Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Mulai memberi izin bagi kapalkapal yang ingin melewati Selat Hormuz. Sementara Trump ngotot agar Iran membuka selat tersebut dan menyebut Selat Hormuz jadi "Selat Trump".

Kita bahas ambisi Trump untuk merebut Selat Hormuz dari Iran bersama pakar HI Unpar, Yulius Purwadi.



#hormuz #iran #israel #trump

Baca Juga Kasus 2 Pria Tewas di Atap Masjid Brebes, Diduga Tersengat Listrik | BORGOL di https://www.kompas.tv/nasional/659536/kasus-2-pria-tewas-di-atap-masjid-brebes-diduga-tersengat-listrik-borgol



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/659538/full-pakar-hi-soroti-trump-yang-minta-iran-buka-selat-hormuz-usai-beberapa-negara-diizinkan-lewat
Transkrip
00:02Iran dan Amerika Serikat masih saling serang, Iran mulai memberi izin bagi kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz.
00:11Sementara Trump mengotot agar Iran membuka Selat tersebut.
00:14Kita bahas soal ambisi Trump untuk rebut Selat Hormuz dari Iran bersama pakar hubungan internasional, Unpar Julius Purwadi.
00:22Selamat malam, Pak Julius, dengan Ibrahim dari Kompas TV.
00:27Selamat malam, Mas Ibrahim.
00:29Ini bicara soal kemarin kan negara-negara Malaysia klaim sudah diizinkan oleh Iran.
00:36Negara lainnya Spanyol juga mendapatkan izin, Thailand juga.
00:39Nah ini dengan negara mendapatkan izin oleh Iran, ini membuat Trump makin geram tidak menurut Anda?
00:45Oh ya, pasti sangat geram ya.
00:48Dan yang diizinkan adalah yang memenuhi kriteria dari Iran.
00:52Termaksud di dalamnya adalah sikap kritis terhadap Amerika Serikat.
00:55Malaysia yang kita tahu adalah pernah menyampaikan kutukannya terhadap serangan Israel dan Amerika Serikat.
01:03Di hari pertama, dan itu salah satu balasannya dalam pengertian positif ya, hadiah.
01:09Kita juga tahu ada Turki ya, kira-kira 12 kapal tankernya.
01:14Lalu kemudian India juga cukup besar ya, 14 kapal tankernya.
01:17Kalau tidak kira-kira sekitar segitu.
01:18Cina juga mendapat izin untuk lewat.
01:22Lalu kemudian Thailand tadi sudah disebut ya, termasuk di dalamnya.
01:26So, pasti akan geram sekali ya, semakin geram Trump ini.
01:30Kalau Anda melihat, jadi bagaimana sebetulnya persaingan pengaruh nih antara Amerika Serikat dan juga Iran di Selat Hormuz?
01:38Ya, yang pasti bahwa Selat Hormuz itu dikuasai penuh oleh Iran.
01:42De facto ya, dan terhadap sejarah menunjukkan sejak tahun 70-an dikuasai secara de facto gitu.
01:49Jadi ada 80 kurang lebih gitu ya, 70 itu dikontrol penuh oleh Iran gitu.
01:54Dari Selat Hormuz bagian utara sampai ke selatan yang masuk ke Oman.
01:59Itu kira-kira kontrol penuhnya gitu.
02:01Nah, sekarang ini apa artinya ketika Iran mengizinkan beberapa kapal tanker untuk melewati gitu.
02:08Dan memang ada prasarat yang kita tahu, Mas Ibrahim ya, prasaratnya membayar 2 juta USD.
02:15Dan mereka nyebut ini untuk biaya keamanan.
02:17Kita nyebutnya tol ya, biaya lewat tol gitu ya.
02:20Itu dia gitu.
02:21Dan ini saya kira praktek yang kelihatannya tidak ditunjukkan oleh Iran bahwa benar,
02:28Iran menguasai, mengontrol Selat Hormuz yang sangat strategis untuk menyalurkan 20% lebih ya kebutuhan minyak dunia.
