- 1 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Selat Hormuz kini seolah jadi medan pertempuran baru antara Iran dan Amerika Serikat.
Donald Trump memerintahkan marinir A-S membloakade kapal dari dan menuju pelabuhan Iran. Sementara Iran menutup perairan Hormuz.
Bahkan, Iran untuk pertama kalinya dilaporkan menerima pemasukan dari tarif kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Seperti kami kutip dari Press TV, pengumuman ini muncul bersamaan dengan pernyataan Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaee, yang bilang pendapatan pertama dari biaya tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening bank sentral.
Dalam sebuah pertemuan publik di Iran, Hamidreza bilang...
"Semua kapal yang melintasi rute ini harus membayar tol dalam bentuk rial Iran kepada bangsa Iran sebagai biaya yang sah atas penggunaan perairan teritorial Iran,"
Iran sepertinya tidak main-main soal klaim pengelolaan Selat Hormuz. Angkatan laut mereka menembaki dan menyita kapal-kapal di Selat Hormuz.
Dalam keterangan yang dibacakan penyiar televisi pemerintah Iran, penangkapan kapal merupakan respons setelah AS sebelumnya menyita dua kapal Iran saat pembicaraan gencatan senjata akan berlangsung di Islamabad.
Sebelumnya, militer Amerika Serikat menahan kapal tanker MT Tifani di perairan Samudera Hindia.
Pentagon atau Departemen Perang Amerika menyatakan intervensi ke kapal MT Tifani didasarkan dugaan kapal tersebut melakukan aktivitas ilegal terkait Iran.
Militer Amerika juga menyita kapal kargo Iran MV Touska. Amerika mengklaim kapal MV Touska telah mengabaikan peringatan saat mencoba menerobos blokade laut yang diberlakukan Amerika di Selat Hormuz. Kapal perusak Amerika dilaporkan sempat mengeluarkan beberapa tembakan yang mengakibatkan kerusakan mesin kapal Touska.
Presiden AS Donald Trump mengklaim Hormuz di bawah kendali penuh Amerika dan blokade laut berhasil menghentikan Iran meraup 500 juta dollar per hari.
Apakah artinya Selat Hormuz di bawah kendali penuh Iran? Serta memengaruhi pembicaraan damai yang tengah dinantikan dunia?
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/665101/selamat-ginting-dan-pengamat-hi-soal-iran-lawan-blokade-as-selat-hormuz-di-bawah-kendali-iran
Donald Trump memerintahkan marinir A-S membloakade kapal dari dan menuju pelabuhan Iran. Sementara Iran menutup perairan Hormuz.
Bahkan, Iran untuk pertama kalinya dilaporkan menerima pemasukan dari tarif kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Seperti kami kutip dari Press TV, pengumuman ini muncul bersamaan dengan pernyataan Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaee, yang bilang pendapatan pertama dari biaya tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening bank sentral.
Dalam sebuah pertemuan publik di Iran, Hamidreza bilang...
"Semua kapal yang melintasi rute ini harus membayar tol dalam bentuk rial Iran kepada bangsa Iran sebagai biaya yang sah atas penggunaan perairan teritorial Iran,"
Iran sepertinya tidak main-main soal klaim pengelolaan Selat Hormuz. Angkatan laut mereka menembaki dan menyita kapal-kapal di Selat Hormuz.
Dalam keterangan yang dibacakan penyiar televisi pemerintah Iran, penangkapan kapal merupakan respons setelah AS sebelumnya menyita dua kapal Iran saat pembicaraan gencatan senjata akan berlangsung di Islamabad.
Sebelumnya, militer Amerika Serikat menahan kapal tanker MT Tifani di perairan Samudera Hindia.
Pentagon atau Departemen Perang Amerika menyatakan intervensi ke kapal MT Tifani didasarkan dugaan kapal tersebut melakukan aktivitas ilegal terkait Iran.
