Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Isu makar mengemuka di dunia maya usai beredar potongan video pernyataan Saiful Mujani yang dianggap berisi ajakan agar Presiden Prabowo dijatuhkan.

Saiful mengklarifikasi bahwa itu bukan makar, namun sikap politik, dan itu bagian dari demokrasi.

Meski sudah dibantah, namun isu ini sudah terlanjur menuai kritik dan memicu polemik. Akankah isu makar bakal menjadi bola liar, atau terhenti usai jadi kontroversi?

Pemimpin Redaksi KompasTV Yogi Nugraha membahasnya bersama narasumber:

Fahri Hamzah - Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman

M. Qodari - Kepala Staf Kepresidenan

Ikrar Nusa Bakti - Pengamat Politik

Feri Amsari - Pakar Hukum Tata Negara



Saksikan dalam Program Satu Meja the Forum episode Samar-Samar Kabar Makar. Tayang Rabu 8 April 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.

#kritik #prabowo #saifulmujani



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/661754/full-saiful-mujani-bicara-jatuhkan-prabowo-kritik-atau-makar-satu-meja
Transkrip
00:02Bisa enggak kita mengkonsolidikan diri untuk menjatuhkan Prabowo?
00:09Diisi dengan pidato-pidato yang memprovokasi bangsa sendiri,
00:15pidato-pidato yang mengajak orang lain untuk menjatuhkan pemerintah.
00:45Selamat malam, demokrasi di Indonesia tengah diuji.
00:49Partisipasi publik sebagai kunci kualitas demokrasi bertemu koridor konstitusi yang harus dihormati bersama.
00:56Kritik dan sikap politik, apa iya harus dimaknai sebagai makar?
01:01Samar-samar, kabar makar.
01:03Inilah satu Meja The Forum malam ini bersama saya, Yogi Nugraha.
01:08Sudah hadir di Studio Kompas TV, para tamu terhormat saya, Muhammad Kodari.
01:13Selamat malam, staf Mas Yogi.
01:15Kasi Denan, apa kabar?
01:16Baik, Alhamdulillah.
01:18Dan juga Bung Fahri Hamzah, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman.
01:24Sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelora.
01:28Kabar, Bung?
01:29Baik, Alhamdulillah.
01:31Ada juga Prof Ikrar.
01:34Bersambang, pengamat politik ya?
01:38Iya.
01:38Masih pengamat politik kan?
01:40Masih.
01:41Duta Besar Tunisia 2017-2021.
01:44Terima kasih sudah hadir.
01:46Malam.
01:46Last but not least, Bung Fahri Hamzahri.
01:50Saya cebut aktivis atau pengamat hukum tata negara?
01:52Insya Allah yang baik.
01:53Oke.
01:55Saya ke Bang Fahri.
01:58Bang Fahri.
01:59Saya dulu.
02:01Ketika ada statement muncul perkumpulan para pengamat merespon ternyataan Presiden bahwa harus ditertibkan dalam halal bihalal.
02:12Itu kan ada statement dan ada kalimat dari seorang tokoh politik Saifun Mujandi yang mengatakan bahwa ada diksi menjatuhkan setelah
02:21panjang.
02:21Kalau Bang Fahri kemudian merespon bahwa ini harus dijaga nih koridor demokrasi konstitusi itu.
02:28Sebetulnya Bang Fahri ingin mengatakan apa?
02:29Saya yakin Bang Fahri sebagai aktivis juga ingin tetap mempertahankan bahwa Indonesia sudah seribu persen lah menjaga demokrasi.
02:36Tapi apa yang ingin Bang Fahri sampaikan?
02:39Sebenarnya saya malam ini mau halal bihalal aja.
02:42Halal bihalal ya gak apa-apa deh.
02:44Semakin menunjukkan bahwa sebetulnya gak ada apa-apa ya.
02:48Sama dengan acara kemarin halal bihalal juga.
02:50Ini jilid dua aja kalau saya lihat sih jilid dua.
02:53Halal bihalal di lawan hal bihalal.
02:55Iya lawan hal bihalal.
02:56Ya karena sebenarnya saya tahunya Bang Saifun itu kan sebagai akademisi bukan politisi ya.
03:06Tapi bahwa kemudian beliau memulai satu ajakan.
03:11Menurut saya disitu ada beberapa concern ya.
03:15Yang pertama adalah bahwa ya tentu orang bebas berpendapat.
03:20Ya.
03:20Sebagaimana konstitusi demokrasi kita menjamin.
03:24Tapi rasanya kita juga berkepentingan untuk menjaga demokrasi konstitusional kita.
03:33Karena kalau kita mengizinkan inkonstitusionalitas.
03:39Maka ada banyak pintunya ya.
03:42Macam-macam kalau kita sebut dan itu di masa-masa yang lalu itu sangat secara keras.
03:49Tapi Bang Fahri melihat bahwa pernyataan utuh dari Saifun Mujadi itu sudah masuk koridor menuju inkonstitusionalitas.
03:55Saya menganggap bahwa ini ada spiritualnya ya.
04:01Ada politiknya, ada akademiknya.
04:04Bahwa saya sendiri terus terang.
04:06Saya kan seumur politik saya ini kan mayoritas saya sebagai anggota DPR.
04:11Setengah, seperempat abad hampir.
04:14Atau setengah dari umur saya kan disenayat sebenarnya.
04:17Dan lama, cukup lama juga dikenal sebagai oposisi.
04:20Cukup lama sebagai oposisi dan menjaga apa namanya, apa yang sudah kita bangun bersama-sama lebih dari 30 tahun sekarang
04:28ini.
04:29Bahwa demokrasi kita ini sudah menuju pematangan dan ciri daripada kematangannya itu adalah kita menjaga jiwanya, menjaga jadwal-jadwalnya.
04:44Artinya menjaga konstitusionalitasnya.
04:46Sehingga ruang bermain kita itu sebenarnya ruang bermain yang sudah sangat enak.
04:51Karena saya sendiri makin lama juga makin percaya bahwa memang demokrasi itu harus kita sadari, tidak saja definisi dan pengertiannya
05:05atau jiwanya, tapi juga jadwal-jadwalnya.
05:08Termasuk juga apa tugas dari akademisi, apa tugas dari politisi, apa tugas yang di dalam eksekutif.
05:18Saya misalnya diserang banyak orang karena katanya kurang banyak ngomong dan makin jinak.
05:23Bukan, karena saya sekarang menjadi bagian dari pemenang pemilu dan saya adalah bagian dari eksekutif.
05:30Kan saya nggak mungkin lagi kayak waktu senaya.
05:32Bang Fahri, di tengah kontra ya soal pernyataan Pak Saiful Mujani itu kan ada statement dari saskap dari Indra Wijaya
05:42yang menurut saya dan menurut kami itu
05:45mudah-mudahan itu betul-betul subsansi dari Presiden.
05:48Karena Presiden seperti tidak merisaukan dan membiarkan itu, biarkanlah dinamika civil society gitu.
05:53Ini kita dengarkan dulu kutipan dari saskap.
06:08Saya masih banyak sekali kerjaan, saya belum melihat beliau bicara apa gitu kira-kira.
