawanya ke pengadilan militer? Aneh buat saya," ujar Megawati.

Video Editor: Laurensius Galih

#megawati #andrieyunus #airkeras

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/666662/megawati-bicara-kasus-andrie-yunus-diproses-di-pengadilan-militer-aneh-buat-saya
Transkrip
00:00Ketika kantor kami di Ponegoro, itu kan diserang.
00:09Saya sampai datang ke Menteri Mendagri.
00:18Saya bertanya, partai saya itu sah kan?
00:24Sah kata dia.
00:26Nah, kenapa kalau saya diserang?
00:33Nah, ini yang ingin juga saya minta, cobalah kalian itu sebagai orang hukum harusnya juga mempunyai hati nurani yang betul
00:47-betul tidak dipermainkan oleh siapapun juga.
00:52Maksud saya adalah apa, jangan hanya dengan hukum formal, maaf kalian pemainnya menjadi jaksa, lalu hakim, dan lain sebagainya.
01:06Lalu dengan gampangnya terus, kok bisa ya untuk menentukan bahwa itu harus dilakukan dengan cara hukum.
01:17Oke, saya ikuti pada waktu itu.
01:21Karena apa?
01:22Saya diminta untuk dimasukkan ke dalam proses hukum.
01:28Nah, waktu itu hukum yang diadakan adalah hukum sipil.
01:34Dan pada kenyataannya, ternyata pada waktu itu betul-betul bahwa loh kami kan ada di rumah sendiri, kantor pun tidak
01:46mengganggu keluar.
01:47Dan saya sudah membuat, karena itu dibilang oleh sementara, oh di PDI, waktu itu masih PDI.
01:58Itu kan ini, apa, mau mimbar bebas, tidak ada ininya.
02:04Saya melakukan mimbar demokrasi, dan ada aturan-aturan yang saya buat sebagai ketua umum, bahwa tidak boleh mencaci, maki, dan
02:17lain sebagainya.
02:18Tapi secara strik adalah menyampaikan sebuah harapan apa yang diinginkan.
02:25Masa begitu lalu diserbu, akhirnya ketokannya apa?
02:34Itu adalah yang namanya harus diteruskan dengan yang namanya koneksitas antara pengadilan sipil dan pengadilan militer.
02:48Nah, saya waktu itu sebagai ketua umum, saya ini, tulis surat katanya harus ke POM, POM ABRI.
02:59Sudah sampai dua kali, tidak ada jawaban.
03:03Nah ini sebagai, saya tidak provokator loh ini, ini kejadian benar.
03:09Ya, kayaknya kalau nanti dibilang, oh Bu Mega provokator, no.
03:13Saya cinta pada negara ini, tapi saya tidak mau yang namanya negara ini diobrak-abrik oleh orang-orang yang hanya
03:23ingin merasakan kekuasaan.
03:26Mohon maaf, itu yang saya tidak mau.
03:30Nah, sampai hari ini, ini kan orang pintar-pintar semua ini, sampai ke belakang.
03:36Tolonglah berbicara, bagaimana sebenarnya yang jalannya kalau ada sebuah pengadilan, itu harus bisa koneksitas.
03:46Dan mengapa tidak dijalankan, apa aturannya kalau menolak atau apa, tidak ada sama sekali.
03:54Satu, yang kedua, saya prihatin sekali, yang masalah anak yang disiram air keras.
04:07Nah, saya lihat, saya tidak akan sebut namanya.
04:11Loh, kok lucu ya?
04:14Ini pertanyaan bagi para orang pintar.
04:17Bahwa sebenarnya kalau seperti itu, pengadilannya, apakah harus pengadilan militer ataukah pengadilan sipil?
04:26Bolehkah, bolehkah seseorang itu yang menjadi korban itu meminta melalui pengadilan, pengadilan apa yang dia inginkan?
04:38Monggo, tolong dijawab, tolong dipikirkan bahwa kok tiba-tiba masuknya ke pengadilan militer.
04:47Pusing saya, jelek-jelek, saya ini pernah yang namanya wapres.
04:53Saya ini pernah yang sampai hari ini masih disebut presiden kelima.
04:58Jadi, saya melihat hukum formal Indonesia, apakah begini ya?
05:04Hanya seenak-enaknya saja?
05:06Tidak bolehkah, tadi sama, siapa yang menyebut tadi?
05:12Saya sangat senang, dimanapun saya mengatakan, karena itu adalah bagian dari konstitusi.
05:20Setiap warga negara mempunyai hak yang sama di mata hukum.
05:25Artinya apa?
05:27Ya orang miskin, ya orang yang namanya disabel, ya orang yang mungkin juga gila, tapi dia sebenarnya ingin menentukan sesuatu
05:39bagi dirinya.
05:40Nah, mana hukum bagi mereka?
