KOMPAS.TV - Kita membahas rencana serangan darat Amerika Serikat terhadap Iran hingga blokade Iran terhadap Selat Hormuz, yang memicu krisis energi global. bahkan Trump menyerukan agar Iran membuka Selat Hormuz, yang ia sebut sebagai "Selat Trump".
Bersama pakar strategi dari Pusat Pengkajian dan Penerapan Angkatan Udara (PPAU), Marsma TNI Purnawirawan Agung Sasongkojati, dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Profesor Hikmahanto Juwana.
#iran #as #hormuz #israel
Baca Juga Diduga Masalah Utang, Polisi Dikeroyok "Debt Collector" saat Liburan di Bali |BORGOL di https://www.kompas.tv/nasional/659542/diduga-masalah-utang-polisi-dikeroyok-debt-collector-saat-liburan-di-bali-borgol
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/659543/pakar-strategi-ppau-prof-hikmahanto-soal-as-kirim-pasukan-darat-hingga-minta-selat-hormuz-dibuka
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:03Kita bahas rencana serangan darat Amerika Serikat terhadap Iran bersama pakar strategi dari Pusat Pengkajian dan Penterapan Angkatan Udara, PPAU,
00:10Marsma TNI, Purna Wirawan Agung Sasolong Kojati, dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Coana.
00:19Selamat malam, Pak Agung juga.
00:21Selamat malam, Rizka.
00:22Saya ke Pak Agung dulu. Sebenarnya saya pernah melihat juga apa yang Anda sudah sampaikan di Kompas TV bahwa kalau
00:30invasi darat itu jumlahnya nggak ribuan semestinya.
00:33Nah itu dalam kondisi saat ini sebenarnya bagaimana harusnya Amerika Serikat menghitung kalaupun memutuskan untuk invasi darat dengan risiko yang
00:41harus dihadapi.
00:41Sekarang kan fasenya diplomasinya kan sedang tawar-menawar, jadi kedatangan pasukan darat yang ditambah baik dari berupa marinir di Kapal
00:51Indo
00:52ataupun pasukan darat lintas sudara yang dikirim ke pangkalan mungkin di Kuwait atau ke Jordania ya, saya belum tahu di
01:00mana itu.
01:00Itu adalah dalam tanya untuk koersif diplomasi.
01:06Namun seandainya ada split pikiran karena sudah disparate, disparate itu maksudnya sudah putus asa, ini nggak bisa, ini sudah mencoba
01:14-coba berbagai cara.
01:16Ya mungkin penyerbuan yang paling mungkin itu ke Pulau Kark.
01:20Karena yang saya sudah hitung, Pulau Kark itu hanya membutuhkan satu Marine Expedition Unit 3.500 prajurit marinir.
01:28Kemudian untuk merebut, jadi itu untuk pendaratannya, kemudian untuk merebut mempertahankan instalasinya itu satu Brigade Combat Teamnya
01:40AT2 Division, Airborne Division, 82 Airborne Division Screaming Eagle, wah itu terkenal sekali itu.
01:48Saya fansnya Brigade, apa, Divisi 82 saya fansnya, betul-betul fansnya.
01:53Tapi itu akan didaratkan dengan payung terjun ya, didaratkan dengan ini karena tidak ada landasan di sana, didaratkan dengan payung
02:00mendarat di sana untuk mengamankan ini.
02:02Karena instalasi ini nggak boleh diganggu, nggak ada penghancurkan instalasi karena menghancurkan instalasi sama aja tambah parah itu, harga minyak
02:09tambah naik.
02:10Jadi apapun yang merusak minyak sudah nggak ada sekarang, jadi direbut itu.
02:14Nah, dalam 48 jam nanti marinirnya akan didaratkan dengan kapal yang kapal MPB yang bentuknya kayak hovercraft itu,
02:23sama pesawat Osprey dan pesawat helikopter Seas Thailand, jadi dilindungi dengan AH-1 Viper, pengganti Aero Cobra.
02:31Darat bisa 48, pasti dilindungi dengan EA-18 Growler dan dilindungi F-18.
02:37Wah, semua pada hari itu, khusus 2 hari itu ya, 48 jam itu, pasti full air spurity.
02:45Maksudnya nggak bisa lama-lama.
02:46Karena setelah 48 jam, masuk hari ketiga, baru mulai.
02:51Karena pasti dibiarkan sama ini, baru mulai.
02:54Dikirim rudal satu persatu, roket.
02:57Karena itu jaraknya 25 km, itu dalam jangkuannya artili 155 mm, itu jangkuannya rudal jarak pendek.
