- 2 hari yang lalu
- #as
- #iran
- #selathormuz
- #perang
KOMPAS.TV - Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata diperpanjang tanpa batas waktu. Namun, Iran tetap waspada dan siaga perang karena Amerika Serikat masih melanjutkan blokade di Selat Hormuz.
Bukankah berlanjutnya blokade Selat Hormuz justru berpotensi memicu ketegangan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran, serta menimbulkan kerugian global?
Simak pembahasan KompasTV bersama Guru Besar Politik Timur Tengah UIN Jakarta, Ali Munhanif, serta dosen Ilmu Hubungan Internasional BINUS University, Tia Mariatul Kibtiah.
Baca Juga Tegas! Presiden Prancis Macron Desak Israel Akhiri Ambisi Teritorial di Lebanon dan Tarik Pasukan di https://www.kompas.tv/internasional/664700/tegas-presiden-prancis-macron-desak-israel-akhiri-ambisi-teritorial-di-lebanon-dan-tarik-pasukan
#as #iran #selathormuz #perang
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/664763/panas-gencatan-senjata-tanpa-batas-dan-as-blokade-hormuz-iran-siap-perang-ini-deret-analisisnya
Bukankah berlanjutnya blokade Selat Hormuz justru berpotensi memicu ketegangan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran, serta menimbulkan kerugian global?
Simak pembahasan KompasTV bersama Guru Besar Politik Timur Tengah UIN Jakarta, Ali Munhanif, serta dosen Ilmu Hubungan Internasional BINUS University, Tia Mariatul Kibtiah.
Baca Juga Tegas! Presiden Prancis Macron Desak Israel Akhiri Ambisi Teritorial di Lebanon dan Tarik Pasukan di https://www.kompas.tv/internasional/664700/tegas-presiden-prancis-macron-desak-israel-akhiri-ambisi-teritorial-di-lebanon-dan-tarik-pasukan
#as #iran #selathormuz #perang
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/664763/panas-gencatan-senjata-tanpa-batas-dan-as-blokade-hormuz-iran-siap-perang-ini-deret-analisisnya
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara Amerika Serikat umumkan gencatan senjata diperpanjang tanpa batas waktu, tapi Iran tetap waspada dan siaga perang karena Amerika Serikat
00:08tetap melanjutkan blokade Selat Hormuz.
00:11Bukankah berlanjutnya blokade Selat Hormuz malah bakal memicu ketegangan lanjutan Amerika Serikat dan Iran dan menimbulkan kerugian global.
00:20Kita akan ulas bersama dengan guru besar politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia atau maksud kami dari UIN Jakarta yakni
00:28ada Ali Mun Hanif dan juga dosen ilmu hubungan internasional BINUS University Tia Maria Tulkip Tia.
00:37Selamat pagi Pak Ali dan juga Bu Tia.
00:43Selamat pagi Mbak Adisti.
00:45Ya saya ingin bertanya dulu ke Bu Tia.
00:50Bu Tia kalau ini kan kita melihat jadinya Amerika Serikat melakukan standar ganda begitu ya memperpanjang gencatan senjata tapi kemudian
00:59di sisi lain blokade masih diberlakukan di Selat Hormuz oleh Amerika Serikat.
01:04Apa yang tengah dilakukan oleh Amerika Serikat ini bukannya justru memperkeruh adanya negosiasi di jilid kedua?
01:15Putih ya?
01:16Ya sebetulnya saya melihat ini ada tekanan psikologis ke Iran ya.
01:20Karena pada awalnya kan Iran sudah bersedia sebetulnya kembali ke perundingan.
01:24Kemudian kapal kargonya Iran kan itu diserang begitu ya.
01:29Dari situ Iran sangat emosional dan tidak ingin kembali ke perundingan.
01:34Kemudian tim dari Amerika Serikat sudah jalan sebetulnya menuju ke Islam.
01:40Hanya saja ketika Amerika Serikat melakukan penyerangan ke kargo Iran, Iran ini mengalami ketidakpercayaan terhadap apa yang berlaku oleh Amerika
01:48Serikat.
01:49Ditambah lagi ternyata ada blokade ganda jadinya Mbak Adisti.
01:54Sebetulnya di Selat Hormuz ketika Iran sebagai manajer itu yang mengatur Selat Hormuz itu sebetulnya fine-fine aja ya.
02:02Karena beberapa negara dari Uni Eropa termasuk juga Cina itu bisa melalui Selat.
02:07Jadi Iran hanya menyebutkan tidak boleh dilewati oleh Amerika Serikat, Israel dan negara-negara yang dianggap pro terhadap mereka.
02:14Kan begitu ya.
02:15Jadi sebetulnya tidak ada masalah.
02:17Tapi ketika terjadi blokade oleh pihak Amerika Serikat, ya jadi akhirnya ini menimbulkan satu ketidakpercayaan Iran dan Iran ragu kalau
02:27kembali ke perundingan itu tidak akan menghasilkan deal.
02:29Awalnya permasalahan itu seperti itu.
02:31Ketika Iran ternyata tegas tidak mau kembali ke perundingan, Amerika melawannya itu dengan tekanan psikologis.
02:38Dengan menyebutkan bahwa ada perpanjangan si Spire yang tidak ada batas waktu.