Militer Amerika juga menyita kapal kargo Iran MV Touska. Amerika mengklaim kapal MV Touska telah mengabaikan peringatan saat mencoba menerobos blokade laut yang diberlakukan Amerika di Selat Hormuz. Kapal perusak Amerika dilaporkan sempat mengeluarkan beberapa tembakan yang mengakibatkan kerusakan mesin kapal Touska.
Presiden AS Donald Trump mengklaim Hormuz di bawah kendali penuh Amerika dan blokade laut berhasil menghentikan Iran meraup 500 juta dollar per hari.
Apakah artinya Selat Hormuz di bawah kendali penuh Iran? Serta memengaruhi pembicaraan damai yang tengah dinantikan dunia?
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/665101/selamat-ginting-dan-pengamat-hi-soal-iran-lawan-blokade-as-selat-hormuz-di-bawah-kendali-iran
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:01Selat Hormuz kini seolah jadi medan pertempuran baru antara Iran dan Amerika Serikat.
00:07Donald Trump memerintahkan marinir AS memblokade kapal dari dan menuju pelabuhan Iran.
00:13Sementara Iran menutup perairan Hormuz.
00:18Bahkan, Iran untuk pertama kalinya dilaporkan menerima pemasukan dari tarif kapal yang melintasi Selat Hormuz.
00:25Seperti kami kutip dari media Iran Press TV, pengumuman ini muncul bersamaan dengan pernyataan Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamid Reza
00:33Haji Babai,
00:34yang bilang pendapatan pertama dari biaya tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral.
00:40Dalam sebuah pertemuan publik di Iran, Hamid Reza bilang,
00:44Semua kapal yang melintasi rute ini harus membayar tol dalam bentuk rial Iran kepada bangsa Iran sebagai biaya yang sah
00:51atas penggunaan perairan teritorial Iran.
00:58Iran sepertinya tidak main-main soal klaim pengelolaan Selat Hormuz.
01:02Angkatan laut mereka menembaki dan menyita kapal-kapal di Selat Hormuz.
01:07Dalam keterangan yang dibacakan penyiar televisi pemerintah Iran,
01:10penangkapan kapal merupakan respons setelah Amerika Serikat sebelumnya menyita dua kapal Iran
01:15saat pembicaraan gencatan senjata akan berlangsung di Islamabad.
01:23Sebelumnya, militer Amerika Serikat menahan kapal tanker M.T. Tiffany di perairan samudera India.
01:29Pentagon atau Departemen Perang Amerika menyatakan intervensi ke kapal M.T. Tiffany
01:34di dasar kandungan kapal tersebut melakukan aktivitas ilegal terkait Iran.
01:41Militer Amerika juga menyita kapal kargo Iran M.V. Tosca.
01:45Amerika mengklaim kapal M.V. Tosca telah mengabaikan peringatan
01:49saat mencoba menerobos blokade laut yang diberlakukan Amerika di Selat Hormuz.
01:57Kapal perusahaan Amerika dilaporkan sempat mengeluarkan beberapa tembakan
02:00yang mengakibatkan perusahaan mesin kapal Tosca.
02:06Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Hormuz di bawah kendali penuh Amerika
02:11dan blokade laut berhasil menghentikan Iran meraup 500 juta dolar per hari.
02:17Kita akan mempunyai kapal tersebut.
02:19Sekarang kita mempunyai kapal.
02:21Kita mempunyai kontrol total tersebut.
02:22And the fact that it's close, you know, they would have opened it up three days ago.
02:26They came to us and they said, we will agree to open the straight.
02:30And all my people were happy. Everybody was happy except me.
02:32I said, wait a minute, if we open the straight, that means they're going to make $500 million a day.
02:36I don't want them to make $500 million a day until they settle this thing.
02:41So I'm the one that kept it closed. We have total control of it.
02:45And it'll open when they make a deal or something else happens. It's very positive.
02:50Tanda-tanda perdamaian Amerika Serikat dan Iran belum nampak.