03:04Apalagi jangkuannya rudal Koramsar, dan rudal-rudal lain yang mengerikan itu, nah itu baru masalah.
03:11Memang bisa dikirimkan Patriot dan TAT.
03:14Tapi, untuk mempertahankan, melindungi 3.000 marinir dan 4.000 itu di tempat yang umpel-umpelan itu,
03:23itu dia harus menghasilkan uang miliaran dolar setiap minggu itu.
03:28Ya, jadi artinya cost-nya pun sangat mahal untuk itu.
03:30Kalau profit dari sisi hukum internasionalnya, ya sebenarnya kalau jelanggarnya sudah sangat banyak sejak awal.
03:37Tapi, dengan invasi darat ini, seperti apa nanti akan yang jadi kendala secara hukumnya?
03:43Pertama ya, saya ingin sampaikan bahwa beberapa jam yang lalu,
03:48saya mendapat berita yang mengatakan, Menlu Marco Rubio,
03:53mengatakan bahwa tidak akan melakukan pengiriman pasukan darat.
03:58Karena, menurut Marco Rubio, bahwa serangan-serangan udara sudah cukup dan kemudian sudah memadai bahwa Amerika Serikat sudah memenangkan perang.
04:10Tapi, beliau juga mengatakan tergantung dari Pete Haskett, ya, Menteri Perangnya.
04:16Dan yang kedua, tentu kita nggak bisa 100% menelan ini,
04:20karena kita tahulah kalau misalnya Trump ini bisa saja membuat kejutan-kejutan.
04:25Namun, demikian ada tiga hal yang memang bisa menjadi basis untuk mengatakan pasukan darat itu tidak akan diterjunkan.
04:35Pertama adalah apa yang disampaikan oleh mantan Direktur Counter-Terrorisme, Joe Kant.
04:43Dia mengatakan bahwa tidak seharusnya Amerika Serikat mengirim anak-anak muda ke perang Iran.
04:50Karena ini akan menjadi killing field.
04:54Itu sudah disampaikan oleh Joe Kant seperti itu.
04:57Yang kedua adalah, Iran sekarang ini sudah memberikan impresi, ya,
05:04bahwa mereka akan menghadapi serangan darat kalau Amerika Serikat akan mengirimnya.
05:10Bahkan mereka sudah mengatakan akan ada 1 juta orang, kalau nggak saya salah, ya,
05:16yang akan disiapkan, ya, untuk menghadapi tentara-tentara dari Amerika Serikat.
05:24Yang pasti adalah, tidak mungkin tentara Amerika Serikat itu akan diterjunkan ke Iran.
05:30Kalau jumlahnya cuma kemarin 2.500, airborne-nya juga 1.000 orang, begitu ya, jumlah itu sangat kecil.
05:38Memang kemudian yang ketiga, itu yang seperti tadi disampaikan oleh Pak Agung,
05:43bahwa kemungkinan besar bahwa ini akan diterjunkan ke tempat-tempat tertentu.
05:49Misalnya di Kark Island, di Abu Musa, untuk mengendalikan Selat Hormuz, mungkin.
05:55Tapi kita juga tidak tahu berapa pasukan darat dari Iran yang akan dikirim ke sana.
06:02Karena pasti tidak mungkin tidak dihitung juga, kan?
06:04Iya, betul sekali.
06:06Dan yang kedua juga, mungkin juga ada yang mengatakan bahwa ini akan diterjunkan,
06:11sama seperti pada waktu Venezuela, di target-target tertentu saja.
06:16Misalnya di nuklir site.
06:18Atau di tempat-tempat di mana para pemimpin Iran, dia bersembunyi di bangker-bangker.
06:25Karena kalau misalnya dilakukan serangan udara, walaupun serangan itu ada persisinya,
06:31tapi tidak mungkin bisa menangkap mereka dan kemudian membuat mereka mengatakan bahwa
06:38sudah lah, kita sebaiknya menyerah kalah.
06:41Nah, jadi tiga indikasi itu sebenarnya menurut saya mungkin ada benarnya
06:48Marco Rubio mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengirim pasukan daratnya.
06:53Nah, kalau Pak Agung melihat, sebenarnya kalaupun invasi darat dilakukan,
06:58apa kerugian untuk Amerika Serikat?
07:00Karena kalau dihitung sebagai killing field, tentu akan risiko dan kontraproduktif untuk AS.
07:05Dibandingkan dengan misalnya sejarah AS saat di Vietnam,
07:08apa bedanya juga dengan saat ke Afganistan dan Irak?