02:43Nah ini tentu akan berakibat atau memberikan efek yang luar biasa terhadap perekonomian global begitu.
02:52Dan kita semua sekarang saat ini menunggu dengan was-was begitu ya.
02:56Karena efeknya juga terutama ke Asia Tenggara sangat signifikan mbak.
03:01Kalau ke Uni Eropa misalnya hanya sekitar 20 persen, ke Asia itu sekitar 80 persen efek daripada Selat Hormuz ini.
03:08Terutama ke Indonesia ya.
03:10khawatirnya memang akan terjadi inflasi.
03:13Karena pemerintah saat ini mengambil sikap baru pada sebatas menaikkan harga BBM yang non-subsidi ya.
03:22Khawatirnya yang subsidi juga lama-kelamaan ditarik ini dengan posisi ketidakpastian perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.
03:30Maka ke depan mudah-mudahan ya Islamabad kabarnya nih mbak, Islamabad mencoba approach terhadap Amerika Serikat.
03:39Kemudian melakukan pembicaraan kedua belah pihak supaya Amerika Serikat tidak melakukan tindakan apapun.
03:46Tidak melakukan tindakan provokatif untuk menyerang kargo-kargonya Iran.
03:50Kemudian mencoba untuk tidak intervensi terhadap pelabuhan Iran.
03:54Dengan kondisi demikian diharapkan Iran mau kembali ke perundingan.
03:57Kabarnya demikian mbak, mudah-mudahan benar ya.
03:59Sehingga kalau misalnya Amerika Serikat mengambil tindakan silent, tidak melakukan tindakan provokatif,
04:06Iran mau kembali ke perundingan.
04:09Demikian mbak Adisti.
04:10Oke kalau dari Prof Ali sendiri bagaimana perspektif Anda dari sisi politik di Timur Tengah?
04:15Kalau dari perspektifnya Butia mengatakan ini adalah upaya Amerika Serikat untuk menekan secara psikologis dan juga dari sisi ekonomi kepada
04:24Iran.
04:25Nah bagaimana sikap Iran ini sendiri?
04:27Karena kita tahu apa yang kemudian dilakukan oleh Iran saat ini untuk tidak mau maju lagi ke perundingan jilid 2,
04:34ini akan berpengaruh besar terhadap dunia.
04:37Terima kasih mbak Basri.
04:39Benar apa yang disampaikan oleh mbak Tia tadi,
04:43yakni bahwa hilangnya trust dari kedua belah pihak terutama pada sisi Iran,
04:50saya kira menjadi semacam blok sendiri,
04:54satu mental blok tersendiri untuk maju lagi ke perundingan jilid 2.
04:58Jadi sebagaimana kita bisa prediksi bahwa perundingan yang awal itu,
05:05yang jeda atau ketengannya ngecatas-senjata selama 2 minggu itu sebenarnya sudah bisa diprediksi akan gagal.
05:12Gagalan pertama adalah tuntutan Iran,
05:1610 poin yang diajukan ke dalam meja perundingan itu,
05:21mestinya dinegosiasikan,
05:22tetapi itu terlalu merugikan pada pihak Amerika,
05:27dan sebaliknya pihak Amerika juga merasa bahwa keperangan ini dimenangkan oleh Trump dan pasukan militernya.
05:36Jadi disitu sebenarnya dua-duanya ini ingin menarik garis bahwa perundingan adalah untuk menentukan siapa yang menang.
05:48Nah disitu sangat sulit untuk bisa kita pastikan bahwa perundingan yang akan digagas oleh Trump
05:57dengan kencatan-senjata perpanjangan ini,
05:59akan berhasil mengambil hati Iran untuk bisa maju ke perundingan lagi.
06:04Karena apa?
06:05Semata-mata karena kedua belah pihak ingin menjadikan perundingan ini bukan untuk menyelesaikan sengketa tentang timur tengah,
06:15tentang blokade horus dan sebagainya,
06:16tapi 10 poin tadi itu sebenarnya ingin menunjukkan bahwa peperangan dimenangkan oleh Iran dengan tenturan yang sekian-sekian.
06:26Sementara Amerika juga, Trump terutama, ingin mendeklarasikan di dalam negerinya bahwa peperangan ini dimenangkan oleh Amerika.
06:36Dalam kontak inilah saya kira sulit bagi kedua belah pihak untuk maju ke perundingan yang untuk kesekian kalinya.
06:43Semata-mata tidak ingin saling mengkhianati, saling dikalahkan, dan seterusnya.
06:51Nah, apa yang terjadi sebenarnya adalah kesalahan Trump dalam membaca peperangan ini dari eskalasi awalnya terhadap Iran.
07:00Jadi, dengan tuntutan uranium yang gagal, lalu kemudian rejim-jim yang gagal lagi, lalu kemudian berdebatan mengenai hormus, pembebasan hormus,
07:13dan sebagainya.
07:13Itu semuanya salah dari segi data-data intelligence yang dikumpulkan untuk melakukan apakah dengan serangan-serangan yang berbebit-bebit ini
07:24akan melemahkan Iran.
07:26Ternyata tidak.