02:54Alih-alih duduk di meja perundingan melanjutkan negosiasi yang sempat buntu.
02:58Kini, kedua negara itu justru saling kunci di Selat Hormuz,
03:01yang merupakan salah satu urat nadi distribusi minyak dunia.
03:09Iran mengklaim sudah terima uang dari tarif kapal di Selat Hormuz.
03:13Apakah artinya Selat Hormuz di bawah kendali penuh Iran saat ini
03:17serta mempengaruhi pembicaraan damai yang tengah dinantikan dunia?
03:20Kami akan diskusikan ini bersama Selamat Ginting,
03:22pengamat politik dan militer dari Universitas Nasional
03:24dan pengamat hubungan internasional dari Universitas Parahiangan Kishino Bawono.
03:28Selamat malam semuanya dengan Tifal di studio.
03:31Selamat malam.
03:32Terima kasih semua sudah bergabung bersama kami.
03:35Pak Selamat, hal yang lazimkah tarif seperti ini di tengah kondisi perang, Pak?
03:41Ya, tentu saja perang ini bukan hanya perang militer,
03:45tapi juga perang dagang.
03:47Karena itu keberanian Iran ini juga menguji batas.
03:53Jadi, testing the limit di Selat Hormuz.
03:57Karena ini adalah cokpoin energi dunia sekitar 20% pasokan minyak global melalui jalur ini.
04:06Sehingga kita mesti melihatnya dengan mulai memungut bayaran dalam bentuk tertentu ya.
04:13Misalnya pengawalan atau akses Iran sesungguhnya sedang mengirimkan sinyal kontrol de facto
04:22ada pada dirinya, walaupun bukan secara dejur.
04:27Dan disinilah Iran menguji respon aktor utama seperti Amerika Serikat dan sekutunya di Teluk.
04:35Namun tentu saja dominasi ini akan sulit juga terpenuhi.
04:43Artinya belum tentu Iran itu dominan di sini.
04:48Karena ada kehadiran militer Amerika dalam hal ini armada kelima di Bahrain.
04:54Juga ada kepentingan global yaitu Eropa, Tiongkok, juga Jepang.
05:02Sehingga akan menimbulkan risiko eskalasi yang sangat tinggi.
05:08Jadi ini lebih tepat disebut asertif postur.
05:14Bukan dominasi absolut dari Iran begitu.
05:17Oke, apakah Anda juga menanggapi hal yang sama di sini Mas Kishino bahwa langkah yang diambil Iran ini legal dengan
05:23menarik tarif?
05:24Dan ternyata tarif itu rela dikeluarkan oleh kapal-kapal yang melewati Serhat Hormuz?
05:28Tapi jawabnya nanti kita jeda azan maghrib dulu.
05:30Setelah itu kita lanjutkan diskusi ya.
05:31Tetap bersama kami.
05:32Selamat menjalankan ibadah sholat maghrib untuk anda buat muslim di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
05:36Saya masih akan melanjutkan diskusi bersama Selamat Ginting, pengamat politik dan militer dari Universitas Nasional.
05:41Serta pengamat hubungan internasional dari Universitas Parahyangan Kishino Bawono.
05:45Mas Kishino, kalau Anda melihatnya hal yang lumrah, hal yang wajar, legalkah kemudian ada tarik menarik uang dan tarif tol
05:54ini kemudian ada yang rela membayar, kapal rela membayar itu kepada Iran?
05:59Oke, apakah legal? Saya mulai dulu dari situ ya Mas.
06:03Saya perlu kasih disclaimer bahwa saya bukan ekspert tentang hukum internasional.
06:08Karena itu keahlian sendiri yang di luar saya.
06:13Tapi setahu saya dalam hukum laut itu memang tidak ada aturan yang bilang bahwa satu negara itu boleh mengambil tarif
06:25tol seperti yang terjadi dalam kasus Hormus ini.