07:11Untuk orang-orang yang sudah biasa merekayasa kondisi, cipta kondisi,
07:16false flag, false flag, ataupun mungkin mereka merencanakan adanya kematian
07:24anak-anak muda Amerika ini untuk membangkitkan patriotisme di dalam negerinya.
07:28Cuma mungkin itu bisa ya, zaman Perang Teluk dulu.
07:31Sekarang kan masalahnya zaman Medsos.
07:33Bagaimana di saat-saat terakhirnya mereka menghadapi kematian,
07:37anak-anak muda ini mengirimkan Medsos ini malah sebaliknya.
07:40Jadi yang diharapkan untuk membangkitkan patriotisme,
07:43bahwa kita berhadapan dengan Serses seperti 300,
07:46akan dibuat seperti nanti dikroyok oleh orang Iran,
07:48Irannya Serses seperti film 300, mereka Separta, itu kan diolah seperti itu.
07:52Tapi masalahnya kan enggak begitu, semua udah tahu duduk perkaranya.
07:56Orang Irannya enggak salah apa diserang.
07:58Nah, tapi seperti yang dikatakan oleh Prof tadi,
08:01bahwa harga yang dibayar untuk mempertahankan pasukan S-17 ribu itu sangat mahal.
08:08Untuk pasti serangan udara ya.
08:10Dan pasti kalau dia didaratkan di tengah-tengah Iran,
08:16ke nuklir, kemana, itu nanti payung udaranya dari mana.
08:19Nah, emang betul saya tahu bahwa Yunemirat mengatakan,
08:22oh kita akan bergabung Amerika, tapi kan itu ngomong aja.
08:25Dia belum tahu harga yang dibayar,
08:27kalau Bursk Khalifa itu disikat sama satu koram sahaja selesai itu kan.
08:33Iya, iya, iya.
08:33Ya, jangan asal itu kan orang-orang yang mungkin tidak pandai ditaruh pada tempatnya,
08:39sehingga ngomong enggak bisa sembarangan.
08:40Karena harga yang dibayar bagi Yunemirat itu jauh lebih mahal daripada dia,
08:44diam aja sekarang.
08:46Iya.
08:46Itu, nah itu yang, kalau dia mengizinkan sampai pasukan berangkatnya Yunemirat,
08:51saya dapat informasi bahwa Kuwait akan direbut oleh milisi Irak,
08:56Yunemirat akan direbut oleh Iran, akan diduduki dan dianexasi.
09:00Iya, maka dari itu harusnya tidak boleh dari kawasan Timur Tengah,
09:04kan mengeluarkan.
09:05Itu suatu hal yang sangat menurutnya sangat tidak bijaksana,
09:08dan seperti yang Prof. Tawo juga dalam suatu perang kalau dianexasi ya itu normal wajar.
09:14Karena mereka mengadakan perlawanan, saya mengadakan permusuhan dianexasi,
09:18sama seperti Palestina dianexasi sama ini kan.
09:21Dan memang Yunemirat itu kemennya Israel.
09:23Nah, kalau hitung-hitungan yang paling mungkin sebenarnya,
09:27dilakukan antara Amerika Serikat dan Iran dalam fase seperti ini itu seperti apa,
09:31Prof. Hikmah maupun Pak Agung.
09:32Tapi sesaat lagi di Sapa Indonesia Malam.
09:34Masih bersama dengan pakar strategi dari Pusat Penggajian dan Penerapan Angkatan Udara PPAU,
09:40Marsma TNI Purnawirawan Agung Sasongko Jati,
09:42dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana.
09:47Ngomong-ngomong Selat Hormuz, ini menarik,
09:49karena banyak negara termasuk Pakistan akhirnya berkomentar.
09:52Kalau memang tujuan perangnya akhirnya untuk membuka Selat Hormuz dari Amerika Serikat,
09:56it was already open, ya untuk apa jadi tujuannya?
10:00Ya itulah, makanya kalau misalnya kita lihat dari sisi Amerika Serikat,
10:05mandat dari perang ini apa, itu berubah-rubah.
10:09Padahal kalau dalam TNI katakanlah ya, ketika mereka perang,
10:14itu mandat harus jelas dan tegas,
10:16sehingga pasukan itu tahu apa yang harus mereka lakukan.
10:19Tapi kalau misalnya berubah-rubah ya, bingung.
10:22Dan ini yang jadi permasalahan juga,
10:24di Amerika Serikat sendiri juga dipertanyakan,
10:27apa tujuan dari perang ini?
10:29Apakah untuk kepentingan Israel atau kepentingan Amerika?
10:31Nah sekarang mungkin Trump punya basis gitu ya,
10:35bahwa ini sekarang perang ini dalam rangka untuk membebaskan Selat Hormuz.