06:17Apalagi Bapak Presiden, Bapak Presiden ngurusin hal-hal besar, lagi fokus dengan hal-hal yang lebih strategis dan ya gitu.
06:30Apalagi Bapak Presiden, Bapak Presiden sedang mengurusin hal-hal besar.
06:34Satu sisi itu mungkin bisa jadi kabar baik, arti tidak buru-buru reaktif dan sebagainya.
06:39Tapi satu sisi Bang Fahri mengingatkan bahwa ada koridor keluar dari konstitusi.
06:45Saya kadang-kadang juga makin lama ya semakin melihat betapa besarnya negara kita,
06:50sejarahnya, masa depannya, kehebatannya hari ini dan janji-janji kebesarannya di masa yang akan datang.
06:57Makin sadar bahwa memang masalah itu banyak sekali.
07:01Sehingga apa yang menjadi kesibukan kita dalam dinamika masyarakat sipil itu kan tidak semuanya juga langsung menjadi perhatian seketika.
07:15Dan itu biarlah menjadi kesibukan kita sebagai bagian dari masyarakat sipil.
07:20Saya sendiri kadang-kadang karena dikasih tugas di satu sektor yang lebih spesifik,
07:26kadang-kadang juga tidak mau terlalu banyak masuk ke dalam perdebatan politis dan sebagainya.
07:33Meskipun saya ngerti temanya, saya menulis buku, saya bicara tentang itu dulu.
07:37Tapi karena tahu juga bahwa sekarang ini ada pekerjaan-pekerjaan yang memang membuat kita sangat sibuk.
07:43Betul-betul saya dulu di legislatif itu merasa sudah banyak tahu banyak hal begitu.
07:47Tapi setelah menjadi anggota eksekutif itu memang kita banyak enggak tahunya.
07:51Karena eksekutif itu rumit, kompleks.
07:55Kita harus melacak seluruh persoalannya dari regulasi sampai pertanggung jawaban anggarannya itu.
08:01Kita harus betul-betul deal dengan sistemnya begitu.
08:04Kalau dulu kan kita habis ngomong nyerotos kita tinggal tidur.
08:08Kalau di legislatif, kalau di eksekutif susah.
08:11Ada tol ukur.
08:12Iya, di awal itu ada perjanaannya, di ujung ada pemeriksaannya.
08:16Yang itu tidak boleh ada celah persoalan.
08:19Karena umur dari peristiwa pidana itu bisa berapa tahun sekarang.
08:23Boleh dibilang secara politik, seorang Khawri Hamzah sekarang sudah lebih dewasa.
08:28Bukan lebih dewasa.
08:29Gara-gara eksekutif saja.
08:31Nanti kalau saya kembali ke Senayan ribut juga.
08:34Cuman kayaknya sudah enggak di Senayan lagi.
08:36Tahu diri lah.
08:36Sudah tua bos.
08:37Iya, iya, iya.
08:38Tua tapi semangat masih buka.
08:40Saya ke Mas Kodari.
08:43Pak Saiful Mujani kan sahabat Mas Kodari juga.
08:45Betul.
08:45Dalam konteks polster kan banyak.
08:47Dan saya tahu riwayatnya.
08:49Betul.
08:49Ada penjelasan dari Pak Saiful Mujani loh.
08:52Bahwa sebenarnya itu adalah political engagement.
08:54Itu adalah sikap politik.
08:56Apa yang salah dalam dunia demokrasi.
08:59Sementara anak buahnya Pak Kodari kan yang munculin pertama ngeri, makar gitu.
09:03Gimana?
09:05Pertama begini, kalau soal sikap politik sih sah-sah saja ya.
09:09Setiap orang kan punya sikap politik yang pertama.
09:12Tapi saya kira setiap sikap politik itu kan ada turunannya, ada operasionalisasinya.
09:18Nah operasionalisasi yang keluar dari Pak Saiful Mujani kan beda dengan orang yang juga sama pada forum itu yang namanya
09:25Ferry Amsari kan begitu.
09:26Ferry Amsari itu bicara mengenai, mungkin sikap politik dasarnya sama, tidak happy, tidak puas, tidak percaya dengan Presiden Prabowo.
09:36Tapi Ferry Amsari mengusulkan impeachment begitu.
09:39Bahkan beliau karena gak suka juga dengan Wakil Presidennya, saya kasih resep katanya.
09:46Impec dua-duanya kan begitu.
09:47Dalam terminologi.
09:48Sebentar, sebentar, kasih kesempatan.
09:50Kasih kesempatan.
09:51Jadi itu yang keluar dari Bang Ferry Amsari.
09:54Yang keluar dari Bang Saiful Mujani adalah bahwa yuk kita konsolidasi, kita jatuhkan Presiden.
10:02Ini perbatim ya, saya pakai.
10:03Jatuhkan Presiden.
10:04Jatuhkan Presiden.
10:05Nah dalam tafsir saya tentu ini bisa salah dan tentu kita bisa berdebat.
10:09My words against your words.
10:10Sekarang ini populer kan.
10:12Dan hari ini kita ketemu.
10:13Iya, saya sebetulnya kan akan senang kalau ada Bang Saiful di sini kan bisa langsung dialuh dengan beliau kan.
10:19Ini juga menurut saya juga gak enak juga sebetulnya karena Bang Saifulnya gak ada gitu.
10:24Nah tapi Bang Saiful kan bahasa menjatuhkan Presiden itu saya kira kalau kita bicara minimal contoh-contoh sejarah
10:32atau mungkin memori atau pengertian umum, itu kan berarti menjatuhkan Presiden di tengah jalan.
10:38Nah sementara kalau kita kembali kepada konstitusi, konstitusi kita itu sudah mengatur mekanisme untuk seorang Presiden itu jatuh.
10:46Baik secara harfiah maupun secara konotatif maupun denotatif.
10:53Kalau secara konotatif ya menjatuhkan Presiden lewat pemilu kan begitu, jangan dipilih lagi.
11:00Nah kalau soal itu sikap Presiden sangat jelas termasuk tadi di rapat kabinet dalam taklima tadi.
11:04Meskipun di undang-undang secara resmi ada juga soal.
11:07Kalau saya ini tidak berhasil, jangankan masyarakat saya pun malu, saya pun tidak akan maju lagi.
11:13Itu kata beliau sendiri.
11:14Jadi Presiden bisa menjatuhkan dirinya sendiri dalam tanda kutip ya konotatif.
11:19Denotatif bisa juga dengan mekanisme impeachment.
11:22Dan itu ada di undang-undang.
11:24Dan karena itu tidak ada yang mengatakan Ferry Amsari itu seorang makar, gak ada.
11:28Gak sampai hari ini saya gak ketemu tuh orang yang mengatakan Ferry Amsari itu makar.
11:32Nah karena saya bukan ahli makar, jadi saya cari-cari pasal mengenai makar itu apa.
11:40Nah ini ada dua pasal.
11:44Pertama itu 104 KUHP lama, kemudian ada KUHP baru itu 191.