06:28Ada kebebasan untuk berlayar transit di sebuah wilayah yang itu quote-unquote ada di bawah kendali suatu negara.
06:37Karena tujuannya adalah supaya perdagangan internasional itu lancar.
06:42Dan itu setahu saya.
06:44Lalu kemudian kalau ditanyakan, ini wajar atau tidak?
06:48Paling tidak dari 1945-an ini tidak wajar.
06:53Sebelum Perang Dunia Kedua yang berakhir di 1945, ada satu penjelasan tentang bagaimana Perang Dunia Kedua bisa terjadi.
07:00Salah satunya adalah karena negara-negara ingin mengendalikan pekerja perdagangan internasional, kemudian memberikan tarif,
07:06pengen menarik pajak biaya masuk setinggi-tingginya supaya tidak ada impor masuk ke wilayahnya, tapi dia bebas mengeluarkan ekspor.
07:16Masalahnya ini, apa yang terjadi di Hormus dengan narik tarif ini, ini saya rasa jadi slippery slope, ini jadi presiden
07:24buruk.
07:25Bahwa ke depannya perdagangan internasional yang sebelumnya bisa relatif bebas, tanpa hambatan seperti ini, ini terancam.
07:34Takutnya ini akan jadi contoh ke negara-negara lain yang pegang wilayah-wilayah laut yang menjadi kunci.
07:41Misal kemarin saja kita sudah dengar, Menteri kita bilang mewacanakan atau kepikiran ide bahwa gimana kalau kita narik tarif di
07:51Selat Malaka.
07:52Oke, mungkin kalau itu bisa dilakukan Indonesia dalam waktu dekat, Indonesia akan dapat benefit dari tolnya, tapi itu pasti akan
08:00membuat negara-negara lainnya marah.
08:03Dan apakah Indonesia bisa sustain, dimarahin, atau dapat retaliatory action dari negara lain, saya rasa Indonesia nggak bisa.
08:11Dan kalaupun misal kemudian Mesir kepikiran, Panama kepikiran, Gibraltar yang di bawah Inggris, lalu Spanyol dan Maroko, misalkan kepikiran juga
08:20kayak gitu.
08:21Yang ada, perdagangan internasional itu pasti akan terdistruksi, lalu kemudian world tension, tensi politik dunia akan tinggi.
08:29Karena negara-negara kemudian akan saling balas bahwa, oh kamu sudah naikin tarif, aku juga akan naikin tarif tempatku.
08:36Dan ya, perang dunia kedua, singkatnya penjelasan ekonominya terjadi karena policy, beggar die neighbor policy.
08:44Yang itu ya, apa ya, tidak jauh dari ketakutan saya kalau kemudian banyak negara melakukan penarikan tarif di wilayah-wilayah
08:53peraihannya seperti Iran di Hormuz.
08:55Oke, sehingga Pak Selamat kalau saya bilang ini upaya Iran yang tampaknya menegaskan posisi mereka sebagai pemegang kendali di tengah
09:04perang ini,
09:04makanya kemudian mematok tarif dan ternyata ada yang mau membayar tarif itu kepada Iran, tepat nggak pandangan itu Pak Selamat?
09:12Ya, pertama tentu saja perusahaan pelayaran akan menghindari risiko hukum dan keamanan.
09:20Negara-negara pengguna energi juga akan menolak presiden tol ilegal.
09:28Ya, tentu beda dengan asuransi maritim, sehingga akan ada penolakan-penolakan juga dari beberapa negara, sehingga ini membuat biaya tidak
09:42rasional.
09:43Artinya memang dalam jangka pendek menurut saya, kemungkinan akan ada yang membayar juga karena kekhawatiran, karena alasan pragmatis ya.
09:55Jadi, dalam jangka panjang, dalam jangka menengah juga, tentu akan ditinggalkan dan akan dipaksa berhenti.