10:41Dan dia mengajak negara-negara lain.
10:43Tapi pintarnya Iran, mereka mengatakan bahwa,
10:46enggak, Selat Hormuz saya kendalikan,
10:49dan saya sekarang membagi dua saja.
10:52Musuh saya atau teman saya.
10:55Kalau AS dan sekutunya nggak boleh lewat.
10:56Kalau nggak boleh lewat.
10:57Tapi kalau teman saya boleh.
10:59Nah ini akan membuat Trump pasti akan marah.
11:02Dia akan mengatakan,
11:03siapa yang boleh.
11:04Berarti kalau dia boleh temannya Iran,
11:07berarti akan jadi musuh saya.
11:09Nah ini posisi seperti ini,
11:11akan dilematis ke negara-negara yang diperbolehkan.
11:14Termasuk kita sudah dapat sinyal hijau,
11:17untuk boleh keluar, katakanlah begitu.
11:21Nah ini yang harus dihitung juga oleh pemerintah kita.
11:23Kita memang sudah berkoordinasi bagus dengan pihak Iran,
11:27dan kemudian diperbolehkan yang awalnya tidak tercantum ya,
11:31nama itu, nama Indonesia,
11:32tapi sekarang sudah.
11:33Nah tapi harus hati-hati kita.
11:35Kita juga harus berhitung ketika Amerika Serikat mengatakan,
11:38oh sekarang kamu temannya Iran ya,
11:40berarti saya akan melakukan sesuatu ke kamu.
11:43Nah kira-kira itu yang harus diperhatikan.
11:44Tapi bagi Iran, sekarang Selat Hormuz itu menjadi survival
11:50untuk mereka tetap bisa bertahan dalam perang ini.
11:55Karena apa?
11:56Karena dunia akan terdampak
11:58dengan adanya penutupan dari Selat Hormuz,
12:02dan itu menjadi tekanan bagi Trump untuk segera menghentikan.
12:06Bahkan Trump ini kan juga agak frustrasi
12:08dengan negara-negara NATO, dengan Jepang, Korea Selatan.
12:10Yang nggak mau membantu.
12:11Yang nggak mau membantu.
12:12Kalaupun mau membantu, mereka katakan setelah perang usai.
12:15Trump lalu mengatakan,
12:16enggak, kita perlu bantuan itu sekarang,
12:18bukan nanti, setelah perang usai.
12:21Nah, Pete Hasgat juga, dia marah juga gitu ya,
12:25mengatakan bahwa negara-negara ini
12:27maunya terima beres dan lain sebagainya ya,
12:29duduk manis dan lain sebagainya.
12:31Nah, tapi bagi Iran, ini jadi survival, jadi kunci.
12:34Dan ini yang kemudian,
12:36kalau kita lihat tadi pidato dari Trump itu,
12:39dia ingin mengatakan bahwa
12:40saya harus jebol ini.
12:42Dan akan saya sebut sebagai Trump's trade tadi.
12:46Kurah-kurahnya salah ucap.
12:47Tapi mungkin itu maksudnya di situ.
12:49Dan kalau misalnya itu terjadi,
12:52maka Trump akan mengatakan,
12:53sekarang saya pegang kendali,
12:54dan semua harus tunduk pada saya.
12:56Ya, dan bahkan Trump itu pada saat diwawancara
12:58sempat bilang kan,
12:59bahwa yang akan mengendalikannya,
13:01mungkin saya dan ayatullah berikutnya.
13:04Pak Agung bagaimana melihat,
13:06apakah strategi Trump
13:07untuk coba merebut
13:09selat hormus,
13:10ini jadi produktif atau justru
13:11backfire untuk Amerika Serikat?
13:13Dari semiotika membaca
13:15simbol-simbol Trump,
13:17nanti yang mengendalikan saya
13:19dan ayatullah berikutnya,
13:20artinya dia sudah nyerah itu,
13:22rasparu lah ya.
13:24Berarti dia menghargai
13:25orang yang kuat.
13:26Jadi Trump itu hanya percaya
13:27orang yang punya power,
13:28atau punya kekuatan,
13:29dan dia hanya menghargai orang ini.
13:31Dia sekarang kelihatan menghargai Iran
13:32dengan statementnya itu,
13:34bahwa Iran ini pantas nih,
13:35diangkat.
13:36Dan dia baru sadar,
13:37atau mungkin baru tahu,
13:38dalam kenyataan bahwa Iran memang
13:40punya power,
13:41dan memang pantas punya power.
13:43Dan kelihatan juga dalam beberapa waktu ini,
13:46perhatiannya Trump terhadap Netanyahu
13:49yang dia pikir dia kuat,
13:50sudah agak turun.
