JAKARTA, KOMPAS.TV - Penanganan kasus teror penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, kian memunculkan berbagai kejanggalan.
Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) mengambil langkah mandiri dengan melakukan investigasi independen. Hasilnya serangan terhadap Andrie diduga sebagai percobaan pembunuhan berencana, dengan dugaan pelaku mencapai 16 orang.
Di saat bersamaan, arah penanganan perkara bergeser ke ranah pengadilan militer, memicu desakan luas agar negara membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang bersifat independen.
Dipo kembali menelusuri jejak para terduga pelaku bersama Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya. Benarkah Andrie sudah menjadi target operasi sejak lama?
Dipo juga menelusuri kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan, titik yang disebut sebagai lokasi awal pergerakan dan diduga menjadi pusat koordinasi.
Untuk mengungkap terkait dugaan penggunaan aset negara di kawasan Panglima Polim serta dugaan keterlibatan struktur intelijen, Dipo bertemu dengan Kepala BAIS TNI periode 2011-2013, Soleman B. Ponto.
Dalam aksi Kamisan Ke-902, Dipo bertemu dengan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid yang menyoroti potensi impunitas jika kasus ini ditangani di peradilan militer.
Akankah proses hukum benar-benar menyentuh aktor utama di balik serangan ini?
Dipo berbincang dengan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra.
Yusril menegaskan bahwa kekerasan terhadap aktivis adalah ancaman serius bagi demokrasi dan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apapun. Sejauh mana negara berani menelusuri hingga ke pusat kendali perintah?
Saksikan program DIPO INVESTIGASI episode Singkap Gelap Teror Air Keras. Tayang Senin, 6 April 2026, pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#andrieyunus #aktivis #tni
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/661369/andrie-yunus-disiram-air-keras-mengapa-negara-didesak-bentuk-tgpf-dipo-investigasi
Komentar