Skip to playerSkip to main content
  • 6 hours ago
Di balik kekuatan yang tak tergoyahkan, tersembunyi hati yang penuh luka dan pengorbanan. Ia dikenal sebagai pahlawan yang selalu menyelamatkan orang lain, namun tak pernah ada yang benar-benar memahami beban yang ia pikul sendirian.

Setiap langkahnya dipenuhi pilihan sulit—antara melindungi dunia atau mengikuti suara hatinya yang perlahan hancur. Masa lalu yang kelam terus menghantui, sementara harapan akan cinta dan kedamaian terasa semakin jauh.

Dalam kisah ini, keberanian bukan hanya tentang melawan musuh, tapi juga menghadapi luka di dalam diri. Akankah sang pahlawan menemukan cahaya di tengah kegelapan, atau justru tenggelam dalam luka yang tak pernah sembuh?
Transcript
00:00Why are you feeling?
00:01I want to leave my house.
00:04The gift is already cut.
00:06So I'll burn.
00:08It's good to burn.
00:10The gift of this isn't very good.
00:11If we're married, I'll give you a better gift.
00:14We're not going to marry.
00:16Not again, I'll say.
00:22Who's my father and I love?
00:24Who's my father and I love?
00:26All this is not my rules.
00:31Besides me, Dennis doesn't have a choice. He doesn't want to leave me.
00:37My concern was because I think it's better.
00:42You don't always have a problem. Hanif has lost his parents and depression.
00:46You don't have all. Why do you have to play with him?
00:51If you have a problem, what do I have?
00:55You have a parent and also me. Hanif is now in the hospital.
00:58You're sick. Pergi minta maaf sana ke dia.
01:01Dia ditemani orangtuaku dan juga kepedulianmu.
01:05Di sekitarnya juga ada tim medis. Menurutmu dia masih perlu aku?
01:10Kenapa kamu begitu nggak peduli sih? Hanif depresi karena kamu.
01:15Bagaimana penjuga? Sebagai kakak, kamu harusnya belajar ikhlas.
01:20Sepertinya kamu masih saja belum sadar kesalahanmu.
01:23Aku terlalu manjakan kamu. Dennis, jangan bilang aku nggak kasih kamu kesempatan.
01:28Kalau kamu nggak minta maaf, tunda saja dulu.
01:31Pernikahan kita.
01:45Penyakit Hanif. Jelas-jelas cuma bohongan.
01:48Tapi kalian semua pura-pura nggak sadar itu.
01:57Deniz, serahkan Mila.
01:59Hanif juga suka dia. Dia sampai heboh mau bunuh diri.
02:02Kamu itu kakak. Harusnya lebih belapang dada.
02:06Ibu, aku ini anak kandungmu.
02:08Ibu selalu bilang aku harus mengalah sama Hanif.
02:10Aku sudah setuju. Selama ini apa aku kurang mengalah?
02:13Semua barang baru di rumah. Daging di meja makan.
02:15Baju baru waktu tahun baru. Kamarku sendiri. Aku kasih buat dia.
02:18Buku pun aku nggak baca demi dia.
02:20Sekarang bahkan soal Mila. Aku harus mengalah lagi.
02:22Kalau dia minta nyawa aku, apa ibu juga mau?
02:24Aku kasih jantungku buat dia.
02:25Ibu, sebenarnya siapa anak kandung ibu?
02:28Diam!
02:29Dia itu adik sepupuhmu.
02:31Dia kehilangan ayahnya karena kamu.
02:33Bukannya yang kamu punya sudah cukup.
02:35Ayahmu benar. Waktu bilang, kamu anak yang nggak tahu balas budi.
02:38Kali ini, mau nggak mau kamu harus mengalah.
02:41Kalau nggak, kamu bukan anakku lagi.
02:45Kamu ini?
02:49Ternyata di mata ayah dan ibu, hidupku dianggap sudah bahagia.
02:54Jauh lebih dari yang dimiliki Hanif.
03:01Dennis, sekarang kondisi mental Hanif buruk.
03:04Soal surat nikahnya, kita tunda dulu saja.
03:13Oke.
03:36Kenapa jelas-jelas Hanif yang jebak aku?
03:39Orangtuaku nggak percaya sama aku.
03:42Malah ikat tanganku dan pukul aku, lalu mengusirku.
03:51Ikut aku pulang.
04:00Eh?
04:04Mila benar-benar berubah.
04:08Sekarang bilang tunda ambil surat nikah.
04:11Setelah ini, dia akan ikat janji.
04:14Lalu saat itu, aku bisa kehilangan kesempatan kuliah.
04:17Dan Mila pun nggak nikah sama aku.
04:23Dennis, jangan berpikir berlebihan.
04:26Yang aku janjikan padamu, nggak akan kuingkari.
04:29Hanya saja kondisi mental Hanif sekarang sangat buruk.
04:32Aku nggak mau provokasi dia.
04:40Mila, kamu masih ingat apa janjimu ke aku waktu 11 tahun di bawah pohon itu?
04:47Masih ingat janjimu waktu itu, kan?
04:52Bu Mila, ada kabar dari rumah sakit.
04:54Dia lukai dirinya lagi.
04:58Ayo kita pergi.
05:14Dulu Mila pernah bilang,
05:15dia suka cowok yang punya selera seni.
05:18Makanya aku sengaja panjangkan rambut.
05:20Sekarang aku hidup untuk diriku sendiri.
05:22Lalu aku masuk Universitas Intelijen Negara,
05:25melatih fisik,
05:26supaya bisa beradaptasi lebih awal.
05:28Hmm.
05:53Kakak,
05:54kamu jijik sama aku.
05:57Enggak.
06:14Kamu latihan dulu pelan-pelan.
06:16Aku mau minum dulu.
06:24Universitas Intelijen Negara?
06:34Universitas Intelijen Negara?
06:49Kenapa kamu lihat-lihat informasi tentang ini?
06:56Jawab!
06:58Cuma lihat-lihat saja.
07:00Apa yang mau dilihat?
07:01Kondisi fisikmu itu gak cocok masuk Intelijen Negara.
07:04Lebih baik belajar yang rajin dan ikut ujian lagi tahun depan.
07:06Nilainmu juga bagus.
07:08Pasti bisa lulus.
07:11Kamu pikir aku masih punya kesempatan?
07:12Ayah dan ibu minta aku habis liburan langsung cari uang untuk biaya Hanif kuliah.
07:16Menurutmu aku masih punya waktu buat belajar.
07:20Tenang saja.
07:21Aku gak akan biarin kamu kerja.
07:23Soal uang jangan dipikirin.
07:25Aku sudah kumpulin cukup uang buat biayai Hanif kuliah.
07:28Mila.
07:30Kamu bukan cuma paksa aku kasih kuota kuliahku.
07:32Bahkan uang kuliahnya juga sudah disiapkan.
07:34Harus aku akui.
07:35Kalian semua begitu bahagia.
07:37Begitu Hanif buat masalah.
07:39Ayah dan ibu pasti paksa aku buat kerja cari uang.
07:41Sedangkan kamu.
07:42Akan sama seperti dulu.
07:44Hanya diam saja.
07:51Akhir-akhir ini aku rasa Dennis agak beda.
07:55Jelas-jelas dia ada di depan mata tapi rasanya seperti mau menghilang.
07:59Dennis, tenang saja.
08:01Aku pasti akan nikah sama kamu.
08:03Cuma perlu ditunda saja.
08:05Sampai jumpa di video selanjutnya.
Comments

Recommended