05:43Ayo jawab, kalau ada yang berani jawab.
05:47Nah, kalau saya suruh kasih lecture, saya kalau kasih lecture, saya bisa sampai 4 jam loh kalau dibolehkan.
05:57Betul, saya tantang yang namanya hadirin itu.
06:02Karena apa?
06:03Saya tidak mau republik yang telah dibuang oleh para pejuang.
06:08Kalian pernahkah ke taman makan pahlawan?
06:11Coba cari, disitu banyak yang namanya nisan tidak bernama.
06:16Saya nanya, why?
06:20Kepada pengurus, apa kata pengurus?
06:23Lu bu, ditemukannya kemungkinan sudah hancur dan lain sebagainya.
06:28Luruh hati saya.
06:30Dari kecil anak-anak saya, saya suruh ikut sama saya.
06:35Kalau ke taman makam pahlawan, saya suruh bawa bunga.
06:39Kamu cari yang namanya nisan, yang tidak ada namanya.
06:44Mereka akan bertanya, itu yang saya pancing.
06:47Jadi apa?
06:48Kalian pun harusnya berpikir seperti itu.
06:52Kalian bisa seperti ini.
06:54Kalau bukan karena mereka yang ada di taman makan pahlawan,
06:58ataupun yang dimana saja,
07:01yang telah ikut berjuang untuk memerdekakan Republik Indonesia ini.
07:06Hah?
07:06Sekarang lupa.
07:09Betul enggak?
07:10Tepok tangannya kan enggak meriah.
07:15Loh iya, menunjukkan kalian itu bukan lagi punya namanya rasa pejuang.
07:22Kalau sementara nanti, saya sampai ketawa.
07:27Masa sih yang namanya perang Iran ini,
07:30saya diajari sama bapak saya geopolitik.
07:33Coba, kalau tiba-tiba nyerang ke kita juga.
07:36Kalian mau.
07:38Jadi ininya, apa namanya?
07:41Apa kalau ini?
07:46Sukarelawan.
07:55Saya kalau melihat suka aduh kenapa sih orang Indonesia sekarang lemes ya.
08:00Maunya tuh diapain?
08:02Maaf beribu maaf.
08:04Harus maunya mencari kedudukan, uang.
08:08Wah gimana Republik ini?
08:10Tidak ada yang namanya ketika Bung Karno mengatakan kita mesti membuat Indonesia itu dengan apa?
08:19Nation dan apa?
08:21Character building.
08:23Untuk punya karakter.
08:26Saya kalau maaf ya, nanti kalau udah dibilang oh Ibu Mega tuh komunis.
08:31Enak aja.
08:33Emangnya gitu.
08:35Loh marhenisme dibilang komunis.
08:38Loh, monggo kesana.
08:41Itu adalah makamnya seorang petani marhen.
08:46Yang ketika bapak saya menanyakan kepada dia bagaimana kehidupan dia.
08:52Maka dia berkata, semuanya saya punya.
08:56Tanah iya, uang ada, beras ada.
08:59Tapi tidak bisa, hanya itu cukupnya saya.
09:03Makanya ide itu oleh Bung Karno dinamakan marhenisme untuk apa?
09:08Setiap warga negara Indonesia mestinya mempunyai yang namanya kehidupan setidaknya seperti yang namanya Bapak Marhen itu.
09:22Sekarang,
09:26Sekarang,
09:29Sekarang apa?
09:32Yang nama pinjol lah.
09:36Loh ya?
09:38Itu apa tidak ada yang melindungi?
09:41Ada.
09:42Jangan bohong loh.
09:45Ini yang ngomong presiden kelima loh.
09:47Ada.
09:49Tidak ada yang tupuk tangan tau, pedih kan?
09:52Berarti ada yang pada ikut pinjol.
09:57Online.
09:59Loh saya tuh mikir kipi itu maunya.
10:02Hah?
10:02Coba dong pikirkan.
10:04Anak-anak kecil baru keluarkan.
10:08Kapan itu ya?
10:10Apa?
10:11Pelarangan untuk tidak boleh ini, apa, dari HP-nya.
10:21Loh ya itu betul sekali.
10:23Gimana anak umur berapa?
10:26Melakukan perundungan dan lain sebagainya.
10:29Bagaimana ibu-ibu?
10:31Tolong dong lihat anak-anaknya.
10:34Kenapa sampai bisa dirundung?
10:39Kenapa sekarang ibu-ibu itu lalu yang dipikirkan apa?
10:45Saya juga ibu-ibu loh.
10:47Saya melihara anak.
10:49Semuanya alhamdulillah.
10:51Cucuk saya tujuh.
10:54Mau sudah
10:57bulan ini
11:00yang dapat gelar jadi enam.
11:03Tinggal satu karena umurnya lebih pendek,
11:06lebih, apa,
11:08lebih jauh dari kakak-kakaknya.
11:16Kecepatan informasi dan akurasi data adalah komitmen kami.
11:21Satu langkah lebih dekat,
11:22satu langkah lebih terpercaya.
11:25Saksikan Sapa Indonesia Malam
11:27di Kompas TV Channel 11
11:29di televisi Anda.
Komentar

Dianjurkan