11:49Saya bacakan aja ya, setiap orang yang melakukan makar dengan maksud untuk membunuh atau merampas kemerdekaan presiden dan atau wakil
11:57presiden
11:58atau menjadikan presiden dan atau wakil presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan,
12:04jadi gak harus membunuh makar itu.
12:07Presiden atau wakil presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan dipidana dengan pidana mati,
12:13pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 tahun.
12:18Nah sekarang yang dibayangkan oleh Pak Saiful itu seperti apa?
12:24Menurut saya kita harus kejar sampai ke sana kan.
12:27Kalau diruntut kalimat beliau sebelumnya, beliau kan tidak percaya dengan apa-apa yang dilakukan oleh Presiden Prabowo.
12:33Dan itu disebut sebagai sikap politik.
12:35Dan bahkan beliau mengatakan begini, kalau saya gak salah lagi nih, karena ini ingatan, bersama ingatan ya.
12:41Dan saya mohon maaf sibuk banyak pekerjaan juga.
12:44Gak selalu bisa menghapal juga tuh kalimat perbatim.
12:46Tapi seingat saya, beliau itu percaya bahwa kalau mengandalkan pada proses,
12:51sebutlah partai politik atau impeachment, itu gak akan terjadi.
12:56Karena itu beliau menggunakan mekanisme konsolidasi kita, ada pertemuan begini,
13:01yang saya bayangkan adalah demo-demo ya, mungkin kemudian apa mengepung istana dan seterusnya yang,
13:08ya saya juga belum tahu persis, tidak mampu membuat Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan.
13:12Dan itu hanya pertemuan halal-halal.
13:14Mas Yogi, saya tidak menyimpulkan pada hari ini, bukan bila saya menyimpulkan.
13:19Tetapi biarlah pemirsa yang mendengar sendiri, saya bacakan pasal 191 KUHP baru.
13:25Oke saya ke Bung Feri, kan Anda hadir ya kan, itu tajuknya adalah halal-halal.
13:31Ya bisa dibilang merespon pernyataan Presiden yang akan menertibkan para pengamat.
13:36Gimana sebetulnya? Dan saya percayalah, ini kesempatan Anda menjelaskan bahwa tidak ada rencana untuk melakukan penggerakan,
13:42mobilisasi, apalagi ingin menjatuhkan Presiden.
13:45Mas Yogi, apa yang dipikirkan Ferry belum tentu sama dengan Pak Saiful loh.
13:47Harus jelas loh kita ini ngomong siapa.
13:49Jadi sebenarnya diskusi soal ini sudah selesai ketika Presiden baru saja menyampaikan,
13:57silahkan jatuhkan asal dengan cara-cara yang sesuai dengan konstitusi kan.
14:01Impeachment dan segala macamnya itu.
14:04Nah ketika Presiden sudah menyelesaikan dengan ucapan itu berarti menjatuhkan bukan lagi dimaknai terlalu jauh menjadi makar.
14:14Impeachment juga maknanya menjatuhkan.
14:19Bahkan kalau mau lebih luas maknanya menjadi remove from the office ya, memakzulkan.
14:24Nah ketentuan memakzulkan, menjatuhkan Presiden ada di ketentuan pasal 7A, 7B, 7C, dan pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945.
14:37Ini sesuatu yang konstitusional.
14:41Memaknai kalimat menjatuhkan menjadi makar menurut saya Mahesh Yogi itu berlebihan saja.
14:46Karena dalam perkembangan KUHP kita ada tiga jenis makar.
14:52Satu makar terhadap fisik Presiden dan Wakil Presiden, pasal 191 yang dibacakan Bang Kodari tadi.
15:00Bahwa membunuh Presiden, mengancam fisik Presiden, menghilangkan kemerdekaan Presiden,
15:07membuat Presiden tidak bisa bertindak sebagai pemerintah itu dalam artian dikuncinya oleh Bang Kodari Pak Presiden di toilet.
15:16Oh jangan saya dong, saya full Bujani kalau mengasih contoh.
15:19Contoh, kalau gitu, dikuncinya, ini contoh yang lebih bagus Bang Kodari ini contoh yang lebih bagus.
15:26Saya tolong diganti dengan saya Bujani, jangan Muhammad Kodari itu, protes saya.
15:29Di kuncinya Presiden di toilet oleh Mayor Teddy, tidak berlangsung.
15:38Jangan dong, ini contohnya.
15:41Misalnya tidak bisa Presiden memerintah berkomendikasi.
15:45Jadi kalau mau ganti, saya mau jadi, ganti dengan kata Ferry Amsari, baru fair menurut saya, jangan ganti dengan Teddy.
15:50Si Fulan, ya si Fulan saja lah.
15:52Pak Bang Kodari selesai dengan urusan nama itu, contoh.
15:56Si Fulan, kemudian mengunci Presiden di toilet, 2 jam, sehingga tidak bisa berkomunikasi dalam menjalankan masuk bagian ini, 191 ini.
16:06Fisik Presiden yang kemudian diserang.
16:09Kedua, wilayah NKRI, baik seluruhnya maupun sebagiannya untuk dipecah belah di pasal 192 KUHP Yombaru.
16:21Ketiga, menggulingkan pemerintah yang sah.
16:26Menggulingkan, bukan menjatuhkan.
16:29Anda ingin mengatakan bahwa selama pertemuan halal-halal itu tidak ada satu pun yang mengarah ke sana.
16:34Lebih kepada sikap politik.
16:35Mas Yogi, orang kalau mau makar, apalagi seorang profesor, tidak pakai pengumuman di depan halayak ramai untuk melakukan makar.
16:43Ini niatnya untuk mengkritik Presiden, menjelaskan bahwa Presiden sudah menyimpangi konstitusi.
16:51Pasal 11 di BOP, sikap Presiden terkait perang, sikap Presiden soal MBG, sikap Presiden yang mengabaikan undang-undang.
17:01Nah ini yang kemudian mau dikoreksi.
17:04Ini ada niat baik orang mengoreksi di luar, sebenarnya jauh lebih baik mas Yogi dibandingkan di parlemen kalau mengoreksi.
17:12Karena orang di luar tidak punya kekuatan.
17:15Ini profesor senjata tidak punya kekuatan yang dikatakan preman yang bisa menyimpang untuk melakukan kekuasaan yang...
17:24Saya tanya ke Prok Ikrar yang ada di sini dan ada di sana juga saat pertemuan.
17:29Saya tidak datang.
17:30Oh tidak datang, yang ada di sini ya.
17:32Saya diundang tapi kebetulan.
17:33Oh tapi tidak datang, oke.
17:34Apakah iya pertemuan itu terus kemudian Prok mengamati bahwa makin hari makin setiap ada yang berbeda pendapat selalu mendapatkan tekanan
17:44dari kekuasaan.
17:45Ada beberapa macam menurut saya.
17:47Ada pengamat yang memang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil.
17:58Karena berbagai motivasi.
17:59Tapi menurut saya mereka itu ya menurut saya sikap mereka itu sikap yang sempit.
18:09Bukan sikap patriotik.
18:14Jadi saya tiap hari saya dapat laporan intel ya kan.
18:19Jadi saya ngertilah, saya sudah tahu siapa yang biayai-biayai.
18:23Pada saatnya lah kita tertipkan itu semua.