07:26Dan kalau kita lihat suasana di Iran yang sekarang ini, di sejumlah kota misalnya, Iran betul-betul percaya diri untuk
07:36terus meneruskan konflik peperangan ini dengan dukungan yang sangat luar biasa dari masyarakat.
07:44Berakhirnya, kegiatan sejak dua minggu ini dirayakan di setiap kota di Iran.
07:49Kota-kota besar, tujuh atau lapan kota terbesar di Iran, rakyat turun ke jalan, bawah yang mendukung apapun keputusan pemerintah
07:57yang diambil untuk melawan Amerika.
07:59Yang kedua, garda revolusi Islam Iran itu menunjukkan semacam rudal yang paling sangat peace untuk bisa melawan Amerika dalam melanjutkan
08:16perang.
08:16Itu berarti bahwa sejauh yang kita lihat data-data di lapangan, Iran tetap ingin melanjutkan ini dalam apapun bentuknya, entah
08:27diplomasi, entah perangan, dengan klaim bahwa perangan dimenakan oleh Iran.
08:32Sebaliknya, Trump tidak akan melangkah ke situ, dan disitulah saya kira kita tidak tahu pasti apakah betul-betul ada kencatan
08:40senjata sekarang ini.
08:41Nyatanya misalnya Amerika sedang mengirim tiga kapal induknya di sejumlah titik strategis di Timur Tengah.
08:51Tidak sepenuhnya di Gerbang Hormuz, tapi kira-kira ada di Samudera India, lalu kemudian di sebelah, menjelang masuk peturusan Suez,
09:02dan seterusnya.
09:03Ada satu presiden yang tidak pernah terjadi, tiga kapal induk dikumpulkan menuju Timur Tengah atau satu kawasan, kecuali ada alasan
09:13tertentu.
09:14Nah alasnya itu adalah saya kira, jangan-jangan perpanjangan kencatan senjata ini yang terbatas ini akan persiapan bagi Amerika untuk
09:25melakukan serangan kejutannya,
09:28surprise attack terhadap Iran, mungkin tidak dalam pengertian terjun serangan darat atau mungkin juga serangan udara,
09:37tetapi saya kira akan terjadi multi-front attack terhadap Iran yang dalam waktu dekat akan kita lihat apakah kalau misalnya
09:49penolakan terus-menerus dilakukan oleh Iran
09:51untuk maju ke perundingan itu tidak terjadi, maka serangan itu akan bisa dilakukan.
09:57Oke, menarik pernyataan Prof. Ali terkait dengan adanya upaya Presiden Donald Trump untuk memperpanjang kencatan senjata,
10:06ini yang kemudian dipertanyakan apakah benar perpanjangan kencatan senjata ini murni dilakukan,
10:12ataukah kemudian ini adalah strategi Presiden Donald Trump untuk memperpanjang atau mengulur waktu
10:18agar Amerika Serikat bersiap untuk kemudian melakukan surprise attack atau serangan kejutan kepada Iran
10:27ketika Iran ini tidak mau atau ogah dalam tanda kutip begitu ya ke meja perundingan.
10:34Kalau menurut Mbak Tia, seperti itukah yang saat ini strategi yang dilakukan oleh Amerika Serikat?
10:40Ya, mudah-mudahan tidak ke arah sana ya, arahnya memang betul-betul posisinya Amerika Serikat itu sedang membutuhkan Iran
10:48karena Iran tidak mau kembali ke meja perundingan, karena saat ini posisi Amerika Serikat juga sudah tidak bagus Mbak Adisti
10:57dalam berbagai perspektif dari kondisi domestik di Amerika, dari dukungan internasional, dari negara-negara aliansi,
11:05kemudian ya yang tersisa mungkin kita melihat saat ini hanya Amerika dan Israel begitu.
11:10Semua aliansinya tidak ada yang mendukung bahkan Gulf Countries yang menjadi harapan terakhir Amerika Serikat
11:17untuk join dalam perang ini juga akhirnya memilih silent, memilih diam.
11:21Uni Emirat sekarang sudah mengeluarkan pernyataan dan Cina juga sudah mulai bergerilia di kawasan Gulf Countries.
11:28Artinya memang ada perubahan sikap juga dari Gulf Countries ini ketika Cina masuk ke dalam area
11:33kawasan begitu ya, ke dalam area Gulf Countries, statement-statement dari beberapa pimpinan negara teluk itu mulai berubah
11:43yang awalnya cukup mendukung Amerika Serikat, saat ini mereka memilih diam, bahkan ada beberapa yang menyatakan bahwa harus diakhiri segera
11:52begitu.
11:52Artinya memang sudah tidak ada pilihan untuk Amerika Serikat.
11:55Ketika Iran tidak mau kembali ke meja perundingan, maka tekanan yang dilakukan adalah dengan menyatakan si Spire yang tidak ada
12:03batas waktu.
12:04Nah tapi memang dari pihak Iran harus tetap hati-hati, karena kan memang si Trump ini tidak bisa diprediksi ya,
12:12tidak bisa dipegang, tidak konsisten.
12:15Ya hari ini dia menyatakan si Spire, oke thank you Iran, terima kasih sudah mengirimkan kapal-kapal apa juga tidak
12:22jelas begitu.