13:51Karena ternyata nggak kuat kan?
13:52Jadi Trump itu betul-betul
13:54orang yang melihat
13:56sesuatu dari
13:57dia punya power atau tidak.
13:58Baik power militer,
14:00power diplomasi,
14:02power informasional,
14:03power ekonomi.
14:04Dan ternyata betul,
14:05nah sekarang dia mau begging,
14:07tapi saya sama kamu sama.
14:09Artinya apa?
14:10Dia sudah dari
14:10kamu sama saya beda,
14:12sekarang sudah sama nih.
14:13Nah ini adalah,
14:15mungkin bargain dia adalah,
14:16nanti kita sama-sama menghandle.
14:18Mungkin di bawah tangan,
14:19nanti Iran tetap menghandle,
14:20tapi bisnisnya Amerika mau ikut.
14:22Jadi kan kelihatannya,
14:23wah saya dapat hadiah nih.
14:25Ternyata hadiahnya 10 kapal bisa lewat.
14:29kelihatannya,
14:30ya mungkin nggak bisa tetap
14:32Iran megang ini,
14:33tetapi pengalaman dari tahun 73,
14:36saat Amerika malah mencium
14:39Cina yang lagi bunuh-bunuhan
14:40di Vietnam,
14:41artinya,
14:43kalau dia bisa merangkul
14:44apa,
14:47Iran,
14:48dengan,
14:49mungkin memalukan bagi Amerika,
14:52mungkin dia malah bisa
14:53mengacaukan BRICS
14:54kalau bisa Iran itu di bawah dia.
14:56Karena sebetulnya,
14:56Iran itu,
14:58nggak ada masalah
14:58berhubungan sama Amerika.
14:59Karena dia merasa,
15:00setingginya setara.
15:02Jadi kalau,
15:02kalau mau berbalik badan,
15:04mengakui dia menjadi teman,
15:05ataupun,
15:06nggak teman,
15:07tapi bisa relasi bisnis,
15:09itu persis seperti
15:09yang dikalkan oleh Amerika,
15:11oleh Henry Schrodinger,
15:12ke Cina tahun 73 ya.
15:14Ya, dan posisi Indonesia
15:15jadi harus kayak gimana ya Pak Agung?
15:17Karena kan,
15:18dengan sholat hormus ini,
15:19artinya kita harus berhitung,
15:20seperti tadi Prof. Hik sampaikan.
15:22Kalau kita lewat hormus,
15:23dianggapnya teman,
15:24makin banyak,
15:25makin banyak tanker,
15:27ataupun kargo lewat,
15:28makin bagus.
15:29Jadi kalau Indonesia,
15:30mungkin nggak akan marah
15:31Trump,
15:32kenapa?
15:32Karena kan makin banyak tanker keluar,
15:33harga minyak makin turun.
15:35Sekarang,
15:36yang namanya,
15:38minyaknya Rusia itu,
15:39silahkan,
15:40nggak ada sangsi,
15:40dicabut sangsinya.
15:41Minyaknya Iran pun,
15:422 juta baril setiap hari,
15:44mengalir,
15:45diizinkan,
15:45sama nggak jadi masalah.
15:47Kalaupun kita bisa mengasukkan,
15:48mengeluarkan sebanyak mungkin tanker keluar,
15:50Trump nggak ada masalah.
15:51Dia kan orang realis ya,
15:53dia pikir adalah,
15:54kalau itu menguntungkan kita,
15:55mengantungkan Amerika,
15:56nggak ada masalah.
15:57Dia nggak,
15:58nggak,
16:00mungkin bukan sakit hati,
16:01sakit,
16:01dia ngancam itu adalah,
16:03mengancam,
16:03kalau itu merugiannya,
16:04tapi begitu,
16:05kalau dia nggak perlu mengancam,
16:06tapi untung,
16:07kenapa nggak?
16:07Orangnya seperti itu.
16:09Jadi makin banyak keluar tanker,
16:11makin bagus bagi Amerika.
16:12Ya,
16:13karena harga minyaknya juga makin,
16:14oke.
16:14Ya,
16:15makin terjaga.
16:15Nah,
16:16kalau Profik,
16:17pola diplomasi yang harus kita lakukan,
16:19seperti apa?
16:19Tadi Profik sudah bilang kan,
16:20kalau kita dianggap temannya Iran,
16:24nanti Amerika Serikat bilang,
16:25wah,
16:25kamu temannya Iran nih,
16:27dan itu bagaimana implikasinya kepada diplomasi kita,
16:29dan bagaimana pula kita membandingkan dengan,
16:31yang dilakukan Malaysia,
16:33untuk membebaskan kapalnya dari Hormuz.