18:29Masih di Satu Mujadu Forum, Prof Ikrar saya lanjutkan.
18:35Kata ditertibkan itu yang sepertinya jadi pemantik untuk distribusi.
18:40Ya jadi ini sebetulnya suatu cerita yang memang harus dijelaskan secara panjang lebar.
18:46Ini bukan persoalan apa yang dicapkan oleh Saiful Mujani saja atau halal bihalal saja.
18:52Tapi itu diawali dengan bagaimana apa yang terjadi dengan teman dari kontras itu ya.
19:01Si Andri Yunus.
19:03Apa-apa? Melihat apa?
19:04Ya itu yang kemudian disiram apa namanya itu air keras ya.
19:09Sampai wajahnya rusak, badannya juga rusak ya.
19:12Mata yang kanannya hampir-hampir gak bisa melihat.
19:15Seperti yang terjadi pada...
19:17Prof Ikrar mau melihat apa?
19:18Ada yang mau disasar kebebasan berpendapat atau?
19:21Anda bisa lihat ya bahwa itu bukan suatu yang terjadi begitu saja.
19:27Tapi kemudian bagaimana ada orang bertanya.
19:30Anda yang dari kontras kan ya itu-itu udah benar-benar ingin mengatakan pada orang ya.
19:37Bahwa ini benar yang kita siram air keras itu adalah aktivis yang waktu itu masuk ke dalam ruang sidang ya.
19:46Dalam pembicaraan mengenai undang-undang TNI yang baru.
19:50Apa ya pesan yang dibaca Prof Ikrar?
19:52Ya kalau saya lihat bahwa apa yang dilakukan itu adalah suatu penertiban terhadap orang-orang yang aktif di dalam demokrasi.
20:03Presiden ketika dikonfirmasi itu dalam sebuah pertemuan di Hambalong mengatakan oh itu gak boleh itu pelanggaran harus hukum.
20:11Ya harusnya beliau juga bertanya.
20:13Dan sudah dilakukan kan oleh pembicaraan.
20:15Ya itu yang makanya udah banyak analisis ya.
20:18Dalangi nanti paling bundur-bundurnya paling pelaku sang kapten itu ya dengan anak buahnya.
20:24Padahal kita tahu dulu Pak apa namanya itu.
20:32Ledjet, Ledjet TNI almarhum nih dulu kasum TNI beliau mengatakan pada saya dalam kasus tim mawar aja dia bilang kerar
20:43gak ada cerita itu mayor itu bisa ngambil tindakan atas inisiatif sendiri.
20:48Gak ada itu, itu harus seorang yang sudah berpangkat kolonel atau minimal let call.
20:55Tapi kalau ini sekarang juga kapten makanya kemudian yang tertangkap kan yang kapten dan orang-orang yang melakukan itu aja.
21:03Tapi bagaimana di atas siapa yang memberikan perintah dan kemudian mengapa itu dilakukan itu satu hal ya.
21:10Jadi Andri Yunus itu bukan cuma persoalan undang-undang TNI saja tapi juga termasuk.
21:16Supaya pembungkaman, suara-suara kritis.
21:18Betul ya itu satu.
21:20Dan kemudian kata penertiban ya penertiban terhadap pengamat ingat ya itu terhadap pengamat.
21:26Prof termasuk pengamat polis.
21:27Saya juga termasuk pengamat juga.
21:29Saya Amsari juga pengamat.
21:30Saya juga termasuk pengamat juga.
21:31Kurang tertip apa coba?
21:33Jadi makanya kemudian mengapa misalnya teman kami itu apa namanya itu dosen di Universitas Negeri Jakarta itu ya.
21:43Ubedilah.
21:44Badrun itu mengundang kami ya.
21:46Dan waktu itu memang saya bilang gak bisa.
21:49Kenapa?
21:49Karena kemudian saya ada pertemuan anak-anak saya, keluarga saya juga ya.
21:54Kebetulan anak saya juga satu.
21:55Baru pulang dari Australia walaupun.
21:58Tapi kan konteksnya saat itu bertemu untuk mermuskan memberikan masukan atas perjalanan bangsa kak.
22:03Ya.
22:04Jadi intinya itu mengingatkan Presiden Prabowo ya.
22:09Bahwa jangan menggunakan kata penertiban.
22:13Makanya kemudian kata penertiban itu seperti juga yang dikatakan Ferry ya.
22:18Itu pakai P ya.
22:19Bukan pakai B.
22:20Dan ini mau ditertibkan.
22:23Kemudian Pak Prabowo selalu mengatakan kita-kita tidak memiliki patriotisme.
22:27Sekarang kalau saya tanya kepada Anda.
22:29Apakah Presiden Prabowo memiliki patriotisme?
22:33Kalau kemudian beliau itu mengikuti misalnya BOP ya.
22:37Yang disitu ada Israel.
22:39Karena itu ada pertanyaan saya minta Bung Kudari menjawab.
22:42Apa iya se-extrib itu yang disampaikan Prof Ikrar.
22:46Bahwa penertiban itu salah satu yang bisa dibutuhkannya adalah.
22:49Jadi saya kira begini.
22:50Saya kan saya menjawab sesuatu itu selalu melihat kepada data dulu.
22:55Aslinya seperti apa.
22:56Aturannya bagaimana.
22:57Ini saya bacakan nih kalimatnya.
22:59Mungkin karena merasa kalah tidak punya kekuasaan.
23:02Atau ada pihak yang hilang rejeki.
23:04Terutama maling-maling koruptor-koruptor ya kan.
23:08Yang merasa rugi dong dengan pemerintahan kita.
23:10Kita mau tertibkan.
23:11Kalau saya memanai kalimat ini.
23:13Yang mau ditertibkan itu adalah para koruptor, para maling.
23:17Itu yang lain itu Bang.
23:18Itu lain lagi.
23:19Apa yang tadi disampaikan Presiden fokus kepada pengamat Bang.
23:24Iya ini ada kalimat-pengamat.
23:25Ada pengamat-pengamat yang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil.
23:28Karena berbagai motivasi.
23:30Tapi menurut saya mereka itu.
23:32Menurut saya sikap mereka itu sikap yang sempit bukan patriotik.
23:35Mungkin karena merasa kalah tidak punya kekuasaan.
23:37Atau ada pihak yang hilang rejeki.
23:39Terutama maling-maling koruptor-koruptor ya kan.
23:41Yang merasa rugi.
23:42Jadi ini kalimatnya itu.
23:44Kalau saya bacanya itu adalah mengacu kepada koruptor itu.
23:47Maling-maling jadi yang ditertibkan itu bukan soal pengamat.
23:50Tapi maling-maling.
23:51Nah nomor dua.
23:53Selama ini Bapak Presiden itu sering ketemu dengan para pengamat.
23:58Dan itu sudah dibuktikan beberapa kali.
24:00Termasuk yang baru-baru saja.
24:02Ini di Hambalang.
24:03Dan beliau sangat terbuka untuk berdiskusi.
24:06Berdialog.
24:07Bayangkan total-total itu 6-7 jam itu berinteraksi.
24:11Di luar yang ditayangkan ya.