12:22Bahkan dia sudah beberapa kali memberikan pernyataan yang itu sepertinya aneh dan tidak mungkin dilakukan Iran.
12:29Nah pernyataan-pernyataan tersebut tidak bisa dipegang, sama seperti Israel ketika sedang berunding di Swiss tiba-tiba menyerang.
12:36Bisa jadi juga dari Prof Ali ini bisa dibenarkan tiba-tiba Iran menyerang di antara jeda si Spire ini, sorry
12:47Amerika menyerang Iran.
12:48Iya tiba-tiba bisa saja menyerang dan memang harus tetap ada hati-hati, hanya saja saya melihatnya mudah-mudahan ini
12:56ya, tidak ke arah sana dan Pakistan tetap melakukan approach terhadap Amerika Serikat untuk tidak melakukan tindakan apapun.
13:03Jadi si Pakistan ini di tengah-tengah dia bicara dengan Amerika untuk tidak melakukan serangan terhadap kapal Iran, tidak melakukan
13:11tindakan provokatif dan dia juga bicara dengan Iran supaya kembali ke perundingan.
13:17Kemudian memastikan Iran supaya percaya terhadap perundingan ini bahwa Amerika tidak akan melakukan tindakan provokatif.
13:23Jika lobi-lobi Pakistan ini berhasil, maka perundingan RON2 ini bisa terlaksana sebetulnya.
13:30Tapi jika Amerika kembali melakukan tindakan provokatif di Hormuz, Iran akan semakin keras.
13:36Karena mendekati Iran itu tidak bisa dengan cara yang dilakukan oleh Trump saat ini.
13:41Misalnya tiba-tiba menyerang, menekan secara psikologis, kemudian mempressure.
13:46Kalau tidak saya mau ini, kalau tidak tidak bisa.
13:48Iran itu memang harus dilakukan approach yang sangat lembut dan justru harus memberikan pernyataan-pernyataan yang memang membuat Iran percaya.
13:57Nah ini harus dilakukan Amerika Serikat.
13:59Karena bukan persoalan negara besar Amerika Serikat ini.
14:03Masalahnya Amerika Serikat saat ini sudah tidak ada pilihan.
14:07Sudah mau mendekati ke midterm election juga.
14:11Jadi memang harus membuat Iran kembali.
14:15Dan caranya adalah jangan melakukan tindakan penyerangan.
14:20Kalau sampai Amerika sekali saja menyerang Iran, saya tidak yakin akan terjadi perundingan.
14:26Bisa jadi ini akan panjang sekali dan dunia internasional tidak akan diam karena efeknya ini akan luar biasa terhadap perekonomian
14:33global.
14:34Oke, tapi kemudian kita tahu juga sikap atau karakter dari seorang Donald Trump ini tetap akan keeping face, menjaga muka.
14:43Amerika Serikat tidak mungkin dikatakan kalah dalam tanda kutip.
14:47Amerika Serikat adalah negara yang dominan dan juga adidaya begitu ya.
14:51Ada beberapa upaya atau strategi yang kemudian dilakukan oleh Donald Trump untuk bisa keeping face.
14:58Salah satunya adalah yang saat ini tengah dinarasikan atau diungkapkan Trump adalah pihak Iran ini siap damai.
15:07Di satu sisi kemudian bahkan di satu sisi ada pihak yang ingin damai gitu ya dari Iran.
15:15Tapi di satu sisi ada sikap Iran yang ingin tetap berperang.
15:19Iran terbelah begitu.
15:21Apakah propaganda semacam ini efektif dilakukan oleh Amerika Serikat kepada Iran yang kita tahu Iran saat ini sedang selebrasi kemarin.
15:32Bagaimana Prof Ali melihat ini?
15:37Terima kasih Mbak Tia untuk mengingatkan bahwa sebenarnya memang harapan kita semua tentu saja adalah bahwa jalan damai dan perundingan
15:48menjadi satu alternatif
15:50yang mungkin kan untuk bisa dicapai dalam konteks meredam konflik Timur Tengah sekarang ini.
15:56Nah sehingga apa yang menjadi sikap, menjadi dasar dari sikap Iran selama ini adalah bahwa saat ini Iran menjadi pengendali
16:09utama dalam asrimetik war.
16:11Artinya konflik asimetris yang terjadi antara Iran dan Amerika itu berhasil dimaikan sedemikian rupa.
16:19Bukan dengan peperangan, tapi dengan cara satu menarik ulur waktu, lalu kemudian perlawanan yang terlihat dan seterusnya.
16:29Lalu menghasilkan tekanan internasional, tekanan dalam negara Trump.
16:34Jujur pada dasarnya respek inilah yang sekarang ini dimanfaatkan oleh Iran untuk melakukan tekanan terhadap Amerika.
16:41Bahwa perundingan, kalau memang Anda inginkan, harus didasarkan pada keinginan menjadikan kita ini dalam posisi yang seimbang.
16:52Bahwa Anda melakukan kecehatan dan kita bertahan dan kita menang.
16:56Nah disitu sebenarnya ada level kompromi juga sebenarnya bagi Iran.
17:02Harus kita akui ada kelompok-kelompok dalam pengambil kebijakan pertahanan di Iran yang memang sangat radikal, termasuk di dalamnya adalah
17:10Garda Revolusi Islam Iran.
