00:02Iran dan Amerika Serikat masih saling serang, Iran mulai memberi izin bagi kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz.
00:11Sementara Trump mengotot agar Iran membuka Selat tersebut.
00:14Kita bahas soal ambisi Trump untuk rebut Selat Hormuz dari Iran bersama pakar hubungan internasional, Unpar Julius Purwadi.
00:22Selamat malam, Pak Julius, dengan Ibrahim dari Kompas TV.
00:27Selamat malam, Mas Ibrahim.
00:29Ini bicara soal kemarin kan negara-negara Malaysia klaim sudah diizinkan oleh Iran.
00:36Negara lainnya Spanyol juga mendapatkan izin, Thailand juga.
00:39Nah ini dengan negara mendapatkan izin oleh Iran, ini membuat Trump makin geram tidak menurut Anda?
00:45Oh ya, pasti sangat geram ya.
00:48Dan yang diizinkan adalah yang memenuhi kriteria dari Iran.
00:52Termaksud di dalamnya adalah sikap kritis terhadap Amerika Serikat.
00:55Malaysia yang kita tahu adalah pernah menyampaikan kutukannya terhadap serangan Israel dan Amerika Serikat.
01:03Di hari pertama, dan itu salah satu balasannya dalam pengertian positif ya, hadiah.
01:09Kita juga tahu ada Turki ya, kira-kira 12 kapal tankernya.
01:14Lalu kemudian India juga cukup besar ya, 14 kapal tankernya.
01:17Kalau tidak kira-kira sekitar segitu.
01:18Cina juga mendapat izin untuk lewat.
01:22Lalu kemudian Thailand tadi sudah disebut ya, termasuk di dalamnya.
01:26So, pasti akan geram sekali ya, semakin geram Trump ini.
01:30Kalau Anda melihat, jadi bagaimana sebetulnya persaingan pengaruh nih antara Amerika Serikat dan juga Iran di Selat Hormuz?
01:38Ya, yang pasti bahwa Selat Hormuz itu dikuasai penuh oleh Iran.
01:42De facto ya, dan terhadap sejarah menunjukkan sejak tahun 70-an dikuasai secara de facto gitu.
01:49Jadi ada 80 kurang lebih gitu ya, 70 itu dikontrol penuh oleh Iran gitu.
01:54Dari Selat Hormuz bagian utara sampai ke selatan yang masuk ke Oman.
01:59Itu kira-kira kontrol penuhnya gitu.
02:01Nah, sekarang ini apa artinya ketika Iran mengizinkan beberapa kapal tanker untuk melewati gitu.
02:08Dan memang ada prasarat yang kita tahu, Mas Ibrahim ya, prasaratnya membayar 2 juta USD.
02:15Dan mereka nyebut ini untuk biaya keamanan.
02:17Kita nyebutnya tol ya, biaya lewat tol gitu ya.
02:20Itu dia gitu.
02:21Dan ini saya kira praktek yang kelihatannya tidak ditunjukkan oleh Iran bahwa benar,
02:28Iran menguasai, mengontrol Selat Hormuz yang sangat strategis untuk menyalurkan 20% lebih ya kebutuhan minyak dunia.
02:37Dan ya, kita sedang menyaksikan kekuatan strategi baik perang maupun diplomasi ala Iran, Mas Ibrahim.
02:47Kita tadi menampilkan bagaimana pernyataan Donald Trump di sebuah forum di Amerika Serikat.
02:53Bahkan dia menyebut Selat Hormuz sebagai Selat Trump.
02:56Ini apakah menjadi simbol, adanya tendensi keinginan Trump untuk bisa menguasai Selat Hormuz menurut Anda?
03:03Ya, sebelumnya ditanya gitu ya, bagaimana situasi atau apa yang akan dilakukan oleh Amerika Serikat terkait dengan Selat Hormuz.
03:11Dan dia menjawab akan dikelola secara bersama-sama.
03:14Lalu ditanya lagi oleh media internasional, siapa yang akan mengelola?
03:18Ya, saya gitu ya.
03:20Trump gitu ya.
03:21Jadi memang ini lucu ya.
03:23Semakin lucu dan menunjukkan bahwa tampaknya tidak ada perencanaan yang baik bagaimana memastikan bahwa Selat Hormuz betul-betul akan dibuka
03:31oleh Iran.
03:32Sehingga dampak ekonomi, inflasi global, resesi yang kita khawatirkan itu tidak terjadi.
03:39Pak Ibrahim, kalau kita bisa tambahkan lagi ya, yang kita dengarkan sekarang ada tawaran 15 poin perjanjian yang diusulkan oleh
03:49Trump.
03:49Dan salah satunya, kita tidak tahu persis ya, kita tidak tahu persisnya, tetapi salah satunya yang dibocorkan adalah terkait dengan
03:57status Hormuz.
03:58Iran akan dikasih hadiah, misalnya sanksi akan diangkat bila Hormuz dibuka.
04:02Itu salah satunya.
04:03Pesan 15 usulan perdamaian yang disampaikan lewat Pakistan, kita belum tahu siapa yang menerima pesan itu.
04:13Saya kira itu menunjukkan bahwa betapa pentingnya Selat Hormuz di satu sisi, betapa sulitnya Amerika Serikat memastikan bahwa Selat Hormuz
04:23benar-benar akan dibuka betul oleh Iran.
04:26Dan ini kesan saya bahwa Iran itu ada di atas angin, terkait dengan kontrol terhadap Hormuz.
04:33Jadi artinya negosiasi atau proposal yang disampaikan oleh Amerika Serikat ini akan ditolak mentah-mentah.
04:38Narasi negosiasi juga akan benar-benar buntu ke depannya.
04:42Ya, betul Mas Ibrahim. Sudah ditolak betul oleh Iran, disampaikan oleh Menteri Luar Negeri secara eksplisit, kalau tidak usah lebih
04:51rabu ya.
04:52Dan bahkan mengetukkan lima sekarang.
04:54Kalau mau menekusiasi, ada lima prasarat sekarang.
04:57Dulu ada tiga kalau kita masih ingat pada minggu ke-1 atau minggu ke-2.
05:02Ada tiga dulu. Yang pertama saja adalah penghentian agresi Amerika Serikat dan Israel.
05:07Yang kedua memastikan bahwa nanti Amerika Serikat membayar ganti rugi.
05:12Lalu yang ketiga tidak ada lagi peran di masa yang akan datang.
05:15Sekarang kita tambah yang keempat dan kelima Mas Ibrahim.
05:18Yang keempat adalah Israel dan Amerika Serikat tidak lagi menggempur Libanon.
05:24Dan sekutu Iran, termasuk yang di Irak.
05:28Lalu yang kelima menarik terkait dengan Hormuz.
05:31Memastikan di masa depan ada pengakuat internasional kontrol Iran atas Selat Hormuz.
05:37Jadi lagi ini makin mempertegas betapa strategisnya Selat Hormuz hari ini.
05:43Semakin memanas di tengah negosiasi juga yang tengah bergulir soal status dari Selat Hormuz ini.
05:48Terima kasih Pak Julius Purwadi, Pak Harbungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Komentar