24:12Tetapi yang tidak ditayangkan bukan berarti diedit.
24:15Tapi karena break aja.
24:16Makan-makan aja ada waktu dan yang lain dan istirahat.
24:20Jadi Bapak Presiden ini sangat terbuka.
24:22Dan jangan lupa bahwa Presiden ini seorang intelektual.
24:26Seseorang yang baca buku.
24:27Suka diskusi.
24:28Suka dialog.
24:29Kalau ada kesempatan nih ya.
24:31Ada kesempatan nih.
24:32Ya Bang Ferry, Pak Ikrar.
24:34Itu pasti senang sekali.
24:35Itu mungkin ya.
24:36Ngobrol dengan.
24:36Mungkin diundang.
24:37Mungkin saja.
24:38Saya sudah pernah diundang juga.
24:40Saya sudah pernah diundang.
24:41Itu dia.
24:42Makanya sudah pernah diundang.
24:44Jadi gini.
24:45Pokok persoalannya itu ya teman-teman.
24:47Ini sekarang kita mau koridornya apa.
24:49Kalau menurut saya.
24:50Sekarang kan balik lagi nih.
24:52Bicara yang viral itu kan Saiful Mujani.
24:54Bukan Ferry Amsari.
24:55Kenapa?
24:56Karena.
24:58Ya balik ya ke tafsir masing-masing ya.
25:00Tapi apa yang disampaikan oleh Bang Saiful itu.
25:03Itu sesuatu yang pertama ya.
25:05Tadi.
25:06Dia kalau kita baca dalam konteksnya.
25:08Itu menjatuhkan Presiden itu adalah.
25:12Ya di luar.
25:13Di luar konstitusi.
25:14Jadi Pak Saiful itu dia bertentangan dengan.
25:17Menyebutnya adalah sikap politik.
25:19Itu satu.
25:20Yang kedua.
25:21Pergantian Presiden.
25:23Lewat mekanisme yang di luar konstitusi.
25:25Di luar pemilu.
25:25Itu ketidakpastian politiknya sangat besar.
25:28Ada potensi konflik sosial.
25:31Ada potensi kemunduran ekonomi.
25:33Harga yang terlalu mahal.
25:34Untuk dibayar oleh bangsa kita.
25:36Kenapa tidak contoh seperti Bang Fahri Hamdan.
25:39Nah kalau gitu saya.
25:39Bang Fahri ini gak pernah disebut makar.
25:42Tapi beliau bertahun-tahun dukung Pak Prabowo itu sabar.
25:45Dari satu pemilu ke pemilu berikut sabar.
25:46Gimana Bang Fahri.
25:48Masuk saya begini.
25:49Contohlah Fahri Hamzah.
25:50Saya pengen reken langsung dari Bang Fahri.
25:52Bang Fahri pasti ini.
25:54Pasti percaya lah.
25:55Bahwa ini harus dijaga demokrasinya.
25:57Bang Fahri kan mengingatkan.
25:58Jangan sampai kebablasan.
26:01Saya kira gini ya.
26:02Sebagai orang yang tidak saja membela Pak Prabowo dalam berbagai pemilu.
26:08Paling tidak saya jadi jubir tiga kali.
26:10Tapi juga membaca tradisi keluarganya.
26:13Terus membaca pikiran-pikiran Pak Margono, Pak Mitro.
26:17Yang kebetulan juga pendiri dari fakultas saya.
26:20Dan membaca apa yang dialami oleh Pak Prabowo di zaman order baru ya.
26:24Saya kira ini waktunya untuk teman-teman itu mencoba menarik diri sedikit untuk mulai memahami kompleksitas Prabowo ini.
26:37Dan saya kira jangan terlalu kalau beliau berpernyataan itu langsung kena attack.
26:44Gak boleh mengambil diri gitu.
26:47Jadi misalnya istilah penertiban gitu.
26:50Misalnya kemudian pengamat dan sebagainya itu.
26:54Itu jangan langsung merasa waduh saya ini lagi terancam.
26:58Saya ini mau ditertibkan, mau disiram air keras gitu kira-kira gitu.
27:01Terus saya ini satu sikap yang mungkin mulai kita agak obati.
27:07Karena saya anggap itu datang memang dari trauma lama.
27:10Sekalipun fakta terbarunya ada kan Bang.
27:13Fakta terbarunya kejadian kan.
27:14Oh iya itu fakta kan dia gak mungkin mentolerir yang kayak gitu.
27:18Prabowo itu orang yang gak mungkin mengizinkan.
27:21Satu tindakan kekerasan itu terjadi di depan mata dia itu mustahil itu.
27:26Itu lalat pun kalau anda tepuk dia bisa marah ya.
27:29Kenapa kamu tepuk lalat itu dia kan perlu makan juga.
27:31Kenapa semut itu kamu mesti usir.
27:34Itu kan sisa makanan kamu.
27:36Jadi tolong ini agak dibalikin dikit.
27:38Karena memang saya tahu blackmail kepada Prabowo itu selama Orde Baru.
27:44Karena sebagian memang gayanya.
27:46Dan orang tuh kalau cerdas kadang-kadang kan memang orang tuh agak takut tuh jangan kecerdasan.
27:50Jadi Bang Fadi lebih fokus ke soal cara ya.
27:52Jadi iya, jadi menurut saya ini ada traumatik.
27:56Dari satu generasi agak traumatik begitu dari masa lalu.
27:58Dan kemudian punya was-wasangka yang berlebihan.
28:05Dan itu gaya-gaya bicara Pak Prabowo itu dianggap attack kepada mereka.
28:10Padahal itu mustahil.
28:11Prabowo itu tadi seperti Kodari bilang itu orang demokratis.
28:15Tapi kalau dia ngomong dengan bahasa orang timur.
28:18Ya saya ini orang timur.
28:19Saya ini juga banyak disalahpahami orang.
28:21Karena saya apa namanya berbicara keras begitu.
28:24Tapi coba anda bersahabat dengan saya.
28:26Saya kan gak akan melukai.
28:27Saya akan mencari kata-kata yang paling puitis untuk membuat anda tidak terlalu.
28:31Bung Ferry mungkin belum kenal.
28:33Jadi mungkin itu yang nalang saya.
28:35Tapi Bung Ferry, jawabannya tahan dulu.
28:38Masih di satu majadah forum.
28:40Bung Ferry, tadi mau protes apa?
28:42Situasi lagi tekanan geopolitik.
28:46Orang bilang mau syaratkan kita harus kompak.
28:49Tapi Bung Ferry mau protes apa nih?
28:51Saya protes Bang Fahri dulu.
28:53Kompon demokrasi senior ya.
28:55Senior loh ini senior.
28:56Pernyataan beliau itu agak janggal bagi saya.
28:58Yang kemana?
28:59Publik diminta mengerti gaya dialektika presiden.
29:04Sebaliknya harusnya menurut saya.
29:06Presiden lah belajar mengerti apa yang dirasakan publik.
29:11Tidak punya kekuasaan yang bisa dan ada itu adalah hak untuk menyampaikan pendapat.
29:17Tiba-tiba malah dikatakan makar.
29:20Presiden ngerti.
29:21Rakyatnya sedang kecewa dengan dia.