17:12Tetapi ada level juga yang sebenarnya lebih kompromis.
17:16Yang itu bisa kita lihat misalnya kelompok-kelompok para ulama, lalu kemudian juga pengambil kebijakan sipil, termasuk menteri luar negerinya.
17:27Jadi ada level keinginan untuk kompromi. Misalnya saja ya kita lihat bagaimana Kistan memperlopori mediasi, mendorong perundingan, dan berhasil membawa
17:39Iran untuk mau berunding mengajukan 10 proposal.
17:4310 proposal itu sendiri sebagai suatu tuntunan ekstrim, karena itu menunjukkan kekalahan Amerika, menampilkan Amerika pada pihak yang kalah.
17:52Nah, tapi bahwa dia mengajukan proposal pun ada calah itu, untuk bisa dipakai sebagai panggilan atau undangan Iran untuk maju
18:04ke perundingan.
18:05Nah, tapi ketika proposal itu diajukan, lalu kemudian Wapresnya meninggalkan Pakistan tanpa ada pesan apa,
18:14Iran juga makin lama semakin menunjukkan bahwa kita berada dalam posisi yang leading sekarang ini, untuk bisa mengarahkan konflik ini
18:25akan berhasil.
18:26Dan disitulah, Iran saya kira memang sejauh ini tidak menunjukkan suatu sikap eskalasi maupun mengancam.
18:35Justru Amerika yang selalu mengancam ya.
18:37Amerika, Iran tidak pernah mengalami, tapi dia mengajukan syarat-syarat untuk bisa dipakai sebagai landasan perundingan tadi itu.
18:45Salah satu syaratnya misalnya sekarang ini ada tawaran perpanjangan gencatan senjata tak terbatas oleh Trump.
18:52Tetapi sikap Amerika yang terus-menerus memblokade Selat Hormuz, yang menjadi urat nanti ekonomi Iran,
18:59menjadi poin yang saya kira harus diperbincangkan secara serius.
19:06Apakah kalau misalnya tidak lagi memblokade menjadi kerugian tersendiri ya buat Amerika?
19:15Karena disitulah sebenarnya Iran bisa menampilkan diri sebagai pihak perundingan yang sama-sama diuntungkan ketika menyusun
19:26atau katakanlah membuat set parameter bapan perundingan akan dilakukan, bagaimana, lalu kemudian apa yang akan dicapai.
19:35Tentu saja 10 poin tadi itu sangat berat, tetapi setidaknya kalau kita berhasil...
19:39Ada beberapa poin yang bisa dimungkinkan untuk bisa kompromiskan.
19:43Itu sudah bagus. Dan itu semua sangat bergantung pada Donald Trump untuk bisa menyikapinya itu.
19:49Nah, bahasa-bahasa yang dilakukan oleh Donald Trump selama ini tidak menunjukkan niat baik itu.
19:55Mungkin mereka sedang mencari apa yang oleh Mbak Tia tadi digambarkan sebagai menyelamatkan muka Trump
20:02dalam politik dalam negeri, dalam dunia internasional, untuk tidak dianggap sebagai pahlawan.
20:10Tapi saya kira penting untuk menyinggung misalnya adalah dalam perundingan selanjutnya,
20:16apakah kita perlu menghitung atau memperhitungkan peran yang sama terhadap negara-negara teluk
20:23yang justru menjadi basis mengapa perang ini berjalan.
20:28Katakanlah negara-negara semacam Oman yang langsung berbatasan dengan Salat Hukmus,
20:34lalu kemudian Qatar, lalu kemudian Saudi Arabia yang dirugikan karena berbagai persoalan yang menimpa Amerika.
20:42Dalam kontek itulah perundingan-perundingan regional, saya kira akan jauh lebih bermanfaat
20:47untuk bisa menjadikan Timur Tengah mengelalui stabilitas politik.
20:52Di masa depan secara permanen.
20:54Kita harus sepakat bahwa saat ini negara-negara Dewan Teluk betul-betul menginginkan Timur Tengah
21:04menjadi hub internasional untuk investasi misalnya, transit internasional.
21:10Keinginan untuk melakukan reformasi politik demokratisasi di Saudi Arabia,
21:16lalu kemudian Qatar dan juga sejumlah negara-negara kesultanan.
21:19Semuanya menjadikan Timur Tengah sebagai lahan yang menjadi contoh bagaimana perdamaian
21:28yang semula betul-betul selalu bersifat rentan karena gangguan-gangguan dari Israel, Amerika, dan seterusnya.
21:35Kepentingan minyak itu menjadi landasan untuk wujudnya perdamaian secara permanen dan stabilitas politik di Timur Tengah.
21:43Oke, tapi kemudian memungkinkankah atau mungkinkah realistiskah perundingan regional di saat semacam ini bisa dilakukan?
21:51Mbak Tia, di negara tadi yang disebutkan ada Oman, kemudian juga ada Qatar, ada Uni Emirat Arab, begitu.
22:00Realistiskah saat ini dilakukan perundingan secara regional?
22:03Melihat Iran dan juga Amerika Serikat ini belum tahu ujungnya kemana?
22:08Sempat mereka bertemu ya, terutama ini diinisiasi oleh Saudi Arabia.
