00:00Ketika kantor kami di Ponegoro, itu kan diserang.
00:09Saya sampai datang ke Menteri Mendagri.
00:18Saya bertanya, partai saya itu sah kan?
00:24Sah kata dia.
00:26Nah, kenapa kalau saya diserang?
00:33Nah, ini yang ingin juga saya minta, cobalah kalian itu sebagai orang hukum harusnya juga mempunyai hati nurani yang betul
00:47-betul tidak dipermainkan oleh siapapun juga.
00:52Maksud saya adalah apa, jangan hanya dengan hukum formal, maaf kalian pemainnya menjadi jaksa, lalu hakim, dan lain sebagainya.
01:06Lalu dengan gampangnya terus, kok bisa ya untuk menentukan bahwa itu harus dilakukan dengan cara hukum.
01:17Oke, saya ikuti pada waktu itu.
01:21Karena apa?
01:22Saya diminta untuk dimasukkan ke dalam proses hukum.
01:28Nah, waktu itu hukum yang diadakan adalah hukum sipil.
01:34Dan pada kenyataannya, ternyata pada waktu itu betul-betul bahwa loh kami kan ada di rumah sendiri, kantor pun tidak
01:46mengganggu keluar.
01:47Dan saya sudah membuat, karena itu dibilang oleh sementara, oh di PDI, waktu itu masih PDI.
01:58Itu kan ini, apa, mau mimbar bebas, tidak ada ininya.
02:04Saya melakukan mimbar demokrasi, dan ada aturan-aturan yang saya buat sebagai ketua umum, bahwa tidak boleh mencaci, maki, dan
02:17lain sebagainya.
02:18Tapi secara strik adalah menyampaikan sebuah harapan apa yang diinginkan.
02:25Masa begitu lalu diserbu, akhirnya ketokannya apa?
02:34Itu adalah yang namanya harus diteruskan dengan yang namanya koneksitas antara pengadilan sipil dan pengadilan militer.
02:48Nah, saya waktu itu sebagai ketua umum, saya ini, tulis surat katanya harus ke POM, POM ABRI.
02:59Sudah sampai dua kali, tidak ada jawaban.
03:03Nah ini sebagai, saya tidak provokator loh ini, ini kejadian benar.
03:09Ya, kayaknya kalau nanti dibilang, oh Bu Mega provokator, no.
03:13Saya cinta pada negara ini, tapi saya tidak mau yang namanya negara ini diobrak-abrik oleh orang-orang yang hanya
03:23ingin merasakan kekuasaan.
03:26Mohon maaf, itu yang saya tidak mau.
03:30Nah, sampai hari ini, ini kan orang pintar-pintar semua ini, sampai ke belakang.
03:36Tolonglah berbicara, bagaimana sebenarnya yang jalannya kalau ada sebuah pengadilan, itu harus bisa koneksitas.
03:46Dan mengapa tidak dijalankan, apa aturannya kalau menolak atau apa, tidak ada sama sekali.
03:54Satu, yang kedua, saya prihatin sekali, yang masalah anak yang disiram air keras.
04:07Nah, saya lihat, saya tidak akan sebut namanya.
04:11Loh, kok lucu ya?
04:14Ini pertanyaan bagi para orang pintar.
04:17Bahwa sebenarnya kalau seperti itu, pengadilannya, apakah harus pengadilan militer ataukah pengadilan sipil?
04:26Bolehkah, bolehkah seseorang itu yang menjadi korban itu meminta melalui pengadilan, pengadilan apa yang dia inginkan?
04:38Monggo, tolong dijawab, tolong dipikirkan bahwa kok tiba-tiba masuknya ke pengadilan militer.
04:47Pusing saya, jelek-jelek, saya ini pernah yang namanya wapres.
04:53Saya ini pernah yang sampai hari ini masih disebut presiden kelima.
04:58Jadi, saya melihat hukum formal Indonesia, apakah begini ya?
05:04Hanya seenak-enaknya saja?
05:06Tidak bolehkah, tadi sama, siapa yang menyebut tadi?
05:12Saya sangat senang, dimanapun saya mengatakan, karena itu adalah bagian dari konstitusi.
05:20Setiap warga negara mempunyai hak yang sama di mata hukum.
05:25Artinya apa?
05:27Ya orang miskin, ya orang yang namanya disabel, ya orang yang mungkin juga gila, tapi dia sebenarnya ingin menentukan sesuatu
05:39bagi dirinya.
05:40Nah, mana hukum bagi mereka?
05:43Ayo jawab, kalau ada yang berani jawab.
05:47Nah, kalau saya suruh kasih lecture, saya kalau kasih lecture, saya bisa sampai 4 jam loh kalau dibolehkan.
05:57Betul, saya tantang yang namanya hadirin itu.
06:02Karena apa?