02:37Dan ya, kita sedang menyaksikan kekuatan strategi baik perang maupun diplomasi ala Iran, Mas Ibrahim.
02:47Kita tadi menampilkan bagaimana pernyataan Donald Trump di sebuah forum di Amerika Serikat.
02:53Bahkan dia menyebut Selat Hormuz sebagai Selat Trump.
02:56Ini apakah menjadi simbol, adanya tendensi keinginan Trump untuk bisa menguasai Selat Hormuz menurut Anda?
03:03Ya, sebelumnya ditanya gitu ya, bagaimana situasi atau apa yang akan dilakukan oleh Amerika Serikat terkait dengan Selat Hormuz.
03:11Dan dia menjawab akan dikelola secara bersama-sama.
03:14Lalu ditanya lagi oleh media internasional, siapa yang akan mengelola?
03:18Ya, saya gitu ya.
03:20Trump gitu ya.
03:21Jadi memang ini lucu ya.
03:23Semakin lucu dan menunjukkan bahwa tampaknya tidak ada perencanaan yang baik bagaimana memastikan bahwa Selat Hormuz betul-betul akan dibuka
03:31oleh Iran.
03:32Sehingga dampak ekonomi, inflasi global, resesi yang kita khawatirkan itu tidak terjadi.
03:39Pak Ibrahim, kalau kita bisa tambahkan lagi ya, yang kita dengarkan sekarang ada tawaran 15 poin perjanjian yang diusulkan oleh
03:49Trump.
03:49Dan salah satunya, kita tidak tahu persis ya, kita tidak tahu persisnya, tetapi salah satunya yang dibocorkan adalah terkait dengan
03:57status Hormuz.
03:58Iran akan dikasih hadiah, misalnya sanksi akan diangkat bila Hormuz dibuka.
04:02Itu salah satunya.
04:03Pesan 15 usulan perdamaian yang disampaikan lewat Pakistan, kita belum tahu siapa yang menerima pesan itu.
04:13Saya kira itu menunjukkan bahwa betapa pentingnya Selat Hormuz di satu sisi, betapa sulitnya Amerika Serikat memastikan bahwa Selat Hormuz
04:23benar-benar akan dibuka betul oleh Iran.
04:26Dan ini kesan saya bahwa Iran itu ada di atas angin, terkait dengan kontrol terhadap Hormuz.
04:33Jadi artinya negosiasi atau proposal yang disampaikan oleh Amerika Serikat ini akan ditolak mentah-mentah.
04:38Narasi negosiasi juga akan benar-benar buntu ke depannya.
04:42Ya, betul Mas Ibrahim. Sudah ditolak betul oleh Iran, disampaikan oleh Menteri Luar Negeri secara eksplisit, kalau tidak usah lebih
04:51rabu ya.
04:52Dan bahkan mengetukkan lima sekarang.
04:54Kalau mau menekusiasi, ada lima prasarat sekarang.
04:57Dulu ada tiga kalau kita masih ingat pada minggu ke-1 atau minggu ke-2.
05:02Ada tiga dulu. Yang pertama saja adalah penghentian agresi Amerika Serikat dan Israel.
05:07Yang kedua memastikan bahwa nanti Amerika Serikat membayar ganti rugi.
05:12Lalu yang ketiga tidak ada lagi peran di masa yang akan datang.
05:15Sekarang kita tambah yang keempat dan kelima Mas Ibrahim.
05:18Yang keempat adalah Israel dan Amerika Serikat tidak lagi menggempur Libanon.
05:24Dan sekutu Iran, termasuk yang di Irak.
05:28Lalu yang kelima menarik terkait dengan Hormuz.
05:31Memastikan di masa depan ada pengakuat internasional kontrol Iran atas Selat Hormuz.
05:37Jadi lagi ini makin mempertegas betapa strategisnya Selat Hormuz hari ini.
05:43Semakin memanas di tengah negosiasi juga yang tengah bergulir soal status dari Selat Hormuz ini.
05:48Terima kasih Pak Julius Purwadi, Pak Harbungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Komentar

Dianjurkan