10:05Ini kan publik melihat, negara-negara lain juga akan melihat bahwa ini ada upaya saling blokade.
10:13Dan ini bukan hanya dilakukan oleh Iran, tapi juga dilakukan oleh Amerika.
10:19Sama juga, Amerika juga memasang tarif kalau tidak, tidak akan diloloskan atau akan ditembak.
10:26Anda melihat indikasinya bisa seperti itu perlawanan dari AS, ikut menerapkan tarif juga?
10:31Iya, kemungkinan juga begitu.
10:34Lolos dari situ akan lolos.
10:35Jadi, ini kan perebutan sumber di Slot Hormos.
10:39Jadi, ini justru menurut saya bisa menjadi skenario paling berbahaya.
10:46Akan ada saling balas, akan ada saling pembatasan akses.
10:52Apalagi kalau kemudian tahapan eskalasinya bisa terjadi semakin tinggi.
10:59Ini yang dicari adalah grey zone konfliknya di mana.
11:04Zone abu-abunya di mana.
11:06Nah, penyitaan kapal apa ia boleh seperti itu.
11:10Terus, gangguan navigasi juga bisa dilakukan.
11:13Baik oleh, terutama oleh Amerika gitu.
11:16Nah, karena itu Iran juga akan menggunakan drone dan cyber attack untuk melawan blokade Amerika.
11:25Ini yang menurut saya akan membuka serangan juga terhadap kapal perang atau kapal tanker dalam waktu dekat jika kedua belah
11:35pihak itu tidak mau mengalah gitu.
11:38Penembakan rudal anti kapal itu potensi juga dilakukan oleh Iran dan juga oleh Amerika.
11:46Jadi, ini yang membuat serangan ke fasilitas energi di negara-negara teluk bisa terjadi.
11:56Terutama akan dilakukan oleh Iran.
11:59Jadi, akan ada serangan-serangan balasan, serangan udara terbatas juga oleh Amerika.
12:07Ini yang menurut saya bisa menimbulkan perang terbuka dan operasi militer terhadap Iran juga sangat mungkin kalau penutupan total Selat
12:19Hormuz itu dilakukan begitu.
12:21Oke. Mas Kishino juga menangkap hal yang sama bahwa lebih banyak risiko yang akan ditanggung, terutama untuk Iran yang telah
12:28menerapkan tarif dan ada yang membayar tarif itu kepada Iran.
12:31Atau justru Anda menangkap ada benefit, terutama menegaskan posisi Iran di tengah perang ini?
12:37Oke. Benefit short termnya jelas ada. Itu duit. Itu harus diakui.
12:42Kalau memang benar klaim itu sudah terjadi ya, bahwa sudah ada pembayaran, sudah quote and quote bisa terverifikasi, oke itu
12:50benefit ke mereka on the short term.
12:52Tapi, on the long term, on the mid term juga.
12:56Saya rasa ini agak tricky.
12:59Saya rasa bagi Iran gitu ya, kembali ke kondisi normal itu adalah kondisi idealnya mereka.
13:05Mereka mungkin bisa sustaining masyarakatnya untuk mendukung perang mereka karena mereka yang diserang dalam momen ini.
13:14Tapi ya, suatu saat pasti rakyat mereka sendiri juga akan telah, telah akan capek.
13:20Dan dukungan publik yang wavering ketika momen perang kayak gini, even ketika Iran itu allegedly, itu pemerintah yang diktatorship gitu
13:29ya.
13:29Walaupun ada elemen demokrasinya, lama-kelamaan juga pasti akan terlalu berisik sehingga tidak bisa diabaikan oleh pemerintahan di Teheran.
13:37Dan di sisi lain, kalau ini kemudian, apakah bisa dianggap sebagai klaim bahwa mereka bisa mengontrol hormus?
13:46Ini wilayah yang dikendalikan oleh mereka?
13:49Yes, saya rasa bisa dianggap sebagai bentuk asersi dari Iran bahwa kami mengendalikan wilayah ini pada waktu ini gitu ya.