16:35Ya,
16:35kalau Malaysia kan berbeda,
16:36karena Malaysia sejak awal,
16:38sudah mengutuk,
16:38tindakan serangan Amerika Serikat dan Israel itu sebagai serangan yang tidak punya basis,
16:45dan kemudian mengutuk.
16:46Tapi kalau kita kan nggak,
16:48kita tidak menyebut nama Israel ataupun Amerika Serikat,
16:51walaupun rujukannya itu adalah pada pasal 2 ayat 4 piagam PBB,
16:55yang mengatakan bahwa setiap negara itu harus menahan diri dalam hubungan internasional mereka,
17:02dalam penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan.
17:05Jadi,
17:06dalam situasi seperti itu,
17:08mungkin Amerika Serikat tahu posisi Malaysia adalah,
17:12dia akan lebih berpihak pada Iran.
17:15Tapi kalau kita kan masih tidak,
17:17bahkan kan kita mau jadi mediator yang katakanlah,
17:20tidak berpihak pada Iran,
17:22juga tidak berpihak pada Amerika Serikat.
17:25Nah,
17:25jadi,
17:26ini yang kita harus hitung.
17:28Karena apa?
17:29Kalau Iran bisa mengelola masalah ini,
17:33dan dia akan mengatakan banyak temannya dia,
17:36dan sedikit musuhnya dia,
17:39mungkin Amerika Serikat.
17:40Negara-negara teluk,
17:41kalau saya nggak salah,
17:42Qatar sudah bicara sama Iran.
17:44Udah deh,
17:45kita berdamai aja.
17:46Jadi,
17:46jangan diserang lagi dan lain sebagainya.
17:48Itu membuat Amerika Serikat terisolasi.
17:51Dan kalau misalnya Amerika Serikat,
17:54kalau Trump bilang,
17:55kita minyak nggak ada masalah kok,
17:56kita di negara kita banyak kok gitu kan.
17:58Tapi kenapa berdampak pada harga BBM di Amerika Serikat?
18:04Itu kan jadi pertanyaan.
18:05Makanya jadi pertanyaan saat konferensi Paris bersama wartawan waktu itu.
18:08Betul,
18:08betul sekali.
18:09Nah,
18:09ini yang pada satu titik,
18:12kalau misalnya Trump merasa bahwa dia disudutkan oleh masyarakat internasional,
18:16lalu dia mulai keras.
18:18Dia bilang,
18:19pokoknya kalau kamu sudah diperbolehkan oleh Iran keluar,
18:24berarti kamu adalah pusu saya.
18:27Nah,
18:28kalau sudah seperti itu,
18:29dia akan melakukan tindakan apapun yang bisa dilakukan oleh Amerika Serikat.
18:34Nah,
18:35tapi pertanyaannya adalah,
18:36apakah ini akan mendapat approval dari rakyatnya,
18:40dari kongresnya?
18:41Karena dalam posisi seperti ini,
18:43yang tadi saya katakan,
18:45Iran cerdas di dalam mengelola Selat Hormus itu.
18:49Kan sekarang biasanya kalau Trump itu,
18:52misalnya soal tarif gitu ya,
18:54semua negara suruh datang,
18:55karena dia kenakan tarif mahal kan,
18:58seolah-olah dia bilang,
18:59now you know who is the king.
19:01Jadi dia datang.
19:02Nah, sekarang,
19:03dalam konteks Iran,
19:04Iran mau mengatakan,
19:06now you know who is the king.
19:07Ya kan?
19:08Bukan lagi Amerika Serikat,
19:09tapi,
19:10saya,
19:10Iran ini,
19:11kamu datang sama saya,
19:12negosiasi sama saya.
19:14Buktinya,
19:15kita Indonesia juga ketemu negosiasi,
19:17sama Iran,
19:18dan akhirnya dibeli rakyat.
19:19Karena membutuhkan itu,
19:20lampu hijaunya lewat diplomasi.
19:22Betul,
19:22betul sekali.
19:23Nah,
19:23ini,
19:24termasuk juga negara-negara teluk,
19:25yang memproduksi minyak ini,
19:28kan dia juga perlu untuk memastikan,
19:31bahwa kapal-kapal yang sudah memuat minyak ini,
19:34bisa keluar dari Selat Hormus.
19:35Dan itu mendapatkan benefit keuntungan.
19:38Kalau misalnya sekarang ditutup saja,
19:40sudah berapa besar kerugian yang diderita oleh negara-negara ini.