22:13Mereka bertemu, kemudian dengan Pakistan juga bertemu, Uni Emirat, Qatar, semuanya berkumpul saat itu.
22:20Hanya saja negara-negara teluk ini bukan sedang membicarakan bagaimana untuk men-stop perang,
22:26tapi mereka mencari cara supaya supply daripada negara mereka tetap aman.
22:32Mereka tetap bisa menjual minyak, karena ini mereka hanya memikirkan nasional interest negara masing-masing, begitu.
22:38Dan kita juga tahu secara bilateral antara Iran dengan Saudi kan belum lama dibuka ya, baru 2023.
22:46Setelah panjang, mereka menutup hubungan diplomatik, baru dibuka 2023.
22:51Itu pun dimediasi oleh Cina, begitu.
22:53Jadi saya sih pesimis ya, kalau negara-negara teluk saat ini, dalam kondisi saat ini ya, kita tidak tahu ke
23:00depan.
23:00Dalam kondisi saat ini mereka akan bertemu, melakukan meeting, tapi untuk membahas mengenai bagaimana men-stop perang ini.
23:10Mereka hanya bertemu untuk bagaimana minyak dari negara mereka itu bisa berjalan dengan baik, bagaimana caranya, begitu.
23:18Jadi hanya sebatas itu, dalam kondisi, ya kepentingan nasional mereka masing-masing, dalam kondisi seperti ini Mbak Adisti,
23:26saya melihat semua negara itu masing-masing mementingkan kepentingan nasional mereka, termasuk juga Perancis, termasuk juga aliansi Amerika Serikat.
23:35Tidak ada kan yang join dengan pihak Amerika, karena mereka mementingkan kepentingan mereka.
23:40Ketika misalnya negara-negara aliansi Amerika bisa langsung berkomunikasi dengan Iran, dan Iran mempersilahkan kapal mereka lewat, ya sudah, selesai.
23:49Tidak ada yang perlu terhadap Amerika Serikat.
23:51Demikian juga dengan Gulf Countries.
23:52Ketika misalnya suplai minyak mereka aman, ya sudah.
23:57Tidak ada pembicaraan.
23:59Jadi ibaratnya adalah saat ini negara-negara mencari posisi amannya masing-masing, begitu ya, untuk pasokan energi mereka masing-masing,
24:09begitu ya.
24:10Termasuk juga 30 negara yang rencananya akan bertemu di Inggris, membahas soal pembukaan Selat Hormuz.
24:20Terus Anda punya peluang di sana, bisa ada pembicaraan untuk bisa membujuk Iran atau juga Amerika Serikat, atau kemudian sama
24:29saja, semua negara cari aman masing-masing?
24:3340 ya, nambah Mbak Adisti.
24:35Bukan 30 ya, jadi 40 ya.
24:37Iya, nambah.
24:38Diinisiasi oleh Inggris, dan saya tidak yakin juga mereka akan bisa men-stop, karena semuanya mencari aman saat ini.
24:46Jadi Iran betul-betul sendirian, tapi terlepas dari itu tidak tahu ya, apakah memang di situ China dan Rusia juga
24:51tetap membantu Iran, karena China tidak mudah ditekan.
24:55Seperti halnya Trump, oh iya, ini Selat Hormuz dibuka spesial untuk China, begitu ya.
24:59Oh China bukan jenis negara yang gampang tersanjung, dan juga tidak mudah juga ditekan, begitu.
25:05Saya pikir dua negara ini masih di belakang Iran, karena Iran penting di kawasan.
25:09Iran harus tetap ada di kawasan, untuk China dan Rusia.
25:11Karena ini untuk balance power, dominasi atau hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah.
25:17Kalau Iran tidak ada, bahaya sekali untuk China dan Rusia.
25:19Jadi mereka tetap, saya pikir, membackup Iran.
25:21Makanya Iran cukup tegas sikapnya, begitu kan.
25:24Tidak mau kembali.
25:25Pokoknya stop, jangan serang-serang lagi kapal kita.
25:29Blokade jangan dilakukan, kita baru mau kembali ke meja perundingan.
25:33Jadi analisi saya, Mbak Adisti, perundingan itu akan terjadi jika Amerika Serikat melepas blokadenya.
25:39Kalau tidak, ya tetap seperti keadaan seperti ini.
25:42Dan ini sangat berbahaya untuk perekonomian global.
25:45Terutama kita ya, kita juga harusnya demikian, Mbak Adisti.
25:49Harus mementingkan kepentingan nasional kita, begitu ya.
25:52Bagaimana supaya BBM kita tetap terjaga, BBM non-subsidi tidak naik, rakyat tidak marah, begitu.
25:59Itu yang harus kita lakukan.
26:00Karena semua negara-negara di dunia saat ini mengamankan posisi masing-masing.
26:05Tidak ada yang pro ke Trump, tidak ada yang pro ke Iran.
26:07Kalau Iran ngasih jalan ke Perancis, Perancis lewat, ya sudah.
26:11Tidak ada yang batu Trump, begitu.
26:12Inggris bisa call juga, lewat juga bisa, ya sudah.
26:16Jadi semuanya sekarang mengamankan posisi masing-masing, termasuk negara teluk.