13:59Walaupun saya juga melihat bahwa gini, Iran bisa mengendalikan hormus di waktu ini karena dalam tanda kutip, waktunya, konteks, momennya
14:10memang bisa.
14:12Karena kalau gini, katakanlah ada proses retaliasi yang lebih substansial dari Amerika Serikat atau mungkin dukungan publik terhadap perang ini
14:22di Amerika Serikat itu lebih tinggi.
14:24Saya rasa juga Iran akan kesusahan untuk benar-benar mengendalikan hormus.
14:27Benar-benar mengancam bahwa kita akan melakukan A, B, C, laying mines, akan taking over kapal dan semacamnya.
14:35Karena kalau ada justifikasi yang lebih besar di publik Amerika Serikat sehingga Amerika bisa mengambil tindakan yang lebih substansial,
14:44saya rasa Iran juga pasti akan kesusahan.
14:47Mereka selama ini, saya melihatnya gitu ya, Iran itu kalau mau retaliasi itu di level yang istilahnya setengah-setengah.
14:54Nah, tidak terlalu kasar, tidak terlalu besar sehingga kemudian Amerika dari dalam tanda kutip marah besar publiknya,
15:02lalu kemudian bilang pada pemerintahan Trump, ya silahkan Pak diserang habis-habisan, monggo gitu.
15:08Sehingga Amerika kemudian serangan besar-besaran, melebihi apa yang sudah terjadi.
15:11Nah, Iran saya rasa nggak bisa kayak gitu.
15:14Mereka, yaudah kita sekarang apa, kendalikan hormus.
15:17Kita serang beberapa kapal, kita taruh mines dan semacamnya.
15:21Tapi ya, itu karena diperbolehkan karena Amerika tidak bisa melakukan tindakan yang lebih substansial karena tidak ada dukungan publik.
15:28Oke, karena bahasanya akan ada pembahasan atau perundingan jilid dua, apakah kondisi semacam ini akan memperumit skenario,
15:36poin-poin perundingan di antara kedua belah pihak, dan apa hal terburuk yang mungkin harus kita hadapi
15:41kalau kemudian ini akan memperburuk keadaan yang, ya kita harapkan kan pengen damai ya.
15:46Cuman kalau nggak capai kata damai juga, nih bakal gimana kemudian.
15:49Kita bahas itu nanti ya.
15:50Usai jadah berikut.
16:00Melanjutkan diskusi, Pak Selamet, Anda di paruh sebelumnya sempat bilang ada peluang buat Amerika membalas dengan tarif.
16:07Begitu juga di kawasan Selat Hormuz saat Iran terbukti menerima bayaran dari kapal-kapal yang lewat ke sana.
16:14Sehingga ini juga akan memperumit poin-poin perundingan yang katanya akan berlangsung pada hari Jumat ini di Islamabad Pakistan.
16:20Ya, kalau secara realistis kemungkinan perundingan ini berhasil sangat rendah ya.
16:29Karena kedua pihak kan sedang berada pada fase koersi bargaining ya.
16:35Tekanan dulu baru negosiasi.
16:38Jadi saling menekan.
16:40Amerika ingin jaminan kebebasan navigasi dan juga pembatasan militer Iran.
16:48Di sisi lain, Iran ingin pengakuan kontrol terhadap Selat Hormuz.
16:56Dan juga Iran meminta pencabutan sanksi-sanksi terhadap Teheran.
17:02Jadi posisi ini kalau kita lihat tidak overlap atau zero jump gitu ya.
17:11Jadi dalam jangka pendek.
17:14Namun menurut saya di dalam diplomasi segala kemungkinan bisa terjadi.
17:20Jadi meskipun itu jalur Pakistan tetap bisa dipertahankan karena backchannel diplomasi atau jalur komunikasi diam-diam kan sudah terjadi.