29:23Ada baiknya dia memastikan kebahagiaan lain yang bisa membuat orang bahagia.
29:30Itu cara presiden sebagaimana banyak presiden dalam teori-teori sistem presiden sebagai presiden yang baik.
29:36Jadi kalau...
29:38Melihat masyarakat sebagai konsumen kebijakan.
29:40Ya.
29:41Jadi bukan sebaliknya.
29:42Di titik tertentu kalau teman-teman di pemerintahan menyadari presiden itu terlalu panjang daya bicaranya.
29:50Terlalu banyak.
29:51Sehingga menyisakan berbagai pertanyaan dengan sikap-sikap.
29:55Pada titik tertentu mungkin presiden lebih banyak bicara soal data-data terbaru.
30:02Kebijakan yang taat hukum.
30:04Yang dikritik orang mas Yogi adalah pernyataan beliau itu dadakan.
30:09Gentengisasi dadakan.
30:11Tidak ada di BAPRN.
30:12Tidak ada visi misi.
30:14Dadakan?
30:15Dadakan tidak ada.
30:16Rancangan konsep nasionalnya tidak ada.
30:19Tidak ada di rancangan pembangunan nasional jangka manapun.
30:23Ini yang harus ditahan.
30:24Lantanitas oke.
30:26Tidak dalam perencanaan.
30:27Tapi kalau dampaknya baik.
30:29Ini karena orang-orang pintar ini di lingkaran layer ketiga dari istana.
30:34Sementara layer pertamanya orang-orang juga tidak mampu dan tidak punya kemampuan untuk menyampaikan isu-isu secara benar kepada publik.
30:43Akibatnya terseretlah presiden dengan data yang salah.
30:47Cara berbicara yang tidak benar.
30:49Dan sikap yang juga menurut saya bermasalah.
30:52Itu persoalannya.
30:53Dan bagi saya kalau tudingan makar ini dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan presiden.
30:58Bagi saya presiden tidak punya jiwa militer yang kuat juga.
31:03Meskipun sampai hari ini dari presiden belum ada tudingan makar.
31:05Jadi tidak pernah presiden mengatakan takut makar atau kemudian mengatakan itu makan.
31:08Tidak pernah loh.
31:09Ya orang-orang di sekitar istana itu.
31:11Gambaran istana.
31:12Gambaran presiden pemimpinnya.
31:14Tapi begini Bang Ferry.
31:16Secara berlebihan menafsirkan.
31:17Kalau ada yang menafsirkan juga rasanya sasa-sasa aja ya.
31:20Tafsir.
31:20Kalau kita lihat pasal tadi itu.
31:22Tafsir.
31:22Kalau yang menafsirkannya tukang bakso sebelah istana gak apa-apa Bang.
31:25Ini orang istana Bang.
31:27Begini loh.
31:27Yang tak.
31:28Begini loh.
31:29Ya beda itu Bang.
31:29Saya pun kalau membaca ini.
31:32Taya dan dampaknya saya.
31:33Kalau misalnya tadi membuat presiden atau wakil presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan.
31:38Seperti kata Bang Ferry tadi itu.
31:40Dikunci misalnya secara fisiknya.
31:42Atau didatangin masa.
31:44Lalu diteror.
31:45Lalu dipukuli.
31:46Pasal ini berlaku kalau buat saya.
31:48Dan itu tidak ada.
31:49Jadi begini ketika Anda menggalang masa demonstran dan tidak terkendali.
31:54Hal-hal semacam itu kan bisa terjadi.
31:56Dan pada titik itu ya.
31:57Apalagi kalau bukan makar namanya.
31:59Kalau ada yang mengatakan.
32:01Saya kasihis pada Bang Ferry.
32:02Pasal 192 dan 193 itu perlu dipahami baik-baik.
32:06Kata 193 soal menggulingkan pemerintah.
32:10Baca penjelasannya.
32:12Penggulingan itu berkaitan dengan meniadakan pemerintah dan mengubah struktur pemerintah.
32:17Apa hebatnya Profesor Saiful Mujani mengubah dan meniadakan pemerintah.
32:22Jadi tindakan pemerintah lah merespon keberanian mengeritik itu menjadi sesuatu
32:27yang kemudian terkesan jahat makar kepada pemerintah dan segala macam.
32:33Bagi saya ini cara respon istana melihat publiknya.
32:38Ini orang pintar loh.
32:39Kalau orang pintar itu harus jadi dekati cara baik-baik.
32:43Nah ini malah kemudian.
32:44Atau apa yang dikatakan Presiden Prabowo dengan orang di sekitarnya.
32:48Iya.
32:48Saya tidak menyamakan.
32:50Tapi Presiden Prabowo sebagai pemerintah kekuasaan.
32:53Ayat 2.
32:54Setiap orang yang mempersiapkan perubahan ketatanegaran secara konstitusional.
32:58Tidak dipidana.
33:00Jelas ini.
33:01Kalau secara konstitusional.
33:03Masalahnya omongannya itu.
33:05Statementnya itu.
33:06Dalam koridor konstitusi atau tidak?
33:08Tidak.
33:08Iya dong.
33:11Misalnya begini nih.
33:11Kebewasan berpendapat.
33:13Ada oposisi ini ya.
33:13Oposisi ini misalnya.
33:16Misalnya beliau misalnya.
33:17Ini tidak bagus kebijakannya.
33:19Kebijakan yang bagus itu harusnya begini-begini.
33:21Nanti tahun 2029 kita akan cari atau kita pilih Presiden yang baru.
33:26Itu kan tidak bisa dimasalkan.
33:27Saya setuju dengan penjelasan beliau.
33:29Mengumpulkan orang.
33:30Karena beliau walaupun tidak hadir.
33:32Saya tidak paham apa yang kami bicarakan di yang hadir.
33:35Saya mau ke Prok Iqrar.
33:37Saya jelasin.
33:38Kalau Pak Iqrar.
33:40Karena Presiden yang memulai kalimat yang terbahayaan.
33:44Yaitu menertibkan.
33:45Menertibkan.
33:46Pak Iqrar ini sama dengan Pak Iqrar ini.
33:48Menakutkan kebiculaan setelah menerima kasih.
33:51Boleh ditanggungan dulu.
33:52Andri Yunus disiram.
33:53Iya, iya, iya.
33:54Jadi menakutkan bagi kami semua.
33:55Saya mau dudukan ke.
33:56Soal Andri Yunus ya.
33:57Kita mau proporsional.
33:58Ini keliru.
33:58Sebenarnya.
33:59Kalau proporsional sampai hari ini.
34:01Presiden belum pernah mengucap belah sungkawa kepada kawan kami.
34:05Andri Yunus.
34:06Dalam setiap pemerintahan Presiden kita.
34:09Di era reformasi ini.
34:10Ada saja oknum-oknum yang melakukan semacam itu.
34:13Zaman Ibu Megawati.
34:15Terjadi pembunuhan terhadap munir.
34:17Kapan pembunuhan terhadap munir terjadi?
34:18Pada zaman Ibu Megawati jadi Presiden.
34:21Pada zaman Pak SBY.
34:22Ada oknum-oknum yang menyerang LPC Bongan.