19:44Nah,
19:45jadi,
19:45bukannya tidak mungkin,
19:48sejumlah negara teluk,
19:49akan mengatakan,
19:50oke,
19:51mohon maaf,
19:51Amerika Serikat,
19:52kita sekarang lebih ke Iran nih.
19:55Ya kan?
19:55Nah,
19:56kalau misalnya situasinya seperti itu,
19:58posisi kita ini gimana nih?
20:00Memang Bapak Presiden selalu mengatakan,
20:01kita kan politik luar negeri bebas aktif.
20:04Dan ditujukan untuk kepentingan nasional kita.
20:06Nah,
20:07pertanyaannya adalah,
20:10apakah kita akan meminta terus,
20:15supaya kapal-kapal tengkar kita keluar dari Selat Hormus,
20:18masuk keluar gitu ya?
20:19Atau kita mencari tempat lain?
20:22Jadi itu tidak semudah itu untuk beli?
20:24Memang,
20:25karena pasti akan berebutan dengan negara-negara lain.
20:29Nah,
20:29ini yang harus dikaji oleh pemerintah.
20:31Ya,
20:32karena beli minyak itu,
20:33tidak sekadar kita,
20:34oh,
20:35tidak mau beli di pasar ini,
20:36pindah ke sana.
20:37Tidak seperti itu.
20:37Itu hal yang berat.
20:38So,
20:39apakah sebenarnya,
20:40Pak Agung,
20:40yang harus dibaca adalah,
20:42pesan kuat Iran,
20:43as long as you're not our enemy,
20:45just go.
20:46Jadi,
20:47boleh,
20:47asal selama kamu bukan musuhnya Iran,
20:50ya lewat aja Selat Hormus.
20:51Itu pesan untuk negara-negara.
20:53Seperti yang dikatakan oleh Profesor,
20:54Iran sekarang adalah tandingannya Trump.
20:57Dia doing what exactly the same like Trump did.
21:00Dia sama kerjakan,
21:01persis yang Trump lakukan.
21:02Saya ini,
21:03kamu datang ke saya.
21:04Betul-betul dia ketemu lawannya nih Trump ini.
21:07Lawan setaranya ya.
21:08Lepas satu bangsa,
21:09dan ada orang-orang di dalamnya,
21:10mungkin tim ya,
21:11di dalam tubuhnya.
21:12Ini mungkin saya percaya tuh,
21:13Pak Menteri Luar Negerinya,
21:14Anu juga jago tuh,
21:15Menteri Luar Negerinya.
21:16Arga Cie ya.
21:17Arga Cie.
21:17Dia adalah tokoh.
21:19Nah,
21:21tadi kan pertanyaan kita,
21:23Amerika banyak punya minyak,
21:24tapi kenapa,
21:25kalau tertahan gini,
21:26artinya,
21:27banyak uang Amerika ditanamkan di bisnis minyak di situ.
21:31Bisnis tanker,
21:32bisnis,
21:33banyak bisnis ditanam di situ.
21:35Yang di mana,
21:36kalau flow-nya,
21:37jam kali bisnisnya macet.
21:39Bisnis macet,
21:40terambat naik suku bunga.
21:41Naik suku bunga,
21:42orang Amerika mati semua.
21:43Ngutang semua kan,
21:44kreditkan.
21:45Jadi masalahnya bukan karena soal,
21:47Amerika kaya minyak.
21:48Logikanya Trump bilang,
21:49itu kan kaya minyak.
21:50Iya kaya minyak,
21:51tapi uangmu sebenarnya diinvestkan di kegiatan,
21:53diinterai dengan selat hormus.
21:56Ingat,
21:5620% minyak dunia itu lewat situ.
21:59Tetapi,
22:00yang lewat situ mungkin adalah,
22:0190% minyak lewat laut.
22:03Karena minyak yang lain lewat daratan.
22:05Minyaknya Rusia,
22:06minyaknya itu lewat daratan semua.
22:08Mungkin di sana,
22:1050% daripada minyak yang lewat laut.
22:13Meskipun 20% minyak dunia.
22:15Nah,
22:15sekarang yang perlu kita lihat adalah,
22:17bagaimana ke depan?
22:18Kedepannya ini,
22:19Trump itu punya pilihan adalah,
22:22kalau saya,
22:22dari sudut pandang saya ya,
22:23Trump itu harus mengambil tindakan yang berani,
22:27bahwa mengangkat Iran itu,
22:28tawarkan jadi teman.
22:30Ya.
22:31Bercuma.
22:32Karena apa?
22:33Dia bermusuhan sama,
22:36regional power baru.
22:38Untuk apa?