17:34Artinya sebenarnya utusan Iran, utusan Amerika sudah ada di Pakistan.
17:40Sehingga ini untuk mencegah salah hitung militer atau miskalkulasi.
17:48Ini kan perang itu bagian dari perundingan yang belum mendapatkan titik temu atau konsensus.
17:58Jadi yang menarik adalah siapa yang akan memencet atau menekan rem darurat jika eskalasi menjadi terlalu tinggi.
18:10Jadi dalam konflik ini saya melihat negosiasi untuk damai langsung.
18:17Sorry.
18:18Negosiasi bukan untuk damai langsung tetapi justru untuk mengontrol eskalasi agar tidak meledak menjadi perang terbuka.
18:30Nah skenario perundingan di Pakistan dalam waktu dekat ini dalam beberapa jam ini.
18:37Ada tiga kemungkinan utama menurut saya.
18:40Pertama, ya deadlock berkepanjangan itu paling mungkin ya terjadi.
18:46Perundingan formal ada tapi tanpa hasil gitu.
18:50Perundingan belum tentu menghasilkan gitu.
18:52Kemudian konflik tetap berjalan di laut.
18:55Skenario kedua tentu saja limited deal atau kemungkinan menengah.
19:01Apa itu?
19:02Kesepakatannya terbatas.
19:04Jalur aman tanker boleh.
19:07Eh, tapi tidak menyerang target tertentu.
19:10Mirip seperti gencatan senjata fungsional.
19:14Nah yang ketiga tentu saja breakdown total.
19:18Ini yang berbahaya.
19:19Iran keluar dari perundingan.
19:21Amerika kemudian meningkatkan aksi militernya.
19:25Dan Selat Hormuz menjadi zona konflik yang terbuka.
19:29Kira-kira begitu.
19:30Oke, kalau Mas Kishino melihatnya skenario-nya akan bagaimana perundingan yang katanya akan berlangsung Jumat ini di Islamabad.
19:36Apakah poin soal tarif ini bakal jadi alot pembahasannya dan bisa jadi Trump akan memainkan tarif.
19:44Karena kalau konteks di pikiran awam pasti akan ditarik dengan beberapa kebijakan Trump yang masalah tarif-tarif itu pasti ditarik
19:50masalah tarif resipokal.
19:52Itu pernah diterapkan.
19:53Bahkan ujung-ujungnya ada permasalahan di internal domestik mereka.
19:56Tapi dibalas lagi dengan tarif yang baru.
19:58Apakah kemungkinan balas-membalas tarif ini juga akan terjadi di perundingan yang sekarang terhadap Iran?
20:06Apakah akan ada balasan-balasan tarif dari US?
20:09Saya rasa kalau tarif dari US terkait misal Hormuz sementara belum ada.
20:15Karena saya pikir mereka masih menggunakan balasan yang lebih militaristik.
20:19Seperti Belukade seperti ini.
20:20Terus apakah urusan tarif di Hormuz ini akan mempengaruhi pembicaraan negosiasi besok Jumat?
20:28Sorry, hari ini sudah Jumat.
20:31Hari ini sudah Jumat ya?
20:32Hari ini sudah Jumat.
20:33Ya, sebetulnya dari beberapa awal weekend lalu, pemerintah Iran itu kan sudah bilang bahwa mereka tidak tertarik untuk melakukan pembicaraan
20:44yang cuma satu topik-satu topik.
20:45Mereka maunya komprehensif package dalam bahasa mereka.
20:50Satu paket utuh bahwa itu terkait kontrol atas Hormuz, itu terkait juga masalah nuklir mereka, terkait juga jaminan keamanan bahwa
21:00mereka dan sekutu-sekutunya itu tidak akan diserang lagi oleh Amerika dan sekutunya.
21:06Yaitu berarti Lebanon dan Yemen, terutama Hoti disana, aman gitu ya.