26:19Uni Emirat sudah berubah statement.
26:21Kemudian Qatar, apalagi Qatar.
26:23Dia punya kooperation dengan Iran dalam bentuk ladang gas yang luar biasa besar.
26:28Tidak mungkin dalam bisnis itu bisnisnya diganggu.
26:33Negara teluk juga tiba-tiba pro terhadap Amerika Serikat, walaupun merupakan bagian daripada aliansinya Amerika.
26:39Dan ternyata protection yang mereka harapkan dikasih atau diberi oleh Amerika Serikat kan tidak terjadi.
26:45Harusnya kan memang pangkalan udara, kemudian military base-nya Amerika Serikat di Timur Tengah, di Gulf Country.
26:52Harus memprotek mereka.
26:53Kenyataannya ketika Iran menyerang tidak bisa melindungi, mereka juga kecewa, begitu.
26:58Negara teluk, akhirnya mereka realistis loh.
27:00Katanya mau melindungi, kami diserang.
27:03Military base-nya Amerika diserang, kok diam saja, tidak bisa berbuat apa-apa.
27:07Nah ini jadi satu pergeseran politik global yang cukup signifikan, saya pikir.
27:11Oke, ada pergeseran politik global yang kemudian cukup signifikan, begitu ya.
27:16Masing-masing negara, walaupun rencananya akan bertemu 40 negara di Inggris untuk bisa membahas soal pembukaan Selat Hormuz Indi.
27:23Apakah Prof. Ali melihat masih ada secerca harapan, begitu ya, setidaknya untuk bisa Amerika Serikat dan juga Iran ini bisa
27:33sedikit merendah, begitu ya.
27:35Agar konflik di Hormuz ini tidak kemudian semakin berkepanjangan dan punya dampak yang signifikan terhadap dunia.
27:45Dalam jangka pendek tentu saja adalah pembukaan Serat Hormuz menjadi prasrat perdamaian atau katakanlah kencatan sejata dan lalu kemudian mendorong
27:56kedua belah pihak, Iran terutama dan Amerika, masuk ke dalam perundingan.
28:01Dan apa yang saya gambarkan tadi itu lebih merupakan, meskipun masih dalam pertanyaan besar ya, untuk bisa melibatkan berbagai negara
28:10yang berkepentingan dalam perdamaian Timur Tengah itu,
28:15betul-betul menjadi aktor utama dalam upaya melanjutkan perdebatan mengenai bagaimana Timur Tengah menjadi kawasan yang stabil,
28:28lalu kemudian melakukan semacam governance yang baik dalam negaranya, tentu saja terus menjaga kepentingan nasional sebagai bagian penting dalam proses
28:41pembangunan negara tadi itu.
28:43Nah, disitulah kalau kita lihat 10 poin yang diajukan Iran, katakanlah saya kira ada 3 atau 4 poin yang justru
28:55memang keinginan untuk menjaga,
28:58pertama kedaulatan dia dan juga kedaulatan negara-negara Timur Tengah umumnya untuk dijamin dan dipastikan betul-betul dihormati secara internasional,
29:07melalui hukum internasional dan seterusnya.
29:10Lalu kemudian isu mengenai Palestina, eksplisit tidak disampaikan itu, tapi keinginan dia untuk mendorong kejahatan sejata di Libanon,
29:21lalu kemudian menghormati negara-negara yang ada di situ, lalu kemudian juga poin mengenai perdamaian Palestina tidak menyentuh to state
29:33solution,
29:33karena Iran memang tidak mendukung penyelesaian dua negara, dia hanya menginginkan Israel out dari Timur Tengah dan sebagainya.
29:43Itu sebenarnya pintu masuk untuk mendorong negara-negara kawasan itu menjadi akta utama penyelesaian perdamaian Timur Tengah secara permanen.
29:55Permanen dalam pengertian, tentu saja kapan-kapan akan diperlang, itu pasti untuk kepentingan nasional mereka.
30:00Tapi yang ingin saya gambarkan adalah bahwa jangan beri ruang bagi Israel sebagai orang yang terus-menerus mengganggu perdamaian Timur
30:11Tengah itu
30:11untuk menjadi freerider dalam berbagai perundingan yang dibuat, dalam berbagai resolusi yang dibuat PBB dan seterusnya,
30:20perundingan antara gerakan perlawanan melawan Israel.
30:25Kadang-kadang ini ada perdamaian antara Iran dan Amerika, katakanlah gerakan senjata.
30:33Tapi tiba-tiba Israel tidak menginginkan hasil itu, kemudian dia membuat sesuatu yang kira-kira menjadikan perdamaian yang dibuat tadi
30:40itu,
30:41hancur dalam sekejap.
30:44Kisah misalnya, jelas-jelas bahwa Iran dan Wakil Presiden Amerika Serikat, Fens, itu datang ke Islamabad untuk berunding.
30:54Tapi belum lagi perundingan mencapai satu hari, katakanlah 21 jam, Israel menyerang Libanon, Selatan, dan seterusnya.
31:03Yang menjadikan bahwa ini menjadi kejatan-kejatan kiti semua atau hanya antara Amerika dan Iran, dan seterusnya.
31:11Begitu juga pada waktu perundingan yang dibuat pada Juni 2025.