06:03Saya tidak mau republik yang telah dibuang oleh para pejuang.
06:08Kalian pernahkah ke taman makan pahlawan?
06:11Coba cari, disitu banyak yang namanya nisan tidak bernama.
06:16Saya nanya, why?
06:20Kepada pengurus, apa kata pengurus?
06:23Lu bu, ditemukannya kemungkinan sudah hancur dan lain sebagainya.
06:28Luruh hati saya.
06:30Dari kecil anak-anak saya, saya suruh ikut sama saya.
06:35Kalau ke taman makam pahlawan, saya suruh bawa bunga.
06:39Kamu cari yang namanya nisan, yang tidak ada namanya.
06:44Mereka akan bertanya, itu yang saya pancing.
06:47Jadi apa?
06:48Kalian pun harusnya berpikir seperti itu.
06:52Kalian bisa seperti ini.
06:54Kalau bukan karena mereka yang ada di taman makan pahlawan,
06:58ataupun yang dimana saja,
07:01yang telah ikut berjuang untuk memerdekakan Republik Indonesia ini.
07:06Hah?
07:06Sekarang lupa.
07:09Betul enggak?
07:10Tepok tangannya kan enggak meriah.
07:15Loh iya, menunjukkan kalian itu bukan lagi punya namanya rasa pejuang.
07:22Kalau sementara nanti, saya sampai ketawa.
07:27Masa sih yang namanya perang Iran ini,
07:30saya diajari sama bapak saya geopolitik.
07:33Coba, kalau tiba-tiba nyerang ke kita juga.
07:36Kalian mau.
07:38Jadi ininya, apa namanya?
07:41Apa kalau ini?
07:46Sukarelawan.
07:55Saya kalau melihat suka aduh kenapa sih orang Indonesia sekarang lemes ya.
08:00Maunya tuh diapain?
08:02Maaf beribu maaf.
08:04Harus maunya mencari kedudukan, uang.
08:08Wah gimana Republik ini?
08:10Tidak ada yang namanya ketika Bung Karno mengatakan kita mesti membuat Indonesia itu dengan apa?
08:19Nation dan apa?
08:21Character building.
08:23Untuk punya karakter.
08:26Saya kalau maaf ya, nanti kalau udah dibilang oh Ibu Mega tuh komunis.
08:31Enak aja.
08:33Emangnya gitu.
08:35Loh marhenisme dibilang komunis.
08:38Loh, monggo kesana.
08:41Itu adalah makamnya seorang petani marhen.
08:46Yang ketika bapak saya menanyakan kepada dia bagaimana kehidupan dia.
08:52Maka dia berkata, semuanya saya punya.
08:56Tanah iya, uang ada, beras ada.
08:59Tapi tidak bisa, hanya itu cukupnya saya.
09:03Makanya ide itu oleh Bung Karno dinamakan marhenisme untuk apa?
09:08Setiap warga negara Indonesia mestinya mempunyai yang namanya kehidupan setidaknya seperti yang namanya Bapak Marhen itu.
09:22Sekarang,
09:26Sekarang,
09:29Sekarang apa?
09:32Yang nama pinjol lah.
09:36Loh ya?
09:38Itu apa tidak ada yang melindungi?
09:41Ada.
09:42Jangan bohong loh.
09:45Ini yang ngomong presiden kelima loh.
09:47Ada.
09:49Tidak ada yang tupuk tangan tau, pedih kan?
09:52Berarti ada yang pada ikut pinjol.
09:57Online.
09:59Loh saya tuh mikir kipi itu maunya.
10:02Hah?
10:02Coba dong pikirkan.
10:04Anak-anak kecil baru keluarkan.
10:08Kapan itu ya?
10:10Apa?
10:11Pelarangan untuk tidak boleh ini, apa, dari HP-nya.
10:21Loh ya itu betul sekali.
10:23Gimana anak umur berapa?
10:26Melakukan perundungan dan lain sebagainya.
10:29Bagaimana ibu-ibu?
10:31Tolong dong lihat anak-anaknya.
10:34Kenapa sampai bisa dirundung?
10:39Kenapa sekarang ibu-ibu itu lalu yang dipikirkan apa?
10:45Saya juga ibu-ibu loh.
10:47Saya melihara anak.
10:49Semuanya alhamdulillah.
10:51Cucuk saya tujuh.
10:54Mau sudah
10:57bulan ini
11:00yang dapat gelar jadi enam.
11:03Tinggal satu karena umurnya lebih pendek,
11:06lebih, apa,
11:08lebih jauh dari kakak-kakaknya.
11:16Kecepatan informasi dan akurasi data adalah komitmen kami.
11:21Satu langkah lebih dekat,
11:22satu langkah lebih terpercaya.
11:25Saksikan Sapa Indonesia Malam
11:27di Kompas TV Channel 11
11:29di televisi Anda.
Komentar