34:25Main hakim sendiri.
34:27Di eksekusi itu.
34:28Nah pada zamannya Pak Jokowi.
34:30Ada penyiraman kepada yang namanya Nopel Baswedan.
34:34Kenapa sekarang begitu ada kejadian serangan terhadap aktivis namanya Andri Yunus.
34:37Yang disalahkan Pak Prabowo.
34:39Menurut saya jam toto konklusion itu.
34:42Begitu loh.
34:43Tolong saja bangka gitu loh.
34:44Karena ada ucapan menertipkan.
34:47Tunggu kami tahu itu antai-antai bekerja siapa yang membiayanya.
34:51Ini tolong proporsional Pak Ferry.
34:53Tolong Pak proporsional Pak Ferry.
34:54Saya rentangkan.
34:55Sudah dua-duanya saya mau memberikan kesempatan dulu.
34:59Oh persoalan ini bukan hanya Pak Prabowo.
35:01Terjadi di era sebelumnya.
35:02Prof Iqrar tadi sudah menyampaikan itu pernah juga diundang presiden untuk berdialog.
35:08Apa komentar?
35:09Ya jadi kami waktu itu saya sebenarnya sebagai mantan tuta besar juga ya di Indonesia ya.
35:17Saya pikir saya diundang juga sebagai mantan tuta besar.
35:21Rupaya saya sebagai pendidikan dalam bidang politik dan perempuan.
35:24Apa yang Prof Iqrar tangkap?
35:26Ya beliau mengatakan misalnya ya bahwa kita udah ini kok apa nih persoalan Aceh dan Sumatera itu
35:34udah ditangani dengan baik.
35:37Berapa biayanya yang saya nggak perlu katakan di sini ya.
35:41Karena memang ada perbedaan antara teman-teman di Aceh itu dengan apa yang dikatakan oleh Pak Prabowo misalnya.
35:47Kemudian juga misalnya bahwa Aceh itu udah banyak yang udah kita bangun.
35:52Nggak ada lagi orang tinggal di tenda dan sebagainya.
35:54Penyataannya masih ya.
35:56Ini contoh saja.
35:57Saat itu gimana presiden merespon pengamat?
36:00Saat itu kan dikumpulkan kan pengamat-pengamat.
36:02Menurut pandangan profesional.
36:04Jadi begini ya.
36:05Jadi apa yang dikatakan Pak Prabowo misalnya ya.
36:08Bahwa kita sudah melakukan suatu apa misalnya itu pemapasan dari berbagai anggaran itu ya.
36:19Oh efisiensi.
36:20Efisiensi. Katanya ada anggaran sekitar 300-an triliun rupiah gitu kan.
36:27Dan ternyata itu bukan dari hasil efisiensi.
36:30Ini adalah suatu apa yang disebut dengan loan yang memang belum digunakan oleh negara.
36:38Itu aja.
36:38Apa yang Prof Ikran mau sampaikan dari pertemuan dengan Pak Prabowo?
36:42Jadi apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo bahwa itu adalah hasil dari efisiensi.
36:47Ternyata itu adalah standing loan yang belum dipakai oleh pemerintah misalnya kan.
36:52Kemudian juga berapa biaya untuk misalnya perbaikan kembali di Aceh dan juga di berbagai wilayah Sumatera itu.
37:00Katanya anggarannya sekian gitu kan.
37:02Padahal kalau dilihat dari anggaran yang sebetulnya sudah digunakan, kemana itu uangnya?
37:08Karena kan masih banyak sekali persoalan-persoalan di apa namanya itu, Tanah Aceh dan juga Sumatera Barat.
37:16Itu yang belum terselesaikan dengan baik.
37:19Bahkan hingga hari ini ya.
37:21Enggak ini contohnya.
37:22Jadi begini loh.
37:23Jadi kami-kami ini bukanlah orang-orang yang kalah dalam pemilu ya.
37:28Tapi kami-kami ini adalah orang juga yang memiliki nasionalisme dan juga selatu.
37:33Dan ingin berpartisipasi.
37:35Ya, ingin berpartisipasi.
37:37Kita mengingatkan, saya beri contoh misalnya.
37:39Pak Prabowo ya, jangan Anda kemudian bicara bahwa kita akan tetap ada di BOP misalnya kan.
37:46Keluar dari BOP.
37:47Karena ini suatu hal yang tidak mungkin kita bisa bersama-sama dengan Israel dan juga agresor Amerika Serikat ya.
37:55Yang kemudian Anda tahu menyerang Iran misalnya.
37:58Bukannya ngurusin Gaza.
37:59Meskipun ada penjelasan tersendiri soal ini ya.
38:01Artinya ada strategi lain.
38:03Ya, strategi lain.
38:04Jadi pertanyaan kita juga ya.
38:06Mengapa kemudian sekarang kita gak membantu Iran yang jelas-jelas dijajah oleh penjajah gitu kan.
38:13Tapi malah membantu penjajah dan bergabung dengan penjajah dan agresor.
38:19Satu lagi, apakah kemudian kami gak punya patriotisme?
38:22Punya.
38:23Kenapa?
38:24Kita udah ngingatkan juga Pak Prabowo itu di dalam undang-undang yang disebut agreement on reciprocal trade.
38:32Itu sangat merugikan Indonesia.
38:35Dan Indonesia bener-bener diijak-injak kedaulatannya oleh Trump.
38:38Sebenarnya dari rencana 32 persen bisa menjadi 15 persen.
38:41Ya, sekarang ya kalau Anda lihat ini kan kita cuma berkurang dari 32 menjadi 19.
38:48Padahal kalau untuk most favorite nation itu bisa antara 12 sampai 15 persen gitu kan.
38:56K-19 itu angka maksimal.
38:58Oh, untuk dulu.
38:59Bahkan beberapa kan tidak ada tarifnya sama sekali.
39:03Untuk most favorite nation itu harusnya 6 persen.
39:03Untuk mayoritas produk kita gak punya tarifnya justru.
39:06Nah, kita kenapa kemudian tidak menolak itu.
39:11Sementara Mahkamah Agung Amerika Sikas sendiri mengatakan.
39:15Ya kan begini, memang yang namanya reciprocal trade ini kan memang selama ini Amerika kan defisi terhadap kita kan.
39:22Dia berusaha menyeimbangkan dong.
39:24Yang penting adalah.
39:25Saya mau ke Bang Fahri-Bang Fahri.
39:28Apa iya diksi penertiban itu kemudian diwujudkan dalam bentuk penyiraman saya.
39:34Bang Fahri.
39:36Apa iya ada, ya ini orang boleh menyambungkan.
39:40Tapi Bang Fahri yang tadi sudah lebih dewasa memahami seorang Presiden Prabowo dan tahu diri ada di eksekutif gimana?
39:48Iya mungkin karena saya juga di eksekutif, tapi kebetulan mengenal pribadi Pak Prabowo ya.
39:55Menurut saya ya, jangan dengan Pak Prabowo itu meskipun dia ada di panggung publik begitu ya.
40:03Tapi jangan diambil personal.
40:06Karena dia itu memang, orang itu sudah selesai dengan pribadinya.