21:11Terus kemudian aset-aset mereka yang didukukan karena sanksi Amerika Serikat selama ini itu kemudian dikembalikan, isu kepemilikan rudal balistik,
21:20dan kemudian ganti rugi perang.
21:22Nah, masalahnya kalau kedua pihak, yaitu Amerika Serikat dan Iran itu masih sama-sama, ibaratnya kalau negosiasi kayak gini itu
21:31kan kayak orang tawar-menawar mau beli barang gitu kan.
21:34Masalahnya kalau keduanya masih maksimalis, masih ada di titik-titik paling ideal buat mereka, belum mau ke tengah, ya saya
21:43rasa ini masih akan deadlock.
21:45Berapa persen kemungkinannya Mas?
21:48Ini saya yang selalu susah kalau untuk melakukan prediksi-prediksi kayak gini.
21:55Saya seorang saintis, saya akademisi gitu ya, bukan ahli nujung.
22:02Tapi kalau melihat posisinya saling bersih keras seperti sekarang ini, jadi kemungkinan deadlock-nya atau mencapai sepakat sudah jelas sulit
22:09di sini?
22:10Masih sulit, sementara masih sulit.
22:12Paling tidak di depan publik, mereka masih bilang bahwa kita akan mengejar, quote-unquote, kondisi idealnya, maksimalnya.
22:18Entah nanti ketika di meja perundingan atau bahkan di back channel-nya berhasil, misal sih.
22:23Karena kalau kita melihat perundingan-perundingan lainnya, misal di kasus Israel-Palestina, itu kan perundingannya nggak satu waktu selesai.
22:31Tapi karena, oh misal, oh ada Madrid, lalu kemudian Oslo, lalu apa, itu beda sekian tahun dan beda sekian waktu
22:38untuk membicarakan hal yang-hal yang berbeda juga.
22:41Jadi, who knows, kalau ini nggak deadlock, tapi mungkin beberapa waktu ke depan akan ada terobosan ketika orang-orang di
22:49rezimnya berubah, konteks waktunya berubah, dan semacamnya.
22:53Tapi, dalam waktu dekat rasanya masih susah.
22:56Oke, maka kalau kondisinya begitu Pak Selamet, hal ideal apa atau opsi ideal apa yang rasanya paling mungkin untuk membaca
23:05keadaan sekarang?
23:07Ya, pertama saya membaca diplomasi ini seperti diplomasi dalam bayang-bayang senjata, dalam bayang-bayang meriam, dan rudal.
23:18Dua-duanya megang itu, gitu.
23:21Diplomasi tapi saling ancam.
23:23Iran menggunakan kontrol maritim sebagai manfaat yang bisa diterima atau leverage.
23:30Amerika juga menggunakan kekuatan militer sebagai tekanan.
23:34Sehingga di sini, Pakistan yang menyiapkan panggung, gitu ya, tetap melihat bahwa aktor utamanya ada pada Washington dan Teheran.
23:48Nah, perundingan ini menurut saya, kemungkinan perundingan masih mungkin terjadi lagi.
23:55Tetapi tidak dalam waktu dekat, karena perundingan atau diplomasi ini lebih berfungsi sebagai kanal komunikasi krisis untuk meredakan ketegangan, bukan
24:09mencari solusi yang tepat.
24:11Jadi, ini masih sangat dipengaruhi oleh situasi di Selat Hormuz itu, gitu.
24:17Dua-duanya dalam tanda petik, seperti preman, gitu, minta jatah preman, begitu ya.
24:25Jadi, selama SK selasi militer masih tinggi, maka diplomasi akan selalu tertinggal.
24:34Jadi, akan tertinggal satu langkah di belakang konflik.
24:38Jadi, itu yang saya baca.
24:41Baik, Pak Selamat Ginting, Mas Kishido, terima kasih banyak sudah mau berdiskusi dan berbagi pandangan bersama kami.
24:46Saya selalu semuanya, selamat malam.
24:49Selamat malam.
Komentar