31:16Israel selalu menjadi semacam freerider dalam berbagai konsep, tawaran, atau katakanlah proposal yang diajukan negara-negara Teluk,
31:26negara-negara Timur Tengah, untuk membuat Timur Tengah sebagai kawasan yang damai secara permanen.
31:31Is inti daripada isu yang dikemukaan Iran dalam konteks ini.
31:37Kan sebenarnya, Iran hanya ingin membuka kesadaran seluruh dunia internasional.
31:42Lalu, dari semua perdamaian yang Anda buat, organisasi regional, free trade, lalu kemudian HAM, dan seterusnya.
31:51Masih ada isu masalah Palestina yang saat ini belum diadres.
31:54Polis, kalian sendiri.
31:56Itu yang saya kira asimetrik war yang saat ini dilakukan Iran bukan tanpa tujuan.
32:03Tujuannya tentu saja adalah memenangkan perang di lapangan.
32:06Tapi, di semua itu adalah, ya membuka kesadaran sekitar semua negara-negara internasional yang terlalu masuk dalam konversiun adanya perdamaian
32:18di Timur Tengah, di dunia lain saat ini.
32:20Ternyata masih ada pelanggaran HAM di, apa, niklinsing oleh Israel pada Palestina.
32:27Ada serangan yang tidak terduga di Libanon Selatan.
32:31Dan, seterusnya yang saya kira Israel menjadi problem dari semua spek tentang perundingan yang saat ini diajukan oleh Amerika dan
32:39Iran.
32:40Nah, kita semua tentu saja jangka pendek ini kita adalah menyelesaikan konflik Timur Tengah dengan cara perundingan.
32:48Lalu kemudian ekonomi global terselamatkan dalam jangka pendek.
32:52Lalu kemudian negara-negara yang berkepentingan termasuk Uni Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara juga terselamatkan dari krisis ekonomi yang ada
33:02di depan mata.
33:02Seandainya Amerika tidak membuka Selatan Hormuz.
33:06Tapi, dalam semua itu, paket mengenai 10 proposal yang disampaikan Iran semestinya juga harus menjadi perhatian seluruh negara di dunia
33:15internasional.
33:16Khususnya institusi-institusi seperti PBB, Liga Arab, lalu kemudian Gulf Council, mungkin ASEAN juga, Indonesia.
33:26Termasuk keinginan kita untuk mengadres kembali isu yang selama ini mati suri yang di kedamaian Palestina itu.
33:34Belum terselesaikan adalah soal Palestina.
33:36Singkat saja, Mbak Tia, kalau menurut Anda, 3 poin yang bisa dilakukan saat ini, begitu ya, secara jangka pendek.
33:443 poin, apa saja Mbak Tia? Singkat saja.
33:48Masih di mute, maaf Mbak Tia, masih di mute. Silahkan.
33:51Baik. Satu, Amerika Serikat diam, tidak boleh melakukan tindakan apapun, tidak boleh melakukan selangan apapun di area Selatan Hormuz.
33:59Jika Amerika Serikat melakukan tindakan itu, maka Iran semakin tidak mau kembali ke perundingan.
34:03Kemudian yang kedua, harus dilepas blokade Amerika Serikat di Selatan Hormuz.
34:08Kalau tidak, dikhawatirkan Iran akan menyerang beberapa kapal di Selatan Hormuz.
34:12Yang saya tidak yakin Amerika Serikat bisa menangani ini, karena itu adalah area teritori Iran.
34:18Jadi hanya pemilik yang bisa mengetahui bagaimana cara yang strategis untuk menyerang kapal-kapal Amerika Serikat yang turut memblokade Selatan
34:28Hormuz.
34:29Kemudian yang ketiga, mudah-mudahan ini Amerika Serikat tidak gila melakukan tindakan yang misalnya membom itu tadi,
34:38yang pernah dinyatakan oleh Trump, jika sudah tersudut khawatirnya atas provokasi Israel, apa yang dilakukan oleh Trump itu, apa yang
34:48dinyatakan oleh Trump itu menjadi terrealisasi,
34:50yaitu membom Iran atau menghancurkan beberapa infrastruktur, jembatan, dan lain sebagainya yang merupakan bagian daripada sivil Iran.
34:59Nah ini yang dikhawatirkan. Jadi yang harus dilakukan adalah satu, jangan melakukan tindakan apapun Amerika supaya Iran kembali.
35:05Yang kedua, lepas blokade. Kemudian yang ketiga, Pakistan dalam hal ini harus membujuk Iran untuk bisa kembali ke perundingan, Mbak
35:14Adisti.
35:14Oke, ada upaya yang harus ekstra kerja keras dilakukan oleh Pakistan untuk kemudian bisa membujuk kembali Iran untuk bisa kembali
35:25ke meja perundingan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
35:28Terima kasih dosen ilmu hubungan internasional dari BINUS University, Mbak Tia Mariatul Kiptia, dan juga ada guru besar politik Timur
35:38Tengah dari UIN Jakarta, Prof. Ali Munhanif juga telah bergabung bersama kami.
35:43Sehat selalu Bapak Ibu, Assalamualaikum, selamat pagi.
35:47Waalaikumsalam, selamat pagi.
Komentar