40:12Dia gak ada istilah dendam, marah, kecewa gitu udah gak ada.
40:16Tapi kalau gaya gitu ya, mohon maaf ya.
40:18Susah bos, kita orang timur tuh disuruh melambai-melambai gitu gak bisa gitu.
40:23Memang udah kelakuan kita dari sononya.
40:25Itu satu.
40:26Yang kedua menurut saya ya, bisa gak kita mulai melihat kepentingan kita secara kolektif.
40:33Jadi saya tidak mengatakan bahwa rakyat minta memahami, enggak.
40:37Ini ada momen loh.
40:39Dan ini momen yang tidak gampang.
40:41Ini yang saya firasati sebagai, apa namanya, jadwal-jadwal dalam sejarah satu bangsa.
40:48Dimana setiap 20 tahunan itu ada peluang-peluang baik.
40:52Berusaha ini lagi banyak peluang baik loh.
40:55Positif aja.
40:56Pak Prabowo gak bakalan.
40:59Semua sepakat dan ini kan soal bagaimana mengelola pemerintah ini.
41:02Iya artinya gini, jadi kan begini, kan ada asumsi bahwa ya ini pemerintah jahat gitu.
41:11Sampai kemudian ingin dijatuhkan dan sebagainya.
41:14Bisa gak ini kita agak make up sedikit, coba kita lihat kepentingannya agak besar begitu ya.
41:18Ini momen kita loh, ini momen Indonesia loh.
41:21Saya terus terang pengen ngajak teman-teman, karena Pak Prabowo tuh gak mundur.
41:25Dia positif aja, dia gak akan peduli kalau ada yang melanggar hukum dia sikat pasti dia, apa namanya, suruh sistem
41:33ini bekerja dan dia koreksi loh.
41:35Kalau ada apa namanya, tindakan-tindakan dia koreksi.
41:39Dia baca, gila, dia bilang itu ada pengusaha sudah ingkrah dikangkangi itu kebun, dia gak mau, saya suruh sikat dia
41:48bilang.
41:48Nah ini kan gaya beliau, tapi sikat maksudnya itu adalah tegakan hukum.
41:53Kalau pemimpin juga melihat hukum gak tegak terus senyum-senyum aja ya, gak bener juga.
41:59Tapi kalau dia bilang begitu jangan dianggap, wah ini apa namanya, intervensi bukan.
42:04Bang Fahri.
42:05Pertama tentu terjemahan Bang Fahri sebagai ahli tafsir presiden ya, akan sangat berbeda.
42:11Sudah sangat memahami.
42:13Mas Yogi akan sangat beda dengan yang di bawah presiden yang lain.
42:16Kata menertibkan bisa dimaknai sangat berbeda.
42:19Saya tuh termasuk agak bersedih hati sebagai wakil.
42:22Ke Sumatera Barat ya.
42:24Presiden selalu mengatakan meskipun Sumatera Barat itu kalah.
42:28Saya perhatikan, beliau lupa sebelum-sebelumnya warga Sumatera Barat itu memilih beliau.
42:34Sekarang beliau lebih cenderung menggunakan diksi yang orang-orang kalah itu.
42:39Dia lupa.
42:40Sepuluh tahun yang lalu dia selalu ingin dimenangkan.
42:43Itu tadi kata Bang Fahri jangan personal.
42:45Makanya presiden juga jangan personal.
42:48Kok aneh jadinya kalau kita diminta mengerti presiden, bukan presiden yang mengerti kita.
42:54Memang kita siapa? Kita ini rakyat.
42:56Beliau pemegang tertinggi kekuasaan.
42:59Begitu terbawa perasaan, walaupun bukan itu maknanya, disalah artikan oleh anak buahnya, terjadilah yang macam-macam.
43:08Bahkan mungkin termasuk penyiraman.
43:11Karena itu sebabnya presiden sampai hari ini belum pernah mengucapkan belah sungkawa pribadi terhadap teman kita Andri Yunus ini.
43:19Oke, saya ke Prof. Virkar.
43:20Prof, saran apa Prof untuk sebagai yang pernah ketemu para Bawo?
43:25Supaya ini tetap dijaga, tujuan pemerintah juga tercapai, tapi masyarakat terlibat.
43:30Jadi kalimat dari presiden Prabowo itu tidak berubah.
43:33Seakan-akan.
43:34Dari kapan itu ukuran waktunya?
43:35Ya itu dari sejak dia menang menjadi presiden Republik Indonesia.
43:40Apa yang tidak berubah?
43:40Seakan-akan orang yang mengertik itu adalah orang dari yang kelompok yang kalah.
43:44Padahal maksud kami itu adalah mengingatkan kepada presiden agar jangan menjadi sebuah kekuatan yang totaliter dan kemudian juga otoriter.
43:57Kami ingin menjaga sebagai demokrasi di Indonesia ini tetap bisa berjalan secara konstitusional.
44:04Jadi intinya gitu bahwa kemudian seakan-akan tidak punya nasionalisme, kemudian tidak punya apa istilahnya itu patriotisme,
44:13dan seakan-akan tidak ada yang baik dari dia.
44:16Kita tidak bilang begitu.
44:18Anda itu coba dengarkan juga kata rakyat.
44:22Keluar dari BOP, berhenti dari ART dan sebagainya dan sebagainya.
44:26Itulah yang ingin.
44:28Mas Kodari.
44:29Gimana Mas Kodari?
44:30Pertama kan begini, tidak selalu kata pengamat atau orang yang kalah itu identik atau selalu disebutkan.
44:37Tetapi tidak bisa dinafikan juga bahwa memang diantaranya memang ada orang-orang yang tidak mendukung beliau.
44:43Saya belum hitung jumlahnya secara persis ya.
44:45Dan itu enggak apa-apa?
44:46Bahkan yang mendukung pun juga berseberat.
44:48Ya enggak apa-apa begitu.
44:49Karena itu menurut saya kata kuncinya adalah soal apakah itu dalam koridor konstitusi atau tidak.
44:55Kita punya konstitusi itu supaya apa?
44:58Supaya menjaga dari hal-hal yang menimbulkan ketidakpastian yang besar.
45:02Nah kalau ada ketidakpastian yang besar, maka nanti kita mempertaruhkan situasi dan kondisi bangsa ini yang notabene nanti korbannya adalah
45:08kita sendiri.
45:09Saya kira itu aja sih kata kuncinya.
45:11Yang kedua, insya Allah Indonesia dalam koridor yang tepat, dalam situasi tekanan ekonomi seperti sekarang dari konflik di Timur Tengah,
45:21kondisi kita relatif lebih baik dibandingkan dengan negara yang lain.
45:24Amin.
45:24Dan saya percaya juga bahwa kalaupun misalnya ada upaya-upaya provokasi macam itu enggak akan berhasil juga.
45:31Karena kondisi di lapangannya tidak siap untuk itu.
45:34Dan partisipasi publik tetap dijaga.
45:36Tetap dijaga.
45:36Terima kasih Mas Godari, terima kasih Bang Fahri Hamzah, terima kasih Prof Ikral, terima kasih Bang Fahri Hamzahri.
Komentar

Dianjurkan