22:39Terus juga,
22:39nggak pernah ada kata-kata,
22:41Iran itu menolak diajak berteman.
22:43Iran itu sejak zamannya,
22:44Bill Clinton,
22:45itu sudah mau loh berteman.
22:48Tahu Amerika bisa berteman dengan Turki,
22:50yang bermusuhan sama Yunani kan?
22:51Dia bisa berteman dengan Cina,
22:54bisnis,
22:54yang bermusuhan sama Taiwan.
22:56Jadi nggak ada masalah sebetulnya,
22:58sebagai,
22:58kalau betul dia berpilaku sebagai hegemon global,
23:01sebagai unipolar,
23:03maksudnya unipolar,
23:03dia terima aja semua jadi temannya,
23:05nanti tetap diadu,
23:06tetapi dia tetap megang.
23:08Nah, sekarang karena dia terlalu cinta sama Israel,
23:10ataupun kepentingan Israel,
23:12jadi masalahnya dia nggak berpikir sehat.
23:14Kalau dia berpikir sehat sebagai negara,
23:16kepentingan nasional Amerika,
23:17jadikan teman itu Iran,
23:19meskipun dia juga musuh biarin aja.
23:21Ya.
23:21Cuman masalahnya kan,
23:23sekarang Israel,
23:24lobby-lobidunya gimana,
23:26tapi saya kira mereka jadi weakness sekarang,
23:27jadi weakness,
23:28jadi melemah sekarang ini.
23:29Ya.
23:29Karena terbukti menjurumuskan Amerika,
23:31dan terbukti juga rakyat Amerika sudah tahu,
23:36bahwa ini semua membela,
23:37make Israel great again ini,
23:39ini bukan maga nih.
23:40Ya.
23:41Nah, kalau saya ya,
23:42belajar dari ilmu Amerika,
23:43kepentingan nasional Amerika,
23:45jadikan teman Iran ini.
23:47Karena akan kontraproduktif,
23:48kalau terus-terusan berseberangan.
23:50Karena ini peluangnya lebih besar,
23:51dia akan lebih mudah,
23:52lebih enak,
23:54lebih menguntungkan.
23:54Dan itu yang saya setuju,
23:56bahwa Israel itu mencoba supaya,
23:58Amerika ini gak menjadi teman.
24:00Karena Jokan bilang,
24:02dalam dua minggu terakhir ini,
24:04ketika Amerika Serikat sudah sampai pada titik,
24:07ya sudahlah,
24:07kita akan mundur dari perang,
24:11atau misalnya,
24:12kita akan berbaikan dengan Iran,
24:14misalnya gitu ya,
24:15itu dari pihak Israel,
24:17lakukan serangan yang intensif ke Iran.
24:19yang intinya adalah,
24:21jangan sampai Amerika Serikat,
24:23kemudian jadi bermain mata,
24:25bermain gitu ya,
24:25kira-kira seperti itu.
24:26Nah, jadi faktor ini,
24:28ini yang juga harus diperhitungkan.
24:29Jadi, kita gak bisa naif mengatakan,
24:31bahwa ini perang,
24:32antara Amerika Serikat,
24:34dengan Iran.
24:35Ya, tetapi,
24:36sebenarnya adalah Israel.
24:38Dan Israel ada di belakang ini,
24:40yang sekarang,
24:41oleh para politisi,
24:43rakyat Amerika Serikat,
24:45semua,
24:45dipertanyakan,
24:46kok bisa ya,
24:47negara yang kecil,
24:48tetapi bisa mengendalikan,
24:51Amerika Serikat.
24:52Nah, ini semua,
24:53katanya karena ada lobby Yahudi.
24:55Karena apa?
24:56Trump itu,
24:57tersandera dengan,
24:58uang-uang yang,
24:59katakanlah,
25:00masuk ke Trump,
25:01untuk kampanyenya,
25:02dan lain sebagainya.
25:03Dari mereka itu.
25:04Dari mereka itu.
25:05Itu dia.
25:06Semestinya,
25:07Trump bisa berpikir lebih baik lagi,
25:09karena ini tentu akan merugikan dia,
25:10pun tekanan internasional,
25:11tidak hanya tekanan internasional,
25:12bahkan tekanan internal di Amerika Serikat,
25:14juga sudah sangat keras untuk Donald Trump.
25:16Terima kasih atas waktunya,
25:18malam hari ini,
25:19Prof. Hikmahanto.
25:20Terima kasih.
25:20Terima kasih,
25:20Pak Rasmatani Punawir Amnagung,
25:22Sasoko Jati sudah hadir,
25:23di Sapa Indonesia.
Komentar